Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

TEORI KRITIS: PERKEMBANGAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PROBLEMATIKA DI ERA DISRUPSI Irvan Tasnur; Ajat Sudrajat
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.5894

Abstract

Perkembangan teknologi yang sangat masif di era disrupsi bukan hanya menimbulkan berbagai dampak positif bagi kehidupan, namun juga membuka jalan bagi berbagai permasalahan-permasalahan baru dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan guna meninjau latar belakang lahir dan berkembangnya teori kritis, serta relevansinya apabila diterapkan pada masyarakat industri 4.0. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutik dalam menjelaskan realitas yang terjadi. Hasil analisis didapatkan bahwa lahirnya teori kritis disebabkan oleh adanya dominasi ilmu pengetahuan, manusia, serta budaya yang diakibatkan oleh berkembangnya positivisme, liberalisme dan kapitalisme pada masyarakat sehingga melahirkan cara pandang yang hanya dilandaskan pada pemikiran pragmatis dan kacamata sains, bahkan untuk mengamati suatu fenomena sosial yang tidak dapat dijelaskan dengan metode tersebut, hal ini juga sering disebut sebagai perspektif one dimensional man. Teori kritis sebagai counter discourse terhadap dominasi dan cara pandang one dimensional man bertujuan untuk menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yang bukan hanya terpaku pada usaha memenuhi kebutuhan jasmani atau materil akan tetetapi juga rohani. Teori ini berkembang dalam tiga fase utama di mana pada tiap masing-masing fase tersebut, terdapat sejumlah tokoh yang berusaha menjelaskan teori kritis dari berbagai paradigma yang berbeda, serta berusaha saling mengkritisi guna mendapatkan formulasi teori kritis yang tepat. Namun, walaupun terdapat berbagai perbedaan, inti keseluruhan dari pemikiran tersebut bermuara pada kesimpulan di mana teori kritis diarahkan untuk pembentukan masyarakat kritis guna menangkal adanya perspektif one dimensional man yang jauh dari sifat emansipatoris. Hasil analisis juga didapatkan bahwa teori kritis masih sangat relevan diterapkan pada masyarakat dominasi industri 4.0, di mana teknologi dan kapitalisasi mengarah kepada dehumanisasi yang sangat ditentang oleh pemikiran ini, namun hal yang harus diperhatikan dalam menerapakannya agar dapat menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yaitu penggunaan metode yang matang dalam proses aplikasinya, agar teori tersebut tidak mengarahkan pada suatu kerangka berpikir tertentu, sehingga membawa pada lahirnya dominasi baru.
Penerapan Historical Approach dalam Proses Pembelajaran Pancasila di Perguruan Tinggi Irvan Tasnur; Mustamin Mustamin; Fitra Widya Wati
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol 8, No 1 (2020): EQUILIBRIUM JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.946 KB) | DOI: 10.26618/equilibrium.v8i1.3007

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali proses, respon serta dampak penanaman nilai-nilai pancasila melalui penerapan historical approach di perguruan tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dimana proses pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi yang hasilnya kemudian dianalisis menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian ditemukan bahwa proses penanaman nilai pancasila di Universitas Negeri Yogyakarta dilakukan dalam beberapa tahapan yang terdiri dari receiving, responding, valuing, organization, characterization. Pada dua tahapan awal kompetensi dosen merupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses tersebut, sedangkan untuk tiga tahapan terakhir peran mahasiswa menjadi sangat dominan sebagai penentu keberhasilan karena proses tersebut tidak dapat diintervensi oleh seorang dosen. Penerapan pendekatan sejarah dalam proses pembelajaran pancasila di Universitas Negeri Yogyakarta mendapatkan respon yang sangat positif dari mahasiswa hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kemampuan dosen dalam menyampaikan peristiwa sejarah dan kontemporer yang nantinya dikaitkan dengan nilai pancasila, penggunaan media kekinian, serta tidak dibatasinya ruang gerak mahasiswa untuk tetap berpikir kritis. Berdasarkan hasil penelitian pula didapatkan bahwa penerapan historical approach berdampak positif bagi peningkatan daya berpikir kognitif mahasiswa, hal ini dibuktikan dari hasil evaluasi terhadap 60 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah pancasila dimana dari total keseluruhan mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tersebut terdapat 90% orang mahasiswa yang dapat menjawab dengan benar berbagai pertanyaan yang bersifat teoritis terkait pancasila dan 100% mahasiswa dapat menjawab berbagai permasalahan kontemporer dengan menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Selain itu, penerapan pendekatan tersebut juga berdampak positif terhadap nilai afektif dalam diri mahasiswa yang tercermin dari peningkatan kedisiplinan dan tingginya rasa saling menghormati di tengah perbedaan, dan juga berpengaruh baik terhadap peningkatan psikomotorik yang ditunjukkan dari meningkatnya kemampuan berkomunikasi mahasiswa dalam proses diskusi.
Republik Indonesia Serikat:Tinjauan Historis Hubungan Kausalitas Peristiwa-Peristiwa Pasca Kemerdekaan Terhadap Pembentukan Negara RIS (1945-1949) Irvan Tasnur; Muhammad Rijal Fadli
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i2.6599

