Edy Wuryanto
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERILAKU DAN POLA MAKAN IBU DALAM MASA NIFAS: GAMBARAN KEMISKINAN KESEHATAN REPRODUKSI DI WILAYAH PUSKESMAS I KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK. Edy Wuryanto; Eny Winaryati
JURNAL LITBANG Vol 3, No 2 (2007): Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian
Publisher : JURNAL LITBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.735 KB)

Abstract

WHO calculates 500.000 people died because of pregnancy and delivery process every year, 99% occures in developed countries, and 50o/o of them are in Indonesia- This is mainly caused by postpartum bleeding and bad malnutritions. To decrease the risk factoi of death, we have to fulfill the need of nutritions, especially iron, and optimilize health iervice given. Research about type of food consumption, Hb level, and purperalmother habbit, as description of reproduction health poverity in Public Health Service sector I Guntur-Demak, with the lowest level of KIA, become so important. From 65 purperal mothers as noted, there are 4 antenatal examinations, it meons that we have enough case data with 100% TT immunization, which most of them are executed by mtdide (84,60/0), dukun (1,5%o), doctor (12,3%o); 6 of them with caesar process. Most of postpartum examination hold by midwife, it is because of midwife active visit rate '(81,'5%o). All pusperal mother agreed to follow family planning (KB) programe, which most chpotri Kn epe is syringe (52,3%o), most of them followed their neighbour suggestion (35,4%o).-Deating withfirst mother milk (ASI) supply, 92,3% are suggestedby the midwife.Will-to supply ASI by themselves is good (81%o), but still without good planning of time (52,5%o).-Food consumption rate of purperal mother still low, it can be shown iince most of them neyer consume animal protein (78,5%o), so that, most of them are also never eat vigetables (58,5%o). This is why they have Hb level 7-8 gr% (86,2%o). In fact, heme iron (ix. meat) is well absorbed than non-heme iron. This also suported by factsthat there are some restrictions from their tradisional culture which are condirably taboo. From the data above, there are some recommendations asfollows: It is important to give a good explanation about health and nutritions to society which help them to get colrect iiformation from the expert by managing human resources; It is important for purperal mother to consume Fe tablet, since there are lot of them having anemia; It isimjortant to socialize garden and farming reconstruction to fuffill family need oJ nutrition.Key words; postpartum, purperal mother, malnutritions, nutrition.
MANAJEMEN MASALAH PSIKOSOSIOSPIRITUAL PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DENGAN HEMODIALISIS DI KOTA SEMARANG Yunie Armiyati; Edy Wuryanto; Nuri Sukraeny
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2016: PROSIDING KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM SUSTAINABLE DEVE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.486 KB)

Abstract

Ginjal Kronis Penyakit (CKD) patienst menjalani hemodialisis mungkin mengalami berbagai masalah akibat tidak berfungsinya proses ginjal dan hemodialisis. Permasalahan yang perlu diantisipasi untuk tetap kualitas hidup yang optimal tidak hanya menangani penurunan fisik tetapi juga antisipasi dan pengelolaan masalah psikososial dan spiritual. Pasien perlu mengambil pengelolaan masalah psikososial dan spiritual memadai sehingga kualitas hidupnya tetap optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran masalah pengalaman manajemen psikososial dan spiritual pada pasien hemodialisis di Semarang. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah untuk menggali pengalaman dari pasien hemodialisis dalam pengelolaan masalah psychosociospiritual. Hasil penelitian menunjukkan respon yang sangat positif dari pasien hemodialisis pasien dalam aspek psychosociospiritual oleh peningkatan koping, stragegy spiritual dan upaya dukungan sosial. dukungan sosial dari keluarga, petugas kesehatan, manajer kasus, kelompok dukungan sebaya adalah sistempendukung utama dalam pengelolaan masalah pasien. Penelitian ini merekomendasikan bahwa dukungan sosial dari keluarga, petugas kesehatan, teman, kelompok dukungan sebaya dan masyarakat perlu ditingkatkan untuk mencegah dan mengatasi masalah masalah psychosociospiritual pembatasan pada pasien hemodialisis.Keyword: Chronik Penyakit Ginjal, hemodialisis, Psychosociospiritual
Hubungan antara Lingkungan Kerja dan Karakteristik Individu dengan Kepuasan Kerja Perawat; Studi di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo, Semarang Tahun 2010 Edy Wuryanto; Achir Yani S Hamid; Mustikasari -
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2011: PROSEDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN PPNI JATENG
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.508 KB)

