Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGARUH JENIS KATODA TERHADAP GAS HIDROGEN YANG DIHASILKAN DARI PROSES ELEKTROLISIS AIR GARAM Siregar, Munawar Alfansury; Umurani, Khairul; Damanik, Wawan Septiawan
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v21i2.10386

Abstract

Produksi hidrogen dengan bahan baku air yang sedang dikembangkan ialah proses  elektrolisis. Tetapi karena proses elektrolisis membutuhkan energi listrik sebagai pemicu terjadinya  reaksi, sehingga proses ini memberikan  efisiensi yang relative rendah. Proses elektrolisis dapat dijalankan jika ketrsediaan akan sumber energi listrik yang murah lagi mudah didapatkan. Upaya menurunkan jumlah pemakaian energi listrik pada proses elektrolisis seperti pengujian dengan pariasi jarak katoda dan anoda, campuran elektrolit dan jenis elektroda yang digunakan terus dikembangkan agar dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi belum menuai hasil yang memuaskan. Oleh sebab itu penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang pengaruh jarak katoda dan anoda terhadap tekanan gas yang di hasilkan pada proses elektrolisis air garam. Penelitian ini menggunakan sumber arus baterai 12V, dan jarak yang telah ditetapkan pada katoda dan anoda ialah 80 mm,120 mm dan 200 mm. Jenis elektroda yang digunakan Stainless steel, Aluminium dan Tembaga, dengan jumlah campuran garam yang terlarut dalam air ialah 250 gram dalam lima liter air, atau sekitar 50 gram perliter air. Hasil dari pengujian tekanan gas yang dihasilkan oleh elektroda yang berbahan stainless steel lebih tinggi dibandingkan oleh elektroda yang berbahan aluminium dan tembaga  dan semakin dekat jarak elektroda maka tekanan gas yang dihasilkan semakin tinggi. Dengan menggunakan manometer tabung U tekanan gas hidrogen diukur pada elektroda stainless steel pada sisi katoda jarak 80 mm sebesar 9733 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 9246 Pa, jarak 120 mm tekanan hydrogen pada sisi katoda 7884 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 7838 Pa, pada jarak 200 mm tekanan hydrogen pada sisi katoda  5937 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 6326 Pa. Sedangkan tekanan hydrogen pada elektroda Aluminium pada sisi katoda  9246.8 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda  9052 Pa,  dan tekanan hidrogen pada elektroda Tembaga tekanan pada sisi katoda  6034 Pa, dan tekanan klorin pada sisi 5840 Pa. Hasil menunjukkan perbandingan tekanan pada jarak yang telah di tetapkan dan perbandingan tekanan pada setiap jenis elektroda
Analisa Energi pada Alat Desalinasi Air Laut Tenaga Surya Model Lereng Tunggal Siregar, Munawar Alfansury; Damanik, Wawan Septiawan; Lubis, Sudirman
Jurnal Rekayasa Mesin Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jrm.2021.012.01.21

Abstract

The use of solar energy every day is increasing due to the greater human need for energy. the application of solar desalination equipment is classified as a renewable technology that is very profitable because the energy used is obtained for free and does not cause damage to the environment. This study examines the performance of the solar desalination device with a single slope model with a passive system. It is hoped that greater energy absorption is expected to accelerate the process of evaporation of seawater in the evaporator so as to produce lots of clean water. The desalination tool on the surface of the wall is insulated using aluminum foil with a thickness of 20 mm. The highest solar intensity was obtained on the fifth day of testing, namely 420.85 W/m2 with the radiation heat transfer coefficient of 18.44 W/m2 oC, and the lowest solar intensity on the second day, namely 96.89 W/m2 with the lowest total outside heat transfer coefficient of 25.57 W/m2 oC. The highest evaporative heat transfer coefficient is 10.54 W/m2 oC and the lowest is 4.42 W/m2 oC. the lowest energy absorbed by the evaporator on the second day was 1.37 kWh. And the highest efficiency on the fifth day reached 58.89% and the lowest energy efficiency on the second day, namely 34.05%.
PENGARUH JENIS KATODA TERHADAP GAS HIDROGEN YANG DIHASILKAN DARI PROSES ELEKTROLISIS AIR GARAM Munawar Alfansury Siregar; Khairul Umurani; Wawan Septiawan Damanik
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v21i2.10386

