cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Mesencephalon
ISSN : 22525637     EISSN : 22525637     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Mesencephalon merupakan jurnal yang memuat artikel ilmiah dalam bidang kesehatan baik dari hasil penelitian, studi kasus maupun literature review. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen Malang dan terbit sebanyak dua kali dalam setahunnya yaitu pada bulan April dan Oktober. Redaksi Jurnal Kesehatan Mesencephalon menerima artikel ilmiah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Artikel ilmiah yang masuk ke Tim redaksi akan dilakukan proses penyuntingan oleh tim redaksi dan tim reviewer. Artikel ilmiah yang memenuhi tata aturan, akan dipublikasikan dalam jurnal kesehatan mesencephalon.
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF EFFICACY PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN RESUSITASI PADA PASIEN HENTI JANTUNG Kusno Ferianto; Ahsan, Ika Setyo Rini
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.653 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.10

Abstract

Abstrak : Henti jantung merupakan kasus kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa jika tidak mendapatkan penanganan yang segera dan baik dari perawat. Self efficacy perawat menjadi fakctor yang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam melaksanakan resusitasi henti jantung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi self efficacy perawat dalam melaksanakan resusitasi pada henti jantung. Desain penelitian yang digunakan  adalah  analitik korelatif dengan  pendekatan  cross  sectional  terhadap 30 Perawat IGD RSUD dr. R. Koesma Tuban. Pengumpulan data menggunakan tehnik total sampling dengan .Iinstrumen yang akan digunakan adalah kuisioner standar Perawat Karir, OSS-3, PSS Score dan GSE Score. Analisis menggunakan uji koefisien kontingensi dan regresi logistik. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan terdapat hubungan antara mastery experience dan verbal persuasif dengan self efficacy perawat dalam melaksanakan resusitasi henti jantung. Koefisien signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,015 dan 0,013 dimana lebih kecil dari 0,05 sehingga menimbulkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mastery experience dan verbal persuasive merupakan fakctor yang mempengaruhi self efficacy. Oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan self efficacy dalam melaksanakan resusitasi pada henti jantung dengan cara pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan.Kata Kunci: self efficacy, henti jantung, perawat, resusitasi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PERAWAT GAWAT DARURAT Karyo, Ahsan, Setyoadi
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.329 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.11

Abstract

Abstrak: Kinerja perawat merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pelayanan di rumah sakit. Kinerja dipengaruhi oleh kemampuan tenaga kerja, motivasi kerja, dukungan yang diterima (kepemimpinan), keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan hubungan mereka dengan organisasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kinerja perawat gawat darurat. Rancangan penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan waktu (Cross Sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat instalasi gawat darurat RSUD dr. R. Koesma Tuban, RSNU Tuban dan RS Medika Mulia Tuban. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 perawat dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu simple random sampling. Uji bivariat yang digunakan adalah uji Spearmen dan menggunakan uji regresi linier sebagai uji multivariat. Dari hasil analisis diketahui faktor yang berhubungan adalah kemampuan dan keterampilan (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi kuat (r =0,678), faktor Kepemimpinan (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi yang kuat (r=0,662), faktor budaya organisasi (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi yang sangat kuat (r=0,854), sedangkan faktor yang tidak berhubungan adalah pengalaman (p=0,872). Faktor yang berhubungan dengan kinerja adalah kemampuan dan keterampilan, kepemimpinan, budaya organisasi, sedangkan yang tidak berhubungan adalah pengalaman. Sebaiknya perawat Instalasi Gawat Darurat lebih memahami dan mampu menerapkan metode pendekatan budaya organisasi dalam malaksanakan tugas dan kinerja sehari-hari, sehingga dapat menjadi contoh untuk petugas kesehatan yang lain. saran untuk penelitian selanjutnya adalah menggunakan pendekatan teori tentang budaya organisasi dan kinerja yang lain. Kata kunci: kinerja, kemampuan, keterampilan, budaya organisasi, kepemimpinan
EFEKTIVITAS EDUKASI DAN SIMULASI MANAJEMEN BENCANA TERHADAP KESIAPSIAGAANAN MENJADI RELAWAN BENCANA Rahmania Ambarika
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.164 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.13

