cover
Contact Name
I Putu Dedy Arjita
Contact Email
ipdedyarjita@unizar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Jalan Unizar No. 20 Turida, Sandubaya - Mataram NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran: Media Informasi Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 24609749     EISSN : 26205890     DOI : 10.36679
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dengan frekuensi 2 (dua) kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember, sebagai media informasi dan komunikasi ilmiah dalam pengembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Articles 129 Documents
PERBANDINGAN FIKSASI LARUTAN BOUIN DAN FORMALIN PADA SEDIAAN PREPARAT HISTOLOGI TESTIS MARMUT Rusmiatik Atik
JURNAL KEDOKTERAN Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.566 KB)

Abstract

Fiksasi merupakan salah satu bagian dari beberapa tahapan dalam pembuatan sediaan histologi. Maksud dari dilakukannya fiksasi adalah untuk membuat struktur unsur-unsur jaringan menjadi stabil, tidak mengalami perubahan (post-mortem) pasca kematian. Apabila individu mati maka ada dua hal yang bisa merusak struktur jaringan yaitu pengaruh enzim proteolitik dan pengaruh bakteri pembusuk. Larutan fiksatif yang sering digunakan adalah larutan bouin dan formalin. Dalam proses fiksasi dengan larutan bouin yang terdiri dari picrid acid 75 ml, formaldehid 25 ml, acetid acid 5ml, sedangkan untuk formalin digunakan dengan konsentrasi 40%. Dalam proses fiksatif dengan formalin, tidak mengkerutkan jaringan tetapi jaringan mengkerut karena pengaruh alkohol pada waktu proses dehidrasi. Jaringan yang di fiksasi dengan formalin dapat langsung di pindahkan ke dalam alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 96%,dan alkohol absolut.
KULIAH KERJA LAPANGAN KESEHATAN MASYARAKAT HIDUP BERSIH DAN SEHAT TANPA DIARE DI KELURAHAN MANDALIKA TAHUN 2017 Alfian Muhajir; Ana Adriana
JURNAL KEDOKTERAN Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Departemen Kesehatan mencatat dari tahun 2000 – 2010 terlihat kecenderungan peningkatan insiden dari 301 per 1000 penduduk pada tahun 2000 menjadi 411 per 1000 penduduk di tahun 2010 (Depkes, 2014). Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (2012) setiap tahunnya, ada lebih dari satu milyar kasus diare. Angka kesakitan diare pada tahun 2011 yaitu 411 penderita per 1000 penduduk. Diperkirakan 82% kematian akibat gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah. Sedangkan data profil kesehatan Indonesia menyebutkan tahun 2012 jumlah kasus diare yang ditemukan sekitar 213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289, dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun.
KANDIDIASIS LOKAL DAN SISTEMIK PADA ANAK Ananta Fittonia Benvenuto
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandidiasis merupakan masalah kesehatan anak yang masih sering ditemukan di masyarakat. Hal ini berkaitan dengan higienitas lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal dan peralatan yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Infeksi kandidiasis ini sering memiliki manifestasi yang bersifat lokal maupun sistemik. Pembahasan kali ini akan merangkum mengenai kandidiasis yang sering terjadi baik lokal maupun sistemik, terutama pada anak-anak. Akan dibahas mulai dari definisi sampai dengan penatalaksanaan yang tepat bagi penderita infeksi ini.
