cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
momentumjournal@unikama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Momentum: Physics Education Journal
ISSN : 25489127     EISSN : 25489135     DOI : 10.21067
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 89 Documents
Peningkatan Kemampuan Problem Solving Mahasiswa Sebagai Calon Guru Fisika Menggunakan Socratic Dialogue Nurita Apridiana Lestari
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.734 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1627

Abstract

Mastery of the concepts of physics students can be measured by its ability to solve the problems of physics. Problem solving ability is one component that must be owned by the students as a physics teacher candidates. Based on the results of initial observations, it is known that the problem solving ability of students is still low, especially associated with the use of physics concepts to solve problems. Therefore, the ability of problem solving should be trained in teaching as a form of scaffolding for students. Scaffolding can be done through the method of Socratic dialogue which is the provision of structured questions to help students find answers to the problems of physics using the right concept. This type of research is the Classroom Action Research  with two cycles were performed on physics student teachers in the subjects Physics 1 with a fluid material. Improved problem solving ability was measured using test items at the end of the cycle. The results qualitatively show their developments and increased activity in the classroom compared to learning before the action. These results are supported quantitatively by an increase in average test scores of the first cycle of 70.00 into 75.86 in the second cycle. Keywords: problem solving, socratic dialogue Penguasaan konsep fisika mahasiswa dapat diukur dari kemampuannya dalam memecahkan permasalahan fisika (problem solving). Kemampuan problem solving merupakan salah satu komponen yang harus dimiliki oleh mahasiswa sebagai calon guru fisika. Berdasarkan hasil observasi awal, diketahui bahwa kemampuan problem solving mahasiswa masih rendah, khususnya terkait dengan penggunaan konsep fisika untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu, kemampuan problem solving perlu dilatihkan dalam pembelajaran sebagai bentuk scaffolding bagi mahasiswa. Scaffolding dapat dilakukan melalui metode socratic dialogue yang merupakan pemberian pertanyaan terstruktur untuk membantu mahasiswa menemukan jawaban permasalahan fisika menggunakan konsep yang tepat. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus yang dilakukan pada mahasiswa calon guru fisika pada matakuliah Fisika Dasar 1 dengan materi Fluida. Peningkatan kemampuan problem solving diukur menggunakan butir soal tes di akhir siklus. Hasil penelitian secara kualitatif menunjukkan adanya perkembangan dan peningkatan aktivitas di kelas dibandingkan dengan pembelajaran sebelum adanya tindakan. Hasil tersebut didukung secara kuantitatif melalui peningkatan rata-rata nilai tes dari siklus I sebesar 70,00 menjadi 75,86 pada siklus II. Kata Kunci: problem solving, socratic dialogue 
Membangun Pedagogical Content Knowledge Calon Guru Fisika Melalui Praktek Pengalaman Lapangan Berbasis Lesson Study Lia Yuliati
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.865 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1629

Abstract

The article is a study about the importance of pedagogical content knowledge (PCK) for prospective physics teachers of through teaching practice based on lesson study. PCK is an important aspect in the process of equipping prospective teachers are influenced by various factors. Teaching practice based on lesson study is an alternative model of PCK briefing on prospective physics teachers. It is supported by the results of studies  that PCK of prospective physics teachers may be affected by their experience of learning and teaching for a college education. Keywords: pedagogical content knowledge, teaching practice, lesson study Artikel merupakan kajian tentang pentingnya pedagogical content knowledge (PCK) untuk calon guru Fisika melalui praktek pengalaman lapangan (PPL) berbasis lesson study. PCK merupakan aspek penting dalam proses pembekalan calon guru yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. PPL berbasis lesson study menjadi salah satu alternatif model pembekalan PCK pada calon guru. Hal ini didukung hasil-hasil penelitian yang menunjukkan bahwa PCK calon guru dapat dipengaruhi oleh pengalaman melaksanakan pembelajaran dan proses palatihan selama pendidikan di perguruan tinggi. Kata Kunci: pedagogical content knowledge, praktek pengalaman lapangan, lesson study
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Melalui Pendekatan Konstruktivistik dengan Metode Five E (5E) Stages Learning Cycle untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Mislan Sasono; Farida Huriawati; Andista Candra Yusro
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.305 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1630

