cover
Contact Name
Tri Yulianti
Contact Email
jts@uajy.ac.id
Phone
+62274-487711
Journal Mail Official
jts@uajy.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl.Babarsari No.44 Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 1411660X     EISSN : 25492918     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil adalah wadah informasi bidang Teknik Sipil berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait. Terbit pertama kali Oktober tahun 2000. Frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober. (ISSN 1411-660X).
Articles 350 Documents
Sipil: Cover Jurnal Teknik Sipil
Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 4 (2022): Vol. 16, No. 4 April 2022
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Vol. 16, No. 4, April 2022
Sipil: Front Matter Jurnal Teknik Sipil
Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 4 (2022): Vol. 16, No. 4 April 2022
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.87 KB)

Abstract

Front matter Vol. 16, No. 4, April 2022
PENGARUH LETAK BEBAN TERHADAP GAYA PRATEGANG TIPE SEGITIGA PADA MODEL JEMBATAN RANGKA BAJA P. Budio, Sugeng; Bakhtiar, M Idris
Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.943 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.1

Abstract

Upaya untuk meningkatkan pelayanan atau umur layan jembatan terutama untuk jembatan rangka, seiring bertambahnya volume kendaraan dapat menggunakan kabel prategang yang bertujuan untuk menambah kekakuan dan kekuatan jembatan tanpa harus mengubah struktur jembatan rangka itu sendiri. Pada penelitian ini, digunakan prategang tipe segitiga dengan model jembatan rangka baja semi parabol jenis N terbalik. Jembatan rangka masih dalam kondisi elastis pada saat pengujian dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku lendutan model jembatan rangka prategang akibat variasi letak beban yang diberikan dan untuk mengetahui besarnya gaya prategang optimal bila dibandingkan dengan beban yang bekerja pada model jembatan rangka akibat penggunaan kabel prategang tipe segitiga. Pemberian gaya prategang tipe segitiga dalam berbagai variasi letak beban menghasilkan perbandingan prosentase penurunan lendutan yang terjadi antara 23.677% - 56.391%. Sehingga secara keseluruhan, lendutan yang terjadi pada jembatan yang sudah diberi prategang lebih kecil dibandingkan dengan jembatan yang tidak diberi prategang. Gaya prategang optimal yang terjadi sebesar 686,490 kg, ketika beban terletak di titik E dengan lendutan jembatan rangka yang terjadi sebesar 65,113% dan tegangan batang yang terjadi sebesar -77,396 kg/cm2.
PENGARUH LETAK BEBAN TERHADAP GAYA PRATEGANG TIPE SEGITIGA PADA MODEL JEMBATAN RANGKA BAJA Sugeng P. Budio; M Idris Bakhtiar
Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.943 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.1

Abstract

Upaya untuk meningkatkan pelayanan atau umur layan jembatan terutama untuk jembatan rangka, seiring bertambahnya volume kendaraan dapat menggunakan kabel prategang yang bertujuan untuk menambah kekakuan dan kekuatan jembatan tanpa harus mengubah struktur jembatan rangka itu sendiri. Pada penelitian ini, digunakan prategang tipe segitiga dengan model jembatan rangka baja semi parabol jenis N terbalik. Jembatan rangka masih dalam kondisi elastis pada saat pengujian dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku lendutan model jembatan rangka prategang akibat variasi letak beban yang diberikan dan untuk mengetahui besarnya gaya prategang optimal bila dibandingkan dengan beban yang bekerja pada model jembatan rangka akibat penggunaan kabel prategang tipe segitiga. Pemberian gaya prategang tipe segitiga dalam berbagai variasi letak beban menghasilkan perbandingan prosentase penurunan lendutan yang terjadi antara 23.677% - 56.391%. Sehingga secara keseluruhan, lendutan yang terjadi pada jembatan yang sudah diberi prategang lebih kecil dibandingkan dengan jembatan yang tidak diberi prategang. Gaya prategang optimal yang terjadi sebesar 686,490 kg, ketika beban terletak di titik E dengan lendutan jembatan rangka yang terjadi sebesar 65,113% dan tegangan batang yang terjadi sebesar -77,396 kg/cm2.
STUDI KEKUATAN KOLOM PROFIL C DENGAN COR BETON PENGISI DAN PERKUATAN TRANSVERSAL Budi Laksono, Damar; Yoso Wigroho, Haryanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.495 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.2

