Winni Maharani
Department Of Microbiology, Faculty Of Medicine, Universitas Islam Bandung, Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Folic Acid Usual Doses Decrease the Buccal Micronucleus Frequency on Smokers Yuktiana Kharisma; Meta Maulida Damayanti; Fajar Awalia Yulianto; Santun Bhekti Rahimah; Winni Maharani; Meike Rachmawati; Herri S. Sastramihardja; Muhammad Alief Abdul ‘Aziiz; Muhammad Ilham Halim
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v7i2.4414

Abstract

Cigarette contains toxic chemical compounds that trigger DNA instability. Initial genotoxic oral cavity characterized by the appearance of micronucleus (MN) in the buccal mucosa. Folate is needed in maintaining DNA stability. This study aimed to compare the effects of folic acid usual doses (400 mcg and 1.000 mcg) on the MN frequency of buccal mucosa in active smokers. It is a clinical trial conducted in November 2018 in the Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung of 53 active smokers who divided into two treatment groups. Group A was administered by 400 mcg and group B 1,000 mcg folic acid supplementation within three weeks. The buccal mucosa smear stained with hematoxylin-eosin (HE) and observed through a light microscope with 100× and 400× magnification. Data were analyzed by the Wilcoxon test statistically. The results showed that there was a significant decrease (p=0.00) in MN frequency in folic acid supplementation for three weeks, namely group A=6.39±3.92 and group B=6.93±5.82 in pre-supplementation, and group A=3.80±2.66 and group B=3.31±2.71 post-supplementation of folic acid. Giving a dose of 400 mcg and 1,000 mcg for three weeks did not provide significant results (p=0.94) with Kruskal-Wallis test. In conclusion, administration of folic acid at usual dose give results to a decrease in the buccal mucosa MN frequency in active smokers. ASAM FOLAT DOSIS LAZIM MENURUNKAN FREKUENSI MIKRONUKLEUS MUKOSA BUKAL PADA PEROKOKAsap rokok mengandung senyawa kimia toksik yang memicu ketidakstabilan DNA. Deteksi genotoksik awal  rongga mulut ditandai dengan kemunculan mikronukleus (MN) pada mukosa bukal. Folat diperlukan dalam menjaga kestabilan DNA. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek asam folat dosis lazim (400 mcg dan 1.000 mcg) terhadap frekuensi MN mukosa bukal pada perokok aktif. Penelitian ini merupakan uji klinis yang dilakukan pada bulan November 2018 di Laboratorium Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung terhadap 53 perokok aktif yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok A mendapatkan suplementasi asam folat 400 mcg dan kelompok B mendapatkan suplementasi asam folat 1.000 mcg selama tiga pekan. Apus mukosa bukal diwarnai dengan hematoxylin-eosin (HE) dan diamati melalui mikroskop cahaya dengan pembesaran 100× dan 400x. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan frekuensi MN yang signifikan (p=0.00) terhadap suplementasi asam folat selama tiga minggu, yaitu kelompok A=3,80±2,66 dan kelompok B=3,31±2,71 pada pre-suplementasi, serta kelompok A=6,39±3,92 dan kelompok B=6,93±5,82 pascasuplementasi asam folat. Pemberian dosis 400 mcg dan 1.000 mcg selama tiga minggu tidak memberikan hasil yang bermakna (p=0,94) berdasar atas Uji Kruskal-Wallis. Simpulan, pemberian asam folat dosis lazim memberikan hasil baik terhadap penurunan frekuensi MN mukosa bukal pada perokok aktif.
A Comparative Evaluation of Community Periodontal Index (CPI) and the Presence of Nicotine Stomatitis among Smokers after Oral Hygiene Instruction Meta Maulida Damayanti; Yuktiana Kharisma; Fajar Awalia Yulianto; Santun Bhekti Rahimah; Winni Maharani; Meike Rachmawati; Herri S. Sastramihardja; Muhammad Alief Abdul ‘Aziiz; Muhammad Ilham Halim
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v8i1.5915

