Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Tentang Aspek Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kota Prabumulih, Sebelum dan Sesudah Intervensi Pemberdayaan Masyarakat Lasbudi P. Ambarita; Milana Salim; Hotnida Sitorus; Rika Mayasari
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.07 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.1759

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) in South Sumatra Province especially Prabumulih in recent years has not shown a significant decline. This research aims to assess community’s level of knowledge, attitudes and practice with regards to empowerment of cadres and community group as an intervention variable. There were three location of research, first location with intervention of empowerment of cadre and community group, second location with cadre empowerment and the third location without intervention. The data collected in this research is knowledge, attitude and practice of the community before and after the intervention provided. The results showed there is an average level difference of knowledge, but statistically difference occurred on the knowledge and practice in an area with an intervention empowerment of cadres and local community groups. Local community groups such as religious group, social gathering, youth organization, etc can be an effective target for increasing knowledge about disease prevention aspects of DHF, raises awareness and triggered behavior change collectively. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Sumatera Selatan khususnya Kota Prabumulih dalam beberapa tahun terakhir belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari intervensi, pemberdayaan kader dan kelompok masyarakat terhadap tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. Intervensi yang diberikan pada penelitian ini adalah satu wilayah dengan intervensi pemberdayaan kader jumantik dan kelompok ibu-ibu pengajian, wilayah yang kedua dengan intervensi pemberdayaan kader jumantik, dan wilayah yang ketiga tanpa diberikan intervensi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat antara sebelum dan sesudah intervensi, namun secara statistik perbedaan yang bermakna terjadi pada aspek pengetahuan dan perilaku di daerah dengan intervensi pemberdayaan kader dan kelompok masyarakat lokal. Kelompok masyarakat lokal seperti kelompok pengajian, arisan, karang taruna dan sebagainya dapat menjadi sasaran efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang aspek pencegahan penyakit DBD, menimbulkan kesadaran dan memicu terjadinya perubahan perilaku secara kolektif.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN BATURAJA LAMA DAN SEKAR JAYA, KECAMATAN BATURAJA TIMUR, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU (OKU), PROVINSI SUMATERA SELATAN jek managerxot; Milana Salim; Yahya Yahya; Tri Wurisastuti; Rizki Nurmaliani
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 16 No 2 (2017): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 16 NOMOR 2 TAHUN 2017
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.16.2.360.82-92

Abstract

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi SumateraSelatan. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penularan DBD adalah dengan melakukanpengendalian vektor nyamuk pada tingkat jentik. Penggunaan insektisida dalam pengendalian vektor DBD,selain dapat menimbulkan resistensi, juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan lingkungan. Saat inipengendalian vektor DBD di Kabupaten OKU dilakukan secara hayati (biological control), yaitu denganmenggunakan ikan pemakan jentik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat partisipasimasyarakat dalam pengendalian vektor DBD menggunakan ikan pemakan jentik. Lokasi penelitian beradadi Kelurahan Baturaja Lama dan Kelurahan Sekar Jaya. Populasi adalah seluruh rumah tangga di keduakelurahan tersebut. Jumlah sampel ditentukan dengan mengacu pada ketentuan WHO mengenai standarminimal sampel survei entomologi DBD yaitu 100 rumah. Jumlah sampel rumah tangga yang berhasildidapatkan sebanyak 217 yang dipilih dengan cara acak. Hasil perhitungan indeks jentik menunjukkanangka HI di Kelurahan Baturaja Lama sebesar 42,1% dan di Kelurahan Sekar Jaya sebesar 48,2%. AngkaCI di Kelurahan Baturaja Lama sebesar 19,2% dan Sekar Jaya sebesar 16,2%. Angka BI di KelurahanBaturaja Lama sebesar 51,4% dan Sekar Jaya sebesar 75,5%. Analisis statistik terhadap perilakumemelihara ikan menunjukkan hubungan bermakna terhadap keberadaan jentik, namun persentase jumlahrumah tangga yang memelihara ikan pada kedua kelurahan masih tergolong rendah yakni kurang dari 10%.Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan pengembangan potensi jenisikan pemakan jentik dalam upaya pengendalian DBD.
Pemetaan Karakteristik Wilayah Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Tahun 2011-2015 Nungki Hapsari Suryaningtyas; Milana Salim; Indah Margarethy
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 47 No 3 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.432 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v47i3.1448

