cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus.annas551@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
silfia_hanani@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
HUMANISMA : Journal of Gender Studies
ISSN : 25806688     EISSN : 25807765     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Humanisma focus tentang issue-issue kesetaraan gender dan perlindungan terhadap anak di Indonesia baik dalam perspektif Islam maupun secara umum.
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
THE ROLES OF HOUSEWIFES IN INFORMAL SECTOR (Study on Production of Batu Kapur in Desa Mangkung Lombok Tengah) Rohimi Rohimi
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.586 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1060

Abstract

Dalam penelitian mengkaji tentang peran yang dilakukan oleh perempuan yang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga di Desa Mangkung yang bekerja sebagai buruh dalam proses produksi batu kapur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan langkah-langkah pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tujuan dari penlitian ini, untuk mengetahui bagaimana peran perempuan yang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga yang bekerjasama dengan kaum laki-laki pada pekerjaan produksi batu kapur. Dan Hasil dalam penelitian ini seperti mereka yang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga, akan tetapi sangat berpartisipasi dalam pekerjaan proses produksi batu kapur dengan laki-laki, bahkan pekerjaan kaum perempuan pada produksi batu kapur lebih dominan dari pada pekerjaan buruh laki-laki walaupun sedikit ringan. Dan bagaimana peran kaum perempuan yang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga yang ikut andil dan berpartisipasi dan bekerja sama dan kolaborasi dengan laki-laki pada lingkup pekerjaan yang sama yakni pada proses produksi batu kapur. Dan faktor pendorong mereka bekerja sebagai buruh produksi batu kapur yakni (a) lemahnya ekonomi keluarga, (b) melestarikan pekerjaan budaya, dan (c) lemahnya wawasan dan pengetahuan. Sedangkan kendala yang dihadapi ibu rumah tangga sebagai buruh dalam produksi batu kapur. Pertama, kendala secara fisik seperti beratnya pekerjaan yang dilakukan pada produksi batu kapur, seperti merubuhkan batu kapur setelah pembakaran, menaikkan dan menurunkan kapur saat pergi pemasaran, bahkan sampai mereka menggunakan alat pengaman seperti masker, dan sarung tangan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan fisik mereka saat bekerja. Kedua, kendala terhadap posisinya sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengedepankan pekerjaan primernya di dalam rumah seperti mempersiapkan kebutuhan suami dan anaknya. Jangan sampai dengan eksistensinya dalam pekerjaan diluar rumah sebagai buruh produksi kapur dan lupa akan tanggung jawbanya sebagai seorang istri.  Kata Kunci: Peran ibu rumah tangga, sektor informal, dan produksi batu kapur
GENDER BASED PERCEPTION ON UNDERSTANDING MATHEMATICS CONCEPT BY USING PBL Muhammad Imamuddin; Isnaniah Isnaniah; Rusdi Rusdi; Peri Pedinal
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1061

Abstract

Bagi siswa, untuk memahmi suatu konsep dalam pembelajaran matematika bukanlah suatu hal yang mudah karena pemahaman terhadap suatu konsep matematika dilakukan secara individual dan tidak tebang pilih antara laki-laki dan perempuan (gender). Oleh karena tu, pembelajaran di kelas-kelas matematika harus dikelola dengan baik oleh guru. Pengelolan pembelajaran yang baik di kelas-kelas matematika, akan memantapkan siswa laki-laki ataupun siswa perempuan dalam memahami konsep-konsep matematika. Dengan demikian penerapkan pembelajaran yang tepat oleh guru, dapat memaksimalkan pemahaman konsep matematika siswa dan akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pemahaman konsep matematika siswa ditinjau berdasarkan gender setelah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: pemahaman konsep matematika empat orang siswa laki-laki berkriteria sangat baik, empat orang siswa berkriteria baik dan dua orang siswa berkriteria pemahaman konsep matematika cukup baik. Sedangkan pemahaman konsep matematika siswa perempuan adalah dua siswa mendapatkan kriteria sangat baik, lima orang siswaberkriteria baik dan lima orang berkriteria cukup baik. Dengan menggunakan uji – t  pada selang kepercayaan 95% diperoleh thitung = 1.770  dan ttabel = 1.72. Dengan demikian dapat disimpulkan konsep matematika siswa laki-laki lebih baik daripada siswa perempuan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di kelas VIII SMP.Kata kunci: Pemahaman Konsep, Problem Based Learning, Gender
ALQURAN TEACHING MODEL : THE EFFECT OF PROBLEM SOLVING ABILITY AND GENDER ON MATHEMATICS Suherman Suherman; Ayu Sekarsari Suharno; Istihana Istihana
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1078

