Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Lama Distilasi, Kandungan Senyawa, dan Bioautografi Antioksidan Minyak Atsiri Bangle (Zingiber purpureum) Irmanida Batubara; Rahadyanoto Trimulia; Eti Rohaeti; Latifah K Darusman
INDONESIAN JOURNAL OF ESSENTIAL OIL Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Atsiri Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.695 KB)

Abstract

Bangle (Zingiber purpureum) merupakan salah satu tanaman obat yang mengandung minyak atsiri. Untuk mengambil minyak atsiri dari rimpang bangle dapat dilakukan distilasi dengan perbedaan lama distilasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kadar minyak atsiri dari rimpang bangle dan membandingkan kandungan senyawanya berdasarkan waktu distilasi yang berbeda. Minyak atsiri bangle didistilasi dengan perbedaan rentang waktu, yaitu 0-3 jam, 3-6 jam, dan 6-9 jam. Rendemen minyak atsiri yang diperoleh berbeda walaupun selang waktu yang digunakan sama. Kadar senyawa minyak atsiri berbeda bergantung pada lama waktu distilasi. Perbedaan tersebut ditentukan melalui kromatografi gas-spektrometri massa. Kandungan senyawa sabinena optimum pada waktu distilasi 0-3 jam, osimena pada rentang waktu 3-6 jam, dan naftalena pada rentang waktu 6-9 jam. Profil kromatografi lapis tipis dan bioautografi antioksidan terhadap DPPH untuk ketiga minyak juga ditentukan.
Induksi Mutasi Fisik dengan Iradiasi Sinar Gamma pada Kunyit (Curcuma domestica Val.) yahidah Rosyidah Anshori; Syarifah Iis Aisyah; Latifah K Darusman
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.982 KB) | DOI: 10.29244/jhi.5.2.84-94

Abstract

ABSTRACTTurmeric  is  a  spice plant  and  potential  as a major  ingredient  of  functional food. Turmeric contains curcumin, an active compound which gives the yellow color from its rhizomes that provides health benefits. Curcumin is an antioxidant and acts as an anti-cholesterol as well as a medicine for tumors, cancer, hypertension, hyperglycemia, and rheumatic heart disease. Limited supply of simplicialevel of curcumin based on market standards and the low genetic variability of turmeric as a source for conventional breeding makes this research valuable to be  conducted.  The purposes of this study were  to  obtain  LD50 dose  and  turmeric  crop  yield  variability  due  to  the  changes  in physical mutation  induced  by  gamma-ray  irradiation.  An  acute  single iradiation  was  given  to  using  the universal panoramic irradiator with 11 different dose rates,  The plants  then were cultivated in vivo. The  growth observation  on  turmeric  was  observed  on  vegetative  traits  qualitatively and quantitatively. In this study, the LD50 dose of turmeric was 47.26 Gy. The plant’s vegetative growth tends  to  decelerate  with  the  increase  of irradiation  doses.  The  high  variabillity  growth  for   leaf number  occured  on 50  Gy  of  dose.  Morphological  changes  occured  in  the  form  of  pseudo-stem shape  due  to  irradiation  doses  of  50  and  60  Gy.  Most  leaf  surface discoloration  and  leaf deformation occured at 50 and 70 Gy, and stunted growth occured at 60 and 70 Gy.Keywords: curcumin, iradiation, LD50, turmeric ABSTRAKKunyit merupakan tanaman rempah yang potensial sebagai bahan utama pangan fungsional. Rimpang kunyit mengandung senyawa aktif utama yaitu kurkumin yang memberikan warna kuning pada  rimpang  juga  memberikan manfaat  untuk  kesehatan.  Kurkumin  bersifat  antioksidan  dan berperan sebagai  antikolesterol,  obat  tumor,  kanker,  obat  hipertensi,  hiperglikemia, penyakit  hati serta  rematik.  Keterbatasan  penyediaan  simplisia  yang mempunyai  kandungan  kurkumin  sesuai standar  pasar  serta  rendahnya keragaman  genetik  kunyit  sebagai  bahan  seleksi  pemuliaan konvensional menjadikan penelitian ini penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan  dosis  LD50  serta  menghasilkan  perubahan  keragaan tanaman  kunyit  akibat  induksi mutasi  fisik  melalui  iradiasi  sinar  gamma. Iradiasi  dilakukan  secara  tunggal  (acute  irradiation) menggunakan Iradiator Panorama Serba Guna (IRPASENA) dengan 11 taraf dosis yang berbeda dan tanaman  yang  telah  diradiasi  dibudidayakan  secara  in  vivo. Pengamatan  pertumbuhan  tanaman kunyit  dilakukan  pada  karakter vegetatif secara  kuantitatif  dan  kualitatif.  Pada  penelitian  ini, didapatkan  LD50 kunyit  yaitu  pada  dosis  47.26  Gy.  Pertumbuhan  vegetatif  tanaman cenderung mengalami  perlambatan  dengan  semakin  meningkatnya  dosis iradiasi.  Keragaman  tertinggi pertumbuhan jumlah daun terdapat pada aplikasi dosis 50 Gy. Perubahan morfologi berupa bentuk pangkal  batang  semu  terjadi pada  tanaman  akibat  iradiasi  dosis  50  dan  60  Gy,  perubahan warna sebagian permukaan daun dan terjadi pada 50 dan 70 Gy, perubahan bentuk daun terjadi pada 50 dan 70 Gy, serta pertumbuhan tanaman yang kerdil terjadi pada tanaman 60 dan 70 Gy.Kata kunci: iradiasi, kunyit, kurkumin, LD50
EKSTRAKSI DAN ANALISIS FITOSTEROL LEMBAGA GANDUM (Triticum sp.) [Extraction and Analysis of Phytosterol from Wheat Germ (Triticum sp.)] Sri Anna Marliyati; Hidayat Syarief; Deddy Muchtadi; Latifah K Darusman; Rimbawan Rimbawan
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 16 No. 1 (2005): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.496 KB)