PERSALINAN PERVAGINAM PADA IBU DENGAN RIWAYAT SEKSIO SESARIA DI RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB Alfian Muhajir
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan pervaginam pada ibu dengan riwayat seksio sesaria masih menjadi masalah kesehatan di bidang obstetri. Angka kejadiannya semakin menurun tiap tahunnya, padahal dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan pelahiran pervaginam setelah seksio sesaria sebelumnya memiliki nilai yang bermakna. Rata-rata keberhasilan mencapai 60-80 % untuk seluruh populasi pelahiran pervaginam setelah seksio sesaria sebelumnya. Sampai saat ini, belum ada penelitian mengenai gambaran persalinan pervaginam pada ibu dengan riwayat seksio sesaria di provinsi NTB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran persalinan pervaginam pada ibu dengan riwayat seksio sesaria di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB periode 1 Januari 2007 – 31 Desember 2007. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif dengan menganalisis data rekam medis ibu yang melahirkan dengan riwayat seksio sesaria. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki riwayat melahirkan dengan cara seksio sesaria di RSUD Provinsi NTB selama periode 1 Januari 2007 sampai 31 Desember 2007. Terdapat 70 orang ibu dengan riwayat seksio sesaria yang menjalani persalinan di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB periode 1 Januari 2007 – 31 Desember 2007. Dari jumlah tersebut, yang berencana untuk pervaginam adalah 37 orang (52,86 %) lebih banyak dari rencana seksio sesaria primer yang sejumlah 33 orang (47,14 %). Ibu dengan riwayat seksio sesaria yang berencana melakukan persalinan pervaginam (52,86 %) lebih banyak dibandingkan seksio sesaria primer (47,14 %). Ibu yang menjalani seksio sesaria sekunder sebanyak 13 (18,57 %). Pada ibu yang menjalani seksio sesaria sekunder, patologi persalinan yang paling banyak terjadi adalah ketuban pecah dini (23,09 %). Pada ibu yang menjalani seksio sesaria primer, patologi persalinan yang paling banyak terjadi adalah disproporsi sefalo-pelvik (21,2 %). Dari 37 ibu yang berencana melakukan persalinan pervaginam, ibu yang berhasil melakukan persalinan pervaginam sebanyak 24 (64,86 %) kasus. Ibu dengan riwayat seksio sesaria sebagian besar menjalani seksio sesaria ulang. Kegagalan persalinan pervaginam pada ibu dengan riwayat seksio sesaria dipengaruhi oleh patologi persalinan. Tingkat kejadian seksio sesaria sekunder dan seksio sesaria primer dipengaruhi oleh patologi persalinan. Tingkat keberhasilan persalinan pervaginam pada ibu dengan riwayat seksio sesaria sebesar 64,86 %
HUBUNGAN DURASI PENYAKIT DENGAN GEJALA NON MOTORIK PENYAKIT PARKINSON Rohmania Setiarini; Subagya Subagya; Astuti Astuti
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif terbanyak kedua setelah alzheimer. Walaupun gejala motorik yang dipakai untuk menegakkan diagnosis penyakit parkinson, namun gejala non motorik penting sebagai penentu kualitas hidup pasien penyakit parkinson. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui adakah hubungan durasi dengan gejala non motorik penyakit Parkinson. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang pada pasien parkinson di RSUP Dr. Sardjito pada bulan Februari-Juni 2017. Dilakukan analisis hubungan antara durasi penyakit dengan gejala non motorik penyakit parkinson. Pada penelitian ini gejala non motorik terdapat pada 94% pasien penyakit parkinson. Gejala non motorik yang sering muncul pada pasien yaitu gangguan buang air kecil, nyeri dan gangguan konsentrasi (44,4%). Durasi penyakit pasien parkinson berkisar antara 6-144 bulan dengan rata-rata 34,56 bulan. Tidak didapatkan hubungan antara durasi penyakit parkinson dengan gejala non motorik dengan nilai p 0,915. Penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara durasi penyakit dengan gejala non motorik penyakit parkinson
