cover
Contact Name
Abdillah Afabih
Contact Email
abdillahafa5@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalnabawi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Irian Jaya No. 10 Tebuireng Diwek Jombang
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Nabawi: Journal of Hadith Studies
ISSN : 27978370     EISSN : 27463206     DOI : -
NABAWI: Journal of Hadith Studies provide a platform for researchers on hadith and history of hadith. Author can send his research about hadith on any perspective. Nevertherless, We suggest the following broad areas of research: 1. Takhrij and dirasat al-asanid 2. Ulumul Hadith 3. Living Hadith 4. Mukhtalaf Hadith 5. Fiqh al-Hadith 6. Lughat al-hadith 7. Biographical research of ahl al-hadith
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 23 Documents
PENGERTIAN STILISTIKA DAN POSISINYA DALAM ILMU HADITS Razaq, Achmad Shidiqur
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 2 (2021): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.859 KB)

Abstract

Banyaknya perhatian dari para ulama’ terhadap kajian bahasa al-Quran tidak menyurutkan perhatian mereka terhadap kajian bahasa hadis. Sebab bahasa hadis juga tidak lepas dari usur-unsur estetis yang mencerminkan karakteristik tutur kenabian, kajian bahasa ini disebut dengan kajian stilistika. Di kalangan Ulama’ terdapat pembahasan mengenai gaya bahasa yang dimiliki oleh Nabi SAW. Apakah Tauqif  (Anugerah langsung dari Allah) atau Taufiq (Usaha dari Nabi saw dalam menguasai bahasa). Dalam konteks hadis, studi stilistika mempunyai banyak manfaat. Pertama,sebagai kajian yang mengungkapkan nilai-nilai estetika bahasa hadits. Kedua,  perangkat penting dan bahan penunjang dalam proses pemaknaan hadits.Dengan demikian penelitian hadits berbasis stilistika mempunyai peran signifikan dalam memberikan kontribusi bahan pemahaman hadisKata kunci : Al qur’an, Hadits, stilistikaAbstractThe amount of attention from the scholars' towards the study of the language of the Koran did not dampen their attention to the study of the language of hadith. Because the language of hadith is also inseparable from aesthetic elements that reflect the characteristics of prophetic speech, this language study is called a stylistic study. Among Ulama 'there is discussion about the style of language that the Prophet SAW possessed. Is it Tauqif (a direct gift from Allah) or Taufiq (the efforts of the Prophet in mastering the language). In the context of hadith, stylistic studies have many benefits. First, as a study that reveals the aesthetic values of the hadith language. Second, important tools and supporting materials in the process of interpreting hadiths. Thus, stylistic-based hadith research has a significant role in contributing to hadith understanding materials.Keywords: Al quran, Hadith, stylistics
Kontribusi Syaikh Ihsan Jampes dalam Perkembangan Diskursus Kajian Hadis di Nusantara Haq, M. Ilham Zidal
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 2, No 1 (2021): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.444 KB)

Abstract

Perhatian cendekiawan muslim di Nusantara dalam mentakhrij hadis kitab-kitab salaf masih sangat minim. Artikel ini hendak mengulas tokoh cendekiawan muslim Nusantara yang salah satu karyanya mendunia, yakni Syaikh Ihsan Jampes. Di antara karya monumentalnya adalah “Siraj Al-Talibin”, yang merupakan uraian dan komentar atas kitab “Minhaj Al-Abidin” karya Al-Ghazali. Walaupun bukan kitab hadis murni, kitab tersebut memuat diskursus kajian hadis, syarh dan takhrij. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan yang menjadikan kitab “Siraj Al-Talibin” sebagai sumber data primer. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan dan menganalisisnya secara deskriptif kritis, diikuti dengan pengambilan sampel contoh. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa Syaikh Ihsan Jampes berhasil membuat syarh kitab Minhaj al-Abidin pertama di Nusantara dan bahkan dunia secara komprehensif. Syarh tersebut memuat takhrij, tahkim, dan fiqh al-hadis. Ia juga menganalisis syarh dan takhrij yang disampaikan oleh ulama lain. Syarh Syaikh Ihsan Jampes lebih dominan membahas tata cara bunyi lafaz, penjelasan ilmu tata bahasa arab, serta makna lafaz dan uraian maksud dari matan hadis.
TRADISI PEMAHAMAN HADIS DALAM KITAB GARIB AL-HADIS DAN TRANSFORMASINYA KE TRADISI KITAB SYARAH HADIS Suryadilaga, Alfatih
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.682 KB)

