cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
ISSN : 14116618     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI adalah wadah menghimpun dan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan konsep-konsep ilmiah serta pengetahuan dalam bidang arsitektur dan lingkungan buatan berwujud artikel yang ditulis berdasarkan penelitian: artikel hasil penelitian, artikel tentang ide-ide (gagasan konseptual), tinjauan tentang proses penelitian, tinjauan buku-buku baru, paparan tokoh arsitek dan pemikirannya, serta karya ilmiah lain yang berhubungan dengan fenomena arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 124 Documents
Cover April 2019 Purbadi, Djarot
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 12, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.877 KB)

Abstract

MERANCANG ULANG KOTA: LANGKAH ADAPTASI DALAM MENCIPTAKAN KOTA BERKELANJUTAN Purwanto, Edi
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.343 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i1.1040

Abstract

Abstract: Currently, urban architecture is frequently referred to as one of main contributors for the occurrence of global warming. Global warming issue is getting more popular in which high-rise buildings in cities becomes one of the causes as they produce 68% of total CO2 emission gas on the earth. The emission of green house gasses in the year of 1970-2004 increased by 70%, global temperature increased by 0.72% in ten decades, and since 1961 the sea surface topography has increased by 0.175 cm/year. In other words, urban architecture greatly contributes in increasing micro climate, particularly city climate. The micro climate is caused by the heat emitted by buildings and roads, and building equipments using electrical energy. The finishing of architectural design in cities by using heat emitting materials tends to be environmentally unfriendly. The design has a potency to create climate disorder. The building mass, particularly high-rise buildings in the city area, is designed independently. Consequently, it reflects heat among building mass one another, and it disrupts shadowing system. Global warming effect is still neglected by architects. They still believe in the superiority of architectural design in technological context and anti-natural. The issues of global warming effect seem to be the central issues to be considered by architects and city designers on how important urban architectural design, which is environmentally friendly, in creating an environmentally responsive city. In addition, the effects of global climate change have to be redefined in the design criteria of urban architectural buildings. The result of this study shows that redesigning urban architecture has to consider some factors, such as technical finishing design using recent technology, people behaviour, and related regulations.Keywords: redesign, adaptation, sustainableAbstrak: Selama ini, arsitektur perkotaan seringkali dianggap sebagai salah satu penyumbang utama terjadinya pemanasan global (“global warming"). Isu pemanasan global menjadi semakin popular, di mana gedung bertingkat di perkotaan menjadi salah satu penyebabnya karena telah menghasilkan 68% total gas emisi gas CO2di bumi. Emisi gas rumah kaca pada tahun 1970-2004 mengalami peningkatan sebanyak 70%, suhu global naik 0,72% dalam sepuluh dasawarsa, dan sejak tahun 1961 permukaan laut naik 0,175 cm/tahun. Dengan kata lain, arsitektur perkotaan memberikan sumbangan besar terhadap naiknya iklim mikro, terutama iklim di perkotaan. Kenaikan iklim mikro tersebut diakibatkan oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan jalan serta kelengkapan bangunan yang menggunakan energi listrik. Penyelesaian desain arsitektur di perkotaan dengan menggunakan material yang memantulkan panas cenderung tidak ramah lingkungan. Desain tersebut berpotensi menciptakan kekacauan iklim. Massa bangunan, terutama bangunan tinggi di kawasan perkotaan, dirancang tanpa memperhatikan konteks lingkungan, akibatnya terjadi efek saling memantulkan panas antar massa bangunan, serta mengacaukan sistem pembayangan. Dampak pemanasan gobal masih kurang diperhatikan oleh para arsitek, mereka masih percaya pada keunggulan desain arsitektur yang berbasis teknologi dan anti natural. Kiranya isu dampak pemanasan global menjadi isu utama yang layak diperhatikan oleh para arsitek dan perancang kota mengenai betapa pentingnya desain arsitektur perkotaan yang ramah lingkungan dalam mewujudkan kota yang tanggap lingkungan. Dampak perubahan iklim global perlu dipertimbangkan sebagai kriteria desain bangunan arsitektur perkotaan. Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa merancang ulang arsitektur perkotaan sebagai langkah adaptasi menuju kota yang tanggap lingkungan perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu faktor penyelesaian desain secara teknis dengan teknologi terkini, perilaku masyarakat, dan peraturan yang mengikat.Kata kunci : redesain, adaptasi, berkelanjutan
TRANSFORMASI RUANG KAMPUNG KAUMAN YOGYAKARTA SEBAGAI PRODUK SINKRETISME BUDAYA Depari, Catharina Dwi Astuti
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.226 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i1.1044