Abstract

Research aims to implement and develop the shape of the natural science/physics as device learning to enhance science process skills and the results of learning through constructivist approach with (5E) stages of material objects and the learning cycle to its elementary school students of classes V. This research includes Research and Developmental research (R&D). In developing this form of learning devices used stage design (design), stage of development (develop), stages of dissemination (disseminate). The form of a learning device successfully developed by disseminaing once to three times, and subject learning classes V at Kanigoro elementary school. Any form of learning devices developed validated by researchers with triangulation. Activities undertaken by students and student learning outcomes during learning recorded as quantitative data and analyzed in qualitative descriptive. The shape of the device successfully developed through learning method 5E learning cycle stages was work Sheets, learning  implementation plan, the evaluation sheet of the product. Based on the descriptive analysis of the obtained conclusions that the learning that has been developed successfully process skills increase students and student learning outcomes. Science process skills improvement students learning I, II, and III, i.e., 70.79%, 73.97%, as well as analysis results 78.10% average value of pre test and post test students experience increased i.e. 31 points from the average value of 33 pre test and average value of post test of 64. Keywords: Method Five E (5E) Learning Cycle, Results Learning, Science Process Skills Penelitian ini bertujuan menerapkan dan mengembangkan bentuk perangkat pembelajaran IPA/Fisika untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar melalui pendekatan konstruktivistik dengan metode (5E) learning cycle materi benda dan sifatnya siswa SD kelas V. Penelitian ini termasuk penelitian Research and Developmental (R&D). Dalam mengembangkan bentuk perangkat pembelajaran digunakan tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), tahap penyebaran (disseminate). Bentuk perangkat pembelajaran yang berhasil dikembangkan didiseminasikan satu kali untuk tiga kali pembelajaran, subjek penelitian siswa kelas V SD Kanigoro. Setiap bentuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan divalidasi oleh peneliti dengan triangulasi. Aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan hasil belajar siswa selama pembelajaran dicatat sebagai data kuantitatif dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Bentuk perangkat pembelajaran yang berhasil dikembangkan melalui metode 5E learning cycle adalah LKS, RPP, lembar evaluasi produk. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh kesimpulan bahwa perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan berhasil meningkatakan keterampilan proses siswa dan hasil belajar siswa. Peningkatan keterampilan proses sains siswa setiap pembelajaran I, II, dan III yaitu 70.79%, 73.97%, 78.10% serta analisis hasil nilai rata-rata pre test dan post test siswa mengalami peningkatan yaitu 31 poin dari nilai rata-rata pretes sebesar 33 dan nilai rata-rata postes sebesar 64. Kata Kunci: Metode Five E (5E) Learning Cycle, Hasil Belajar, Keterampilan Proses Sains
Pengembangan Modul Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Materi Gelombang Bunyi untuk Siswa SMA Kelas XII Tri Anita Nur Hasanah; Choirul Huda; Maris Kurniawati
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.522 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1631

Abstract

The 2013 curriculum emphasizes on Scientific Approach taht tie topic with real context. Either learning model that leads to Scientific Approach that is Problem Based Learning (PBL). So that need to prepare appropriate teaching material to support learning model PBL one of them module independent teaching topic for learners. The aim of these research is describe the Learning Module which is developed that is physic learning module based on PBL of the topic sound wave for senior high school grade XII and examine its feasibility. This development research used 4-D Thiagarajan with modified model. This research has been done in three stages such as define, design, and develop which are restricted until the limited try out. The data collection is used questionnaire. The module validation by 4 validators and limited try out to 10 students. The result of research drawn that material aspect is 3,59 with the suitable criterion, presentation aspect is 3,9 with the suitable criterion, language aspect is 3,41 with the suitable criterion, and the limited try out result got 3,6 with an appropriate criterion. In conclusion, physic learning module based on PBL in sound wave material for senior high school grade XII is applicable. Keywords: Physic Learning Module, Problem Based Learning (PBL), Topic sound wave Pada kurikulum 2013 menekankan pada Scientific Approach yang mengaitkan materi dengan konteks dunia nyata. Salah satu model pembelajaran yang mengarah ke Scientific Approach yaitu Problem Based Learning (PBL). Sehingga perlu dipersiapkan bahan ajar yang tepat untuk mendukung model pembelajaran PBL salah satunya modul yang merupakan bahan ajar mandiri bagi peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengembangan modul yaitu modul pembelajaran fisika berbasis PBL pada materi Gelombang Bunyi untuk siswa SMA kelas XII dan menguji kelayakannya.Penelitian pengembangan menggunakan model 4-D Thiagarajan yang sudah di modifikasi. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendefinisian (define), perancangan (design) dan pengembangan (develop) yang dibatasi sampa uji coba terbatas. Validasi modul oleh 4 validator dan uji coba terbatas  kepada 10 orang siswa. Dari hasil penelitan diperoleh skor segi  materi sebesar 3,59 dengan kriteria layak, segi penyajian sebesar 3,9 dengan kriteria layak, segi bahasa sebesar 3,41 dengan kriteria layak dan hasil uji coba terbatas mendapat rerata skor sebesar  3,6 dengan kriteria sesuai. Dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran fisika berbasis PBL pada materi Gelombang Bunyi untuk siswa SMA kelas XII layak digunakan. Kata Kunci: Modul Pembelajaran Fisika, Problem Based Learning (PBL), Gelombang Bunyi
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Team Game Tournament) dengan Metode Tutor Sebaya untuk Menuntaskan Hasil Belajar Siswa Pada Kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan Mabruratul Hasanah; Khalifatur Rahman
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.119 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1632

