cover
Contact Name
Yurnalis
Contact Email
jurnal.musiketniknusantara@gmail.com
Phone
+6285263221706
Journal Mail Official
jurnal.musiketniknusantara@gmail.com
Editorial Address
Jl. Bahder Johan 27128, Sumatera Barat
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Musik Etnik Nusantara
Core Subject : Art,
JURNAL MUSIK ETNIK NUSANTARA is an academic journal published by Department of Karawitan, Faculty of Performing Arts, Institut Seni Indonesia Padangpanjang twice a year. This journal publishes original articles with focuses on the results of studies in the field of Indonesian ethnic music. The coverage of topics in this journal includes: Traditional Music Contemporary Music Musik Performence Composition or Arrangement Musicology Ilustration Music Etnomusicology World Music Technology Music Music Education Organology of Music
Articles 14 Documents
Syncop Section Inspirasi Vokal Goreh Tapuk Galambuak Randai Minangkabau dalam Karya Komposisi Musik Karawitan Wikal Husni; Asep Saepul Haris; Rafiloza Rafiloza; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 2 (2021): JUrnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.201 KB) | DOI: 10.26887/jmen.v1i2.2242

Abstract

This musical composition, entitled Syncop Section, was inspired by the game Tapuak Galambuak, the traditional art of Randai in Minangkabau. Tapuak Galambuak is a very interesting game movement in Randai's energetic performance and serves as a transition from changing story segments in Randai art. The Tapuak Galambuak game has a musical movement, in which there is a Goreh vocal music system which is played in a syncopated game pattern with vocal syllables such as hep, tah, tih, has, intertwined with each other by clapping hands on galembong. The principle of the Tapuak Galambuak game has similarities with the rhythm of jazz music such as syncopation, improvisation and unison, so that it becomes a unique one if it is collaborated. Furthermore, the Syncop Section combines two different types of typical music (Tapuak Galambuak and Acid Jazz) but have the same playing principle. Acid Jazz is part of the Jazz music genre that combines several elements from other genres such as Funk, Disco, and Soul. Syncop Section's musical compositions are made using the popular music approach method in the Acid Jazz sub-genre using basic concepts and developments that give rise to a musical collaboration. This work is shown in audio visual form using the concept of Work From Home during the current pandemic. The form of application of this work is presented by means of audio-visual performances aimed at reaching a wider audience.
Pertunjukan Kelintang Tungkal Pada Upacara Malam Tari Inai Oleh Sanggar Serase di Kuala Tungkal Muhammad Farhan; Asril Asril; Sriyanto Sriyanto
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.241 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2006

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendekripsikan struktur tradisi Malam Tari Inai di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Prosesi-prosesi menjelang perkawinan dan prosesi Malam Tari Inai dalam pelaksanaan acara perkawinan yang menghadirkan ansambel tradisi musik Kelintang Tungkal. Bentuk pertunjukan Kelintang Tungkal meliputi struktur, pemain, kostum, lagu, waktu dan tempat pertunjukan. Unsur musikal Kelintang Tungkal seperti tangga nada, motif, frase, syair, pola pukulan gendang dan gong. Analisis lagu Serame dan Begubang yang ada dalam prosesi Malam Tari Inai di Kuala Tungkal. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Dalam analisis bentuk dan elemen-elemen musik dalam tulisan ini dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menyatakan bentuk struktur dalam prosesi Malam Tari Inai dan unsur-unsur musikal kesenian Kelintang Tungkal yang dilakukan oleh Sanggar Serase. Kata kunci: Pertunjukan Kelintang Tungkal; Malam Tari Inai; Sanggar Serase; Serame; Begubang. ABSTRACTThis study aims to reveal and describe the structure of thetradition Inai Dance Night in Kuala Tungkal, West Tanjung Jabung Regency, Jambi Province. Processions before the wedding and theprocession Henna Dance Night in the implementation of the wedding ceremony which presents the traditionalmusical Kelintang Tungkal ensemble. The form of theperformance Kelintang Tungkal includes structure, performers, costumes, songs, time and place of performance.musical elements Kelintang Tungkal such as scales, motifs, phrases, poems, drum patterns and gongs.songanalysis Serame and Begubang contained in the procession hours Tari Inai Kuala Tungkal. The method used is a qualitative method with a descriptive and analytical approach. Data collection techniques were carried out by observation, interviews, literature studies and documentation. In the analysis of the forms and elements of music in this paper is described descriptively. The results of the study stated that the structure of theprocession Henna Dance Night and the musical elements of theart Kelintang Tungkal performed by Sanggar Serase. Keywords: Performance Kelintang Tungkal; Henna Dance Night; Serase Studio; Serame; Begubang. 
Dzikrullah Sebagai Sumber Kreativitas Musik Genre Melayu Bernuasa Islam Mustika Utari Agustin; Elizar Elizar; Desmawardi Desmawardi
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.372 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2011

