Untoro Nugroho
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

STABILISASI TANAH GAMBUT RAWAPENING DENGAN MENGGUNAKAN CAMPURAN PORTLAND CEMENT DAN GYPSUM SINTESIS (CaSO42H2O) DITINJAU DARI NILAI CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR) Nugroho, Untoro
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peat soil have the nature which not to the advantage of construction. This matter because bearing capacity or value of peat soil’s CBR low. Chemistry stabilization with stabilization materials (stabilizing agent) which can changed or lessen unfavourable nature, usually accompanied with cordage to each solid soil. Mixture between portland cement and gypsum sintetis ( Caso42H2O) fastening and ossification each other. This research is done to know influence of addition portland cement 5% and gypsum sintetis ( 0%, 5%, 10% and 15%) with a period of curing  0 day and 7. This Research wear standard of ASTM. The Result of research laboratory indicate that addition of portland cement, gypsum sintetis and a period of curing improve value of CBR. Value of CBR increase and reach maximum value at rate of portland cement 5% and gypsum sintetis15% with a period of curing 7 day that is equal to 8,985%. The value experience of increase 3 times fold from value of original CBR peat soil that is equal to 3,559%. Or value of natural CBR increase equal to 252,48%.Tanah gambut mempunyai sifat yang tidak menguntungkan bagi konstruksi. Hal ini karena daya dukung tanah atau nilai CBR yang rendah. Stabilisasi kimiawi dengan bahan stabilisasi (stabilizing agent) yang dapat mengubah atau mengurangi sifat-sifat tanah yang kurang baik, biasanya disertai dengan pengikatan terhadap masing-masing butir tanah dengan yang lainnya. Campuran antara portland cement dengan gypsum sintetis (CaSO42H2O) dapat saling mengikat dan terjadi pengerasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan portland cement sebesar 5% dan gypsum sintetis (0%, 5%, 10% dan 15%) dengan masa pemeraman (curing) 0 hari dan 7 hari dilihat dari nilai CBR. Penelitian ini memakai standar ASTM. Dari hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa penambahan portland cement, gypsum sintetis dan masa pemeraman meningkatkan nilai CBR. Nilai CBR yang dihasilkan mengalami kenaikan dan mencapai nilai maksimum pada kadar portland cement 5% dan gypsum sintetis 15% dengan masa pemeraman 7 hari yaitu sebesar 8,985%. Nilai tersebut mengalami kenaikan hampir 3 kali lipat dari nilai CBR tanah gambut asli yaitu sebesar 3,559%. Atau nilai CBR mengalami kenaikan sebesar 252,46%.
EVALUASI SIMPANG UTAMA KORIDOR SELATAN KOTA SEMARANG STUDI KASUS SIMPANG BANYUMANIK Nugroho, Untoro
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The position of Semarang reviewed in national and regional scale is very strategic, the impacts of traffic growth are sustained locally and are quite large. That growth traffic flows should be assessed continuously so as to avoid negative impacts. The pattern of traffic flows in a road section can be seen from the intersection arrangement pattern that is on the segment. Parameters studied include: the number of vehicles out of each arm, current conditions and time of the signal. This analysis includes: the basic saturation flow, traffic flow, cycle time, green time, capacity, degree of saturation and traffic behavior. From the results of research on the signalized intersection at the intersection Banyumanik, obtained by the basic saturation flow on the northern approach of 5310 pcu/h, east of 3060 pcu/h, south of 4740 pcu/h. Saturation flow rate on the northern approach of 4117 pcu/h, east of 2100 pcu/h, south of 4064 pcu/h. Comparison of the current intersection of 0.857. green time of 161 seconds. Capacity