Abstract

Abstract: As one historical settlement in Yogyakarta, Kampung Kauman had experienced a complex transformation under various political influences and cultural syncretism events. The direct impacts resulted from Javanese cosmic order concept towards Yogyakarta city plan, the bureaucracy relationship with the monarchy of Yogyakarta, the moral obligations to maintaining the Islamic values into daily rituals and the urban challenges due to global changes, have forged Kampung Kauman to become a hybrid urban structure. The research empirically reveals the main factors determining Kampung Kauman’s transformation through time by primarily constructing a grand theory related to urban form and urban identity concept. The research findings would expectedly provide a deep understanding towards Kampung Kauman Yogyakarta by studying its physical changes and the socio-cultural phenomena which forced those changes.Keywords: transformation, cultural syncretism, urban structure, identityAbstrak: Sebagai sebuah permukiman bersejarah di Yogyakarta, Kampung Kauman telah mengalami proses transformasi yang kompleks akibat dari pengaruh berbagai kebijakan politik serta rangkaian peristiwa sinkretisme budaya. Dampak implementasi konsep kosmologi Jawa terhadap rencana tata ruang Yogyakarta, hubungan birokrasi dengan kraton, kewajiban dalam mempertahankan ajaran Islam dalam ritual sehari-hari serta tantangan kawasan dalam menghadapi pengaruh globalisasi, telah melahirkan bentuk struktur ruang Kampung Kauman yang berpola hibrida. Secara empirikal, penelitian berusaha mengungkapkan berbagai faktor dominan yang mempengaruhi proses perubahan bentuk ruang kampung dari masa ke masa dengan terlebih dahulu membangun landasan teoritis yang terkait dengan pola bentuk dan konsep identitas kawasan. Hasil penelitian diharapkan mampu menyediakan pemahaman yang mendalam mengenai Kampung Kauman Yogyakarta dengan mengkaji perubahan fisik ruang kampung serta berbagai fenomena sosial budaya yang mendorong setiap perubahan tersebut.Kata kunci: transformasi, sinkretisme budaya, struktur ruang kawasan, identitas
MODEL REKONSTRUKSI RUMAH PASCA GEMPA DI YOGYAKARTA DAN KLATEN Handayani, Titi
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.775 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i1.1047

Abstract

The research’s aim is to evaluate the conditions of 2006 post earthquake houses (PEH) in Bantul, Sleman, and Klaten. Evaluation includes building design, structure, and construction management. The characteristics of 13 PEH models are compared to find new better models. There are three types of PEH: core house, earthquake-response house, and fixed house. Core houses is the best choice since it gives opportunities to the users to develop the house suitable to their needs and budget. Three types of structures found are concrete frame, non-concrete frame (wooden, bamboo, and steel frame), and dome. Concrete and steel frames are the best choices in terms of the earthquake response, construction process and development, material availabity, and maintenance. Prefabrication of construction will shorten the construction process. However, dome house is not appropriate related to the climate as well as social and cultural condition of the community. There are three types of construction management: full participation, semi-participation, and no-participation. All types can be applied depend on the condition of the community. The higher the participation level, the better, but it takes more time. The research finds that core house with various alternatives of design development using reinforced concrete structure is the best choice, while the model of construction management more depends on the condition of local communities.Keywords: design, structure, construction management, model developmentAbstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi rumah bantuan pasca gempa 2006 di Bantul dan Sleman (DIY) serta Klaten (Jawa Tengah). Evaluasi meliputi desain bangunan, struktur bangunan, dan pengelolaan pembangunan. Metoda komparatif digunakan untuk membandingkan karakteristik 13 model rumah untuk membuat model rekonstruksi yang lebih baik. Ada tiga jenis desain rumah, yaitu: rumah inti, rumah tahan gempa, dan rumah jadi. Rumah inti adalah pilihan yang terbaik karena memberi kebebasan pada penghuni untuk mengembangkan rumahnya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangan. Ditinjau dari strukturnya ada tiga jenis, yaitu: rangka beton, rangka non-beton (kayu, bambu, dan baja ringan), dan dome. Rangka beton atau baja ringan adalah pilihan terbaik terkait dengan ketahanannya terhadap gempa, kemudahan pengerjaan dan pengembangan, ketersediaan bahan, keawetan, dan kemudahan pemeliharaan. Konstruksi beton prefab akan mempersingkat waktu pengerjaan, sedangkan struktur dome adalah pilihan yang kurang tepat terkait dengan kondisi alam dan sosial budaya masyarakat. Ditinjau dari pengelolaan pembangunannya ada tiga jenis, yaitu: partisipasi penuh, semi-partisipasi, dan tanpa partisipasi. Ketiganya dapat diterapkan sesuai dengan kondisi masyarakat. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, maka akan semakin baik hasilnya, tetapi membutuhkan waktu lebih banyak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain rumah inti dengan berbagai alternatif pengembangan desain yang dibangun dengan struktur beton bertulang merupakan pilihan yang terbaik, sedangkan model pengelolaan pembangunan sangat bergantung pada kondisi masyarakat setempat.Kata kunci: desain, struktur, pengelolaan pembangunan, pengembangan model
PENATAAN RUANG HALTE TRANS JOGJA DI BANDARA ADISUCIPTO YANG BERBASIS ERGONOMI DENGAN PROGRAM THE SIMS 3 Anggraeni, Dhita Wahyu
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.912 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i1.1050

