Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Fluktuasi Schistosomiasis di Daerah Endemis Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011-2018 Anis Nurwidayati; Phetisya Pamela Frederika; Mohammad Sudomo
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 47 No 3 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.293 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v47i3.1276

Abstract

Schistosomiasis is one of the most important parasitic diseases in public health . Schistosomiasis infected 230 million people in 77 countries and 600 million people are at risk. Schistosomiasis in Indonesia is caused by a trematode (blood fluke) Schistosoma japonicum. The intermediate host is an amphibious snail, Oncomelania hupensis lindoensis. The disease occured only in Central Sulawesi, i.e in Napu and Bada Highlands, Poso District, and in Lindu Highland, Sigi District.Control activities have been implemented in the last 20 years . This paper aimed to describe the fluctuations of schistosomiasis infection rate among human in 2011-2018, snails, and rat in 2011-2017 in three endemic areas based on secondary data from the Central Sulawesi Provincial Health Office. The results showed that schistosomiasis infection rate among human fluctuated from year 2011-2018, as well as in snail and rat in 2011-2017, and there was a trend of increasing prevalence. The control efforts undertaken include surveying the feces of the population, detection of cercariae in snails and rat examination. It also carried out treatment of the population with praziquantel and eradication of the snail mechanically, chemically and biologically. Cross sectional activities to control schistosomiasis have also been conducted but still need to be strengthen to achieve schistosomiasis elimination in 2020. Keywords: Schistosomiasis, prevalence, Schistosoma japonicum, Indonesia Abstrak Schistosomiasis merupakan salah satu penyakit parasit terpenting dalam kesehatan masyarakat. Schistosomiasis telah menginfeksi 230 juta orang di 77 negara dan 600 juta orang berisiko terinfeksi. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyakit ini hanya ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu di Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. Berbagai upaya pengendalian sudah dilakukan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan fluktuasi kasus schistosomiasis pada manusia tahun 2011-2018, data schistosomiasis pada keong dan tikus tahun 2011-2017 di tiga daerah endemis tersebut dengan menganalisis data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil survei menunjukkan bahwa schistosomiasis masih berfluktuasi dari tahun 2011-2018 pada manusia, pada keong dan tikus tahun 2011-2017, serta terlihat adanya kecenderungan kenaikan prevalensi. Upaya pengendalian yang dilakukan meliputi survei tinja penduduk, deteksi serkaria pada keong dan pemeriksaan tikus. Selain itu juga dilakukan pengobatan penduduk dengan praziquantel dan pemberantasan keong secara mekanik, kimia dan biologi. Pengendalian terpadu oleh lintas sektor juga sudah dilaksanakan, akan tetapi masih perlu penguatan kembali peran lintas sektor untuk dapat mencapai target eliminasi schistosomiasis tahun 2020. Kata kunci: Schistosomiasis, prevalensi, Schistosoma japonicum
SURVEI Anopheles spp. DI DESA ILAN BATU, KABUPATEN LUWU, PROVINSI SULAWESI SELATAN Andi Arahmadani Arasy; Anis Nurwidayati
SPIRAKEL Vol 9 No 2 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.492 KB)

Abstract

Malaria is a mosquito-borne diseases, that caused by protozoan parasit Plasmodium spp. Indonesia is the second most affected region in South East Asia. This survey was aimed to identify the species diversity and biting activity of malaria vectors (Anopheles spp.) in Ilan Batu Village, Luwu Regency, South Sulawesi Province. The mosquitoes was collected by using the human landing collection technique and collecting mosquitoes resting on the wall of houses and cow barn. The results showed that there were three species of Anopheles i.e., An. barbirostris, An. vagus, and An. kochi. An. barbirostris was the species with the highest density. The value of man hour density (MHD) indoor and outdoor for An. barbirostris were 5.04 and 3.26 respectively.Based on the value of man hour density the mosquito An.barbirostris in Ilan Batu village were endophagic and endophilic
TINGKAT INFEKSI SOIL-TRANSMITTED HELMINTH PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DATARAN TINGGI BADA, KECAMATAN LORE BARAT, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH Rosmini Rosmini; Anis Nurwidayati
SPIRAKEL Vol 9 No 1 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.084 KB)

Abstract

Soil-transmitted helminths (STH) are a major public health problem in tropical and sub-tropical countries, also in Indonesia. STH’s infection were caused by nematode such as (ring worm, hook worm and whip worm. This infection affecting the physical growth and cognitive development in school age children. This study was aimed to assess the prevalence of STH infection among school children in Tuare and Lengkeka, West Lore District, Poso Regency, Central Sulawesi Province. This study was conducted with cross sectional design. The study was conducted in May 2016. Stool smple were collected from school children class 4 and 5 in Tuare and Lengkeka, then examined using Kato-Kat’z method. The results showed that infection of STH due to Ascaris worm were found inTuare and Lengkeka Village, which prevalence were 18.18% and 19.35%. Mix infection of Ascaris and hookworm were also found in both location with the prevalence were 9.09% and 6.45%. The infection of whip worm was only found in Tuare Village which prevalence was 4.55%. Based on the results can be concluded that the STH infection in Tuare and Lengkeka Village still remain high. The treatment of school children as well as behavioral counseling clean and healthy living were needed to be conducted in both village.
UJI EFIKASI KELAMBU BERINSEKTISIDA DI DESA SUMARE KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT Anis Nurwidayati; Andi Arahmadani Arasy
SPIRAKEL Vol 11 No 1 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.354 KB)

Abstract

One of malaria control methods is by prevention of vector control by using insecticide. One of them is the long-lasting Insecticidal nets (LLINs). The use of LLINs is chosen because it is easy to apply and lasts longer (approximately three years). However, uncontrolled and continuous use will triggers the resistance of mosquitoes to insecticides present in mosquito nets. The test activity aimed to determine the effectiveness of LLINs in Sumare Village. Testing was conducted by following WHO standard method. The results showed that LLINs with permethrin active ingredient in 2012 were no longer effective to be used, with the mortality rate of Anopheles subpictus mosquitoes only 36%. Testing of active LLINs delthamethrin procurement in 2014 was also not effective with Anopheles subpictus mosquito mortality rate of 61.4%. Average temperature recorded during the test was 29C and relative humidity of 72%. The conclusion is the LLINs in Sumare Village that used for one up to three years was not effective.
Pengaruh Perbedaan Ekosistem dan Faktor Lingkungan terhadap Keragaman Jenis Kelelawar di Kabupaten Tojo Una - Una dan Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah Anis Nurwidayati; Made Agus Nurjana
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.091 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.291

Abstract

Abstract The bat species biodiversity varies across environments in six different ecosystems based on Vectora 2015 Research Report. These ecosystems were distant forests and near settlements, non forests near and far residential, as well as near and remote coastal settlements. We measured species diversity (Shannon-Wiener index), environmental factors were also measured during bat surveys, ie air temperature, humidity and weather during survey. This paper was a further analysis of Vectora 2015 Research Report. The analysis was aimed to determine the impact of environmental factors to the bat species diversity especially in Tojo Una-Una and Tolitoli District. We found that the temperature and humidity factors significantly affect the diversity of bat species. The highest species diversity found in the forest near settlement, that was 0,3396. Abstrak Data Riset Khusus Vektora tahun 2015 menunjukkan adanya keragaman spesieskelelawar di lokasi riset yang terdiri atas enam ekosistem yang berbeda. Ekosistemtersebut adalah hutan , non hutan jauh dan dekat pemukiman dekat dan jauhpemukiman, serta dekat dan jauh pemukiman pantai . Faktor lingkungan juga diukurpada saat dilakukan survei kelelawar, yaitu suhu udara, kelembaban dan cuaca saatpenangkapan. Tulisan ini merupakan hasil analisis lanjut Riset Khusus vektora tahun2015. Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh ekosistemdan faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan cuaca) terhadap keragaman jeniskelelawar di Kabupaten Tojo Una-Una dan Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah danperannya sebagai reservoir penyakit zoonosis. Hasil analisis menunjukkan bahwafaktor suhu dan kelembaban berpengaruh pada keragaman spesies kelelawar secarasignifikan.
EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI JARAK MERAH (Jatropha gossypiifolia), JARAK PAGAR (J. curcas) DAN JARAK KASTOR (Riccinus communis) FAMILI EUPHORBIACEAE TERHADAP HOSPES PERANTARA SCHISTOSOMIASIS, KEONG Oncomelania hupensis lindoensis Anis nurwidayati; Ni nyoman veridiana; Octaviani octaviani; Yudith l
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.138 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i01.692

Abstract

ABSTRAK Schistosomiasis merupakan penyakit endemis di Indonesia, khususnya di Dataran tinggi Napu, Lindu dan Bada, Sulawesi Tengah. Keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis tersebar luas di Dataran Tinggi Napu. Salah satu upaya pengendalian keong yang telah dilakukan oleh progam pengendalian schistosomiasis adalah penyemprotan moluskisida Bayluscide setiap 6 bulan sekali. Penggunaan moluskisida kimia memiliki kekurangan karena dapat menyebabkan polusi lingkungan. Perlu diteliti penggunaan tanaman sebagai moluskisida untuk alternatif pengendalian keong. Famili Euphorbiaceae diketahui memiliki aktivitas sebagai moluskisida. Tujuan penelitian menentukan efektivitas dari ekstrak dan fraksi biji jarak merah (Jatropha. gossypifolia), ekstrak biji jarak pagar (Jatropha curcas) dan ekstrak biji jarak kastor (Riccinus communis) terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada bulan Maret – Oktober 2009. Keong diuji dengan larutan ekstrak biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor di laboratorium selama 24 jam. Ekstraksi biji jarak dengan metode perkolasi Jumlah keong yang mati dihitung dan dianalisis probit untuk penentuan nilai LC 50 dan LC 95. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak methanol dari biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor memiliki daya bunuh terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Ekstrak biji jarak merah memiliki daya bunuh yang paling tinggi dibanding ekstrak biji jarak pagar dan kastor, dengan nilai LC 50 10,41 ppm dan LC 95 sebesar 18,6 ppm. Fraksi metanol dari biji jarak merah paling efektif di antara fraksi etil asetat dan n-heksan dari biji jarak merah. Tanaman jarak merah dapat menjadi bahan alternatif dalam pengendalian keong Oncomelania hupensis lindoensis.
Modifikasi Lingkungan untuk Pengendalian Schistosomiasis di Daerah Endemis Sulawesi Tengah Anis Nurwidayati
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.005 KB)

Abstract

Schistosomiasis merupakan penyakit parasit paling mematikan kedua setelah malaria. Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu di dataran tinggi Lindu, Kabupaten Sigi dan dataran tinggi Napu dan dataran tinggi Bada, Kabupaten Poso. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda Schistosoma japonicum. Cacing ini membutuhkan keong perantara untuk melangsungkan siklus hidupnya, yaitu Oncomelania hupensis lindoensis. Keong tersebut berkembang biak di habitat yang disebut daerah fokus. Pengendalian fokus keong menjadi salah satu upaya penting dalam memutus rantai penularan schistosomiasis. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai modifikasi lingkungan sebagai upaya pengendalian fokus keong perantara schistosomiasis dalam rangka pengendalian schistosomiasis. Makalah disusun berdasarkan studi literatur dan data sekunder yang dikumpulkan. Hasil menunjukkan bahwa pengendalian keong yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah secara mekanik dan kimia. Pengendalian secara mekanik dilakukan dengan manajemen dan modifikasi lingkungan berupa penanaman lahan kosong dengan tanaman produktif, mengubah daerah fokus keong menjadi sawah atau kolam ikan. Kesimpulan yang diperoleh adalah modifikasi lingkungan yang dilakukan secara tepat, terpadu dan intensif dapat membantu menurunkan angka prevalensi schistosomiasis.
Survei Keong Air Tawar dalam Rangka Identifikasi Potensi Keong Perantara Schistosomiasis di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan Anis Nurwidayati; Junus Widjaja; Malonda Maksud; N Nelfita; Muchlis Syahnuddin
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2018: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.411 KB)

Abstract

Schistosomiasis merupakan penyakit parasit paling mematikan kedua setelah malaria. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda Schistosoma japonicum. Cacing ini membutuhkan keong perantara untuk melangsungkan siklus hidupnya, yaitu Oncomelania hupensis lindoensis. Wilayah endemis schistosomiasis selama ini dikeahui hanya ditemukan di wilayah Sulawesi Tengah, akan tetapi perlu dilakukan survei keong perantara schistosomiasis di daerah lain yang berbatasan langsung dengan daerah endemis schistosomiasis. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan survei keong air tawar dalam rangka identifikasi keong perantara schistosomiasis di wilayah Kecamatan Rampi Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Survei keong dilakukan pada Bulan November 2017. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil survei keong air tawar yang dilakukan di wilayah yang berbatasan dengan daerah endemis schistosomiasis. Hasil survei ditemukan empat jenis keong, yaitu Sulawesidrobia bonnei, Sulawesidrobia sp., Melanoides sp., dan Helicorbis sp. berdasarkan hasil survei dpaat disimpulkan bahwa tidak ditemukan keong perantara schistosomiasis, O.hupensis lindoensis di wilayah Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.
Jenis Tikus dan Potensi Penularan Penyakit Zoonosis di Daerah Endemis Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Anis Nurwidayati; Hayani Anastasia Siahaan
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.014 KB)

Abstract

Tikus dikenal sebagai reservoir alami dari beberapa infeksi cacing yang penting bagi kesehatan masyarakat, salah satunya schistosomiasis. Tikus mengandung mikroorganisme parasit yang dapat ditularkan melalui kontak dengan kotoran tikus yang terinfeksi atau melalui ektoparasit, maupun secara tidak langsung melalui hospes keong perantara schistosomiasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tikus dan telur cacing zoonotik pada tikus di daerah endemis schistosomiasis Napu, khususnya di Desa Dodolo dan Kaduwaa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Penelitian ini merupakan studi observasional yang dilakukan pada bulan Mei sampai Juni tahun 2018. Penangkapan tikus dilakukan selama tiga malam berturut-turut menggunakan 100 perangkap hidup yang dipasang pada tempat yang berbeda, yaitu kebun cokelat, kebun sagu, ladang jagung, dan semak belukar. Jumlah total tikus yang tertangkap di Desa Dodolo adalah 15 ekor dari 100 perangkap yang dipasang selama tiga malam (trap succes 5%). Jenis tikus yang ditemukan yaitu Rattus argentiventer, Rattus sp., R.tanezumi, R.exulans, Maxomys muechenbroekii, dan Paruromys dominator. Jumlah tikus yang terinfeksi schistosomiasis adalah tujuh ekor (infection rate 46,67%), Hymenolepis diminuta delapan ekor (53,33%), dan nematoda darah delapan ekor (53,33%). Jumlah total tikus yang tertangkap di Desa Kaduwaa adalah 13 ekor dari 100 perangkap yang dipasang selama tiga malam (trap succes 4%). Jenis tikus yang ditemukan yaitu Rattus argentiventer, R.tanezumi, dan R.exulans. Jumlah tikus yang terinfeksi schistosomiasis adalah tiga ekor (infection rate 23%), Capillaria hepatica dua ekor (15,38%) Hymenolepis diminuta dua ekor (15,38%), dan nematoda darah empat ekor (26,67%). Dengan ditemukannya telur cacing pada tikus perlu diwaspadai sebagai investigasi awal sumber penularan penyakit kecacingan melalui tikus.