Abstract

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is one of Arthropod-Borne Virus that causes health problems. One of the provinces that have morbidity rates above the national rates was DI Yogyakarta province, about 167.89 per 100.000 population, the number of dengue cases in 2015 in Gunungkidul Regency was 498 cases with three death cases. The study of DHF cases distribution in Gunungkidul Regency was aimed to analyze the spatial risk factors againts DHF cases in Gunungkidul Regency using geographic information system applications. This study used a secondary data sourced from the book of Profile of Gunugkidul District Health Office and the report of Gunungkidul Regency Central Bureau of Statistics in 2011-2015. The variables analyzed included the data of DHF cases per sub-district, population density, the large area, and clean water facilities with rain storage. The data served in map, each variable processed by overlaying methode using the Gis Arc program 10. The mapping results showed that the population density and large area have no effect to the incidence of DHF. All sub-districs in Gunungkidul Regency have the same risk in spreading dengue cases. Most of endemic subsdistrict area have rain storage, that means there are possibility of Aedes aegypti and Aedes albopictus as DHF vector could thrive well in those area. Keywords: DHF, mapping, regional characteristics, Gunungkidul Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit virus tular vektor yang menimbulkan masalah kesehatan. Salah satu provinsi dengan angka kesakitan di atas angka nasional adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan angka kesakitan sebesar 167,89 per 100.000 penduduk, jumlah kasus DBD pada tahun 2015 di Kabupaten Gunungkidul (498 kasus) dengan tiga kematian. Kajian mengenai distribusi kasus DBD di Kabupaten Gunungkidul bertujuan untuk menganalisis faktor risiko secara spasial yang berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kabupaten Gunungkidul menggunakan aplikasi sistem informasi geografis. Kajian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari buku Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Gunugkidul dan laporan Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul tahun 2011-2015. Variabel yang dianalisis meliputi data kasus DBD per kecamatan, kepadatan penduduk, luas wilayah, dan sarana air bersih dengan penampungan air hujan. Data disajikan dalam bentuk peta, setiap variabel disusun dengan metode overlay menggunakan program Arc Gis 10. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan luas wilayah tidak berpengaruh pada kejadian DBD. Semua kecamatan di Kabupaten Gunungkidul memiliki risiko yang sama dalam penyebaran kasus DBD. Sebagian besar Kecamatan yang endemis DBD memiliki tempat penampungan air hujan, artinya ada kemungkinan vektor DBD, baik Ae. aegypti maupun Ae.albopictus dapat berkembang baik di wilayah tersebut. Kata kunci : DBD, pemetaan, karakteristik wilayah, Gunungkidul
DAYA BUNUH EKSTRAK KULIT KENTANG (Solanum tuberosum L.) TERHADAP JENTIK Aedes sp Stevie Mariany Pamikiran; Steven J. Soenjono; Suwarja Suwarja; Indah Margarethy; Milana Salim; Nungki Hapsari Suryaningtyas
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.492 KB)

Abstract

Pengendalian jentik Aedes sp dengan cara menggunakan insektisida alami dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan timbulnya resistensi terhadap insektisida kimiawi. Senyawa yang terkandung dalam tumbuhan berpotensi sebagai insektisida yaitu golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri. Salah satunya ekstrak dari kulit kentang (Solanum tuberosum L.) mengandung senyawa flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) dalam membunuh jentik Aedes sp. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain penelitian post test only control group design untuk mengetahui konsentrasi letal ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap jentik Aedes sp. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan jumlah jentik Aedes sp masing-masing 10 jentik. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,25%, 0,5%, 0,75%, 1% dan kontrol menggunakan air sumur. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi 1% efektif dalam membunuh jentik Aedes sp sebesar 50%. dan nilai LC50 ekstrak kulit kentang pada konsentrasi 1,1%. Ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) belum efektif digunakan sebagai larvasida Aedes sp.
Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan Indah Margarethy; Yahya Yahya; Milana Salim
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2088

