cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PEMBERIAN TEPUNG KECAMBAH TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PRODUKSI TELUR AYAM KEDU Darmawan, Hariadi; Susanti, Sri; Duka, Andro Umbu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to study the effect of using flour sprouts on feed intake and eggs production of Kedu chicken. The material consisted of 16 Kedu chickens, yellow corn, pollard, meat flour, minerals, dl-methionine 2%, lysine 0.50%, tomato waste, vegetables waste, fish waste, sprouted flour. Sprouted flour was giving as much as 5-15% in the feed. The study used an experimental method, designed in a completely randomized design (CRD) with 4 treatments 4 replications. The treatments tested were P0 (Feed without sprouts), P1 (Feed + 5% flour sprouts), P2 (Feed + 10% flour sprouts), P3 (feed + 15% flour sprouts). The results showed that the addition of 5-15% sprouts to the feed had no significant effect (P>0.05) on feed intake and egg production of Kedu chicken. The addition of flour sprouts up to 15% in feed gives the same response to feed intake and egg production of Kedu chicken. It is recommended to further research about the addition of flour sprouts with levels that are more varied or higher than 15%, so that they can provide more accurate information about the potential of sprouts flour as chicken feed. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh penggunaan tepung kecambah dalam pakan terhadap konsumsi pakan dan produksi telur ayam Kedu. Materi yang digunakan terdiri dari 16 ekor ayam Kedu, jagung kuning, pollard, tepung daging, mineral, dl-metionin 2%, lisin 0,50%, limbah tomat, limbah sayur, limbah ikan, tepung kecambah. Penggunaan tepung kecambah sebanyak 5-15% dalam pakan. Penelitian menggunakan metode percobaan, dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu P0 (Pakan ransum tanpa kecamba), P1 (Pakan ransum+5% tepung kecambah), P2 (Pakan ransum + 10% tepung kecambah), P3 (pakan ransum + 15% tepung kecambah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kecambah sebanyak 5-15% pada pakan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan produksi telur ayam Kedu. Penambahan tepung kecambah hingga 15% pada pakan memberikan respon yang sama terhadap tingkat konsumsi dan produksi telur ayam Kedu. Disarankan perlu penelitian lebih lanjut tentang penambahan tepung kecambah dengan level yang lebih bervariasi atau lebih tinggi dari 15%, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih akurat tentang potensi tepung kecambah sebagai pakan ayam.
ADOPSI TEKNOLOGI PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL BARU PADA USAHATANI PADI SAWAH DI DESA PENDEM KOTA BATU Masduki, Said; Nurhananto, Dwi Asnawi; Lestari, Ria
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seed is an important factor that determines the yield of rice plants. Seeds along with other means of production such as fertilizer, water, light, climate determine the level of crop yield. Although there are sufficient other means of production available, but if low quality seeds are used, the yield will be low. High-quality seeds are obtained from superior seed varieties. The number of new superior varieties produced is not optimally applied by farmers, while the attitude of farmers is a major factor in technology adoption. Therefore, the increase in rice production must be achieved by the use of new superior varieties with integrated plant and resource management (PTT) approaches that are site-specific, adapted to the technology assemblies arranged according to the East Java Agricultural Technology Assessment Center (BPTP). This study aims to determine the adoption of technology to use new high yielding varieties in lowland rice farming. The adoption of technology for the use of new superior varieties in lowland rice farming in Pendem Village, Junrejo District, Batu City is at a low level with a percentage of 31.43%. The method of analysis in this study uses a Likert scale by analyzing questionnaire and interview data containing the method of conducting farming. The question points are adjusted to the technological assemblies of using new high yielding varieties. Benih merupakan faktor penting yang menentukan hasil tanaman padi. Benih bersama dengan sarana produksi lainnya seperti pupuk, air, cahaya, iklim menentukan tingkat hasil tanaman. Walaupun tersedia sarana produksi lain yang cukup, tetapi bila digunakan benih bermutu rendah maka hasilnya akan rendah. Benih bermutu tinggi diperoleh dari varietas benih yang unggul. Banyaknya varietas unggul baru yang dihasilkan tidak diaplikasikan secara optimal oleh petani, sedangkan sikap petani merupakan faktor utama dalam adopsi teknologi. Oleh karena itu peningkatan produksi padi harus dicapai dengan penggunaan varietas unggul baru dengan pendekatan pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) yang bersifat spesifik lokasi yang disesuaikan dengan rakitan teknologi yang disusun menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adopsi teknologi penggunaan varietas unggul baru pada usahatani padi sawah. Adopsi teknologi penggunaan varietas unggul baru pada usahatani padi sawah di Desa Pendem Kecamatan Junrejo, Kota Batu berada pada level rendah dengan persentase 31,43%. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan skala Likert dengan menganalisis data kuesioner dan wawancara yang berisikan tentang metode pelaksanaan usahatani. Poin-poin pertanyaan disesuaikan dengan rakitan teknologi penggunaan varietas unggul baru.
