Winni Maharani
Department Of Microbiology, Faculty Of Medicine, Universitas Islam Bandung, Bandung

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Folic Acid Usual Doses Decrease the Buccal Micronucleus Frequency on Smokers Yuktiana Kharisma; Meta Maulida Damayanti; Fajar Awalia Yulianto; Santun Bhekti Rahimah; Winni Maharani; Meike Rachmawati; Herri S. Sastramihardja; Muhammad Alief Abdul ‘Aziiz; Muhammad Ilham Halim
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.007 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i2.4414

Abstract

Cigarette contains toxic chemical compounds that trigger DNA instability. Initial genotoxic oral cavity characterized by the appearance of micronucleus (MN) in the buccal mucosa. Folate is needed in maintaining DNA stability. This study aimed to compare the effects of folic acid usual doses (400 mcg and 1.000 mcg) on the MN frequency of buccal mucosa in active smokers. It is a clinical trial conducted in November 2018 in the Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung of 53 active smokers who divided into two treatment groups. Group A was administered by 400 mcg and group B 1,000 mcg folic acid supplementation within three weeks. The buccal mucosa smear stained with hematoxylin-eosin (HE) and observed through a light microscope with 100× and 400× magnification. Data were analyzed by the Wilcoxon test statistically. The results showed that there was a significant decrease (p=0.00) in MN frequency in folic acid supplementation for three weeks, namely group A=6.39±3.92 and group B=6.93±5.82 in pre-supplementation, and group A=3.80±2.66 and group B=3.31±2.71 post-supplementation of folic acid. Giving a dose of 400 mcg and 1,000 mcg for three weeks did not provide significant results (p=0.94) with Kruskal-Wallis test. In conclusion, administration of folic acid at usual dose give results to a decrease in the buccal mucosa MN frequency in active smokers. ASAM FOLAT DOSIS LAZIM MENURUNKAN FREKUENSI MIKRONUKLEUS MUKOSA BUKAL PADA PEROKOKAsap rokok mengandung senyawa kimia toksik yang memicu ketidakstabilan DNA. Deteksi genotoksik awal  rongga mulut ditandai dengan kemunculan mikronukleus (MN) pada mukosa bukal. Folat diperlukan dalam menjaga kestabilan DNA. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek asam folat dosis lazim (400 mcg dan 1.000 mcg) terhadap frekuensi MN mukosa bukal pada perokok aktif. Penelitian ini merupakan uji klinis yang dilakukan pada bulan November 2018 di Laboratorium Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung terhadap 53 perokok aktif yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok A mendapatkan suplementasi asam folat 400 mcg dan kelompok B mendapatkan suplementasi asam folat 1.000 mcg selama tiga pekan. Apus mukosa bukal diwarnai dengan hematoxylin-eosin (HE) dan diamati melalui mikroskop cahaya dengan pembesaran 100× dan 400x. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan frekuensi MN yang signifikan (p=0.00) terhadap suplementasi asam folat selama tiga minggu, yaitu kelompok A=3,80±2,66 dan kelompok B=3,31±2,71 pada pre-suplementasi, serta kelompok A=6,39±3,92 dan kelompok B=6,93±5,82 pascasuplementasi asam folat. Pemberian dosis 400 mcg dan 1.000 mcg selama tiga minggu tidak memberikan hasil yang bermakna (p=0,94) berdasar atas Uji Kruskal-Wallis. Simpulan, pemberian asam folat dosis lazim memberikan hasil baik terhadap penurunan frekuensi MN mukosa bukal pada perokok aktif.
A Comparative Evaluation of Community Periodontal Index (CPI) and the Presence of Nicotine Stomatitis among Smokers after Oral Hygiene Instruction Meta Maulida Damayanti; Yuktiana Kharisma; Fajar Awalia Yulianto; Santun Bhekti Rahimah; Winni Maharani; Meike Rachmawati; Herri S. Sastramihardja; Muhammad Alief Abdul ‘Aziiz; Muhammad Ilham Halim
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1150.723 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i1.5915