Abstract

Trans Jogja Shelter in Yogyakarta Adisucipto airport is one of the shelters, which is in great public demand, because it integrates with other transport modes. The airport bus shelter is full of passengers with different human dimensions and their luggage. Based on initial observations about movement circulation during rush hour, it was found such difficulties in movement system and led to insecurity for the passengers. The purpose of this study is to analyze the circulation layout based on ergonomic needs at the Trans Jogja shelter in Adisucipto Airport area, which may contributes to the circulation moving system. Criteria of the study are four aspects, i.e the anthropometric, kinetic, physiology, and psychology. This study used behavioral mapping and simulation methods. The Sims 3 program is used for the simulation of human movement in the shelter. The analysis found that the shelter does not meet the need of standard dimensional human motion. In order to improve the quality of a better layout of the shelters, the ergonomic movement system is indispensable to be taken into consideration.Keywords: circulation space, ergonomics, The Sims 3 programAbstrak: Halte Trans Jogja di Bandara Adisucipto Yogyakarta adalah salah satu halte yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat karena terintegrasinya berbagai jalur tranportasi yang memberi kemudahan bagi masyarakat dalam memilih tujuan perjalanan. Halte bandara dipenuhi oleh calon penumpang bus dengan bermacam dimensi ukuran tubuh dan barang bawaan. Berdasarkan pengamatan awal ditemukan permasalahan sirkulasi dan gerak terutama pada saat kondisi jam sibuk, banyaknya pengguna halte menyebabkan kesulitan bergerak dan mengakibatkan rasa tidak aman bagi calon penumpang bus. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji permasalahan ergonomi pada tata ruang sirkulasi Halte Trans Jogja di Bandara Adisucipto melalui studi gerak sesuai ergonomi. Hasil kajian memberi konstribusi terhadap kenyamanan gerak bagi pengguna halte khususnya masyarakat Yogyakarta. Tolok ukur dalam penelitian ada empat aspek yaitu anthropometri, kinetik, fisiologi dan psikologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode pemetaan perilaku (behavioral mapping) dan metode simulasi dengan menggunakan program The Sims 3 yaitu simulasi alur pergerakan manusia di dalam halte. Dari hasil  analisis ditemukan bahwa halte yang sekarang tidak memenuhi standar kebutuhan dimensi gerak manusia, maka untuk meningkatkan kualitas halte yang ergonomis dibutuhkan penataan sirkulasi yang lebih baik.Kata kunci: tata ruang sirkulasi, ergonomi, program The Sims 3
ANALOGI MUSIK-ARSITEKTUR MELALUI PROSES TRANSFORMASI PADA SIMULASI PERLUASAN GEREJA KATEDRAL BOGOR Herliana, Emmelia Tricia
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2863.675 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i1.1054

