cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Planologi Sultan Agung
ISSN : 26155257     EISSN : 26155257     DOI : -
Jurnal Planologi is a journal study of urban and regional planning issued by the Department of City and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia. the articles are published every six months, that is, April and October (2 issues per year). The editor receives scientific articles and research results in accordance with the nature is Regional and City Planning
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Kapasitas Pohon Nyamplung (Calophyllum Inophyllum L.) dan Pohon Spathodea (Spathodea Campanulata) Dalam Menjerap Debu Alfred Jansen Sutrisno; Gusti Diandasari; Adlia Vidya Rahmandari
Jurnal Planologi Vol 17, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v17i1.5197

Abstract

Arboretum lanskap IPB merupakan sebuah greenbelt pada Jalan Raya Dramaga. Jalan Raya Dramaga merupakan jalur yang dipadati oleh kendaraan bermotor roda dua, roda empat, bahkan truk yang mengakibatkan tingginya polusi udara khususnya jenis partikel debu. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui kapasitas vegetasi sebagai green belt dalam menjerap debu. Metode penelitian yang digunakan ialah purposive sampling, dimana Pohon Nyamplung dan Pohon Spathodea digunakan sebagai sampel. Daun pada kedua jenis pohon tersebut akan diambil dan dianalisis untuk mendapatkan kapasitas jerapan debu. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Pohon Spathodea memiliki kapasitas jerapan debu yang jauh lebih besar yaitu 0,041-0,043 g/m2 per hari, sementara Pohon Nyamplung memiliki kapasitas jerapan debu sebesar 0,023-0,025 g/m2 per hari.
Strategi Komunitas Peka Kota Hysteria dalam Pelestarian Kampung Kota (Studi Kasus: Kampung Bustaman Kota Semarang) Rojab Umar Abdillah; Linda Darmajanti
Jurnal Planologi Vol 16, No 1 (2019): April, 2019. Thema Lahan dan Perkotaan
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v16i1.4384

Abstract

ABSTRACTKampung is an embryo of a city. Metropolitan city is growing from a kampung. The city growth has good and bad impacts. Semarang City has 6.6 million population and in the process of its development, four old kampungs have been evicted by the developer during 2005 to 2018, either for hotel or apartment. A kampung whose population is middle to lower economy is an easy target for developer. This condition has triggered Peka Kota Hysteria community which focuses on the issue of arts and urban youth to preserve kampungs in the urban area i.e kampung Bustaman. This study revealed KPK Hysteria’s internal and external factors in preserving kampung Bustaman and will reveal strategies used by KPK Hysteria. Through the strategy implemented namely 1. Based on local culture, 2. Optimizing the involvement of the resident of kampung Bustaman and 3. Using art movement through internal network. These tree strategies are implemented by KPK Hysteria with systematic steps. KPK Hysteria is considered capable and succeeded in preserving kampung Bustaman with the supporting for 6 years. This success can bee seen from the increasing social captal of kampung Bustaman :  changes in social norm, the existence of social control, network, trust , and the most impact for the resident is the improvement of Human Resources, especially for the youth in kampung  Bustaman .Keywords: Strategy, Community, Urban Kampung.ABSTRAKKampung merupakan embrio dari sebuah kota. Berawal dari sebuah kampung lalu tumbuh menjadi kota metropolitan. Pertumbuhan kota memang berdampak baik namun juga ada dampak buruknya. Kota Semarang dengan populasi 6,6 juta jiwa dalam proses pembangunannya didapati ada empat kampung lama yang digusur oleh developer dalam kurun tahun 2005 hingga 2018, baik itu dibangun hotel maupun apartemen. Keberadaan kampung yang penduduknya berekonomi menengah ke bawah merupakan sasaran empuk bagi developer. Kondisi  ini memicu komunitas Peka Kota Hysteria yang fokus pada isu anak muda seni dan perkotan untuk bergerak melestarikan kampung-kampung di perkotaaan salah satunya kampung Bustaman. Penelitian ini mengungkap faktor internal dan eksternal KPK Hysteria dalam melestarikan kampung Bustaman. Serta akan mengungkap strategi yang digunakan oleh KPK Hysteria. Melalui Strategi yang diterapkan yaitu 1. berbasis budaya lokal, 2. pengoptimalan keterlibatan warga kampung Bustaman, dan 3. menggunakan gerakan seni melalui jaringan internal. Tiga hal tadi diterapkan oleh KPK hysteria dengan langkah-langkah yang sistematis. KPK hysteria dinilai mampu dan berhasil melestarikan kampung Bustaman dengan pendampingan selama 6 (enam) tahun. Keberhasilan ini dapat dilihat dari peningkatan modal sosial yaitu : perubahan norma sosial, adanya kontrol sosial,jaringan , trust, dan yang paling dirasakan yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia khususnya remaja pada kampung Bustaman.Keyword : Strategi, Komunitas, Kampung kota.
Konsep Pemanfaatan Ruang Terbuka Di Kawasan Kota Lama Semarang Ardiana Yuli Puspitasari; Jamilla Kautsary
Jurnal Planologi Vol 17, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v17i1.9170