Abstract

Abstrak : Penanganan awal bencana diperlukan upaya memberdayakan relawan bencana untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Masih rendahnya keinginan untuk menjadi relawan karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang adekuat tentang kesiapan menjadi relawan bencana. Proses pertimbangan menjadi relawan bukanlah hal yang mudah karena melibatkan proses kongnitif dalam pengambilan keputusan. Kesiapan individu menjadi relawan bencana ditunjukkan oleh adanya pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang diperoleh melalui proses pendidikan dan belajar. Proses penanaman kesiapan menjadi relawan bencana dapat diberikan melalui pendidikan dan simulasi bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi dan simulasi manajemen bencana terhadap kesiapsiagaan menjadi relawan bencana pada mahasiswa. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan pra eksperimental dengan desain one group pre - post test design. Populasinya adalah seluruh mahasiswa semester VIII Program Studi Pendidikan Ners STIKes Surya Mitra Husada Kediri sejumlah 92 mahasiswa dan melalui teknik Purposive Sampling didapatkan 50 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan menjadi relawan bencana sebelum dilakukan edukasi dan simulasi manajemen bencana sebagian besar responden dalam kategori tidak Siap adalah sebanyak 37 responden (74%) dan sesudah diberikan simulasi adalah sebanyak 44 responden (88%). Analisa data dengan uji statistik Wilcoxon, didapatkan p value = 0,000 artinya terdapat pengaruh edukasi dan simulasi manajemen bencana terhadap kesiapan menjadi relawan bencana. Edukasi dan simulasi manajemen bencana sebagai salah satu media terbaik untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi relawan bencana karena melalui proses pembelajaran dengan dilakukan edukasi dan simulasi bencana dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan mahasiswa menjadi relawan bencana sehingga akan meningkatkan kesiapsiagaan menjadi relawan. Edukasi dan pelatihan bencana diperlukan untuk diterapkan di institusi sehingga semua mahasiswa memiliki kesiapsiagaan untuk menjadi relawan bencana karena bencana bisa datang sewaktu-waktu dan hal itu membutuhkan relawan bencana. Kata Kunci : edukasi, simulasi, manajemen bencana, kesiapasiagaan, relawan bencana
FAKTOR – FAKTOR YANG DIDUGA MENJADI PREDIKTOR TERJADINYA PENINGKATAN TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PENDERITA HIPERTENSI Riza Fikriana
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.984 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.14

Abstract

Abstrak : Hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahunnya. Penyakit ini perlu mendapatkan perhatian yang serius karena dapat menyebabkan terjadiya serangan jantung. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor – faktor yang diduga menjadi prediktor terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi. Desain penelitian menggunakan penelitian korelasional dengan analytic cross sectional study. Sampel diambil secara purpossive sampling dari penderita hipertensi di Desa Trenyang RW 09 Sumberpucung Malang dengan jumlah 42 orang. Hasil uji regresi logistik didapatkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah sistolik adalah riwayat keluarga dengan p-value sebesar 0,26. Selanjutnya variabel Indeks Massa Tubuh  (IMT) dengan p-value 0,47 dan variabel pola konsumsi manis dengan p-value 0,5. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa riwayat keluarga, IMT dan konsumsi manis akan dapat meningkatkan tekanan darah sehingga perlu kiranya bagi penderita hipertensi untuk melakukan pola hidup sehat agar terhindar dari  peningkatan tekanan darah  tidak terkontrol dan mencegah terjadinya komplikasi. Kata kunci : tekanan darah, hipertensi
PERILAKU KELUARGA DALAM MENGONTROL FAKTOR RISIKO PENYAKIT HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DESA DI PONOROGO Saiful Nurhidayat
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.609 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.17

