cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 145 Documents
Kondisi Ideologis dan Derajat Keteramalan: Analisa Wacana Kritis Norman Fairclough J Haryatmoko
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.175 KB)

Abstract

Abstract: Alasdair MacIntyre and Martha C. Nussbaum are two prominent contemporary moral philosophers who attempt to rehabilitate Aristotles conception of virtues. Although both agree that virtue ethics can be considered as a strong alternative to our search for commonalities in a pluralistic society such as Indonesia, each chooses a very different path. While MacIntyre interprets Aristotle from his traditionalist and communitarian perspective, Nussbaum construes the philosopher in a non-relative and essentialist point of view using the perspective of capability. Consequently, MacIntyre construes a more particularistic view of virtue ethics, whereas Nussbaum presents a more universalistic view of virtue ethics. Applying virtue ethics to the Indonesian context, this article argues that each approach will be insufficient to address the highly pluralistic societies such as Indonesia. Therefore, we need to construct a virtue ethics proper to the Indonesian context that takes both approaches into consideration. Keywords: Virtue, virtue ethics, community, capability, incommensurability. Abstrak: Alasdair MacIntyre dan Martha C. Nussbaum merupakan dua orang filsuf moral terkemuka pada masa kini, yang berusaha merehabilitasi konsep Aristoteles mengenai keutamaan. Sekalipun keduanya sepakat bahwa etika keutamaan dapat dipertimbangkan sebuah sebuah alternatif yang memadai bagi usaha kita dalam mencari kesamaan di tengah sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, masing-masing memilih jalan yang sangat berbeda. Sementara MacIntyre menafsirkan Aristoteles dari perspektif tradisionalis dan komunitarian, Nussbaum memahami sang filsuf dari sebuah sudut pandang esensialis dan nonrelatif dengan memakai pendekatan kapabilitas. Akibatnya, MacIntyre mengkonstruksi sebuah pandangan yang lebih partikular atas etika keutamaan, sementara Nussbaum lebih menghadirkan sebuah pandangan yang lebih universal atas etika keutamaan. Mengaplikasikan etika keutamaan pada konteks Indonesia, artikel ini berpendapat bahwa masing-masing pendekatan tidak akan memadai untuk menjadi masyarakat yang sangat pluralistis seperti Indonesia. Untuk itu, kita perlu mengkonstruksi sebuah etika keutamaan yang kontekstual di Indonesia yang mempertimbangkan dan memanfaatkan kedua pendekatan tersebut. Kata-Kata Kunci: Keutamaan, etika keutamaan, komunitas, kapabilitas, inkomensurabilitas.
Aplikasi Etika Diskursus Bagi Dialog Interreligius Gusti A.B. Menoh
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.075 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan mempresentasikan etika diskursus Jgen Habermas dan kemudian menarik kemungkinan relevansinya bagi dialog interreligius. Berbeda dengan global ethics Hans Kg yang menjadikan problem of the good sebagai pokok pembicaraan, etika diskursus hanya membicarakan bagi kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk. Karena itu, etika diskursus tidak ber-tendensi mengejar substansi nilai-nilai etis dari berbagai pandangan dunia (world-view) dalam kelompok-kelompok kultural maupun religius yang berbeda-beda itu. Sebaliknya, etika diskurus hanya menawarkan sebuah prosedur untuk memecahkan masalah hidup bersama secara adil di tengah kemajemukan pandangan nilai dan keyakinan yang tak terbantahkan. Etika ini tidak bertujuan melenyapkan perbedaan-perbedaan identitas para warga dengan segala kekayaan kultural dan religiusnya, melainkan berupaya menjamin kelangsungan hidup bersama secara bermartabat tanpa kehilangan identitas individual. Tulisan ini dibagi dalam dua bagian. Pertama, penulis akan mendeskripsikan hakikat etika diskursus. Kedua, penulis akan menarik kemungkinan aplikasi etika diskursus bagi dialog interreligius. Tulisan ini akan diakhiri dengan penutup singkat. Kata-kata Kunci: Lebenswelt (dunia-kehidupan), tindakan komunikatif, etika diskursus, dialog interreligius, teologi agama-agama. Abstract: This paper aims to present the Discourse Ethics of Jgen Habermas and find its relevance for interreligious dialogue. In contrast to the global ethics of Hans Kg that concerns the problem of the good, discourse ethics deals only with the problem of justice within a pluralistic society. Therefore, discourse ethics does not attempt to find the commonality of the ethical different values of the various group either culturally or religiously. Rather, discourse ethics offers a procedure for solving inter-religion and inter-cultural problems within a community or society fairly and reasonably. In other words, discourse ethics does not aim to eliminate the distinctive attributes of every citizen within their own cultural and religious belief, but rather ensures that each person or each group live together with dignity without losing their identity. This paper is divided into two parts. First, the author will describe what discourse ethics is. Second, the authors will discuss the possible application of discourse ethics for interreligious dialogue. This paper will end with a short conclusion. Keywords: Lebenswelt (world-lives), communicative action, discourse ethics, interreligious dialogue, theology of religions.
Fenomenologi Sebagai Filsafat dan Usaha Kembali Ke Permulaan Thomas Hidya Tjaya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.981 KB)