PROSES PEMBUATAN BIOGAS BERBAHAN BAKU BLOTONG DENGAN STARTER RUMEN SAPI (KAJIAN DARI VARIASI KONSENTRASI AIR DAN LAMA FERMENTASI) Sasongko, Pramono; Ahmadi, Kgs; Rohim, Risqi Nur
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blotong is one of the sugar cane mill wastes whose utilization is still very rare. One of the uses of blotong that very potential is blotong as biogas energy source. The study aimed to obtain a comparison of the best water, fermentation time and feasibility analysis in the blotong fermentation process with cow starter rumen for biogas production. This study used a split plot randomized block design with two factors, namely the ratio of raw materials with water 1: 2 and the ratio of raw materials to water 1: 3. The results showed that the best treatment was the ratio of raw material with water 1: 2 with the volume of biogas 6.40 for 25 days with pH before fermentation 5.79 and after fermentation 6.45 and the flame was blue and the results of business feasibility analysis obtained HPP value = Rp1754 / Liter, BEP = Rp. 29,090,909 liters / year, HPP (40%) = Rp. 2104 / liter and RCR = 1.19. Blotong merupakan salah satu limbah pabrik tebu yang pemanfaatannya masih sangat rendah. Salah satu pemanfaatan blotong yang potensial adalah menjadi sumber energi Biogas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan perbandingan air dan waktu fermentasi terbaik, serta analisis kelayakan dalam proses fermentasi blotong dengan starter rumen sapi untuk produksi biogas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok split plot dengan dua faktor yaitu perbandingan bahan baku dengan air 1:2 dan perbandingan bahan baku dengan air 1:3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada perbandingan bahan baku dengan air 1:2 dengan volume biogas 6.40 selama 25 hari dengan pH sebelum fermentasi 5.79 dan sesudah fermentasi 6.45 dan nyala api berwarna biru dan hasil analisis kelayakan usaha Diperoleh nilai HPP = Rp1754/Liter, BEP = Rp. 29.090.909 liter/tahun, HPP (40%) = Rp. 2104 /liter dan RCR = 1,19.