Abstract

Abstrak : Hipertensi dipengaruhi oleh faktor risiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti usia, jenis kelamin dan genetik, maupun yang bersifat eksogen, seperti kelebihan berat badan, konsumsi garam, rokok dan kopi. Perilaku keluarga sangat diperlukan dalam mengontrol faktor risiko penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran perilaku keluarga dalam mengontrol faktor resiko penyakit hipertensi dan untuk menganalisis perilaku keluarga yang dominan dalam mengontrol faktor risiko penyakit hipertensi pada masyarakat desa. Penelitian dilakukan pada masyarakat desa Slahung Kabupaten Ponorogo, sampel 100 responden secara purposive sampling. Desain kuantitatif dengan rancangan cross sectional, instrumen menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan perilaku keluarga dalam mengontrol faktor risiko penyakit hipertensi pada masyarakat desa di Ponorogo terbanyak adalah perilaku buruk yaitu 51 responden (51%).  Model perilaku keluarga yang dominan dalam mengontrol faktor risiko penyakit hipertensi pada masyarakat pedesaan di Kabupaten Ponorogo adalah mengontrol pola hidup sehat, yaitu keluarga menyediakan waktu olahraga secara teratur, menjaga suasana rumah yang tentram dan nyaman, menyelesaikan masalah di keluarga secara baik, tidak merokok dan kontrol kesehatan secara teratur.  Kata Kunci : perilaku keluarga, faktor risiko, penyakit hipertensi
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR INTERNAL DENGAN KEJADIAN KELELAHAN MENTAL (BURNOUT) PADA PERAWAT Siti Kholifah; Setyawati Soeharto; Lilik Supriati
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.4 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.4

Abstract

Abstrak : Kondisi pasien di Intensive Psychiatric Care Unit (IPCU) menuntut perawat untuk melakukan observasi ketat selama 24 jam serta selalu menghadirkan dirinya dalam konteks terapeutik melalui interaksi dengan pasien. Rutinitas tersebut dapat menjadi stressor bagi perawat sehingga mengalami kelelahan mental atau burnout. Kelelahan mental dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal menjadi sangat penting karena penilaian individu terhadap faktor eksternal yang dialami sangat bergantung pada faktor internalnya.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor-faktor internal dengan kejadian kelelahan mental (burnout) pada perawat di IPCU RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang.Penelitian ini menggunakan desain observasionalanalitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 40 orang yang didapatkan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kematangan emosi dan kejadian kelelahan mental (p value = 0,001 dan r = -0,500), antara kesejahteraan psikologis dan kejadian kelelahan mental (p value= 0.000dan r = -0,601), serta antara penyesuaian diri dan kejadian kelelahan mental (p value= 0.001dan r = -0,523). Berdasarkan hasil uji regresi linier disimpulkan bahwa faktor yang paling berhubungan dengan kelelahan mental adalah kesejahteraan psikologis (p value< 0,001 dan koefisien korelasi = -0.543). Hal inidimungkinkankarena RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis perawat sehingga meminimalisasi kejadian kelelahan mental. Kata kunci: kelelahan mental, perawat, intensifpsikiatri, faktor internal
PENGARUH TERAPI KOGNITIF TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI REMAJA Zulian Effendi; Sri Poeranto; Lilik Supriati
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.308 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.5

