Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ANALISIS PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI JAWA BARAT Darmawan, Dadang; Andriyani, Septian
KEPERAWATAN Vol 2, No 2 (2014): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.137 KB)

Abstract

Abstract - Communication can give therapeutik value if it meets emotional and intellectual  needs. Therapeutic communication capability of nurses in mentally disturbed nursing care depends on cognitive, affective and psycomotoric competence of nurses. Result of observation in mental Hospital at West Java, psikiatric nursing use communication for the mental disorder who formal and limited without therapeutic communication stage. The objective of this reseach was to analyze the implementation of therapeutic communication at West Java Mental Hospital. The study design was quantitative approach with cross sectional design. The subject of the study were nurses. Samples were total sampling taken with as many as 142 subjects.The result showed there was significant realtionship between knowledge, attitude and behaviour of nurses in the implementation of therapeutic communication. The Participant training did not show the significant relation with the implementation of the therapeutic communication. The attitude as a dominan factor wich give a chance behaviorin therapeutic communication. Keyword: Knowledge, Attitude, Therapeutic Communication Abstrak - Komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan serta kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan klien dan merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan  untuk penyembuhan klien yang dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya disebut komunikasi teurapeutik. Kemampuan komunikasi terapeutik perawat pada tindakan keperawaan gangguan jiwa tergantung dari kompetensi kognitif, afekif dan psikomotor perawat. Berdasarkan pengamatan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, komunikasi perawat jiwa dengan klien gangguan jiwa umumnya bersifat formal dan terbatas tanpa melalui tahapan komunikasi terapeutik.Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis penerapan komunikasi terapeutik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. J        enis penelitian  adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling dengan jumlah  142 orang perawat . Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dengan perilaku penerapan komunikasi terapeutik. Sikap merupakan fakor yang paling dominan dalam memberikan sumbangan terhadap perubahan perilaku dalam penerapan komunikasi terapeutik. Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Penerapan Komunikasi Terapeutik, Perawat Jiwa
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA MADYA (13 -15 TAHUN) TENTANG DYSMENORRHEA DI SMPN 29 KOTA BANDUNG Andriyani, Septian; Sumartini, Sri; Afifah, Vevi Nur
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4746

