cover
Contact Name
Firdaus Noor
Contact Email
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Phone
+6221-3159687
Journal Mail Official
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya No. 73 Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya
ISSN : 26142767     EISSN : 28283015     DOI : -
Urban: Jurnal Seni Urban is published twice a year (Apr and October) issued by the Postgraduate School of the Jakarta Institute of the Arts. Urban provides open access to the public to read abstract and complete papers. Urban focuses on creation and research of urban arts and cultural industries. Each edition, Urban receives a manuscript that focuses on the following issues with an interdisciplinary and multidisciplinary approach, which are: 1. Film 2. Television 3. Photograph 4. Theatre 5. Music 6. Dance 7. Ethnomusicology 8. Interior Design 9. Fine Arts 10. Art of Craft 11. Fashion Design 12. Visual Communication Design 13. Literature
Articles 64 Documents
Kolaborasi Seni Dan Teknologi
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.26

Abstract

Representasi Folklor Bali Dalam Video Game Pamali: The Hungry Witch
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 5, No.2: Oktober 2021
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v5i2.50

Abstract

The creative video game industry continues to grow and is in demand by the public, one of which is as an interactive entertainment medium. The following article will present an overview of the representation of Balinese folklore in the video game Pamali: The Hungry Witch which was developed by Studio Storytale. The analysis in this paper focuses on the visual aspect which is one of the main factors in a video game. The visual aspect of the corpus of data studied was reviewed with a semiotic approach initiated by Roland Bhartes. The research method used in this study is a qualitative descriptive method. The results of the study show that there are denotative, connotative, and mythical meanings of the games studied which are closely related to the traditions and culture that developed in Indonesia, especially on the island of Bali about the figure of Leak. In addition, the narrative and visual analysis of the video game Pamali: The Hungry Witch also shows the mindset, perspective, and collective memory of the Indonesian people regarding mystical things (occult).Industri kreatif video game terus berkembang dan diminati oleh masyarakat salah satunya sebagai media hiburan interaktif. Tulisan berikut ini akan menghadirkan tinjauan representasi folklor Bali dalam video game Pamali: The Hungry Witch yang digarap oleh Studio Storytale. Analisis pada tulisan ini menitikberatkan pada aspek visual yang merupakan salah satu faktor utama dalam sebuah video game. Aspek visual pada korpus data yang diteliti ditinjau dengan pendekatan semiotika yang digagas oleh Roland Bhartes. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat makna denotatif, konotatif, dan mitos dari game yang diteliti yang berkaitan erat dengan tradisi dan budaya yang berkembang di Indonesia, khususnya di Pulau Bali tentang sosok Leak. Selain itu, analisis narasi dan visual pada video game Pamali: The Hungry Witch juga memperlihatkan tentang pola pikir, cara pandang, dan memori kolektif masyarakat Indonesia mengenai hal-hal mistis (gaib).
Ruang Kuliner dan Kelas Sosial di Jakarta
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 2, No.1: April 2018
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v2i1.6

Abstract

Jakarta as a metropolitan city provides various types of public space. This paper focused on culinary spaces in urban Jakarta. Food is not only basic necessity for human, it also delivers symbolic messages. Through public dining areas, we could reveal various problems regarding social class of the visitors. On this paper, we will analyze three public dining areas: Plataran Dharmawangsa, Waroeng Solo, and Warung Mbak Yati which are considered to represent the upper, middle, and lower social classes. This paper uses Bourdieu’s distinction, arena, and capital and Lefebvre’s concept of space -which is specified by Low and Smith. This paper reveals that Bourdieu’s notions explained several things about culinary spaces and social class in urban Jakarta. Sebagai kota metropolitan, Jakarta menyediakan banyak jenis ruang – dalam berbagai arti – kepada penduduknya. Ruang yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah ruang kuliner di urban Jakarta. Makanan bukan hanya kebutuhan, tetapi juga menyampaikan pesan simbolis. Dengan demikian, melalui ruang tempat makan sebagai ruang publik dapat diungkap berbagai hal terkait kelas sosial pengunjungnya. Dengan melihat tiga jenis tempat makan: Plataran Dharmawangsa, Waroeng Solo, Warung Mbak Yati yang dianggap mewakili kelas sosial atas, menengah, dan bawah, penelitian kecil ini akan mencoba mengungkap relasi tempat makan dan kelas sosial dalam masyarakat Jakarta. Analisis menggunakan pemikiran Bourdieu tentang distingsi (distinction), arena, dan kapital sementara konsep ruang didasarkan kepada Lefebvre yang dispesifikkan oleh Low dan Smith. Penelitian kecil ini mengungkap bahwa pemikiran Bourdieu menjelaskan beberapa hal tentang ruang kuliner dan kelas sosial di urban Jakarta.
Representasi Makanan Tradisional Jakarta Dalam Komposisi Foodporn Di Media Sosial Instagram
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 1, No.1: April 2017
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v1i1.17