Abstract

Abstrak: Kehidupan remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) merupakan bentuk dari konsekuensi hukuman atas perilaku melanggar hukum yang pernah dilakukan. Berbagai permasalahan dialami remaja dalam menjalani kehidupannya di LPKA, diantaranya perubahan hidup, hilangnya kebebasan dan hak-hak yang semakin terbatas, hingga perolehan label “panjahat” yang melekat pada dirinya.Oleh sebab itu, dibutuhkan terapi untuk meningkatkan harga diri pada remaja. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh terapi kognitif terhadap peningkatan harga diri remaja di LPKA. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experimental Pre-Post Test with Control Group. Jumlah sampel sebanyak 28 responden yang terdiri dari 14 kelompok perlakuan dan 14 kelompok kontrol dengan teknik purposive sampling. Instrument pengukuran harga diri menggunakan kuesioner yang di modifikasi dari Roserberg Self-Esteem Scale. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan harga diri remaja antara sebelum dan sesudah diberikan terapi generalis HDR dan terapi kognitif pada kelompok perlakuan (nilai p-value = 0,000). Pada kelompok kontrol terdapat perbedaan peningkatan harga diri antara sebelum dan sesudah diberikan terapi generalis HDR (nilai p-value= 0,000), sedangkan untuk harga diri remaja sesudah diberikan intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol terdapat perbedaan peningkatan harga diri antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol setelah diberikan intervensi (nilai p-value =0,006).Pemberian terapi generalis dan terapi kognitif memiliki pengaruh yang lebih bermakna terhadap peningkatan harga diri remaja dibandingkan dengan pemberian tindakan generalis saja. Kata kunci: harga diri, terapi kognitif, remaja
ANALISIS KORELASI PENERIMAAN DENGAN HARGA DIRI ORANGTUA DAN STRES PENGASUHAN DALAM MERAWAT ANAK RETARDASI MENTAL Yeni Fitria; Sri Poeranto; Lilik Supriati
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.027 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.6

Abstract

Abstrak : Kondisi anak dengan retardasi mental menjadi stresor tersendiri bagi orangtua karena gangguan kognitif dan fungsi adaptifnya menyebabkan perlunya penanganan khusus dalam berbagai hal. Hal tersebut dapat berdampak pada penerimaan orangtua terhadap anak dan harga diri orangtua yang pada akhirnya dapat memicu timbulnya stres pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara penerimaan orangtua dengan harga diri orangtua dan stres pengasuhan dalam merawat anak retardasi mental. Rancangan penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah 43 responden. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Parental Acceptance Rejection Questionnaire/ (PARQ), Brief Self esteem Inventory/ (BSEI) dan Parenting Stres Index Short Form/ (PSI-SF). Analisis statistik menggunakan uji korelasi pearson dan analisis jalur (path analysis). Analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara penerimaan dengan harga diri orangtua (p= 0,001; r= 0,471; ρ= 0,471). Ada hubungan antara penerimaan orangtua dengan stres pengasuhan (p=0,000; r= -0,554; ρ= -0,383). Ada hubungan antara harga diri orangtua dengan stres pengasuhan (p= 0,000; r= -0,544; ρ= -0,364). Untuk meminimalkan stres pengasuhan dalam merawat anak retardasi mental, sebaiknya orangtua lebih meningkatkan penerimaan terhadap anak sehingga tidak memberikan tuntutan yang melebihi kemampuan anak. Selain itu orangtua perlu memiliki penilaian positif terhadap diri sendiri sehingga lebih mampu beradaptasi dengan stresor yang dialami. Kata Kunci: penerimaan orangtua, harga diri orangtua, stres pengasuhan, retardasi mental
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OUTCOME PASIEN CEDERA KEPALA BERDASARKAN FUNCTIONAL INDEPENDENCE MEASURE (FIM) Moh. Ubaidillah Faqih; Ahsan, Tina Handayani Nasution
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 2, No 4 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.766 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v2i4.8

