Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SELF REGULATION: RANAH KOGNITIF, MOTIVASI DAN METAKOGNISI Sari, Diah Prawitha
Delta-Pi: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 3, No 2 (2014): Periode Bulan Oktober
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.377 KB) | DOI: 10.33387/dpi.v3i2.135

Abstract

Artikel ini membahas tentang Self Regulation atau yang lebih dikenal dengan kemampuan pengaturan diri. Self regulation dapat ditinjau dari ranah kognitif, motivasi dan metakognisi. Pada ranah kognitif lebih dikenal dengan istilah kemampuan self regulation yang dapat diukur menggunakan instrumen tes yang indikatornya butir soalnya disesuaikan dengan materi yang akan diujikan. Sedangkan ranah motivasi dan metakognisi dapat diukur menggunakan skala sikap serta lembar observasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan tipe studi kasus. Beberapa temuan dari artikel ini diantaranya: (1) kemampuan self regulation umumnya telah dimilik oleh setiap individu termasuk siswa, (2) pengembangan kemampuan self regulation maupun sikap yang mengarah pada pengaturan diri yang baik dapat ditunjang oleh berbagai faktor di sekitar siswa/mahasiwa seperti guru, orang tua, lingkungan, dan kemampuan dasar siswa/mahasiswa itu sendiri, (3) siswa/mahasiswa yang memiliki self regulation tinggi umumnya akan menunjukkan prestasi belajar yang tinggi juga.
BERPIKIR MATEMATIS DENGAN METODE INDUKTIF, DEDUKTIF, ANALOGI, INTEGRATIF DAN ABSTRAK Diah Prawitha Sari
Delta-Pi: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2016): Periode Bulan April
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.163 KB) | DOI: 10.33387/dpi.v5i1.235

Abstract

Makalah ini membahas tentang berpikir matematika dengan metode induktif, deduktif, analogi, integratif, dan abstrak. Uraian didasarkan atas analisis terhadap: (1) berpikir induktif merupakan suatu  proses berpikir yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi); (2) Berpikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang keberadaannya telah ditentukan; (3) Berpikir analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan, yang satu bukan yang lain, tetapi dua hal yang berbeda itu dibandingkan satu dengan yang lain.; (4) Melalui penerapan integratif proses pengajaran menjadi lebih kompleks, hal ini melibatkan komponen internal dan eksternal; (5) Kemampuan berpikir abstrak tidak terlepas dari pengetahuan tentang konsep, karena berpikir memerlukan kemampuan untuk membayangkan atau menggambarkan benda dan peristiwa yang secara fisik tidak selalu ada.
Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sekolah Dasar Pada Materi Sifat Operasi Hitung Bilangan Isman M Nur; Diah Prawitha Sari
JIMAT: Jurnal Ilmiah Matematika Vol 2 No 1 (2021): Jimat: Jurnal Ilmiah Matematika
Publisher : JIMAT: Jurnal Ilmiah Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.4870099

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bertujuan untuk menelusuri proses pemecahan masalah matematika siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar yang berjumlah 1 siswa. Subjek penelitian tidak dipilih secara acak, tetapi dipilih berdasar pertimbangan potensi siswa dalam menyelesaikan masalah matematis, dan pertimbangan guru mata pelajaran matematika. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan lembar tugas dan instrumen bantu berupa pedoman wawancara. Pengumpulan data dimulai dengan pemberian tes pemecahan masalah, observasi, catatan lapangan, dokumentasi dan wawancara. Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa mampu memecahkan masalah pada materi operasi hitung pada bilangan dengan menggunakan tahap pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Polya.
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Siswa SMP melalui Model Pembelajaran Guided Teaching Berbasis Soft Skills Isman M. Nur; Diah Prawitha Sari
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol 12 No 4 (2022): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v12i4.724