Abstract

Dzikrullah merupakan karya yang terinspirasi dari ritual keagamaan Ratik Togak yang terdapat di daerah Kuantan Singingi Provinsi Riau. Ratik togak merupakan kesenian ritual bernuansa Islami yang gunanya untuk mengingat kebesaran Allah SWT dengan cara  Zikir bersama. Amalan zikir dan tahlil ini dilakukan masyarakat sambil berdiri yang pembacaannya dilakukan bersama dengan cara berulang-ulang yang terlebih dahulu diawali oleh Mursyid dengan tempo yang lambat kemudian dilakukan bersama-sama dengan tempo yang semakin lama semakin cepat dan kembali berubah kepada tempo yang lambat. Ratik Togak memiliki dua bentuk irama atau melodi yang dimainkan secara berulang ulang dari awal sampai akhir pertunjuka. Berdasarkan pengamatan, terhadap melodi Ratik Togak pengkarya menemukan bentuk tangga nada minor harmonis, tangga nada minor harmonis ini adalah salah satu skala minor, yang tersusun oleh delapan not. Interval antara not yang berurutan dalam skala minor harmonis adalah 1- ½,-1-1- ½- 1 ½, -½. Sebagai contoh skala minor harmonis adalah A-B-C-D-E-F-GIS-A. Modus ini akan menjadi ide utama bagi pengkarya untuk menciptakan sebuah bentuk garapan komposisi baru yang akan digarap dengan menggunakan  pendekatan Populer dengan Genre Melayu, tanpa menghilangkan unsur spiritual tradisi tersebut sehingga memenuhi standar sebuah seni pertunjukan sesuai dengan selera masa kini.Kata Kunci: Ritual; Ratik Togak; Agama Islam; Zikir     ABSTRACTDzikrullah is a work inspired by the religious ritual of Ratik Togak located in the Kuantan Singingi area of Riau Province. Ratik togak is a ritual art with Islamic nuances which is useful for remembering the greatness of Allah SWT by means of dhikr together. The practice of remembrance and tahlil is done by the community while standing, whose readings are carried out together in a repetitive way which is first initiated by the Mursyid at a slow tempo then carried out together with a tempo that is getting faster and faster and returns to a slow tempo. Ratik Togak has two forms of rhythm or melody that are played repeatedly from the beginning to the end of the performance. Based on observations, the composer found the Ratik Togak melody in the form of a harmonic minor scale, this harmonic minor scale is one of the minor scales, which is composed of eight notes. The interval between successive notes in the harmonic minor scale is 1- ,-1-1- - 1 , -½. An example of a harmonic minor scale is A-B-C-D-E-F-GIS-A. This mode will be the main idea for the artist to create a new form of composition that will be worked on using the Popular approach with the Malay Genre, without losing the spiritual element of the tradition so that it meets the standards of a performing art according to today's tastes.Keywords : Ritual; Ratik Togak; Islam; dhikr 
Komposisi Musik Satanggak Duo Rono Sebagai Representasi Kesenian Qasidah Rabano di Ambun Pagi Kabupaten Agam Hasan Basri Durin; Susandra Jaya; Rafiloza Rafiloza
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.312 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2012