Abstract

Smoking can cause periodontal disease as well as lesions in the oral mucosa. Nicotine stomatitis is inflammation caused by heat stimuli injury on the hard and soft palate of the oral cavity; smokers commonly suffer from this condition. Knowledge of how oral hygiene affects the health of dental and oral cavity. The purpose of this study was to describe the differences in community periodontal index (CPI) and nicotine stomatitis in smokers after oral hygiene instruction. The study subjects were 54 men who have a history of active smoking for more than five years. The experiment was carried out in the Biomedical Laboratory of Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung in September 2018–January 2019. Dental examination initiated before and after dental health instructions. CPI and nicotine stomatitis tests performed on all subjects by dentists using dental instruments. After six weeks of information about oral hygiene, all subjects re-examined. The results show that there is a statistically significant difference in the average CPI value in smokers before and after dental instruction with a p value<0.001 (p≤0.05). In contrast, the condition of nicotine stomatitis remains the same. CPI value influenced by oral and dental hygiene showed that dental health instruction is very effective. However, stomatitis has not healed as long as the cause is not eliminated. EVALUASI KOMPARATIF COMMUNITY PERIODONTAL INDEX (CPI) DAN STOMATITIS NIKOTIN DI KALANGAN PEROKOK SETELAH INSTRUKSI KEBERSIHAN MULUTMerokok dapat menyebabkan penyakit pada periodontal maupun lesi pada mukosa mulut. Stomatitis nikotin merupakan inflamasi yang disebabkan oleh panas yang terdapat pada palatum keras dan lunak; perokok umumnya menderita kondisi ini. Pengetahuan mengenai tata cara kebersihan mulut memengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut. Tujuan penelitian ini menilai perbedaan community periodontal index (CPI) dan stomatitis nikotin pada perokok setelah instruksi kebersihan mulut. Subjek penelitian adalah 54 pria yang memiliki riwayat merokok aktif selama lebih dari lima tahun. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung pada bulan September 2018–Januari 2019. Pemeriksaan dental dilakukan sebelum dan setelah instruksi kesehatan gigi. Pemeriksaan CPI dan stomatitis nikotin dilakukan kepada seluruh subjek oleh dokter gigi menggunakan instrumen gigi. Setelah enam minggu mendapatkan penyuluhan mengenai kebersihan mulut, seluruh subjek diperiksa kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik nilai CPI rerata pada perokok sebelum dengan setelah dilakukan instruksi kesehatan gigi dengan p<0,001 (p≤0,05). Sebaliknya, kondisi stomatitis nikotin tetap sama. Nilai CPI dipengaruhi oleh kebersihan gigi dan mulut sehingga instruksi kesehatan gigi sangat efektif. Akan tetapi, stomatitis tidak dapat sembuh selama penyebabnya tidak dihentikan.
The Development of Germicidal Air Purifier by Employing Ultraviolet System in Controlling Airborne Bacteria Nur Atik; Siska Widya Dewi Kusumah; Fitria Mahrunnisa; Winni Maharani; Windi Nurdiawan; Putu Indra Cyntia Dewi; Erda Avriyanti; Dede Suhendi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.59 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i3.6580

Abstract

The nosocomial infection could be acquired through airborne disease in the hospital. However, only a particular health center in Indonesia carried out a complete, cautious prevention procedure by utilizing air purifiers due to cost problems. Thus, to minimize the number of nosocomial infections related to bacterial air pollutants, excellent tools with low cost are required to address this problem. We developed an ultraviolet light system within the air purifier at a low cost and the best way to eradicate pathogenic microorganisms in the healthcare center. The study was conducted at the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung in 2009–2010. The room prototype was built from a transparent glass material with two holes at the upper corner as an inlet and outlet pipeline canal. In the middle of the pipeline circulation, a vacuum pump, ultraviolet system, and a cooler were installed so the air will initially flow through those devices before being re-circulated into the room through the pipeline's inlet hole. A fan was set on the room floor, and several ten-centimeter apart, Petri dishes containing microbial growth medium were placed. The microbial colonies from the room with and without the installed ultraviolet system in the air purifier were then compared for analysis. The result showed that an air purifier equipped with an ultraviolet system killed microorganisms 73% more effective than the air purifier without an ultraviolet system (p<0.05). In conclusion, employing an ultraviolet system within the air purifier might be effectively killed microorganisms and ultimately reduce nosocomial infection. PENGEMBANGAN AIR PURIFIER RUANGAN DENGAN PEMANFAATAN SINAR ULTRAVIOLET UNTUK MEMBUNUH MIKROB BAWAAN UDARAInfeksi nosokomial dapat ditularkan melalui penyakit yang ditularkan melalui udara di rumah sakit. Namun, hanya rumah sakit atau pelayanan kesehatan tertentu di Indonesia yang melakukan prosedur pencegahan infeksi nosokomial secara optimal dengan memanfaatkan air purifier karena kendala biaya. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan jumlah infeksi nosokomial yang terkait dengan bakteri pencemar udara diperlukan pengembangan air purifier yang baik dengan biaya yang murah. Kami telah mengembangkan sistem pembersih udara yang terintegrasi sinar ultraviolet dengan biaya rendah untuk mengurangi mikroorganisme patogen di ruang pelayanan kesehatan. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2009–2010. Prototipe ruangan dibuat dari bahan kaca transparan dengan dua lubang di sudut atas sebagai ruang instalasi pipa saluran masuk dan keluar. Pada bagian tengah sirkulasi pipa dipasang pompa vakum, sistem ultraviolet, dan pendingin sehingga udara akan mengalir melewati alat-alat tersebut sebelum disirkulasikan kembali ke dalam ruangan melalui lubang masuk pipa. Sebuah kipas dipasang pada prototipe ruangan dan setiap jarak sepuluh sentimeter ditempatkan cawan Petri yang berisi media pertumbuhan mikrob. Koloni mikrob dari ruangan model dengan dan tanpa sistem ultraviolet yang terpasang di air purifier, kemudian dibandingkan untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air purifier yang dilengkapi sistem ultraviolet membunuh mikroorganisme 73% lebih efektif daripada air purifier tanpa sistem ultraviolet (p<0,05). Simpulan, penggunaan sistem ultraviolet dalam air purifier efektif membunuh mikroorganisme dan pada akhirnya dapat mengurangi infeksi nosokomial.
Scoping Review: Peran HDL-c sebagai Prediktor Prognosis pada Pasien COVID-19: Indonesia Anissa Febie Melati; Maya Tejasari; Winni Maharani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1507