Abstract

The selection of appropriate approaches for specific design project is the most creative step in a design process. In the recent research report (Herliana 2010), the approach which is derived from auditorial sensation through a conceptual interpretation of the characteristics of liturgical music in the Catholic Church explores the analogy of the musical composition elements and the architectural elements of design. The aim of this study is to implement the interpretation of the analogous of musical composition elements to the simulation in designing the extension of Cathedral Church in Bogor. The synthetic process explores a new configuration pattern of form and space - through the superimposition method of site-pattern interpretation and sound-pattern interpretation - to create a new order. The result is the re-arrangement of the form and space configuration through the process of creating “musical composition” in site, such as maintaining the hierarchy of site and the building structure, creating melodies, elaborating modulations, giving the ornaments, adding accents, and making rhyme; by strengthening dominant patterns and weakening sub-dominant patterns.Keywords: conceptual interpretation, analogy in Architecture, musical elements, superimposition methodAbstrak: Proses pencarian dan pemilihan pendekatan yang paling tepat untuk suatu kasus proyek yang spesifik adalah tahap yang memerlukan kreatifitas dan paling menentukan di dalam proses merancang. Pada artikel hasil penelitian penulis (Herliana 2010), telah disebutkan mengenai pendekatan yang bersumber dari sensasi bunyi melalui interpretasi konseptual karakteristik musik liturgi pada Gereja Katolik untuk merumuskan analog dari unsur-unsur komposisi musikal terhadap unsur-unsur arsitektural pada perancangan perluasan Gereja Katedral. Tulisan yang merupakan hasil penelitian mengenai proses desain ini bertujuan untuk menerapkan analog-analog dari unsur komposisi musikal pada simulasi perancangan perluasan bangunan Gereja Katedral di Bogor. Proses sintesis dilakukan dengan mencari konfigurasi ruang dan bentuk yang baru melalui metoda superimposisi dari interpretasi pola lahan dan interpretasi pola bunyi yang terjadi pada lahan untuk menciptakan keteraturan. Hasilnya adalah penataan ulang terhadap konfigurasi ruang dan bentuk melalui proses menciptakan “komposisi musikal” pada lahan, seperti dengan mempertahankan hirarki ruang pada struktur bangunan dan “site”, pembentukan melodi, pengolahan modulasi, pemberian ornamen, menambahkan aksen, dan membuat syair; dengan memperkuat pola yang dominan.Kata kunci: interpretasi konseptual, analogi dalam Arsitektur, unsur-unsur musikal, metoda superimposisi
FENG SHUI PADA TATA LETAK MASSA BANGUNAN DI KELENTENG SAM POO KONG Marcella, Benedicta Sophie
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.706 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i2.1039