Abstract

Smoking can cause periodontal disease as well as lesions in the oral mucosa. Nicotine stomatitis is inflammation caused by heat stimuli injury on the hard and soft palate of the oral cavity; smokers commonly suffer from this condition. Knowledge of how oral hygiene affects the health of dental and oral cavity. The purpose of this study was to describe the differences in community periodontal index (CPI) and nicotine stomatitis in smokers after oral hygiene instruction. The study subjects were 54 men who have a history of active smoking for more than five years. The experiment was carried out in the Biomedical Laboratory of Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung in September 2018–January 2019. Dental examination initiated before and after dental health instructions. CPI and nicotine stomatitis tests performed on all subjects by dentists using dental instruments. After six weeks of information about oral hygiene, all subjects re-examined. The results show that there is a statistically significant difference in the average CPI value in smokers before and after dental instruction with a p value<0.001 (p≤0.05). In contrast, the condition of nicotine stomatitis remains the same. CPI value influenced by oral and dental hygiene showed that dental health instruction is very effective. However, stomatitis has not healed as long as the cause is not eliminated. EVALUASI KOMPARATIF COMMUNITY PERIODONTAL INDEX (CPI) DAN STOMATITIS NIKOTIN DI KALANGAN PEROKOK SETELAH INSTRUKSI KEBERSIHAN MULUTMerokok dapat menyebabkan penyakit pada periodontal maupun lesi pada mukosa mulut. Stomatitis nikotin merupakan inflamasi yang disebabkan oleh panas yang terdapat pada palatum keras dan lunak; perokok umumnya menderita kondisi ini. Pengetahuan mengenai tata cara kebersihan mulut memengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut. Tujuan penelitian ini menilai perbedaan community periodontal index (CPI) dan stomatitis nikotin pada perokok setelah instruksi kebersihan mulut. Subjek penelitian adalah 54 pria yang memiliki riwayat merokok aktif selama lebih dari lima tahun. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung pada bulan September 2018–Januari 2019. Pemeriksaan dental dilakukan sebelum dan setelah instruksi kesehatan gigi. Pemeriksaan CPI dan stomatitis nikotin dilakukan kepada seluruh subjek oleh dokter gigi menggunakan instrumen gigi. Setelah enam minggu mendapatkan penyuluhan mengenai kebersihan mulut, seluruh subjek diperiksa kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik nilai CPI rerata pada perokok sebelum dengan setelah dilakukan instruksi kesehatan gigi dengan p<0,001 (p≤0,05). Sebaliknya, kondisi stomatitis nikotin tetap sama. Nilai CPI dipengaruhi oleh kebersihan gigi dan mulut sehingga instruksi kesehatan gigi sangat efektif. Akan tetapi, stomatitis tidak dapat sembuh selama penyebabnya tidak dihentikan.
The Development of Germicidal Air Purifier by Employing Ultraviolet System in Controlling Airborne Bacteria Nur Atik; Siska Widya Dewi Kusumah; Fitria Mahrunnisa; Winni Maharani; Windi Nurdiawan; Putu Indra Cyntia Dewi; Erda Avriyanti; Dede Suhendi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v8i3.6580

Abstract

The nosocomial infection could be acquired through airborne disease in the hospital. However, only a particular health center in Indonesia carried out a complete, cautious prevention procedure by utilizing air purifiers due to cost problems. Thus, to minimize the number of nosocomial infections related to bacterial air pollutants, excellent tools with low cost are required to address this problem. We developed an ultraviolet light system within the air purifier at a low cost and the best way to eradicate pathogenic microorganisms in the healthcare center. The study was conducted at the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung in 2009–2010. The room prototype was built from a transparent glass material with two holes at the upper corner as an inlet and outlet pipeline canal. In the middle of the pipeline circulation, a vacuum pump, ultraviolet system, and a cooler were installed so the air will initially flow through those devices before being re-circulated into the room through the pipeline's inlet hole. A fan was set on the room floor, and several ten-centimeter apart, Petri dishes containing microbial growth medium were placed. The microbial colonies from the room with and without the installed ultraviolet system in the air purifier were then compared for analysis. The result showed that an air purifier equipped with an ultraviolet system killed microorganisms 73% more effective than the air purifier without an ultraviolet system (p<0.05). In conclusion, employing an ultraviolet system within the air purifier might be effectively killed microorganisms and ultimately reduce nosocomial infection. PENGEMBANGAN AIR PURIFIER RUANGAN DENGAN PEMANFAATAN SINAR ULTRAVIOLET UNTUK MEMBUNUH MIKROB BAWAAN UDARAInfeksi nosokomial dapat ditularkan melalui penyakit yang ditularkan melalui udara di rumah sakit. Namun, hanya rumah sakit atau pelayanan kesehatan tertentu di Indonesia yang melakukan prosedur pencegahan infeksi nosokomial secara optimal dengan memanfaatkan air purifier karena kendala biaya. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan jumlah infeksi nosokomial yang terkait dengan bakteri pencemar udara diperlukan pengembangan air purifier yang baik dengan biaya yang murah. Kami telah mengembangkan sistem pembersih udara yang terintegrasi sinar ultraviolet dengan biaya rendah untuk mengurangi mikroorganisme patogen di ruang pelayanan kesehatan. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2009–2010. Prototipe ruangan dibuat dari bahan kaca transparan dengan dua lubang di sudut atas sebagai ruang instalasi pipa saluran masuk dan keluar. Pada bagian tengah sirkulasi pipa dipasang pompa vakum, sistem ultraviolet, dan pendingin sehingga udara akan mengalir melewati alat-alat tersebut sebelum disirkulasikan kembali ke dalam ruangan melalui lubang masuk pipa. Sebuah kipas dipasang pada prototipe ruangan dan setiap jarak sepuluh sentimeter ditempatkan cawan Petri yang berisi media pertumbuhan mikrob. Koloni mikrob dari ruangan model dengan dan tanpa sistem ultraviolet yang terpasang di air purifier, kemudian dibandingkan untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air purifier yang dilengkapi sistem ultraviolet membunuh mikroorganisme 73% lebih efektif daripada air purifier tanpa sistem ultraviolet (p<0,05). Simpulan, penggunaan sistem ultraviolet dalam air purifier efektif membunuh mikroorganisme dan pada akhirnya dapat mengurangi infeksi nosokomial.