cover
Contact Name
Ali Rahmat
Contact Email
ali.rahmat@limnologi.go.id
Phone
+6282278231661
Journal Mail Official
opescitech@gmail.com
Editorial Address
Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Open Science and Technology
ISSN : 2776169X     EISSN : 27761681     DOI : http://dx.doi.org/10.33292/ost
Open Science and Technology diterbitkan oleh Research and Social Study Institute sebagai sarana untuk mempublikasikan hasil penelitian, artikel review dari peneliti-peneliti dibidang Ilmu alam, Ilmu pertanian, ilmu Kehutanan, Ilmu Keteknikan, Teknologi, dan Aplikasinya. Jurnal ini terbit dua kali setahun (April dan Oktober). Jurnal ini diterbitkan secara online dan cetak. Open Science and Teknologi memilki filosofi bahwa jurnal ini terbuka untuk siapa saja baik mahasiswa, dosen, peneneliti, konsultan, praktisi di bidang ilmu sains dan teknologi secara umum untuk menerbitkan hasil studi atau penenlitiannya di jurnal ini. Jurnal ini diharapkan pula dapat menjadi jurnal yang fast respone, fast review dan fast publication. Dan kedepan dapat terakreditasi secara nasional dan terindek secara global. Open Science and Technology telah ber P-ISSN 2776-169X dan E-ISSN 2776-1681
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 47 Documents
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran dengan Pemanfaatan Citra Landsat: Land Use Change Analysis in Kedondong subdistrict, Pesawaran District with Utilization of Landsat Images Winih Sekaringtyas Ramadhani; Dicky Lian Pratama; Ali Rahmat; Novia Fitri Istiawati
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.2

Abstract

Kecamatan Kedondong merupakan salah satu daerah yang berada di kabupaten Pesawaran yang memiliki luasan 67 km². Kecamatan Kedondong memiliki wilayah dengan sektor pertanian yang luas terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura yang didonimasi oleh tanaman kakao. Selain itu, jumlah penduduk yang setiap tahun meningkat mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan. Perubahan ini dapat mempengaruhi jumlah kawasan hijau di Kabupaten Pesawaran. Oleh karena itu perlu dilakukannya perhitungan perubahan lahan pada tahun 2002 hingga tahun 2020 dengan menggunakan citra landsat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan pada tahun 2002 hingga 2020 pada Kecamatan Kedondong. Penelitian ini menggunakan landsat 7 dan 8 yang diolah dalam metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Setelah dilakukannya pengolahan data kemudian dilakukannya pengamatan lapang terhadap 30 titik sampel yang telah diacak pada peta tahun 2020. Hasil analisis NDVI pada tahun 2020 terdapat peningkatan vegetasi kerapatan rendah (9,1%) dan sedang (27,9%) dari tahun 2002  hingga tahun 2020. Dan terjadi penurunan lahan terbuka sebesar 14,3%. Hal tersebut dikarenakan tanaman kakao sudah tumbuh besar dan juga terdapat banyak penambahan tanaman pepaya dan ubi kayu disela-sela tanaman kakao. Sehingga pola tanam tumpang sari mampu meningkatkan tutupan lahan. Hasil pengamatan lapang dan data hasil olahan menunjukan tingkat keakuratan sebesar 95%. Kedondong subdistrict is one of the Pasewaran district areas, which has an area of 67 km². Kedondong subdistrict has an area with a large agricultural sector consisting of food and horticultural crops, which the cocoa plant dominates. In addition, the population that increases every year results in changes in land use. This change can affect the number of green areas in the Pasewaran District. Therefore, it is necessary to calculate land changes from 2002 to 2020 years using Landsat imagery. This study aims to determine changes in land cover from 2002 to 2020 in the Kedondong subdistrict. This study used Landsat 7 and 8, processed by the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) method. After data processing was carried out, field observations 30 randomized sample points on the map in 2020. The NDVI analysis results in 2020 showed an increase in the density of vegetation is low (9.1%) and moderate (27.9%) from 2002 to 2020 years. Moreover, there was a decrease in open land by 14,3%. This is because the cocoa plants had grown, and there are also many additions to papaya and cassava plants between the cacao plants. So that the intercropping cropping pattern can increase land cover. Infield observation has an accuracy level of 95%.
Viabilitas Benih Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) Varietas Grobogan dan Argomulyo akibat Pengusangan Cepat dengan Uap Jenuh Etanol atau Periode Simpan : Viability of Soybean Seeds (Glycine max [L.] Merrill) of Grobogan and Argomulyo Varieties due to Accelerated Aging Using Ethanol Saturated Vapour or Storage Period Rizki Rama Danti Putri; Eko Pramono; Muhammad Kamal
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.3

