Junaidi M. Affan
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Ocean-atmosphere analysis of Super Typhoon Songda 2011 over Western North Pacific Ocean Yopi Ilhamsyah; Ahmad Bey; Edvin Aldrian; Junaidi M. Affan
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 3, No 3 (2013): Addendum
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9971.62 KB)

Abstract

The purpose of the research is to understand the influences of ocean and atmosphere to the formation of Super Typhoon Songda 2011. Daily SST from NOAA AVHRR with spatial resolution of 0.5° in latitude and longitude was used to study upper oceanic response to the formation of Typhoon Songda. Meanwhile, 3-hourly meteorological data from ARP model with spatial coverage of 0.5° Latitude x 0.5° Longitude cover 201 x 101 points from 25° N - 20° S and 70.0° E – 170.0° E as well as 13 levels of atmospheric columns was also used in the study. The study was also supported by  MT-SAT satellite images. The result showed that from early disturbances until reaching mature stage of Typhoon Songda, SST over WNP reached averages temperature of 30˚C. Warm ocean waters continuously produce heat and moisture to the air that are necessary to fuel the genesis, development, formation and intensification of Typhoon Songda. The study also proved that light vertical wind shear (850 – 200 hPa) at about 0 – 5 knot was observed in the early development of Songda at 1800 UTC on May 19th. For the time being, weak vertical wind shear extended to the northwestern of Pacific Ocean. Thus, it made the system to moved toward northwest and reached category Super Typhoon few days later on May 26th. The study also showed the present of Monsoon trough. Monsoon trough occurred where easterly wind met the reversal southerly wind. The region was stretched from southeast to northwest part of WNP Ocean and designated by an extended low pressure area at the surface as well as extended bands of thunderstorms as observed by satellite imagery. On the other hand, potential vorticity shown in the present paper is useful to obtain an understanding of atmospheric motions and development of the upper-level disturbance. Potential vorticity maximum characterize strong vorticity and upward motion. Conversely, weak vorticity with downward motion is demonstrated by mininum potential vorticity.
Analisi Potensi Sumberdaya Laut dan Kualitas Perairan Berdasarkan Parameter Fisika dan Kimia di Pantai Timur Kabupaten Bangka Tengah Affan, Junaidi M.
Jurnal Spektra Vol 9, No 2 (2010): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisa potensi sumberdaya laut dan kualitas perairan merupakan salah satu pendukung untuk pemilihan lokasi budidaya laut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya laut dan pesisir, tingkat kesuburan perairan dan kesesuaian bagi kehidupan dan perkembangan biota laut dengan menggunakan parameter kualitas yang meliputi parameter fisika dan kimia perairan (kedalaman, kecerahan, arus, suhu, salinitas, keasaman, oksigen terlarut, fosfat, nitrat, nitrit, amoniak dan silikat) serta parameter biologi (kerapatan dan persentase tutupan mangrove dan terumbu karang) dengan metode transek, rapid reef resource assesment dan koleksi bebas. Pengukuran langsung dilapangan terhadap parameter fisika dan kimia menggunakan Conductivity Temperature Depth, CTD, Current Meter CM-2 dan Nansen water sampler. Pengamatan dilakukan pada 7 stasiun penelitian yang ditentukan secara acak dan sistematik masing-masing pada lapisan permukaan dan dekat dasar perairan. Analisis sampel air dilakukan dengan spektrofotometer shimadzu dan metode titrasi iodometri. Hasil analisa parameter kualitas perairan menunjukkan bahwa kondisi perairan timur Kabupaten Bangka Tengah secara umum masih baik bagi kehidupan dan perkembangan biota laut. Kata kunci: Sumber daya laut, kualitas perairan, Bangka tengah.
Analisis Faktor Produksi Alat Tangkap Payang di Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat Zirvathul Murni; Junaidi M. Affan; Alvi Rahmah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.027 KB)