Abstract

Mathematical problem solving ability is one of the things that must be owned by students in learning mathematics. Students have low mathematical problem solving abilities caused by difficulties in solving mathematical problems that require logic. The research is aimed to determine the effect of the Alqurun Teaching Model on mathematical and gender problem solving abilities. This research is quantitative research. The population were 264 in eighth grade students of SMPN 17 Bandar Lampung. Sampling technique used by sample random sampling technique. Data analysis techniques used the normality test with Liliefors test and homogeneity test with Barlett test. Hypothesis testing using the two-way cell ANAVA test is not the same. The results showed that there was an influence of the Alqurun Teaching Model (ATM) learning model on mathematical and gender problem solving abilities. The mathematical problem solving abilities of female students are better than male students in the Alqurun Teaching Model learning.
WOMEN IN THE IDENTITY CRISIS OF FEMINISM; A CRITICAL ANALYSIS ON GENDER MOVEMENT BASED ON ISLAMIC PSYCHOLOGY PERSPECTIVE Septi Gumiandari; Ilman Nafi'a
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.238 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1167

Abstract

This paper attempted to analyze critically the women's movement that had been developing so far and tried to offer the ideology of the gender movement based on the values of humanism of Islamic Psychology. This study used a qualitative methodology with a literature approach. The results showed that (1) the male clone tendency in the women's movement had actually been predicted by various parties, including by the female activists. Because of the obsession to equalize the active role of women as equal to men, the women's movement was trapped in standardizing themselves with male masculinity figures. On one hand, they rejected male domination on women, but on the other hand the ambitions of their movements are directed towards seizing the dominant patriarchal system and violating it under the authority of women. Even though Islam places women in the frame of proportionally optimistic rational roles. That is, Islam does not make women fully pretend to be 'backward' entities so that it does not allow them to gain enlightenment and Islam rejects thoughts that are too optimistic to position 'front' women as the sole determinant of their lives and must be above men. Both of these views have reduced women to fall into the destruction or glorification of human quality by ignoring the greatness and power of Sunnatullah over the surrounding conditions; (2) Acording to the values of humanism of Islamic Psychology, the ideology of the gender movement should depart from the needs and be based on a) Women’s self-actualization rather than self-exploitation; b) Women’s Active participation rather than their mobilization and domestication. (c) Partnership rather than rivalism.
WOMEN AND DERADICALISM: UNDERSTANDING THE WOMEN’S ROLE IN DEVELOPING PEACEFUL CULTURE Wanda Fitri
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1416