Abstract

Artikel bertujuan untuk mengetahui hubungan kausalitas peristiwa-peristiwa pasca kemerdekaan dalam proses pembentukan negara RIS (Republik Indonesia Serikat). Berawal dari peristiwa proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik awal perjuangan untuk menjadi negara yang seutuhnya. Kedatangan Belanda pada tanggal 16 September 1945 dalam rangka untuk menanamkan kekuasaannya kembali ditentang oleh semua lapisan-lapisan masyarakat. Perlawanan-perlawananpun terjadi diberbagai daerah, perang dan diplomasi adalah dua jalan yang terus beriringan dalam proses penyelesaian sengketa. Propaganda sebagai alat yang mujarab digunakan oleh Belanda untuk memecah belah negara Indonesia, usaha tersebut kemudian berhasil dengan terbentuknya negara - negara federal (negara boneka bentukan Belanda). Diplomasi yang tidak kunjung mencapai kata sepakat, menjadi alasan pembenaran aksi agresi militer I dan II. Aksi tersebut menjadi sorotan dunia internasional yang kemudian mendesak pihak Belanda untuk mengakhiri konflik dengan menyelenggarakan KMB pada tanggal 23 Agustus 1949 di Den Hag, Belanda. Konsensuspun tercapai, 27 Desember 1949 Republik Indonesia Serikat Resmi dinyatakan berdiri. 
Konflik Sunni-Syiah Pasca Arab Spring: Menelusuri Motif Politik Dibalik Perang Berkepanjangan di Suriah Irvan Tasnur; Fitra Widya Wati
Academia Praja : Jurnal Ilmu Politik, Pemerintahan, dan Administrasi Publik Vol 2 No 02 (2019): Jurnal Academia Praja
Publisher : Universitas Jenderal Ahmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.223 KB) | DOI: 10.36859/jap.v2i02.112

Abstract

Abstract The Syrian War is one of a long-standing conflict that has lasted for eight years. The difficulty of finding a peaceful spot is the cause of the conflict eradication efforts in the country. This study aims to explore the motives behind the war in Syria using the Historical approach. The results of the study and analysis found that Syria as a secular state, separating between state and religious life, besides that Syria is also a peaceful ethnoreligious state before the war-damaged the joints of life there. Bashar al Assad as Syrian president embraced the Shia teachings of the Awali sect which is a minority sect in Syria, his appointment as well as his father were supported by most of the military figures who were Sunni schools. The above explanation clearly shows that the differences in schools between Sunnis and Shiites in Syria are not the main cause of a long war. Deeper, the results of the analysis show that there are various conflicting groups in the country, namely the Syrian Government, the Syrian Democratic Forces (Rojava, SDF, QFD), the Islamic State of Iraq and Sham (ISIS), Jabhat al-Nusra, and the Syrian Opposition. Difficult resolution of conflicts that occur is not only caused by the many internal warring groups that have their own goals and interests, but this is also made worse by the involvement of other countries such as Russia, Saudi Arabia, Iran, Israel, Turkey, America, Britain and France that carry a variety of motives and interests, this is what makes it difficult to create a consensus that leads to peace in Syria.
Ujian Nasional: Sejarah dan Dinamika Perkembangan Evaluasi Akhir Irvan Tasnur; Tonny Iskandar Mondong; Helman Manay
ISTORIA Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah Vol 18, No 2 (2022): ISTORIA Edisi September, Vol. 18. No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v18i2.52334

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melacak akar sejarah dan dinamika perkembangan ujian nasional di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode historis yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ditemukan fakta bahwa ujian nasional mulai diperkenalkan pada tahun 2005 berdasarkan PP No. 19 tahun 2005 yang merupakan penjabaran dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tentang evaluasi yang terkandung dalam pasal 35 ayat 1-3, pasal 57 dan pasal 58 paragraf 1 dan 2 dan sekali lagi ditegaskan kembali dengan Peraturan Menteri Pendidikan No. 40 tahun 2010. Namun berdasarkan sejarah, evaluasi akhir telah secara resmi diperkenalkan sejak masa pemerintah kolonial Hindia Belanda, setelah kemerdekaan evaluasi akhir telah mengalami perubahan nama dan format beberapa kali, mulai dengan nama Ujian Akhir 1950, EBTA 1969, EBTANAS, UAN hingga ujian nasional. Berbeda dari jenis evaluasi akhir sebelumnya, walaupun ujian nasional memiliki dasar hukum dan pertimbangan yang matang dalam perumusan kebijakannya, pelaksanaan UN masih menerima sejumlah kritikan oleh berbagai kalangan karena dianggap tidak mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi rakyat Indonesia. Studi ini juga menemukan bahwa pelaksanaan ujian nasional memiliki banyak dampak positif khususnya pada peningkatan kualitas akademik, akan tetapi secara bersamaan juga membawa dampak negatif, terutama pada penurunan kualitas psikologis siswa maupun guru.
Liberalisme dan Monetisasi Ekonomi di Hindia Belanda (1870-1900) Irvan Tasnur; Joni Apriyanto; Naufal Raffi Arrazaq
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v4i2.3495