Abstract

Latar belakang-Penelitian dengan disain deskriptif korelasi dilatar belakangi ketidakpuasan perawat akibat lingkungan kerja.Tujuan-Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan lingkungan kerja, karakteristik individu dengan kepuasan kerja perawat RSUD Tugurejo Semarang.Metode--Populasi sebanyak 225, menggunakan total sampling, kriteria inklusi bekerja 6 bulan, tidak meninggalkan rumah sakit lebih I bulan, diuji dengan T Independen, chi-square, dan analisis regresi logistik model prediksi.Hasil-Hasil penelitian ini membuktikan bahwa adanya hubungan kualitas kepemimpinan, gaya manajemen, program dan kebijakan ketenagaan, otonorni, hubungan interdisiplin, dan pengembangan profesional dengan kepuasan kerja. Faktor paling dominan adalah program dan kebijakan ketenagaan setelah dikontrol kualitas kepemimpinan dan hubunganinterdisiplin.Kesimpulan-Manajemen yang baik dapat menciptakan lingkungan kerja positif, khususnya program dan kebijakaan ketenagaan.Kata Kunci-Karakteristik Individu, Kepuasan Kerja, Lingkungan Kerja
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KEMIMPINAN DAN GAYA MANAJEMEN DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO SEMARANG Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 3, No 2 (2010): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.375 KB)

Abstract

Kepuasan kerja merupakan wujud dari persepsi karyawan yang tercermin dalam sikap dan terfokus pada perilaku terhadap pekerjaannya. Timbulnya tanda dan gejala ketidakpuasan kerja perawat berhubungan dengan lingkungan kerja perawat khususnya kualitas kepemimpinan dan gaya manajemen. Lingkungan kerja yang positif mampu mempengaruhi, mendorong dan memotivasi seseorang untuk bekerja secara optimal sesuai profesinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan kualitas kepemimpinan dan gaya manajemen dengan kepuasan kerja perawat di RSUD Tugurejo Semarang. Populasi penelitian berjumlah 225 orang dengan latar belakang pendidikan Dlll keperawatan, sarjana keperawatan dan ners. Teknik pengambilan sampelnya adalah total sample. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi yaitu penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan antar variabel dengan metode cross sectional. Variabel bebas adalah kualitas kepemimpinan dan gaya manajemen, sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan kerja perawat. Hasil analisis didapatkan kualitas kepemimpinan keperawatan baik (54.2%), gaya manajemen baik (56.4%), kepuasan ketrja perawat baik (53,8%), dan adanya hubungan antara kualitas kepemimpinan dengan kepuasan kerja (p=0,000) serta adanya hubungan antara gaya manajemen dengan kepuasan kerja (p=0,000). Kesimpulan: ada hubungan antara kualitas kepemimpinan .dan gaya manajemen dengan kepuasan kerja perawat. Kata Kunci : kepemimpinan, manajemen, kepuasan kerja.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI PERAWAT MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE JENJANG S1 KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG TAHUN 2012 Arum Setyaningsih; Edy Wuryanto; Sayono -
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.387 KB)

