cover
Contact Name
Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Contact Email
satyawidyajsa@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sidiastawa3@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Satya Widya: Jurnal Studi Agama
ISSN : 26230534     EISSN : 26551454     DOI : -
Core Subject : Religion,
The Satya Widya Jurnal Studi Agama publishes current conceptual and research articles on religious studies using an interdisciplinary perspective, especially but not strictly within theology, anthropology of religion, sociology of religion, religious culture, religious education, religious politics, religious ethic,psychology of religion, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 60 Documents
KISAH KISKINDHĀ KĀNDA RAMĀYĀNA SEBAGAI REFLEKSI PEMBELAJARAN GUNA MEMPERERAT IKATAN PERSAUDARAAN I Dewa Gede Darma Permana
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 4 No 2 (2021): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v4i2.732

Abstract

The story of Kiskindhā Kānda is one part of the Ramayāna book which contains a sublime story and various conflicts in it. Among these various conflicts, there is one part that becomes the core of the story when two wanara brothers, namely Vālī and Sugrīva, are involved in a feud. The conflict reflects a less harmonious relationship between brothers, and seems similar to some cases that occur in life today. Reflecting on this, this study is interested in examining more deeply the story of the Kiskindhā Kānda Ramāyāna to find a deeper reflection of its learning, especially in the perspective of Hindu religious teachings. To support this goal, this research formulates several problems, namely related to the content of the story of Kiskindhā Kānda Ramāyāna, the nature of moral teachings in Hinduism, and finally formulating learning reflections that can be used as guidelines in living life. By using qualitative research methods, and literature studies, and using data analysis from Miles and Huberman. The results of this study indicate that the story of Kiskindhā Kānda Ramāyāna contains various learning reflections aimed at maintaining brotherly bonds so that they remain stable, harmonious, loyal, and helping each other.
Upacara Ngelangkang Pengaus Sebagai Wujud Yajna Umat Hindu Kaharingan Suku Dayak Lawangan Nali Eka; Melky Setiyawan; Komang Suarta
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.58

Abstract

Suku Dayak Lawangan yang beragama Hindu Kaharingan memiliki suatu upacara kematian yang dilaksanakan setahun setelah upacara kematian yaitu upacara Ngalangkang yang memiliki arti untuk memperingati kematian dari keluarga yang meninggal dimana upacara Ngalangkang tersebut dilaksanakan setiap tahun sebanyak tiga tahun berturut-turut dan puncaknya yaitu ditahun ketiga yang merupakan Ngalangkang Pengaus atau Ngalangkang terakhir. Upacara Ngalangkang Pengaus merupakan penerapan ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan upacara. Nilai Tattwa terlihat dalam keyakinan umat Hindu Suku Dayak Lawangan tentang struktur Ketuhanan yang ada dimana segala sesuatu berasal dari Juss Tuha Allah Taala dan akan kembali kepada-Nya. Nilai Susila yang terkadung dalam Upacara Ngalangkang Pengaus yaitu sesuai dengan ajaran agama Hindu seperti ajaran Pitra Rna, Ahimsa, Punia, tidak boleh berjudi, tidak boleh Mada dan tidak boleh Sastraghana. Nilai upacara yang terkandung dalam Upacara Ngalangkang Pengaus adalah keterampilan dalam Pander Jampa dan juga keterampilan dalam membuat sarana-sarana yang digunakan dalam upacara. Upacara Ngalangkang Pengaus pada umat Hindu Suku Dayak Lawangan dalam Panca Yajna merupakan implementasi dari semua ajaran Panca Yajna yaitu ajaran Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna dan BhutaYajna, namun yang paling utama Upacara Ngalangkang Pengaus merupakan bentuk penerapan dari Pitra Yajna. Kata Kunci: Ngalangkang Pengaus, Panca Yajna, Hindu Kaharingan Dayak Lawangan
Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Lontar Swargarohana Parwa I Nyoman Ariyoga
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.59

Abstract

The Indonesian people, especially the Hindu community, have their own local wisdom which is an indigenous culture that has been passed down through generations. One of the local wisdoms of the Hindu community is the story found in the lontar text. The teachings of Hinduism are abundant in lontar texts in the form of Babad, Tantri and in the epics of the Mahabharata and Ramayana. In the concept of the story there are many teachings of Hinduism education which can directly be applied in living life in this world. Thus the authors are interested in writing more broadly about the stories in Lontar Swargarohana Parwa contained in the Mahabharata. Lontar Swargarohana Parwa is the last eighteenth part of the Mahabharata. This story is about Yudistira reaching heaven, but he chose to live in hell with his brothers and wife instead of living in heaven with the Korawa and Sekuni, but a few moments later the situation turned to hell and vice versa. In Lontar Swargarohana Parwa there are a lot of Hindu religious education values ​​contained in it, so this paper was carried out to review Lontar Swargarohana Parwa viewed from a study of Hindu religious education. Keywords: Hindu Religious Education, Lontar Swargarohana Parwa
Implementasi Manajemen Pembelajaran Saintifik di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya I Putu Widianto
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.56