Abstract

This research background of their learning outcomes, student of class X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan who have not yet reached KKM particularly in the field of physics studies. Therefore, the researchers tried to use cooperative learning model TGT method peer tutor in class X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan on the subject Heat and Heat Transfer. The problems of this study are: 1). How completeness of student learning outcomes through the implementation of cooperative learning model TGT method peer tutor in class X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan ?. 2). How the student's activity during the implementation of cooperative learning model TGT method peer tutor in class X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan ?. The purpose of this study is : 1). To Finalising the student learning outcomes through the implementation of cooperative learning model TGT method peer tutors. 2). To determine the students' learning activities during the implementation of cooperative learning model TGT method peer tutors on the subject Heat and Heat Transfer. This research is a classroom action research. The experiment was conducted three cycles, with each cycle consisting of planning, implementation, observation, evaluation, and reflection. Subjects were students of class X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan in academic year 2014/2015. The data analysis technique used is descriptive statistics. From the analyst found that the learning outcomes of students from the first cycle to cycle III has reached completeness criteria with a percentage that is, the first cycle (50%), the second cycle (70%), Cycle III (85%) and student activity in accordance with the purpose of learning cooperative. The results of the evaluation of the pretest-posttest is from 10.00% (not exhaustive) to 90.00% (complete). Thus, it can be concluded that the type cooperative learning TGT Method Peer Tutor can complete physics learning outcomes and student activity IPA 6 Class X SMAN 2 Pamekasan on the subject Heat and Heat Transfer. Keywords: TGT, Learning Outcomes, Heat and Heat Transfer.Penelitian ini berlatar belakang adanya hasil belajar siswa kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan yang belum mencapai KKM hususnya dalam bidang studi fisika. Oleh karena itu, peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode tutor sebaya di kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan pada pokok bahasan Kalor dan Perpindahan Kalor. Permasalahan penelitian ini yaitu 1). Bagaimana ketuntasan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode tutor sebaya pada kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan?. 2). Bagaimana aktivitas siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode tutor sebaya pada siswa kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan?.Tujuan Penelitian ini adalah 1). Untuk Menuntaskan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode tutor sebaya. 2). Untuk mengetahui Aktivitas belajar siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode tutor sebaya. pada pokok bahasan Kalor dan Perpindahan Kalor. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan tiga siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan tahun pelajaran 2014/2015. Analisis data yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif. Dari hasil analis didapatkan bahwa hasil belajar siswa dari Siklus I sampai Siklus III sudah mencapai kriteria ketuntasan dengan persentase yaitu, Siklus I (50%), Siklus II (70%), Siklus III (85%) dan aktivitas siswa telah sesuai dengan tujuan pembelajaran kooperatif. Hasil evaluasi pretes-postes yaitu dari 10,00% (tidak tuntas) menjadi 90,00%(tuntas). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan Metode Tutor Sebaya dapat menuntaskan hasil belajar fisika dan aktivitas siswa Kelas X IPA 6 SMAN 2 Pamekasan pada pokok bahasan Kalor dan Perpindahan Kalor. Kata Kunci: TGT, Hasil Belajar, Kalor dan Perpindahan Kalor
Pengembangan Modul IPA/Fisika Terpadu Berbasis Scaffolding pada Tema Gerak Untuk Siswa Kelas VIII SMP/MTs Jumaidin Budaeng; Hena Dian Ayu; Hestiningtyas Yuli Pratiwi
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.178 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.1633