Abstract

ABSTRACTMorphologically, the Semarang Old Town area has a very important role in the development of Semarang City and also has an important value for the development of urban area planning science. One urban element that has an important role in influencing the quality of the environment is the presence of green open spaces and non-green open spaces. The existence of open space as an inseparable part of buildings and historic environment in the Old City Region of Semarang provides space as a place of activity for the community and visitors. The objective to be achieved is to identify the potential use of open space in the Old City Region as a basis for designing the fulfillment of the availability of open space in this region, given the potential for tourism activities that continue to develop. This research approach uses qualitative descriptive empirical analysis methods. The results of this study are open space available in the old city at 18% of the core area of the old city and mostly in the form of road corridors (34%). Open space in the core area of the old city is still much that can be developed to accommodate the activities of visitors because until now the activity in the open space is still concentrated in the area of Taman Srigunting and Gereja Blenduk. The concept of open space utilization is directed at the river Kali Semarang area (riverfront) because in that area it still has great potential to be developed. The conclusion of this study is that the potential for open space utilization in the core area of the old city is still very large to facilitate the development of tourist activity which is increasing, so it is necessary to spread the gathering point of activities so that it is not concentrated in the area of the Taman Srigunting and Gereja Blendukg. The concept offered is riverfront open space along Semarang River.Keywords: concept, utilization, open space ABSTRAKSecara morfologi, kawasan Kota Lama Semarang memiliki peran yang sangat penting terhadap perkembangan Kota Semarang dan juga memiliki nilai penting bagi perkembangan ilmu perencanaan wilayah kota. Salah satu elemen perkotaan yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi kualitas lingkungannya adalah keberaaan ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. Keberadaan ruang terbuka sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari bangunan dan lingkungan bersejarah di Kawasan Kota Lama Semarang memberikan ruang sebagai wadah aktivitas bagi masyarakat dan pengunjung. Tujuan yang ingin dicapai yaitu teridentifikasi potensi pemanfataan ruang terbuka di Kawasan Kota Lama sebagai dasar untuk merancang pemenuhan ketersediaan ruang terbuka di kawasan ini, mengingat potensi kegiatan wisata yang terus berkembang. Pendekatan penelitan ini menggunakan kualitatif dengan metode analisis deskriptif empirik. Hasil dari penelitian ini adalah ruang terbuka yang tersedia di kota lama sebesar 18% dari luas kawasan inti kota lama dan sebagian besar berupa koridor jalan (34%). Ruang terbuka di kawasan inti kota lama masih banyak yang bisa dikembangkan untuk mewadahi aktivitas pengunjung karena sampai saat ini aktivitas pada ruang terbuka masih terpusat di area taman srigunting dan gereja blenduk. Konsep pemanfaatan ruang terbuka diarahkan pada  area sungai Kali Semarang (riverfront) karena pada area tersebut masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Kesimpulan penelitian ini adalah potensi pemanfaatan ruang terbuka di kawasan inti kota lama masih sangat besar untuk mewadahi perkembangan aktivitas wisatawan yang semakin meningkat, sehingga perlu persebaran titik kumpul aktivitas agar tidak memusat di area taman srigunting dan gereja blenduk. Konsep yang ditawarkan adalah riverfront open space di sepanjang Kali Semarang.Kata kunci: konsep, pemanfaatan, ruang terbuka
Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Lokasi Permukiman di Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur Ogi Dani Sakarov
Jurnal Planologi Vol 16, No 1 (2019): April, 2019. Thema Lahan dan Perkotaan
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v16i1.3945