on the northern approach of 2474 pcu/h, east of 681 pcu/h, south of 2442 pcu/h. Degree of Saturation on the northern approach of 0.7284 pcu/h, east .9261 pcu/h, south of 0.9261 pcu/h. The number of queues on the approach north of 58 pcu, pcu 32 east, south 96.3 pcu. Long queues at the northern approach of 180 meters, 178 meters east, south 294 yards. The number of stopped vehicles throughout intersections 0.80 stop/pcu.Tundaan crossing by an average of 40.76 sec/pcu. The amount of capacity and degree of saturation is almost past the recommended limit, so that wide approach needs to change.Posisi kota Semarang ditinjau dalam skala nasional maupun regional sangat strategis akan menimbulkan dampak pertumbuhan lalu lintas yang bersifat lokal maupun menerus yang cukup besar. Pertumbuhan lalu lintas yang cukup besar menghasilkan arus lalu lintas yang harus dikaji terus menerus sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Arus lalu lintas yang cukup besar tanpa disertai pengaturan pola lalu lintas yang sesuai akan menyebabkan tundaan yang cukup lama dan antrian yang cukup panjang. Pola arus lalu lintas suatu ruas jalan dapat kita lihat dari pola pengaturan simpang yang berada pada ruas tersebut. Parameter yang diteliti meliputi jumlah kendaraan yang keluar dari masing-masing lengan, kondisi saat ini dan waktu sinyalnya. Analisis ini meliputi : arus jenuh dasar, arus lalu lintas, waktu siklus, waktu hijau, kapasitas, derajat kejenuhan dan perilaku lalu lintas. Dari hasil penelitian pada simpang bersinyal di persimpangan banyumanik, diperoleh arus jenuh dasar pada pendekat utara sebesar 5310 smp/jam, timur 3060 smp/jam, selatan 4740 smp/jam. Nilai arus jenuh pada pendekat utara sebesar 4117 smp/jam, timur 2100 smp/jam, selatan 4064 smp/jam. Perbandingan arus simpang sebesar 0,857. waktu hijau sebesar 161 detik. Kapasitas pada pendekat utara sebesar 2474 smp/jam, timur 681 smp/jam, selatan 2442 smp/jam. Derajat Kejenuhan pada pendekat utara sebesar 0,7284 smp/jam, timur 0,9261 smp/jam, selatan 0,9261 smp/jam. Jumlah antrian pada pendekat utara sebesar 58 smp, timur 32 smp, selatan 96,3 smp. Panjang antrian pada pendekat utara sebesar 180 meter, timur 178 meter, selatan 294 meter. Jumlah kendaraan terhenti seluruh simpang 0,80 stop/smp.Tundaan persimpangan rata-rata sebesar 40,76 det/smp. Besarnya kapasitas dan derajat kejenuhan hampir melewati batas yang disarankan, sehingga perlu perubahan lebar pendekat. 
EVALUASI SIMPANG UTAMA KORIDOR SELATAN KOTA SEMARANG STUDI KASUS SIMPANG BANYUMANIK Nugroho, Untoro
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: The position of Semarang  reviewed  in national and  regional scale  is very strategic,  theimpacts of  traffic growth are sustained  locally and are quite  large. That growth  traffic  flows should be assessed  continuously  so as  to avoid negative  impacts. The pattern of  traffic  flows  in a  road section can be seen from the intersection arrangement pattern that is on the segment. Parameters studied include:  the number of vehicles out of each arm, current conditions and  time of the signal. This  analysis  includes:  the  basic  saturation  flow,  traffic  flow,  cycle  time,  green  time,  capacity, degree of saturation and traffic behavior. From the results of research on the signalized intersection at  the  intersection Banyumanik, obtained by  the basic saturation  flow on  the northern approach of 5310 pcu/h, east of 3060 pcu/h, south of 4740 pcu/h. Saturation flow rate on the northern approach of 4117 pcu/h, east of 2100 pcu/h, south of 4064 pcu/h. Comparison of  the current  intersection of 0.857. green  time of 161 seconds. Capacity on  the northern approach of 2474 pcu/h, east of 681 pcu/h, south of 2442 pcu/h. Degree of Saturation on  the northern approach of 0.7284 pcu/h, east .9261 pcu/h, south of 0.9261 pcu/h. The number of queues on the approach north of 58 pcu, pcu 32 east, south 96.3 pcu. Long queues at the northern approach of 180 meters, 178 meters east, south 294  yards.  