Abstract

Kemunduran benih dapat dipercepat dengan penuaan yang dipercepat menggunakan perlakuan uap jenuh etanol, dan viabilitasnya menjadi lebih rendah dengan deraan uap jenuh etanol yang lebih lama. Viabilitas benih juga lebih rendah karena periode penyimpanan yang lebih lama. Dua percobaan masing-masing menggunakan rancangan acak lengkap dilakukan untuk melihat viabilitas benih dari dua varietas kedelai Grobogan dan Argomulyo oleh pengaruh periode penyimpanan atau oleh lama deraan uap jenuh etanol. Sebagian benih kedelai disimpan dan viabilitasnya diamati setiap bulan hingga enam bulan. Sebagian benih lainnya diperlakukan dengan deraan uap jenuh etanol dan viabilitasnya diamati setiap 30 menit deraan hingga 180 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa viabilitas benih kedelai Grobogan dan Argomulyo selama penyimpanan 0-6 bulan adalah sama, seperti halnya pengusangan cepat 0-150 menit. Viabilitas benih Grobogan pada pasca lama penderaan 120-180 menit dalam uap etanol jenuh lebih rendah dari viabilitasnya selama penyimpanan 4-6 bulan, sedangkan viabilitas benih Argomulyo pasca lama deraan 60-180 menit lebih rendah daripada pasca lama simpan 2-6 bulan. Seed deterioration can be accelerated by accelerated aging using the treatment of ethanol saturated vapour, and its viability becomes lower by the longer exposure to the ethanol saturated vapor. The viability of the seed is also lower by the longer period storage. Two sets of studies each using a completely randomized design were conducted to determine the viability of the seeds of two Grobogan and Argomulyo soybean varieties by the influence of the storage period 0- 6 months or by the length of exposure to ethanol saturated vapor. A part soybean seeds were stored and their viability were observed every month to six months. Another part of the seeds were treated by exposing them to saturate ethanol vapor and then their viability were observed every 30 minutes of exposure to 180 minutes.  The results of the experiments showed that the viability of Grobogan and Argomulyo soybean seeds during 0-6 months of storage were the same, as waere the rapid aging of 0-150 minutes. The viability of Grobogan seeds after 120-180 minutes of aging in saturated ethanol vapour was lower than its viability during storage for 4-6 months, while the viability of Argomulyo seeds after 60-180 minutes of aging was lower than after 2-6 months of storage.
Pengaruh Pengusangan Cepat dengan Laruta Etanol dan Metode Penyimpanan Dibawah 27,3±0,9°C Pada Viabilitas Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill.): Effects of Accelerated Aging with Ethanol Solution or Conventional Storage under Temperature of 27,3±0,9 ?c on Viability of Soybean Seeds (Glycine max [L.] merrill.) Hamida Muliana Sari; Eko Pramono; Muhammad Kamal; Agustiansyah
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.4