Abstract

Pada UUD 1945 pasal 28 disebutkan bahwa rumah atau hunian merupakan hak dasarbagi setiap warga negara. Hal tersebut dapat difahami bahwa undang-undang dasar mewajibkan pemerintah untuk memenihi kebutuhan rumah atau hunian bagi masyarakat Indonesia. Hingga saat ini pemerintah telah mencanangkan berbagai program pengadaan dan pengembangan perumahan dan permukiman baik dalam lingkup nasional, provinsi maupun daerah. Pada tingkat daerah, dimana pemerintah memegang peran sebagai pelaksana teknis program pembangunan perumahan dan permukiman hendaknya melakukan berbagai analisis untuk menentukan lokasi yang cocok untuk kawasan permukiman daerah. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk membantu pemerintah dalam menentukan lokasi yang sesuai untuk kawasan permukiman di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah spasial kuantitatif dengan Teknik analisis kesesuaian lahan menggunakan software Arch GIS 10.2, dimana analisis dilakukan dengan  pengskoringan dan pembobotan terhadap variabel penentu kesesuaian lahan yakni aspek fisi, prasarana, aksesibilitas, kebencanaan dan sosial budaya. Hasil analisis ini adalah lahan pada wilayah Kabupaten Belu yang layak atau potensial sebagai lokasi untuk permukiman terdiri atas tiga kelas kesesuaian yakni kelas sangat sesuai (S1) seluas 3.566,38 ha, kelas sesuai (S2) seluas 5.933,49 Ha dan kelas cukup sesuai (S3) seluas 25.3166,59 Ha.
DAMPAK GUNA LAHAN TERHADAP TINGKAT KEMAMPUAN KINERJA JALAN STUDI KASUS : JALAN AHMAD YANI DI KECAMATAN KARTASURA Taufik Setyawan; Mila Karmilah
Jurnal Planologi Vol 14, No 1 (2017): April 2017. Thema Permasalahan Transportasi Perkotaan
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v14i1.3858

Abstract

The use of land as a trade and service area contributes greatly to the development of urban economic structures, including in the District of Kartasura. Especially Kartasura's market activity which is always developing because it is a place to fulfill primary needs. However, the existence of this market and also the trade and service activities around it are increasingly troubling due to irregularities and disrupting transportation activities around the market. Geographically, Kartasura Subdistrict is quite close to the Surakarta City area (around 10 Km), and Surakarta City has a very rapid and dense development intensity and has a limited development area, so the development of socio-economic activities tends to move towards the Kartasura Sub-District area.Close socio-economic relations with Surakarta City made Kartasura experience rapid development in the growth of new activities along the A. Yani road. Such as education, health, trade and services, industry and office activities. With the growth of new activities along the A Yani road, traffic jams often occur at peak hours. The congestion is due to the mixture between modes of transportation, trade, industry and offices.The purpose of this study is to identify the performance of the A Yani road, to determine the effect of land use on congestion that occurs. To achieve these objectives, the analysis used is quantitative calculations. By comparing the road conditions at peak and non peak hours on the A Yani road. The method used in this study is analyzing the volume of the road (V) A Yani experiencing congestion, analyzing side barriers, speed, road capacity (C) A Yani, and the level of road service (V / C) A Yani. In addition to the quantitative analysis also conduct qualitative analysis to clarify the quantitative analysis that has been done. So that what is a problem on Jalan A Yani can also be analyzed, what are the factors that cause congestion and finally show conclusions and recommendations of problems.Keywords: Land use, Traffic Congestion
ANALISIS POTENSI PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KAMPUS DI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Wida Oktavia Suciyani
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, 2018. Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2742