Abstract

ABSTRAK Dysmenorrhea  umum dirasakan oleh perempuan pada hari – hari pertama menstruasi. Tidak banyak yang menyadari bahwa dysmenorrhea yang  tidak biasa bisa menjadi salah  satu awal dari suatu penyakit misalnya endometriosis, sehingga perlu diberikan edukasi tentang dysmenorrhea sebagai upaya deteksi dini terjadinya kasus endometriosis. Angka Kejadian dysmenorrhea di Indonesia sendiri cukup tinggi mencapai  64,25 % yang terdiri dari 54,89% dysmenorrhea primer dan 9,36 % dysmenorrhea  sekunder tidak jauh berbeda dengan angka kejadian dysmenorrhea di Jawa Barat yaitu sebanyak 54,9 % wanita mengalami dysmenorrhea, terdiri dari 24,5%  mengalami dysmenorrhea ringan, 21,28% mengalami dysmenorrhea sedang dan 9,36% mengalami dysmenorrhea berat. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja madya usia 13 - 15 tahun tentang dysmenorrhea. Jumlah keseluruhan populasi dalam penelitian ini sebanyak 423 siswi yang terdiri atas siswi kelas VII sebanyak 256 orang dan  siswi kelas  VIII sebanyak 167orang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 206 sampel siswi yang diambil menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada kategori berpengetahuan baik, dengan hasil sebanyak 115 siswi (55,8%). Namun, masih ditemukan sebagian kecil siswi dalam kategori berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 22 siswi (10,7%) dan hampir setengahnya berpengetahuan kurang  yaitu sebanyak 69 siswi (33,5%). Dari hasil tersebut kategori berpengetahuan kurang masih hampir setengah jumlah responden. Oleh karena itu, diharapkan  pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Puskesmas ataupun petugas kesehatan terkait dalam pemberian pendidikan kesehatan khususnya tentang  dysmenorrhea secara berkala kepada siswi SMPN 29 Kota Bandung. Kata kunci: Dysmenorrhea, Pengetahuan, Remaja Madya,  ABSTRACT Dysmenorrhea is commonly experienced by women at the beginning of the menstruation period. There are only few who realize that unusual dysmenorrhea can be an initial symptom of certain diseases, such as endometriosis, so that they should be educated about dysmenorrhea as an early warning effort to detect endometriosis cases. The number of dysmenorrhea in Indonesia is relatively high, in which it achieved 64.25 %. It consisted of 54.89% primary dysmenorrhea and 9.36 % secondary dysmenorrhea. Similar case was also found in West Java in which around 54.9 % women experienced dysmenorrhea. The figure consisted of 24.5% women experienced light dysmenorrhea, 21.28% women experienced moderate dysmenorrhea, and 9.36% of them experienced severe dysmenorrhea. The current research aims to discover the understanding of 13-15 years old adolescents on dysmenorrhea. There were total 423 female students involved in this research, which consisted of 256 seventh grade female students and 167 eighth grade female students. This research was categorized as descriptive quantitative research, which involved 206 female students as the research sample that were selected by employing Proportionate Stratified Random Sampling. The research result revealed that most of the students (115 students or 55.8%) were categorized to have good understanding on dysmenorrhea. However, it was also discovered that there were minority of the students (22 students or 10.7%) who were considered to have adequate understanding, while almost the half of the students (69 students or 33.5%) had limited understanding on dysmenorrhea. Based on the aforementioned result, it is found that almost half of the population still had limited understanding on the matter. Therefore, it is expected that the school administrators can cooperate with community health centers or medical practitioners in order to regularly educate the female students at SMPN 29 in Bandung mainly about dysmenorrhea. Keywords: Adolescents, Dysmenorrhea, Knowledge
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP ANAK USIA SEKOLAH AKHIR (10-12 TAHUN) TENTANG MAKANAN JAJANAN DI SD NEGERI II TAGOG APU PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2015 Fitriani, Neng Lia; Andriyani, Septian
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1184

Abstract

Makanan jajanan adalah makanan yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang di jalanan dan di tempat umum yang langsung dimakan tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Makanan jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan gizi akan mengancam kesehatan anak. Sebanyak 48% jajanan anak di sekolah tidak memenuhi syarat keamanan pangan karena mengandung bahan kimia yang berbahaya. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi kesehatan anak bila tidak dilakukan penanggulangannya. Selain itu, hal ini dapat juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap anak usia sekolah akhir (10-12 tahun) tentang makanan jajanan. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh anak sekolah dasar kelas 4-6 yang bersekolah di SDN II Tagog Apu yang berjumlah 112 siswa/i, dan sampel 88 siswa/i dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan analisis data melalui dua tahapan, yaitu univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan bivariat untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel (chi-square). Hasil penelitian diketahui tingkat pengetahuan anak tentang makanan jajanan sebagian besar (65,9%) berpengetahuan baik dan hampir seluruh dari responden (89,8%) bersikap positif. Berdasarkan hasil uji chi-square diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap anak usia sekolah akhir (10-12 tahun) tentang makanan jajanan (nilai p value = 0,065 0,05). Saran bagi pihak sekolah untuk merencanakan penyediaan fasilitas kantin sekolah yang menyediakan makanan jajanan sehat dan dipantau secara berkala.
Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada Anak Usia 5-11 Tahun di Cisarua Kabupaten Bandung Barat Andriyani, Septian; Darmawan, Dadang
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 4, No 2 (2018): Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v4i2.13708

