cover
Contact Name
Heppy Yohanes
Contact Email
heppyyohaneslim@gmail.com
Phone
+6287878968652
Journal Mail Official
info@pspindonesia.org
Editorial Address
Perum Puri Bengawan Indah Jl. Karandan Rt.007 Rw.005, Joyontakan, Serengan, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
ISSN : 2797717X     EISSN : 27977676     DOI : https://doi.org/10.54403/rjtpi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen / peneliti pada bidang Teologi. Fokus dan Scope pada Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia adalah: Sejarah pada Teologi Kajian Teologi Pentakosta Tokoh gereja Liturgi Musik Gereja Misiologi Kepemimpinan Kristen Pastoral Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia is a forum for publishing the scientific of lecturers / researchers in the field of Theology. Focus and scope on Jurnal Pentakosta Indonesia are: History of Theology The Pentacostal Analysis Theology Church Figure Liturgy Church Music Missiology Christian Leadership Pastoral
Articles 28 Documents
Mengimplementasikan Dwi Kewarganegaraan Kristen dalam Era Pos-Sekulerisme Gilrandi A. Pramonojati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.815 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.11

Abstract

This article examines the relationship of the Church to politics in post-secularism popularized by Jurgen Habermas. The research method used in this research is literature study. This research finds that, Post-secularism offered by Habermas provides space for the Church to translate the wealth contained in religion into a public message. In the view of post-secularism the Church has an important role to fill in the empty spaces that cannot be achieved by rationality. Habermas's thoughts on post-secularism also serve as a bridge to harmonize faith and rationality, as well as to explain dual citizenship as an unrelated Christian political view.Artikel ini menelaah hubungan Gereja dengan politik dalam pos-sekulerisme yang dipopulerkan oleh Jurgen Habermas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa, Pos-sekulerisme yang ditawarkan oleh Habermas memberi ruang Gereja untuk menerjemahkan kekayaan yang terkandung dalam agama menjadi pesan publik. Dalam pandangan pos-sekulerisme Gereja mempunyai peran penting untuk mengisi ruang kosong yang tidak dapat dijangkau oleh rasionalitas. Pemikiran Habermas mengenai pos-sekulerisme juga menjadi jembatan untuk menyelaraskan iman dan rasional, sekaligus menerangkan kewarganegaraan ganda sebagai pandangan politik Kristen yang selama ini tidka dimengerti.
Perayaan Israel Bagi Ekklesia Heppy Yohanes
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.114 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.12

Abstract

God as the Initiator of culture in Israel put celebration to be celebrated by them. The celebration is Passover celebration, unleavened bread, firstfruits, Pentecost, trumpet, atonement, and booths as written in Leviticus 23. In order to understand God's purpose in each of these feasts, one must have the same way of thinking as the Israelites. One form is to celebrate the feasts. But there are groups within Christianity who refuse to celebrate it on the grounds of Paul's direction in Colossians 2:16. Through descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the current condition of the church only celebrates Passover and Pentecost of the seven Israelite feasts. There are groups who thought that not all the Words are things that the church must do, especially in Leviticus 23. Celebrations based on the Hebrew language mean entering an appointed cycle and time, thus explaining that the church should follow this celebration in order to align with God's cycle and experience God's appointed time. Each of Israel feasts has great significance and is an image that can help believers experience spiritual growth. Church history proves that Israel's celebrations were no longer celebrated not by the decree of the apostles, but as a result of the shift in Constantine's reign in Rome. So, the Israelite Festival should be celebrated and taught its meaning by the church.Tuhan sebagai Penggagas kebudayaan di Israel menaruh perayaan yang harus dirayakan oleh mereka. Perayaan tersebut adalah Paskah, roti tak beragi, buah sulung, pentakosta, terompet, pendamaian, dan pondok daun seperti yang tertulis pada kitab Imamat 23. Agar bisa mengerti maksud Tuhan pada setiap perayaan tersebut pastinya harus memiliki cara berpikir yang sama dengan orang Israel. Salah satu bentuknya adalah merayakan perayaan tersebut. Namun ada kelompok didalam kekristenan yang menolak untuk merayakannya dengan alasan atas arahan Paulus pada Kolose 2:16. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur dapat disimpulkan bahwa dapat kondisi gereja saat ini hanya merayakan paskah dan pentakosta dari tujuh perayaan Israel. Adanya kelompok yang beranggapan bahwa tidak semua Firman merupakan hal yang wajib gereja lakukan, khsususnya pada Imamat 23 ini. Perayaan berdasarkan Bahasa Ibrani berarti memasuki siklus dan waktu yang ditetapkan, sehingga menerangkan bahwa gereja seharusnya mengikuti perayaan ini untuk bisa selaras dengan siklus Tuhan dan mengalami waktu yang Tuhan tetapkan. Setiap perayaan Israel memiliki makna yang sangat penting dan merupakan gambaran yang dapat membantu orang percaya untuk mengalami pertumbuhan rohani. Sejarah gereja membuktikan bahwa perayaan Israel tidak dirayakan lagi bukan oleh keputusan rasul-rasul, melainkan diakibatkan pergeseran saat kekuasaan Konstantin di Romawi. Jadi seharusnya Perayaan Israel dirayakan dan diajarkan maknanya oleh gereja.
Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja Paulus Kunto Baskoro
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.522 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.2

Abstract

Discipleship is the most important part of church growth. The early church, after the descent of the Holy Spirit, experienced tremendous breakthroughs. It cannot be denied that the concept of Pentecostal theology is not overemphasized. That is why this writing about a discipleship makes an effective contribution to thinking about and starting a movement for the concept of Pentecostal theology. The movement in the gifts of the Holy Spirit is indeed very extraordinary and brings great movement in the concept of Pentecostal theology. However, if it is not based on discipleship, then the church will only focus on the sparkling gifts of gifts, but cannot be firmly rooted. This research uses descriptive method, which is studying Discipleship in the Concept of Pentecostal Theology for Church Growth from the point of view of the truth of God's Word. The purpose of this discussion is to provide a new perspective on the discipleship that is the basis of church growth. In discipleship there will be a strong foundation laying on the truth of God's Word, the growth of spiritual maturity, spiritual gifts that function more optimally, the multiplication of new leaders and the church becomes strong from generation to generation. All are fully committed to the power of the Holy Spirit who will help and equip.Pemuridan menjadi bagian yang paling penting dalam sebuah pertumbuhan gereja.. Gereja mula-mula setelah peristiwa turunnya Roh Kudus, mengalami terobosan yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam konsep teologi Pantekosta tidak terlalu ditekankan. Itu sebabnya penulisan ini tentang sebuah pemuridan memberikan kontribusi yang efektif untuk memikirkan dan memulai sebuah gerakan bagi dalam konsep teologi Pantekosta. Kegerakan dalam karunia-karunia Roh Kudus memang sangat luar biasa dan membawa kegerakan yang hebat dalam konsep teologi Pantekosta.. Namun kalau tidak didasari dengan sebuah pemuridan, maka gereja hanya fokus kepada gemerlap kehebohan karunia saja, namun tidak bisa berakar dengan kuat. Penelitian ini menggunakan metode deskritif, yaitu mempelajari tentang Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan. Tujuan pembahasan ini adalah memberikan pandangan yang baru tentang sebuah pemuridan yang menjadi dasar pertumbuhan gereja. Dalam pemuridan akan terjadi peletakan dasar yang kuat tentang kebenaran Firman Tuhan, pertumbuhan kedewasaan rohani, karunia-karunia rohani yang berfungsi lebih optimal, multiplikasi pemimpin baru dan gereja menjadi kokoh dari generasi ke generasi. Semua diserahkan sepenuhnya dalam kekuatan Roh Kudus yang akan menolong dan memperlengkapi.
Baptisan Roh Kudus dalam Teologi Pantekosta dan Implikasinya Bagi Hidup Orang Percaya Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.529 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.4