Abstract

Benih yang diberi perlakuan larutan etanol dengan konsentrasi yang semakin tinggi akan mengalami lebih banyak kemunduran dan viabilitasnya akan rendah. Kejadian ini mirip dengan benih yang disimpan untuk periode simpan alami yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan viabilitas benih dari dua varietas kedelai akibat pengusangan cepat maupun periode simpan alami. Pengusangan cepat dengan menggunakan larutan etanol 8% dengan intensitas 0, 2, ..., 12 jam. Lama penyimpanan alami yang digunakan adalah 0- 6 bulan di ruang penyimpanan bersuhu 27,3±0,9 ?C. Dua varietas benih kedelai adalah Grobogan dan Argomulyo. Viabilitas yang diukur adalah persentase kecambah normal total (KNT) dan kecepatan perkecambahan (KP), yang keduanya diamati pada setiap akhir perlakuan pengusangan cepat atau pada setiap akhir periode simpan alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas benih kedua varietas kedelai, baik diukur dengan KNT maupun KP, selama penyimpanan 0 sampai 6 bulan tidak berbeda secara signifikan berdasarkan uji t-student 5% dari benih yang diamati pada perlakuan pengusangan cepat 0-12 jam dengan larutan etanol 8 %. Seeds given treatment of etanol solution with increasingly high concentration deteriorate and reduce its viability. This phenomenon is similar to seeds that were conventionaly stored for long period. The aim of this experiment is to compare seeds viability of two soybean varieties due to accelerated aging caused and natural storage period treatments. The accelerated aging uses 8% ethanol as solution with aging intensity of 0, 2, ..., 12 hours. The conventional storage storaging period last for 0 to 6 months with tempereture of 27,3±0,9 ?C. Two varieties of soybean seed that were used are Grobogan and Argomulyo. The viability measured were percentage of normal seedlings (PNS) and germination speed (GS), both were observed at the end of treatments of aging or at the end of treatments storage periods. The results showed that the seeds viability of the two soybean varieties, both measured with PNS and GS, during storage was not difterent significantly according 5% t-student test from those seeds exposured to accelerated aging treatments of  0-12 hours with ethanol solution 8%.
Kajian Viabilitas Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L] Moench.) Varietas Numbu dan UPCA-S2 Akibat Pengusangan Dipercepat maupun Periode Simpan Alami: The Study of Sorghum Seeds Viability (Sorghum bicolor [L.] Moench.) Varietas Numbu and UPCA-S2 Due to Accelerated Aging and Natural Storage Periods Ni Made Herawati; Eko Pramono; Muhammad Kamal
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.5

Abstract

Kemunduran benih dapat terjadi akibat lamanya periode penyimpanan atau pengusangan cepat. Viabilitas benih akan lebih rendah karena meningkatnya kemunduran benih. Percobaan ini bertujuan untuk membandingkan viabilitas benih sorgum varietas Numbu dan UPCA-S2, karena periode simpan alami dan karena pengusangan cepat. Intensitas pengusangan cepat adalah meningkatnya konsentrasi larutan etanol. Sebagian benih disimpan di dalam ruangan bersuhu 27,3 ± 0,9 ?C dan viabilitasnya diamati secara berkala setiap dua bulan hingga 6 bulan. Sebagian benih sorgum lainnya diperlakukan dengan melembabkannya dalam larutan etanol dengan peningkatan konsentrasi 0, 4, 8, dan 12%, masing-masing selama 24 jam. Periode simpan alami dan juga perlakuan intensitas pengusangan cepat berpengaruh secara signifikan (P <0,01) pada persentase kecambah normal dan kecepatan perkecambahan. Viabilitas benih kedelai Numbu maupun UPCA-S2 menurun secara signifikan pada perlakuan pengusangan cepat dengan konsentrasi etanol 8%, juga pada perlakuan periode penyimpanan dua bulan. Seed deterioration can occur by the length of the storage period or accelerated aging. The viability of seeds will be lower due to increasing seed deterioration. This experiment aimed to compare the viability of the seeds of two varieties of sorghum, Numbu, and UPCA-S2, due to the natural storage period and due to accelerated aging.  The intensity of aging was the increasing concentration of ethanol solution. Some seeds were stored in a room with a temperature of  27,3 ± 0,9?C, and their viability was observed periodically every 2 months up to 6 months. Some other sorghum seeds were treated by moisturizing them in ethanol solution with increasing concentrations, 0, 4, 8, and 12%, each for 24 hours. Seed viability was observed at each end of the rapid aging treatment. The storage period and the intensity of aging treatment significantly (P<0,01) reduced the percentage of normal seedling and germination speed.  The viability of Numbu soybean seeds and UPCA-S2 decreased significantly in the accelerated aging treatment with 8% ethanol concentration, also in the two-month storage period treatment.
Analisis Parameter Fisik Kompos Menggunakan Metode Vermikompos Pada Bahan Baku Daun Kering : Physical Parameters Analysis of Compost Using Vermicompost Method on Dried Leaves Material Donny Hermawansyah; Kasam; Fajri Mulya Iresha; Ali Rahmat
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.6