Abstract

Sejarah awal Islam keberadaan keilmuan atas pemahaman hadis belum diperlukan karena sosok orang yang memberi penjelas atas al-Qur’an masih hidup. Perkembangan pemahaman hadis seusai kenabian Muhammad Saw. melahirkan pemahaman hadis yang sangat variatif dan melahirkan banyak kitab-kitab hadis yang terhimpun dalam keilmuan gharib al-hadith. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode interpretif konseptual serta menggunakan pendekatan historis atas beberapa kitab tentang gharib al-hadith dan sharh al-hadith. Artikel ini menjelaskan pemahaman hadis dalam konteks gharib al-hadith tersebut, bagaimana latar belakang kelahirannya serta menjelaskan tentang transformasi keilmuan tersebut dengan keilmuan syarah hadis. Hasil karya ulama hadis atas keilmuan hadis sangat variatif dengan delapan model kajian dan dimulai dalam bentuk sederhana seperti kamus yang hanya menjelaskan matan hadis yang kurang dimengerti oleh masyarakat. Selain itu, transformasi keilmuan gharib al-hadith ke syarah hadis adalah melahirkan bentuk yang sangat kompleks dalam pemahaman yang menjelaskan aspek menyeluruh hadis yakni sanad dan periwayat hadis serta matan hadis. Walaupun demikian, keberadaan syarah juga mengikuti perkembangan zaman dan kecenderungan penulisnya dengan melahirkan tiga bentuk yaiu syarah singkat, syarah medium dan syarah panjang lebar (lengkap). Ketiga bentuk syarah hadis tersebut telah menjadi transformasi pemahaman hadis di era sebelumnya yakni di masa gharib al-hadith dengan kajian yang terbatas.Kata Kunci: Pemahaman Hadis, Gharib al-Hadith, Sharh al-Hadith.AbstractEarly history of Islam the existence of science for understanding the hadith is not needed because the figure of the person who gives an explanation of the Qur'an is still alive. The development of the understanding of the hadith after the prophethood of Muhammad. gave birth to a very varied understanding of hadith and gave birth to many books of hadith that are collected in the science of garib al-hadith. This research includes qualitative research with conceptual interpretive methods and uses a historical approach to several books about gharib al-hadith and sharh al-hadith. This article explains the understanding of the hadith in the context of the garib al-hadith, how the background of its birth and explains the transformation of the science with the knowledge of the tradition of hadith. The results of the hadith scholar's work on the science of hadith are very varied with eight models of study and begin in a simple form like a dictionary which only explains the tradition of tradition which is less understood by the public. In addition, the transformation of scientific knowledge garib al-hadith into the tradition of shari'a is giving birth to a very complex form of understanding that explains the overall aspects of the hadith namely sanad and narrators of traditions and traditions of traditions. Nevertheless, the existence of sharia also follows the development of the times and the tendency of the author to give birth to three forms of short syarah, medium syarah and long syarah (complete). The three forms of hadith shari'ah have been transformed into the understanding of hadith in the previous era, namely in the period of garib al-hadith with limited studies.Keywords: Understanding of  Hadith, Gharib al-Hadith, Sharh al-Hadith.
Sanad Digital: Ijazah Hadis Musalsal dalam Kajian Hadis Virtual di Grup dan Halaman Facebook Akmaluddin, Muhammad
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 2, No 1 (2021): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.002 KB)

