cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 254 Documents
ANALISIS KESALAHAN SISWA BERDASARKAN TAHAPAN NEWMAN DAN SCAFFOLDING PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL Susilowati, Puji Lestari; Ratu, Novisita
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v7i1.337

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesalahan siswa berdasarkan Tahapan Newman dan scaffolding pada materi aritmatika sosial. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP Pangudi Luhur Salatiga kelas VII. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan wawancara klinis. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu oleh instrumen pendukung berupa soal tes dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan mencakup transkrip hasil wawancara, reduksi data, analisis, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesalahan yang dilakukan siswa pada tipe kesalahan I (reading error) sebesar 8,33%, tipe kesalahan II (reading comprehension difficulty) sebesar 13,64%, tipe kesalahan III (transform error) sebesar 14,39%, tipe kesalahan IV (weakness in process skill) sebesar 31,82%, tipe kesalahan V (encoding error) sebesar 31,82%. Scaffolding yang digunakan untuk mengatasi semua kesalahan hanya sampai pada scaffolding level 2. Scaffolding yang diberikan pada kesalahan tipe I dan II adalah explaining, scaffolding yang diberikan pada kesalahan tipe III adalah explaining dan reviewing. Scaffolding yang diberikan pada kesalahan tipe IV adalah explaining, reviewing, dan restructuring, sedangkan scaffolding yang diberikan pada kesalahan tipe V adalah explaining. AbstractThe purpose of this study was to identify students' errors based on Newman Stages and scaffolding in social arithmetic material. This research is an action research. The subject of this research is Pangudi Luhur Salatiga class VII students. Data collection techniques used are tests and clinical interviews. The research instrument in this research is the researcher himself and assisted by supporting instrument in the form of test question and interview guide. Data analysis techniques used include transcript of interview result, data reduction, analysis, and triangulation. The result of the research showed that the mistake of the students on the type error I (reading error) of 8.33%, the type of error II (reading comprehension difficulty) of 13.64%, type error III (transform error) of 14.39%, type error IV (weakness in process skill) of 31.82%, error type V (encoding error) of 31.82%. Scaffolding used in this study only until scaffolding at level II. Scaffolding given to type I and II errors is explaining, the scaffolding given to type III errors is explaining and reviewing. Scaffolding given to type IV errors is explaining, reviewing, and restructuring, while the scaffolding given to type V errors is explaining.
Self Efficacy Calon Guru Matematika Sumartini, Tina Sri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i3.797

Abstract

AbstrakSelf-efficacy calon guru matematika masih kurang. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis mengenai self-efficacy calon guru matematika sehingga dapat diketahui aspek self-efficacy yang perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis self-efficacy calon guru matematika dalam mengajar matematika. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel yang diambil sebanyak tiga orang calon guru matematika jurusan pendidikan matematika di Institut Pendidikan Indonesia. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon guru matematika memiliki keyakinan dalam penguasaan pengetahuan matematika, namun merasa kurang yakin bahwa dirinya mampu untuk menyampaikan materi matematika kepada siswa. Kurangnya keyakinan ini berakibat pada kemampuan pedagogis calon guru matematika.  Self-Efficacy of Mathematics Prospective TeachersAbstractThe self-efficacy of prospective mathematics teachers is still lacking. Therefore, it is necessary to analyze the self-efficacy of prospective mathematics teachers so that it can be seen which aspects of self-efficacy need to be improved. The purpose of this study was to analyze the self-efficacy of prospective mathematics teachers in teaching mathematics. The research method used is qualitative by using a purposive sampling technique. The sample taken was three prospective mathematics teachers majoring in mathematics education at the Indonesian Institute of Education. The data analysis was done qualitatively. The results showed that the prospective mathematics teacher had confidence in the mastery of mathematical knowledge, but felt less confident that he was able to convey mathematics material to students. This lack of confidence results in the pedagogical abilities of prospective mathematics teachers.
PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS ANTARA SISWA YANG MENDAPATKAN STRATEGI CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL Muliawati, Tina; Sofyan, Deddy
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Most student is passive in the process learning of mathematics that leads to less in their creativity and achievement. Therefore, it needs an effort and innovatively learning of mathematics. As an alternative concerning such things one should develops learning of mathematics with “Creative Problem Solving (CPS)” approach. It is a learning approach which generates an activity between mathematics and students. Thus, it motivates them to solve the problem ununiquely with many stragies. As for which being experiment class is VII-D and VII-E. Class VII-D is gettingCreative Problem Solving (CPS) strategyand class VII-E is getting conventional teaching.  For the experimental instrument was composed 6 essay.The gainof students mathematics understanding ability increases getting Creative Problem Solving (CPS) strategy is better than students who received conventional teaching.
Think Pair Share sebagai Model Pembelajaran Kooperatif untuk Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Latifah, Syintia Siti; Luritawaty, Irena Puji
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i1.641

