Triwahju Astuti
Bagian Paru Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya / Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pola Bakteri dari Isolat Sputum dan Kepekaannya terhadap berbagai antibiotik di RSU dr. Saiful Anwar Malang Periode Januari-Juni 2003 Astuti, Triwahju
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 1 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1840.02 KB)

Abstract

Informasi mengenai kemampuan suatu antibiotika dalam mengatasi kelompok pathogen yang mungkin menjadi penyebab infeksi saluran nafas akan sangat membantu klinisi dalam menentukan antibiotika empiris sebelum hasil pemeriksaan mikrobiologi diperoleh. Telah dilakukan penelitian pola bakteri dan kepekaannya terhadap antibiotik. Data sekunder diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi RSU dr. Saiful Anwar Malang. Diperoleh hasil 5 jenis bakteri peringkat pertama adalah Klebsiella pneumoniae (20,2%), Acinetobacter anitrartus (16,5%), Staphylococcus koagulase negatif (12,5%), Pseudomonas aeruginosa (8,4%), Staphylococcus koagulase positif (6,9%). Antibiotik yang sensitif untuk seluruh bakteri isolat sputum adalah: Amikacin, Fosfomycin, Netilmycin, Gentamycin, Ciprofloxacin.
PROFIL KADAR SOLUBLE UROKINASE PLASMINOGEN ACTIVATOR RECEPTOR (suPAR) PADA SERUM PENDERITA TUBERKULOSIS PARU (SEBAGAI MONITORING TERAPI) Astuti, Triwahju; MR, Tri Yudani; Riawan, Wibi; Muktiati, Nunuk Sri; Widjajanto, Edy
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.873 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.01.4

Abstract

Dutch study shows that Upar expression content is significantly higher in tubercolusis patient’s psiphsy monosit compared to those in the healthy control group. So far, there is no biologic marker used whichcan accurately observe response improvement in the treatment of lung tubercolusis. The aim of this research is to investigate whether the serum level of soluble utokinase plasminogen activator receptor (suPAR) carries information in monitoring TB treatment for Lung Tuberculosis patients. suPAR was measured by ELISA in 21 individuals at the time of enrolment into observational cross sectional based on active tuberculosis  and 5 individuals as healthy control. There were 3 groups, 1). patients who had not started treatment (n=7),2). patients who had been treated for 2 months (n=7),  3). patients who had been treated for 6 months (n=7). Among groups, there were no difference in mean of body mass index, erythrocyte sedimentation rate and monocyte count. Patients positive for TB on direct  microscopy were 29% ( 6 from 21 patients) , 2 patients each groups. The suPAR levels were elevated in patients with active TB compared to healthy control (P<0,001). suPAR levels were highest in patients positive for TB on direct microscopy ( mean suPAR 4.455 ng/ml).
Distribusi M. Tuberculosis Genotipe Beijing pada Pasien Tuberkulosis Paru di Malang MR, Tri Yudani; Astuti, Triwahju
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.868 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.02.3

Abstract

ABSTRAKPenelusuran  penyebaran  genetis  Mycobacterium  tuberculosis  merupakan  salah  satu  faktor  penting  dalam mengendalikan infeksi Mycobacterium tuberculosis. Studi mengenai distribusi Mycobacterium tuberculosis galur Beijing pada TB paru BTA (+) pasien di RSU dr. Saiful Anwar rumah sakit ini   dilaksanakan dengan metode spoligotyping. Dahak dikumpulkan dari total 41 pasien, dicuci dengan salin normal dan ditanam pada medium LJ. DNA dari bakteri yang tumbuh kemudian diisolasi dan mengalami spoligotyping. Sembilan belas spoligotype (65,5%) ditemukan dari total dua puluh sembilan sampel yang berkembang, sedangkan sepuluh sampel (34,5%) adalah non-Mycobacterium tuberculosis. Dari spoligotype sembilan belas, sembilan sampel merupakan Beijing strain (31%) dan sepuluh sampel (34,5%) menunjukkan strain non Beijing. Proporsi pasien TB yang terinfeksi, menunjukkan bahwa persentase pasien terinfeksi dengan strain Beijing hampir sama antara wanita dan pria. Ditemukan bahwa prevalensi tertinggi strain Beijing pada pasien dengan usia berkisar antara 31-40 tahun (51%). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa strain Beijing mendominasi distribusi M. tuberculosis pada pasien TB paru di Malang.Kata Kunci: Beijing strain, M. tuberculosis, Spoligotyping
Efek Pemberian Protein Rekombinan Fusi ESAT6-CFP10 Mycobacterium tuberculosis terhadap Persentase IL2 dan IL10 yang Dipresentasikan Sel T CD8 pada Kultur PBMC Christianto, David; Raras, Tri Yudani Mardining; Sumarno, Sumarno; Arthamin, Maimun Zulhaidah; Astuti, Triwahju; Sardjono, Teguh Wahyu; S, Noorhamdani A
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.03.7

Abstract

Keberhasilan vaksin BCG dalam memberikan perlindungan terhadap tuberkulosis (TB) pada orang dewasa di Indonesia belum optimal (37%) sehingga diperlukan vaksin alternatif yang lebih efektif. Protein rekombinan fusi ESAT6-CFP10 merupakan kandidat vaksin yang potensial. Penelitian dilakukan untuk menguji efektifitas protein rekombinan fusi ESAT6-CFP10 dalam meningkatkan ekspresi IL2 dan IL10 sel T CD8 yang memainkan peran penting dalam respon imun melawan TB. Pengujian kandidat vaksin dilakukan secara in vitro pada peripheral blood mononuclear cell (PBMC) dari kelompok sehat endemik TB, kelompok kontak TB, dan kelompok pasien TB dengan melihat persentase IL2 dan IL10 CD8. Setiap kelompok diberi perlakuan tanpa antigen, PPD, dan protein rekombinan fusi ESAT6-CFP10. Persentase IL2 meningkat secara signifikan dari kelompok sehat, kontak TB, hingga Pasien TB. Sebaliknya peningkatan persentase IL2 antar kelompok yang dipaparkan PPD tidak signifikan secara statistik (p=0,396). Persentase IL10 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompoknya baik tanpa paparan antigen (p=0,617), PPD (p=0,351), maupun protein rekombinan fusi ESAT6-CFP10 (p=0,257). Didapatkan persentase IL2 yang tidak berbeda secara signifikan antar perlakuan pada kelompok sehat (p=0,309), kelompok kontak TB (p=0,318), dan kelompok pasien TB (p=0,424). Demikian juga dengan persentase IL10 yang tidak berbeda secara signifikan antar perlakuan pada kelompok sehat (p=0,908), kelompok kontak TB (p=0,352), dan kelompok pasien TB (p=0,776). Hal ini menunjukkan bahwa protein fusi rekombinan ESAT6-CFP10 dapat meningkatkan persentase IL2 tetapi tidak dengan IL10 meskipun secara statistik tidak signifikan.
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN DAN PARAMETER ERITROSIT PADA PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK POPULASI D YANG TIDAK DAN YANG MENDAPAT TERAPI INHALASI KOMBINASI LONG ACTING B2 AGONIST–KORTIKOSTEROID Astuti, Triwahju; Karima, Karima; Iskandar, Agustin
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.684 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.03.3

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru yang didasari salah satunya oleh reaksi inflamasi yang meningkat sehingga menimbulkan hambatan aliran udara dan perusakan pada eritrosit, sehingga terjadi resistensi hormon eritropoietin. Populasi D merupakan pasien PPOK yang memiliki risiko eksaserbasi tertinggi dan gejala yang paling berat di antara populasi lainnya. Terapi lini pertama untuk pasien PPOK populasi D yang direkomendasikan GOLD adalah terapi LABACS (long acting beta2 agonist and corticosteroid). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin dan parameter eritrosit berupa jumlah eritrosit, nilai red blod cell distribution width dan indeks eritrosit penderita PPOK populasi D yang mendapat dan tidak mendapat LABACS. Penelitian ini menggunakan metode observational cross sectional dengan melihat rekam medis pasien PPOK pada bulan Juni sampai November 2015. Hasilnya pada terapi LABACS didapatkan kadar hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa terapi, jumlah eritrosit, nilai MCV, MCH, MCHC lebih rendah dibandingkan dengan tanpa terapi, dan nilai RDW lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa terapi LABACS. Selain itu, persentase pasien PPOK yang terkena anemia pada kelompok yang mendapat terapi LABACS lebih rendah dibanding dengan yang tidak mendapat terapi. Kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, indeks eritrosit, dan RDW dievaluasi dengan program SPSS 16.0. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada semua parameter. Kesimpulannya, tidak terdapat perbedaan kadar hemogolobin dan parameter eritrosit antara pasien PPOK populasi D yang mendapat dan tidak mendapatkan terapi LABACS. 
Immunocytochemistry as a Diagnostic Procedure of Pleural Mesothelioma Trimurtini, Asih; Astuti, Triwahju; Yudhanto, Hendy Setyo; Erawati, Dini Rachma
Malang Respiratory Journal Vol 2, No 02 (2020)
Publisher : Universitaas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.153 KB) | DOI: 10.21776/ub.mrj.2020.002.02.2

Abstract

Background: Mesothelioma is a primary malignant tumor arising from the mesothelial surface of the pleura, peritoneal, tunica vaginalis, and pericardium. Most cases of mesothelioma originate from the pleura. Most patients have a history of asbestos exposure. A common diagnostic problem is distinguishing mesothelioma from adenocarcinoma since both tumors invade the pleura. Immunocytochemistry of calretinin and TTF-1 can be used to establish the diagnosis of mesothelioma.Case: Male, 56 years old presented with chest pain, shortness of breath, cough, and weight loss since 5 months before hospitalization. The patient had a history of occupational exposure to asbestos for 30 years. The movement and breath sounds were decreased as well as dull upon percussion at the right chest. A chest X-ray revealed a right lung tumor with pleural effusion. Thorax CT scan suggested pleural mass in right hemithorax, infiltration to intercostal muscles, and destruction of the 7th right rib, right perihilar lymphadenopathy, right pleural effusion, and liver nodules according to mesothelioma T4N1M1 Stage IV. Infiltrative stenting of the right and inferior lobe of the right lung, infiltrative and obstructive stenting of the medius lobe suggestive of a chronic malignancy and inflammation were found on FOB. Cytologic examination of pleural fluid, sputum, and Washing-and-brushing of FOB were a class II (no malignant cells). USG-guided transthoracic FNAB revealed adenocarcinoma with differential diagnosis of mesothelioma. Immunocytochemistry with calretinin showed positive results and TTF-1 showed a negative result. These confirmed the diagnosis of pleural mesothelioma T4N1M1 Stage IV. The patient showed a stable response from carboplatin/gemcitabine treatment.Keyword : Mesothelioma, Immunocytochemistry, TTF-1, Calrenitin