Abstract

ABSTRAK Sibling rivalry merupakan persaingan antar saudara untuk memperebutkan perhatian dan kasih sayang orang tua dimana persaingan tersebut terjadi setelah kehadiran adik baru. Permasalahan yang terjadi dalam sibling rivalry adalah kurangnya waktu dan perhatian yang dimiliki oleh suatu keluarga. Angka kekerasan pada anak yang dilakukan oleh saudara kandungnya sendiri yaitu sebesar 26,2%.Pengetahuan ibu tentang sibling rivalry merupakan hal yang sangat penting karena jika tidak ditangani dengan baik anak-anak akan terus bersaing dan saling mendengki dan bisa berkelanjutan sepanjang hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang sibling rivalry pada anak. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriftif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 5-11 tahun yang memiliki adik dengan jarak yang berdekatan dengan jumlah 55 orang dan besar sampel 48 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti dengan mengacu pada referensi yang sesuai. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang sibling rivalry hampir setengahnya dari responden memiliki pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 18 orang (37,5%). Hampir setengahnya dari responden memiliki latar belakang pendidikan SD yaitu sebanyak 23 orang (47,9%), dan sebagian besar berusia 20-35 tahun yaitu sebanyak 35 orang (72,9%). Saran bagi puskesmas yang diharapakan dapat memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang sibling rivalry pada anak secara rutin dan berkesinambungan.  ABSTRACT Sibling rivalry is a competition for the attention and affection of parents where such competition occurred after the arrival of the new baby. The problems that occurred in the sibling rivalry is the lack of time and attention that is owned by a family. Child abuse committed by his own brother in the amount of 26.2 %. To the knowledge of mothers about sibling rivalry is very important because if it is not handled well the children will continue to compete and jealous of one another and can be continuous throughout life the child. This research aims to describe mother’s knowledge of sibling rivalry in children. The research design used is descriptive quantitative. The population in this research are all mothers have a children aged 5-11 years who has a younger brother with closely spaced and the total is 55 people and the samples of this research is 48 people by using purposive sampling technique. Data was collected by using a questionnaire designed by the researchers with reference to the appropriate reference. The result showed that the level of knowledge of mothers about sibling rivalry almost half of the respondents have sufficient knowledge as many as 18 people (37.5 %). Almost half of the respondents have a background in elementary education as many as 23 people (47.9 %), and mostly aged 20-35 years as many as 35 people (72.9 %). Advice for health centers is expected to provide counseling and socialization of sibling rivalry in children regularly and continuously. 
PANDANGAN ORANG TUA TENTANG PELAKSANAAN TOILET TRAINING BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN PADA ANAK USIA TOODLER DI KOTA CIMAHI Andriyani, Septian; Sumartini, Sri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 15, No 2 (2019): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v15i2.337

Abstract

Toilet training merupakan salah satu tugas  perkembangan anak usia toddler dan dibutuhkan perhatian orang tua dalam berkemih dan defekasi. Sekitar 30% dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia masih susah mengontrol BAB dan BAK (ngompol) sampai usia prasekolah. Toilet training harus dilakukan selama anak berada dalam periode optimal untuk menghindari efek jangka panjang diantaranya inkontinesia dan infeksi saluran kemih (ISK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggali secara mendalam tentang pandangan orang tua tentang pelaksanaan toilet training pada anak usia toddler. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif (mixed methods). Teknik pengambilan sampel secara kuantitatif dengan purposif sampling sebanyak 80 responden dan pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth inteview) kepada 9 partisipan. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dan pedoman wawancara. Hasil penelitian di dapatkan bahwa  hampir seluruh dari responden (90%) memiliki pandangan tentang pelaksanaan toilet training pada anak adalah Baik namun ada sebagian kecil dari responden (10%) memiliki pandangan tidak baik, karakteristik ibu dalam pelaksanaan toilet training hampir seluruh responden sebagai ibu rumah tangga (81,9%), dan hampir sebagian besar dari responden (52,8%) berpendidikan SMA. Selain itu hasil wawancara didapatkan 6 tema yaitu tanda - tanda anak ingin BAK/BAB, tanda anak siap dilatih BAK/BAB, kesiapan orangtua, tahap latihan pada anak, kecemasan anak, kecemasan orang tua. Dari hasil penelitian diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan informasi tentang pentingnya pelaksanaan toilet training pada anak dalam membantu proses perkembangan yang optimal
Analisis Faktor-Faktor yang berhubungan Toilet Trainingpada Anak Prasekolah Septian Andriyani; Kusman Ibrahim; Sri Wulandari
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 2 No. 3 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.631 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i3.84