Abstract

This study is to describe the implementation of learning management in subjects that use scientific learning at the IAHN-TP Palangka Raya. This research approach uses a qualitative approach using descriptive design. The research was conducted in Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya Indonesia. The researcher collected various information by structured interviews and disguised observations. Analysis of interview data with an interactive model analysis model from Miles and Huberman and analysis of data from observations carried out by the checklist method. The results showed the stages of scientific learning management consisted of stages of learning planning, implementation of learning and supervision of learning.
Hoax Dalam Perspektif Hindu I Komang Mertayasa
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.57

Abstract

The hoax circulation is very fast because some social media users share without reading or knowing more about whether it's true or not. Increasing literacy can be done well if someone has adequate religious knowledge. The Hinduism have a perspektif the existence of hoax, by understanding it can function as the basis and filter of information to break the chain of hoax circulation. Hoax is made with the aim of making public opinion, herding public opinion, forming perceptions that tests the intelligence and accuracy of internet and social media users. Fake news (hoax) is an act that is not good (asubha karma) so that can be of suffering, therefore in receiving information must maximize wiweka to learn. There are three ways that are used to examine information contained in social media to be able to find out the truth, namely 1). Pratyaksa Pramana; 2). Anumana Pramana; 3). Agama Pramana.
Pemanfaatan Teknologi Informasi Berbasis Android Sebagai Media dalam Pembelajaran Hindu Ni Putu Eka Merliana
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 1 No 1 (2018): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v1i1.54

Abstract

Saat ini perkembangan teknologi informasi sangat pesat dimana hal ini dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum baik itu dibidang sosial, ekonomi, politik maupun pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang menjadi sorotan pemerintah untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas dan siap bersaing, dimana sangat dibutuhkan adanya suatu kemajuan proses pembelajaran yang dapat membantu memajukan sistem pendidikan. Salah satunya adalah dengan menerapkan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi. Agama Hindu merupakan salah satu agama yang ada di Indonesia memerlukan cara untuk menerapkan sistem pembelajaran dengan teknologi dalam penyampaian ajaran agamanya. Salah satu media teknologi pembelajaran yang paling banyak dipergunakan dikalangan masyarakat secara umum adalah teknologi android, dimana media ini diharapkan dapat memberikan simulasi dalam pembelajaran Hindu agar lebih memahami dan mendalami tentang ajaran-ajaran yang telah diberikan kepada siswa. Oleh karena itu penulis ingin mengangkat tentang seberapa pentingnya manfaat teknologi berbasis android dalam pembelajaran Hindu
Menguak Konsep Pendidikan Eko-Religius KH. MA. Sahal Mahfudh Sholahudin Sholahudin
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.55

Abstract

Meningkatnya kerusakan lingkungan hidup merupakan bencana bagi manusia secara umum. Kerusakan lingkungan juga menjadi sorotan oleh KH Sahal Mahfudh, seorang ulama’ kharismatik dari Pati Jawa Tengah. Beliau menganggap bahwa manusia adalah makhluq yang paling bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan. Penelitian ini menguak konsepsi pendidikan lingkungan hidup yang ditelurkan oleh KH Sahal Mahfudh. Dengan metodologi penelitian kualitatif dan melakukan penelitian dengan teknik interview dan observasi penelitian ini berhasil mengungkapkan bahwa Kiai sahal memiliki konsepsi pendidikan lingkungan hidup yang perlu untuk digali lebih mendalam lagi.Konsepsi tersebut berdasarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah sa’adah fid daroin (kebahagiaan didunia dan akherat), untuk menuju kesana, manusia perlu menjaga lingkungan sebagai masis dari kehidupan mereka. Kata Kunci: Pendidikam Eko religius, KH Sahal Mahfudh
Pluralisme Dalam Pandangan Pemuda Lintas Agama di Surabaya M Thoriqul Huda; Isna Alfi Maghfiroh
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.50