FISIOLOGI ADAPTASI PADA LINGKUNGAN MIKROGRAVITASI Siti Ruqayyah
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Berkurangnya massa tubuh yang dipengaruhi lingkungan mikrogravitasi mengakibatkan perubahan besar pada sistem kardiovaskular. Penyebab dari penurunan fungsi vaskular pada saat kembali ke lingkungan Bumi berhubungan dengan adaptasi pembuluh-pembuluh darah resisten untuk mengubah tegangan dinding akibat hilangnya gradien tekanan hidrostatik selama pajanan mikrogravitasi. Pada hewan coba tikus yang bergerak aktif, bagian utama resistensi vaskular mesenterik adalah berada pada susunan arteri kecil, sehingga adaptasi arteri kecil mesenterik selama paparan mikrogravitasi penting untuk dikaji lebih lanjut. Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan fisiologi kardiovaskular, manusia di Bumi yang dipapar pada percepatan gravitasi 1G akan membangkitkan suatu faktor hidrostatik yang mempengaruhi tekanan dan distribusi volume darah pada individu yang berdiri. Penentuan terhadap sifat mekanik pembuluh darah berperan dalam menghadapi postural orthostatic akibat pengaruh gaya gravitasi, karena kondisi orthostatis ini memicu adaptasi yang berujung pada remodeling pembuluh. Penelitian terhadap tikus yang diberi simulasi mikrogravitasi (SUS) selama 28 hari dengan dan tanpa tindakan balasan harian berupa standing posture (S+D), dengan pengamatan pada sifat mekanik dan komposisi arteri kecil mesenterik menunjukkan kekhasan suatu kurva eksponensial stress-strain dengan peningkatan kekakuan pada tegangan yang tinggi. Hasil mengindikasikan adanya peningkatan kekakuan pada pembuluh pasif seiring kenaikan tekanan, sedangkan pembuluh aktif mempertahankan kekakuan dinding relatif konstan akibat reaktivitas myogenik sel otot polos. Simpulan: Adanya gaya gravitasi lingkungan yang dihadapi ketika berada di ruang angkasa memberikan pengaruh besar terhadap mekanisme sirkulasi darah di dalam tubuh yang selanjutnya berdampak pada adaptasi pembuluh darah khususnya arteri.
HUBUNGAN RIWAYAT SNORKELING DENGAN KEJADIAN OTITIS EKSTERNA DI POLI THT RSUD KOTA MATARAM PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015 Lita Yuliati; Nurman Hikmallah; Dina Qurratu Ainin
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis externa adalah radang telinga luar yang dapat terjadi akut maupun kronis. Otitis eksterna dapat terjadi akibat kegiatan dari luar rumah seperti kegiatan snorkeling. Di Indonesia insiden terjadinya Otitis Eksternayang disebabkan oleh kegiatan snorkeling belum banyak dicari hubungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna di poli THT RSUD Kota Mataram periode Januari-Desember 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi observational dengan pendekatan crossectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang berobat di poli THT RSUD Kota Mataram dengan menggunakan cara pengambilan sampel yaitu random sampling. Total sampel yang didapatkan sebanyak 84 pasien. Analisis penelitian menggunakan contigency coefficient dengan tingkat kepercayaan <0,05. Hasil dari penelitian ini yaitu didapatkan sebanyak 37 (64,9%) pasien memiliki riwayat snorkeling dan mengalami otitis eksterna, dan didapatkan 10 (37,0%) pasien memiliki riwayat snorkeling tanpa mengalami otitis eksterna. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna (R =0.016). Terdapat hubungan antara riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna di poli THT RSUD Kota Mataram periode Januari-Desember 2015.
POLA MAKAN TIDAK SEHAT DI USIA MUDA BERPOTENSI MENYEBABKAN SINDROM DISPEPSIA Deny Sutrisna Wiatma
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dispepsia yang oleh orang awam sering disebut dengan “sakit maag” merupakan keluhan yang sangat sering kita jumpai sehari-hari. Istilah dispepsia mulai gencar dikemukakan sejak akhir tahun 80-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa panas yang menjalar di dada. Secara garis besar, penyebab sindrom dispepsia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keompok penyakit (seperti tukak peptic, gastritis, batu kandung empedu, dll) dan kelompok dimana penunjang diagnostic yang konvensional atau baku (endoskopi, radiologi, laboratorium) tidak dapat memperlihatkan adanya gangguan patologis, structural dan biokimiawi, atau dengan kata lain kelompok terakhir ini disebut sebagai dispepsia fungsional. Banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya sindrom dispepsia dimana salah satu diantaranya adalah pola makan yang tidak sehat seprti tidak teraturnya waktu makan. Angka di Indonesia sendiri penyebab dispepsia adalah 86% dispepsia fungsional, 13% ulkus dan 1% disebabkan oleh kanker lambung. Dalam beberapa penelitan yang salah satunya dilakukan oleh Deny S. (2012) hubungan ketidakteraturan makan terhadap terjadinya sindrom dispepsia yang dilakukan terhadap 70 dengan mengguanakan metode case control study didapatkan nila Odds Ratio (OR) sebesar 20. Ketidakteraturan makan atau pola makan yang salah merupakan factor risiko yang mempengaruhi untuk terjadinya sindrom dispepsia sebesar hingga 20 kali lipat serta kejadian sindrom dispepsia mahasiswa/usia muda ternyata sesuia dengan pola maknnya yang tidak teratur
PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA DAN PERMASALAHANNYA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PERIODE 1 JANUARI 2004 - 31 DESEMBER 2005 Aida Nurwidya
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di negara-negara yang sudah maju penatalaksanaan mola hidatidosa tidak merupakan masalah karena sebagian besar telah terdiagnosis pada stadium dini, sebaliknya di negara-negara yang sedang berkembang masih cukup tinggi. Di negara berkembang pada umumnya diagnosis terlambat. Komplikasi seperti perdarahan, infeksi, eklamsia dan tirotoksikosis masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu. Sebagian besar dari pasien mola akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok wanita yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan mola hidatidosa, untuk mengetahui manfaat kuretase kedua pada penatalaksanaan mola hidatidosa dan untuk mengetahui seberapa besar kejadian tumor trofoblastik gestasional setelah tindakan kuretase dan histerektomi. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian noneksperimental, dengan pendekatan deskriptif observasional. Subjek penelitian adalah semua pasien dengan diagnosis mola hidatidosa berdasarkan pemeriksaan fisik dan ultrasonografi. Data diambil dari rekam medik. Sampel penelitian menggunakan total sampling dan masuk dalam kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi-square pada tingkat kepercayaan 95 %. Dari penelitian penatalaksanaan mola hidatidosa dilakukan dengan tindakan kuretase (90%) dan histerektomi (10%). Hasil histopatologi kuretase kedua sudah tidak ditemukan jaringan mola hidatidosa (100%). Kejadian tumor trofoblastik gestasional sebanyak 20 %. Uji statistik dengan chi-square menunjukkan hasil terdapat hubungan signifikan antara variabel umur, paritas, umur kehamilan dan penatalaksanaan terhadap variabel terjadinya tumor trofoblastik gestasional (p<0,05). Penatalaksanaan mola hidatidosa terbanyak dengan tindakan kuretase, kuretase kedua perlu dipertimbangkan lagi karena hasil histopatologi kuret kedua sudah tidak ditemukan jaringan mola hidatidosa. Kejadian tumor trofoblastik gestasional sebanyak 20 %.
KULIAH KERJA LAPANGAN KESEHATAN MASYARAKAT BERSIH LINGKUNGANKU SEHAT WARGAKU DI KELURAHAN SELAGALAS TAHUN 2017 Sukandriani Utami; Siti Ruqayyah
JURNAL KEDOKTERAN Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan antara lain mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (limbah) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup didalamnya (Notoatmodjo, 2003). Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial disamping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Faktor Lingkungan (fisik, biologi dan sosiokultural) mempunyai ikatan yang erat dengan faktor perilaku misalnya kebiasaan atau perilaku dalam menggunakan air bersih, membuang air besar serta membuang sampah di sembarang tempat termasuk pembuangan limbah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pencemaran air tersebut dan penduduk menjadi rawan terhadap penyakit menular bawaan air seperti penyakit kulit, diare dan lain-lain (Depkes RI, 2003). Maka dari itu, program Kuliah Kerja Lapangan Kesehatan Masyarakat (KKL-KESMAS) Tahun 2017 sebagai salah satu cara merubah pola pikir masyarakat yang masih rendah yaitu belum memperhitungkan dampak lingkungan kotor terhadap tingkat kesehatan mereka sendiri. Dengan demikian, masyarakat pada waktu yang akan datang diharapkan dapat meninggalkan kebiasaan yang kurang baik mengenai kesehatan lingkungan

Page 1 of 13 | Total Record : 129