Abstract

Anak bukan dewasa kecil, anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usianya. Toilet trainingperlu dilakukan selama anak berada dalam periode optimal untuk menghindari efek jangka panjang seperti inkontinensia dan infeksi saluran kemih (ISK). Anak yang terbiasa memakai diaper sejak kecil akan mengalami keterlambatan dalam toilet training. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan toilet trainingpada anak usia 4–5 tahun (prasekolah). Jenis penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive samplingdengan jumlah 60 responden. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan analisis regresi logistik ganda. Jumlah responden yang berhasil dalam toilet training sebanyak 36 responden (60%). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang, menerapkan pola asuh anak campuran, hampir seluruh responden mempunyai lingkungan baik dan sebagian besar anaknya berhasil dalam toilet training, terdapat hubungan antara pengetahuan, lingkungan dengan keberhasilan toilet trainingpada anak usia prasekolah. Sedangkan pola asuh tidak menunjukkan hubungan dengan keberhasilan toilet training. Faktor yang paling dominan memengaruhi keberhasilan toilet trainingadalah faktor lingkungan dengan nilai OR 29,615 dan p value0.005. Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan dapat menjadi edukator kepada orangtua tentang pentingnya toilet trainingpada anak dengan memerhatikan aspek lingkungan baik fisik maupun psikologis dalam menunjang proses toilet training.Kata kunci: Keberhasilan toilet training, lingkungan, pola asuh, pengetahuan, toilet training AbstractChildren are not early adult, they describe their growth and development as their age. Toilet training is one of development tasks in preschooler whom needed to be given to the children for avoid problem in urinating such as incontinence urine infection in urinary tract. The children are used diaper early they must be done toilet training. The aim of the research is to identify and test factors that interrelates with the success of toilet training arrange 4 to 5 years old (preschooler). This research used quantitative descriptive with cross sectional design, and used purposive sampling technique. Data were collected using quesioner and analized with double logistic regression. This research using sample are 60 mothers with children age 4-5 years old who came to pediatric policlinic of Dustira`s hospital. It ‘s has result indicates that most respondents have lacked of knowledge,used mix parental style, most of the sample has good environment considered their succeed in toilet training. There are related between knowledge, environment and succeed in toilet training for children age 4-5 years old. Dominant factor influenced the success of toilet training is environmental factor with score 29,615 and p value 0.005. It suggestion that recommended nurse role as health power to expected whom can be educator to the parents for promoting the importance of toilet training in children by paying attention on environmental aspect both physical and psychological in providing toilet training process. Key words: Toilet training, environment, Parental style, knowledge
Dukungan Keluarga Tentang Pelaksanaan Toilet Training Pada Anak Autism Spectrum Disorder Di Kota Bandung Septian Andriyani; Linda Amalia
Dunia Keperawatan Vol 9, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dk.v9i3.9435