Abstract

Baja adalah salah satu bahan yang penting dalam dunia konstruksi. Profil yang digunakan sebagai struktur utama (kolom dan balok) dalam suatu bangunan pada umumnya memakai profil hasil bentukan panas. Profil hasil bentukan dingin biasanya hanya digunakan sebagai gording dan rangka atap. Pada penelitian ini dicoba kolom profil C (hasil bentukan dingin) yang diberi perkuatan tulangan transversal dan dicor beton pengisi yang dibebani sentris pada pusat sumbu kolom. Penelitian ini menggunakan profil kanal C yang akan digunakan sebagai kolom dengan diberi cor beton pengisi dan diberi perkuatan transversal. Panjang kolom profil kanal C 750 mm sebagai kolom pendek dan 1500 mm sebagai kolom panjang. Dimensi profil yang digunakan adalah tinggi (h) = 92,8 mm; lebar (b) = 34,0333 mm; lebar sayap (a) = 8,2667 mm dan tebal (t) = 1,8 mm. Benda uji sejumlah 16 buah dimana terbagi menjadi 2 kelompok yaitu benda uji yang diberi cor beton pengisi dan yang tidak diberi diberi cor beton pengisi. Setiap kelompok tersebut terdiri dari 4 buah benda uji kolom pendek dan 4 buah benda uji kolom panjang. Variasi perkuatan transversal pada masing-masing benda uji tersebut berbeda-beda yaitu 50 mm, 75 mm dan 100 mm. Data yang diperoleh berupa data lendutan kolom kesamping dan beban sentris yang dicapai oleh kolom. Penambahan cor beton meningkatkan kekuatan pada kolom pendek rata-rata sebesar 185,7%. Sedangkan pada kolom panjang rata-rata sebesar 148%. Defleksi maksimum terbesar kolom pendek tanpa cor beton pengisi sebesar 7,4 mm pada perkuatan 75 mm. Sedangkan pada kolom panjang tanpa cor beton pengisi sebesar 19,05 mm pada perkuatan 75 mm. Pada kolom pendek dengan cor beton pengisi defleksi maksimum tersebar terjadi pada perkuatan 50 mm sebesar 11,36 mm. Pada kolom panjang terjadi pada perkuatan 75 mm sebesar 27,1 mm. Pemberian cor beton pengisi terbukti dapat mencegah tekuk lokal yang terjadi karena dengan pemberian cor beton pengisi meningkatkan beban yang diterimanya hingga dapat melalui beban teoritisnya.
STUDI KEKUATAN KOLOM PROFIL C DENGAN COR BETON PENGISI DAN PERKUATAN TRANSVERSAL Damar Budi Laksono; Haryanto Yoso Wigroho
Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.495 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.2

Abstract

Baja adalah salah satu bahan yang penting dalam dunia konstruksi. Profil yang digunakan sebagai struktur utama (kolom dan balok) dalam suatu bangunan pada umumnya memakai profil hasil bentukan panas. Profil hasil bentukan dingin biasanya hanya digunakan sebagai gording dan rangka atap. Pada penelitian ini dicoba kolom profil C (hasil bentukan dingin) yang diberi perkuatan tulangan transversal dan dicor beton pengisi yang dibebani sentris pada pusat sumbu kolom. Penelitian ini menggunakan profil kanal C yang akan digunakan sebagai kolom dengan diberi cor beton pengisi dan diberi perkuatan transversal. Panjang kolom profil kanal C 750 mm sebagai kolom pendek dan 1500 mm sebagai kolom panjang. Dimensi profil yang digunakan adalah tinggi (h) = 92,8 mm; lebar (b) = 34,0333 mm; lebar sayap (a) = 8,2667 mm dan tebal (t) = 1,8 mm. Benda uji sejumlah 16 buah dimana terbagi menjadi 2 kelompok yaitu benda uji yang diberi cor beton pengisi dan yang tidak diberi diberi cor beton pengisi. Setiap kelompok tersebut terdiri dari 4 buah benda uji kolom pendek dan 4 buah benda uji kolom panjang. Variasi perkuatan transversal pada masing-masing benda uji tersebut berbeda-beda yaitu 50 mm, 75 mm dan 100 mm. Data yang diperoleh berupa data lendutan kolom kesamping dan beban sentris yang dicapai oleh kolom. Penambahan cor beton meningkatkan kekuatan pada kolom pendek rata-rata sebesar 185,7%. Sedangkan pada kolom panjang rata-rata sebesar 148%. Defleksi maksimum terbesar kolom pendek tanpa cor beton pengisi sebesar 7,4 mm pada perkuatan 75 mm. Sedangkan pada kolom panjang tanpa cor beton pengisi sebesar 19,05 mm pada perkuatan 75 mm. Pada kolom pendek dengan cor beton pengisi defleksi maksimum tersebar terjadi pada perkuatan 50 mm sebesar 11,36 mm. Pada kolom panjang terjadi pada perkuatan 75 mm sebesar 27,1 mm. Pemberian cor beton pengisi terbukti dapat mencegah tekuk lokal yang terjadi karena dengan pemberian cor beton pengisi meningkatkan beban yang diterimanya hingga dapat melalui beban teoritisnya.
DRIFT CONTROL DEEP BEAM-TO-DEEP COLUMN SPECIAL MOMENT FRAMES DENGAN SAMBUNGAN RBS Utomo, Junaedi
Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.873 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.3

