Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Relationship between Students’ Learning Interests with their Language Learning Achievement Agus Boriri; Yuliani Ishak
Jurnal Langua Vol 3 No 1 (2020): Langua: Journal of Linguistics, Literature, and Language Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.723 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3735984

Abstract

This research was conducted because of problems regarding learning interest and Indonesian learning achievement. This study aims to determine the relationship between learning interest and student learning achievement in the 2015 Indonesian Language and Literature education study program STKIP Kie Raha Ternate. This research was conducted at the Indonesian Language Study Program STKIP Kie Raha Ternate. The implementation time is 3 months. The population of this study were all 2015 Indonesian language and literature students and the sample used in this study was 35 students. The instrument used to obtain data in this study was a questionnaire and documentation in the form of a student achievement index (IP). The data obtained were analyzed using correlation test. After analyzing using the correlation test it turns out that there is a significant relationship between learning interest with the learning achievement of students of the Indonesian Language and Literature education study program year of 2015 STKIP Kie Raha Ternate and the magnitude of the relationship of learning interest with the learning achievement of students of the Indonesian Language and Literature education study program year 2015 STKIP Kie Raha Ternate is (0.021) 2 or 4.41%.
Vulgar Expressions among Youth in Duma Village (A Sociolinguistic Perspective) Sartika Samad; Agus Boriri
Jurnal Langua Vol 3 No 2 (2020): Langua: Journal of Linguistics, Literature, and Language Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4047255

Abstract

This research was conducted with the aim of 1) Describing the form of vulgar language used by adolescents in Duma Village, West Galela District. 2) Knowing the context of the use of vulgar language which is often used by adolescents in Duma Village, West Galela District. This research uses descriptive qualitative research methods. Through this qualitative descriptive method, the researcher will describe the use of swear language by adolescents in Duma Village, West Galela District. The place of research used by researchers for research (observation) is in Duma Village, West Galela District. Researchers conducted research in Duma Village with the consideration that researchers are part of the Duma community so that it will facilitate researchers in the data collection process. The time needed in this research is 2 (two) months, starting from May to July 2020. Data collection techniques are observation, interviews, and documentation. To perform data analysis, researchers used qualitative techniques, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study prove that 1) the form of vulgar language (swearing) used by adolescents in Duma Village, West Galela Subdistrict, there are two forms, namely cursing which is used based on the form of word units used by Duma adolescents in smaller word units and cannot be broken down again. In addition, there are curses used by teenagers in the form of phrases in the form of units that do not exceed the limits of the elements of the grammatical function. 2) The context of using vulgar language (swearing) which is often used by adolescents in Duma Village, West Galela Subdistrict, is a form of emotional outburst when angry, teasing friends, joking, admiring, and insulting fellow teenagers. The context of the use of cursing by teenagers in Duma is both conscious (intentional) and unconscious (unintentional).
SISTEM SAPAAN KEKERABATAN DALAM BAHASA GALELA PADA MASYARAKAT KECAMATAN GALELA BARAT KABUPATEN HALMAHERA UTARA Agus Boriri
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol 5, No 2 (2022): JURNAL KREDO VOLUME 5 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v5i2.6783