Abstract

Berkembangnya ratusan aliran, sekte, dan mazhab pemikiran dalam Islam cukup menjadi bukti bagaimana kaum muslimin sejak di awal perkembangannya telah  dituntut bersikap saling menghargai perbedaan.Di Indonesia sendiri sejak dibentuknyaNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pengorbanan terpenting yang dilakukan oleh para pendiri bangsa ini (Muslim) adalah mementingkan persatuan. Persatuan dalam kebersamaan, kekeluargaan, dan menghormati keberagaman bukan individualisme kelompok, intelektualisme, materialisme, atau menjadikan Islam sebagai ideologi negara meski rakyatnya mayoritas adalah muslim.Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia tidak lepas dari ancaman radikalisme dan terorisme. Kehidupan sosial Indonesia yang multietnis dan agamalah yang memicu terjadinya prasangka antar kelompok beragama. Sikap intoleran dalam menyikapi perbedaan sering ditunjukan oleh kelompok-kelompok yang berbeda cenderung memicu terjadinya perilaku radikalisme yang berujung pada kekerasan dalam bentuk aksi teror yang mengatasnamakan agama (Islam). Sayangnya, dalam berbagai aksi radikalisme, perempuanlah yang menjadi korban. Permasalahnnya adalah apakah perempuan hanya menjadi korban pasif, padahal perempuan memiliki peran-peran strategis dalam mengikis dan meredam radikalisme. Berbagai penelitian telah membuktikan bagaimana kaum perempuan memeiliki peran yang besar di dalam proses membangun keragaman dan budaya perdamaian. Tulisan ini imgim melihat perempuansebagai surivor, pejuang/aktivis perdamaian, dan agen perdamaian yang kiprahnya tidak dapat diabaikan baik secara psikologis maupun sosial.
CLENICAL POLITICAL IMPLICATIONS IN WOMEN'S POLITICAL PARTICIPATION AT KAILI COMMUNITIES IN THE PALU VALLEY Nisbah Nisbah
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.954 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1418

Abstract

Salah satu fenomena dalam realitas politik yang muncul setelah masa Orde Baru adalah menguatnya politik klen pada masyarakat lokal yang masih mengandalkan hubungan genealogik. Dalam upaya mendorong pelibatan perempuan dalam proses politik, kecenderungan politik klen telah mendegradasi semangat peningkatan partisipasi politik perempuan. Partisipasi politik perempuan dalam lembaga sosial politik pada masyarakat lokal akan didasarkan pada faktor genealogik. Pada masyarakat Kaili di Lembah Palu  misalnya, meningkatnya partisipasi politik perempuan terbentuk karena perempuan berasal dari klen dominan dan masih terikat dalam satu ikatan persaudaraan dengan fungsionaris parpol dan lembaga politik lainnya sehingga mudah terlibat pada proses politik. Hubungan genealogik antara perempuan anggota klen dominan dengan pemimpin dan tokoh sentral klen dominan memberi ruang partisipasi perempuan dalam politik  Klen dominan secara genealogik terkait hubungan kekerabatan dengan golongan bangsawan yang pernah memiliki kekuasaan adat pada masa pemerintahan kerajaan. Distribusi peran perempuan klen dominan pada posisi strategik di lembaga sosial politik diarahkan untuk memporkokoh jangkauan kepentingan klen dalam kekuasaan politik.  Implikasi peranan klen dalam partisipasi politik perempuan meningkatkan  rekruitmen perempuan anggota klen dominan secara jumlah namun peran dalam kegiatan lembaga justeru tereduksi dan melemah.  
ECONOMIC EMPOWERMENT OF POOR FAMILY HEADS THROUGH MARKET-BASED MICRO BUSINESS GROUPS IN MKS DISTRICT, BUKITTINGGI CITY Reflinda Reflinda
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1426

Abstract

Mandiangin Koto Selayang merupakan salah satu dari tiga kecamatan yang berada di Kota Bukittinggi, di kecamatan ini ditemukan PEKKA miskin sebanyak 116 KK dan merupakan kecamatan yang laing banyak PEKKA miskin dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya di Kota Bukittiggi. Sasaran dari pengabdian ini merupakan kelompok dari PEKKA miskin tersebut dengan melakukan program pemberdayaan untuk mengatasi masalah ekonomi yang dihadapinya. Pemberdayaan yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ekonominya adalah dengan membentuk kelompok usaha mikro berbasis pasar. Dimana PEKKA di kelompokan berbdasarkan jenis-jenis usaha yang dilakukannya dan mendampinginya supaya bisa menguasai pasar untuk kepentingan kemajuan usaha-usaha ekonomi kelompok yang lakukan itu. Diantara jenis usaha kelompok mikro yang dilakukan adalah, membuat asesoris, makanan ringan dan usaha jualan harian. Diantara program pendampingan untuk kepentingan kemajuan usaha itu adalah telah dilakukan terhadap PEKKA ini dampingan komunkasi usaha, motivasi untuk berusaha, membantu informasi pemasaran. Hasil dari pendampingan menunjukkan bahwa, PEKKA mempunyai semenagat untuk berusaha, dan sangat membutuhkan modal dalam pengembangan usaha kelompok yang dilakukannya.
FACTORS OF AFFECTING THESIS COMPLETION BY USING CHAID METHOD BASED ON GENDER Haida Fitri; Aniswita Aniswita; Charles Charles
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.273 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v3i1.1498