Abstract

Balok dalam dengan kekakuan lentur tinggi dapat digunakan untuk mengurangi simpangan antar tingkat sehingga memenuhi batas yang disyaratkan peraturan. Namun kapasitas lentur yang tinggi pada balok dalam akan meningkatkan kebutuhan kekuatan sambungan. Agar sendi plastis tidak terjadi pada sambungan, sambungan balok-kolom harus dirancang berdasar kuat lentur maksimal balok sekitar (1.1 – 1.2)RyMp. Bila sayap atas dan bawah balok dilas langsung ke sayap kolom dengan las tumpul penetrasi penuh, dengan kapasitas tarik sebesar 0.9FyA, maka dapat terjadi gaya tarik pada sayap balok lebih besar dari kapasitas tarik las sehingga perlu perkuatan dengan cover plates atau side plates. Bila dipakai sambungan Reduced Beam Section (RBS) maka akibat coakan pada ujung balok Mp berkurang sehingga gaya tarik sayap balok berkurang maka cover plates dapat dihilangkan. Bentang balok dalam biasanya pendek maka interaksi gaya geser dan momen lentur diperiksa saat perancangan sambungan. Tulisan ini memakai pendekatan yang berbeda dengan yang ada pada AISC 341-05 saat perancangan sambungan RBS pada balok dalam. Studi eksperimental dan analitikal menunjukkan bahwa hipotesis Euler-Bernoulli tidak dapat diaplikasikan pada daerah sambungan. Maka model truss-analogy dipakai untuk menyatakan aliran gaya-gaya pada sambungan, mulai dari muka kolom sampai ke sendi plastis. Model truss-analogy dari Arlekar dan Murty dipakai untuk merancang sambungan balok-kolom, cover plates pada model ini dihilangkan namun rusuk vertikal dipertahankan sebagai pengaku. Dengan penggunaan balok dalam memungkinkan mengontrol simpangan antar tingkat lebih baik, dengan sambungan RBS akan dihasilkan sambungan ekonomis.
DRIFT CONTROL DEEP BEAM-TO-DEEP COLUMN SPECIAL MOMENT FRAMES DENGAN SAMBUNGAN RBS Junaedi Utomo
Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.873 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.3

