Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN

Pengaruh Interval Waktu Panen terhadap Produksi Biomassa Chlorella sp. dan Melosira sp. untuk Penangkapan Karbon secara Biologi Prayitno, Joko; Rahmasari, Iklima Ika; Rifai, Agus
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.286 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v21i1.3777

Abstract

ABSTRACTThe aim of this study was to determine the effect of harvesting frequency on the growth of Chlorella sp. and Melosira sp. and on their total biomass production to estimate the amount of carbon fixed during 11 days of culture. Chlorella sp. and Melosira sp. were cultured in f/2 medium in seawater. The biomass was harvested at harvesting intervals of every day (P1), every 2 days (P2) and every 3 days (P3). The biomass of Chlorella sp. harvested at P1, P2 and P3 were 0,49 g/L, 0,43 g/L, and 0,35 g/L, respectively. The highest total biomass production of Chlorella sp. after 11 days of cultivation was obtained from P1 (8,80 g/L), while total biomass production at P2 and P3 were 52% (4,59 g/L) and 30% (3,25 g/L) of that P1, respectively. The biomass harvested at P1, P2 and P3 were 2,41 g/L, 1,40 g/L, and 1,63 g/L. Total biomass production of Melosira sp. during 11 days of cultivation for P1, P2 and P3 were 34,56 g/L, 17,33 g/L, 11,20 g/L, respectively. Our results showed that the highest total biomass production of both Chlorella sp. and Melosira sp. were obtained from harvesting every day. The estimated value of CO2 bio-fixation based on biomass production by Chlorella sp. and Melosira sp. were 1,5 g/L/day and 5,9 g/L/day, respectively.Keywords: biomass, microalgae, Chlorella sp, harvesting interval, Melosira sp, carbon capture ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval waktu panen biomassa mikroalga terhadap pertumbuhan Chlorella sp. dan Melosira sp., dan perolehan total biomassanya untuk estimasi CO2 yang difiksasi selama kultur 11 hari. Chlorella sp. dan Melosira sp. dikultivasi dalam media air laut yang berisi nutrien f/2. Biomassa mikroalga dipanen dengan interval waktu panen tiap hari (P1), tiap 2 hari (P2) dan tiap 3 hari (P3). Sebagai kontrol (P0), biomassa mikroalga dipanen hanya pada akhir percobaan yaitu di hari ke-11. Kelimpahan sel kultur Chlorella sp. pada perlakuan P1, P2 and P3 masing-masing adalah 2,38x106 sel/mL, 2x106 sel/mL,1,5x106 sel/mL, sedangkan total biomassa yang diperoleh masing-masing adalah 0,49 g/L, 0,43 g/L, dan 0,35 g/L. Total produksi biomassa Chlorella sp. tertinggi yang diperoleh selama 11 hari kultivasi dijumpai pada perlakuan P1 (8,80 g/L), sedangkan total produksi biomassa pada P2 dan P3 hanya 52% (4,59 g/L) dan 30% (3,25 g/L) dari total biomassa P1. Kelimpahan sel Melosira sp. yang dipanen dengan interval P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 4,28x106 sel/mL, 2,22x106 sel/mL, dan 2,36x106 sel/mL, dan biomassa yang diperoleh masing-masing adalah 2,41 g/L, 1,40 g/L, dan 1,63 g/L. Total produksi biomassa Melosira sp. yang diperoleh selama 11 hari kultivasi untuk perlakuan P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 34,56 g/L,17,33 g/L, dan 11,20 g/L. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa total produksi biomassa tertinggi pada Chlorella sp. dan Melosira sp.dijumpai pada kultur yang dipanen setiap hari. Estimasi serapan karbon berdasarkan biomasa yang dihasilkan oleh Chlorella sp dan Melosira sp. masing-masing adalah 1,5 g/L/hari dan 5,9 g/L/hari.Kata kunci: biomassa, mikroalga, Chlorella sp., interval panen, Melosira sp., penangkapan karbon
Pola Pertumbuhan dan Pemanenan Biomassa dalam Fotobioreaktor Mikroalga untuk Penangkapan Karbon Prayitno, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.87 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i1.1464