Abstract

   Payang is one of fishing gear commonly used by the fisherman after lift net at Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Carocok Tarusan of Pesisir Selatan District. This research aims to describe the catch unit of payang and analyze what factors affect production that produced by Payang. This research used a census method by taking data of all Payang fishing gear at PPP Carocok Tarusan. The analyze used as multiple linear regressions and data processing entirely used statistical application SPSS version 22.0 with Enter method.  Payang fishing gear at PPP Carocok Tarusan is operated by boat 5 GT and payang construction on left wing (left and right) is 20-25 meters, the net body is 10-20 meters, cod end as the spot for collecting fish catch has 5-8 meters, head rope and ground rope is 100 meters, and selambar strap for drawing fishing gear has 200 meters in length. Based on results processed with SPSS were obtained equation of multiple linear regression function on Payang fishing gear at PPP Carocok Tarusan as follow: Y = -58.747 + 11.625X1 + 4.707X2 - 13.244X3 - 1.644X4 + 5.915X5 + 23.693X6. Analysis of t-test showed that production factor of Payang fishing gear which has the positive effect on the catch result is the length of trip on fishing (X1), the amount of fuel (X2), and setting (X6).       Payang merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan setelah bagan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Carocok Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unit penangkapan alat tangkap payang dan menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi yang dihasilkan oleh alat tangkap payang tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus yaitu semua alat tangkap payang yang ada di PPP Carocok Tarusan diambil datanya. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan pengolahan data secara keseluruhan menggunakan aplikasi statistika yaitu SPSS Versi 22.0 dengan metode Enter. Alat tangkap payang di PPP Carocok Tarusan dioperasikan dengan kapal berukuran 5 GT dan kontruksi payang bagian sayap (kiri dan kanan) mempunyai panjang 20-25 meter, badan jaring sepanjang 10-20 meter, bagian kantong sebagai tempat pengumpul hasil tangkapan mempunyai panjang 5-8 meter, tali ris atas dan tali ris bawah sepanjang 100 meter, dan tali selambar yang berfungsi untuk menarik alat tangkap mempunyai panjang 200 meter. Berdasarkan hasil output yang diolah dengan SPSS diperoleh bentuk persamaan fungsi regresi linier berganda pada alat tangkap payang di PPP Carocok Tarusan sebagai berikut: Y= -58.747 + 11.625 X1 + 4.707 X2– 13.244 X3 – 1.644 X4 + 5.915 X5 + 23.693 X6. Dari pengujian yang dilakukan dengan uji, dapat diketahui bahwa faktor produksi alat tangkap payang yang berpengaruh positif secara signifikan terhadap hasil tangkapan adalah lama trip penangkapan (X1), jumlah BBM (X2), dan setting (X6).
Studi kelimpahan fingerling ikan terhadap ketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar Abdullah A. Muhammadar; Junaidi M. Affan; Amiruddin A. Bakar
Depik Vol 7, No 3 (2018): December 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.446 KB) | DOI: 10.24815/jn.v%vi%i.12603

Abstract

Abstract. This research was conducted onJuly 2018 in Lake Laut Tawar, Aceh Tengah District.This study aims to determine the abundance of fingerling fish and the availability of natural feed found in Lake Laut Tawar. The gillnet was used to sample the fingerling fish at three stations, including station 1 (One-one), station 2 (Toweren) and station 3 (Rawe) forweek. The parameters of measured water quality are at temperature, pH, DO (dissovlet oxygen), depth, and brightness. Sampling of natural feed (plankton extraction) was carried out at the place of fish collection, then prepared a standard plankton, and identified using microscopy. The results showed the highest abundance of fingerling fish obtained was thekeperas fish (Cyclocheilichthys apogon), with an abundance of 75%. While the lowest abundance value is kawan fish species (Poropontius bargensis), with 4% abundance value, and the highest plankton abundance in Lake Laut Tawar waters is at station 2 with an abundance value of 69.2485 ind / mL and the lowest abundance value is at 1 with an abundance value of 38.0637 ind / mL. Based on the results of the research conducted, it can be concluded that the abundance of fingerling fish is related to the availability of natural food in the waters of Lake Laut Tawar.Keywords: Abundance;Fingerling fish;Natural food;Lake laut tawar. Abstrak. Telah dilakukan penelitianpada Juli 2018tentang studi kelimpahan fingerling ikan terhadap ketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan fingerling fishdan ketersediaan pakan alami yang terdapat di perairan Danau Laut Tawar. Tahapan penelitian ini dimulai dari persiapan alat tangkap, penangkapan fingerlingikan pengukuran kualitas perairan,dan pengambilansampel pakan alami (pengambilan plankton). Alat tangkap yang digunakan ialah jaring joran (Gill net)dengan ukuran 1 inchi. Penangkapan  fingerling fishdilakukan pada tigastasiun, diantaranya stasiun 1(One-one),stasiun 2(Toweren)dan stasiun 3 (Rawe) dan pengambilan sampel dilakukan satu kali dalam satu minggu.Parameter kualitas perairanyang diukur ialah pada suhu, pH, oksigen terlarut, kedalaman, dan kecerahan.Pengambilansampel pakan alami (pengambilan plankton)dilakukan ditempat pengambilan ikan, kemudian menyiapkan plankton standard, dan diidentifikasi dengan mengunnakanmikroskop. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan tertinggi fingerling ikan yang didapatkan ialah jenis ikan Keperas (Cyclocheilichthys apogon),dengan nilai kelimpahan 75 %. Sedangkan nilai kelimpahan yang terendah ialah jenis ikan Kawan (Poropontius tawarensis),dengan nilai kelimpahan 4  %, dan kelimpahan plankton tertinggi pada perairan Danau Laut Tawar terdapat pada stasiun 2 dengan nilai kelimpahan 69,2485 ind/mL dan nilai kelimpahan yang terendah terdapat pada stasiun 1 dengan nilai kelimpahan 38,0637 ind/mL. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kelimpahan fingerling fishberkaitan denganketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar.Kata kunci:Kelimpahan;fingerling fish;Pakan alami;Danau laut tawar.
Efektivitas penggunaan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan di Perairan Pusong Kota Lhokseumawe Makwiyah A. Chaliluddin; Ratna M. Aprilla; Junaidi M. Affan; Abdullah A. Muhammadar; Heri Rahmadani; Edy Miswar; Firdus Firdus
Depik Vol 7, No 2 (2018): August 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.342 KB) | DOI: 10.13170/depik.7.2.11322