Abstract

Kesenian kasidah rabano adalah kesenian bernuansa religi yang berkembang di Jorong Kuok Tigo Koto Nagari Ambun Pagi Kecamatan Matua Mudiak Kabupaten Agam. Dalam kesenian kasidah rabano terdiri dari radad dan empat lagu yaitu: Nabi Barampeh, Musajik di Madinah, Kanak-kanak Dalam Sarugo dan Fatimah Manangih. Prinsip irama dalam kesenian kasidah rabano bersifat repetitif dengan scale minor diatonic. Pada lagu Musajik di Madinah, memiliki fenomena musikal yaitu terdapat perubahan irama yang bergerak naik dengan teknik malismatik pada frase akhir lagu Musajik di Madinah. Pola ritme rabano dimainkan sedikit energik dalam bentuk pola yang berulang-ulang dan batingkah. Saat ini kesenian kasidah rabano tidak lagi berkembang, hal tersebut menjadi urgensi bagi pengkarya dengan mengembangkan kembali kesenian kasidah rabano dalam bentuk pendekatan tradisi yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terfokus pada teknik permainan acapella dan bagian kedua terfokus pada teknik permainan kontras dengan judul Satanggak Duo Rono, yang berarti penggarapan dua bentuk irama dan pola ritme rabano yang bersumber dari lagu Musajik di Madinah dalam kesenian kasidah rabano yang dihadirkan dalam kemasan seni pertunjukan. Kata Kunci: Satanggak Duo Rono; Kasidah Rabano; Radad; Musajik di Madinah; Musik Tradisi ABSTRACTKasidah rabano art is a religious art that developed in Jorong Kuok Tigo Koto Nagari Ambun Pagi District Matua Mudiak Agam Regency. In the art of kasidah rabano consists of radad and four songs namely: Nabi Barampeh, Musajik Di Madinah, Children In Sarugo and Fatimah Manangih. The rhythmic principle in the art of kasidah rabano is repetitive with diatonic minor scales. In The Medina's Musajik song, there is a musical phenomenon that is a change in rhythm that moves up with malmismatic techniques in the final phrase of the song Musajik Di Madinah. Rabano's rhythmic patterns are played a little energetic in the form of repetitive patterns and batteries. Currently the art of kasidah rabano is no longer developed, it becomes an urgency for the craftsman by redeveloping the art of kasidah rabano in the form of a traditional approach consisting of two parts. The first part focuses on acapella game techniques and the second part focuses on game techniques in contrast to the title Satanggak Duo Rono, which means the use of two forms of rhythm and rabano rhythm patterns sourced from the song Musajik Di Madinah in the art of kasidah rabano presented in the packaging of performing arts. Keywords: Satanggak Duo Rono; Kasidah Rabano; Radad; Musajik In Medina; Traditional Music 
Musik Tari Adok di Nagari Koto Sani Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok Syerli Marta Lina; Darmansyah Darmansyah; Arnailis Arnailis
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.096 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2013

Abstract

Musik tari adok merupakan patner sejati yang selalu mengiringi tari adok dalam pertujukannya.  Untuk mengatur tempo kesenian ini mengunakan alat musik gendang bermuka satu yang disebut dengan adok,yang dimainkan oleh satu orang pemusik yang sekaligus sebagai pendendangnya. Dendang yang didendangkan secara terstruktur terdiri dari   lima tanggak  yaitu: 1.Dendang Padah-padah atau disebut juga dengan dendang Buai-buai 2. Dendang  Dendang-dendang  3. Dendang Adau-adau 4. Dendang Dindin-dindin  4. Dendang Sijundai. Dendang ini akan dimainkan sesuai dengan struktur tarinya, dengan sair yang digunakan  biasanya sair yang berbentuk pantun.  kesenian ini biasa ditampilkan pada upacara-upacara adat di Nagari Koto Sani pada waktu malam hari pukul 01.00 wib. Saat ini Tari Adok sudah boleh ditampilkan pada waktu siang hari  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pengumpulan data secara observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menjelaskan tentang bentuk musik tari adok, tari adok, serta keterkaitan antara musik dengan tari adok. Kata kunci: Musik; tari; adok; dendang; pertunjukan ABSTRACT            The adok dance music is a true partner who always accompanies the adok dance in its performances. To set the tempo of this art using a one-faced drum instrument called the adok, which is played by one musician who is also the singer. The song that is sung in a structured manner consists of five steps, namely: 1. Dendang Padah-padah or also called Dendang Buai-buai 2. Dendang Dendang-dendang 3. Dendang Adau-adau 4. Dendang Dindin-dindin 4. Dendang Sijundai. This dendang will be played according to the dance structure, with the rhymes used usually in the form of poem. This art is usually shown at traditional ceremonies in Nagari Koto Sani at night at 01.00 WIB. Currently, Adok Dance is allowed to be performed during the day. This research uses descriptive analysis method with data collection by observation, documentation, and interviews. The results of the study explain the forms of music for the adok dance, the adok dance, and the relationship between music and the adok dance. Keyword: Music; dance; adok; traditional song; performance 
“Five Of Quin” Eksplorasi Nada Pada Pola Ritme Pengantar Lagu Randai Kuantan Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Yoga Ardiyanto; Elizar Elizar; Ediwar Ediwar
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.366 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2014

Abstract

Five Of Quin” ini adalah sebuah karya komposisi musik yang terinspirasi dari pola ritme pengantar lagu musik Randai Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Pengkarya melakukan analisa dan eksplorasi nada dari pola Tersebut sehingga menghasilkan sebuah interval nada baru yaitu A,B,Cis,E,Fis, dan nterval nada baru inilah yang menjadi fokus pengkarya Dalam penggarapan karya ini. Tujuan dari pembuatan karya ini adalah Untuk Melakukan sebuah inovasi (pembaruan) yang berawal dari sebuah Kesenian tradisional di berbagai aspek garap kedalam sebuah komposisi musik yang sesuai dengan konsep yang ditawarkan. Dalam penciptaannya, Pengkarya menggunakan beberapa metode penciptaan, yaitu Observasi, Eksplorasi, Diskusi, Kerja Studio, dan Perwujudan. Komposisi musik ini digarap dengan menggunakan pendekatan popular dengan genre EDM (Electronic Dance Music) dan subgenre house music. Kata Kunci: house music; EDM; five of quin; quin, five ABSTRACT"Five Of Quin" is a music composition works that was inspired by the rhythm pattern of the introduction to the Randai Kuantan music song, Kuantan Singingi Regency, Riau Province. The artist analyzes and explores the tone of the pattern so as to produce a new tone interval, namely A, B, Cis, E, Fis, and it is this new tone interval that is the focus of the author in the making of this work. the purpose of making this work is to carry out an innovation (update) that starts from a traditional art in various aspects of working into a musical composition that is in accordance with the concept offered. In its creation, the creator uses several methods of creation, namely Observation, Exploration, Discussion, Studio Work, and Embodiment. This musical composition was composed using a popular approach with the EDM (Electronic Dance Music) genre and house music subgenre.Keywords: house music;  EDM; five of quin; quin; five
Momongan dalam Upacara Perkawinan dan Kematian di Nagari Talang Kabupaten Solok Nisrina Fadhila; Sriyanto Sriyanto; Yurnalis Yurnalis
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.528 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2015

Abstract

Penelitian ini membahas tentang momongan yang terdapat di Nagari Talang Kab Solok. Momongan merupakan alat musik pukul yang terbuat dari perunggu yang bentuknya mirip dengan alat musik gong yang berukuran kecil, Di Nagari Talang Momongan ini digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi  arak-arakan dalam upacara perkawinan dan ritual kematian, disamping itu momongan juga berfungsi sebagai media hiburan, dan sebagai media komunikasi bagi masyarakat Nagari Talang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan musik momongan dalam arak-arakan pada upacara perkawinan dan ritual kematian berkaitan dengan bentuk dan fungsi musik momongan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, serta wawancara di lapangan. Untuk menjelaskan Bentuk dan Fungsi momongan tersebut penulis menggunakan teori bentuk sedangkan untuk menjelaskan fungsi dari momongan tersebut penulis menggunakan teori fungsi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai konteks penelitian maka penulis melakukan teknik analisis data berupa reduksi data dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukan bahwa musik momongan sampai hari ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya terutama untuk  mengiringi arak-arakan penganten dalam upacara perkawinan dan sebagai musik ritual dalam peristiwa kematian.  Kata Kunci: Musik; momongan; Arak-arakan; Perkawinan; Kematian.   ABSTRACT This study discusses the momongan found in Nagari Talang, Solok Regency. Momongan is a percussion instrument made of bronze which looks similar to a small gong. In Nagari Talang Momongan is used as a musical instrument to accompany processions in wedding ceremonies and death rituals, besides that, Momongan also serves as a medium of entertainment, and as a medium of communication for the people of Nagari Talang. This study aims to describe baby music in processions at wedding ceremonies and death rituals related to the form and function of the baby music. This study uses qualitative methods with data collection techniques in the form of observation, documentation, and interviews in the field. To explain the shape and function of the baby, the writer uses the theory of form, while to explain the function of the baby, the writer uses the theory of function. To get maximum results according to the context of the study, the authors carried out data analysis techniques in the form of data reduction and data presentation. The results of the study show that the music of momongan is still maintained by the supporting community, especially to accompany the procession of the bride and groom in the wedding ceremony and as ritual music in the event of death. Keywords: Music; Momongan; Procession; Marriage; Death.  PENDAHULUAN  Momongan merupakan salah satu kese­nian tradisi yang ada di Nagari Talang, Keca­ma­tan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Musik momongan digunakan oleh masyaakat Nagari Talang pada arak-arakan dalam upa­cara perkawinan dan ritual kema­tian. Momo­ngan merupakan alat musik trade­sio­nal Minang­kabau yang terbuat dari logam atau kuningan, secara organologi termasuk ke dalam alat musik idiophone jenis gong yang mempunyai tombol (Cook,1988) Ansambel momongan yang terdapat di Nagari Talang terdiri dari empat buah intrumen momongan, dimana keempat momongan tersebut mempu­nyai nama dan ukuran yang berbeda-beda yaitu momongan manggomang (terdiri dari dua buah momongan), momongan mang­galogoh, dan momongan manoik. Penamaan dari momongan tersebut, berasal dari bunyi yang dihasilkan oleh masing-masing momongan itu sendiri. Sekaligus untuk memudahkan para pemain dalam membe­daakan antara momo­ngan manggomang, momongan mang­galogoh dan momongan manoik. (Delsuriani dan Pide, Wawancara, 30 Januari 2021).  Musik momongan dimainkan oleh empat orang pemain, yang mana masing-masing pemain memegang satu momongan. Teknik permainan musik momongan dimain­kan dengan cara dipegang dan digua (dipukul) dengan menggunakan satu stick (panokok) yang terbuat dari bahan kayu lunak. Pemain musik momongan pada umumnya terdiri dari wanita paruh baya yang berumur sekitar 35 sampai 60 TahunBagi masyarakat Nagari Talang musik momongan  digunakan pada upacara perkawi­nan yang berfungsi untuk mengarak anak daro jo marapulai dari rumah bako atau keluarga orang tua laki-laki dari pengantin,
Fungsi Dikia Baruda pada Acara Sunat Rasul (Khitanan) di Nagari Andaleh Baruh Bukit Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar Chairunnisa Salsabillah Salsabillah; Desmawardi Desmawardi; Misda Elina; Syafniati Syafniati
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.989 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2016

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan fungsi dikia baruda pada acara sunat rasul di Nagari Andaleh Baruh Bukit Kecamatan Sunagayang Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Pertunjukan kesenian dikia baruda sebagai produk budaya masyarakat ditampilkan pada acara arak-arakan dan dalam posisi duduk dalam masjid, mushallah dan rumah penduduk. Penelitian ini menggunakan metode kulitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan mendata langsung kelapangan. Teori yang digunakan adalah teori fungsi yang di kemukakan oleh Allan P. Merriam dan RM. Soedarsono, adapun teori bentuk yang digunakan adalah teori yang dikemukakan ole Djelantik.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa bentuk pertunjukan kesenian dikia baruda ditinjau dari segi penyajiannya menggunakan, instrument rabano dan vocal yang melantukan syair puji-pujian kepada Allah SWT dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. Selajutnya fungsi pertunjukan dikia baruda pada acara sunat rasul adalah, menyangkut emosional, penghayatan estetis, hiburan, komunkasi, sebagai sarana upacara, sebagai hiburan, dan sebagai sarana tontonan.Kata kunci: Dikia Baruda, Sunat Rasul, Fungsi, BentukABSTRACT This study aims to describe the function of dikia baruda at the apostle circumcision event in Nagari Andaleh Baruh Bukit, Sunagayang District, Tanah Datar Regency, West Sumatra Province. The art performances of Dikia Baruda as a cultural product of the community are displayed at processions and in a sitting position in mosques, prayer rooms and people's homes. This study uses a qualitative method with a descriptive analysis approach by collecting data directly from the field. The theory used is the function theory proposed by Allan P. Merriam and RM. Soedarsono, the theory of form used is the theory proposed by Djelantik. Data collection techniques were carried out by literature study, observation, interviews and documentation. The results of the study indicate that the art form of Dikia Baruda in terms of presentation uses rabano and vocal instruments that sing praises to Allah SWT and glorify the Prophet Muhammad SAW. Furthermore, the function of the dikia baruda performance at the circumcision of the apostle is related to emotional, aesthetic appreciation, entertainment, communication, as a means of ceremony, as entertainment, and as a means of spectacle.Keywords: Dikia Baruda, Apostle Circumcision, Function, Form
Senandung Ngalun Sebagai Interpretasi terhadap Kesenian Senandung Jolo di Kumpe Ilir Muaro Jambi Mirnawati Mirnawati; Yunaidi Yunaidi; Susandra Jaya
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.525 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2017