Abstract

Produksi hidrogen dengan bahan baku air yang sedang dikembangkan ialah proses  elektrolisis. Tetapi karena proses elektrolisis membutuhkan energi listrik sebagai pemicu terjadinya  reaksi, sehingga proses ini memberikan  efisiensi yang relative rendah. Proses elektrolisis dapat dijalankan jika ketrsediaan akan sumber energi listrik yang murah lagi mudah didapatkan. Upaya menurunkan jumlah pemakaian energi listrik pada proses elektrolisis seperti pengujian dengan pariasi jarak katoda dan anoda, campuran elektrolit dan jenis elektroda yang digunakan terus dikembangkan agar dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi belum menuai hasil yang memuaskan. Oleh sebab itu penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang pengaruh jarak katoda dan anoda terhadap tekanan gas yang di hasilkan pada proses elektrolisis air garam. Penelitian ini menggunakan sumber arus baterai 12V, dan jarak yang telah ditetapkan pada katoda dan anoda ialah 80 mm,120 mm dan 200 mm. Jenis elektroda yang digunakan Stainless steel, Aluminium dan Tembaga, dengan jumlah campuran garam yang terlarut dalam air ialah 250 gram dalam lima liter air, atau sekitar 50 gram perliter air. Hasil dari pengujian tekanan gas yang dihasilkan oleh elektroda yang berbahan stainless steel lebih tinggi dibandingkan oleh elektroda yang berbahan aluminium dan tembaga  dan semakin dekat jarak elektroda maka tekanan gas yang dihasilkan semakin tinggi. Dengan menggunakan manometer tabung U tekanan gas hidrogen diukur pada elektroda stainless steel pada sisi katoda jarak 80 mm sebesar 9733 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 9246 Pa, jarak 120 mm tekanan hydrogen pada sisi katoda 7884 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 7838 Pa, pada jarak 200 mm tekanan hydrogen pada sisi katoda  5937 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda 6326 Pa. Sedangkan tekanan hydrogen pada elektroda Aluminium pada sisi katoda  9246.8 Pa, tekanan klorin pada sisi anoda  9052 Pa,  dan tekanan hidrogen pada elektroda Tembaga tekanan pada sisi katoda  6034 Pa, dan tekanan klorin pada sisi 5840 Pa. Hasil menunjukkan perbandingan tekanan pada jarak yang telah di tetapkan dan perbandingan tekanan pada setiap jenis elektroda
Uji Eksperimental Kemampuan Lemari Pembeku Terhadap Beban Pendingin Menggunakan Energi Matahari Sudirman Lubis; Munawar Alfansury Siregar; Wawan Septiawan Damanik
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 23, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v23i1.15717

Abstract

Penggunaan mesin pembeku saat ini sudah menjadi kebutuhan masayarakat luas, dikarenakan sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. Beban pendingin yang diberikan sangat mempengaruhi kinerja mesin Pembeku, baik dari konsumsi energi listrik maupun kemampuan yang akan meningkatkan waktu pemakaian sistem yang lebih lama. Beban pendingin yang akan digunakan akan disesuaikan dengan kapasitas dari sumber energi yang digunakan yaitu berdaya 410 WP. Dengan kapasitas lemari pembeku yang digunakan berdaya 1/4 PK yang akan ditingkatkan kemapuannya/efisiensi untuk dapat digunakan dan menggantikan lemari pembeku berenergi listrik berbayar. Pengujian dilakukan dengan membandingkan data penggunan listrik PLN dan listrik bersumber dari panel surya. Hasil menunjukkan bahwa temperatur box pendingin akan lebih cepat menurun jika menggunakan arus listrik PLN, hal ini dikarenakan arus listrik PLN selalu konstan dan ketika digunakan, berbeda halnya penggunaan listrik dari panel surya yang bergantung dengan perubahan cuaca. Tegangan arus listrik diawal waktu pngujian 27,3 Volt dan akan terus meningkat hingga puncaknya pada siang hari hingga mencapai 36,1 Volt. Koefisien kemampuan kerja mesin juga di uji, yaitu pada saat penggunaan arus listrik PLN nilai COP pada temperatur 25oC hanya mecapai  2,2286 sedangkan dengan menggunakan arus listrik dari panel surya mampu mencapai 2,4663 dan bersamaan akan berangsur turun ketika mencapai temperatur 0oC. Hal ini dikarekan keuntungan penggunaan arus listrik yang bersumber dari energi matahari murah pada pencapaian yang sama
Pelatihan Penggunaan Sensor HMC 5883L Sebagai Petunjuk Arah Kiblat Sumatera Utara Sudirman Lubis; Faisal Irsan Pasaribu; Partaonan Harahap; Wawan Septiawan Damanik; Rahmad Syukur Siregar; Munawar Alfansury Siregar; Puja Rizqy Ramadhan; Soulthan Saladin Batubara
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Ihsan (Oktober)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v2i2.5336