Abstract

Abstract. Currently, the prognostic factors in COVID-19 patients are demographic factors, patient history, physical examination and laboratory tests. However, to date, no one has used cholesterol or lipoprotein as a prognostic predictor of COVID-19. There are many allegations that the entry of the COVID-19 virus is influenced by cholesterol and lipoprotein levels, in other words, cholesterol and lipoproteins are risk factors in COVID-19 patients that cause certain clinical manifestations from mild to severe degrees. Research purposes This study understands the role of cholesterol and lipoproteins as predictors of prognosis in COVID-19 patients. This study used the method of scoping review articles from three databases; Pubmed Mesh, Science Direct, and Springerlink and examination of the feasibility of PICOS articles and critical appraisal using the JBI Critical Appraisal Checklist. The results of this study obtained six articles eligible. The results review show TC, HDL-C, and LDL-C levels were lower in patients with COVID-19 weight compared with patients who did not COVID-19 heavy. The ratio of Tg/HDL-c, levels of TC, HDL-c, and LDL-c significantly influence the clinical manifestations of COVID-19 patients including increased inflammatory factors such as CRP, the need for invasive ventilation, and the chance of death related to COVID-19. TC, HDL-C, and LDL-c levels are associated with severity and mortality in COVID-19 and can be used to assess the severity and prognosis of COVID 19. In conclusion, there is a role for cholesterol and lipoprotein levels as predictors of prognosis in COVID-19 patients. Abstrak. Saat ini faktor prognostik pada pasien COVID-19 yaitu faktor demografis, riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium. Namun, hingga saat ini belum ada yang menggunakan kolesterol atau lipoptotein sebagai prediktor prognostik COVID-19. Banyak dugaan bahwa masuknya virus COVID-19 salah satunya dipengaruhi oleh kadar kolesterol dan lipoprotein, dengan kata lain, kolesterol dan lipoprotein merupakan faktor risiko pada pasien COVID-19 yang menyebabkan manifestasi klinis tertentu dari derajat ringan sampai berat. Tujuan penelitian ini memahami peran kolesterol dan lipoprotein sebagai prediktor prognosis pada pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode scoping review artikel dari tiga database; Pubmed Mesh, Science Direct, dan Springerlink serta dilakukan pemeriksaan kelayakan artikel PICOS dan critical appraisal menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Hasil penelitian ini didapatkan enam buah artikel yang eligible. Hasil review menunjukkan kadar TC, HDL-C, dan LDL-c lebih rendah pada pasien COVID-19 berat dibanding dengan pasien COVID-19 yang tidak berat. Rasio Tg/HDL-c, kadar TC, HDL-c, dan LDL-c berpengaruh signifikan terhadap manifestasi klinis pasien COVID-19 meliputi peningkatan faktor inflamasi seperti CRP, kebutuhan ventilasi invasif, dan peluang kematian terkait COVID-19. Kadar TC, HDL-C, dan LDL-c berhubungan dengan derajat keparahan dan mortalitas pada COVID-19 dan bisa digunakan untuk penilaian keparahan dan prognosis COVID 19. Simpulan, sehingga terdapat peran kolesterol dan kadar lipoprotein sebagai prediktor prognosis pada pasien COVID-19.
Hubungan antara Usia dan Status Perkawinan dengan Kejadian Gonore di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Periode 2015-2020 Muhammad Afif Nauval; Tony S. Djajakusumah; Winni Maharani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1932