Abstract

Abstrak: Kinerja perawat merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pelayanan di rumah sakit. Kinerja dipengaruhi oleh kemampuan tenaga kerja, motivasi kerja, dukungan yang diterima (kepemimpinan), keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan hubungan mereka dengan organisasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kinerja perawat gawat darurat. Rancangan penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan waktu (Cross Sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat instalasi gawat darurat RSUD dr. R. Koesma Tuban, RSNU Tuban dan RS Medika Mulia Tuban. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 perawat dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu simple random sampling. Uji bivariat yang digunakan adalah uji Spearmen dan menggunakan uji regresi linier sebagai uji multivariat. Dari hasil analisis diketahui faktor yang berhubungan adalah kemampuan dan keterampilan (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi kuat (r =0,678), faktor Kepemimpinan (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi yang kuat (r=0,662), faktor budaya organisasi (p=0,000) dan memiliki tingkat korelasi yang sangat kuat (r=0,854), sedangkan faktor yang tidak berhubungan adalah pengalaman (p=0,872). Faktor yang berhubungan dengan kinerja adalah kemampuan dan keterampilan, kepemimpinan, budaya organisasi, sedangkan yang tidak berhubungan adalah pengalaman. Sebaiknya perawat Instalasi Gawat Darurat lebih memahami dan mampu menerapkan metode pendekatan budaya organisasi dalam malaksanakan tugas dan kinerja sehari-hari, sehingga dapat menjadi contoh untuk petugas kesehatan yang lain. saran untuk penelitian selanjutnya adalah menggunakan pendekatan teori tentang budaya organisasi dan kinerja yang lain. Kata kunci: kinerja, kemampuan, keterampilan, budaya organisasi, kepemimpinan
KORELASI ANTARA BEBAN KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI KELUARGA PADA PENDERITA SKIZOFRENIA Faizatur Rohmi
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Mesencephalon - April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.185 KB) | DOI: 10.36053/mesencephalon.v3i1.23

Abstract

Abstract : Schizophrenia is one of the diseases that are chronic. Approximately 40% -90% of people with schizophrenia live with their family, So the family to be part of the most responsible for the condition or the treatment in patients. In providing care to the patient, a lot of experience perceived them is the perceived burden of the family. One aspect of the care provided in schizophrenics is to conduct an effective and efficient communication in order to improve the quality of the care provided. The purpose of this study was to determine the Family Burden Correlates With Family Communication Capabilities In Schizophrenia Patients District of Bantur Bantur In the village of Malang. The study design using correlative, with sampling using purposive sampling technique. A number of research subjects 14. Based on test results obtained with Lamda p value of <0.05, which means that there is a correlation between Family Burden With Family Communication Skill In Patients with Schizophrenia. The conclusion of this study is experienced and perceived burden of families in caring for patients with schizophrenia have a positive correlation to the family skills when interacting with patients. Suggestions in this research is done psychoeducation program to be used to help families cope with the perceived burden of caring for family members with schizophrenia.Keywords : burden family, communication, schizophreniaAbstrak : Skizofrenia merupakan salah satu jenis penyakit yang bersifat kronis. Sekitar 40%-90% penderita skizofrenia tinggal dengan keluarga Sehingga keluarga menjadi bagian yang paling bertanggung jawab terhadap kondisi ataupun perawatan pada penderita. Dalam memberikan perawatan pada penderita, banyak pengalaman yang dirasakan diantaranya adalah beban yang dirasakan keluarga. Salah satu aspek  perawatan yang diberikan pada penderita skizofrenia adalah melakukan komunikasi yang efektif dan efisien guna meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Korelasi Antara Beban Keluarga Dengan Kemampuan Komunikasi Keluarga Pada Penderita Skizofrenia Di Desa Bantur Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Desain penelitian menggunakan korelatif, dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling. Jumlah subyek penelitian sejumlah 14. Berdasarkan hasil uji dengan Lamda didapatkan nilai p value< 0.05 yang berarti bahwa terdapat Korelasi Antara Family Burden Dengan Communication Skill Keluarga Pada Penderita Skizofrenia. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah beban yang dialami dan dirasakan keluarga dalam merawat penderita dengan skizofrenia memiliki korelasi yang positif terhadap keterampilan keluarga pada saat beinteraksi dengan penderita. Saran dalam penelitian ini adalah dilakukannya Program psikoedukasi untuk diterapkan guna membantu keluarga dalam mengatasi beban yang dirasakan dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia.      Kata kunci : beban keluarga, komunikasi, skizofrenia

Page 1 of 12 | Total Record : 112