Abstract

Ijazah adalah salah satu metode dalam taḥammul wa adā’ al-ḥadīṡ dimana guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan suatu hadis, baik dengan lisan atau tulisan, dengan memberikan informasi secara global menurut tradisi yang ada. Kajian sanad digital yang berupa ijazah sanad hadis dalam kajian hadis di media online, utamanya di media sosial seperti Facebook, masih belum banyak dikaji. Artikel ini akan membahas bagaimana validitas sanad digital dengan memberikan sanad ijazah secara online serta pengaruhnya dalam kajian hadis virtual. Tulisan ini adalah penelitian literatur dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten. sanad digital yang tertulis sebagaimana diberikan oleh Dār al-Ḥadīṡ fī Kirkūk dan al-Madrasah al-Rabbāniyyah, yang berisi lengkap dengan sanad hadis, nomor dan tanggal ijazah, nama kitab, nama guru, nama penerima ijazah, asal negara, ijazah secara umum atau khusus, mendengarkan dengan sepenuhnya, sebagian, atau sebagian kecil, tanggal ijazah, stempel pengelola kajian dan lainnya, dan kemudian diperiksa lagi oleh pemberi ijazah, termasuk kategori arfa‘ al-ijāzah (ijazah yang paling tinggi). Fenomena kajian hadis di Grup Facebook Dār al-Ḥadīṡ fī Kirkūk dan Halaman Facebook al-Madrasah al-Rabbāniyyah menunjukkan bahwa era digital semakin menambah masifnya kajian hadis. Pemahaman masyarakat akan berbagai bentuk kajian hadis, utamanya hadis musalsal, menjadi lebih baik karena mempraktekkannya secara langsung. Di samping itu, kajian hadis tradisional harus tetap dilestarikan di era digital yang tanpa batas ruang dan waktu.
شرح الأحاديث المتعلقة بذكرى حفلة المولد النبي في كتاب التنبيهات الواجبات Umam, Khoirul
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 2 (2021): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.656 KB)

Abstract

المستخلص: الهدف: الهدف من هذه الدراسة هو ايضاح درجة الأحاديث الواردة في كتاب "التنبيهات الواجبات" للشيخ محمد هاشم أشعري وشرحها . الطرق:إخراج كل حديث من مصادره الأصلية مع بيان درجة الحديث وشرحه بضوابط فهم السنة عند الإمام الشافعي. النتائج: كل أحاديث في "التنبيهات الواجبات" صحيح والعمل به واجب فأما احتفال المولد بالمنكرات كما حكاه المصنف فمن استهزاء واستهانة بالنبي صلى الله عليه وسلم.
Persoalan Keberadaan Allah: Studi Analisis Hadis Riwayat Muslim No. Indeks 537 alkausar, miftah
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 2, No 1 (2021): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.423 KB)

Abstract

Kajian ini fokus menganalisa periwayatan dan pemaknaan hadis riwayat Muslim dari jalur Mu’awiyah ibn al-Hakam atau yang dapat disebut dengan hadis al-Jariyyah al-Sauda. Dalam matan hadis tersebut terdapat redaksi seakan menyelisih terhadap al-Qur’an, hadis mutawatir, dan ijma ulama dalam menetapkan keberadaan Allah dan menghukumi keimanan seoarang. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan (library research) dalam mengkaji dan menganalisa periwayatan dan makna dalam hadis tersebut dengan menghimpun semua riwayat yang semakna, menilai kualitas hadis, dan memaparkan penalaran ulama mengenai maksud dan makna dalam redaksi hadis tersebut. Kesimpulan akhir dari proses analisa bahwa hadis tersebut dinilai hadis mudtarib dan tidak boleh dipahami secara zahirnya sehingga dapat menyebabkan penetapan tasybih (penyerupaan), tamkin (penetapan tempat) bagi dzat Allah sebagaimana makhluk bertempat dan memiliki batasan dan ukuran.AbstractThis Research focuses on analyzing narration and meaning the hadith of Muslim riwayat from the path of Mu'awiyah ibn al-Hakam or what can be called the hadith of al-Jariyyah al-Sauda. In the definition of the hadith, some editorials seem to contradict the Qur'an, mutawatir hadiths, and the consensus of ulama in establishing the existence of Allah and judging one's faith. This research was conducted using library research methods in studying and analyzing the narration and meaning in the hadith by collecting all the relevant narrations, assessing the quality of the hadith, and explaining the scholars' reasoning regarding the intent and meaning in the editorial of the hadith. The conclusion of this research and analysis process is that the hadith is judged to be a mudltarib hadith and should not be understood so that it can lead to the determination of tasybih (similarity), tamkin ( placement) for the Essence of Allah as creatures have a place and have limits and measure.
TAKHRIJ AL-HADITH HADIS-HADIS DALAM BUKU SISWA “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI” KELAS XI Khamim, Khamim
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.567 KB)