Abstract

Hashtag Foodporn is a word or a phrase used in social media world preceeded by the pound sign, which is used in a message to identify and to provide keyword for an idea inflicted by the visual of a food. Hashtag composition is one of a form of communication in Instagram. It’s development has became a phenomenon in social media and has spread all over the world, including to Jakarta. Foodporn is a jargon in the culinary world, it’s presence signify that hashtag Foodporn is a visual culture already embedded in the social life of urban communities. In relation to Jakarta™s traditional dish, Foodporn binds iteself to food pictures and other hashtags as a part of communication and identification. Hashtag Foodporn for Jakarta’s traditonal food which is closely related to Betawi culture, becomes an urban society’s representation of response to visual culture; an attempt to present the idea and taste contained in the taste and visuals of food. This research aimed to explain the relation between image and text in Instagram. The inseparability of Foodporn and culinary world in social media is bridged by photography, and ideas and looks perfected by Instagram.Hashtag Foodporn adalah sebuah kata atau frase dalam dunia sosial media– website--, yang didahului oleh tanda “#†digunakan dalam sebuah pesan untuk mengidentifikasi dan memberikan kata kunci terhadap ide dari tampilan visual sebuah makanan. Komposisi hashtag adalah salah bentuk komunikasi dalam Instagram. Perkembangannya saat ini sudah menjadi fenomena di media sosial dan menyebar ke seluruh dunia tidak terkecuali di Jakarta. Foodporn menjadi sebuah jargon dalam dunia kuliner, kehadirannya menjadi penanda bahwa  hashtag Foodporn menjadi budaya visual yang tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat urban. Dalam kaitannya dengan makanan tradisional Jakarta, Foodporn mengikatkan dirinya kepada gambar–gambar makanan dengan hashtag lainnya sebagai sebuah bagian dari komunikasi dan identifikasi. Hashtag Foodporn dalam makanan tradisional Jakarta yang dekat dengan budaya Betawi, kini menjadi sebuah representasi masyarakat Jakarta yang hidup di ruang urban dalam merespon sebuah budaya visual. Penelitian ini mencoba menjelaskan hubungan antara image dan teks dalam media sosial Instagram. Foodporn dan kuliner tidak dapat dipisahkan dari dunia sosial media, fotografi menjadi alat untuk menjembataninya dan Instagram menjadi media yang menyempurnakannya dengan ide dan tampilannya. 
Keurbanan Dan Penelitian Artistik
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 2, No.2: Oktober 2018
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v2i2.20

Abstract

Aransemen Musik Populer dalam Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.63

Abstract

Kolintang is a traditional musical instrument from Minahasa, North Sulawesi. This music is traditional because the instruments or instruments are made of wood. This music is played by hitting so that the type of music is included in the type of pitched percussion music. Kolintang music is a type of musical instrument that can play various genres of music, ranging from keroncong, classical, jazz, chacha, and so on. With its openness to various genres, the music from Minahasa is certainly played with a certain arrangement. There are two arrangement models that the author will describe in this paper, namely the standard arrangement with three chords and the modern arrangement with progressive chords. In this article, the author will describe these two arrangement models to show that the audience’s enthusiasm is also determined by an attractive arrangement in a kolintang musical performance. The method used is a method of comparison of two different arrangements. From the search conducted, the author will show that kolintang music can be arranged with various chords and musical genres. Thus, it was found that the novelty that emerged was that the kolintang musical arrangements that could be presented with various genres were part of the adaptation to the popular arrangement model. So, the development and progress of music that occurs in general can also be found in kolintang music, especially with regard to the problem of arrangement as seen in the data studied.Kolintang adalah alat musik tradisional dari Minahasa, Sulawesi Utara. Musik ini bersifat tradisional karena instrumen atau alatnya terbuat dari kayu. Musik ini dimainkan dengan cara pukul sehingga jenis musiknya termasuk ke dalam jenis musik perkusi bernada. Musik kolintang adalah jenis alat musik yang dapat memainkan berbagai genre musik, mulai dari keroncong, klasik, jaz, chacha, dan lain sebagainya. Dengan keterbukaannya pada berbagai genre, musik asal Minahasa ini tentu dimainkan dengan sebuah aransemen tertentu. Terdapat dua model aransemen yang akan penulis uraikan dalam tulisan ini, yakni aransemen standar dengan tiga akor dan aransemen modern dengan akor progresif. Dalam artikel ini, penulis akan menguraikan kedua model aransemen ini untuk memperlihatkan bahwa antusias audiens juga ditentukan oleh aransemen yang menarik dalam sebuah penampilan musik kolintang. Metode yang digunakan adalah metode perbandingan dua aransemen yang berbeda. Dari penelusuran yang dilakukan, penulis akan memperlihatkan bahwa musik kolintang dapat diaransemen dengan berbagai akor serta genre musik. Dengan demikian, didapatkan hasil bahwa kebaruan yang muncul adalah bahwa aransemen musik kolintang yang dapat disuguhkan dengan berbagai genre itu merupakan bagian dari adaptasi dengan model aransemen yang populer. Jadi, perkembangan dan kemajuan musik yang terjadi pada umumnya juga dapat ditemukan dalam musik kolintang, khususnya berkaitan dengan masalah aransemen sebagaimana terlihat pada data yang diteliti.
Dunia Urban Kontemporer: Dari Lurik Sampai Game Horor
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 3, No.2: Oktober 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i2.33

Abstract

Film Fiksi.: Antara Identitas Film Nasional dan Sinema Pasca-Orde Baru
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 1, No.2: Oktober 2017
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v1i2.13

Abstract

he term ‘national film’ has a long history, and in some circles is a subject of debate, going to the terms “Third Cinema” and “First Cinema”. The basic question with what is called ‘national film’ will be discussed in this paper, by analyzing the film Fiksi. (2008). The choice of this movie is based on its director, who is a woman, and was produced after the New Order. This paper discusses how a post-New Order women-directed film tries to create a ‘national film’ identity. Furthermore, the writer tries to analyze the question of women representation in the Fiksi. film or a sharp distinction between the New Order film discourse and Fiksi. This film shows a cautious approach towards the ‘national film’ identity, even though it is filled with various gender and social issues. As a post-New Order cinema, this film is lucky in that it did not have to face censorship on its critique. Istilah film nasional ini pun memiliki sejarah panjang dan menjadi perdebatan di beberapa kalangan dengan mengacu pada istilah “Sinema Ketiga” dan “Sinema Pertama”. Pertanyaan mendasar dengan apa yang disebut dengan film nasional akan dibahas dalam tulisan ini dengan menganalisis film Fiksi. (2008). Pemilihan film ini juga didasari atas film yang bersutradara perempuan dan yang diproduksi pasca-Orde Baru. Tulisan ini membahas bagaimana sebuah film pasca-Orde Baru yang disutradarai perempuan berupaya untuk memiliki identitas sebagai film nasional. Selain itu, pertanyaan tentang bagaimana representasi perempuan pada film Fiksi. atau adakah perbedaan yang mencolok antara wacana film Orde Baru dan film Fiksi., terutama dalam hal representasi perempuan juga akan muncul. Film ini kemudian menunjukkan identitas sebagai film nasional yang masih gamang meskipun di dalamnya sarat isu gender dan isu-isu sosial. Sebagai sinema pasca-Orde Baru, film ini beruntung karena tidak perlu terkena sensor atas kritiknya.
Karakter Srimulat: Alih Wahana, Memori Kolektif, dan Identitas Humor Indonesia
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 5, No.1: April 2021
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v5i1.47