Abstract

Sampah merupakan salah satu faktor yang menjadi permasalahan di lingkungan. Jenis sampah yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah sampah anorganik dan organik. Salah satu alternatif penanggulangan sampah yang dapat dilakukan ialah dengan menggunakan cacing sebagai objek pengurai sampah dalam mendegradasi volume sampah biodegradable. Penelitian ini menggunakan metode vermikomposting untuk mereduksi sampah organik. Bahan yang digunakan adalah sampah daun kering. Parameter fisik metode vermikomposting dianalisis dalam penelitian ini yaitu kadar air, pH, suhu, ukuran partikel, warna dan bau pada pengamatan hari ke-28, 42, dan 56 disesuaikan dengan SNI 19-7030-2004. Nilai kadar air <50%, nilai pH antara 6,8-7,49, Temperatur <30 °C, warna kehitaman dan bau kompos menyerupai bau di tanah sesuai dengan SNI 19-7030-2004 tentang standar mutu kompos. Waste is one of the factors that has been a problem in the environment. The types of garbage commonly encountered in daily life are inorganic and organic garbage. One of several alternatives to reduce organic waste is vermicomposting to reduce the volume of waste biodegradable. This study uses the vermicomposting method to reduce organic waste. The material used is dried leaves waste. Physical parameters of vermicomposting method analyzed in this research included physical parameter subjects: the water content, pH, temperature, color, and smell of compost. Physical parameters were analyzed on the 28, 42, and 56 of vermicomposting compared with SNI 19-7030-2004. Value of the water content is <50%, pH values that are between 6.8-7.49, the temperature is <30°C, of a blackish color and odor compost resembling a scent on the ground following SNI 19-7030-2004 about quality standards of compost results.
Pengaruh Penyimpanan dalam Ruang Bersuhu 27,3±0,9°C dan Pengusangan Dipercepat pada Viabilitas Benih Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) Kultivar Grobogan dan Dena-1: Effect of Storage in a Room with Temperature of 27.3 ± 0.9 ° C and Accelerated Ageing on the Soybean (Glycine max [L.] Merr.) Seeds Viability cv. Grobogan and Dena-1 Amrina Rosyada; Eko Pramono; Setyo Dwi Utomo
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.7