Abstract

Takhrij al-Hadith pada buku “Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti” Kelas XI  belum ditemukan. Penelitian ini memfokuskan pada pelacakan sumber hadis-hadis dari buku tersebut dan kualitasnya, sehingga hasil penelitian ini akan menjadi rujukan guru untuk menjelaskan kualitas hadis pada siswanya. Penelitian ini menggunakan metode takhrij melalui kata pertama atau lafadz pembuka pada matn hadis menggunakan kitab Al-Jami’ al-Saghir fi Ahadith al-Bashir al-Nadhir karya Imam al-Suyuti. Selain itu, dalam proses pengumpulan data, penelitian ini memanfaatkan 2 (dua) software, yaitu: موسوعة الحديث الشريف  versi 2,1 (Shirkat al-Sahr li al-Baramij al-Hāsib, 1991-1996) dan CD  المكتبة الألفية للسنة النبوية versi 1.5 (Markaz al-Turāth li Abhāth al-Hāsib, 1999). Telah ditemukan sebanyak 179 sumber hadis dari 30 hadis dari penelitian buku di atas. Sebanyak 176 sumber dari kitab-kitab hadis sumber pokok, yaitu 9 kitab hadis dan 3 selain kitab-kitab hadis sumber pokok. Dari 30 hadis buku di atas, terdapat hadis yang berkualitas Sahīh li Dhātih sebanyak 19 (63,33%), Sahīh li Ghayrih sebanyak 2 (6,67%), Hasan li Dhātih sebanyak 6 (20%), dan Da’īf dan mawdu' sebanyak 3 (10%).Kata kunci: Takhrīj al-Hadith, PAI dan Budi Pekerti SMA/SMKAbstractTakhrīj al-Hadith in the book "Islamic Religious Education (PAI) and Character" Class XI has not been found. This study focuses on tracing the sources of the hadiths from the book and their quality, so that the results of this study will become a reference for teachers to explain the quality of hadiths to their students. This study uses the takhrīj method through the first word or opening lafadz in the hadith matn using the book Al-Jami 'al-Saghir fi Ahadith al-Bashir al-Nadhir by Imam. al-Suyuti. In addition, in the data collection process, this study utilizes 2 (two) software, namely: موسوعة الحديث الشريف version 2.1 (Shirkat al-Sahr li al-Barīmij al-Hāsib, 1991-1996) and CD المكتبة الألفية للسنة النبوية version 1.5 (Markaz) al-Turāth li Abhāth al-Hāsib, 1999). It has been found that 179 sources of hadith from the 30 traditions from the above book research have been found. A total of 176 sources were from the main source hadith books, namely 9 hadith books and 3 other than the main source hadith books. Of the 30 hadith books above, there are 19 (63.33%) Sahīh li Dhātih qualities, 2 (6.67%) Sahīh li Ghayrih (6.67%), Hasan li Dhātih 6 (20%), and Da'īf and mawdu' as much as 3 (10%)Keywords: Takhrīj al-Hadith, PAI dan Budi Pekerti SMA/SMK
KARAKTERISTIK HADIS MENURUT MUSTHOFA SHADIQ AR-RAFI’I Rusda, Sayidatul Afifah; Fatmawati, Sri Ayu; Sepriyana, Sepriyana
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 2 (2021): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.42 KB)