Abstract

ABSTRACTThe Research on " Analysis Potential Utilization of Green Open Space (RTH) Campus at Bandung State Polytechnic" is motivated by a problem about RTH that has not been utilized optimally in accordance with its function. The purpose of this research is to analyze the potential utilization of RTH campus Polban that can still be developed, so it can create a sustainable campus environment. This research method uses qualitative approach by using applied research, beside that the data collection techniques by using Triangulation (observation, interview, and documentation study) and analysis technique in this research is descriptive. Based on the analysis result, it is known that the existing condition of RTH of Polban campus has not been utilized optimally according to RTH function due to the lack of facilities which can support activities of socio-cultural, economic, and aesthetic functions.Keywords: Potential Utilization, Green Open Space Campus. ABSTRAKPenelitian mengenai “Analisisi Potensi Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kampus di Politeknik Negeri Bandung” dilatarbelakangi oleh suatu permasalahan mengenai RTH yang belum dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan fungsinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi pemanfaatan RTH kampus Polban yang masih dapat dikembangkan sehingga dapat menciptakan lingkungan kampus yang berkelanjutan. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian terapan (applied research), selain itu teknik pengumpulan data dengan menggunakan Triangulasi (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi) dan teknik analisis dalam penelitian ini bersifat deskriptif. Berdasarkan hasil analisa diketahui kondisi eksisting RTH kampus Polban belum dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi RTH dikarenakan minimnya fasilitas yang dapat menunjang kegiatan berupa fungsi sosial budaya, ekonomi, dan estetika.Kata kunci: Potensi Pemanfaatan, Ruang Terbuka Hijau Kampus.
Permukiman Liar (Squatter Settlement) Di Jalur Kereta Api Kota Semarang Mohammad Agung Ridlo
Jurnal Planologi Vol 17, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v17i2.12790

Abstract

 AbstraCtSquatter settlement is increasingly spreading in various urban corners of Indonesia, including in Semarang Metropolitan City. The reality of existing squatter settlements invaded vacant land, unpreserved and lacked (no) supervision from landowners, eventually forming slum enclaves, one of which was on the railway line in Semarang City. Railways should not be allowed to be used as residential areas. The squatter settlement is inhabited by people on low incomes (economically incapable). Research methods are conducted in a qualitative scriptive way, through empirical observation, interactively, with inductive methods. The approach of the room system is carried out to interpret circum citizen activity related to the request or zoning.Meanwhile, theoretical studies were conducted to help identify and analyze in this study. This research illustrates that squatter settlement occurs in addition to the retardation and poverty experienced by citizens, also due to the inability of the government and its apparatus in terms of supervision (Uncontrolled). Therefore, space arrangement is required (including planning, coaching, implementation, supervision and control).Keywords: squatter settlement, railway AbstrakSquatter settlement makin merebak di berbagai sudut perkotaan di Indonesia, termasuk di Kota Semarang Metropolitan. Realita yang ada squatter settlement merebak menginvasi lahan-lahan kosong, tidak terpelihara dan kurang (tidak ada) pengawasan dari pemilik lahan,  akhirnya membentuk enclave-enclave kumuh, salah satunya di jalur kereta api di Kota Semarang. Jalur kereta api semestinya tidak diperkenankan untuk dijadikan sebagai kawasan permukiman. Squatter settlement tersebut dihuni oleh orang-orang yang berpenghasilan rendah (tidak mampu secara ekonomi). Metode Penelitian dilakukan secara diskriptif kualitatif,  melalui observasi empirik, interaktif, dengan metoda induktif. Pendekatan sistem keruangan dilakukan untuk menginterpretasikan circum aktivitas warga kaitannya dengan permintakatan atau zoningnya. Sedangkan kajian teoritis dilakukan untuk membantu mengidentifikasi dan menganalisis dalam penelitian ini. Penelitian ini menggambarkan bahwa squatter settlement terjadi selain masih adanya keterbelakangan dan kemiskinan yang dialami oleh warga, juga dikarenakan ketidakmampuan pemerintah dan aparatnya dalam dalam hal pengawasan (Uncontrolled). Karenanya, diperlukan adanya penataan ruang (meliputi perencanaan, pembinaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian).Kata Kunci: squatter settlement, jalur kereta api
Identifikasi Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Kramat Jati Kodya Jakarta Timur Menggunakan Citra Pleiades Mukhoriyah Mukhoriyah; Nurwita Mustika Sari; Maya Sharika; Lidya Nur Hanifati
Jurnal Planologi Vol 16, No 2 (2019): Oktober, 2019. Thema Pengelolaan Lahan dan Wisata
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v16i2.5005