Abstract

Benih yang disimpan dalam waktu yang lama atau diberi perlakuan lama penderaan uap air dengan suhu dan kelembaban yang tinggi akan mengalami penurunan viabilitas. Penelitian ini bertujan untuk membandingkan viabilitas benih kedelai varietas Grobogan dan Dena-1 selama masa simpan 0-6 bulan dengan suhu 27,3±0,90C, dan selama pengusangan cepat dengan suhu 43°C 0-6 hari. Viabilitas diukur persentase kecambah normal (KN) dan kecepatan perkecambahan (KP). Viabilitas benih diamati setiap hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa viabilitas benih Grobogan dan Dena-1 menurun selama penyimpanan 0-6 bulan, sama halnya dengan benih yang di dera dengan uap air jenuh 43°C  selama 0-6 hari. Viabilitas benih kedelai varietas Grobogan dan Dena-1 selama penderaan dengan uap air jenuh 43°C selama 0-6 hari lebih rendah dibandingkan dengan  yang disimpan dalam ruang bersuhu 27,3±0,9 °C selama 0-6 bulan. The seed stored for a long time or exposed to a long period of high humidity and temperature will experience deterioration of their viability. The objective of this experiment was to compare the decrease in seed viability of two varieties of soybean between the seeds that were stored period of storage at 27.3±0.9OC for 0 to 6 months and those that exposed to the accelerated aging machine with a temperature of 43°C 0-6 days with 100% humidity. Viability was measured based on normal germination and the speed of germination. The viability of the seeds was observed periodically every day. The result showed that the seed viability of Grobogan and Dena-1 decreased during the storage period of 0-6 months and also during the storage inside the accelerated aging machine for 0-6 days. The viability of soybean seed exposed to high humidity 43°C temperature for 0-6 days was lower than those stored for 0-6 months compared with those stored at room temperature of 27.3 ± 0.9 ° C for 0-6 months.
Identifikasi Morfometri Daerah Aliran Sungai Molompar dan Totok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Indonesia: Morphometry Identification on Molompar and Totok Watershed, Southeast Minahasa, North Sulawesi, Indonesia Aulia Puji Astuti; Muhammad Fawzy Ismullah Massinai; Muhammad Altin Massinai; Hasanuddin
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.10

Abstract

Kabupaten Minahasa Tenggara merupakan salah satu daerah berkembang yang memiliki banyak Daerah Aliran Sungai (DAS), diantaranya adalah DAS Molompar dan Totok. Tujuan dilakukannya studi ini adalah untuk mengetahui karakteristik DAS Molompar dan DAS Totok berdasarkan analisis morfometri. Parameter yang digunakan adalah pola pengaliran, luas DAS, rasio lingkaran (circularity ratio), nisbah perpanjangan sungai (elongation ratio), tingkat percabangan sungai (bifurcation ratio), dan kerapatan sungai (drainage density). Penelitian ini menggunakan data Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI). Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Minahasa Tenggara memiliki banyak sungai berpola dendritic, trellis, pinnate dan parallel. Luas DAS Molompar 154,12 km2 dan terhitung sebagai sungai berukuran sedang. Luas DAS Totok sebesar 77,84 km2 dan tergolong sebagai sungai berukuran kecil. Rasio lingkaran (Rc) untuk DAS Molompar adalah 0,4673 dan DAS Totok 0,54, sedang untuk nisbah perpanjangan sungai (Re) masing masing adalah 0,14 dan 0,329. Nilai tingkat percabangan sungai (Rb) dan nilai kerapatan sungai (Dd) pada kedua sungai itu rendah. Hasil untuk kedua sungai tersebut mengindikasikan kedua sungai memanjang sehingga waktu konsentrasi air lebih lama dan fluktuasi banjir lebih rendah. Kedua DAS tersebut memiliki relief yang tinggi/ kasar, kemiringan lereng yang curam, berada pada area dengan permeabilitas yang tinggi dan tingkat vegetasi yang rapat. Selain itu, parameter tersebut juga menunjukkan kedua sungai tersebut tidak dipengaruhi oleh struktur geologi. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi tambahan wawasan dalam pengelolaan DAS tersebut. Southeast Minahasa Regency is one of the developing areas which has many watersheds, including the Molompar and Totok watersheds. The purpose of this study was to determine the characteristics of the Molompar and Totok watersheds based on morphometric analysis. The parameters used are the drainage pattern, the area of the watershed, the circularity ratio, the elongation ratio, the bifurcation ratio, and the drainage density. This research uses Indonesia Topographical map data processing. The results showed that Southeast Minahasa Regency has many rivers with dendritic, trellis, pinnate, and parallel patterns. The area of ??the Molompar watershed is 154.12 km2 and is considered a medium-sized river. The Totok watershed area is 77.84 km2 and is classified as a small river. The circularity ratio for the Molompar watershed is 0.4673 and the Totok watershed is 0.54, while the elongation ratio is 0.14 and 0.329, respectively. The value of the bifurcation ratio and the drainage density (Dd) in the two rivers are low. The results for the two rivers indicate that both rivers are elongated so that the water concentration time is longer and the flood fluctuation is lower. The two watersheds have high/ rough relief, steep slopes, are in areas with high permeability and dense vegetation levels. Besides, these parameters also indicate that the two rivers are not influenced by geological structures. The results of this study are expected to provide additional insight into the management of that watershed in Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi Province.
Potret Perbandingan Kebijakan Harga Pangan dengan Realita Harga Beras, Gula dan Kedelai di Tahun Pertama Pandemi Covid-19, Indonesia: The Portrait Comparison of Food Price Policies with Reality of Rice, Sugar and Soybean Prices in the First Year of Covid-19 Pandemic, Indonesia Eny Ivan's; Novia Ambar Sari
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.11