Abstract

Phytosterol may reduce the absorption of cholesterol, and used for preventing atherosclerosis. It is limited in soybean, but potentially abundant in wheat germ. Research on the utilization of wheat germ sterol had not been reported so far. Many aspects of germ sterol extraction from wheat germ and its characteristics were still unknown. In this research, the best extraction method, kinds and content of phytosterol from wheat germ were investigated. This research consisted of two steps: (1) extraction of phytosterol directly form whole germ and ground germ using hexane, and indirect extraction through germ oil using hexane and mixed solvent of hexane and ethanol, and direct extraction from ground germ using ethanol; (2) analysis of the type and content of phytosterol in the crude extract through the following steps: preparation of crude extract, fractionation, and analysis. Results showed that indirect extraction through germ oil was considered as the best method which yielded 1.37% of phytosterol. The highest yield was obtained when extracted using a mixed solvent of hexane – ethanol 82:18. However, the odor of ethanol and hexane (gasoline like odor) was still detected. The solvent’s ratio of hexane to ethanol at 1:2 resulted better odor of the extract. Extraction of sterol using ethanol yielded 18.39% of sterol when the ratio of germ to ethanol at 1:10 (w/v) was applied. Results of quantitative analysis on the main component of crude extract of wheat germ sterol showed that the total content of sterol extracted with mixed solvent was higher than those extracted with ethanol. The ratio of hexane to ethanol at 1:1 (v/v) gave higher content of total sterol, stigmasterol and campesterol, whereas higher content of -sitosterol was produced at the solvent’s ratio of hexane to ethanol at 1:2 (v/v).
FABRICATION AND ANALITICAL PERFORMANCE EVALUATION OF CARBON PASTE ELECTRODE USING CYCLIC VOLTAMMETRY Wulan Tri Wahyuni; Latifah K Darusman; Desi Herliani
Analit: Analytical and Environmental Chemistry Vol 2, No 2 (2017): Analit: Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Sumatri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aec.v2i2.2017.p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode pembuatan Elektrode Pasta Karbon (EPK) yang memberikan respon voltammetri yang optimum serta menguji kinerjanya menggunakan larutan K3[Fe(CN)6] secara voltammetri siklik. Parameter yang dioptimasi meliputi nisbah komposisi grafit dan parafin, pemanasan grafit, sonikasi campuran grafit dan parafin, waktu penggerusan, dan lama penyimpanan EPK sebelum digunakan. Respons terbaik diperoleh saat EPK dibuat dengan nisbah campuran grafit dan parafin sebesar 7 : 3 dan grafit yang dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 105 C selama 2 jam. Campuran grafit dan parafin terbaik diperoleh setelah sonikasi selama 30 menit dan waktu penggerusan selama 45 menit. EPK yang disimpan 2 hari sebelum digunakan menghasilkan respons terbaik. Pengukuran K3[Fe(CN)6] pada rentang konsentrasi 0,1 – 125 mM menunjukkan respon linear dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9998 dan 0,9991, masing-masing untuk arus puncak oksidasi dan reduksi dengan simpangan baku relatif (%SBR) sebesar 2,0% pada reaksi oksidasi dan 1,07% pada reaksi reduksi. EPK yang dihasilkan menunjukkan  stabilitas yang baik pada pemakaian selama 7 hari berturut-turut dan 96 kali pengukuran
KANDUNGAN KIMIA BERBAGAI EKSTRAK DAUN MIANA (COLEUS BLUMEI BENTH) DAN EFEK ANTHELMINTIKNYA TERHADAP CACING PITA PADA AYAM Yusuf Ridwan; Latifah K Darusman; Fadjar Satrija; Ekowati Handaryani
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 11 No. 2 (2006): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.101 KB)

Abstract

Study on the chemical compound of painted nettle (Coleus blumei Benth) leave extract and its anthelmintic activity against chicken tapeworm were conducted. Leave of painted nettle were collected and extracted with hexane, chloroform, ethanol and water. Phytochemical analysis was carried out to determine the chemical compound of secondary metabolites. Anthelmintic activity was evaluated with an assay using chicken tapeworm in a serial microplate dilution method by determination of efective concentration 50 (EC50) using probit analysis. The result of phytochemistry analysis showed that Coleus leaves consisted of flavonoid, steroid, tannin and saponin. Three of four extracts displayed strong anthelmintic activity with the higest activity belong to chloroform extract with EC50 5 mg/ml followed by n-hexane 9 mg/ml and metanol extract 10,2 mg/ml, while water extract has a weak anthelmintic activity with 106,2 mg/ml. In general, chloroform extract proved to be a more efficient extractant of biologically active compounds than either hexane, ethanol or water extract. The promising activity displayed by a number of extracts has led to further investigation of the active compound. Unfortunately, the result of invivo assay showed that the chloroform extract treatment with dose level 25 mg/kg BW could not to reduce the number of tapeworm in chicken. It is interesting for further investigate the differences of respon between in vitro and in vivo to determine involved factors.