Abstract

Malaria merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan. Pada tahun 2015 angka Annual Paracite Insidence di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,26. Penelitian ini bertujuan menganalisis data penggunaan tumbuhan obat untuk malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang di Provinsi Sumatera Selatan. Data diperoleh dari hasil penelitian Riset khusus Tanaman obat dan Jamu tahun 2015 melalui tim manajemen data Badan Litbang Kesehatan. Informan penelitian ini sebanyak 14 battra dari Suku Taleko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang terdiri dari 21 jenis. Brotowali (Tinospora crispa (L)) merupakan tumbuhan yang paling banyak digunakan battra sebagai ramuan pengobatan malaria. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun. Battra memperoleh tumbuhan obat dengan mencari di sekitar tempat tinggal, namun masih ada beberapa tumbuhan yang harus didapatkan di dalam hutan. Tidak ada upaya melestarikan tumbuhan obat yang sudah langka dan sulit didapatkan dari dalam hutan seperti daun Tedimfuk (Claoxylon indicum (Reinw. Ex Blume) Hassk) dan Lengkenai duduk (Unidentiified). umbuhan obat yang masih bisa didapatkan di dalam hutan seperti daun Belidang seni (Unidentiified) dilestarikan battra dengan menanam di perkarangan/kebun. Simpulan dari tulisan ini bahwa tumbuhan obat untuk malaria yang habitatnya di hutan dan sudah sulit ditemukan menjadi alasan battra tidak dapat melestarikannnya maka perlu pemberdayaan masyarakat pada suku-suku di Sumatera Selatan tentang manfaat apotik hidup, sehingga masyarakat termotivasi memanfaatkan kebun dengan ditanami tumbuhan obat dan mewariskan pengetahuan mengenai tumbuhan obat ke generasi selanjutnya.
ANALISIS DATA SPASIAL MALARIA DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2017 Nungki Hapsari Suryaningtyas; Milana Salim; Indah Margarethy
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.18 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1291

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang tidak terlepas dari keberadaan lingkungan fisik dan biologis yang mendukung terjadinya penyakit. Faktor lingkungan seperti iklim, temperatur dan curah hujan merupakan faktor pemicu pemunculan kembali penyakit malaria di suatu wilayah. Kejadian malaria di Provinsi DIY hanya terjadi di Kabupaten Kulon Progo dengan penyebaran di enam kecamatan. Tujuan analisis ini untuk mengetahui hubungan perubahan iklim (curah hujan dan hari hujan) dan ketinggian tempat terhadap kejadian malaria di Kabupaten Kulon Progo. Kajian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data sekunder malaria di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2017. Data kejadian malaria diperoleh dari Profil Kesehatan Kab. Kulon Progo, sedangkan data curah hujan, hari hujan dan ketinggian tempat berasal dari Badan Pusat Statistik. Data diolah dan dianalisis dengan melakukan overlay antara variabel stratifikasi malaria dengan variabel ketinggian, curah hujan dan hari hujan. Hasil penelitian menunjukkan pola spasial kejadian malaria tersebar di seluruh ketinggian dengan kejadian tertinggi berada di ketinggian 500-1000 mdpl, dengan curah hujan >200 mm (bulan basah) dan hari hujan yang tinggi. Perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan dengan melakukan pengamatan terhadap curah hujan, kelembapan dan suhu dalam skala mingguan bekerjasama dengan BMKG. Disarankan pula untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah perbatasan mengenai upaya pencegahan penularan malaria.