Abstract

The question of what it means to be baptized with the Holy Spirit and how it happens, has created many great dividing lines and even endless debates from the past until now among Christians. Also the debate regarding the time and way of being baptized in the Holy Spirit also often becomes a polemic at the time of repentance or after? To answer this problem, this research was carried out using a qualitative method with a library approach, namely by collecting information from various textbooks and journals, then the researchers analyzed the concept of baptism and the concept of the baptism of the Holy Spirit as a conceptual framework that can provide a theological frame for how the baptism of the Holy Spirit is carried out. in Pentecostal Theology and its implications for believers. The conclusion of this study is how the implications of the baptism of the Holy Spirit which are agreed upon and experienced by people who believe in the Lord Jesus Christ increasingly give power and a very strong commitment to service for believers in their devotion to God.Pertanyaan tentang arti dibaptis dengan Roh Kudus dan bagaimana hal itu terjadi, sudah banyak membuat garis pemisah besar bahkan perdebatan yang tiada ujung dari dulu sampai saat ini di kalangan umat kristiani. Juga perdebatan terkait waktu dan cara seseorang dibaptis Roh Kudus juga sering kali menjadi polemik saat bertobat atau setelahnya?. Untuk menjawab permasalah ini maka dilakukan tinjauan pustaka, yaitu dengan cara menganalisis tentang konsep baptisan dan konsep baptisan Roh Kudus sebagai sebuah kerangka konsep yang dapat memberikan bingkai teologis bagaimana baptisan Roh Kudus dalam Teologi Pentakosta dan implikasinya bagi orang percaya. Implikasi dari baptisan Roh Kudus yang diamini dan dialami orang percaya semakin memberi kuasa dan komitmen pelayanan yang sangat kuat bagi orang percaya dalam pengabdiannya kepada Allah.
Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Teologi Pentakosta Simon Simon; Stefanus Dully; Tomi Yulianto; Adi Prasetyo Wibowo
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.541 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.5

Abstract

This paper discusses the pandami of COVID-19 in a Pentecostal theology perspective. The current pandemic is causing trouble for everyone, at the same time this epidemic encourages religious people to view and study from a theological point of view how this COVID-19 disease from the perspective of the Bible. This article was written using a qualitative method with a literature study approach. Within the internal of Christianity itself, the various interpretations of COVID-19 can be analyzed from a theological frame. In the perspective of Pentecostal theology, of course this pandemic is believed to be a part of the prophecy of the holy book as well as hinting that we are in an end-time phase, one of which is the epidemic of pestilence today. This pandemic is also within the framework of Pentecostal theology as preparation for the coming of Jesus Christ to earth, for the second time through pestilence as written by the Scriptures. This COVID-19 incident is also a phase in which humans will enter a period of queue for Kris who becomes the ruler and controller of this world. Key Words: Pandemic COVID-19, Pentecostal Theology, Church.Tulisan ini membahas pandemi COVID-19 dalam perspektif teologi Pentakosta. Pandemi yang terjadi saat ini tentu menyebabkan kesulitan bagi siapa saja, sekaligus wabah ini mendorong kaum religius untuk memandang dan mengkaji dari sudut pandang teologis bagaimana penyakit COVID-19 ini dari perspektif Kitab Suci. Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Di dalam lingkup internal Kekristenan sendiri, beragam pemaknaan dan penafsiran mengenai COVID-19 ini jika ditelisik dari bingkai teologis. Dalam perspektif teologi Pentakosta, tentu pandemi ini diyakini sebagai bagian dari nubuatan kitab suci sekaligus mengisyaratkan kita berada di fase akhir zaman yang ditandai salah satunya mewabahnya penyakit sampar di masa kini. Pandemi ini juga dalam bingkai teologi Pentakosta sebagai persiapan kedatangan Yesus Kristus ke bumi, untuk kedua kalinya melalui penyakit sampar sebagaimana yang ditulis oleh Kitab Suci. Peristiwa COVID-19 ini juga sebagai fase di mana manusia akan memasuki masa anti Kris yang menjadi penguasa dan pengendali dunia ini. Kata Kunc: Pandemi COVID-19, Teologi Pentakosta, Gereja,
Biblical Pentecost John Henry King
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.553 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.6

Abstract

Tiga ribu saksi tertusuk dalam hati mereka oleh Roh pada hari pertama itu sementara Petrus berbicara tentang peristiwa-peristiwa tetapi tujuh minggu sebelumnya. Pentakosta Alkitabiah adalah kisah Gereja yang dibakar oleh nyala api yang turun dari surga, dinyalakan pada hari Pentakosta dan yang tidak dapat padam. Itu telah berkobar sepanjang sejarah, mungkin kadang-kadang berkedip sangat rendah, tetapi selalu, dihembuskan oleh penganiayaan sampai berkobar terang seperti pada awalnya. Ini adalah kisah tentang Roh yang melayang-layang, menciptakan, bekerja di dalam dan di antara umat-Nya seperti dulu ketika Dia menciptakan langit dan bumi.Three thousand witnesses were pricked in their hearts by the Spirit that first day while Peter spoke of events but seven weeks earlier. Biblical Pentecost is the story of the Church set ablaze by a flame descending from heaven, ignited at Pentecost, and which could not be extinguished. It has blazed throughout history, perhaps at times flickering alarmingly low, but always, fanned by persecution until it raged brightly as at the beginning. This is the story of the Spirit hovering, creating, working in and among His people as once before when He created the heavens and the earth.
Review of Indonesia Revival: Focus on Timor John P. Lathrop
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.829 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.7