Abstract

ABSTRACTThe development of big cities in Indonesia especially Jakarta City which is developing very rapidly is marked by the rapid development of physical development, thus affecting the increasing population and land use resulting in a decrease in the amount of vegetation cover. The main problem of the existence of Open Green Space (RTH) in Jakarta is the increasingly reduced / limited land and inconsistencies in implementing spatial planning. The reduced green space is caused by changes in land use that is relatively significant so that green space in Jakarta has not met the target of 30% of the total area, especially in the District of Kramatjati. The purpose of this study is to calculate the need for green space within a district. The method used is the initial data processing (radiometric correction, pancarrage, mosaic, cropping) and calculation of vegetation density values based on Normalized Defference Vegetation Index (NDVI). Based on the results of NDVI calculations using Pleiades Image Data in 2015, that in Kramat Jati Subdistrict there were 225.17 ha as vegetation areas, while 918.93 ha were non-vegetation areas. The results of the calculation are then divided into density levels, ie, a rare density of 48,595 ha, medium density of 34,446 ha, and high density of 160,609 ha. The conclusion obtained is that green open space in Kramat Jati Sub-district is planned to cover 12.38% of the entire Kramat Jati area. However, based on NDVI results, green open space in Kramatjati has reached 19.68% of the entire district area. And  terms of quantity, then the amount of green space has been fulfilled. Key Word : open green space (RTH), Normalized Defference Vegetation Index (NDVI), Pleiades Image ABSTRAKPerkembangan kota-kota besar di Indonesia khususnya Kota Jakarta yang berkembang dengan sangat pesat ditandai perkembangan pembangunan fisik yang cepat, Sehingga mempengaruhi semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pemanfaatan lahan yang mengakibatkan berkurangnya jumlah tutupan vegetasi. Permasalahan utama keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Jakarta adalah semakin berkurangnya/keterbatasan lahan dan ketidak konsisten dalam menerapkan tata ruang. Berkurangnya RTH disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan yang relatif signifikan sehingga RTH Jakarta belum memenuhi target 30% dari total luas wilayahnya terutama di Kecamatan Kramatjati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung kebutuhan RTH dalam satu lingkup kecamatan. Metode yang digunakan adalah pengolahan data awal (koreksi radiometrik, pansharpen, mozaik, cropping) dan perhitungan nilai kerapatan vegetasi berdasarkan Normalized Defference Vegetation Indeks (NDVI). Berdasarkan hasil perhitungan NDVI dengan menggunakan data Citra Pleiades Tahun 2015, bahwa di Kecamatan Kramat Jati terdapat 225,17 ha merupakan daerah vegetasi, sedangkan 918,93 ha adalah daerah non vegetasi. Hasil perhitungan tersebut kemudian di bagi dalam tingkat kerapatan yaitu kerapatan jarang sebesar 48.595 ha, kerapatan menengah sebesar 34.446 ha, dan kerapatan tinggi sebesar 160.609 ha. Kesimpulan yang diperoleh adalah RTH di Kecamatan Kramat Jati direncanakan seluas 12,38 % dari seluruh wilayah Kramat Jati. Namun, berdasarkan hasil NDVI, RTH di Kramatjati sudah mencapai 19,68% dari seluruh luas kecamatan dan dari segi kuantitas, maka jumlah RTH telah terpenuhi.    Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau (RTH), Normalized Defference Vegetation Indeks (NDVI), Citra Pleiades
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG PUBLIK PADA AKTIVITAS PENDUDUK DI PERMUKIMAN STUDI KASUS : PERMUKIMAN MLATEN KOTA SEMARANG Anggita Nur Zahara Mariza; Ardiana Yuli Puspitasari
Jurnal Planologi Vol 14, No 2 (2017): Oktober 2017. Thema Open Space dan Pasar Tradisional
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v14i2.3868

Abstract

Mlaten settlement is one of the old neighborhoods in the city of Semarang that arrangement very concerned about the existence of a public space. The neighborhood was designed by Thomas Karsten in 1994 for low-income people with the design concept of "Garden City" which is very attentive to the good order of settlement patterns with emphasis on the existence of public space in the form of neighborhood parks and roads are equipped with a boulevard. Currently Mlaten settlements have become congested, the existence of public spaces began to have a variety of activities. The diversity of activities and multifunctional use of public space in residential Mlaten today shows the importance of public space as well as irregularities in the use of public space. Therefore, the study will be assessed linkage activities of people in the Settlement Mlaten to use public space to form their utilization patterns.The approach taken in this research using qualitative methods rationalistic approach. The analytical tool used is the 'behavioral mapping' to obtain information about the behavior, activities of individuals and groups associated with spatial systems through analysis of activity patterns and forms of space utilization.The conclusion from this study is the public space in Settlement Mlaten into a multifunctional space to support the activities of citizens outside the residential space, public space is not only a space that is used for public purposes, but also to meet the needs of personal citizens such as the emergence of a drying, parking, and put the used goods or merchandise that occur in public spaces. The pattern of use of public space in Settlement Mlaten showed a pattern that tends to accumulate at the edge of the garden or in the middle of the boulevard road to activities that are personal as drying/ washing, parking, putting the former home goods. While gathering or spreading pattern is happening on the utilization of public activity people like child's play, sports, or just sitting.Keywords: Settlement, Utilization Patterns, Public Space, and Activities.
PERENCANAAN PERATURAN ZONASI DI KAWASAN KONSERVASI (STUDI KASUS PECINAN SEMARANG) Jamilla Kautsary
Jurnal Planologi Vol 15, No 2 (2018): Oktober, 2018. Thema Kawasan Cagar Budaya dan Perkembangan Kota
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v15i2.3526