Abstract

Balok dalam dengan kekakuan lentur tinggi dapat digunakan untuk mengurangi simpangan antar tingkat sehingga memenuhi batas yang disyaratkan peraturan. Namun kapasitas lentur yang tinggi pada balok dalam akan meningkatkan kebutuhan kekuatan sambungan. Agar sendi plastis tidak terjadi pada sambungan, sambungan balok-kolom harus dirancang berdasar kuat lentur maksimal balok sekitar (1.1 – 1.2)RyMp. Bila sayap atas dan bawah balok dilas langsung ke sayap kolom dengan las tumpul penetrasi penuh, dengan kapasitas tarik sebesar 0.9FyA, maka dapat terjadi gaya tarik pada sayap balok lebih besar dari kapasitas tarik las sehingga perlu perkuatan dengan cover plates atau side plates. Bila dipakai sambungan Reduced Beam Section (RBS) maka akibat coakan pada ujung balok Mp berkurang sehingga gaya tarik sayap balok berkurang maka cover plates dapat dihilangkan. Bentang balok dalam biasanya pendek maka interaksi gaya geser dan momen lentur diperiksa saat perancangan sambungan. Tulisan ini memakai pendekatan yang berbeda dengan yang ada pada AISC 341-05 saat perancangan sambungan RBS pada balok dalam. Studi eksperimental dan analitikal menunjukkan bahwa hipotesis Euler-Bernoulli tidak dapat diaplikasikan pada daerah sambungan. Maka model truss-analogy dipakai untuk menyatakan aliran gaya-gaya pada sambungan, mulai dari muka kolom sampai ke sendi plastis. Model truss-analogy dari Arlekar dan Murty dipakai untuk merancang sambungan balok-kolom, cover plates pada model ini dihilangkan namun rusuk vertikal dipertahankan sebagai pengaku. Dengan penggunaan balok dalam memungkinkan mengontrol simpangan antar tingkat lebih baik, dengan sambungan RBS akan dihasilkan sambungan ekonomis.
Analisis Metode Routing terhadap Hidrograf Banjir Sungai Way Sekampung di Way Kunyir Menggunakan HEC-HMS Ulfah, Marfirah; Kusumastuti, Dyah Indriana; Winarno, Dwi Joko
Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.699 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.3797

Abstract

Flood events often occur in Indonesia so that quite a lot of people researched about the movement of floods and flood monitoring in the Watershed. The location of the study was carried out by the Way Sekampung river in Way Kunyir located in the Pringsewu district, Lampung province and is located downstream of the Batutegi dam. Flood tracing is intended to analyze the chances of a flood in the form of a flood hydrograph with or without using the Routing method and find out the results of some Routing methods in the watershed. The Routing method used in this study is Lag, Lag and K and Muskingum. The HEC-HMS modeling results state that peak discharge data when without Routing is greater than entering the Routing parameter. This is because entering the Routing parameter in modeling is very influential at peak times so that it affects the peak discharge at the watershed outlet. As a result of Muskingum Routing, the peak discharge is lower than before entering the flow routing, this is due to the occurrence of reservoirs along the river so that the peak discharge becomes lower than without Routing. The results of Lag Routing and Lag and K Routing are peak discharge decreased compared to before entering the Routing parameter. what should have happened to the peak discharge with Routing and without Routing remains the same, however, only peak discharge tranlations occur and there is travel time. This happens because there is no debit data at the station being reviewed so it uses rain data instead of HEC-HMS modeling.
Analisis Metode Routing terhadap Hidrograf Banjir Sungai Way Sekampung di Way Kunyir Menggunakan HEC-HMS Marfirah Ulfah; Dyah Indriana Kusumastuti; Dwi Joko Winarno
Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.699 KB) | DOI: 10.24002/jts.v11i2.3797

Abstract

Flood events often occur in Indonesia so that quite a lot of people researched about the movement of floods and flood monitoring in the Watershed. The location of the study was carried out by the Way Sekampung river in Way Kunyir located in the Pringsewu district, Lampung province and is located downstream of the Batutegi dam. Flood tracing is intended to analyze the chances of a flood in the form of a flood hydrograph with or without using the Routing method and find out the results of some Routing methods in the watershed. The Routing method used in this study is Lag, Lag and K and Muskingum. The HEC-HMS modeling results state that peak discharge data when without Routing is greater than entering the Routing parameter. This is because entering the Routing parameter in modeling is very influential at peak times so that it affects the peak discharge at the watershed outlet. As a result of Muskingum Routing, the peak discharge is lower than before entering the flow routing, this is due to the occurrence of reservoirs along the river so that the peak discharge becomes lower than without Routing. The results of Lag Routing and Lag and K Routing are peak discharge decreased compared to before entering the Routing parameter. what should have happened to the peak discharge with Routing and without Routing remains the same, however, only peak discharge tranlations occur and there is travel time. This happens because there is no debit data at the station being reviewed so it uses rain data instead of HEC-HMS modeling.

Page 1 of 35 | Total Record : 350