Abstract

Pluralisme merupakan suatu paham yang mengajarkan akan keragaman baik dari suku, bahasa, budaya, ras, dan agama yang mana tidak ada diskriminasin didalamya Sehingga pluralisme itu dilandasi dengan sikap toleransi antar sesama manusia. Pluralisme mengajarakan bahwa tidak ada agama yang sama, akan tetapi pluralisme lebih menekankan pada sikap keterbukaan antar sesama. Dalam hal ini sikap toleransi yang lebih di utamakan adalah sikap saling menghargai, saling menghormati, saling tolong-menolong, saling menjaga, dan saling tenang tidak saling terganggu antar sesama manusia dalam skala global dan universal. Pada hakikatnya semua agama itu mengajarkan akan cinta kasih yang disebarkan dengan perdamaian tanpa harus ada peperangan. Dan realitas pluralisme bangsa Indonesia tergolong dalam tingkat yang baik akan tetapi masih perlu untuk ditingkatkan lagi. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini banyak konflik-konflik yang terjadi baik itu konflik sosial, budaya, politk, bahkan agama. Konflik atas isu agama sangat mudah muncul kepermukaan, sebagai bentuk rasa emosioanal yang tidak dapat dibendung. Konflik-konflik tersebut merupakan peristiwa yang harus dihindari bahkan seharusnya tidak terjadi. Karena disetiap ada konflik baik yang mengatasnamakan negara, politik, sosial, budaya, maupun agama pastilah akan menimbulkan kekacauan, kerusakan, kehancuran bahkan kehilangan jiwa raga. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus mampu menjaga kesatuan dan persatuan umat, agar tidak mudah untuk dipecah belah. Dengan bersatu padunya remaja dalam membagun negara maka akan tercipta suatu keinginan luhur bangsa yaitu dapat hidup rakun, damai, aman, tentram, dan nyaman dalam perbedaan. Karena perbedaan membuat kita mengerti dan memahami akan keberagaman. Dan keragaman merupakan suatu hal terindah yang diciptakan Tuhan
Internalisasi Pendidikan Karakter Hindu Melalui Pembelajaran Bhagavad Gita Digital di Pasraman Gopisvara Buleleng I Made Bagus Andi Purnomo
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 1 No 2 (2018): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v1i2.48

Abstract

Masalah karakter generasi muda kini mendapat banyak perhatian dari berbagai pihak. Mulai dari menurunnya nilai etika dan moral, hingga semakin bertambahnya masalah pergaulan bebas. Terlebih lagi, Bali dikenal sebagai kawasan wisata, di mana orang-orang muda sangat dekat dengan perkembangan zaman dan modernisasi yang cepat. Di sisi lain, sayangnya, pendidikan agama yang ditujukan pada generasi muda umat Hindu di Bali dianggap sangat rendah. Porsi pelajaran agama di sekolah masih sangat terbatas sehingga diperlukan peningkatan pemahaman agama melalui pola pasraman non-formal yang fokus pada pendidikan karakter. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk menginternalisasi pendidikan karakter Hindu melalui pembelajaran Bhagavad Gita Berbasis Digital di Pasraman Gopisvara Buleleng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan rasionalistik. Sementara itu, data dicari melalui survei primer dan sekunder dengan tinjauan studi literatur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling untuk mendapatkan responden yang kompeten atau berpengaruh. Tujuan diperoleh dengan menggunakan metode/metode analisis stakeholder.
Memaknai בָּלַל (Bȃlal) dan פָּצַץ (Patsats) Kejadian 11:1-9 Dalam Konteks Multikultural di Indonesia Merilyn Merilyn
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 1 No 2 (2018): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v1i2.49

Abstract

Melalui pendekatan eksegetikal, teks kejadian 11:1-9 diharapkan mampu membawa nilai yang bermanfaat untuk konteks multikultural Indonesia saat ini. Fokus penafsiran yang didekonstruksi adalah dua kata Ibrani pada ayat 7 dan 8, yakni dua kata kunci בָּלַל (bȃlal) berarti “untuk mencampur”, “membaur”, “membingungkan” dan פָּצַץ (poots), berarti “disebarkan” atau “diserakkan” yang mana Allah berperan sebagai subyek yang bertindak “menyebarkan”/”menyerakkan”. Kekacauan bahasa telah memutuskan komunikasi sehingga terasing satu sama lain. Mereka memutuskan untuk berpisah (baca: berserak). Multikultural di Indonesia mengalami ambiguitas. Secara harfiah, rakyat Indonesia sudah tersebar/terserak dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang yang sangat beragam. Secara harfiah pula, בָּלַל (bȃlal) dan פָּצַץ (patsats) sudah tergambar dalam identitas Indonesia. Namun nilai dan spiritnya belum dihidupkan secara maksimal dalam sanubari dan semangat berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya spirit ini ada di dalam nilai-nilai Pancasila. Spirit בָּלַל (bȃlal) dan פָּצַץ (patsats) yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila dan yang dihidupi secara konstan akan mentranformasikan masyarakat dan bangsa sehingga pada gilirannya menolongnya memahami diri dan tanggung jawab di tengah keragaman.