Abstract

AbstrakDiperlukan upaya untuk meningkatkan pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis yang masih rendah, misalnya menggunakan model pembelajaran tipe Think Pair Share. Tujuan penelitian yaitu mengetahui peningkatan dan seberapa jauh kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dapat meningkat dengan model pembelajaran Think Pair Share. Metode penelitian yaitu kuasi eksperimen, dengan populasi siswa kelas VIII di satu SMP di Kabupaten Garut. Sampel yaitu kelas VIII-A sejumlah 33 siswa, dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Instrumen berupa soal tes uraian kemampuan pemecahan masalah diujikan sebelum dan sesudah pembelajaran. Hasil analisis data pada kelas Think Pair Share menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis berkategori sedang. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terbukti cukup efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Think Pair Share Type Cooperative Learning Model to improve Mathematical Problem Solving Ability AbstractEfforts are needed to improve the achievement of mathematical problem-solving abilities that are still low, for example using the Think Pair Share type of learning model. The purpose of this research is to find out how much improvement and how much the students' mathematical problem-solving ability increases through the Think Pair Share learning model. The research method is quasi-experimental, with a population of eighth-grade students in one junior high school in Garut Regency. The sample is class VIII-A with 33 students, selected based on purposive sampling technique. Instruments in the form of test questions describing problem-solving abilities were tested before and after learning. The results of data analysis in the Think Pair Share class showed an increase in the ability to solve mathematical problems in the medium category. Cooperative learning Think Pair Share type proved effective enough to improve students' mathematical problem-solving abilities.
PROBLEM POSING SEBAGAI KEMAMPUAN MATEMATIS Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i1.303

Abstract

Perlunya kemampuan dalam membuat permasalahan/persoalan matematis sangat diperlukan oleh seorang guru. Hal tersebut berguna agar guru tidak hanya memberikan soal yang ada di buku saja. Guru dituntut kreatif; guru perlu memiliki kemampuan dalam membuat soal yang dibutuhkan oleh siswanya. Selama ini, kemampuan yang terus disoroti adalah kemampuan dalam menyelesaikan berbagai tipe soal dilihat dari daya pikir siswanya. Untuk kali ini, kita coba lihat dari sudut pandang perlunya kemampuan seorang guru untuk memiliki kemampuan pengajuan permasalahan matematis (mathematical problem posing) ini. Seiring dengan meningkatnya kemampuan membuat soal yang baik tentunya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan mathematical problem posing ini masih menjadi kendala bagi beberapa mahasiswa calon guru matematika, padahal kemampuan ini sangat diperlukan bagi mereka yang akan menjadi seorang guru yang baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita akan coba paparkan problem posing sebagai suatu kemampuan matematis yang diperlukan oleh seseorang, terutama calon guru.The need for the skill to create mathematical problems/issues needed by a teacher. It is useful for teachers to provide problems that exist in books only. Teachers need to be creative; teachers need to have the skill to create questions that needed by their students. During this time, a skill that continues to be highlighted is the ability to resolve various types of problems seen from the intellect students. For this time, we look from the perspective of the need for the skill of a teacher to have the skill of mathematical problem posings. Along with the increased mathematical problem posing skill can certainly improve the quality of learning in the classroom. Mathematical problem posing skill is still an obstacle for some mathematics prospective teachers, but this skill is very necessary for those who would become a good teacher. Therefore, on this occasion, we will try to present problem posing as a mathematical skill needed by someone, especially prospective teachers.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK MELALUI PENDEKATAN METAKOGNITIF Nanang, Nanang
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v1i1.166

Abstract

Penelitian eksperimen ini  bertujuan untuk mengetahui peningkatan dan membandingkan kemampuan  pemecahan masalah matematik pada kelompok siswa yang pembelajarannya menerapkan pendekatan metakognitif (PM) dan pendekatan konvensional (PK). Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematik. Analisis data dilakukan dengan uji gain ternormalisasi dan uji perbedaan dua rata-rata. Hasil utama dari penelitian ini adalah secara keseluruhan siswa yang pembelajarannya dengan PM (kelompok eksperimen) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematiknya termasuk tinggi dan secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan siswa yang pembelajarannya dengan PK (kelompok kontrol).
Perbandingan TAI dan NHT terhadap Hasil Belajar Trigonometri Ditinjau dari Kecerdasan Interpersonal Setiawan, Yoga; Prihatnani, Erlina
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i2.646