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis yang memperoleh pembelajaran guided teaching berbasis soft skills. 2) untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang memperoleh pembelajaran guided teaching berbasis soft skills dengan model pembelajaran konvensional. 3) untuk mengetahui interaksi antara pembelajaran digunakan dan kemampuan awal matematika kategori (tinggi, sedang, rendah) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini merupakan studi kuasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol non-ekivalen. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Ternate. Dengan sampel dua kelas, yaitu kelas VIII C sebagai kelas eksperimen sebanyak 22 siswa dan kelas VIII D sebagai kelas kontrol sebanyak 22 siswa. Hasil penelitian adalah 1) terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa memperoleh pembelajaran guided teaching berbasis soft skills. 2) peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa memperoleh pembelajaran guided teaching berbasis soft skills lebih baik daripada siswa memperoleh pembelajaran konvensional dengan kategori sedang. 3) tidak terdapat interaksi antara pembelajaran yang digunakan dan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, maka kemampuan awal matematika siswa perlu ditingkatkan karena memuat pengetahuan prasyarat digunakan dalam pembelajaran selanjutnya. Disarankan kepada guru sebaiknya menjadikan pembelajaran guided teaching berbasis soft skills sebagai alternatif pembelajaran yang baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pecahan berbasis HOTS pada siswa SMP Negeri 1 Kota Ternate Noniarti Armin; Nurma Angkotasan; Diah Prawitha Sari
Delta-Pi: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/dpi.v11i2.5110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan dan faktor penyebab terjadinya kesalahan yang dilakukan siswa SMP Negeri 1 Kota Ternate dalam menyelesaikan soal-soal pecahan berbasis HOTS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 20 orang dan dipilih 6 siswa untuk diwawancarai berdasarkan hasil tes tertulis yang menggambarkan beberapa jenis kesalahan dalam menyelesaikan soal pecahan berbasis HOTS.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 1 siswa (5%) mengalami kesalahan fakta pada indikator soal C4 dan C5. Terdapat 7 siswa (35%) mengalami kesalahan konsep pada indikator soal C4, 4 siswa (20%) pada indikator soal C5 dan 3 siswa (15%) pada indikator soal C6. Terdapat 11 siswa (55%) mengalami kesalahan prinsip pada indikator soal  C4, terdapat 3 siswa (15%) pada indikator soal C5 dan  8 siswa (40%) pada indikator soal C6 .terdapat 3 siswa (25%) mengalami kesalahan skill pada indikator soal C4, terdapat 2 siswa (10%) pada indikator soal C5 dan terdapat 3 siswa (25%) pada indikator soal C6. Faktor penyebab kesalahanan siswa diantaranya: kelalaian dan kecerobohan siswa, lemahnya kemampuan intelektual siswa, lemahnya kemampuan konsep prasyarat, kurangnya pengalaman dan latihan mengatasi masalah khususnya masalah pecahan, serta kurangnya siswa memahami konsep serta menyerap informasi dengan baik dan benar.Kata Kunci : Kesalahan siswa, HOTS, Pecahan.
Penalaran Proporsional Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Missing Value dan Comparison Berdasarkan Gaya Kognitif Sistematis Isman M. Nur; Diah Prawitha Sari
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 8 No 21 (2022): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.012 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.7302157

Abstract

This study aims to describe students' proportional reasoning based on systematic cognitive style in solving missing value and comparison problems. This research is a qualitative research with an exploratory descriptive approach. The research subjects were seventh grade students of SMP Negeri 4 Ternate City. Research subjects were not chosen randomly, but were chosen based on consideration of communication skills both oral and written in solving problems. The research instrument consisted of two questions as well as an assistive instrument in the form of an interview guide which was adapted to the conditions at the time of research in the field. The results of this study are, 1) students make plans in advance to write down two quantities that have variations together and also see the suitability between the two different variations, 2) students can understand the proper procedure for presenting quantities in the form of ratios, 3) students can solve problems according to detailed steps based on multiplicative concepts by using multiplication strategies involving proportion situations, 4) students give reasons based on data or information related to problems and can be solved with proportional ideas
Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal pada Materi Eksponensial Risma Rezki; Hery Suharna; Diah Prawitha Sari
Jurnal Pendidikan Guru Matematika Vol 3, No 1 (2023): Januari
Publisher : Jurnal Pendidikan Guru Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.408 KB)

Abstract

Kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika merupakan segala bentuk kekeliruan dari hal yang sebenarnya, yang artinya siswa tersebut sudah melakukan kesalahan ketika siswa tidak mampu mengerjakan soal tersebut dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeskripsikan jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada materi eksponensial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 30 orang yang kemudian dipilih wakil subjek sebanyak 6 orang. Wakil subjek terpilih kemudian diwawancarai untuk mengetahui kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal eksponensial. Kesalahan yang dilakukan rendah oleh SP-11 dan SP-14 yaitu siswa hanya melakukan satu jenis kesalahan saja dalam menyelesaikan soal matematika. Misalnya, siswa melakukan kesalahan operasi yaitu kesalahan dalam pengerjaan hitung dikarenakan siswa terlalu teburu-buru dalam mengerjakan soal dan kurang teliti. Kesalahan yang dilakukan sedang oleh SP-1 dan SP-25 yaitu siswa melakukan dua jenis kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika. Misalnya, siswa melakukan kesalahan fakta yaitu kesalahan dalam menuliskan simbol-simbol matematika. Dan kesalahan konsep yaitu kesalahan dalam memahami isi soal sehingga salah dalam menggunakan konsep. Kesalahan yang dilakukan tinggi oleh SP-9 dan SP-10   yaitu siswa melakukan lebih dari dua jenis kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika. Misalnya siswa melakukan kesalahan konsep yaitu kesalahan dalam memahami isi soal sehingga salah dalam menggunakan konsep, siswa melakukan kesalahan prinsip, dan juga siswa melakukan kesalahan operasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas X IPA-5 SMA N 2 Kota Ternate belum mampu menyelesaikan soal matematika pada materi eksponensial dengan baik dan benar.
Analisis Komparatif Kurikulum Matematika di Indonesia, Korea Selatan, dan Singapura pada Jenjang Sekolah Menengah Atas Joko Suratno; Diah Prawitha Sari
Jurnal Pendidikan Guru Matematika Vol 1, No 1 (2021): Januari
Publisher : Jurnal Pendidikan Guru Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.435 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kurikulum matematika sekolah menengah atas yang ada di Indonesia, Korea Selatan, dan Singapura. Penelitian ini merupakan studi literatur. Pengumpulan data berupa dokumen kurikulum dilakukan melalui berbagai sumber website.  Apabila dilihat berdasarkan isi kurikulum, maka kurikulum matematika yang ada di Indonesia jauh lebih padat jika dibandingkan isi kurikulum matematika baik Korea Selatan maupun Singapura. Padatnya materi kurikulum merupakan salah satu penyebab digantinya sebuah kurikulum yang pernak berlaku di negara kita. Akankah padatnya materi pada Kurikulum 2013 menjadi sebuah masalah yang akan datang? Ataukah hal tersebut merupakan sebuah terobosan yang dapat meningkatkan prestasi dan penguasaan materi matematika siswa yang lebih baik? Mungkin banyak pertanyaan lain yang akan muncul dengan syaratnya materi kita tersebut. Namun demikian, kurikulum bukanlah hanya sekedar isi tetapi masih banyak komponen lain yang berpautan dan menyokong sebuah kurikulum.
Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMA pada Materi trigonometri Ditinjau dari Gender Siswa Iga Almira Rugaya Assagaf; Asmar Bani; Diah Prawitha Sari
Jurnal Pendidikan Guru Matematika Vol 2, No 3 (2022): September
Publisher : Jurnal Pendidikan Guru Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.434 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kota Ternate, pada kelompok atas, sedang, dan bawah berdasarkan gender siswa dalam menyelesaikan soal pada materi Trigonomteri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan instrument yang digunakan adalah soal tes, lembar wawancara siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan analisis deskriptif. Subjek penelitian adalah 6 orang siswa yang terdiri dari 2 siswa kelompok atas, 2, 2 siswa kelompok sedang, dan 2 siswa kelompok bawah. Objek dari penelitian ini adalah lembar jawaban hasil tes siswa dipandu dengan hasil wawancara masing-masing siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hasil yang ditemui adalah: (1) kemampuan berpikir kreatif matematis siswa perempuan dalam menyelesaikan soal persamaan trigonometri, kelompok atas mampu mencapai kategori sangat tinggi, kelompok sedang mencapai kategori cukup, dan kelompok bawah pada kategori sangat rendah, yaitu siswa RA 87,5%, siswa WM 68,75%, dan siswa IT 50%. (2) kemampuan bepikir kreatif matematis siswa laki-laki dalam menyelesaikan soal persamaan trigonometri, kelompok atas mampu mencapai kategori tinggi, kelompok sedang mencapai cukup, dan kelompok bawah pada kategori rendah, yaitu siswa HD 75%, siswa MA 68,75%, dan siswa TG 56,25%.
Kemajuan dan Kendala Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Jenjang Sekolah Menengah Pertama di Kota Ternate Joko Suratno; Fitriana Eka Chandra; Diah Prawitha Sari; Sitti Busyrah Muchsin
Jurnal Pendidikan Guru Matematika Vol 1, No 2 (2021): Mei
Publisher : Jurnal Pendidikan Guru Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.366 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hasil dan masalah atau kendala dari pelaksanaan Kurikulum 2013. Jenis penelitia dalam penelitian ini adalah penelitian survai. Penelitian dilakukan di Kota Ternate, Maluku Utara. Berdasarkan pertimbangan geografis, waktu, dan pembatasan penelitian, maka penelitian ini hanya dilakukan di 3 SMP yang ada di Kota Ternate. Ketiga SMP tersebut yaitu SMP Negeri 1 Kota Ternate yang beralamat di Kelurahan Gamalama, Kec. Ternate Tengah; SMP Negeri 3 Kota Ternate yang beralamat di Kelurahan Gambesi, Kec. Tenate Selatan; dan SMP Negeri 5 Kota Ternate yang beralamat di Kelurahan Tabam, Kec. Ternate Utara. Data penelitian ini diperoleh melalui kuesioner terbuka. Kuesioner tersebut digunakan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan Kurikulum 2013 pada jenjang SMP yang ada di Kota Ternate. Data kualitatif tentang gambaran pelaksanaan Kurikulum 2013 pada jenjang SMP yang ada di Kota Ternate dianalisis dengan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa kemajuan setelah diterapkannya Kurikulum 2013 pada jejang SMP di Kota Ternate. Namun demikian, masih terdapat banyak kendala yang ada di sekolah sehingga pelaksanaan kurikulum 2013 belum dapat dilaksanakan secara maksimal.