Abstract

News of spiritual stirrings in the Christian church attract attention. Believers around the world are encouraged by such reports. These accounts hold out the hope that it can happen in other places and may prompt some to pray for just such a divine visitation. In the later part of the twentieth century Indonesia was the setting for one of these moves of God. A number of people have written about this revival, George W. Peters is one of them. In his book, Indonesia Revival Focus On Timor, he looks at the factors that he believes contributed to it as well as its strengths and weaknesses.Berita tentang gejolak rohani di gereja Kristen menarik perhatian. Orang-orang percaya di seluruh dunia didorong oleh laporan semacam itu. Kisah-kisah ini memberikan harapan bahwa hal itu dapat terjadi di tempat lain dan mungkin mendorong beberapa orang untuk berdoa untuk kunjungan ilahi seperti itu. Di bagian akhir abad kedua puluh, Indonesia adalah tempat untuk salah satu gerakan Tuhan ini. Sejumlah orang telah menulis tentang kebangkitan ini, George W. Peters adalah salah satunya. Dalam bukunya, Indonesia Revival Focus On Timor, ia melihat faktor-faktor yang menurutnya berkontribusi terhadapnya serta kekuatan dan kelemahannya.
Christ Is Our Message John Henry King
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 2 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.812 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i2.13

Abstract

Abstrak Seperti yang dikatakan oleh Pendeta David Platt, Pendeta Utama di Gereja Alkitab McLean di Washington, D.C., dengan tepat menyatakannya, “Injil adalah sumber kehidupan Kekristenan.” Di sinilah letak motif Kristen;” menyatakan Dewan Misionaris 1928, “sederhana. Kita tidak bisa hidup tanpa Kristus dan kita tidak tahan memikirkan manusia yang hidup tanpa Dia.” Bagi Dr. Platt tantangannya adalah “bagaimana menghidupi Injil itu dalam kehidupan kita, keluarga, dan gereja di zaman kebingungan seksual, aborsi legal, materialisme yang merajalela, rasisme yang kejam, meningkatnya krisis pengungsi, berkurangnya kebebasan beragama, dan sejumlah masalah sosial penting lainnya.” Dalam karyanya “From Christendom to Apostolic Mission” Uskup Kagan, Uskup Bismarck, North Dakota, melihat perlunya Gereja sekali lagi mengenakan jubah misionaris karena kita tidak lagi hidup dalam budaya kristen. Stanley Hauerwas, seorang teolog, ahli etika Amerika, dalam karyanya, "The Christian Difference, or Surviving Postmodernism," menyebut karya kita "perjuangan hidup dan mati dengan dunia." …menambahkan: “Saya pikir adalah kesalahan serius untuk tidak menganggap serius postmodernisme.” Hauerwas melihat orang-orang percaya sebagai “komunitas di pengasingan.” (Postmodernisme adalah intelektualisme yang melelahkan dunia yang tidak lagi memandang kehidupan dalam kerangka prinsip-prinsip absolut atau universal. Mereka melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa semua pemikiran sama-sama relevan (bahwa tidak ada batasan, tidak ada aturan, tidak ada hierarki, tidak ada realitas objektif). dan semua fakta hanyalah 'konstruksi sosial.') Seperti yang ditulis Dr. Platt, “Sebagai pengikut Kristus, kita membodohi diri sendiri jika kita tidak menghadapi kenyataan bahwa kepercayaan dan ketaatan kepada Alkitab di zaman anti-Kristen pasti akan membawa risiko dalam keluarga, masa depan, hubungan seseorang. , reputasi, karier, dan kenyamanan di dunia ini.” Dunia menaruh kepercayaan mereka pada kemajuan evolusioner bukan pada Tuhan. Menurut Kejadian 1 Tuhan adalah Pencipta kita yang pertama. Kreasionisme tidak memiliki kesamaan dengan teori evolusi. Teori evolusi menunjukkan bahwa kita sedang menuju dunia utopis di mana "survival of the fittest" adalah proses alami meninggalkan yang terbaik dari yang terbaik, bukan pemeliharaan ilahi yang merencanakan untuk mengakhiri dosa dan korupsi. Pemikiran postmodern dan teori evolusi menentang apa yang dimaksud dengan eskatologi Kristen. Allah sebagai Pencipta kita menciptakan kita, untuk kemuliaan-Nya. Jika ini tidak benar, Roma 3:23 akan menjadi omong kosong, karena kita tidak dapat mengabaikan hubungan yang menurut postmodernisme materialistis tidak