Abstract

Jumlah perawat yang dominan di rumah sakit, menjadikan keperawatan sebagai salah satu profesi yang berperan penting dalam upaya menjaga kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit. Salah satu langkah meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan peningkatan kualitas SDM perawat melalui peningkatan pendidikan formal perawat. Namun di lapangan masih banyak perawat yang bekerja di rumah sakit berpendidikan akademi atau diploma III keperawatan bahkan SPK setingkat SMA.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan, jenis penelitian explanatory research, dengan pendekatan cross sectional. Penelitian telah dilaksanakan di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang, pada 122 perawat dengan teknik pengambilan sampel proportional stratified simple random sampling. Metode analisa data dengan uji korelasi rank spearman rho dan chie-square.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar perawat memiliki tingkat motivasi sedang sebanyak 70 perawat (57,4%). Dari hasil analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia, lama kerja, status perkawinan dan pendapatan keluarga dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan (p > 0,05). Ada hubungan yang signifikan antara faktor penghargaan dan faktor dukungan atasan dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan (p < 0,05).Berdasarkan hasil tersebut pihak manajemen rumah sakit perlu untuk lebih memberikan dukungan dan keterbukaan tentang sistem penghargaan kepada perawat, sehingga lebih memotivasi perawat untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.Kata Kunci: usia, lama kerja, status perkawinan, pendapatan keluarga, penghargaan, dukungan atasan, motivasi
ANALISIS MEKANISME KOPING MAHASISWA SEMESTER I MENGHADAPI UJIAN OSCA (OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL ASSESMENT) DI AKADEMI KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KENDAL Marisa Laela Khasanah; Edy Wuryanto; Tri Nur Hidayati
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.545 KB)

Abstract

Upaya dalam meningkatkan mahasiswa keperawatan yaitu dilakukan uji kompetensi yang biasa disebut dengan uji OSCA atau Objective Structured Clinical Assessment merupakan suatu model uji kompetensi yang memiliki perbedaan dengan model lain pada teknik ujian dan cara menilai, karena materi uji tetap berdasarkan pada kurikulum pendidikan DIII dan pengalaman selama di klinik.. Strategi koping yang palingtidak adaptif adalah  strategi koping yang di kelompokkan dalam kategori pengelakkanTujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme koping mahasiswa semester I dalam menghadapi ujianpraktik OSCA di Akademi Keperawatan Muhammadiyah Kendal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian observasional dengan tipe deskriptif, sampel dalampenelitian ini adalah mahasiswa semester I di Akademi Keperawatan  Muhammadiyah Kendal yang berjumlah 53 responden. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data dengan cara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berumur 19 tahun sebanyak 22 orang(44,0%), sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 32 orang (64,0) dan sebagian besar responden mempunyai mekanisme koping adaptif sebanyak 47 orang (94,0%). Berdasarkan hasilpenelitian ini diharapkan mahasiswa melakukan mekanisme koping yang adaptif dalam menghadapi ujian OSCA seperti melakukan latihan dan belajar sebelum ujian OSCA sehingga mahasiswa lebih siap dalammenghadapi ujian OSCA dan mendapatkan nilai yang baik
HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN KECEMASAN ANAK PRASEKOLAH (4-6 TAHUN) PADA TINDAKAN PEMASANGAN INFUS DIRUANG MAWAR RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN Casmirah -; Sri Rejeki; Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 5, No 2 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.271 KB)

Abstract

Peran orang tua (Support Social) pada anak hospitalisasi dapat menguatkan anak melalui pemberian penghargaan baik dengan kasih sayang, perhatian dan kehangatan.Peran orang tua pada saat pemasangan infus pada anak prasekolah dapat mengurangi kecemasan anak.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan kecemasan anak prasekolah (4 6 tahun) pada tindakan pemasangan infus.Penelitian ini menggunakan metode penelitian korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak prasekolah (4 - 6 tahun) yang dirawat di ruang mawar RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan pada tanggal 11 Januari 12 Febuari 2011 dengan jumlah sampel 34 responden. Hasil penelitian menunjukan 70,6 % peran orang tua baik dan 70,6% anak prasekolah mengalami kecemasan sedang pada tindakn pemasangan infus. Ada hubungan antara peran orang tua dengan kecemasan anak prasekolah (4 - 6 tahun) pada tindakan pemasangan infus diruang mawar RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan dengan hasil P value 0,001 <? (0,05). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan anak selama hospitalisasi seperti faktor lingkungan, dukungan keluarga, pengetahuan orang tua dan umur orang tua, serta perlu dipertimbangkan penggunaan metode penelitian yang berbeda dan pengembangan kuesioner penelitian.Kata kunci : peran orang tua, kecemasan anak prasekolah, tindakan pemasangan infus
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN MASA KERJA PERAWAT DENGAN TINDAKAN PEMASANGAN INFUS SESUAI STANDART OPERATING PROCEDURE DI RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG Anggraeni Purnama S; Edy Wuryanto; Suyono -
FIKkeS Vol 6, No 1 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.364 KB)