Abstract

Abstrak: Dalam pengantar pada karyanya Phenomenology of Perception, Merleau-Ponty praktis mengidentikkan filsafat dengan fenomenologi sebagai usaha untuk mempelajari kembali bagaimana cara melihat dunia. Dalam upaya tersebut ia mengajak pembaca, mengikuti slogan khas fenomenologi Husserl, untuk kembali ke permulaan atau bendabenda itu sendiri. Yang menarik adalah bahwa permulaan yang dianalisis oleh Merleau-Ponty justru tubuh manusia, sebuah dimensi yang cenderung dipandang rendah dalam sejarah filsafat Barat. Ia tidak sendirian dalam hal ini, mengingat dalam fenomenologinya Levinas juga menekankan sensibilitas sebagai locus etika. Menurut penulis, gerakan fenomenologi menuju hal yang sensibel (the sensible) ini tidaklah mengubah hakikat filsafat sebagai usaha untuk mencari asal mula realitas. Realitas yang tersingkap dalam orientasi demikian justru menjadi lebih integral dan komprehensif daripada apa yang selama ini dikenal dalam sejarah filsafat dan sains. Meskipun demikian, orientasi pada pengalaman konkret manusia untuk menggali dasar realitas secara potensial menimbulkan masalah bagi fenomenologi itu sendiri yang selalu ingin kembali ke permulaan. Kata-kata Kunci: Fenomenologi, asal mula, permulaan, ada-dalam-dunia, sains. Abstract: In the Preface to his work Phenomenology of Perception Merleau-Ponty virtually identifies philosophy with phenomenology as a way of relearning to see the world. For this purpose he invites the reader, following the catchphrase in Husserls phenomenology, to return to the beginning or the things themselves. What is interesting is that the beginning that Merleau-Ponty analyzes is the human body, which belongs to a dimension that tends to be despised in the history of Western philosophy. He is not alone in this type of investigation, as Levinas also emphasizes sensibility as the locus of ethics. The author argues that the phenomenological movement towards the sensible does not alter the nature of philosophy as an attempt to seek for the nature of reality. The reality as disclosed in this analysis can be more integral and comprehensive than what is usually presented in the history of philosophy and science. The orientation towards the concrete dimension of human life in search for the foundation of reality, however, may cause a problem for phenomenology itself insofar as it always tries to return to the beginning. Keywords: Phenomenology, origin, beginning, being-in-the-world, science.
Realitas Perempuan Dalam Kidung Agung Menurut Teologi Feminis Asnath Niwa Natar
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.983 KB)

Abstract

Abstrak: Teks-teks Alkitab banyak menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Hal itu terjadi karena teks Alkitab ditulis oleh para lelaki pada budaya patriarki yang mengakibatkan terbungkamnya suara perempuan. Menyadari kenyataan itu kaum feminis pada tiga dekade terakhir telah berupaya menggali dan menafsirkan ulang teks-teks tersebut untuk membantu kaum perempuan mencapai kesetaraan mutualis dengan laki-laki. Tulisan berikut merupakan salah satu bagian dari upaya tersebut yang mendemonstrasikan bagaimana perempuan pada zaman penulisan Alkitab, khususnya kitab Kidung Agung, bukan hanya memainkan peranan penting tetapi juga yang mendominasi seluruh isi kitab. Kata-kata Kunci: Perempuan-laki-laki, patriarki, kesetaraan, penafsiran Alkitab, Kidung Agung, seksualitas, tubuh perempuan. Abstract: Many Biblical texts placed women lower than men. It happens because they were written by men of a patriarchal culture and thus the voice of women was usually silenced. Realizing these facts, feminist groups for the last three decades have been working to re-read and to reinterpret the texts in order to help women find their equal position to men. The following article is one of those efforts to demonstrate how women in the biblical periods, specifically in the Song of Songs, not only played important roles, but also dominated the whole content of the book. Keywords: Woman-man, patriarchy, equality, bible interpretation, the song of songs, sexuality, woman body.
Menggali Metode Berteologi Pastoral dari Pentalogi R. Hardawiryana SJ C. Putranto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.278 KB)