Abstract

ABSTRAKAutism  Spectrum  Disorder  (ASD) merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan anak dengan gangguan pada keterampilan komunikasi, interaksi sosial, dan daya imajinasi. Anak dengan autisme perlu untuk dilatih kemandiriannya, salah satunya dalam melaksanakan kegiatan toilet training  Toilet training merupakan salah satu tugas  perkembangan yang perlu dicapai oleh setiap anak dan dibutuhkan perhatian orang tua dalam melatih kemampuan berkemih dan defekasi. Toilet training harus dilakukan selama anak berada dalam periode optimal untuk menghindari efek jangka panjang diantaranya inkontinesia dan infeksi saluran kemih (ISK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggali secara mendalam tentang dukungan kelurga dalam pelaksanaan toilet training pada anak autism spectrum disorder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods). Teknik pengambilan sampel secara kuantitatif dengan total sampling kepada 50 orang tua yang memiliki anak autism spectrum disorder dan untuk  pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan  wawancara mendalam (in- depth interview) kepada 5 orang partisipan. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dan pedoman wawancara.  Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan Collaizi. Hasil penelitian didapatkan dukungan keluarga  mempunyai nilai rata-rata  sebesar 76,64 (95% CI 73,72-79,56)  dengan nilai terendah 54 dan tertinggi 98. Hasil wawancara didapatkan 7 tema yaitu Pentingnya diajarkan toilet training, tanda-tanda anak ingin BAK/BAB, tanda kesiapan anak dilatih, kesiapan orang tua, tahap latihan toilet training perhatian keluarga, dan perasaan orang tua saat anak dilatih. Dengan dukungan keluarga yang tepat menjadikan pelaksanaan toilet training dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini memberikan implikasi untuk pengelolaan keluarga dengan mengintensifkan pelaksanaan toilet training pada anak autism. Kata kunci: Autism Spectrum Disorder, Dukungan Keluarga, mixed method, Toilet Training ABSTRACTAutism Spectrum Disorder (ASD) is a type of developmental disorder of children with impaired communication skills, social interactions, and imagination. Children with autism need to be trained in their independence, one of which is in carrying out toilet training activities. Toilet training is a developmental task that needs to be achieved by every child and requires parental attention in training the ability to urinate and defecate. Toilet training should be done as long as the child is in the optimal period to avoid long-term effects including incontinence and urinary tract infections (UTIs). This study aims to identify and explore in depth about family support in implementing toilet training for children with autism spectrum disorder. This research uses quantitative and qualitative approaches (mixed methods). Quantitative sampling technique with total sampling of 50 parents who have children with autism spectrum disorder and for qualitative data collection is done by in-depth interviews with 5 participants. This study used a questionnaire instrument and interview guidelines. Data were analyzed using the Collaizi approach. The results showed that family support had an average value of 76.64 (95% CI 73.72-79.56) with the lowest score of 54 and the highest was 98. The results of the interview obtained 7 themes, namely the importance of being taught toilet training, signs that children want BAK / BAB, a sign of children's readiness to be trained, parental readiness, toilet training stage, family attention training, and the feelings of parents when children are trained. With the right family support, the implementation of toilet training can run well. This research has implications for family management by intensifying the implementation of toilet training for children with autism. Keywords: Autism Spectrum Disorder, Family Support, mixed method, Toilet Training
RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA IBU POST OPERASI SECTIO SAECAREA Nung ati Nurhayati; Septian Andriyani; Novi Malisa
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 1 No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v1i2.87

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Sectio saecarea merupakan metode melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histeretomi). Salah satu komplikasi sectio caesaria adalah nyeri pada daerah insisi. Strategi penatalaksanaan nyeri metode untuk mengatasi nyeri secara non-farmakologis adalah terapi relaksasi autogenik. Tujuan: Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi pengaruh relaksasi autogenik terhadap penurunan skala nyeri pada Ibu post operasi Sectio Caesarea di Ruang Perawatan V/VI RS. TK.II Dustira Cimahi. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan One Group Pretest Posttest Design dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 75 ibu post sectio caesarea dalam waktu 1 bulan dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan Non Probability Sampling berupa tehnik Purposive Sampling. Hasil: Skala nyeri post operasi SC sebelum dilakukan intervensi 64% responden mengalami nyeri luka post operasi dengan rentang skala 4-6 (nyeri sedang). Sedangkan skala nyeri post operasi SC setelah dilakukan intervensi 73,3% responden mengalami nyeri  dengan rentang skala 4-6 (nyeri sedang).Terdapat pengaruh yang signifikan antara relaksasi autogenik dengan  penurunan skala nyeri. Hasil uji t menunjukkan 0,0001 artinya ada perbedaan skala nyeri antara sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi autogenik dengan nilai mean = 1,080 yaitu terjadi kecenderungan penurunan skala nyeri sesudah perlakuan dengan rata-rata penurunan skala nyerinya 1,080. Kata Kunci: Sectio caesarea,Relaksasi Autogenik, Nyeri   ABSTRACT Introduction: Sectio Caesarea is defined as the delivery method of a fetus through surgical incisions which made in the abdominal wall (laparotomy) and the uterine wall (hysterotomy). One of the complications of sectio caesarea is pain in the incision area. A non-pharmacological pain management strategies to overcome pain is autogenic relaxation therapy. Objective: The aim of the research was to evaluate the effect of autogenic relaxation to decrease pain scale on postoperative mother undergoing Sectio Caesarea (SC) in the V/VI ward Tk.II Dustira Cimahi Hospital. Method: Research design used was experimental research with One Group Pretest Posttest Design involving 75 post sectio caesarea mother within 1 month. Sampling technique used was Non Probability Sampling namely Purposive Sampling techniques. Result: Postoperative pain scale before the intervention 64% of respondents experienced a post-operative incision pain with range scale of 4-6 (moderate pain), while post-operative pain scale after the intervention 73.3% of respondents experienced pain with range scale of 4-6 (moderate pain). There is a significant effect of autogenic relaxation with decreased pain scale. T-test results showed 0.0001 means that there are differences between the pain scale before and after autogenic relaxation with a mean = 1,080 ie the pain scale tendentiously decreased after treatment with an average reduction in pain scale is 1,080. Keywords: Sectio caesarea, Autogenic Relaxation, Pain Full printable version: PDF
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Kesehatan Melalui Pendekatan Adaptive Conservation Di Kelurahan Padasuka Kota Bandung Suci Tuty Putri; Septian Andriyani; Sehabudin Salasa; Tirta Adikusuma
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 2 NOMOR 2 SEPTEMBER 2018 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.034 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v2i2.2032