Abstract

Abstract: “Klenteng” is an Indonesian term for place of worship for Chinese traditional faiths in Indonesia. Sam Poo Kong temple is a heritage building located in Semarang. Chinese temple building is part of the China building architecture, thus Chinese temple apply the feng shui principals, so that people get the fortune, peace, and prosperity from the perfect balance with nature. In this research, to be conducted a review of the use of feng shui principles contained in the layout of the building mass. The research question that arises is "How the application of feng shui to the layout of the building mass in the Sam Poo Kong temple?" This research aims to determine the influence of feng shui contained in the layout of the building mass Sam Poo Kong temple in Semarang. This research use structuralizes qualitative methodology. Analysis process was done by comparing the theory of feng shui with field observations. The building layout, planes, and the filler elements apply the principles of feng shui and it has a good meaning, leads to happiness and welfare in life. Cultural influence of Islam, Buddhist, Hindu, and Chinese cultures convey the meaning and message to the user of the building, all for good purpose in human life. Based on the analysis it can be concluded that the meaning of the layout of the building mass on the Sam Poo Kong temple in accordance with feng shui theory and it brings prosperity.Keywords: feng shui, Sam Poo Kong Temple, the layout of the building massAbstrak: Kelenteng atau Klenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Kelenteng Sam Poo Kong merupakan bangunan cagar budaya yang terdapat di kota Semarang. Bangunan kelenteng termasuk dalam bangunan Cina, sehingga dalam tatanan bentuk bangunannya masih mempergunakan kaidah feng shui. Konsep feng shui adalah seni hidup dalam keharmonisan dengan alam, sehingga seseorang mendapatkan keuntungan, ketenangan, dan kemakmuran dari keseimbangan yang sempurna dengan alam. Dalam penelitian ini, akan dilakukan peninjauan penggunaan kaidah feng shui yang terdapat pada tata letak massa bangunannya. Pertanyaan penelitian yang muncul adalah “Bagaimana penerapan fengshui pada tata letak massa bangunan di kawasan Kelenteng Sam Poo Kong?” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh feng shui yang terdapat pada tata letak massa bangunan Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang. Metodologi yang digunakan adalah strukturalis kualitatif. Proses analisis dilakukan dengan membandingkan teori feng shui dengan hasil observasi lapangan. Tata letak massa bangunan menerapkan kaidah feng shui serta memiliki makna yang baik, mengarahkan pada kebahagiaan serta keselamatan dalam kehidupan. Pengaruh budaya Islam, Buddha, Hindu, serta Kebudayaan Cina telah bercampur, menyampaikan makna serta pesan kepada pengguna bangunan, semua untuk tujuan kebaikan dalam hidup manusia. Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa tata letak massa bangunan pada kawasan Kelenteng Sam Poo Kong sesuai dengan feng shui aliran bentuk dan mendatangkan kebaikan.Kata Kunci: feng shui, Kelenteng Sam Poo Kong, tata letak massa bangunan
IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR PEMBENTUK KARAKTER ARSITEKTURAL BANGUNAN GEREJA KRISTEN JAWA KLASIS YOGYAKARTA UTARA Kaunang, Alvita Melina Surtania
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.56 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i2.1043

Abstract

Abstract: In Indonesia there are several church fellowships. Design of their buildings is influenced by the location, ideology, or ordinances of worship. Synod Javanese Christian Church was first established by local residents since the Dutch colonial period. The synod is divided into 32 clusters based on the distribution area of Java. Each of these clusters is called “Klasis”, The purpose of this research was to explore elements which are significant to the architectural character of Java Christian Church referring to the implementation of Christian symbols and characteristics of traditional architecture of Javanese on building elements of Java Christian Church in “Klasis Yogyakarta Utara”. Research method includes data collection method, data processing method, and the method of making conclusions. The method of data collection consists of literature study, survey— that includes observation, documentation of the building physical data in the form of sketches of floor plan and building facade, including photographs—, and distributing questionnaires. Methods of processing and analyzing data in the form of questionnaire conducted by tabulating data and calculating the percentage of the dominant variable elements of the building which are considered using Christian symbols and characteristics of traditional Javanese architecture. Meanwhile, sketches of the floor plan and building facade, analyzed by the Ordering Principles stated by Ching (2007). The result indicates that Javanese Christian Church building implements the Christian symbols more significantly rather than characteristics of traditional Javanese architecture. Dominant variables which are applying the Christian symbols are ornaments, windows, and furniture.Keywords: Java Christian Church, architectural character, Christian symbol, traditional architecture of JavaneseAbstrak: Di Indonesia terdapat beberapa persekutuan gereja yang rancangan bangunan gerejanya dipengaruhi oleh faktor lokasi, ideologi, atau tata cara ibadah. Sinode Gereja Kristen Jawa didirikan pertama kali oleh penduduk lokal sejak masa kolonial Belanda. Sinode tersebut terdiri dari 32 Klasis yang terbagi menurut persebaran wilayah di Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri unsur-unsur pembentuk karakter arsitektural bangunan Gereja Kristen Jawa dengan mengacu pada penerapan simbol Kristiani dan ciri khas arsitektur tradisional Jawa pada unsur-unsur bangunan Gereja Kristen Jawa Klasis Yogyakarta Utara. Metode penelitian yang digunakan, meliputi metode pengumpulan data, pengolahan data, serta penarikan kesimpulan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, survei, yang meliputi pengamatan, pendokumentasian data fisik bangunan berupa gambar denah, tampak serta foto, dan menyebarkan kuesioner. Metode pengolahan dan analisis data yang berbentuk kuesioner dilakukan dengan cara tabulasi data dan menghitung persentase variabel yang dominan dari unsur-unsur bangunan yang dianggap menerapkan simbol Kristiani dan ciri khas arsitektur tradisional Jawa, sedangkan untuk data yang berbentuk sketsa, yaitu denah dan tampak, dianalisis dengan prinsip penataan Ching (2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan Gereja Kristen Jawa secara signifikan lebih menerapkan simbol Kristiani dibandingkan dengan menerapkan ciri khas arsitektur tradisional Jawa. Variabel yang dominan menerapkan simbol Kristiani adalah ornamen/ragam hias, jendela, dan perabotan.Kata kunci: Gereja Kristen Jawa, karakter arsitektural, simbol Kristiani, arsitektural tradisional Jawa
TATA RUANG DAN ELEMEN ARSITEKTUR PADA RUMAH JAWA DI YOGYAKARTA SEBAGAI WUJUD KATEGORI POLA AKTIVITAS DALAM RUMAH TANGGA Cahyandari, Gerarda Orbita Ida
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1477.567 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i2.1064