Abstract

Abstract. Gonorrhea is a sexually transmitted infection (STI) caused by Neisseria gonorrhoeae, a gram-negative diplococci transmitted through sexual contact, causing urethritis, cervicitis, pharyngitis and proctitis. According to the Bandung City Health Office in 2019, gonorrhea was included in the curable STI with the highest prevalence. The increase in the prevalence of gonorrhea is caused by free sex, lack of knowledge about high-risk sexual behaviour, prostitution. Another main cause is adolescent sexual behavior which can be found in free sex behavior. The purpose of this study was to determine the incidence of gonorrhea and the relationship between age and marital status with the incidence of gonorrhea in Al-Ihsan Hospital. The research method used is analytical observation with a cross sectional approach. Sampling was based on a purposive sampling of all gonorrhea patients, both male and female, from secondary data in medical records for the 2015-2021 period. The data results showed that 120 gonorrhea patients were dominated by the age of 25-40 years as many as 74 patients (34.1%) and married status as many as 83 patients (38.2%). The study showed that there was no significant relationship between age and the incidence of gonorrhea with a p value (p = 0.347) and no significant relationship between marital status and the incidence of gonorrhea with a p value (p = 0.129). The conclusion of this study there was no relationship between age and marital status with the incidence of gonorrhea. Abstrak. Gonore adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yaitu bakteri gram negatif berbentuk diplokokus yang ditularkan melalui hubungan seksual sehingga menimbulkan gejala uretritis, servisitis, faringitis dan proktitis. Menurut Dinas Kesehatan Kota Bandung pada tahun 2019, gonore termasuk dalam IMS kurabel dengan prevalensi yang paling tinggi. Peningkatan prevalensi gonore diakibatkan oleh semakin bebasnya pergaulan seksual, kurangnya pengetahuan mengenai hubungan seksual yang berisiko, dan maraknya prostitusi. Penyebab utama lain yaitu perilaku seksual remaja yang dapat berujung pada perilaku seks bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia dan status perkawinan dengan kejadian gonore di RSUD Al-Ihsan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel berdasarkan purposive sampling seluruh penderita gonore baik pria dan wanita yang berasal dari data sekunder berupa rekam medik periode 2015-2020. Hasil penelitian yaitu berjumlah 120 pasien gonore yang didominasi oleh usia 25-40 tahun sebanyak 74 pasien (34,1%) dan status sudah menikah sebanyak 83 pasien (38,2%). Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan kejadian gonore dengan p value (p=0,347) dan tidak ada hubungan signifikan antara status perkawinan dengan kejadian gonore dengan p value (p=0,129). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara usia dan status perkawinan dengan kejadian gonore.
Scoping Review: Gejala Klinis Pasien Covid-19 dengan Koinfeksi Tuberkulosis Muhammad Gilang Wicaksana; Winni Maharani; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5509

Abstract

Abstract. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) and tuberculosis (TB) are infectious diseases that can be transmitted by droplets. The clinical manifestations of COVID-19 disease can worsen if there are comorbidities, one of which is TB disease. Epidemiologically, COVID-19 and TB are two diseases with a very high incidence and are a global health problem. The study aims to analyze the impact of TB co-infection on the clinical symptoms of COVID-19 patients. This research uses the scoping review method using scientific articles published in three databases SciencDirect, SpringerLink, and Pubmed in 2019-2022. In the data search, 2,773 articles were obtained with the acquisition of 404 articles that met the inclusion criteria and 6 articles after PICOS analysis was carried out. The results showed that the dominant clinical symptoms that occurred at all ages were respiratory symptoms, fever, cough, chest pain, and dyspnea. In addition, there are additional clinical symptoms in pediatric patients in the form of nausea, diarrhea, headache, tachypnoea, and altered sensorium (impaired awareness, attention or difficulty focusing thoughts). Other results describe an increase in the release of cytokines (IFN-γ, TNF, IL-4, and IL-13) against both pathogens resulting in a "cytokine storm" that can affect the clinical symptoms of patients. The conclusion of this study shows that COVID-19 and TB infection have an adverse clinical impact on patients. Abstrak. Penyakit virus corona atau Corona virus disease (COVID-19) dan tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang dapat ditransmisikan melalui droplet. Manifestasi klinik penyakit COVID-19 dapat memburuk bila terdapat komorbiditas salah satunya adalah penyakit TB. Secara epidemiologi penyakit COVID-19 dan TB merupakan dua penyakit dengan angka kejadian sangat tinggi yang menjadi masalah kesehatan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari koinfeksi TB terhadap gejala klinis pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode scoping review menggunakan artikel ilmiah yang dipublikasikan pada tiga database SciencDirect, SpringerLink, dan Pubmed pada tahun 2019-2022. Pada pencarian data didapatkan 2,773 artikel dengan didapatkan 404 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan 6 artikel setelah dilakukan analisis PICOS. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis yang dominan terjadi pada semua usia adalah gejala saluran pernapasan, demam, batuk, nyeri dada, dan dispnea. Selain itu terdapat gejala klinis tambahan pada pasien anak berupa mual, diare, nyeri kepala, takipnea, dan gangguan system saraf seperti gangguan kesadaran, perhatian atau kesulitan memfokuskan pikiran. Hasil lain menggambarkan peningkatkan pengeluaran sitokin (IFN-γ, TNF, IL-4, dan IL-13) untuk melawan kedua patogen sehingga mengakibatkan “cytokine storm” yang dapat memperburuk gejala klinis pasien. Simpulan penelitian ini menunjukkan koinfeksi COVID-19 dan TB memperburuk dampak klinis pada pasien.
Kesepakatan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Pemeriksaan Mikroskopik Basil Tahan Asam (BTA) dalam Penegakkan Diagnosis Tuberkulosis Paru Nida Aulia Fadhilah; Heni Muflihah; Winni Maharani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6976

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) case finding is a significant part of TB control. The rapid molecular test Xpert MTB/RIF diagnostic method has better sensitivity than acid-fast bacilli (AFB) microscopic examination. The availability of Xpert MTB/RIF in the rural area is still limited. Therefore, AFB examination remains in use for TB diagnostic. This study aimed to assess the agreement on the results of TCM and BTA examinations. This is an analytic observational using secondary data. The subjects were pulmonary TB patients who underwent Xpert MTB/RIF and AFB examinations at the time of diagnosis at the UPTD Cigayam Health Center in 2021-2022. The data collection included gender, age, and the results of Xpert MTB/RIF and AFB examinations. The agreement between the TCM and BTA examination results was analyzed using Cohen Kappa. The results showed major characteristics that 39 patients (26.5%) were aged 18-25 years old and 94 patients (64%) were male. A total of 648 specimens were the Xpert MTB/RIF examination while a total of 235 specimens had AFB examination. Out of 147 subjects, 129 patients (81.6%) had TCM result Rifampicin sensitive, 63 patients (42.9%) had AFB result for AFB +2. The analysis of agreement on the results of the TCM and BTA examinations showed a substantial agreement (cohen cappa 0.70). This study concludes that results of Xpert MTB/RIF and AFB had a strong agreement t. Therefore, both methods can be used for the diagnosis of pulmonary TB. Abstrak. Penemuan kasus Tuberkulosis (TB) merupakan bagian utama dari penanggulangan TB. Metode diagnostik tes cepat molekuler (TCM) memiliki sensitifitas lebih baik dari pemeriksaan mikroskopik basil tahan asam (BTA). Ketersediaan TCM di daerah masih terbatas, sehingga pemeriksaan BTA masih digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesepakatan hasil pemeriksaan TCM dan BTA. Penelitian ini merupakan observasional analitik menggunakan data sekunder. Subjek penelitian adalah pasien TB paru yang melakukan pemeriksaan TCM dan BTA pada saat diagnosis di UPTD Puskesmas Cigayam tahun 2021-2022. Data penelitian meliputi jenis kelamin,usia serta hasil pemeriksaan TCM dan BTA. Kesepakatan antara hasil pemeriksaan TCM dan BTA di analisis menggunakan Cohen Kappa. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik terbanyak subjek berusia 18-25 tahun sebanyak 39 orang (26,5%) dan laki laki sebanyak 94 orang (64%). Total pemeriksaan TCM berjumlah 648 sampel sedangkan BTA berjumlah 235 sampel. Total subjek berjumlah 147 orang dengan hasil TCM terbanyak adalah Rifampisin sensitif yaitu 129 orang (81,6%), sedangkan kategorik terbanyak hasil pemeriksaan mikroskopik adalah BTA +2 berjumlah 63 orang (42,9%). Analisis kesepakatan hasil pemeriksaan TCM dan BTA menunjukan substantial agreement (Cohen Cappa 0,70). Kesimpulan penelitian ini adalah kedua pemeriksaan memiliki kesepakatan hasil pemeriksaan yang kuat. Oleh karena itu,kedua metode pemeriksaan tersebut masih dapat digunakan untuk diagnosis TB paru.