PENGGUNAAN JENIS ADSORBEN UNTUK PENJERNIHAN MINYAK GORENG BEKAS PENGGORENGAN VAKUM KERIPIK BUAH Rahmawati, Atina; Ahmadi, Kgs; KM, Yis Wiyanto
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Used cooking oil is cooking oil that has undergone changes due to physicochemical use repeatedly. This research aims to get type of adsorbent and concentration of adsorbents that may improve the quality of used cooking oil as well as examining the business feasibility of the economic process of the best adsorbent. Adsorbents used namely rice husk, corn cobs, coconut shell and palm shell. The design used in this study is nested design. Concentration each cooking oil adsorbent to treatment is 2%, 4%, 6% and 8% of the 250 ml used cooking oil.Theresearchresultsshowedcorn cobs adsorbent treatmentconcentrationof6%is the best of recovery oil 88%, the number of peroxides 10.53 meq/kg, FFA 1.02%, The test of oil color L 30.47, The intensity of the color a * 5.30, The intensity of color b * 15.37, Test your like 2.20 and the hedonic of color 2.23. Economic business feasibility analysis results BEP of 1,664 Units and BEP price of Rp 26,782.592. Cost of production Rp 9,477.222 and the selling price of Rp 16,100 (1 kg), the NPV of Rp 4,176.727, Net B/C of 1.47 while R/C ratio of 1.70, 15% IRR and Payback Period for 1.13 years. Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah mengalami perubahan fisikokimia akibat digunakan secara berulang kali. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis adsorben dan konsentrasi adsorben yang dapat memperbaiki kualitas minyak goreng bekas serta mengkaji kelayakan ekonomi proses penjernihan minyak goreng bekas menggunakan jenis adsorben terbaik. Adsorben yang digunakan yaitu sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa dan cangkang sawit. Rancangan yang digunakan rancangan tersarang (Nested Design). Konsentrasi masing-masing adsorben untuk menjernihkan minyak goreng bekas yaitu 2%, 4%, 6% dan 8% dari 250 ml minyak goreng bekas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan adsorben tongkol jagung konsentrasi 6% merupakan yang terbaik menghasilkan rendemen minyak 88%, bilangan peroksida 10,53 meq/kg, FFA 1,02 %, kecerahan warna L 30,47, intensitas warna a* 5,30, intensitas warna b* 15,37, uji kesukaan aroma 2,20 dan uji kesukaan warna 2,23. Hasil analisa kelayakan ekonomi diperoleh BEP sebesar 1,664 Unit dan BEP Harga Rp 26.782,592 . HPP sebesar Rp 9.477,222 dan harga jual sebesar Rp 16.100(1 kg) , NPV Rp 4.176,727, Net B/C sebesar 1,47 sedangkan R/C ratio sebesar 1,70, IRR 15% dan Payback Periode selama 1,13 tahun.
EFISIENSI PRODUKSI USAHATANI SAWI DI DUSUN MARON SEBALUH DESA PANDESARI KECAMATAN PUJON Khoirunnisa', Ninin; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Marpaung, Jupri Johanes SM
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mustard is a vegetable that has an important role in the balance of food consumed. The consumption of mustard greens in Indonesia always increases every year. But the increase was not offset by an increase in mustard production. Possible efforts to increase mustard production are by optimizing the use of production factors in mustard farming. Production factors in mustard farming include seeds, manure, urea fertilizer, NPK fertilizer, ZA fertilizer, pesticides and labor. This research aims to analyze the efficiency of the use of production factors and analyze the level of income in farming using the census method with 35 mustard farmers in Maron Sebaluh Hamlet, Pandesari Village, Pujon District. The analysis was performed using the Cobb-Douglas function and farm income analysis. The results showed that the use of production factors was not yet technically or economically efficient. The mustard farming in Maron Sebaluh Hamlet, Pandesari Village, Pujon District is profitable with an R/C value of 2,74. Sawi adalah sayuran yang memiliki peran penting dalam keseimbangan makanan yang dikonsumsi. Konsumsi sawi di Indonesia selalu meningkat setiap tahun. Namun peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi sawi. Upaya yang mungkin untuk meningkatkan produksi sawi adalah dengan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksi dalam usahatani sawi. Faktor-faktor produksi dalam usahatani sawi yaitu benih, pupuk kandang, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk ZA, pestisida dan tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi dan menganalisis tingkat pendapatan dalam usahatani sawi menggunakan metode sensus dengan 35 petani sawi di Dusun Maron Sebaluh, Desa Pandesari, Kabupaten Pujon. Analisis dilakukan dengan menggunakan fungsi Cobb-Douglas dan analisis pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien secara teknis maupun ekonomis. Usahatani sawi di Dusun Maron Sebaluh, Desa Pandesari, Kabupaten Pujon menguntungkan dengan nilai R/C 2,74.