Abstract

Senandung Jolo merupakan salah satu kesenian tradisi yang berasal dari Kelurahan Tanjung Kecamatan Kumpe Ilir Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Senandung merupakan suatu nyanyian, sedangkan jolo merupakan pantun, jadi senandung jolo merupakan nyanyian yang berbentuk pantun. Pantun yang dibawakan secara spontan dalam bentuk  berbalas-balasan. Senandung Jolo pada prinsipnya nyanyian ungkapan perasaan yang ditujukan terhadap orang yang disukai, dikagumi bahkan dicintai. Di dalam kesenian Senandung Jolo banyak keunikan yang dijumpai yaitu terdapat irama naik dan turun yang bercengkok melayu, sebagaimana masyarakat setempat menyebutnya Ngalun. Selain itu terdapat struktur permainan yang kotak-kotak, namun tetap menghasilkan sebuah sajian pertunjukan yang menarik, dan menjadi inspirasi untuk diwujudkan dalam bentuk karya musik baru yang berjudul Senandung Ngalun. Karya Musik Senandung Ngalun menggunakan metode garap pendekatan tradisi, dimana pengga­rapannya masih tetap mempertimbangkan nilai dan karakter musikalnya tradisi, serta menghadirkan konsep garapan kesenian senandung jolo yang diselingi dengan unsur teaterikal dalam bentuk berbalas pantun yang berisi nasehat kepada muda mudi, sehingga karya yang dihasilkan tetap menyajikan bentuk dan nilai nilai ketradisiannya, meski telah digarap dalam bentuk inovasi baru.Kata Kunci: Senandung Ngalun; Pantun; Nyanyian: Senandung Jolo; Muaro Jambi ABSTRACTSenandung Jolo is one of the traditional arts originating from Tanjung Village, Kumpe Ilir District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. Senandung is a song, while jolo is a rhyme, so humming jolo is a song in the form of a rhyme. Poems that are sung spontaneously in the form of reciprocation. Senandung Jolo, in principle, is a song that expresses feelings aimed at people who are liked, admired and even loved. In the art of Senandung Jolo, there are many unique things that are found, namely there is a rising and falling rhythm that bends with Malay, as local people call it Ngalun. In addition, there is a game structure that is checkered, but still produces an interesting performance presentation, and becomes an inspiration to be realized in the form of a new musical work entitled Senandung Ngalun. Musical work Senandung Ngalun uses a traditional approach to work on the method, where the work still takes into account the values and musical character of the tradition, as well as presents the concept of the art of singing the jolo interspersed with theatrical elements in the form of reciprocated rhymes containing advice to young people, so that the resulting work continues to present the forms and values of its traditions, even though it has been worked on in the form of new innovations.Keywords: Singing Ngalun; Pantun; Singing Jolo; Muaro Jambi
Reinterpretasi Seudati ke Dalam Komposisi Musik “Su Hu” Rico Gusmanto; Rahmatullah Rahmatullah
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 2 (2021): JUrnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.342 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i2.2128

Abstract

“Su Hu” merupakan sebuah komposisi musik karawitan dari hasil reinterpretasi tari seudati. Seudati adalah kesenian tradisional yang berwujud seni tari dari Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Karya musik ini bersumber dari aksentuasi yang terdapat di ketukan syncope pada rukun saleum syahi dari tari seudati. Karya komposisi musik “Su Hu” ini digarap dalam bentuk satu bagian karya dengan mengaktualisasikan aksentuasi di ketukan syncope yang didukung dengan unsur fermata. Karya ini bertujuan untuk menciptakan suatu karya komposisi musik karawitan yang bersumber dari aksentuasi pada ketukan syncope dalam tari seudati menggunakan pendekatan reinterpretasi berdasarkan imajinasi, kreativitas, dan interpretasi pengkarya. Karya ini diwujudkan menggunakan pendekatan reinterpretasi, yaitu dengan cara mengolah aksentuasi ke dalam penggarapan ritme dan melodi yang diaktualisasikan ke dalam wajah yang berbeda dengan bentuk asal dari kesenian aslinya. Gagasan ini diwujudkan menggunakan instrumen tradisional Aceh yang didukung oleh instrumen modern, yaitu seurune kale, rapa’i, dan guitar bass. Metode yang digunakan dalam menciptakan karya ini terdiri dari riset, studio, dan realisasi.

Page 1 of 2 | Total Record : 14