Abstract

Hadist sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran, Karakteristik dasarnya hadir dalam bentuk Jawamiul Kalim memiliki peran sebagai petunjuk,muballig, dan mubayyin atas segala apa yang dibawa Al-Qur’an.  Bertolak kepada kekhasan kebahasaannya,  maka peneliti berusaha mengungkap karakteristiknya. Syekh Musthafa Shodiq Ar-Rafi’I. salah satu penyair yang lahir di Qulbiya, Mesir. Mendefinisikan unsur  yang termuat di dalam Hdis kedalam alkhulus, alqasd, dan alistifa’, dimana ketiganya unsur ada dalam seluruh hadis, yang menyelamatkan hadis dari segala kekurangan baik keruwetan, ataupun peninjauan kembali. Metode yang digunakan  dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka, Data yang diperoleh dikompilasi, dianalisis dan disimpulkan. Penelitian ini dianggap penting karena pembahasannya yang diangkat terkait dengan karakteristik yang menjadikan hadis sebagai literatur yang tidak hanya memiliki keindahan kebahasaan namun juga kekhususannya dalam uslub bahasa arab.Dari hasil analisis peneliti menemukan bahwa hadis tidak sekedar bahasa yang indah daripada Rasulullah yang merupakan Afshahul Arab tidak saja memiliki keindahan secara unsur kebahasaannya saja.AbstractHadith as the second source of law after alquran, its basic characteristics are present in the form of Jawamiul Kalim which has a role as guidance, conveyor, and explanatory for everything that is brought in the Al-Qur'an. Starting from the peculiarities of the language, the researcher tries to reveal its characteristics. Shaykh Mustafa Shodiq Ar-Rafi'I. one of the poets who was born in Qulbiya, Egypt. Defining the elements contained in Hdis into alkhulus, alqasd, and alistifa', where the three elements are present in the whole hadith, which saves the hadith from all deficiencies, both complications and reconsideration The method used in this research is literature study method, the data obtained are compiled, analyzed and concluded. This research is considered important because the discussion raised is related to the characteristics that make hadith a literature that not only has the beauty of language but also its specificity in the Arabic language uslub. From the results of the analysis the researcher found that hadith is not just a beautiful language than Rasulullah who is an Afshahul Arabic not only only linguistically beautiful.
KAJIAN KRITIK HADIS; Perlindungan Hak Konsumen Terhadap Risiko Jual Beli Firdaus, Mohammad Anang
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.643 KB)