The  number  of  stopped  vehicles  throughout  intersections  0.80  stop/pcu.Tundaan crossing  by  an  average  of  40.76  sec/pcu.  The  amount  of  capacity  and  degree  of  saturation  is almost past the recommended limit, so that wide approach needs to change. Keywords:  evaluation, optimization, intersection, Banyumanik   Abstrak:  Posisi  kota  Semarang  ditinjau  dalam  skala  nasional maupun  regional  sangat  strategis akan menimbulkan  dampak  pertumbuhan  lalu  lintas  yang  bersifat  lokal maupun  menerus  yang cukup besar. Pertumbuhan  lalu  lintas yang cukup besar menghasilkan arus  lalu  lintas yang harus dikaji  terus  menerus  sehingga  tidak  menimbulkan  dampak  negatif.  Arus  lalu  lintas  yang  cukup besar  tanpa  disertai  pengaturan  pola  lalu  lintas  yang  sesuai  akan menyebabkan  tundaan  yang cukup  lama dan antrian yang cukup panjang. Pola arus  lalu  lintas suatu ruas  jalan dapat kita  lihat dari  pola  pengaturan  simpang  yang  berada  pada  ruas  tersebut.  Parameter  yang  diteliti eliputi jumlah  kendaraan  yang  keluar  dari masing.masing  lengan,  kondisi  saat  ini  dan waktu  sinyalnya. Analisis ini meliputi : arus jenuh dasar, arus lalu lintas, waktu siklus, waktu hijau, kapasitas, derajat kejenuhan dan perilaku  lalu  lintas. Dari hasil penelitian pada simpang bersinyal di persimpangan banyumanik, diperoleh arus  jenuh dasar pada pendekat utara sebesar 5310 smp/jam,  timur 3060 smp/jam,  selatan  4740  smp/jam.  Nilai  arus  jenuh  pada  pendekat  utara  sebesar  4117 smp/jam, timur  2100  smp/jam,  selatan  4064  smp/jam.  Perbandingan  arus  simpang  sebesar  0,857.  waktu hijau  sebesar  161  detik.  Kapasitas  pada  pendekat  utara  sebesar  2474  smp/jam,  timur  681 smp/jam, selatan 2442 smp/jam. Derajat Kejenuhan pada pendekat utara sebesar 0,7284 smp/jam, timur 0,9261 smp/jam, selatan 0,9261 smp/jam. Jumlah antrian pada pendekat utara sebesar 58 smp,  timur 32 smp, selatan 96,3 smp. Panjang antrian pada pendekat utara sebesar 180 meter, timur  178  meter,  selatan  294  meter.  Jumlah  kendaraan  terhenti  seluruh  simpang  0,80 stop/smp.Tundaan persimpangan rata.rata sebesar 40,76 det/smp. Besarnya kapasitas dan derajat kejenuhan hampir melewati batas yang disarankan, sehingga perlu perubahan lebar pendekat. Kata kunci : evaluasi, optimalisasi, simpang, Banyumanik
ANALISIS KENAIKAN TEKANAN AIR PORI CLEAN SAND MENGGUNAKAN METODE CYCLIC SHEAR-STRAIN CONTROLLED Kusumawardani, Rini; ., Lashari; Nugroho, Untoro; Cahyo A, Hanggoro Tri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Liquefaction phenomenon could be analysed using strain-controlled loading method where informations about sands pore water pressure build-up were presented. Maintaining small deformation values whenever the soil was subjected to cyclic loading, this non-destructive method presents clearly the information about the increasing sands pore water pressure. It is concluded that liquefaction occurs whenever the pore water pressure reaches the same value with the soil effective stress (σ3’). Strain-controlled loading method introduces a fundamental parameter for undrained cyclic loading tests on fully saturated sands: shear strain treshhold (γt). This parameter divides the pore water pressure into two distinct zones, namely the constant pore water pressure and the increasing one. When cyclic shear strain amplitude (γ) is set up lesser than γt then pore water pressure stays constant. Contrastly, a larger set up of γ than γt results the increasing pore water pressure. Laboratory test on clean sand using relative density (Dr) 25%, 60 % and 80%, with effective pressure σ3’ = 100 kPa and frequency (f) applied 0.05 Hz and 0.1 Hz,  shows that γt = 1,5. 