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi sistem sapaan kekerabatan serta mendeskripsikan penggunaan sapaan kekerabatan dalam bahasa Galela pada masyarakat Kecamatan Galela Barat Kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengandalkan teknik analisis isi (content analysis). Isi dalam teknik analisis isi terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi yang dilakukan di Kecamatan Galela Barat Kabupaten Halmahera Utara provinsi Maluku Utara yaitu di Desa Duma, Desa Soatobaru, dan Desa Gotalamo dengan alasan bahwa kelompok masyarakat yang ada di desa ini masih kental dengan kehidupan yang berpedoman pada nilai-nilai kearifan lokal, baik dalam hubungan dengan nilai kesopanan, nilai kepercayaan (ketabuhan), dan nilai sosial yang tinggi. Nilai-nilai kearifan dimaksud, terlihat dalam hubungan kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan maupun dalam hubungan tali perkawinan. Hasil penelitian tentang sistem sapaan kekerabatan pada masyarakat Galela Barat berupa kata-kata sapaan kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan dan kata-kata sapaan kekerabatan berdasarkan garis perkawinan. Sistem sapaan kekerabatan berdaskan hubungan darah berupa kata sapaan yang digunakan untuk menyapa orang yang mempunyai hubungan darah, sedangkan sistem sapaan kekerabatan berdasarkan garis perkawinan berupa kata sapaan yang digunakan dalam menyapa orang yang memilki hubungan tali perkawianan. Sistem sapaan kekerabatan yang digunakan dalam Bahasa Galela ditentukan oleh budaya keturunan patrilineal atau budaya menyapa sesuai garis keturunan ayah
Meningkatkan Keterampilan Menulis Paragraf Narasi dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Kota Ternate Susanti Irwan; Idwan Djais; Agus Boriri
PENDAS: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Pendas: Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menulis paragraf narasi dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VII SMP Negeri 13 Kota Ternate. Dalam melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi didalam kelas. Tindakan penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. Tempat penelitian ini di SMP Negeri 13 Kota Ternate. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan bulan Mei sampai bulan Juli 2019. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP Negeri 13 Kota Ternate yang berjumlah 25 siswa yang terdiri dari 17 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki. Adapun teknik pengambilan data yaitu dengan observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi. dalam melakukan analisis data menggunakan teknik kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual depat meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi siswa. Temuan membuktikan bahwa rata-rata hasil kemampuan menulis siswa sesudah diadakan tindakan mengalami peningkatan sebesar 8,4% yaitu dari 67,4% menjadi 75,8%. Dan peningkatan sebesar 12,56% yaitu dari tindakan siklus I sebesar 75,8% menjadi 88,4%. Keberhasilan tersebut dapat dikatakan dari perbandingan pada prasiklus ke siklus I (tingkat kualifikasi baik) dan dari siklus I ke siklus II (tingkat kualifikasi sangat baik). Oleh karena itu, penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Pelaksanaan pembelajaran menulis paragraf narasi melalui pendekatan kontekstual pada siswa kelas VII SMP Negeri 13 Kota Ternate dilakukan dengan efektif, lancar dan tuntas yang terlihat dari keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran. 2) Pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri 13 Kota Ternate, hal ini terlihat pada hasil belajar bahwa nilai rata-rata hasil kemampuan siswa mengalami peningkatan sebesar 8,4% yaitu dari 67,4% (prasiklus) menjadi 75,8% (siklus I). Dan peningkatan sebesar 12,56% yaitu dari sebesar 75,8% (siklus I) menjadi 88,4% (siklus II). Keberhasilan tersebut dapat dikatakan karena dari perbandingan pada prasiklus ke siklus I (tingkat kualifikasi baik) dan dari siklus I ke siklus II (tingkat kualifikasi sangat baik)
Meningkatkan Kamampuan Mengucapkan Bunyi Konsonan Bahasa Indonesia Menggunakan Permainan Lagu pada Anak Usia 3-4 Tahun PAUD Hininga Moi Desa Wooi Kec. Obi Timur Agus Boriri; Andi Suhud
PENDAS: Jurnal Pendidikan Dasar Vol 2 No 2 (2020): Jurnal PENDAS: Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kamampuan mengucapkan bunyi konsonan Bahasa Indonesia melalui permainan lagu pada anak usia 3-4 tahun PAUD Hininga Moi Desa Wooi Kec. Obi Timur. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rencana penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan terdiri dari 4 (empat) tahap kegiatan utama yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi (pengamatan), dan (4) refleksi. Penelitian tindakan kelas ini berlokasi di PAUD Hininga Moi Desa Wooi Kec. Obi Timur pada bulan Juni sampai bulan Agustus 2020. Teknik pengumpulan data yaitu dengan teknik observasi dan teknik tes. Untuk melakukan analisis data menggunakan teknik kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa hasil belajar kemampuan mengucapkan huruf konsonan menunjukkan bahwa kemampuan mengucapkan huruf konsonan anak pada prasiklus dapat dinyatakan masih berada di bawah nilai standar minimum yaitu di bawah 68,67 dengan tingkat kualifikasi mulai berkembang. Peningkatan nilai di atas standar minimum yang ditetapkan, yaitu setelah dilakukan tindakan pembelajaran mengucapkan huruf konsonan dengan menggunakan permainan lagu pada siklus I dan II. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa 1) Pembelajaran dengan menggunakan permainan lagu pada indikator bahwa anak mampu mengucapkan huruf konsonan yang benar dengan berdiri di hadapan teman-temannya di depan kelas dapat meningkatkan kemampuan anak usia 3-4 tahun PAUD Hininga Moi Desa Wooi Kec. Obi Timur. 2) Peningkatan kemampuan mengucapkan huruf konsonan anak usia 3-4 tahun PAUD Hininga Moi Desa Wooi Kec. Obi Timur dengan menggunakan permainan lagu terlihat pada rata-rata hasil kemampuan mengucapkan huruf konsonan sesudah diadakan tindakan mengalami peningkatan sebesar 8,33% yaitu dari 68,67% menjadi 77%. Dan peningkatan sebesar 18,67% yaitu dari tindakan siklus I sebesar 77% menjadi 95,67%. Keberhasilan tersebut dapat dikatakan karena dari perbandingan pada prasiklus ke siklus I (tingkat kualifikasi berkembang sesuai harapan) dan dari siklus I ke siklus II (tingkat kualifikasi berkembang sangat baik)