Abstract

Abstract: Traditional houses resemble classification according to social status of the owner. Traditional house is a manifestation of symbolic and cultural meaning. Javanese traditional houses are represented in certain orders and characteristics. “Ndalem” in the form of “Joglo” is a type of high status. “Limasan” and “Kampung” are houses for medium and low status. Activities in a house reflect social inter-relationship in a family. Javanese people are categorized as patrileneal family systems that have cultural determination in domestic roles. The analysis requires historical data, pattern of activity, and architectural elements and symbols. Mapping of activities draws housing classification. “Dalems” and “joglos” have spaces to support social activity and define the roles. Houses in lower classification show balance of the roles.Keywords: social classification, Javanese traditional house, domestic rolesAbstrak: Rumah tradisional mencitrakan status sosial pemilik yang juga berarti bahwa rumah tradisional memiliki makna simbolis dan kultural. Rumah trdisional Jawa diwujudkan dalam aturan dan karakteristik tertentu. Rumah “Joglo” dalam bentuk “Ndalem” berada pada status sosial pemilik yang tinggi, sedangkan Limasan dan Kampung dimiliki oleh kaum biasa dan rakyat jelata. Aktivitas dalam rumah mencerminkan hubungan social dalam suatu rumah tangga. Keluarga jawa termasuk penganut system patrilineal yang berpengaruh pada peran domestik. Analisis menggunakan data historis, pola aktivitas, dan elemen serta simbol arsitektural. Pemetaan aktivitas menunjukkan klasifikasi bangunan. Ndalem dan joglo memiliki ruang yang mendukung aktivitas dan peran sosial. Rumah dalam klasifikasi yang lebih rendah, menunjukkan peran domestik dan sosial yang seimbang.Kata kunci: klasifikasi sosial, rumah tradisional Jawa, aktivitas rumah tangga
RENOVASI AKUSTIK GEDUNG KONSER PASCASARJANA INSTITUT SENI INDONESIA (PS-ISI) YOGYAKARTA Satwiko, Prasasto
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.277 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i2.1065

Abstract

Abstract: This paper reports an acoustical research project conducted as a scientific base for the renovation of the Concert Hall of Postgraduate Program, Indonesia Art Institute, Yogyakarta. The concert hall is intended mostly for classical music performances. The renovation has been limited by the form of the existing building, tight time schedule, budget, material provision as well as low labors’ skill. The research applied digital simulation method using Ecotect 5.5 and CATT v8. Testing conducted after construction process found that the simulation results could be reproduced well in the real world. The sound of the played music instrument fulfills the hall with clear details.Keywords: Classical music, acoustics, concert hall, computer simulationAbstrak: Makalah ini menyajikan hasil penelitian akustik sebagai landasan ilmiah renovasi gedung konser musik klasik Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Renovasi dibatasi oleh bentuk gedung yang sudah ada, waktu, biaya, bahan yang tersedia serta kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pekerja lokal. Metoda utama yang dipakai adalah simulasi digital dengan memakai software Ecotect 5.5 dan CATT v8. Uji coba yang dilakukan setelah proses konstruksi selesai menunjukkan bahwa hasil simulasi dapat diaplikasikan pada keadaan nyata dengan baik. Bunyi musik terasa hidup dan detail terdengar dengan baik.Kata kunci: Musik klasik, akustik, gedung konser, simulasi komputer

Page 1 of 13 | Total Record : 124