Abstract

Abstrak: Dalam tulisan ini penulis berusaha mencermati karya-karya dari almarhum Pater Robertus Hardawiryana, SJ (1926-2009), salah satu teolog Indonesia yang terkemuka segera seusai Konsili Vatikan II. Berdasarkan karya-karya beliau terakhir yang sudah diterbitkan, yakni Pentalogi, tetapi juga memanfaatkan beberapa manuskrip yang belum diterbitkan, penulis memusatkan diri pada pandangan Hardawiryana tentang metode berteologi sejauh tercermin dalam tulisan-tulisannya. Pada umumnya, pandangan Hardawiryana tentang metode bisa dilihat pada awal karangan-karangannya, di mana tampak bahwa dia sangat sadar akan pentingnya metode dalam berteologi. Dalam hal ini Hardawiryana sejalan dengan arah-arah baru yang dibuka oleh Federasi Konferensi-konferensi Uskup Asia dalam pelbagai dokumennya. Meskipun demikian, sulit diharapkan suatu paparan teoretis yang menyeluruh dan sistematis tentang metode berteologi dari teolog ini, mengingat bahwa minat utamanya lebih tertuju pada pengupayaan suatu arah pastoral yang kuat pada tulisan-tulisan teologi, dan sebaliknya juga, pada pemberian dasar teologis yang kuat pada kebijakan-kebijakan pastoral. Selain itu, penulis juga memandang perlu untuk menilik sejenak pembentukan intelektual Hardawiryana agar lebih menolong untuk memahami kecenderungan-kecenderungannya kelak dalam berteologi. Kata-kata Kunci: Teologi, metode berteologi, pembinaan teologi, orientasi pastoral, inkulturasi, FABC. Abstract: In this essay the author attempts to explore the works of the late Fr. Robert Hardawiryana, S.J., (1926-2009), one of prominent Indonesian theologians in the wake of the Second Vatican Council. Based on this theologians latest published works, the Pentalogi, but also making use of some yet unpublished manuscripts, the author focuses on Hardawiryanas view of theological method as reflected in his writings. In most cases, his view on method can be seen from the introduction he provides at the beginning of his articles, as he is highly aware of the importance of method in doing theology. In this way he concurs with the new trends opened up by the Federation of Asian Bishops Conference in its various documents. However, one can hardly expect a thorough and systematic theoretical exposition on theological method from this theologian, as his main interest lies elsewhere, namely, to bring a truly responsible pastoral thrust to theological writings, and vice versa, to provide sound theological foundation to pastoral policies. The author also considers that a glimpse at his intellectual formation would be of considerable help to understand Hardawiryanas future leanings in theology. Keywords: Theology, method of theology, theological formation, pastoral orientation, inculturation, FABC.
Yohanes Bambang Mulyono, Sejarah dan Penafsiran Leksionaris Versi RCL, Jakarta: Grafika KreasIndo, 2014, xv+257 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.078 KB)

Abstract

Berulang kali saya ditanya oleh sesama umat Katolik apakah buku bacaan Misa Katolik juga dipakai oleh gereja Protestan, sebab mereka mengalami bahwa dalam ibadat hari minggu gereja Kristen lain dipakai bacaan Alkitab yang sama. Memang belum banyak diketahui perkem-bangan luar biasa yang selama setengah abad terakhir terjadi berkaitan dengan lectionarium atau leksionari ibadat hari Minggu dalam seluruh umat Kristen. Karena itu publikasi thesis Pendeta Y.B. Mulyono (S2 di STT Proklamasi) tentang Revised Common Lectionary (RCL) sangat di-butuhkan, dan membantu juga diri saya. ... Thesis M. yang diterbitkan dengan rapi oleh Grafika KreasIndo (Sinode GKI) menjadi bacaan penting bagi setiap pengkhotbah, entah pendeta atau imam, dan hendaknya mendapat tempat dalam pendidikan hermeneutika dan homiletika para calon imam dan pendeta. (Martin Harun, Guru Besar Ilmu Teologi Emeritus, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Karim Schelkens, John A. Dick, J├╝rgen Mettepenningen Aggiornamento?, Catholicism from Gregory XVI to Benedict XVI, Leiden/Boston: Brill, 2013, vi+247 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.999 KB)