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TELUR DAN TEMPERATUR PENETASAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR AYAM KAMPUNG Astuti, Farida Kusuma; Handayani, Sri; Rey, Yohanis Umbu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to get a good storage of chicken eggs for hatching, and to get the ideal temperature on local chicken eggs hatching. This research was conducted in the Inbis ranch of Faculty of Agriculture, Tribhuwana Tunggadewi University, Malang, East Java. The design used Factorial Complete Randomized Design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. The treatments consists of two factors are the length of the egg storage (L) consists of three levels (L1 = 3 days, L2 = 5 days, L3 = 7 days) as the first factor and the second factor (S) is the hatching temperature with three levels (S1 = 35-36°C, S2 = 37-38°C, and S3 = 39-40°C). The parameters observed were hatchability of the eggs. The results showed that the storage duration of eggs and different temperatures showed a significant effect (P> 0.05) on the hatchability of local chicken eggs. The hatchability of the study ranged from 85.17% to 88.87%. The highest hatchability in this study is 88.87% which found in the treatment of L1 (3 days) and the temperature of treatment is S2 (37-38°C). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan lama penyimpanan telur ayam kampung yang baik untuk penetasan, serta untuk mendapatkan suhu yang ideal dalam penetasan telur ayam kampung. Penelitian ini dilaksanakan dikandang Inbis Fakultas Pertanian, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Kota Malang Jawa Timur. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, terdapat 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari dua faktor : faktor ke-1 (L) adalah lama simpan telur terdiri dari tiga level yaitu L1=3 hari, L2= 5 hari, L3= 7 hari, Faktor ke-2 (S) adalah temperatur penetasan telur ayam kampung terdiri tiga level yaitu : S1=35°C-36°C, S2=37°C-38°C, dan S3=39°C-40°C. Parameter yang diamati adalah daya tetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyimpanan telur dan suhu yang berbedah menunjukkan pengaruh yang signifikan (P>0.05) terhadap daya tetas telur ayam kampung.. Daya tetas penelitian berkisar antara 85.17% sampai 88,87%. Daya tetas tertinggi pada penelitian ini terdapat pada perlakuan L1 (3 hari) dan suhu perlakuan S2 (37°C-38°C) yaitu 88,87%.
STUDY TINGKAT KEMATANGAN OOSIT KAMBING PE YANG DIKULTUR SECARA IN VITRO PADA 22 JAM Darmawan, Hariadi; Supartini, Nonok; Dendo, Yulius
Fakultas Pertanian Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.407 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pematangan oosit secara in vitro pada kambing pe. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui peranan growth factor gdf-9 dan egf yang dapat meningkatkan jumlah oosit berkualitas baik pada pematangan oosit secara in vitro. Materi yang digunakan dalam penelitian ini 46 oosit yang diperoleh dari kambing betina kelompok dewasa kelamin dan prapubertas. Ovarium dibawah kelaboratorium dalam termos air hangat dengan suhu 380C selama 22 jam. Pengamatan dilakukan berdasarkan tingkat pengembangan ekspansi cumulus kualitas A. penelitian ini dilakukan dengan 5 kali ulangan. analisa data yang digunakan adalah pengembangan ekspansi cumulus kualitas A dengan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini bahwa kualitas oosit hasil pematangan secara in vitro berdasarkan pengembangan ekspansi cumulus pada oosit kambing PE diperoleh 50 %. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah kualitas oosit kambing PE pada hasil pematangan in vitro berdasarkan pengembangan ekspansi cumulus kualitas A dan keberadaan polar body di pengaruhi oleh growth factor GDF-9 dan EGF. Disarankan agar oosit dari kambing dapat digunakan untuk maturation.Agar data yang di hasilkan lebih lanjut perlu dilakukan dengan perlakuan yang lebih banyak oosit dari kambing
Evaluasi Ruang Terbuka Hijau pada Taman Wilis Kota Batu ( Kajian Aspek Fisik Dan Fungsi ) ., Sutoyo; Ino, Gaudensius F.; Hamzah, Amir
Fakultas Pertanian Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan berkembangnya teknologi, manusia dituntut untuk lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan teknologi. Misalnya semakin menyempitnya lahan-lahan akibat banyaknya bangunan seperti: pabrik-pabrik, perumahan, hotel,p erkantoran sehingga tidak ada celah untuk bernapas. Menydari akan hal tersebut manusia akan selalu berusaha meningkatakan lingkungan sekitar dengan cara amengontrol dan mengembangkan keadaan lingkungan tersebut agar selalu terjadi keseimbangan. Mengingat akan peran manusia untuk selalu berusaha meningkatkan dan mengimbangkan lingkungan hidupnya maka rekreasi merupakan salah satu alternatif pengimbang antara manusia dengan alam.