Abstract

Cara kerja dari sensor HMC 5883L sebagai pendamping kompas analog penunjuk arah mata angin dan penunjuk arah kiblat. Mengetahui kemampuan kerja sensor HMC 5883L untuk hasil pembacaan arah pada layar LCD dan tampilan LED light. Mendapatkan arah kiblat yang akurat dan tampilan arah yang baik agar mudah dipahami pengguna. Dapat sebagai pendamping data kompas RHI yang berada pada Lembaga OIF UMSU. Pada penelitian yang dilakukan pengujian pada sensor kompas HMC 5883L dapat membaca 8 arah mata angin yang telah ditampilkan pada layar LCD dalam bentuk jumlah derajat dalam angka dan batas antara arah sisi Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara dan Timur Laut. Pada setiap arah dan batas mata angin, selain ditampilkan pada layar LCD batas dari kedelapan arah mata angin juga di tunjukkan pada lampu LED yang menyala sesuai dengan jumlah mata angin sebanyak 8 buah. Kemampuan pembacaan sensor HMC 5883L cukup baik dikarenakan selisih pembacaan sudut kemiringan arah kiblat yang masih dalam kategori aman yaitu 7o sementara rentang jarak aman kemiringan arah kiblat di Indonesia yaitu 5o.
The Design and Qibla Direction by Using the Hmc 5883 L Sensor as a Compass Rhi in the UMSU Science Laboratory (OIF) Sudirman Lubis; Faisal Irsan Pasaribu; Wawan Septiawan Damanik; Munawar Alfansury Siregar; Irpansyah Siregar; Edi Sarman Hasibuan
Budapest International Research in Exact Sciences (BirEx) Journal Vol 2, No 3 (2020): Budapest International Research in Exact Sciences, July
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birex.v2i3.1077

Abstract

The level of accuracy of a measuring instrument is expected to be good because it is expected to provide information that can be used as a reference and benchmark in research and application in public life. The use of a compass measuring device in determining the direction of the wind and the location of the magned earth may vary from year to year such as the compass analog and digital. Both offer good reading results with the same way of working utilizing magnetic poles north and south as a reference point. HMC 5883L sensor is one measuring tool that is able to detect the direction of the compass with the same way of working from analog and digital compasses. By using Arduino Uno as a microcontroller as a central control that is able to change the information received from the HMC 5883L sensor into an easy-to-understand form of data. Qibla is more accurate by comparing the reading results of both. The results of the HMC 5883L compass sensor reading will be visualized in the form of the pointer, the pointer light and will be changed in numerical form. All data changed in the form of work is the result of an order from Arduino Uno received from the HMC 58883L sensor. A total of eight LED lights are used as a pointer to the compass and are connected with data obtained from the sensor.
Simulasi Perpindahan Panas Pada Heater Injection Molding Menggunakan Software Solidworks Munawar Alfansury Siregar; Riawansyah Riawansyah
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 1, No 1: September 2018
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.374 KB) | DOI: 10.30596/rmme.v1i1.2434

Abstract

Plastic is a material that takes several years to decompose, so a recycling device such as an injection molding machine is needed. This injection molding is very good at managing useless plastic waste items that are worth the sale price. The purpose of this simulation analysis with solidworks software is to design the injection chamber and analyze it to get good results, so that there are no losses in making the engine later. Based on simulation data analysis is done by varying the heating temperature. Under heating conditions 150 ℃ the highest temperature distribution is 150 ℃ and the lowest is 146,196 ℃ with the lowest Heat flux 2,554,494 W / m ^ 2 and the highest Heat flux is 29,984.35 W / m ^ 2. Under heating conditions 200 ℃ the highest temperature distribution 150 ℃ and the lowest 194.611 ℃ with the lowest Heat flux 3,618,867 W / m ^ 2 and the highest Heat flux 42,477,828 W / m ^ 2. Under heating conditions 250 ℃ the highest temperature distribution of 150 ℃ and the lowest 243,027 ℃ with the lowest heat flux 4,683.24 W / m ^ 2 and the highest Heat flux 54,971,131 W / m ^ 2. From the analysis of injection chamber data the results are at a heating temperature of 150 ℃ producing a heat capacity of 41.99 KJ while at a heating temperature of 200 ℃ it produces a heat capacity of 59.49 KJ and at a heating temperature of 250 ℃ produces a heat capacity of 76.99 KJ.
Pengaruh Variasi Sudut Keluar Impeler Terhadap Performance Pompa Sentrifugal Munawar Alfansury Siregar; wawan Septiawan Damanik
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 3, No 2: September 2020
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/rmme.v3i2.5278