Abstract

This research aims to develop the Integrated Science Module Based on Scene Motion Scaffolding, knowing the quality of Integrated Science module, and evaluate the response of teachers and students of the Integrated Science module. This study is a research and development (R & D) by Borg and Gall modified by Sugiyono. The results of the research module Integrated Science for students developed by subject matter experts and media experts have a quality percentage of each 85% (excellent) and 86.6% (excellent). While the modules for teachers according to subject matter experts and media experts have quality with the percentage of each 84% (excellent) and 87% (very good), the response of teachers to the teacher module and student module is Strongly Agree with the percentage of each 87.5 % and 89.84%. Of the 10 students of SMP Negeri 3 Kepanjen on a limited test, got the students' response to student IPA module is Strongly Agree with the percentage of 85%. It can be concluded that the Integrated Science Module Based on Scene Motion Scaffolding has met the criteria Very Good quality and fit for use as a teaching material Integrated Science for students of class VIII SMP/MTs.Keywords: Integrated Science Module, Scaffolding, Motion Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Modul IPA Terpadu Berbasis Scaffolding pada Tema Gerak, mengetahui kualitas modul IPA Terpadu, dan mengetahui respon guru dan siswa terhadap modul IPA Terpadu. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (R&D) menurut Borg dan Gall yang dimodifikasi oleh Sugiyono. Hasil penelitian modul IPA Terpadu untuk siswa yang dikembangkan menurut ahli materi dan ahli media memiliki kualitas persentase masing-masing 85% (sangat baik) dan 86,6% (sangat baik). Sedangkan modul untuk guru menurut ahli materi dan ahli media memiliki kualitas dengan persentase masing-masing 84% (sangat baik) dan 87% (sangat baik), respon guru terhadap modul guru dan modul siswa adalah Sangat Setuju dengan persentase masing-masing 87,5% dan 89,84%. Dari 10 siswa SMP Negeri 3 Kepanjen pada uji terbatas, mendapat respon siswa terhadap modul IPA siswa adalah Sangat Setuju dengan persentase 85%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Modul IPA Terpadu Berbasis Scaffolding pada Tema Gerak telah memenuhi kriteria kualitas Sangat Baik dan layak digunakan sebagai salah satu bahan ajar IPA Terpadu untuk siswa kelas VIII SMP/MTs.Kata Kunci: Modul IPA Terpadu, Scaffolding, Gerak
Identifikasi pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa SMA pada materi fluida statis Vicki Dian Prastiwi; Parno Parno; Hari Wisodo
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.046 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2216

Abstract

Abstract: Understanding of concepts and scientific reasoning are an important components of the Physics learning process. One of the importance of understanding the concept and scientific reasoning is facilitating students in understanding and applying concepts obtained for everyday life. This article aims to describe students' understanding of concept and scientific reasoning on Static Fluid topic. This research used mixed methods explanatory design with 31 students of class XII IPA who have obtained Fluid Static topic. The instruments used are 10 items of essay for conceptual comprehension and 20 multiple choice items justified for scientific reasoning with substantial reliability in order, ie 0.702 and 0.745. The results show that students still have difficulty in understanding the concept of Fluid Static and still have a low scientific reasoning. Students' understanding of hydrostatic pressure sub topic is 18%, Pascal's Law of 21%, and Law Archimedes of 2.2%. Scientific reasoning aspects used in this research are mass conservation reasoning, proportional reasoning, variable control, reasoning probability, correlation reasoning, and hypotetical deductive reasoning. Sequentially, the low level of students' scientific reasoning on Static Fluid material in each criterion is indicated by the following percentages: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, and 20%. Based on the results obtained, that the difficulties of students in general exist on the determination of factors that affect the phenomenon of each sub-material. Abstrak: Pemahaman konsep dan penalaran ilmiah merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran Fisika. Salah satu pentingnya dari pemahaman konsep dan penalaran ilmiah adalah dapat memberikan kemudahan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis. Jenis penelitian ini menggunakan mixed methods explanatory design dengan subyek penelitian 31 siswa di kelas XII IPA yang telah memperoleh materi Fluida Statis. Instrumen yang digunakan dengan 10 butir soal esai untuk pemahaman konsep dan 20 butir soal pilihan ganda beralasan untuk penalaran ilmiah dengan besar reliabilitas secara berurutan, yaitu 0,702 dan 0,745. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep Fluida Statis dan masih memiliki penalaran ilmiah yang rendah. Pemahaman konsep siswa pada sub materi tekanan hidrostatis sebesar 18%, Hukum Pascal sebesar 21%, dan Hukum Archimedes sebesar 2,2%. Aspek penalaran ilmiah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penalaran konservasi massa, penalaran proporsional, kontrol variabel, penalaran probabilitas, penalaran korelasi, dan hypotetical deductive reasoning. Secara berurutan rendahnya tingkat penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis di masing-masing kriteria, ditunjukkan dengan persentase sebagai berikut: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, dan 20%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahwa kesulitan siswa secara umum terdapat pada penentuan faktor-faktor yang berpengaruh pada fenomena masing-masing sub materi.
Keterampilan berpikir kritis pada Bounded Inquiry Lab: analisis kuantitatif dan kualitatif Anisak Intan Eka Prani; Parno Parno; Arif Hidayat
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.306 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2217