Abstract

AbstrakSetiap model pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik dalam menerapkan enam prinsip pembelajaran kooperatif termasuk model Team Assisted Individualization (TAI) dan Numbered Heads Together (NHT). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manakah yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik diantara (1) model TAI dan NHT, (2) tingkat kecerdasan interpersonal, dan (3) interaksi model pembelajaran TAI dan NHT dengan kecerdasan interpersonal. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA N 1 Salatiga Tahun Ajaran 2018/2019 (384 siswa). Melalui teknik cluster random sampling diperoleh 30 siswa kelas X IPS 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan 34 siswa kelas X IPS 2 sebagai kelas eksperimen 2 dengan perbedaan perlakuan dalam pembelajaran trigonometri. Penelitian eksperimen semu ini menggunakan randomized control group pretest-postest design. Uji hipotesis menyimpulkan (1) hasil belajar siswa dengan model TAI secara signifikan lebih baik daripada NHT, (2) tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan dari tingkat kecerdasan interpersonal yang berbeda, (3) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan kecerdasan interpersonal terhadap hasil belajar. AbstractEach type of cooperative learning model has different characteristics in applying 6 principles of cooperative learning, including TAI (Team Assisted Individualization) and NHT (Numbered Head Together) type models. This study aimed to find out: (1) which learning outcomes are better between students using the TAI or NHT models, (2) which learning outcomes are better between students with high, medium and low interpersonal intelligence levels, (3) is there any correlation between TAI and NHT learning models with interpersonal intelligence on student learning outcomes. The population in this study were all students of X grade at SMA N 1 Salatiga in the Academic Year 2018/2019 (384 students). Through assembling random sampling techniques obtained students of class X IPS 1 (30 students) as experimental class I and students of class X IPS 2 (34 students) as experimental class II with different treatment in learning mathematics on trigonometry material. This quasi-experimental research used a randomized control group pretest-posttest design. Hypothesis test results concluded that (1) student learning outcomes with the TAI model were significantly better than student learning outcomes with the NHT model, (2) there was no significant difference between student learning outcomes of different levels of interpersonal intelligence, (3) there were no interactions between models learning with interpersonal intelligence on student learning outcomes.
LINTASAN PEMBELAJARAN PECAHAN MENGGUNAKAN MATEMATIKA REALISTIK KONTEKS PERMAINAN TRADISIONAL SIKI DOKA Edo, Sri Imelda; Samo, Damianus Dao
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.320

Abstract

AbstrakMateri pecahan merupakan salah satu materi matematika yang rumit. Kerumitan pecahan tidak saja dialami oleh siswa, tetapi juga mahasiswa dan guru. Penyebabnya adalah penguasaan konsep pecahan yang rendah. Karena guru pada jenjang pendidikan Dasar memperkenalkan pecahan dengan metode ceramah dan langsung memberi contoh soal kemudian siswa mengerjakan soal latihan. Guru mengajarkan algoritma rutin dalam mengerjakan soal, Edo. I.S (2016). Metode ini dipraktekan secara turun temurun. Karena itu siswa merasa jenuh dan tidak tertarik belajar. Elly Risman (2008) mengatakan bahwa,” Ada tiga cara penyampaian yang efektif bagi anak, yakni dengan bermain, bernyanyi, dan bercerita. Sementara Pendekatan pembelajaran yang berlandaskan pada filosofi bahwa matematika merupakan aktivitas Insani adalah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana desain pembelajaran pecahan dengan menggunakan pendekatan Matematika Realistik Konteks Permainan Siki Doka (taplak). Adapun metode penelitian yang digunakan adalah Desain Riset yang dilaksanakan di SDN. Angkasa Kupang dan SDK. Kristen Tunas Bangsa Kupang pada siswa kelas III. Hasilnya adalah siswa sangat antusias dan menikmati seluruh aktivitas pembelajaran karena mereka belajar melalui kegiatan bermain, menggambar, mewarnai, menggunting dan menyusun kertas origami yang berwarna warni. Siswa bukan saja telah memahami konsep pecahan sederhana, membandingkan pecahan sederhana, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan sederhana tetapi juga mereka sudah terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan konsep penjumlahan dan kelipatan pecahan.Kata Kunci: Pembelajaran Pecahan, Konsep Pecahan, Perbandingan Pecahan, Pembelajaran pecahan dengan RME, pembelajaran pecahan conteks permainan tradisional.AbstractFraction is one of hard subject of mathematics. Fractional complexity is not only experienced by students, but also students and teachers. They found difficulty to solve any mathematics problems related to fractions due to weak of fraction concept and disspointed learning method. Because teachers in elementary taught them using lecture method through routin algorthm. Teacher began the lessons by given short explanation, then some routin example provided on students’ text book. In the end of the lessons students did some exercise, Edo.I. S (2016). Therefore, students bored to follow all of learning process. Whereas Elly Risman (2008) said that there are three effective ways to teach children i.e. by playing, singing and storytelling. While Mathematics learning approach which assume that mathematics as human activity is Realistics Mathematics Education (RME). Therefore, this study aimed to design simple fraction learning trajectory using RME approach through traditional game namely siki Doka as a context. The Research method used in this research is Design Research which conducted in SDN Angkasa Kupang and SDK. Tunas Bangsa Kupang in the third grade students. The result showed that students were very enthusiastic and enjoy all the learning activities because they learned while playing, drawing, Coloring, cutting and arrange colorful origami paper. Students not only understand the concept of simple fractions, compare simple fractions, and solve problems related to simple fractions as well they are already involved in the activities to found the concept of fractional addition and its multiples.Keyword: Fractional Learning, Concepts of Fraction, comparing fraction, Fractional Learning using RME approach, fraction learning using traditional game.
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DOMAT Komariah, Imas; Sundayana, Rostina
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.321