Abstract

The ability of a pump to drain or move a certain amount of fluida / fluida that comes out through the pressure side of the pump in units of time volume is also called the capacity of a pump. Meanwhile, the pump head is the energy per unit weight that must be provided to flow the planned amount of liquid according to the pump installation conditions. A centrifugal pump is a pump that moves liquid by utilizing the centrifugal force generated by the impeller ratation. The results of data calculations and graphic analysis on the effect of variations in the impeller entry angle on the impeller with exit angle (β2) = 250,standard pump impeller,and impeller with exit angle (β2) = 350 on the performance of the centrifugal pump can be concluded, namely “the performance value of centrifugal pumps. The highest is the impeller with exit angle (β2) = 250 where the specific speed value produced is 192.52 rpm and the efficiency level of this impeller is 6.82%
Kajian Pengaruh Ketebalan Kaca Evaporator Terhadap Energi Yang Diserap Kolektor Pada Proses Desalinasi Air Laut Wawan Septiawan Damanik; Munawar Alfansury Siregar; Sudirman Lubis; Ahmad Marabdi Siregar
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 4, No 2: September 2021
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/rmme.v4i2.8071

Abstract

The testing of desalination equipment is based on the increasing level of human need for the use of clean water. Improvement methods continue to be carried out with the aim of increasing the yield of clean water from desalination equipment. This research was conducted experimentally by providing a copper collector in a desalination device with a harpan to make it easier to absorb heat so that the water in the evaporator expands faster. By providing a variable difference in glass thickness, it is hoped that it can provide information that a good glass thickness can be applied to desalination equipment. The variation of the glass thickness is 4 mm and 5 mm with the same glass surface area. The results show that glass with a smaller thickness will make the desalination tool faster in absorbing heat energy. However, some conditions may also be considered to avoid damage to the glass. With the wind speed on the fourth day of testing which is 5.67 m/s and strong solar intensity reaching 397.14 W/m2, the energy absorbed by the collector reaches 3.72 kW/day on a glass thickness of 4 mm. Meanwhile, at a different thickness of 5 mm, the energy absorbed by the collector only reaches 2.72 kW/day. This shows that the difference in glass thickness plays a role in determining the occurrence of conduction heat transfer from outside the evaporator into the evaporator chamber.
Pengembangan Lintasan Pahat Pada Pengefraisan “Umsu” Menggunakan Cnc Tu-3a Rahmatullah Rahmatullah; Khairul Umurani; Munawar Alfansury Siregar
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 4, No 1: Maret 2021
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/rmme.v4i1.6690

Abstract

Computer numerically controlled (CNC) machines have long been known and used in various industrial sectors such as the aircraft, shipping, automotive, molding and others industries. Various types of existing CNC machines such as CNC turning, CNC milling, CNC shaping, CNC drilling, CNC laser cutting and others have been commonly used in various manufacturing industries. CNC machines for production units and training unit CNC machines can be used according to milling machining parameters, machine capacity, product quality targets and workpiece material types. In milling machining using a 3-A training unit CNC machine, the first step is to design a workpiece, design G and M codes, simulate it using software such as CAD / CAM and can also be done by simulating it with a pen plotter. After evaluating and the simulation results are in accordance with the workpiece design, it can be executed for product machining. Different designs of CNC machining products have different toolpaths. In general, there are three types of techniques for path generation tools, namely iso-parametric, iso-planner, and iso-scallop height. Tool path generation on "UMSU" CNC milling machining using the CNC TU-3A has been developed a toolpath generation suitable for the "UMSU" machining. The type of tool path generation technique to be used can be considered from several factors including the complexity of the product design, the type of milling tool used, product quality, machining time and other factors.