Abstract

Teknologi fotobioreaktor mikroalga untuk penangkapan karbon merupakan teknologi yang mengandalkanproses fotosintesis untuk memfiksasi gas CO2 dan mengkonversinya menjadi biomassa. Faktor utamayang mempengaruhi proses pertumbuhan, fiksasi karbon dan produksi biomassa adalah jenis mikroalga,gas CO2, nutrisi, cahaya, suhu, pH dan pengadukan. Untuk aplikasi teknologi ini dalam skala besar,selain faktor-faktor tersebut di atas, karakteristik pertumbuhan mikroalga tertentu dan pemanenannyaperlu diketahui untuk mendapatkan hasil yang maksimum. Hingga saat ini masih sedikit informasi yangdiperoleh tentang karakteristik pertumbuhan dan produksi biomassa dari mikroalga dalam fotobioreaktoryang dipanen dengan sistem semi-kontinu dan sistem kontinu. Tujuan dari tulisan ini adalah membahastentang pola pertumbuhan sel-sel mikroalga dalam fotobioreaktor yang berkaitan dengan strategipemanenan sistem batch, semi-kontinu dan kontinu, dan untuk menentukan sistem yang lebih cocokditerapkan di Indonesia. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem, pemanenansistem semi-kontinu menjadi pilihan utama untuk aplikasi fotobioreaktor mikroalga penangkap karbon diIndonesia.
Penghilangan Senyawa Fenol Oleh Bakteri Yang Diisolasi dari Area Pertambangan Minyak Bumi Prayitno, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.212 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.1067

Abstract

The aim of this research was to study the effectiveness of local bacterial strains from oil-contaminated soil to degrade phenol. The study consisted of two experiments, using six individual strains and using mix of strains. Bacterial strains used in the first experiment were 1.3, 3.3 dan 8.2.1 (Bacillus sp.), strain 3.2 (Propionibacterium), strain 3.4 (Pseudomonas sp.), and strain 8.1.2 (Enterobacter sp.).Bacterial strains used in the second experiment were mix of all six strains (K6) and mix of three strains (K3) consisted of  strain 3.4, 8.1.2 and 8.2.1 with the same ratio. The experiments were conducted in 100 mL Bushnell and Haas medium containing 300-400 ppm phenol for three days.Three strains (strain 3.4, 8.1.2, dan 8.2.1) had the highest phenol removal efficiency at day 3, i.e. 99-100%. COD values were decreased to 345-393 mg/L or 56-61.3% by those three strains. Mix culture K6 effectively removed phenol form the medium, but COD value decreased to only 56.7%. The fate of COD decrease was not the same as phenol removal by these strains (either in idividual or mix cultures), because phenol was degraded into intermediate compounds. 
Pemberian Pupuk Komersial untuk Pembentukan Biomassa pada Kultur Mikroalga Chlorella sp. dalam Sistem Fotobioreaktor Penangkap Karbon Prayitno, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2015)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5094.651 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v16i1.1611

Abstract

Abstrak. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga dalam fotobioreaktor penangkan karbon (CO2) adalah nutrien. Percobaan skala laboratorium umumnya menggunakan komposisi nutrien lengkap f/2 yang harganya relatif mahal sehingga perlu dicari alternatif pupuk yang lebih murah namun tetap menghasilkan biomassa yang tinggi. Tujuan percobaan ini adalah menguji efektifitas pemberian pupuk komersial GrowMore™ dan dosis yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhan mikroalga Chlorella sp dalam fotobioreaktor sistem multi tubular airlift (MTAP). Dosis pupuk yang diuji adalah 1 dan 2 g/L. Pemberian pupuk 1 g/L menghasilkan biomassa 1,02 g/L pada hari ke-13, lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk 2 g/L yang menghasilkan 0,57 g/L. Laju pertumbuhan spesifik dari sel Chlorella sp adalah 0,29 - 0,34 sel/hari dengan waktu generasi 49,4 - 56,7 jam. Serapan CO2 berfluktuasi selama percobaan berlangsung dengan pola fluktuasi yang sama antara pemberian pupuk 1 g/L dengan 2 g/L dan berada pada kisaran nilai 31,6 – 98,5 %. pH kultur secara umum menurun selama percobaan yaitu dari 7,0 menjadi 6,0. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pupuk komersial dapat dijadikan sebagai alternatif nutrien untuk kultur mikroalga dalam fotobioreaktor penangkap karbon.Kata kunci: biomassa, mikroalga, fotobioreaktor, Chlorella sp.
Ujicoba Konsorsium Mikroba dalam Upaya Bioremediasi Tanah Tercemar Minyak Dengan Menggunakan Teknik Landfarming Skala Bangku Prayitno, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.688 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.2050