Abstract

Meningkatnya jumlah lansia maka secara tidak langsung menjadi faktor meningkatnya berbagai penyakit degeneratif. Namun ternyata cakupan pelayanan kesehatan bagi lansia dikota Bandung masih rendah Penyakit yang timbul pada lansia tersebut seharusnya dapat dicegah dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengontrol faktor – faktor risikonya melalui program peningkatan pelayanan kesehatan dan pemberdayaan lansia. Pemberdayaan lansia dengan model Adaptif Conservation yaitu kemampuan beradaptasi masyarakat dalam penyelesaian masalah kesehatan dilakukan secara bersama-sama melibatkan semua unsur energi, struktur, integritas pribadi dan sosial. Tujuan program adalah untuk menyusun dan melaksanakan program pengembangan pemberdayaan lansia. Metode yang digunakan adalah survey, MMD, screening kesehatan, pelatihan kader dan penyuluhan kesehatan. Program di laksanakan selama 8 bulan. Subjek adalah semua unsur masyarakat, kader kesehatan yang ada di Kelurahan Padasuka. Hasil dari kegiatan adalah diperolehnya data mengenai kesehatan masyarakat, kondisi penyakit lansia, peningkatan pengetahuan kader mengenai manajemen Posbindu.Keyword : Adaptif conservation; Pemberdayaan lansia; Pengabdian Kepada Masyarakat; Pelatihan kader
Biomarker T Cell dalam Diagnosis COVID-19 : Literatur Review Upik Rahmi; Septian Andriyani
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 7, No 1 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v7i1.116

Abstract

Latar Belakang : COVID-19 menjadi masalah kesehatan didunia. Penanda inflamasi yang dapat digunakan sebagai predictor prognosis COVID-19. Tujuan untuk melihat peran biomarker sel T pada penyakit COVID-19.  Metode: Pencarian literatur utama PubMed  dan Cinahl  untuk artikel yang diterbitkan antara Tahun 2015  hingga 2021 dan telah memenuhi syarat, artikel dipilih setelah evaluasi judul, abstrak, dan referensi. Sebanyak 7 artikel termasuk dalam ulasan ini. Hasil:  Analisis artikel ini ditemukan faktor sel T limfosit yang berperan dalam biomarker dalam diagnosis COVID-19 adalah CD4+, CD8+ dan CD3+ dan hasil yang meningkat secara signifikant adalah CD8+. Kesimpulan: Analisis artikel menunjukkan bahwa ada bukti yang jelas bahwa biomarker Limfosit T  dapat berubah sesuai dengan tingkat keparahan Infeksi COVID-19. Ini dapat digunakan sebagai tambahan dalam praktik klinis.