PEMBUATAN YOGHURT DARI KULIT PISANG AMBON SERTA ANALISA KELAYAKAN USAH (PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI BAHAN PENSTABIL) Wirawan, Wirawan; Ago, Adrianus Yosep; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.296 KB)

Abstract

Yoghurt adalah salah satu minuman fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan konsenterasi zat penstabil bahan terhadap sifat fisiko kimia yoghurt kulit pisang Ambon. konsentrasi dan penstabil yang tepat untuk menghasilkan yoghurt kulit pisang dengan kualitas kimia dan fisik yang terbaik. Target dari penelitian ini adalah menentukan yoghurt dengan kualitas fisik dan kimia yang paling baik sehingga layak untuk diusahakan serta menambah keanekaragaman pengolahan kulit pisang ambon disamping memperkaya pembuatan yoghurt menggunakan susu kulit buah-buahan. Tahap penelitian ini mencakup pembuatan susu kulit pisang ambon yang kemudian dijadikan sebagai media fermentasi. Banyaknya konsentrasi dan jenis penstabil juga diperhatikan guna memperoleh hasil yang paling baik. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 faktor, faktor yang diteliti yaitu faktor I adalah jenis penstabil (B) yang terdiri atas 3 jenis : B1=CMC, B2=Agar dan B3=Keragenan dan faktor II adalah konsentrasi penstabil (S) yang terdiri atas 3 level : S1=0,5%, S2=0,75 % dan S3=1 %.dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B1S2 memberikan hasil yang terbaik dengan kriteria sebagai berikut Kadar abu, 0.8 viskositas 5516.7CPS warna cerah (L) 74,6 Analisa kelayakan usaha pada yoghurt Kulit pisang ambon diperoleh keuntungan Rp 62.016.273/tahun dengan total produksi 120.000 botol pertahun. Dengan modal diperoleh dari ekuitas sendiri
ANALISIS PEMASARAN TANAMAN HIAS DI CV. TUNAS BARU MULYA KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG Merin, Aloysius
Fakultas Pertanian Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk melaksanakan pemasaran tanaman hias yang menguntungkan petani kita masih terbatas pada kemampuan dan manajemennya. Belum lagi kurangnya informasi mengenai pasar, besarnya biaya pemasaran panjangnya rantai pemasaran tanaman hias. Penentuan tempat penelitian dilakukan secara segaja dengan pertimbangan bahwa pertimbangan jarak anatar tempat tinggal yang cukup dekat dengan lokasi penelitian dan berpotensi dalam pengembangan usaha tani tanaman hias. Adapun metode pengambilan contoh yang digunakan yaitu pengambilan contoh secara acak. Sedangkan metode pengumpulan data primer diperoleh dari petani dan pedagang yang terlibat langsung dalam proses produksi dan pemasaran. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani dalam proses pemasaran tanaman hias di CV. Tunas Baru Mulya adalah biaya transportasi. Penerimaan pemasaran tanaman hias di CV. Tunas Baru Mulya diperoleh dari jumlah total produksi tanaman hias yang dihasilkan dikalikan dengan harga jual yang diterima oleh petani dalam prose pemasaran tanaman hias sedangkan keuntungan pemasaran tanaman hias diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan biaya pemasaran tanaman hias.

Page 1 of 49 | Total Record : 486