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh dari pemberian konsorsium bakteri, dosis bakteri dan bahan organik yang diberikan ke dalam tanah tercemar minyak asal Bojonegoro menggunakan teknik landfarming skala bangku. Percobaan ini terdiri dari dua bagian, yaitu penambahan mikroba tanpa atau dengan penambahan bahan organik. Konsorsium bakteri yang dicoba adalah K1 (campuran strain 3.3, 3.4 dan 6.9) dan K2 (campuran strain P2 dan P6). Dosis konsorsium bakteri yang diuji adalah 106, 109 dan 1012 cfu/g tanah. Kadar minyak awal dalam tanah adalah 5,8% dan 4,6%. Sebelum diinokulasi, tanah ditambahkan pupuk Urea dan NPK. Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan suhu tanah hingga 40ºC dan penurunan pH dari 8.1 menjadi 7.6 pada minggu pertama percobaan. Nilai TPH masing-masing perlakuan turun dari 5,8% menjadi 2.8-3.2% setelah 12 minggu. Analisis statistik menyatakan bahwa pemberian konsorsium, dan dosis konsorsium bakteri tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan nilai TPH maupun terhadap populasi mikroba tanah. Pada percobaan 2 (dengan penambahan bahan organik), kedua konsorsium bakteri dapat menurunkan TPH di bawah 1% setelah 5 minggu percobaan. Berdasarkan hasil percobaan ini, konsorsium bakteri yang dikembangkan di lab diduga mengalami kendala lingkungan yang menyebabkan tidak dapat hidup lama di tanah.Kata kunci: bioremediasi,konsorsium mikroba, tanah tercemar minyak,  TPH
FORMULASI KONSORSIUM MIKROBA ASAL PERTAMBANGAN MINYAK SIAK RIAU YANG EFEKTIF DALAM MENDEGRADASI SENYAWA HIDROKARBON Prayitno, Joko; Prisha, Radianti; Herlina, Sri
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 12 No. 2 (2011)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.547 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v12i2.1255

Abstract

Uji degradasi minyak dari enam isolat bakteri (P1, P2, P3, P4, P5 dan P6) dan konsorsiumnya (K1, K2 dan K3) telah dilakukan dalam skala laboratorium. Isolat-isolat bakteri tersebut berasal dari tanah tercemar minyak di sumur pertambangan minyak di Siak, Riau. Konsentrasi awal minyak yang digunakan dalam kultur percobaan adalah 2.4 g/100 ml. Nilai Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) diukur pada hari ke-12 percobaan.Dari enam isolat yang dicoba, isolat P2 dan P6 memiliki nilai TPH terendah yaitu masing-masing sebesar 0.44 g (atau terjadi penurunan TPH sebesar 69.9%) dan 0.49 g (65.5% penurunan TPH). Isolat P2 dan P6 ini kemudian dipilih dan dikombinasikan untuk menentukan formulasi isolat terbaik dalam percobaan konsorsium. Kombinasi isolat bakteri yang dicoba dalam percobaan konsorsium adalah K1 (campuran dariisolat P2 dan P6 dengan rasio 1:1), K2 (campuran dari isolat P1, P2, P3, P4, P5 dan P6 dengan rasio 1:1:1:1:1:1) dan K3 (campuran dari isolat P1, P2, P3, P4, P5 dan P6 dengan rasio 1:3:1:1:1:3). Konsentrasi awal minyak yang digunakan dalam percobaan adalah 2.7 g/100 ml. Nilai TPH terendah ditemukan dalam kultur K1 yaitu sebesar 0.43 g, atau terjadi penurunan nilai TPH sebesar 84.2%. Nilai TPH pada kultur K3 adalah 0.68 g atau terjadi penurunan sebesar 78%. Nilai TPH ini lebih tinggi dari K1, namunlebih rendah dari K2 ataupun kultur tunggal P6. Hasil dari percobaan ini menunjukkan bahwa tingkat degradasi minyak dapat ditingkatkan dengan menggunakan campuran dari isolate-isolat tertentu. Kata kunci: bioremediasi minyak, biodegradasi, konsorsium mikroba AbstractLaboratory experiments have been conducted to test the effectiveness of six bacterial isolates (P1, P2, P3, P4, P5 and P6) and their consortia (K1, K2 and K3) to degrade crude oil. The bacteria were obtained from the oil-contaminated soil around well sites in Siak, Riau. The initial amount of crude oil added into the culture media was 2.4g/100ml. Total petroleum hydrocarbon (TPH) was determined after 12 days of culture. Of six isolates, isolate P2 and P6 had the lowest TPH value after 12 days of culture, i.e. 0.44 g (69.9% oil reduction) and 0.49 g (65.5% oil reduction), respectively. Therefore, isolate P2 and P6 were selected and mix to determine the best combination of bacterial strains in a consortium. The combinations of bacterial isolates representing three mix  cultures were K1 (mix culture of isolate P2 and P6 with 1:1 ratio), K2 (mix culture of isolate P1, P2, P3, P4, P5 and P6 with 1:1:1:1:1:1 ratio), and K3 (mix culture of isolate P1, P2, P3, P4, P5 and P6 with 1:3:1:1:1:3 ratio). The initial amount of crude oil addedinto the cultures was 2.7 g. The lowest TPH value among the three mix cultures was found in K1 i.e. 0.43 g, or there was a 84.2% oil reduction. K3 had a higher TPH value than K1 (0.60 g or 78% reduction), but had a lower value than K2 or the single culture P6. Results from this study showed that oil degradation rate can be increased using mix culture of selected strains. Key words: oil bioremediation, biodegradation, microbe consortium