Abstract

The existence of fish aggregating devices (FADs) in a waters is able to establish a new fishing ground that potential waters. FADs are able to attract the attention of the gathering of fishes and other aquayic organisms around it, increasing the density of fish around FADs can increase the chances of successful catching operation, and therefore the FADs has benefited significantly to increase the capture fishery production significantly. The purposes of the research were to evaluate the catching composition of purse seine production  using FADs and non FADs, and to examine the fectiveness of FADs. This research was conducted on February 1 - 28, 2018 located at Pusong Waters, Lhokseumawe City. The survey  method was used in this study. The direct sampling by following the fisherman in fishing activities was performed both the purse seine with FADs and no FADs. Total purse seine catches during the research were 4,320 kg consisting of Long Jawed Mackerel (Rastrelliger sp.) 1,280 kg (29.63%), Decapterus Fish ( Decapterus sp.) 350 kg (8,107%), skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) 845 kg (19.56 %), tuna fish (Euthynnus affinis) 720 kg (16.67%), Torpedo scad (Megalaspis cordyla) 300 kg (6.94%), Queenfish 140 kg (3.24%), and starry triggerfish (Abalistes stellaris) 685 kg (15.86%). It was concluded that the purse seine used FADs is more effective  compared to the a purse seine that does not use FADs.Keberadaan rumpon di suatu perairan mampu menarik perhatian berkumpulnya ikan dan organisme lain disekitarnya, sehingga dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan purse seine yang menggunakan rumpon dan purse seine yang tidak menggunakan rumpon, dan menilai efektivitas rumpon dalam mengumpulkan ikan. Penelitian ini dilaksanakan pada 01 - 28 Februari 2018 bertempat di Perairan Pusong, Kota Lhokseumawe. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, yaitu dengan mengikuti nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan, baik nelayan purse seine yang menggunakan rumpon dan nelayan purse seine yang tidak menggunakan rumpon. Data ikan hasil tangkapan yang diperoleh dihitung jumlah ikan hasil tangkapan dan diidentifikasi spesies ikan dan selanjutnya dibandingkan dengan hasil tangkapan nelayan yang menggunakan rumpon dan ikan hasil tangkapan nelayan yang tidak menggunakan rumpon. Total hasil tangkapan purse seine selama penelitian sebanyak 4.320 kg terdiri dari kembung (Rastrelliger sp.) 1.280 kg (29,63%), layang (Decapterus sp.) 350 kg (8,107%), cakalang (Katsuwonus pelamis) 845 kg (19,56%), tongkol (Euthynnus affinis) 720 kg (16,67 %), tegang ekor/tetengkek (Megalaspis cordyla) 300 kg (6,94 %), talang/daun bamboo (Scomberoides lysan) 140 kg (3,24%), dan ayam-ayam (Abalistes stellaris) 685 kg (15,86 %).  Dari kedua jenis kegiatan penangkapan ikan tersebut, maka purse seine menggunakan rumpon lebih efektif dibandingkan purse seine yang tidak menggunakan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan.