cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 443 Documents
Validasi Metode Penetapan Kadar Lisinopril dalam Spiked Plasma Secara Ultra Performance Liquid Chromatography Melalui Derivatisasi dengan 1-Fluoro 2,4 Dinitrobenzen Sumiyani, Ririn; Martono, Sudibyo; Sugiyanto, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: A rapid, accurate, and sensitive method for determining lisinopril in spiked plasma was developed by means using an Ultra Performance Liquid Chromatography (UPLC) with 1-fluoro 2,4 dinitrobenzen (FDNB) derivatization. Lisinopril was precolumn derivatized with FDNB at optimum condition, i.e. room temperature and borate buffer at pH 11, subsequently analyzed with UPLC. Isocratic condition of acetate buffer (0.01 M, pH 3.50) : acetonitrile : metanol = 70 : 10 : 20 (v/v/v) as mobile phase, 0.3 mL/min of flow rate at λ 296 nm were applied at Acquity BEH C18 column, resulting a linearity of lisinopril at range of concentration of 5,0-100 ng/mL (Y = 410,59x + 211,91, r = 0.93). The accuration of the established method was achieved by 88,59±6,01 to 101,70± 2,56% recovery, while the precision was shown with RSD value of 2,57- 8,16 %, limit of detection (LOD) instrument of 0,73 ng/mL and limit of quatification (LOQ) 2,44 ng/mL, dwith R2 = 0,9987 dan r = 0,9993. In addition, the resulted LOD and LOQ more or less similar with the published HPLC-MS-MS method (1.03-10.0 ng/mL). Hence, it could be concluded that the developed UPLC method can be used as an alternative method for determining lisinopril in plasma.Keywords: Lisinopril, FDNB, derivatization, UPLCABSTRAK: Penetapan kadar lisinopril dalam spiked plasma secara Ultra Performance Liquid Chromatography (UPLC) melalui derivatisasi dengan 1-fluoro 2,4 dinitrobenzen (FDNB) merupakan metode yang cepat, sensitif dan akurat. Derivatisasi precolumn lisinopril dan FDNB optimum pada suhu kamar, suasana dapar borat pH 11,0, dilanjutkan analisis secara UPLC isokratis menggunakan kolom Acquity BEH C dan fase gerak dapar asetat (0,01 M pH 3,50): asetonitril:metanol (70: 10: 20, v/v/v), laju alir 0,3 mL/menit pada λ 296 nm, menghasilkan linieritas kadar lisinopril dalam spiked plasma pada rentang 5,0 -100 ng/mL terhadap luas area lisinopril-DNB dengan persamaan Y = 410,59x + 211,91 dengan R2 = 0,9987 dan r = 0,9993 Akurasi metode ditunjukkan dengan nilai % rekoveri sebesar 88,59±6,01 smpai dengan 101,70± 2,56 %. Ketelitian ditunjukkan dengan nilai RSD 2,57- 8,16 %, sedangkan Batas Deteksi Instrumen = 0,73 ng/ mL dan Batas Kuantitasi = 2,44 ng/mL. Hasil Batas Deteksi penelitian ini relatif sama dengan Batas Deteksi penetapan kadar lisinopril secara HPLC-MS (1,03- 10,0 ng/mL). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode ini berpotensi dikembangkan sebagai metode alternatif pengganti HPLC-MS untuk penetapan lisinopril dalam plasma.Kata kunci: Lisinopril, FDNB, derivatisasi, UPLC
Penilaian Pelayanan Kefarmasian Program Rujuk Balik Jaminan Kesehatan Nasional di Kotamadya Denpasar Bersadarkan Sudut Pandang Pasien Wirasuta, I Made Agus Gelgel; Wistari, Ni Made Ayu; Kosasih, Diah Ayu Nirmala; Cahyadi, Maria Fiani; Sari, Ni Putu Latsartika; Sudarni, Ni Made Rai; Sarasmita, Made Ary; Larasanty, Luh Putu Febryana
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aim of this study was to evaluate the implementation of pharmaceutical care in pharmacies from patient’s point of view. The questioner assessment based on expectations, perceptions and level of satisfaction of patients. The questions were grouped into universal pharmaceutical care aspect, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, dispensing practice, drug information and drug counseling, and drug monitoring. The patients have a very high expectation of the pharmaceutical care in aspects of universal pharmaceutical care, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, and dispensing practice. The patients expressed a high expectation of drug information and counseling care, and a medium expectation in the drug monitoring. The patients have very high perception only at universal pharmaceutical care along with the infrastructure and medicine management aspects, while the drug auditing practice and dispensary waiting time along with dispensing practice aspects have medium perception. The drug information and counseling care along with drug monitoring aspects have poor perception. The comprehensive assessment showed that patient satisfaction levels were low on pharmaceutical care on community practice. The high expectation of patients to pharmaceutical care was a challenge to pharmacist to improve their role in better patient care. Keywords: pharmaceutical care, pharmacy, patient expectation, perception, satisfaction ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek dari sudut pandang pasien. Penilaian didasarkan pada aspek harapan, persepsi dan tingkat kepuasan pasien terhadap praktek kefarmasian menggunakan kuisioner tertutup dengan penilaian berdasarkan skala Likert. Kuisioner disusun berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek tahun 2014. Pernyataan dalam kuisioner dikelompokkan ke dalam 6 aspek yaitu aspek layanan umum, sarana prasarana dan pengelolaan perbekalan Kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, dispensing, layanan Pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta monitoring. Secara umum pasien memiliki harapan yang sangat tinggi pada aspek layanan umum, sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, serta pada aspek dispensing, harapan pelayanan yang tinggi pada aspek layanan pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta harapan yang sedang pada aspek monitoring. Namun demikian, pasien memiliki persepsi yang tinggi hanya pada aspek layanan umum serta sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, sedangkan pada pelayanan pengkajian resep dan waktu tunggu serta dispensing memiliki tingkat persepsi sedang, serta persepsi yang sangat rendah pada pelayanan PIO dan konseling serta monitoring. Secara menyeluruh pasien memberikan tingkat kepuasan yang rendah pada pelayanan kefarmasian. Tingginya harapan pasien pada pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan standar menunjukkan tuntutan dan peluang bagi apoteker khususnya dalam peningkatan praktek asuhan kefarmasian di apotek. Kata kunci: JKN, pasien rujuk balik, asuhan kefarmasian, apotek, persepsi, kepuasan .  
Evaluasi Kuantitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Caesarean Section di RSUD se-Kabupaten Banyumas Kusuma, Anjar Mahardian; Galistiani, Githa Fungie; Wijayanti, Dwi Nur; Umami, Muzayanatul; Nurdiyanti, .; Utaminingrum, Wahyu; Sudarso, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : Antibiotics usage in woman having caesarean section is assumed 5-fold greater than woman having normal labor. The aim of the study is to count the antibiotics usage in patient having caesaren section in several hospitals in Banyumas, i.e. RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, and RSUD Banyumas. This study use cross sectional study design, retrospective data collection of medical records and data were statistically analyzed with Mann- Whitney and Kruskal-Wallis. Results of the study showed that the greatest quantity of antibiotic use was in RSUD Ajibarang with 110.75 DDD/100 patient- days, followed by RSUD Prof. DR Margono Soekarjo and RSUD Banyumas respectively 76.20 DDD/100 patient-days and 46.07 DDD/100 patient-day. The comparison of DDD for each antibiotic in three hospitals showed a significant difference on antibiotic amoxicillin and cefotaxime usage. Keywords : antibiotics, DDD, caesarean section ABSTRAK : Penggunaan antibiotik pada pasien caesarean section diperkirakan 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan pada persalinan normal. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kuantitas penggunaan antibiotik terapi pada pasien caesarean section di beberapa rumah sakit di kabupaten Banyumas, yaitu RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, dan RSUD Banyumas. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional), pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medik dan data dianalisis dengan analisis statistik Man-Whitney and Kruskal-Wallis. Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa kuantitas penggunaan antibiotik terbesar terjadi di RSUD Ajibarang yakni 110,75 DDD/100 pasien-hari kemudian diikuti RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas dengan masing-masing 76,20 DDD/100 pasien-hari dan 46,07 DDD/100 pasien-hari. Hasil perbandingan DDD tiap antibiotik di tiga rumah sakit menunjukkan adanya perbedaan bermakna nilai DDD antibiotik amoksisilin dan sefotaksim di tiga rumah sakit tersebut. Kata kunci: antibiotik, DDD, caesarean section
Efek penambahan parasetamol pada terapi ketorolak terhadap nyeri akut pascaoperasi orthopedi Santoso, Agustinus; Huwae, Thomas Erwin CJ; Idha, Arofa; Suprapti, Budi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : The aim of this research is to analyze pain control of paracetamol addition to ketorolac compared with ketorolac alone on patient’s pain response. Ketorolac group (K group) recieved ketorolac 10 mg i.v every 8 hours and Ketorolac and Paracetamol group (KP group) recieved ketorolac 10 mg i.v and paracetamol 1,000 mg orally every 8 hours. Observation of pain intensity with Face Scale at ½ hours before and after administration at the first, the fourth and the seventh analgesics. Observation quality of pain management with QUIPS at ½ hours after administration the seventh analgesics. As the results, paracetamol addition to ketorolac provide better pain control, shown at the mean pain intensity KP group was lower at post to 4, pre to 7 and post to 7 than K group, and the QUIPS results were side effects of paracetamol additional well tolerated, reduce needs for additional analgesics, but no difference at patient satisfactions. These results suggest that paracetamol addition to ketorolac had better pain control than ketorolac alone in patients with orthopedic postoperative acute pain.Keywords : ketorolac, paracetamol, postoperative, face scale, QUIPS ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian nyeri oleh penambahan parasetamol pada ketorolak dibandingkan dengan ketorolak tunggal berdasarkan respon nyeri pasien. Kelompok Ketorolak (Kelompok K) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v setiap 8 jam dan kelompok Ketorolak dan Parasetamol (kelompok KP) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v dan parasetamol 1000 mg per oral setiap 8 jam. Penilaian intensitas nyeri dengan Face Scale pada 30 menit sebelum (pre) dan sesudah (pasca) pemberian dosis analgesik pertama, ke empat dan ke tujuh. Pengamatan kualitas manajemen nyeri dengan QUIPS pada 30 menit setelah pemberian analgesik dosis ke tujuh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri yang lebih baik, ditunjukkan oleh rerata intensitas nyeri kelompok KP pada pasca dosis ke 4, pre dosis ke 7 dan pasca dosis ke 7 lebih rendah dari kelompok K, serta hasil QUIPS bahwa efek samping penambahan parasetamol dapat ditoleransi, menurunkan kebutuhan analgesik tambahan, namun tidak berbeda pada kepuasan pasien. Hasil diatas menyatakan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri lebih baik dari ketorolak tunggal pada pasien nyeri akut pascaoperasi orthopedi. Kata kunci: ketorolak, parasetamol, pascaoperasi, QUIPS  
Formulasi Tablet Hisap Yang Mengandung Ekstrak Akar Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) Dan Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) Gozali, Dolih; Susilawati, Yasmiwar; Simorangkir, T.P.H.; Utami, Nadya Firdianna
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aims of this research is to find the best organoleptically acceptable formula of lozenges that contain ginseng and curcuma extract. Lozenges were prepared using wet granulation method with variation in concentration of sweetener (aspartame) and citric acid, i.e. for formula I aspartame 1% and citric acid 3%, formula II aspartame 0,75% and citric acid 4%, formula III aspartame 0,5% and citric acid 5%, and formula IV without aspartame and citric acid. The result of quality test of the tablets showed that tablets have a good quality and complied with the requirement. Thin Layer Chromatography indicated that all formulas still contain active ingredients from ginseng and curcuma extract after formulation process. Organoleptic test showed that formula II is the most suitable compared to the other three formulas. Keywords: formulation, lozenges, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan formula tablet hisap yang mengandung ekstrak Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) yang dapat diterima oleh masyarakat. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi pemanis (aspartam) dan asam sitrat, yaitu untuk formula I aspartam 1% dan asam sitrat 3%, formula II aspartam 0,75% dan asam sitrat 4%, formula III aspartam 0,5% dan asam sitrat 5%, dan formula IV tanpa aspartam dan asam sitrat. Pengujian kualitas tablet menunjukan bahwa tablet memiliki kualitas yang baik dan memenuhi persyaratan. Hasil uji kromatografi lapis tipis menunjukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak ginseng dan temulawak masih terdapat dalam tablet hisap. Hasil uji kesukaan yang dilakukan terhadap 30 responden menunjukan bahwa formula II lebih disukai dibandingkan ketiga formula lainnya. Kata kunci: formula, tablet hisap, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza 
Aktivitas Antioksidan Daun Iler Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br. Moelyono, M W; Rochjana, Anna Uswatun Hasanah; Diantini, Ajeng; Musfiroh, Ida; Sumiwi, Sri Adi; Iskandar, Yoppi; Susilawati, Yasmiwar
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : Antioxidants are the compounds capable to inhibit free radical reactions in the human body. This research was aimed to identify the antioxidant potency of ethanolic extract of Plectranthus scutellaroides leaves in vitro by using spectrophotometric methods with DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl hydrazyl) using vitamin C as reference. Concentrations of samples used were 75, 100, 115, 125 and 135 ppm. The antioxidant activity was measured by visible spectrophotometry at three wavelengths of 498, 518 and 538 nm. The result showed that the n-hexane fraction gave the highest antioxidant activity with IC50 of 52.5 ppm, 15 times lower than that of vitamin C (IC50 of 3.33 ppm). Phytochemical screening of the Plectranthus scutellaroides leaves indicated the presence of flavonoids, polyphenolic, monoterpenoids, sesquiterpenoids, steroids and triterpenoids. Keywords: antioxidant, Plectranthus scutellaroides, leaves, DPPH ABSTRAK Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi radikal bebas dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antioksidan dari daun Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br., secara in vitro dengan metode spektrofotometri menggunakan pereaksi 1,1-difenil 2-pikrilhidrazil (DPPH) dengan vitamin C sebagai pembanding. Daun diekstrak menggunakan etanol lalu difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat dan air. Variasi konsentrasi sampel uji yang digunakan pada pengujian ini adalah 75, 100, 115, 125 dan 135 ppm. Aktivitas antioksidan diukur secara spektrofotometri pada tiga panjang gelombang yaitu 498, 518 dan 538 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana pada konsentrasi tersebut memberikan aktivitas antioksidan paling kuat dengan nilai IC sebesar 52.5 ppm, 15 kali lebih lemah dibandingkan dengan vitamin C (IC50 = 3.33 ppm). Hasil penapisan fitokimia terhadap daun Plectranthus scutellaroides menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid, polifenolat, monoterpenoid, sesquiterpenoid, steroid dan tritertenoid. Kata kunci: antioksidan, Plectranthus scutellaroides, daun, DPPH
Efek Kronis Minuman Berenergi pada Ginjal Suharjono, .; Izzah, Zamrotul; Andarsari, Mareta Rindang; Budiatin, Aniek Setya; Rahmadi, Mahardian
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 7, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penggunaan minuman berenergi telah meluas di masyarakat hingga menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Perubahan pola hidup seperti kurang minum air putih dan sering mengkonsumsi minuman berenergi memicu terjadinya penyakit ginjal kronik. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh penggunaan beberapa jenis minuman berenergi dalam jangka waktu tertentu terhadap fungsi ginjal tikus berdasarkan parameter hematologi, urinalisis dan histopatologi ginjal. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapatkan 3 jenis minuman berenergi (ED1, ED2 dan ED3) dan air sebagai kontrol selama 30 hari. Sehari setelah pemberian minuman bernergi berakhir, tikus dimasukkan dalam kandang metabolik untuk menampung urin 24 jam. Kemudian tikus dianastesi dan diambil darah dan dikorbankan dan kemudian diambil organ ginjal untuk pemeriksaan histopatologi. Hasil urinalisis menunjukkan penurunan ekskresi kreatinin urin diiringi peningkatan rasio albumin terhadap kreatinin di urin. Pemeriksaan hematologi menunjukkan peningkatan kadar serum kreatinin, sedangkan pemeriksaan histopatologi ginjal menunjukkan abnormalitas pada medulla ginjal.
SINTESIS SORBENT EKSTRAKSI FASE PADAT DENGAN TEKNIK MOLECULAR IMPRINTING DENGAN MONOMER AKRILAMID UNTUK EKSTRAKSI GLIBENKLAMID DARI SERUM DARAH Hasanah, Aliya Nur; Kartasasmita, Rahmana Emran; Ibrahim, Slamet
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 7, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Glibenklamid merupakan obat yang digunakan dalam penanganan diabetes melitus dan digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Efisiensi pemisahan glibenklamid dibutuhkan untuk monitoring kadar obat dalam darah dalam upaya memastikan efektivitas obat. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh sorben Molecular Imprinted Solid Phase Extraction (MI-SPE) untuk pemisahan glibenklamid dari sampel serum. Penelitian dilakukan dengan tahapan sintesis metode polimerisasi ruah,karakterisasi MI-SPE yang dihasilkan dan aplikasinya pada sampel serum. Sintesis MI-SPE dilakukan menggunakan dua komposisi rasio template:monomer:cross linker dalam kloroform sebagai porogen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa adsorpsi MI-SPE dengan rasio 1:6:70 menghasilkan persentase adsorpsi 88,47% pada Molecular Imprinted Polymer (MIP) dan 54,33% terhadap Non Imprinted Polymer (NIP). Aplikasi sorben MIP dalam ekstraksi fase padat dilakukan menggunakan 200 mg polimer pada cartridge 3 mL. Sampel serum yang ditambahkan glibenklamid kemudian dilewatkan ke dalam MIP menghasilkan nilai persen perolehan kembali 89,67;93,75;92,64 dan 82,82% untuk konsentrasi 0,5;2;4 dan 6 mg L-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MI-SPE yang dibuat dari monomer akrilamid dengan komposisi 1:6:70 dapat digunakan sebagai pretreatment untuk ekstraksi glibenklamid dari serum darah.
Isolasi Dan Karakterisasi Asam Asiatat Dari Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella Asiatica. (L.) Urban) Musfiroh, Ida; Nursyamsiah, Tresna; Sutisna, Entris; Muhtadi, Ahmad; Kartasasmita, Rahmana E; Ibrahim, Slamet
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 7, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asam asiatat merupakan senyawa golongan triterpenoid pentasiklik yang terdapat dalam tanaman pegagan (Centella Asiatica. (L.) Urban). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa asam asiatat dari ekstrak etanol herba pegagan. Isolasi dilakukan dengan metode maserasi dan teknik kromatografi, dan karakterisasi dilakukan dengan spektrofotometri UV Vis, IR, MS dan LC/MS-MS. Hasil isolasi berupa serbuk berwarna putih, dan memberikan serapan pada panjang gelombang maksimum (λmax) 206 nm, mempunyai gugus fungsi yang terdiri dari regang –OH (3433 cm-1), regang C-H alifatik (2929 cm-1), regang C=O (1709,82) dan ulur C-H (1462-1380 cm-1) serta ulur C-O (1242-1147 cm-1). Senyawa mempunyai massa molekul sebesar 489,4982. Isolat adalah asam asiatat yang mempunyai rumus molekul C30H48O5.
PERBANDINGAN EFEK ANTIPIRETIK ANTARA IBUPROFEN DENGAN CAMPURAN IBUPROFEN DAN KAFEIN Juwita, Dian Ayu; Noviza, Deni; Erizal, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 7, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Ibuprofen merupakan kelompok obat anti inflamasi non steroid yang mempunyai efek antiinflamasi, analgetik dan antipiretik. Penggunaannya sebagai antipiretik semakin meningkat di masyarakat. Pada sediaan farmasi, obat-obat antipiretik sering dikombinasikan penggunaannya bersama kafein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek antipiretik dari ibuprofen murni dengan campuran ibuprofen dan kafein. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan yang dibagi menjadi 3 kelompok uji. Kelompok I diberi Na-CMC 1% dan larutan pepton 5%. Kelompok II diberi Ibuprofen murni dosis 5,4 mg/ 200 gram BB dan larutan pepton 5%. Kelompok III diberi Campuran Ibuprofen : Kafein ; 0,4 : 0,6 dosis 5,4 mg/ 200 gram BB dan larutan pepton 5%. Pengukuran suhu dilakukan sebelum pemberian larutan pepton, 3 jam setelah pemberian larutan pepton, dan tiap 30 menit setelah perlakuan hingga menit ke 150 menggunakan termometer digital. Data penurunan suhu dianalisa secara statistik menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut duncan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan secara bermakna (p < 0,05) pada penurunan suhu antara ibuprofen murni dengan campuran ibuprofen dan kafein, ini artinya efek antipiretik campuran ibuprofen dan kafein lebih tinggi dibandingkan dengan ibuprofen murni.   Kata kunci : Efek antipiretik, Ibuprofen, Kafein   ABSTRACT   Ibuprofen is a group of non-steroid anti-inflammatory drugs which have anti-inflammatory, analgesic and antipyretic effect. The using of Antipyretic is increase in society. In pharmaceutical product, antipyretic drugs often combined with caffeine. This research is done to find out the comparation of antipyretic effect between ibuprofen and combination of ibuprofen with caffeine. This research used 15 male white rats which aged between 2-3 months and divided into three groups. Group I received Na-CMC 1 % and peptone solution 5 %. Group II received Ibuprofen with dose 5.4 mg/200 g BW and peptone solution 5 %. Group III received combination of Ibuprofen : Caffeine ; 0.4 : 0.6 with dose 5.4 mg/ 200 g BW and peptone solution 5 %. Temperature measurement was conducted before and 3 hours after giving peptone solution, and every 30 minutes post treatment until 150 minutes using a digital thermometer. The data was analyzed by statistical ANOVA and further duncan test. The results showed significant differences (p< 0.05) in the temperature drop between ibuprofen and combination of ibuprofen with caffeine, it means that the antipyretic effect on the combination of ibuprofen and caffeinn is higher than ibuprofen only.

Page 1 of 45 | Total Record : 443