Abstract

AbstrakSebagian besar siswa SMP menganggap bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipelajari dan membosankan. Salah satu penyebabnya adalah karena matematika bersifat abstrak serta pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru matematika untuk dapat menggunakan media pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif belajar matematika, sehingga para siswa merasa senang belajar matematika. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan media permainan DOMAT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX-A SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. Adapun hasil penelitian ini adalah pada siklus I belum menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif sebanya 75% (27 orang). Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus pertama belum berhasil dan harus dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan perbaikan tindakan yang dianggap menjadi penyebab ketidakberhasilan. Pada siklus II sudah menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif pada setiap pertemuan 75%. Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus II sudah berhasil. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media permainan domat merupakan salah satu cara atau strategi untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika.Kata Kunci: Aktivitas belajar, Domino Matematika.AbstractMost junior high school students consider that math is a difficult subject to learn and bore. One reason is that mathematics is abstract and the choice of less precise learning method. It is a challenge for math teachers to be able to use instructional media that can involve students actively learning math, so that students feel happy learning math. The purpose of this classroom action research is to find out whether the use of DOMAT game media can improve the learning activity of grade IX-A students of SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. The results of this study is that in cycle I has not shown the achievement of the established success indicators, ie the number of active students sebanya 75% (27 people). That is, the implementation of the action in the first cycle has not been successful and should proceed to the next cycle with the improvement of the action considered to be the cause of the unsuccessfulness. In the second cycle has shown the achievement of a predetermined success indicator, ie the number of students who are active at each meeting 75%. That is, the implementation of action in cycle II has been successful. Thus it can be concluded that the use of domat game media is one way or strategy to increase student activity in learning mathematics.Keyword: Learning Activities, Domino Mathematics.
Mendesain Soal Berbasis Masalah untuk Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Calon Guru Afriansyah, Ekasatya Aldila; Herman, Tatang; Turmudi, Turmudi; Dahlan, Jarnawi Afgani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i2.649

Abstract

AbstrakMahasiswa calon guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis matematis diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan konsep matematika ataupun konsep didaktiknya. Fokus keterampilan berpikir kritis matematis pada mahasiswa calon guru adalah kemampuan untuk mengidentifikasi permasalahan, mencari strategi, melakukan refleksi kembali, dan menganalisis permasalahan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain soal berbasis masalah yang valid dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa calon guru dalam berbagai materi pendidikan menengah. Penelitian ini mengambil jenis penelitian pengembangan, terdiri dari studi literatur, observasi, dan pengembangan soal. Kesimpulan dari penelitian ini hasil validasi expert menunjukan nilai validitas muka 80,35% dan nilai validitas isi 86,85%. Hal ini berarti soal-soal berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis matematis dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam mata kuliah Kapita Selekta Matematika Pendidikan Dasar 1 untuk mahasiswa calon guru. AbstractProspective teacher students who can think critically mathematically are expected to be able to solve problems related to mathematical concepts or didactic concepts. The focus of mathematical critical thinking abilities on prospective teacher-students is the ability to identify problems, find strategies, reflect, and analyze mathematical problems. This study aims to design a valid and practical problem-based activity question to improve students' mathematical critical thinking abilities of prospective teachers in various secondary education materials. This research takes the type of Research and Development, consisting of a study of literature, observation, and development of questions. The conclusion from this study the results of expert validation showed an advance validity value of 80.35% and a value of content validity of 86.85%. This means that problem-based activity questions to improve mathematical critical thinking abilities can be used as learning material in the Kapita Selekta Mathematics Basic Education 1 course for prospective teacher students. 

Page 1 of 26 | Total Record : 254