Abstract

Penelitian ini akan membahas sebuah hadis sahih muslim yang dihasankan oleh software Gwami’ Alkalem. Sanad hadis tersebut dihukumi hasan karena terdapat rawi yang berpotensi melakukan tadlis (penggelapan riwayat) yakni Abu Zubair. Hadis tersebut menjadi penting karena dipakai sebagai dasar kewajiban penjual memberi ganti rugi atas kerusakan buah karena penyakit buah saat sampai pada pembeli. Untuk mempermudah dalam menemukan hadis yang diteliti, takhrij hadis dalam penelitian ini ditelusuri melalui website islamweb.net, dan didukung Kitab Mu’jam Mufahras li Alfazh al-Hadith al-Nabawi dan Miftah Kunuz al-Sunnah kemudian dilakukan cross check pada referensi primernya. Adapun kritik sanad, menggunakan lima kriteria hadis sahih. Sedangkan kritik matannya menggunakan kaidah kritik matan Muhammad Ghazali. Hasilnya, hadis ini adalah hadis sahih karena semua rawi dalam hadis ini siqqah. Abu Zubair dianggap siqqah karena komentar ulama yang menjarhnya tidak mutlak, melainkan hanya jika Abu Zubair tidak menggunakan kata “sami’tu” dalam meriwayatkan hadis. Salah satu kekurangan Gwami’ al-kalem yang terungkap dari penelitian ini adalah tidak mampu membedakan lafal tahammul wa ada’ sehingga menimbulkan hasil hukum sanad yang kurang tepat.Kata Kunci: Kritik Hadis, Risiko, Jual Beli, Hasan, Sahih MuslimAbstractThis research will discuss a hadith on sahih muslim that was identified as hasan by Gwami 'Alkalem software. The sanad of the hadith was identified as hasan because there was a rawi who had the potential to commit tadlis (embezzlement of history), namely Abu Zubair. In addition, the importance of hadith is used as the basis for the seller's obligation to compensate for fruit damage due to fruit disease when it reaches the buyer. To make it easier to find the hadiths under study, the hadith was traced through the islamweb.net website, and supported by the book Mu'jam Mufahras li Alfazh al-Hadith al-Nabawi and Miftah Kunuz al-Sunnah is then cross-checked on its primary reference. As for the sanad criticism, it uses the five criteria of authentic hadith. Meanwhile, the critique of his matn uses the principles of Muhammad Ghazali. As a result, this hadith is a hadith sahih. One of the shortcomings of Gwami 'al-kalem which was revealed from this study is that it is not able to distinguish the pronunciation of tah} ammul wa ada.Keywords: Hadith Criticism, Risk, Buying and Selling, Hasan, Sahih Muslim
Metode Mengetahui Al-Dabt Al-Khafiy Pada Rawi Saduq Dan Penerapannya Pada Kritik Sanad Hadis Wardatuzzahro, Putri
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 2, No 1 (2021): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.844 KB)

Abstract

Dewasa ini dabt al-khafiy kurang diperhatikan oleh peneliti, padahal sifat tersebut menjadi salah satu pembeda antara hadis hasan dan daif. Artikel ini akan membahas tentang pengaruh al-dabt al-khafiy terhadap penentuan nilai hadis. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kepustakaan (library research). Hasilnya, tidak ada sigah khusus yang menunjukkan dabt khafiyy pada rawi. Adapun hadis yang diriwayatkan oleh rawi saduq atau semacamnya tidak langsung dihukumi sebagai hadis hasan sebelum ikhtibar dilakukan  untuk mengetahui dabt-nya. Penilaian saduq (jujur) bukan disebut ta’dil untuk keakuratan riwayat rawi melainkan untuk kesalehan rawi. Metode mengetahui dabt yang masih memungkinkan untuk dilakukan pada zaman ini adalah (1) melihat dan menganalisa komentar ulama jarh wa ta’dil; (2) membandingkan koleksi hadis yang diriwayatkan oleh rawi tersebut dengan versi lain dari rawi yang siqqah; (3) membandingkan riwayat beberapa murid rawi, dan (4) membandingkan riwayat dari murid lama dan murid barunya.AbstractNowadays, dabt al-khafiy is less noticed by researchers, even though this characteristic is one of the differences between hasan and daif hadiths. This article will discuss the influence of al-dabt al-khafiy on determining the value of hadith. The method used in this research is the library research method. As a result, there is no special stand that shows dabt khafiyy on the narrator. As for the hadith narrated by narrator saduq or the like, it is not immediately judged as hasan hadith before the ikhtibar is carried out to find out its dabt. The saduq (honest) assessment is not called ta'dil for the accuracy of the narrator's narration but for the narrator's piety. Methods of knowing dabt that are still possible to do at this time are (1) looking at and analyzing the comments of the scholars of jarh wa ta'dil; (2) comparing the collection of hadith narrated by the narrator with other versions of the siqqah narrator; (3) compare the history of several narrators, and (4) compare the history of the old and new students.

Page 1 of 3 | Total Record : 23