ada. Dosa dan penghakiman Tuhan sekarang diejek oleh doktrin bahwa pengetahuan, kebenaran, dan moralitas hanya ada dalam kaitannya dengan budaya. Susunan Kristen telah digantikan dengan realitas materialistis. Kami, dalam kebenaran sederhana, misionaris untuk perubahan budaya. Apologet Kristen J. F. Baldwin mengakui pentingnya kehidupan yang heroik dan dipenuhi Roh, sebagai argumen paling kuat yang memberi isyarat kepada orang-orang yang tidak percaya kepada iman. “Manusia modern lebih bersedia mendengarkan saksi daripada guru,” Paus Paulus Keenam mengamati. Kita sekarang, sebagai Peter, harus menyelesaikan masalah ini di dalam hati kita. Upaya untuk membungkam kita harus gagal. Ketika sampai pada pesan Injil tentang Salib, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29) Abstract As Pastor David Platt, Lead Pastor at McLean Bible Church in Washington, D.C., so aptly states it, “The Gospel is the lifeblood of Christianity.” Herein lies the Christian motive;” states the 1928 Missionary Council, “it is simple. We cannot live without Christ and we cannot bear to think of men living without Him.” To Dr. Platt the challenge is “how to live out that gospel in our lives, families, and churches in an age of sexual confusion, legal abortion, rampant materialism, violent racism, escalating refugee crises, diminishing religious liberties, and a number of other significant social issues.” In his work “From Christendom to Apostolic Mission” Bishop Kagan, the Bishop of Bismarck, North Dakota, sees the necessity for the Church to once again don the mantle of the missionary since we are no longer living in a christian culture. Stanley Hauerwas, an American theologian, ethicist, in his work, “The Christian Difference, or Surviving Postmodernism,” called ours ”a life and death struggle with the world.” …adding: “I think it is a serious mistake not to take postmodernism seriously.” Hauerwas saw believers as “a community-in-exile.” (Postmodernism is a world-weary intellectualism that no longer views life in terms of absolutes or universal principles. They go so far as to say that all thought is equally relevant (that there are no boundaries, no rules, no hierarchies, no objective reality and all facts are just ‘social constructs.’) As Dr. Platt writes, “As followers of Christ, we are fooling ourselves if we don’t face the reality that belief in and obedience to the Bible in an anti-Christian age will inevitably lead to risk in one’s family, future, relationships, reputation, career, and comfort in this world.” The world puts their faith in an evolutionary progress not in God. According to Genesis 1 God is first our Creator. Creationism has nothing in common with evolutionary theory. Evolutionary theory suggests we are heading toward a utopian world where “survival of the fittest” is a natural process leaving the best of the best instead of a divine providence that plans an end to sin and corruption. Postmodern thought and evolutionary theory counters what Christian eschatology is all about. God as our Creator made us, for His glory. If this were untrue, Romans 3:23 would be nonsense, since we cannot fall short of a relationship that a materialistic postmodernism says doesn’t exist. Sin and God’s judgment is now mocked by the doctrine that knowledge, truth, and morality only exist in relation to culture. Christendom has been replaced with a materialistic reality. We are, in simple truth, missionaries to cultural change. Christian apologist J. F. Baldwin recognizes the importance of heroic, Spirit-filled living, as the most powerful argument beckoning nonbelievers to the faith. “Modern man listens more willingly to witnesses than to teachers,” Pope Paul the Sixth observed. We now, as Peter, must settle the matter in our hearts. The effort to silence us must fail. When it comes to the Gospel message of the Cross, “ We must obey God rather than people” (Acts 5:29)
Book Review: Untuk Apa Aku Ada di Dunia ini? (The Purpose Driven Live - Rick Warren) Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 2 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.777 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i2.14