Abstract

ABSTRACTZoning regulations for spatial planning in Indonesia are an integral part of the Spatial Detail Plan. The zoning regulation serves as a technical reference for the utilization and control of spatial utilization. This is done to maintain the use of space that develops in accordance with the characteristics of the zone and to minimize negative impacts. Traditional Chinatown settlements have certain characteristics that develop according to historical and spiritual factors of the community. Behind this characteristic is a meaning that is considered very important for this community, so that it cannot be arbitrarily arranged. This paper examines zoning regulations implemented in the Semarang Chinatown area and how far the local characteristics of the zone are used as a consideration of planning zoning regulations for spatial use in the region. This paper uses a rationalistic qualitative deductive approach with empirical description techniques. Some important findings identified from this paper are: first zoning regulations applied in the Spatial Detail Plan are still minimal and limited to the determination of spatial functions, the network system that serves related to the basic coefficient of build, height of the building. Both unique characteristics that must be considered in zoning arrangements in Chinatown such as activity grouping, spatial use rules, especially in skewers zones, and rules of space use around places of worship or sanctified spaces, building height and coefficient of existing buildings have not been considered at all. Recommendations that can be given from this paper are that the minimum zoning regulation components that apply in Indonesia according to the applicable standards are applied with special consideration of the unique characteristics of the region in the spatial arrangement.Keywords:  Zoning, Conservation, Traditional, Chinatown  ABSTRAKPeraturan zonasi dalam penataan ruang di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Detail Tata Ruang. Peraturan zonasi tersebut berfungsi sebagai rujukan teknis untuk pemanfaatan dan mengendalikan pemanfaatan ruang. Hal ini dilakukan untuk mejaga agar pemanfaatan ruang yang berkembang tetap sesuai dengan karakteristik zona serta untuk meminimalkan dampak negatif. Permukiman tradisional Pecinan memiliki karakteristik tertentu yang berkembang sesuai faktor kesejarahan dan spiritual dari masyarakatnya. Dibalik karakteristik yang ada ini terselip makna yang dianggap sangat penting bagi komunitas ini, sehingga tidak bisa sembarangan untuk diatur. Tulisan ini mengkaji peraturan zonasi yang dilakukan di kawasan Pecinan Semarang dan seberapa jauh karakteristik lokal zona digunakan sebagai pertimbangan perencanaan peraturan zonasi pemanfaatan ruang di kawasan tersebut. Tulisan ini menggunakan pendekatan deduktif kualitatif rasionalistik dengan teknik deskripsi empiris. Beberapa temuan penting yang terindentifikasi dari tulisan ini adalah: pertama peraturan zonasi yang diterapkan dalam Rencana Detail Tata Ruang  masih minim  dan terbatas pada penentuan fungsi ruang, sisten jaringan yang melayani terkait koefisien dasar bangun, ketinggian bangunan. Kedua karakteritik unik  yang harus dipertimbangkan dalam pengaturan zonasi di Pecinan seperti  pengelompokan kegiatan, aturan pemanfaatan ruang khususnya di zona tusuk sate, dan aturan pemanfaatan ruang disekitar tempat peribadatan atau ruang-ruang yang disucikan, keinggian bangunan dan koefisien bangunan eksisting belum di pertimbangkan sama sekali.  Rekomendasi yang bisa diberikan dari tulisan ini adalah minimal komponen peraturan zonasi yang berlaku di Indonesia sesuai standarat yang berlaku diterapkan dengan pertimbangan khusus karakteristik unik kawasan dalam pengaturan ruang.Kata kunci:  Zonasi, Konservasi, Tradisional, Pecinan