Abstract

Changes are inevitable in everyone’s life. This condition almost always pushes artists to find new strategies in order to keep their works accepted by public at large. One of Indonesia’s comedy group called Srimulat is one of the art groups who have made some efforts to keep their existence. In this spirit, a comic artist, Hari Prast, has tried to bring back the identity and character of the Srimulat members through digital comic media. This article delves into the strategies used by the comedy group Srimulat and by Hari Prast using comic media. The analysis uses descriptive method through adaptation study in order to find the strategies of maintaining the character and identity of the comedy group of Srimulat. The result of the analysis shows that through adaptation – specifically through comic media, the character and identity of Srimulat’s jokes are maintainable up until now. In the adaptation process, the existence of the people’s and the art audience’s collective memory play an important role as the connecting bridge between work of arts and the audience who appreciate it. The link between the past and present knowledge of a community can be built through the strategy of adaptation so that the artists and their works can sustain and known from one generation to the next generation. Perubahan zaman tak terhindarkan bagi siapa saja. Keadaan ini sering kali membuat seniman  harus melakukan berbagai strategi pemertahanan terhadap karyanya agar tetap bisa diterima dan bertahan. Grup lawak Srimulat adalah salah satu kelompok seni yang melakukan berbagai strategi pemertahanan agar tetap eksis. Sejalan dengan itu, komikus Hari Prast mencoba menghadirkan kembali identitas dan karakter personel Srimulat lewat media komik digital.  Artikel ini akan memaparkan pemertahanan yang dilakukan oleh grup lawak Srimulat dan juga oleh Hari Prast lewat media komik. Analisis dilakukan dengan metode analisis deskriptif melalui pendekatan kajian alih wahana untuk melihat strategi pemertahanan karakter dan identitas grup lawak Srimulat. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui alih wahana salah satunya melalui media komik, karakter dan identitas lawakan Srimulat dapat terus bertahan hingga saat ini. Dalam proses pengalihwahanaan itu, keberadaan memori kolektif masyarakat dan penikmat karya seni sangat berperan penting sebagai jembatan penghubung antara karya seni dengan masyarakat penikmatnya. Pertalian antara pengetahuan masa lalu dan masa kini sebuah komunitas dapat dihubungkan melalui strategi alih wahana agar seniman dan karyanya  tetap dapat bertahan dan dikenal dari satu generasi ke generasi berikutnya. 
Representasi Buketan Pada Batik Oey Soe Tjoen
Urban: Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.27

Abstract

Batik Pekalongan has its own characteristic, which is different from the other coastal batik in the northern part of Java. Oey Soe Tjoen batik is one type of batik from Kedungwuni, Pekalongan. This batik is widely recognized because of its quality in technique that offers detailed and fine works. The term buketan came from a French word ‘bouquet’ meaning flower arrangement. Buketan motif produced by Oey Soe Tjoen batik was inspired by buketan motif made by Dutch batik makers who were living in Pekalongan in colonial times. Buketan motif is one of the types of the main motifs produced by Oey Soe Tjoen batik other than the motifs of merak ati, cuwiri, and urang ayu. This research uses qualitative method utilizing interviews, field observation and literature study to collect data. Since the first generation, Oey Soe Tjoen has experiences some changes in its buketan motif. The context of time and also the batik market of each generation influenced this change. Applying Stuart Hall’s circuit of culture theory, this research is to delve into how the buketan motif on sarong clothes that has been produced for three generations are applied.Batik Pekalongan mempunyai ciri khas atau karakter yang berbeda dengan batik dari daerah pesisir lainnya. Batik Oey Soe Tjoen merupakan batik yang berasal dari daerah Kedungwuni, Pekalongan. Batik Oey Soe Tjoen dikenal luas karena kualitas teknik pengerjaannya yang detail serta halus. Buketan berasal dari kata bouquet yang merupakan kata bahasa Perancis yang berarti rangkaian bunga. Motif buketan yang dibuat oleh Batik Oey Soe Tjoen terinspirasi oleh motif buketan yang dibuat oleh pembatik Belanda saat itu yang ada di Pekalongan. Motif buketan merupakan salah satu jenis ragam hias motif utama yang dibuat oleh Batik Oey Soe Tjoen selain motif merak ati, cuwiri, dan urang ayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bantuan wawancara, observasi lapangan, dan studi pustaka dalam mengumpulkan data. Sejak dirintis oleh generasi pertama, batik Oey Soe Tjoen telah mengalami beberapa perubahan motif buketan yang dihasilkan. Perubahan ini dipengaruhi oleh konteks zaman maupun pasar batik setiap generasi. Penelitian ini, yang menggunakan teori sirkuit kebudayaan dari Stuart Hall, dilakukan untuk mengkaji bagaimana motif buketan pada kain sarung hasil dari tiga generasi yang berbeda ditampilkan.