Abstract

Dr. Rick Warren adalah Gembala pendiri Gereja Saddleback di California dengan anggota jemaat 30.000 dan pengajar di berbagai kampus seperti Oxford, Cambridge, Harvard, University of Judaism. Buku ini sudah terjual lebih dari 32 juta dan merupakan Bestselling Author disematkan oleh #1 New York Times. Di Indonesia diterbitkan oleh Immanuel, Jakarta di tahun 2021 dengan cetakan 15, jumlah halaman 419. Dengan lisensi lebih dari 85 bahasa, The Purpose Driven Life memandu pembaca untuk menjalani perjalanan rohani selama 42 hari yang akan mengantar pada tiga isu yang terpenting dalam kehidupan seorang Kristen, yaitu: Pertama, Mengapa aku hidup?. Kedua, Apakah hidupku penting?. Ketiga, Untuk apa aku ada di dunia ini?. Buku ini sangat relevan bagi orang yang terus mencari jawaban untuk apa tujuan hidup selama menumpang di bumi ini, terlebih pada siatuasi kondisi masa pandemic Covid-19 ini, bagi orang yang merindukan jawaban arti makna hidupnya setelah membaca buku ini paling tidak akan mendapatkan lima manfaat, yaitu: Pertama, Akan mendapatkan penjelasan arti dari hidup. Kedua, Akan mendapat tuntunan bahwa hidup ini sederhana. Ketiga, Akan membuat hidup menjadi fokus yang benar. Keempat, Akan membuat hidup dijalani dengan semakin termotivasi. Kelima, Akan membantu orang percaya untuk memasuki kekekalan yaitu kehidupan yang finishing well. Dr. Rick Warren is the founding Pastor of Saddleback Church in California with a congregation of 30,000 members and teaches at various campuses such as Oxford, Cambridge, Harvard, University of Judaism. The book has sold over 32 million copies and is the #1 New York Times Bestselling Author. In Indonesia, published by Immanuel, Jakarta in 2021 with concrete 15, the number of pages 419. With licenses of more than 85 languages, The Purpose Driven Life guides readers to undergo a spiritual journey for 42 days that will lead to the three most important issues in the life of a Christian, namely: First, Why am I alive?. Second, is it important?. Third, why am I in this world? This book is very relevant for people who continue to look for answers to what is the purpose of living while on this earth, first in the current situation of the Covid-19 pandemic, for people whose answers to the meaning of life after reading this book will at least get five benefits, namely : First, Will get an explanation of the meaning of life. Second, Will get guidance that life is simple. Third, Will make life the right focus. Fourth, Will be a life lived by sales. Fifth, Will help believers to enter eternity i.e. a well-finished life.
Kajian Teologi Misi dalam Roma 10:13-15 terhadap Aktualisasi Misi Kristen Yonatan Alex Arifianto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 2 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.034 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i2.15

Abstract

Abstract: Evangelism as a means of bringing people together with God through testimony or example must continue to be echoed. However, there are many different paradigms and concepts of evangelism. Moreover, churches and believers are reluctant to do evangelism because they do not consider it their duty and responsibility. Indeed, believers do not escape the actualization of the mandate of the Great Commission of the Lord Jesus in preaching the gospel to humans. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the study of mission theology in Romans 10:13-15 on the actualization of Christian missions studied through exegesis can be concluded, First, evangelism must be carried out as part of the actualization of the mandate of the Great Commission by giving oneself to preach the news to others so that People who don't know Jesus can hear salvation only in Jesus. Second, the task of the believer is continued as a person who continues to preach by listening and proclaiming the gospel of salvation for humans. The three churches or leaders are obliged to send messengers of evangelists for the sake of saving souls. Abstrak:Penginjilan sebagai sarana mempertemukan manusia dengan Tuhan lewat kesaksian ataupun keteladannan harus terus digaungkan. Namun banyaknya perbedaan paradigma dan konsep pengijilan. Terlebih gereja maupun orang percaya enggan melakukan penginjilan karena bukan mengangap bahwa tugas dan tanggung jawabnya. Sejatinya orang percaya tidak luput dari aktualisasi mandat Amanat Agung Tuhan Yesus dalam melakukan pemberitaan Injil kepada manusia. Mengunakan meotode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature bahwa kajian Teologi misi dalam Roma 10:13-15 terhadap aktualisasi misi Kristen yang dikaji melalui eksegesa dapat disimpulkan, Pertama Penginjilan harus terus dilakukan sebabgai bagian aktualisasi mandat Amanat Agung dengan memberi diri untuk memberitakan kabar bagi sesama sehingga orang yang belum mengenal Yesus dapat mendengar keslematan hanya didalam Yesus. Kedua, Tugas orang percaya dilanjutkan sebagai pribadi yang terus menerus melakukan pemberitaan dengan Memperdengarkan dan memberitakan Injil keselamatan bagi manusia. Ketiga Gereja atau pemimpin wajib mengirimkan utusan Pemberita Injil demi jiwa jiwa diselamatkan.

Page 1 of 3 | Total Record : 28