Abstract

Melacak Akar dan Perkembangan Konservatisme Islam dalam Dinamika Perpolitikan Indonesia Irvan Tasnur; Z Zulkarnain
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2020): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v8i1.2280

Abstract

Konservatisme sebagai suatu ideologi kembali mendapatkan perhatian dalam kehidupan bernegara masyarakat indonesia di beberapa tahun terakhir, hal ini disebabkan oleh adanya serangkaian pristiwa-pristiwa besar sehingga isu ideologi kembali mencuat kehadapan publik. Menyeruaknya isu ideologi dan keterlibatan framing media menyebabkan terbentuknya stigma negatif  terhadap ideologi khususnya yang berlandaskan pada ajaran keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisa proses lahir dan berkembangnya konservatisme islam di Indonesia menggunakan pendekatan historis. Hasil telaah dan analisa ditemukan bahwa pengistilahan konservatisme akan selalu berkaitan dengan tradisionalitas masyarakat, namun perbedaan makna tradisional pada tiap-tiap negara akan menyebabkan terjadinya  perbedaan bentuk-bentuk dari konservatisme. Makna tradisionalitas pada masayarakat indonesia lebih identik kepada golongan islam yang bila ditelusuri lebih jauh lagi, hal tersebut disebabkan oleh adanya propaganda Belanda untuk menciptakan rasa inferiority complex akibat adanya kekhawatiran terhadap terjadinya perlawan yang dimotori oleh golongan islam. Perjuangan islam untuk kembali menegakkan ajaran-ajaran keislaman ditengah kehidupan berbangsapun terus berlanjut dan berdinamika pasca Indonesia merdeka hingga kini dengan berbagai bentuk, salah satunya adalah partai politik yang menjadikan isyariat sebagai sine qua non dan raison d’ȇtre dari partai tersebut.
Melacak Akar dan Perkembangan Konservatisme Islam dalam Dinamika Perpolitikan Indonesia Irvan Tasnur; Zulkarnain Zulkarnain
JRP (Jurnal Review Politik) Vol. 9 No. 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.762 KB) | DOI: 10.15642/jrp.2019.9.1.50-71

Abstract

Conservatism as an ideology has regained attention in the life of the Indonesian people in recent years, this is due to the existence of a series of several major events so that the issue of ideology re-emerges before the public. Along with the rise of ideological issues, the involvement of media framing has led to the formation of negative stigma towards ideology, especially those based on Islamic teachings. This study aims to explore and analyze the process of birth and the development of Islamic conservatism in Indonesia using a historical approach. The results of the analysis that the term conservatism will always be related to traditionality, but the different traditional meanings in each country will cause different forms of conservatism. The meaning of traditionality in Indonesian society is more identical to Islamic groups which, if explored further, is caused by the existence of propaganda to create a sense of inferiority complex that is carried out by the Dutch due to fears of resistance led by Islamic groups. The Islamic struggle to re-establish Islamic teachings in the midst of national life continues after Indonesia's independence up to now with various forms, one of which is the political party that makes Islam the sine qua non and raison d'?tre of the party, these Islamic parties continue dwelling on the dynamics of Indonesian history to date which are detailed in this article.
Islamization Process of The Tellumpoccoe Alliance: The History of Bone, Soppeng and Wajo Fadli Fadli; Aman Aman; Irvan Tasnur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20612