Abstract

Pemberian terapi intravena saat ini merupakan yang paling banyak digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi pasien. Tindakan pemasangan infus, akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan, sehingga kejadian infeksi atau berbagai permasalahan akibat pemasangan infus dapat dikurangi bahkan tidak terjadi. Namun hingga saat ini angka kejadian infeksi cukup banyak atau masih ada di berbagai pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan masa kerja perawat dengan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure, jenis penelitian analitis korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang, pada 64 orang perawat dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling accidental. Metode analisa data dengan uji statistik chie-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar tidak betul dalam pelaksanaan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure sebanyak 57 orang perawat (89,1%). Dari hasil analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan masa kerja perawat dengan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure (p > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut pihak perlu adanya memperbaharui secara berkala standart operating procedure sesuai dengan penelitian-penelitian terbaru untuk keselamatan dan kenyamanan pasien.Kata kunci : tingkat pendidikan, masa kerja perawat, tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KEPUASAN PASIEN PASCA OPERASI RAWAT INAP DI RSUD KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN Dian Liestriana; Sri Rejeki; Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 5, No 1 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.454 KB)

Abstract

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi perawat dalam berinteraksi dengan pasien.Komunikasi menjadi tidak efektif karena kesalahan dalam menafsirkan pesan yang diterimanya.Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan.Data pasien operasi di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan bulan Januari-Desember 2009 sebanyak 777 orang, sedangkan pada bulan Januari-September 2010 sebanyak 723 orang. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien pasca operasi di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian ini yaitu deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 32 orang.Instrumen penelitian yaitu kuesioner dengan analisa data menggunakan uji korelasi person product moment.Hasil uji korelasi person product moment diperoleh ? value sebesar 0,001 < 0,05 berarti ada hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien pasca operasi di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Petugas kesehatan sebaiknya mampu menciptakan komunikasi yang aktif antara petugas kesehatan dan pasien.Petugas kesehatan sebaiknya menumbuhkan rasa empati terhadap sehingga dapat melakukan komunikasi interpersonal dengan baik.Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Pasien
HUBUNGAN PERAN KELUARGA SEBAGAI PENGAWAS MINUM OBAT(PMO) DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS KEDUNGWUNI II KABUPATEN PEKALONGAN Dewi Kartikasari; Sri Rejeki; Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 5, No 1 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.755 KB)

Abstract

Penyakit Tuberculosis merupakan penyakit yang disebabkan kuman mycobacterium tuberculosis.Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Pada tahun 2004 ada 539.000 kasus baru dan 101.000 kematian dengan insidensi kasus TB positif 100.000 penduduk. Salah satu penyebab tingginya angka kejadian penyakit TB paru adalah karena pasien tidak patuh dalam pengobatan,terutama dalam kepatuhan minum obat. Berbagai faktor dapat mendukung ketaatan pasien dalam program pengobatan, salah satunya adalah dukungan dari keluarga.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan peran keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada penderita TB paru di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan.Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru yang ada dalam keluarga yang masih mengikuti program pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan sebanyak 31 orang. Teknik Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling. Hasil uji statistik bivariat menggunakan spearman rank dengan ?5%, didapatkan ? = 0,000 sehingga ada hubungan peran keluarga sebagai PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderita TB paru di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan. Peran keluarga sebagai PMO akan meningkatkan kepatuhan minum obat pasien TB paru, sehingga diharapkan keluarga ikut berpartisipasi dalam pengawasan minum obat pasien.Kata kunci : peran keluarga PMO, kepatuhan minum obat, penderita TB paru