Abstract

Abstract: Critical thinking skills as an important skill in the 21st century is a major goal of science education. Therefore the researchers develop various learning strategies to enhance and develop students' critical thinking skills. They develop learning materials that integrated with ability to think critically. However, the strategy makes students less understand to the concept of the material. Learning strategy as bounded inquiry lab model can improve both critical thinking skill and students' comprehension of the material. This study aims to determine effectiveness of bounded inquiry lab to critical thinking skills in high school students. This study focuses on hydrostatic pressure, Pascal's law, and Archimedes’ law. Mixed methods of embedded model design were used during the study. A total of 30 students in major natural science program undergo pre test, followed by learning using bounded inquiry lab, doing post test and then interview. The results showed that students' critical thinking skills on hydrostatic pressure, Pascal's law, and Archimedes’ law increased from an average of 20.00 in pretest to 80.67 in post test. In addition, students said that they can improve their understand concepts of matter, determine the variables, how to create and test hypotheses through scientific work, and make good conclusion through classroom learning. So, bounded inquiry lab should be used as an alternative learning to enhance critical thinking skills in static fluids. Abstrak: Keterampilan berpikir kritis sebagai keterampilan penting di abad 21 merupakan tujuan utama pendidikan sains. Hal tersebut membuat para peneliti mengembangkan berbagai strategi pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Sebagian besar peneliti mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang terintegrasi dengan materi pembelajaran. Namun, strategi tersebut membuat siswa kurang memahami konsep dari materi. Strategi pembelajaran berupa model bounded inquiry lab merupakan salah satu model yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus meningkatkan pemahaman siswa pada materi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas bounded inquiry lab terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian ini berfokus pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes. Mixed methods desain embedded model digunakan selama penelitian. Sebanyak 30 siswa kelas XI IPA SMA menjalani pre test, dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan bounded inquiry lab, mengerjakan soal post test kemudian wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes meningkat dari rata-rata nilai pre test sebesar 20,00 ke nilai post test sebesar 80,67. Di samping itu, menurut siswa, pembelajaran di kelas membuat mereka lebih memahami konsep materi, menentukan variabel, cara membuat dan menguji hipotesis melalui kerja ilmiah, serta membuat kesimpulan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, bounded inquiry lab dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi fluida statis.
Cara siswa menyelesaikan masalah suhu dan kalor dari sudut pandang keterampilan metakognisi Susanti Rahayu; Supriyono Koes-H; Siti Zulaikah; Ninik Munfarikha
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.27 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2219