Abstract

Thesis as one of the requirements to obtain a bachelor degree, ideally it can be completed in one semester, but many students finish the thesis more than the allocated time. This condition is caused by many factors including gender differences, male and female students have many differences especially in the allocation of time to finish a thesis. This research aimed to find out the factors that influence the time needed to finish a thesis and the classification of these factors based on their gender. The factors observed were GPA, gender and competence of the supervisor, types of research used, source of the data  and technique of the data collection. The statistical analysis used was the CHAID method. The result of this study showed that out of 387 male students who have graduated in period I to VI, it was found that the factors which influence them to finish their thesis were GPA. While for female students, out of 1150 data, three factors that influence them were major, sources of data and expertise areas of the main supervisors. Moreover, three characteristics of students who finish thesis longer than 6 months were male students with a GPA less than 3,34, female students from Islamic Education/English Department/Math Department  with the source primary/ secondary data or others, and female students from guidance and couceling department by the psychologist’s/ others as main supervisor.Keywords: thesis, allocated time to finish thesis,  CHAID method.
GERAKAN EMANSIPASI RUHANA KUDDUS DALAM MEMPERJUANGKAN KESETARAAN PENDIDIKAN PEREMPUAN DI MINANGKABAU Nur Farida Deliani; Nazhiratul Khairat; Kori Lilie Muslim
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 2 (2019): Juli - Desember 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.256 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v3i2.1097

Abstract

At the beginning of the 19th century in Minangkabau, women just demanding to manage the household, they are not allowed to get the appropriate education and the high position of career. Because of this unlucky condition, some women in Minangkabau made a movement out of that oppression. One of the movement's doers is Ruhana Kuddus. In order to know the affection of Rohana Kuddus’s emancipation in her struggle for women’s education equality, these are the techniques of data collection and analysis is collecting the data, the main source is Scenting Melajoe newspaper, the second sources Are interviewing, book, journal, and all of the data about Ruhana Kuddus from the internet. Then criticizing of the sources, it can be internal and external critics. After that synthetic dan writing form (historiography). The results are incentive factors are religion value, traditional value, and social value. Obstructions factors are the illiteracies, the strict of traditional rules, the views on women, the empowerment of women and women’s skills.
NIKAH SUBARANG AYIE VERSUS NIKAH SYARIAH KONTESTASI SIMBOLIK BERAGAMA YANG TERKALAHKAN DI LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT Aidil Alfin; Ali Rahman
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 3, No 2 (2019): Juli - Desember 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v3i2.2107

Abstract

Pernikahan Subarang Ayie is a marriage that is held across the river in Lareh Sago Halaban District in which the marriage is doing illegally or siri, without any binding administration. The marriage is not carried out in accordance with applicable legal and statutory procedures. The practice of this marriage has been going on for a very long time and has been assisted by the prelude actor who carries out his position as a prince in marriage but did his practice in silence. There are several negative impacts as a result of this marriage, including the loss of children's rights, lose the acknowledgment of man’s responsibilities, the susceptive of underage marriages, the susceptible to divorce, the occurrence of marital sanctification and so on. These conditions give bad impacts on society. This kind of marriage across the river should get attention and removal in the order it is no longer happen.