10-2  %. Whilst other test using Dr = 60% and f = 0.1 Hz confirms that γt = 1,5. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) and γt = 5. 10-2  % (σ3’ = 200kPa). Last test using Dr = 60% and f = 0.05 Hz reveals γt = 1,2. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) and γt = 2. 10-2  % (σ3’ = 200kPa).Fenomena likuifaksi dapat dianalisis menggunakan metode strain-controlled loading method. Metode ini merupakan metode non destruktif pada benda uji yang dapat menyajikan seluruh informasi kenaikan tekanan air pori secara lengkap. Metode ini dilakukan dengan cara mempertahankan nilai small deformation ketika diterapkan pembebanan secara siklis. Dari hasil pengujian diperoleh hasil bahwa likuifaksi terjadi ketika tekanan air pori mencapai nilai sebanding tekanan efektif tanah (σ3’). Metode ini menghasilkan parameter cyclic shear strain treshhold (γt). Parameter ini membagi grafik tekanan air pori menjadi dua zona yaitu zona konstan dan zona kenaikan tekanan air pori. Ketika amplitudo cyclic shear strain (γε) lebih rendah dari γt maka tidak akan ditemui kenaikan tekanan air pori. Tetapi sebaliknya jika γε > γt maka akan muncul kenaikan tekanan air pori. Berdasarkan hasil pengujian pada pasir murni dengan kepadatan relatif (Dr) sebesar 25%, 60% dan 80% dengan penerapan tekanan kekang sel σ3’ = 100 kPa dan frekuensi pembebanan (f) = 0.05 Hz dan 0,1 Hz tampak bahwa nilai γt sebesar 1,5. 10-2  %. Uji lain dengan menggunakan kondisi batas Dr = 60% dan f = 0.1 Hz menghasilkan nilai γt sebesar 1,5. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) dan γt = 5. 10-2  % (σ3’ = 200kPa). Serta pengujian dengan kondisi batas Dr = 60% dan f = 0.05 Hz menunjukan hasil  γt sebesar 1,2. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) dan γt = 2. 10-2  % (σ3’ = 200kPa).
EVALUASI GEOTEKNIK KELONGSORAN LERENG 23 JANUARI 2014 DI PERUMAHAN TRANGKIL SEJAHTERA GUNUNGPATI SEMARANG Cahyo A, Hanggoro Tri; Nugroho, Untoro; Widodo, Aris
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trangkil Housing Welfare and the New Trangkil - Sukorejo Village, District Gunungpati Semarang experiencing heavy rains triggered landslide Continuous Semarang City area since Wednesday (22/01/2014) until Thursday (01/23/2014). Successive landslides occurred early Thursday until 07.30. For 15 years Trangkil Sejahtera housing residents live, the worst avalanche of new events happening this time. Seven houses in Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 damaged by the landslide that occurred. While in New Trangkil Housing RT 6 RW 10, 32 houses were severely damaged and even some of them to the ground. The sliding slope in Housing Trangkil Sejahtera and Trangkil New - Village Sukorejo, District Gunungpati Semarang on January 23, 2014 is one of many landslide in a residential area in the district Gunungpati Semarang declared as landslide prone areas by the Directorate of Environmental Geology, Bandung. It is necessary for geotechnical evaluation to support the effectiveness of the slope reinforcement design selection, the necessary understanding of the physical and mechanical properties of soil based on soil test series. Barrow unfavorable, changes in land use, drainage systems are poorly integrated and rain triggered avalanches are the main factors causing the landslide. These four factors are interrelated core is Trangkil Sejahtera Housing Gunungpati Semarang infrastructure is not well prepared to anticipate landslides.Perumahan Trangkil Sejahtera dan Trangkil Baru – Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang mengalami kelongsoran yang dipicu hujan deras yang  terus mengguyur wilayah Kota Semarang sejak Rabu (22/1/2014) hingga Kamis (23/1/2014). Longsor secara beruntun terjadi Kamis dini hari sampai pukul 07.30. Selama 15 tahun Perumahan Trangkil Sejahtera ditinggali warga, peristiwa longsor terparah baru terjadi kali ini. Tujuh rumah di Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 rusak akibat kelongsoran yang terjadi. Sedangkan di Perumahan Trangkil Baru RT 6 RW 10, 32 rumah mengalami rusak parah bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah. Terjadinya kelongsoran lereng di Perumahan Trangkil Sejahtera dan Trangkil Baru – Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang pada tanggal 23 Januari 2014 merupakan satu dari sekian banyak kejadian longsor pada daerah pemukiman di Kecamatan Gunungpati Semarang yang dinyatakan sebagai daerah rawan longsor oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Bandung. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi geoteknik untuk menunjang efektivitas pemilihan desain perkuatan lereng, diperlukan pemahaman tentang sifat fisik dan mekanis dari tanah berdasarkan serangkaian pengujian tanah. Timbunan tanah yang kurang baik, perubahan tata guna lahan, sistem drainase yang kurang terintegrasi dan terjadinya hujan pemicu longsoran adalah faktor utama penyebab terjadinya kelongsoran. Keempat faktor tersebut saling berkaitan yang intinya adalah Perumahan Trangkil Sejahtera Gunungpati Semarang tidak dipersiapkan secara baik infrastrukturnya untuk mengantisipasi bencana longsor.
PERILAKU PENYEBERANG PEJALAN KAKI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA LALU LINTAS Nugroho, Untoro; Narendra, Alfa; Wicaksono, Ridho
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There are not many pedestrians crosser using pedestrian overhead bridges nowadays. They are more likely at-Grade Pedestrian Crosserseven though there were pedestrian overhead bridges.Like what we observed at BrigjendKatamso street. This paper described pedestrians crossing behavior around SMPN 2 Semarang’s pedestrian overhead bridges. Furthermore,their side friction impact on traffic flows are measured and noted. Preliminary survey was conductedon 40 hours traffic counting based on video-recordedtraffic data. This survey shows there are two peak hours, morning period at 05:45-08:45 and noon period at 14:30-17:30. On each peak hours, we observe at-grade pedestrian crosser for their impact on car travel-timeand spot-speed. In morning peak-time most of pedestrian crosser use overhead pedestrian bridge, otherwise in noon peak-time at-grade crossing preferred. During day-peak-time, single pedestrian crosser could delayedtwo passenger cars for 1.37 sec, meanwhile in the noon-peak-time they delayed one passenger car for 1 sec. In the morning peak hour, Spot-speed before disturbance is 22.43 km/hour, during crossing occur is 18.35 km/hour, and after the crossing is 19.1 km/hour. Meanwhile, during 3 hours of noon peak hour, spot speed before crossing is 17.45 km/hour, during disturbance is 13.48 km/hour, after crossing is 24.07 km/hour. Thie research proofed that there are side frictions regarding at-grade pedestrian crossing around overhead pedestrian bridge in front of SMPN 2 Semarang.Banyak penyeberang pejalan kaki yang tidak menggunakan jembatan penyeberangan dan lebih memilih untuk menyeberang ke ruas jalan pada jalan Brigjend Katamso, meskipun pada jalan tersebut telah ada fasilitas jembatan penyeberangan. Tulisan ini menyajikan perbandingan perilaku penyeberang melalui jembatan dengan melalui jalan. Khusus penyeberang jalan apakah mempunyai pengaruh terhadap arus lalu lintas atau tidak. Bila terjadi pengaruh, seberapa besar pengaruh tersebut. Observasi/Survei awal dengan melakukan penghitungan arus lalu lintas harian selama 40 jam menggunakan metode pencacahan manual, serta metode visual dengan kamera video. Selanjutnya dari survei lalu lintas harian diketahui waktu puncak yaitu puncak pagi (05.45 – 08.45) dan puncak sore (14.30–17.30). Pada masing-masing waktu puncak kemudian dikaji perbandingan perilaku penyeberang melalui jembatan dengan melalui jalan. Khusus untuk perilaku penyeberang melalui jalan akan diteliti pengaruhnya terhadap jumlah lama kendaraan tertahan serta kecepatan mobil penumpang ketika terjadi aktifitas penyeberangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada waktu pagi hari perilaku penyeberang melalui jembatan lebih banyak dari pada melalui jalan. Sedangkan pada waktu sore hari perilaku penyeberang melalui jembatan lebih sedikit dari pada melalui jalan. Pada puncak pagi rata-rata penyeberang jalan menghambat 2 kendaraan selama 1.37 detik sedangkan puncak sore menghambat 1 kendaraan selama 1 detik. Pengaruh terhadap kecepatan mobil penumpang selama 3 jam puncak pagi menghasilkan temuan kecepatan sebelum kejadian 22.43 km/jam, sesaatkejadian 18.35 km/jam, setelahkejadian 19.1 Km/jam. Sedangkan 3 jam selamapuncak sore menghasilkan temuan kecepatan sebelum kejadian 17.45 km/jam, sesaatkejadian 13.48 km/jam, setelahkejadian 24.07 km/jam. Hal ini menunjukkan penyeberang melalui jalan menjadi penghambat lalulintas di sekitar Jembatan Penyeberangan Orang, di depan SMPN 2 Semarang, di Jalan Brigjend Katamso. 
Evaluasi Kapasitas Ruas Jalan Pantura Kabupaten Brebes Nugroho, Untoro -; Sutarto, Agung -; Endradewi, Fenty -; Alisa, Yuliana Nur
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brebes is one of the districts traversed by the road north coast. Congestion on roads pantura frequent because this road is a national road along the coast of the island of Java. Long road pantura Brebes ± 32.8 Km. The purpose of this study was to evaluate the capacity of roads pantura Brebes based on the volume of traffic there and know how big the relationship between the ratio of volume per capacity and traffic jams that occur on the road north coast Brebes. This research was conducted along the northern coast Brebes district. The data used are the characteristics data, inventory data path, the data traffic volume and vehicle speed data. Analysis was conducted on the Analysis of Traffic Volume, capacity analysis segment, analysis of vehicle speed, intersection capacity analysis, the analysis of the degree of saturation, analysis level of service redesign and analysis of road. Brebes merupakan salah satu kabupaten yang dilalui oleh jalan pantura. Kemacetan pada jalan pantura sering terjadi karena jalan ini merupakan jalan nasional di sepanjang pesisir Pulau Jawa. Panjang jalan pantura Kabupaten Brebes ± 32,8 Km. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kapasitas ruas jalan pantura Kabupaten Brebes berdasarkan volume lalu-lintas yang ada dan mengetahui seberapa besar tingkat hubungan antara rasio volume per kapasitas dan kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan pantura Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilakukan di sepanjang jalan Pantura Kabupaten Brebes, yang dibagi dalam 16 ruas dan 15 simpang pada 5 kecamatan sepanjang Jalan Pantura. Data yang digunakan adalah data karakteristik jalan, data inventori jalan, data volume lalu lintas dan data kecepatan kendaraan. Analisis yang dilakukan meliputi Analisis Volume Lalu Lintas, analisis kapasitas ruas, analisis kecepatan kendaraan, analisis kapasitas simpang, analisis derajat kejenuhan, analisis tingkat pelayanan jalan dan analisis redesign jalan.
ANALISIS KENAIKAN TEKANAN AIR PORI CLEAN SAND MENGGUNAKAN METODE CYCLIC SHEAR-STRAIN CONTROLLED Kusumawardani, Rini; ., Lashari; Nugroho, Untoro; Cahyo A, Hanggoro Tri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i1.6896

Abstract

Liquefaction phenomenon could be analysed using strain-controlled loading method where informations about sands pore water pressure build-up were presented. Maintaining small deformation values whenever the soil was subjected to cyclic loading, this non-destructive method presents clearly the information about the increasing sands pore water pressure. It is concluded that liquefaction occurs whenever the pore water pressure reaches the same value with the soil effective stress (σ3’). Strain-controlled loading method introduces a fundamental parameter for undrained cyclic loading tests on fully saturated sands: shear strain treshhold (γt). This parameter divides the pore water pressure into two distinct zones, namely the constant pore water pressure and the increasing one. When cyclic shear strain amplitude (γ) is set up lesser than γt then pore water pressure stays constant. Contrastly, a larger set up of γ than γt results the increasing pore water pressure. Laboratory test on clean sand using relative density (Dr) 25%, 60 % and 80%, with effective pressure σ3’ = 100 kPa and frequency (f) applied 0.05 Hz and 0.1 Hz,  shows that γt = 1,5. 10-2  %. Whilst other test using Dr = 60% and f = 0.1 Hz confirms that γt = 1,5. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) and γt = 5. 10-2  % (σ3’ = 200kPa). Last test using Dr = 60% and f = 0.05 Hz reveals γt = 1,2. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) and γt = 2. 10-2  % (σ3’ = 200kPa).Fenomena likuifaksi dapat dianalisis menggunakan metode strain-controlled loading method. Metode ini merupakan metode non destruktif pada benda uji yang dapat menyajikan seluruh informasi kenaikan tekanan air pori secara lengkap. Metode ini dilakukan dengan cara mempertahankan nilai small deformation ketika diterapkan pembebanan secara siklis. Dari hasil pengujian diperoleh hasil bahwa likuifaksi terjadi ketika tekanan air pori mencapai nilai sebanding tekanan efektif tanah (σ3’). Metode ini menghasilkan parameter cyclic shear strain treshhold (γt). Parameter ini membagi grafik tekanan air pori menjadi dua zona yaitu zona konstan dan zona kenaikan tekanan air pori. Ketika amplitudo cyclic shear strain (γε) lebih rendah dari γt maka tidak akan ditemui kenaikan tekanan air pori. Tetapi sebaliknya jika γε > γt maka akan muncul kenaikan tekanan air pori. Berdasarkan hasil pengujian pada pasir murni dengan kepadatan relatif (Dr) sebesar 25%, 60% dan 80% dengan penerapan tekanan kekang sel σ3’ = 100 kPa dan frekuensi pembebanan (f) = 0.05 Hz dan 0,1 Hz tampak bahwa nilai γt sebesar 1,5. 10-2  %. Uji lain dengan menggunakan kondisi batas Dr = 60% dan f = 0.1 Hz menghasilkan nilai γt sebesar 1,5. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) dan γt = 5. 10-2  % (σ3’ = 200kPa). Serta pengujian dengan kondisi batas Dr = 60% dan f = 0.05 Hz menunjukan hasil  γt sebesar 1,2. 10-2  %  (50 ≤ σ3’ (kPa) ≤ 100) dan γt = 2. 10-2  % (σ3’ = 200kPa).
MEKANISME LONGSORAN LERENG PADA RUAS JALAN RAYA SEKARAN GUNUNGPATI SEMARANG Nugroho, Untoro; Andiyarto, Hanggoro Tri Cahyo; Purnomo, Mego
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i1.14452

Abstract

Abstrak: Penanggulangan longsoran lereng di ruas jalan Sekaran Gunungpati Semarang sebenarnya secara parsial sudah dilakukan dari setiap tahunnya, namun di setiap musim penghujan indikasi yang sama yakni rekahan pada permukaan jalan aspal yang menunjukkan arah gerakan massa tanah selalu saja muncul. Hal ini menunjukkan bahwa sistem perkuatan lereng yang ada ikut bergerak bersama material longsoran karena bidang longsor berada di bawah perkuatan lerengnya. Untuk itu, guna menunjang efektivitas pemilihan desain perkuatan lereng, diperlukan pemahaman tentang mekanisme longsoran pada lokasi studi melalui serangkaian pengujian tanah dan analisis stabilitas lereng dengan metode elemen hingga (SSR-FEM). Berdasarkan hasil pengujian tanah di lapangan dengan uji sondir pada 2 (dua) lokasi studi Trangkil dan Deliksari Gunungpati, kedalaman tanah keras mencapai 12,00 – 26,00 meter. Bidang longsor berbentuk kurva planar dan gerakan massa tanah berupa translasi pada kedalaman 10,00-13,00 meter. Pada lokasi studi Trangkil Gunungpati, analisis stabilitas lereng menunjukkan pada saat kekuatan geser tanah di zona bidang longsor direduksi sebesar 20% dari kondisi semula, lereng mulai bergerak dengan nilai faktor aman (SF) stabilitas lereng 1,06. Kondisi awal sebelum kekuatan geser tanah direduksi, lereng masih dalam kondisi aman SF > 1,20 (= 1,23). Hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi studi yang lahannya masih berupa tegalan ini rentan terjadi gerakan massa tanah pada saat nilai kekuatan geser tanah pada zona bidang longsor terus tereduksi selama musim penghujan.
Evaluasi Kapasitas Ruas Jalan Pantura Kabupaten Brebes Nugroho, Untoro -; Sutarto, Agung -; Endradewi, Fenty -; Alisa, Yuliana Nur
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i1.9501

Abstract

Brebes is one of the districts traversed by the road north coast. Congestion on roads pantura frequent because this road is a national road along the coast of the island of Java. Long road pantura Brebes ± 32.8 Km. The purpose of this study was to evaluate the capacity of roads pantura Brebes based on the volume of traffic there and know how big the relationship between the ratio of volume per capacity and traffic jams that occur on the road north coast Brebes. This research was conducted along the northern coast Brebes district. The data used are the characteristics data, inventory data path, the data traffic volume and vehicle speed data. Analysis was conducted on the Analysis of Traffic Volume, capacity analysis segment, analysis of vehicle speed, intersection capacity analysis, the analysis of the degree of saturation, analysis level of service redesign and analysis of road. Brebes merupakan salah satu kabupaten yang dilalui oleh jalan pantura. Kemacetan pada jalan pantura sering terjadi karena jalan ini merupakan jalan nasional di sepanjang pesisir Pulau Jawa. Panjang jalan pantura Kabupaten Brebes ± 32,8 Km. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kapasitas ruas jalan pantura Kabupaten Brebes berdasarkan volume lalu-lintas yang ada dan mengetahui seberapa besar tingkat hubungan antara rasio volume per kapasitas dan kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan pantura Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilakukan di sepanjang jalan Pantura Kabupaten Brebes, yang dibagi dalam 16 ruas dan 15 simpang pada 5 kecamatan sepanjang Jalan Pantura. Data yang digunakan adalah data karakteristik jalan, data inventori jalan, data volume lalu lintas dan data kecepatan kendaraan. Analisis yang dilakukan meliputi Analisis Volume Lalu Lintas, analisis kapasitas ruas, analisis kecepatan kendaraan, analisis kapasitas simpang, analisis derajat kejenuhan, analisis tingkat pelayanan jalan dan analisis redesign jalan.