Meningkatkan Kemampuan Menulis Paragraf Argumentasi melalui Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 19 Halmahera Tengah Halima Harid; Agus Boriri; Idwan Djais
KOHERENSI: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Koherensi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.996 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) Mendeskripsikan proses meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentatif menggunakan model Problem Based Learning. 2) Mengetahui hasil pembelajaran menulis paragraf argumentatif menggungakan model Problem Based Learning. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rencana penelitian tindakan kelas(PTK) yang dilakukan terdiri dari 4 (empat) tahap kegiatan utama yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi (pengamatan), dan (4) refleksi. Penelitian tindakan kelas ini berlokasi di SMP Negeri 19 Halmahera Tengah pada bulan bulan April sampai bulan Juli 2020. Teknik pengumpulan data yaitu dengan teknik tes dan teknik non tes. Untuk melakukan analisis data menggunakan teknik kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa kemampuan menulis paragraf argumentasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Halmahera Tengah, hal ini terlihat pada hasil belajar bahwa nilai rata-rata hasil kemampuan siswa mengalami peningkatan sebesar 20,34% yaitu dari prasiklus sebesar 63,83 menjadi 84,17. Tindakan siklus I sebesar 84,17 menjadi 86,17 pada siklus II dengan total peningkatan sebesar 2%. Keberhasilan tersebut dapat dikatakan dari perbandingan pada prasiklus ke siklus I (tingkat kualifikasi baik) dan dari siklus I ke siklus II (tingkat kualifikasi sangat baik). Oleh karena itu, penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Pembelajaran menulis paragraf argumentasi melalui model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Halmahera Tengah dilakukan dengan efektif, lancar dan tuntas yang terlihat dari keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Mula-mula siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran semacam ini karena siswa baru pertama kalinya mengalami kegiatan pembelajaran dimaksud. Ketika perbaikan pembelajaran dilakukan siklus demi siklus, siswa terbiasa dengan kegiatan pembelajaran sehingga merasa berkonsentrasi dalam kegiatan pembelajaran. Anggapan siswa pembelajaran semacam ini menyenangkan sehingga siswa tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan dengan susana pembelajaran tersebut. 2) Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan menulis paragraf argumentasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Halmahera Tengah, hal ini terlihat pada hasil belajar bahwa nilai rata-rata hasil kemampuan siswa mengalami peningkatan sebesar 20,34% yaitu dari prasiklus sebesar 63,83 menjadi 84,17. Tindakan siklus I sebesar 84,17 menjadi 86,17 pada siklus II dengan total peningkatan sebesar 2%. Keberhasilan tersebut dapat dikatakan dari perbandingan pada prasiklus ke siklus I (tingkat kualifikasi baik) dan dari siklus I ke siklus II (tingkat kualifikasi sangat baik)
ANALISIS MAKNA NONVERBAL UPACARA ADAT HOGO JAKO DI KELURHAN SOADARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Syafira Wahid; Agus Boriri; Idwan Djais
KOHERENSI: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Koherensi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.552 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) Mendeskripsikan prosesi upacara adat hogo jako. 2) Mendeskripsikan makna nonverbal upacara Adat hogo jako. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, rekaman, terjemahan dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, diskusi teman sejawat, dan menarik kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Soadara Kota Tidore karena di daerah ini masih melaksanakan ritual tersebut. Sumber dalam penelitian ini adalah sumber langsung (primer) dan sumber tidak langsung (sekunder). Hasil penelitian membuktikan bahwa upacara adat hogojako merupakan upacara adat yang dipercayai sebagai bentuk ikhtiar agar tidak tejadi hal-hal buruk yang menimpah calon pengantin saat berlangsungnya acara pernikahan sampai acara pernikahan selesai, juga sebagai pembuka jalan bagi kedua calon pengantin agar keduanya dapat membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa 1) Prosesi upacara adat hogo jako atau mandi/bersih ini dipandu oleh 2 orang yaya se goa yang mengusapkan dimai (bahan ritual: pinang, sirih, uang logam dan pisang) ke tubuh calon pengantin yang dipangku saudara masing-masing dimulai dari kepala hingga telapak kaki diulang sebanyak 3 kali, kemudian salah satu pria dewasa membaca salawat Nabi, seiring dengan salawat Nabi dibacakan maka yaya se goa menyapukan jako, kemudian menapukan mayang pinang yang dinyalakan sumbunya, menyirami daun pandan yang berisi sumbu yang telah dinyalakan, dan berakhir pada siraman air bambu oleh yaya se goa. 2) Makna nonverbal pada upacara adat hogo jako dimulai dari alat hingga gerakan serta bacaan yang digunakan adalah sebagai pembersih diri serta ikhtiar juga permohonan kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan petunjuk, keselamatan dan kebahagian sesuai ajaran Islam dan Sunah Rasul Muhammad SAW kepada calon pengantin dalam membina rumah tangga hingga pada keturunan mereka.
Tradisi Lelean Pernikahan Suku Galela dan Pemanfaatannya Sebagai Bahan Ajar di SMA Negeri 5 Pulau Morotai Nurfani Manyila; Idrus Ahmad; Agus Boriri
KOHERENSI: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Koherensi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Kie Raha Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.666 KB)

Abstract

Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna tradisi Lelean pada masyarakat Suku Galela di Desa Sabatai Tua Pulau Morotai. 2) untuk mendeskripsikan implementasi tradisi Lelean sebagai bahan ajar di SMA Negeri 5 Pulau Morotai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data primer dan data sekunder. Hasil penelitian membuktikan bahwa tradisi lelean Bilango dilakukan sebagai bentuk menghargai keluarga mertua hal tersebut bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan anatara kedua bela pihak. bentuk tradisi Lelean Bilango terbagi menjadi tiga bagian yaitu (1) bingkisan waji, (2) bingkisan gohoru ma buruhu/cucur gula merah, (3) bingkisan jumutu/tikar rajut. Implementasi tradisi sebagai bahan ajar di SMA Negeri 5 Pulau Morotai dapat dilaksanakan sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia, pembelajaran berbasis kearifan lokal dan dapat dijadikan sebagai pembelajaran karakter bagi peserta didik.
IMPLIKATUR BERMAKNA BUDAYA SOSIAL PADA NYANYIAN RAKYAT DENGE SUKU TOBELO DI DESA WOOI KEC. OBI TIMUR Agus Boriri
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v5i2.15643

Abstract

This study aims to describe the meaningful implicatures of social culture found in the Tobelo tribe conducted in Wooi Village, East Obi District, South Halmahera Regency. The sources of data in this study are direct (primary) sources obtained by the community in Wooi Village, while indirect (secondary) sources can be obtained through books, articles, and so on from libraries or places. The results of the study prove that the implicatures contained in the folk songs of the Tobelo tribe in Wooi Village, Kec. East Obi, namely: 1) implicature type of invitation there are 7 stanzas, 2) implicature type of statement action there are 9 stanzas, 3) implicature type of Command there are 2 stanzas. It can be concluded that 1) The implicatures contained in folk songs with the Tobelo tribe in Wooi Village are invitation implicatures, statement action implicatures, and Command implicatures. 2) Implicature means that the social culture found in the Tobelo tribe in Wooi Village is an attitude of social care, friendly/communicative and peace-loving, honest, hard working and tolerant.
Ungkapan Tabu dalam Sapaan Kekerabatan Bahasa Galela pada Masyarakat Desa Duma Kecamatan Galela Barat Agus Boriri; Idwan Djais; Katriani Bane; Fadila Tawakali
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 6 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v6i2.20668

Abstract

This research aims to identify and describe taboo expressions in kinship greetings in the Galela language in order to provide understanding to the Duma Village community, West Galela District, regarding the use of kinship greetings correctly in order to maintain the norms of kinship greetings in the Galela language. This study uses qualitative methods by relying on content analysis techniques. In collecting data using direct participatory observation method in Duma Village, West Galela District. Taboo expressions in kinship greetings in the Galela language found two taboos, namely greeting taboos based on politeness norms that are used as life guidelines in interacting with others, especially in kinship relations, namely greetings baba, baba ria, dodo, meme ria, oa, ria, bira, nongru, ete, topora, memes ma awa, dunu, tunu, awa ma awa, awa ma baba, hodo/moli, toroa, tiopo, tapu, dapu, and doroa/mod'oka. The greeting taboo based on mystical norms is always related to supernatural powers. The people of Duma Village, West Galela District believe that the taboo of kinship greetings in the Galela language contains a mystical power known as giki i tapano (reprimand of ancestral spirits) related to illness, accidents, and household disputes found in the greetings of baba, baba ria, dodo, happy memes, oa, ete, topora, memes ma awa, dunu, tunu, awa ma awa, and awa ma baba.