Abstract

Abstract: The ways students solve problems become one of the main target of physics learning. Investigation about how students solve problems is explored in the context of metacognition skills. The steps of metacognition skills in physics problem solving include: planning, monitoring, evaluation, and controlling. This is a preliminary exploration study that aims to: 1.) mapping the metacognition skills that are used in physics problem solving of temperature and heat, 2.) exhibiting students’ self evaluation of his/her metacognition skills in problem solving, and 3.) identifying the relationship between students answer and their self evaluation. This is a descriptive qualitative study. The data were obtained by test and questionnaire. The physics problem solving test was given to 35 students of 11th grader. After doing test, they filled the 22 items of questionnaire adapted from Physics Metacognition Inventory (PMI). The result shows that none of the students solved all the problems optimally. The result of questionnaire showed that the average of metacognitive skills 64%, with the maximum and the minimum scores is 87% and 35% respectively. The correlation between the analyses of students’ answer and their self evaluation shows a negative value that indicates no relationship. Specifically, students pass the planning and controlling phase quite well, even though they tend to be poor in monitoring and evaluation. This findings must become a particular attention for the researchers and teachers in providing the learning strategy to habit the phases of metacognition skills in order to improve students’ metacognitive skills. Abstrak: Cara siswa dalam menyelesaikan masalah menjadi salah satu sasaran utama dalam pembelajaran fisika. Penelusuran mengenai bagaimana cara siswa menyelesaikan masalah dieksplorasi dalam konteks keterampilan metakognisi. Tahapan keterampilan metakognisi dalam menyelesaikan masalah fisika meliputi: planning, monitoring, evaluation, dan controlling. Penelitian ini merupakan studi eksplorasi awal bertujuan untuk: 1.) memetakan keterampilan metakognisi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah fisika pada materi Suhu dan Kalor, 2.) menunjukkan penilaian diri siswa terhadap keterampilan metakognisi yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah, dan 3.) mengidentifikasi hubungan antara analisis jawaban siswa dan penilaian diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui tes dan angket. Tes yang digunakan merupakan soal problem solving, yang diberikan kepada 35 siswa kelas XI. Setelah mengerjakan soal, siswa mengisi angket yang terdiri dari 22 item yang diadaptasi dari Physics Metacognition Inventory (PMI). Hasil penelitian menunjukkan belum ada siswa yang optimal menyelesaikan seluruh soal. Angket penilaian diri menunjukkan skor rerata 64%, dengan skor maksimum dan minimum masing-masing 87% dan 35%. Hubungan antara analisis jawaban siswa dan hasil penilaian diri menunjukkan nilai korelasi negatif yang mengindikasikan tidak sinkronnya hasil jawaban dan penilaian diri siswa. Secara spesifik, tahapan planning dan controlling dilakukan siswa dengan cukup baik, akan tetapi siswa cenderung lemah dalam memonitoring dan mengevaluasi ketika menyelesaikan masalah. Temuan ini menjadikan perhatian khusus untuk peneliti dan guru dalam menyajikan strategi belajar untuk membiasakan tahapan dalam keterampilan metakognisi dengan target peningkatan keterampilan metakognisi siswa.
Identifikasi kesulitan siswa SMA pada materi usaha-energi Desella Inna Rahmatina; Sutopo Sutopo; Wartono Wartono
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.472 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2240

Abstract

Abstract: This study identified student’s difficulty on doing test about work and energy. This study was conducted on 68 high school students at 11th grade who had took work and energy material. Type of this research was descriptive with survey method. Technique of collecting data was test with 15 items two tier's instruments which have been validated by expert. The student’s reasons in answering were used to identify possible causes of errors. Test result showed that the average student's test score is 50.65 with a scale of 100. Common difficulties for students were applying multiplication of the dot product force acting on objects and the movement objects when the movement of objects is presented through graphs, applying work-kinetic energy theorems, misinterpreting relations of gravity and height of objects on the incline, and determine the graph relation of energy with height object as a description of the movement of objects with parabolic paths and influenced by the external forces of the system. This finding can be used as a reference to overcome student difficulties through appropriate learning strategies. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa SMA dalam mengerjakan soal-soal usaha energi. Penelitian dilakukan pada 68 siswa SMA kelas XI yang telah menempuh materi usaha-energi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes dengan instrumen berupa soal pilihan ganda beralasan berjumlah 15 butir yang telah divalidasi oleh ahli. Alasan siswa dalam menjawab digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab kesalahan. Hasil tes menunjukkan bahwa skor tes rata-rata siswa adalah 50,65 dengan skala 100. Kesulitan yang umum terjadi pada siswa yaitu menerapkan perkalian dot product gaya yang bekerja pada benda serta perpindahan benda jika pergerakan benda disajikan melalui grafik, menerapkan teorema usaha energi kinetik, salah memaknai hubungan usaha oleh gaya gravitasi dengan ketinggian benda pada bidang miring, serta menentukan grafik hubungan energi dan ketinggian yang benar sebagai deskripsi pergerakan benda dengan lintasan parabola dan dipengaruhi gaya eksternal sistem. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa melalui strategi pembelajaran yang tepat.