Abstract

Membaca buku yang terbit dalam Brills Series in Church History ini mempesona. Buku ini begitu menarik karena menggariskan perjalanan intelektual dan teologis Gereja Katolik sejak Revolusi Prancis (1789-95) dan kekalahan Napoleon (1815) sampai ke tahun 2013, tahun Paus Benedikt XVI mengundurkan diri. Padahal 200 tahun itu adalah tahun-tahun terwujudnya modernitas. Maka buku ini memaparkan dan menganalisa bagaimana Gereja Katolik dan teologinya menghadapi modernitas. Di atas hanya 220 halaman para penulis memperkenalkan pembaca secara ketat, tetapi jelas dan rinci, dengan perkembangan amat dramatis teologi Katolik, dengan peranselalu peran kuncipara Paus, para teolog dan aliran-aliran teologi Katolik utama. Suatu perjalanan yang mulai dengan penolakan total Gereja terhadap modernitas, melalui tu-nas-tunas pembaruan sesudah perang dunia pertama yang akhirnya bermuara dalam pembukaan diri Gereja terhadap cita-cita manusia masa kini dalam Konsili Vatikan II (1962-65), namun pembukaan mana justru membawa Gereja ke dalam suatu krisis baru. Modernitas yang dibahas dalam buku ini mulai dengan revolusi intelektual yang namanya pencerahan dengan segala macam kejutan: Rasionalisme, liberalisme dan sekularisme sebagai ideologi politik baru. Nasionalisme sebagai kekuatan politik amat dahsyat. Restorasi monarki-monarki sesudah kekalahan Napoleon, gerakan-gerakan populis-nasionalisseperti Risorgimento yang akan mempersatukan Italia, dengan sekaligus menghapus Negara Kepausan yang sudah berumur seribu tahun. Dua perang dunia di abad ke-20 yang mengubah wajah Eropa dan akhirnya membongkar kolonialisme dan imperialisme Eropa. Munculnya ideologi-ideologi sekuler keras seperti komunisme dan fasisme. Perang dingin dan anarki sesudah perang dingin selesai. Para penulis berhasil menempatkan Gereja dalam pusaran global itu. Mereka menunjukkan bagaimana Gereja di bawah Paus Gregor XVI (1831-46), di bawah syok Revolusi Prancis, mengambil sikap konfrontatif total terhadap modernitas, menolak tuntutan demokrasi, kebebasan beragama dan perpisahan antara Gereja dan Negara. Konsili Vatikan I (1869-70) di mana penolakan itu memuncak dibahas secara rinci dengan latar belakangnya dan keanekaan aliran teologis yang sebenarnya kompleks, dan bagaimana Gereja Katolik mendefinisikan diri sebagai Gereja Kepausan. Kita mengikuti bagaimana Gereja kemudian mau mengamankan diri dari tantangan pemikiran filsafat modern dengan menetapkan neo-skolastik sebagai filsafat dan teologi resmi Gereja, bagaimana obsesi anti-modernisme mencapai puncaknya di bawah Paus Pius X (1903-14). Kita membaca tentang ultramontanisme, gerakan Oxford, perhimpunan ekstrem kanan Prancis Action Catholique (yang akhirnya dibubarkan oleh Paus Pius XI [1922-1939]), dan juga tentang Sodalitium Pianum (Persaudaraan Pius), suatu jaringan rahasia yang memata-matai para dosen teologi dan filsafat, yang kalau dicurigai ketularan modernisme dilaporkan ke Roma, lalu dipecat (ada sekitar lima puluh dosen yang disingkirkan sebagai terjangkit modernisme). Kita menyaksikan gerakan-gerakan pembaruan yang muncul sesudah PD I seperti gerakan liturgis, gerakan biblis, gerakan ekumenis, para imam buruh dan nouvelle theologie (teologi baru, yang meski 1949 dilarang oleh Paus Pius XII (1939-58) namun akan memberi dorongan-dorongan kunci pada pembaruan Gereja dalam Konsili Vatikan II). ... Gambaran Gereja 2013 pada permulaan Kepausan Fransiskus dalam buku ini berkesan ambivalen. Sebenarnya pimpinanPaus, para Uskupmendasarkan diri pada paham Gereja Konsili Vatikan II. Tetapi reformasi struktur pemerintahan Gereja tetap macet. Tentang banyak masalah rincikeluarga berencana, selibat wajib, kemungkinan pe-nahbisan perempuan menjadi imam, desentralisasi kekuasaan, peng-angkatan uskup atau peresmian teks-teks liturgi bagi Gereja lokal, misalnya terdapat perbedaan-perbedaan pandangan serius antara banyak teolog Katolik dengan Vatikan. Padahal Gereja adalah komunitas ber-iman yang dibangun atas keyakinan bahwa Gereja adalah ruang di mana kita bertemu dengan, dan dibimbing oleh, Yesus Kristus. Kekuasaan yang dipegang oleh Paus semata-mata harus demi menunjang panggilan Gereja itu. Kalau dalam umat terjadi kesan bahwa pimpinan Gereja memakai kekuasaan yang ada di tangannya untuk mempertahankan struktur-struktur kekuasaan yang tidak lagi dapat dilegitimasi atas dasar Injil, kredibilitas Gereja sendiri bisa mengalami kemerosotan. Barangkali keengganan Vatikan untuk mengadakan reformasi nyata bukan karena Vatikan masih, untuk sebagian, terperangkap oleh gambaran Gereja Vatikan I, sebagaimana disindir dalam buku ini, melainkanmengikuti kritik ideologi Karl Marxkarena Vatikan, seperti setiap aparat, seakan-akan dengan sendirinya mati-matian mau mempertahankan kekuasaan. Apakah Paus Fransiskus yang telah membawa angin baru ke dalam Vatikan akan membawa perubahan? (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Alasdair MacIntyre and Martha Nussbaum on Virtue Ethics Joas Adiprasetya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.79 KB) | DOI: 10.26551/diskursus.v15i1.16