Abstract

Penyebab kelangkaan komoditi pertanian adalah karena kebijakan lockdown dan PSBB di awal pandemi, serta perilaku punic buying dari konsumen. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan antara kebijakan harga komoditi beras, gula dan kedelai dengan realita harga yang terjadi di tahun pertama pandemi Covid-19.  Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data harian dan bulanan harga komoditas dari SP2KP Kementerian Perdagangan dan BPS. Data tersebut dianalisis menggunakan grafik dan dibandingkan dengan kebijakan harga yang berlaku saat ini pada tiga komoditas tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebijakan harga untuk komoditi beras, gula dan kedelai di tahun pertama pandemi Covid-19 belum menunjukkan keberpihakan kepada petani. Tingginya harga beras di tingkat ecer tidak berbanding lurus dengan kenaikan harga gabah di tingkat produsen. Harga gula yang fluktuatif dikarenakan periode impor gula bersamaan dengan periode panen tebu. Penghapusan tarif impor kedelai menjadi 0% menjadikan petani domestik bersaing secara face to face di pasar global. The cause of the scarcity of agricultural commodities is due to the lockdown policy and PSBB (large-scale social restrictions) at the beginning of the pandemic Covid-19 and the punic buying behavior from consumers. The research objective was to compare the commodity price policies for rice, sugar, and soybeans with the price realities that occurred in the first year of the Covid-19 pandemic. Secondary data used in this study are daily and monthly data on commodity prices from SP2KP of the Ministry of Trade and BPS. The data is analyzed using charts and compared with the prevailing price policies for these three commodities. The study results show that the price policy for rice, sugar, and soybean commodities in the first year of the Covid-19 pandemic has not shown partiality to farmers. The high price of rice at the retail level is not directly proportional to the increase in grain prices at the producer level. Sugar prices fluctuate because the sugar import period coincides with the sugar cane harvest period. The elimination of import tariffs to 0% allows domestic farmers to compete directly in the global market.
Studi Analisis Kelayakan Ekonomi Mesin Perajang Batang Singkong (Rabakong) Tipe TEP 2: Economic Feasibility Analysis Study of Cassava Stems Chopper (Rabakong) Type TEP 2 Elhamida Rezkia Amien; Sandi Asmara; Ferdita Kurnia; Siti Suharyatun
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.12

Abstract

Untuk mempermudah pemanfaatan limbah batang singkong, diperlukan mesin yang dapat merubah ukuran batang singkong menjadi lebih kecil. Perajang Batang Singkong (Rabakong) tipe TEP 2 merupakan mesin yang dapat menghasilkan rajangan batang singkong berbentuk serbuk halus. Tujuan pnelitian ini adalah untuk mendapatkan analisis kelayakan mesin Rabakong tipe TEP 2 yang dapat digunakan sebagai pertimbangan pemanfaatan bagi masyarakat luas. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data mulai dari biaya pembuatan mesin sampai biaya pengujian atau biaya operasi mesin Rabakong tipe TEP 2. Analisis yang dilakukan meliputi analisis biaya mesin, analisis BEP, dan analisis kelayakan. Berdasarkan hasil analisis ekonomi mesin Rabakong tipe TEP 2 menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 26.258.447,45 dengan jumlah jam kerja 8 jam/hari. Sehingga mesin ini layak untuk digunakan dengan tujuan ekonomi tertentu. To facilitate the utilization of cassava stem waste, a machine is needed that can reduce the size of the cassava stems to be smaller. Cassava stem chopper (Rabakong) type TEP 2 is a machine that can produce chopped cassava stems in the form of fine powder. The aim of this research is to obtain a feasibility analysis for the Rabakong type TEP 2 machine which can be used as a consideration for the utilization to the public. This research was conducted by analyzing data ranging from machine manufacturing costs to testing costs or operating costs for the TEP 2 Rabakong machine. The analysis carried out includes machine cost analysis, BEP analysis, and feasibility analysis. Based on the results of the economic analysis of the Rabakong type TEP 2 engine, it generates an income of Rp. 26,258,447.45 with the number of working hours 8 hours/day. So that this machine is suitable for use for certain economic purposes.  
Tingkat Penerimaan Masyarakat di Kecamatan Kotabumi Selatan Terhadap Ikan Lele (Clarias sp) dengan Metode Pembesaran yang Berbeda: Level of Public Acceptance of Catfish (Clarias sp) in District Kotabumi Selatan With Different Fish Enlargement Methods Rohmatul Anwar; Tri Adi Wibowo; Desy Sasri Untari
Open Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no1.2021.13

Abstract

Ikan merupakan salah satusumber protein bagi masyarakat. Harga ikan yang murah serta mudah didapat menjadi nilai positif sebagai alternatif sumber protein hewani selain daging hewan ternak darat. Seiring permintaan yang meningkat, metode pembesaran ikan juga  semakin variatif. Salah satu pembesaran ikan yang saat ini populer adalah dengan metode sistem organik. Sistem pemeliharaan organik adalahpemeliharaan ikan dengan menggunakan bahan alami sebagai sumber pakan. Sistem organik dinilai mempercepat pertumbuhan ikan, menghemat biaya pakan dan membuat rasa daging ikan menjadi lebih enak serta tekstur dagingnya menjadi padat. Semua spesies ikan air tawar dapat dipelihara dengan sistem organik, salah satunya adalah ikan lele (Clarias sp). Tentunya ini bisa menjadi peluang usaha bagi peternak ikan lele. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh tingkat penerimaan masyarakat di wilayah Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara terhadap ikan lele yang dibesarkan secara organik dan ikan lele yang menggunakan metode non organik. Hasil penelitian ini diketahui bahwa ikan lele organik lebih diminati oleh masyarakat jika dibandingkan dengan ikan lele non organik. Nilai uji organoleptik ikan lele organik memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar 8,06 ? µ ? 8,28 dibandingkan lele non organik sebesar 7,91? µ ? 8,15. Sehingga penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode pembesaran ikan berpengaruh terhadap minat konsumsi masyarakat. Fish is a source of protein for the community. Fish prices are cheap and easy to get is a positive value as an alternative source of animal protein other than land livestock meat. As demand increases, fish rearing methods are also increasingly varied. One of the most popular fish rearing methods is the organic system method. The organic rearing system is the maintenance of fish using natural ingredients as a source of feed. The organic system is considered to accelerate the growth of fish, save on feed costs and make the fish meat taste better and the meat texture denser. All freshwater fish species can be maintained using an organic system, one of which is catfish (Clarias sp). Certainly, it can be a business opportunity for catfish farmers. This study aims to determine the difference in the effect of the level of community acceptance in the Kotabumi area, North Lampung Regency on catfish that are raised organically and catfish using non-organic methods. The results of this study show that organic catfish is more in demand by the public when compared to non-organic catfish. The organoleptic test value of organic catfish has a higher value, which is 8.06 ? µ ? 8.28 compared to non-organic catfish which is 7.91? µ ? 8.15. So that this study can be concluded that the fish rearing method affects the interest in public consumption.