Abstract

 This research was conducted on the basis of the lack of research that specifically reveals the process of Islamization of the Tellumpoccoe alliance based on historical facts available in the field. This study aims to reveal the process of Islamization of three major regions which include Bone, Soppeng, and Wajo. This study used a historical research method consisting of heuristics/collection of historical sources, external and internal criticism of historical sources, interpretation, and historiography/or historical writing. The results demonstrate that the beginning of the arrival of Islam in South Sulawesi was received openly by two major kingdoms namely Luwu in 1602 and Gowa in 1605. After the Kingdom of Gowa embraced Islam, the existence of an Ulu agreement between the Bugis-Makassar kings caused the Kingdom of Gowa to try spreading the religion of Islam peacefully but was rejected because of the suspicion of political motives to control other kingdoms. In response to this matter, a Telumpoccoe alliance was established by three kingdoms namely Bone, Soppeng, and Wajo to stem the invasion effort as well as the process of Islamization carried out by the Kingdom of Gowa. However, such great power possessed by the Kingdom of Gowa caused the failure of this alliance to maintain its existence. In the end, each kingdom that was incorporated into the alliance embraced Islam, namely Soppeng in 1609, Wajo in 1610, and Bone in 1611.Penelitian ini dilakukan dengan dasar masih kurangnya penelitian yang mengungkapkan secara spesifik terkait proses islamisasi aliansi Tellumpoccoe berdasarkan fakta-fakta historis yang tersedia di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses islamisasi tiga daerah besar yang meliputi Bone, Soppeng dan Wajo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik/pengumpulan sumber sejarah, kritik eksternal maupun internal terhadap sumber sejarah, interpretasi dan historiografi/atau penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan diterima dengan terbuka oleh dua kerajaan besar yaitu Luwu pada tahun 1602 dan Gowa pada tahun 1605. Setelah kerajaan Gowa memeluk Islam, adanya perjanjian Ulu Ada antara raja-raja Bugis-Makassar menyebabkan Kerajaan Gowa mencoba menyiarkan agama Islam secara damai, akan tetapi ditolak karena adanya kecurigaan adanya motif politik untuk menguasai kerajaan lainnya. Sebagai respons terhadap hal tersebut, maka didirikanlah persekutuan Telumpoccoe oleh tiga kerajaan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo guna membendung usaha invasi sekaligus proses islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa. Akan tetapi, kekuatan begitu besar yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa menyebabkan kegagalan aliansi ini untuk mempertahankan eksistensinya. Pada akhirnya masing-masing kerajaan yang tergabung dalam aliansi tersebut memeluk Islam, yaitu Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan Bone pada tahun 1611.
Islamization Process of The Tellumpoccoe Alliance: The History of Bone, Soppeng and Wajo Fadli Fadli; Aman Aman; Irvan Tasnur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20612

Abstract

 This research was conducted on the basis of the lack of research that specifically reveals the process of Islamization of the Tellumpoccoe alliance based on historical facts available in the field. This study aims to reveal the process of Islamization of three major regions which include Bone, Soppeng, and Wajo. This study used a historical research method consisting of heuristics/collection of historical sources, external and internal criticism of historical sources, interpretation, and historiography/or historical writing. The results demonstrate that the beginning of the arrival of Islam in South Sulawesi was received openly by two major kingdoms namely Luwu in 1602 and Gowa in 1605. After the Kingdom of Gowa embraced Islam, the existence of an Ulu agreement between the Bugis-Makassar kings caused the Kingdom of Gowa to try spreading the religion of Islam peacefully but was rejected because of the suspicion of political motives to control other kingdoms. In response to this matter, a Telumpoccoe alliance was established by three kingdoms namely Bone, Soppeng, and Wajo to stem the invasion effort as well as the process of Islamization carried out by the Kingdom of Gowa. However, such great power possessed by the Kingdom of Gowa caused the failure of this alliance to maintain its existence. In the end, each kingdom that was incorporated into the alliance embraced Islam, namely Soppeng in 1609, Wajo in 1610, and Bone in 1611.Penelitian ini dilakukan dengan dasar masih kurangnya penelitian yang mengungkapkan secara spesifik terkait proses islamisasi aliansi Tellumpoccoe berdasarkan fakta-fakta historis yang tersedia di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses islamisasi tiga daerah besar yang meliputi Bone, Soppeng dan Wajo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik/pengumpulan sumber sejarah, kritik eksternal maupun internal terhadap sumber sejarah, interpretasi dan historiografi/atau penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan diterima dengan terbuka oleh dua kerajaan besar yaitu Luwu pada tahun 1602 dan Gowa pada tahun 1605. Setelah kerajaan Gowa memeluk Islam, adanya perjanjian Ulu Ada antara raja-raja Bugis-Makassar menyebabkan Kerajaan Gowa mencoba menyiarkan agama Islam secara damai, akan tetapi ditolak karena adanya kecurigaan adanya motif politik untuk menguasai kerajaan lainnya. Sebagai respons terhadap hal tersebut, maka didirikanlah persekutuan Telumpoccoe oleh tiga kerajaan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo guna membendung usaha invasi sekaligus proses islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa. Akan tetapi, kekuatan begitu besar yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa menyebabkan kegagalan aliansi ini untuk mempertahankan eksistensinya. Pada akhirnya masing-masing kerajaan yang tergabung dalam aliansi tersebut memeluk Islam, yaitu Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan Bone pada tahun 1611.