Abstract

Abstract: Alasdair MacIntyre and Martha C. Nussbaum are two prominent contemporary moral philosophers who attempt to rehabilitate Aristotles conception of virtues. Although both agree that virtue ethics can be considered as a strong alternative to our search for commonalities in a pluralistic society such as Indonesia, each chooses a very different path. While MacIntyre interprets Aristotle from his traditionalist and communitarian perspective, Nussbaum construes the philosopher in a non-relative and essentialist point of view using the perspective of capability. Consequently, MacIntyre construes a more particularistic view of virtue ethics, whereas Nussbaum presents a more universalistic view of virtue ethics. Applying virtue ethics to the Indonesian context, this article argues that each approach will be insufficient to address the highly pluralistic societies such as Indonesia. Therefore, we need to construct a virtue ethics proper to the Indonesian context that takes both approaches into consideration. Keywords: Virtue, virtue ethics, community, capability, incommensurability. Abstrak: Alasdair MacIntyre dan Martha C. Nussbaum merupakan dua orang filsuf moral terkemuka pada masa kini, yang berusaha merehabilitasi konsep Aristoteles mengenai keutamaan. Sekalipun keduanya sepakat bahwa etika keutamaan dapat dipertimbangkan sebuah sebuah alternatif yang memadai bagi usaha kita dalam mencari kesamaan di tengah sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, masing-masing memilih jalan yang sangat berbeda. Sementara MacIntyre menafsirkan Aristoteles dari perspektif tradisionalis dan komunitarian, Nussbaum memahami sang filsuf dari sebuah sudut pandang esensialis dan nonrelatif dengan memakai pendekatan kapabilitas. Akibatnya, MacIntyre mengkonstruksi sebuah pandangan yang lebih partikular atas etika keutamaan, sementara Nussbaum lebih menghadirkan sebuah pandangan yang lebih universal atas etika keutamaan. Mengaplikasikan etika keutamaan pada konteks Indonesia, artikel ini berpendapat bahwa masing-masing pendekatan tidak akan memadai untuk menjadi masyarakat yang sangat pluralistis seperti Indonesia. Untuk itu, kita perlu mengkonstruksi sebuah etika keutamaan yang kontekstual di Indonesia yang mempertimbangkan dan memanfaatkan kedua pendekatan tersebut. Kata-Kata Kunci: Keutamaan, etika keutamaan, komunitas, kapabilitas, inkomensurabilitas.
Berteologi bagi Agama di Zaman Post-Sekular Adrianus Sunarko
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.97 KB)

Abstract

Abstrak: Prediksi tentang hilangnya agama seiring dengan proses modernisasi ternyata tidak benar. Agama-agama tetap hadir dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kenyataan ini memberikan tantangan tersendiri bagi teologi, setidak-tidaknya karena tiga hal. Pertama, kehadiran agama seringkali disertai dengan kecenderungan kuat untuk melihat relevansi agama hanya pada lingkup kehidupan privat seseorang dan mengabaikan implikasi sosial politis hidup beriman. Kedua, kehadiran agama terkait pula dengan sejumlah tindak kekerasan yang mengancam ketenteraman hidup bersama. Ketiga, agama-agama khususnya di Indonesia dituntut menyesuaikan diri berhadapan dengan kenyataan plural dan corak demokratis masyarakat. Teologi ditantang untuk menyumbangkan refleksi yang berguna bagi terbentuknya agama yang tidak lupa akan implikasi sosial-politiknya, yang bebas dari kekerasan dan mampu menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat demokratis dan plural. Kata-Kata Kunci: Post-sekular, privatisasi agama, kekerasan, multikultural, posisi epistemis, demokrasi, teologi politik. Abstract: The prediction that religion would vanish during and because of the modernization is not really true. Religions are still present and play a significant role in social life. This fact gives a special and interesting challenge to theology, at least for three reasons. First, the presence of religion is often accompanied by the strong tendency among its adherents to find the relevance of religion only to the ones private life, denying the social and political implication of religion. Second, the presence of religion is connected with the acts of violence, which threaten the peace of the social life. Third, the religions especially in Indonesia have to adapt themselves to the pluralistic reality and the democratic system of the society. Theology is challenged to offer meaningful reflection on the formation of religion, which does not forfeit its social and political implications, free from violence and mindful of how to place itself properly in the democratic and pluralistic society. Keywords: Post-secular, privatization of religion, violence, multi-cultural, epistemic position, democracy, political theology.
Doktrin Trinitas dalam Diskursus Teologi Ekonomik Yahya Wijaya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.798 KB)

Abstract

Abstrak: Artikel ini menguraikan penggunaan konsep teologis Trinitas sosial oleh empat teolog yang secara khusus menyoroti isu-isu ekonomi. Secara umum para teolog itu menyatakan bahwa teologi ekonomik yang berdasarkan Trinitas sosial menolak model ekonomi individualistik yang memertaruhkan komunitas. Mereka memberi gambaran yang berbeda-beda tentang model ekonomi yang layak ditolak itu. Meeks dan Boff melihat praktik ekonomi pasar yang berlaku saat ini maupun praktik ekonomi sosialis yang pernah dijalankan di negara-negara komunis sebagai wujud-wujud dari model ekonomi semacam itu. Novak menolak praktik sosialisme dan memandang kapitalisme yang bersifat demokratik sebagai model ekonomi yang trinitaris. Higginson menilai model ekonomi yang individualistik itu tersirat dalam etos Protestannya Max Weber dan seringkali tercermin dalam cara pengelolaan perusahaan. Saya melanjutkan teologi ekonomik yang berdasarkan Trinitas Sosial itu dengan menjadikan secara spesifik keluarga sebagai wujud konkret komunitas. Saya berpendapat bahwa Trinitas keluarga dapat menjadi dasar bagi pengembangan teologi ekonomik yang responsif terhadap konteks ekonomi Indonesia dan Asia pada umumnya, di mana keluarga menjadi bukan hanya model hubungan sosial tetapi juga acuan etis. Kata-kata Kunci: Trinitas sosial, teologi ekonomik, ekonomi kekeluargaan. Abstract: This article explores the use of the theological concept of social Trinity by four theologians focusing on economic issues. In general, those theologians suggest that the concept of social Trinity implies an economic theology resisting the individualistic economy model, which puts the community at stake. They disagree on which economic system exactly they consider worth rejecting. For Meeks and Boff, that economic model includes both the existing market economy and socialism as had been practiced in the communist countries. Novak rejects the economic system of socialist countries whilst insisting that democratic capitalism is consistently Trinitarian. Higginson argues that the individualistic economy is implied in Webers Protestant ethic and often reflected in the management of corporations. Subscribing to the economic theology based on social Trinity, and, at the same time, responding specifically to the characteristics of the Indonesian context, I suggest the family as a concrete form of community. I argue that familial Trinity would serve as a foundation for developing an economic theology in response to the situation of Indonesian economy and Asian economy in general, where the family is not only a model of social relations, but also an ethical reference. Keywords: Social Trinity, economic theology, familial economy.

Page 1 of 15 | Total Record : 145


Filter by Year

2010 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue