cover
Contact Name
Tanzil
Contact Email
tanzil.atjeh@gmail.com
Phone
+6285371610085
Journal Mail Official
lsamaaceh@gmail.com
Editorial Address
LSAMA Jl. T. Nyak Arief No. 101, Lamnyong, Banda Aceh, 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora
ISSN : 23382341     EISSN : 25979175     DOI : https://doi.org/10.47574/kalam.v9i1.101
Jurnal KALAM is published by Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA) in Banda Aceh. Its focus is to publish research articles in Islamic studies and society twice a year. Its scope consists of (1) Islamic theology; (2) Islamic law; (3) Islamic education; (4) Islamic mysticism and philosophy; (5) Islamic economics and politics; (6) Study of tafsir (Quran exegesis) and hadith; and (7) Islamic art and history.
Articles 79 Documents
PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN AZMAN ISMAIL Amiruddin, Amiruddin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 1 (2018): Jurnal Kalam (Januari-Juni 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pemikiran filsafat Pendidikan Prof. Dr. Azman Ismail, MA. Dalam menganalis pemikiran filsafat pendidikannya, penulis menggunakan model-model aliran filsafat pendidikan, baik dari para tokoh ataupun aliran filsafat pendidikan secara konseptual berdasarkan analisis deskriptif-kualitatif. Penulis menggunakan buku Al-Qur’an, Bahasa dan Pembinaan Masyarakat, 2006, sebagai rujukan utama atau sumber primer, di samping buku atau tulisan Azman Ismail yang lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Azman Ismail dalam merumuskan tujuan pendidikan cenderung mengarah kepada filsafat pendidikan Aristotelian. Manusia adalah makhluk yang paling mulia di antara semua makhluk di atas permukaan bumi ini. Kemuliaan ini menurut Azman adalah anugerah Allah yang perlu dijaga dan ditumbuhkembangkan melalui pendidikan, untuk mencapai kebahagian hidup. Azman tidak sepakat dengan pandangan yang mewajibkan satu bidang ilmu untuk dipelajari dan menomorduakan bidang ilmu yang lain. Ilmu pengetahuan adalah milik Allah swt yang tidak boleh didikotomikan untuk dipelajari. Pemikiran filsafat pendidikan Azman condong kepada aliran filsafat progressivisme. Azman menghendaki suatu pendidikan mesti dikonstruksi sesuai dengan keadaan zaman yang senantiasa berubah. Begitu pula institusi pendidikan harus ikut direkonstruksi untuk menjawab tantangan zaman tersebut.
TEUNGKU ABDURRAHMAN MEUNASAH MEUCAP: STUDY BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN BIDANG PENDIDIKAN Ismail, Arham
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembaharuan pendidikan Islam, merupakan salah satu dinamika yang mewarnai pendidikan Islam di Aceh. Gerakan ini digagas oleh ulama-ulama reformis dengan segudang ide dan pemikiran. Melalui sentuhan tangan mereka, madrasah yang merupakan lembaga pendidikan modern berdiri tegak di tengah pusaran perjuangan melawan penjajah. Artikel ini bertujuan mengangkat sejarah perjuangan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang merupakan salah satu tokoh pembaharuan pendidikan Islam di Aceh. Melalui tulisan ini penulis menggambarkan secara singkat biografi dan pemikiran Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap tentang pendidikan Islam; termasuk perannya dalam mendirikan Madrasah Al-Muslim, Persatuan Ulama Seluruh Aceh dan Normal Islam Institut.
KONSEP PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH DALAM MEWUJUDKAN KOTA MADANI Zabir, Muzakkir
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Civil society in principle has the systemic, democratic society, ethics and morality, transparency, tolerance, potential, aspirational, motivated, participated, consistent comparison, able to coordinate, simple, synchronized, integral, recognize, emancipation and rights, but the most dominant is a democratic society. Civil society is a social society that will protect citizens from the excessive manifestation of state power. Civil society even becomes the main pillar of democratic political life. Because civil society not only protects citizens in dealing with the state, but also to formulate and articulate people's aspirations.
KONTRIBUSI DAYAH DALAM PENGEMBANGAN INTELEKTUAL DI ACEH Hasbi Amiruddin, Muhammad
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

If we face the world in this modern era there is no other way for human beings except to see the purpose of education that many people want to achieve in order to be a faithful and devout, then a dayah is an institution that does not do it. But following the changing times with technological developments, dayah requires the addition of its curriculum. It’s time to offer the skills sciences, as well as the formulation of national education goals. Moreover, with the influence of globalization, whoever the scientists must have the breadth of knowledge so as not to get lost with the traps of people who do not want Islam is seen as a good religion
RELASI AGAMA DAN NEGARA: ANALISIS POLITIK NURCHOLISH MADJID Lismijar, Lismijar
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic political movements have always given rise to tensions in many ways, especially in state and religious discourses. Some have argued that Islam is a unity that has an inseparable socio-political type. This opinion is reinforced by the real doctrine of Islam is religion and State. Meanwhile, Islam is more inclined to interpret the nature of Islamic universality in a more substantialistic direction. Such a tendency puts more emphasis on the content than just political containers whose political practice is not aimed at establishing a political structure characterized by the formal formation of the Islamic state, but rather a political ethic and morality inspired by the substance of Islamic teachings. Nurcholish Madjid as a Muslim intellectual who colored Islamic reform in Indonesia, tried to offer a new way for the achievement of the nation's collective ideals. Nurcholish Madjid's deep concern over the objective conditions of the nation encouraged him to seriously reflect the national problem by engaging in Islamic political expression in the form of Islamic political thought. Islamic political thought Nurcholish Madjid gives more democratic values and pluralism as the goal of creating more Islamic politics to the content of the form. Therefore, the purpose of this study is to know the concept of religion, the existence of national state and religious and state relations in the perspective of Nurcholish Madjid. In conducting this study, the authors used a qualitative descriptive approach by collecting main data through library research (library research). Technique of collecting data obtained through primary data and secondary data. This research uses descriptive analysis methodology. The results of this study indicate that there are several discourses presented by Nurcholish Madjid on religious and state relations, among them the Islamic discourse with the national state, Islam and Pancasila, Islam and democracy and Islam and pluralism. Prior to addressing the discourse of the relationship between the discourse of Islamic relations with the national state, he first threw the jargon of "Islam Yes, No Muslim Party!" Which is a model approach to formulate religious and state links, the jargon is intended for Muslims to focus attention on Islam instead to Islamic institutions or institutions. In other words Nurcholish Madjid always tried to return Muslims to an individual Islamic vision rather than a party Islam.
POTRET ISLAM ACEH: DISKURSUS KEULAMAAN DAN TRADISI PENULISAN KITAB MELAYU Basri, Hasan
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan masyarakat Aceh erat kaitannya dengan lembaga-lembaga sosial dan keagamaan, antara lain: meunasah, masjid, dayah, madrasah, dan kantor urusan agama. Hubungan antara masyarakat dengan lembaga-lembaga tersebut adalah karena sifat religius dan fanatik dalam beragama. Meskipun kadang-kadang pengamalan ajaran agama jarang dilaksanakan secara utuh dan disiplin oleh sebagian masyarakat, karena lemah keimanan dan ketaqwaan, rasa simpati terhadap agama sangat menonjol. Semua lembaga sosial dan keagamaan tersebut merupakan pusat perkumpulan anggota masyarakat meskipun secara umum peranan dan fungsinya berbeda antara satu dengan yang lain; namun tujuan akhir adalah sama, yakni sebagai wadah pemersatu. Para ulama Aceh dalam rentang waktu kurang lebih tujuh abad tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya Melayu dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk ilmu tauhid, fiqh, tasawuf, tafsir, ilmu hadits, ilmu falak, sastra dan kisah-kisah masa lalu. Produktivitas kitab-kitab Melayu menemukan momentumnya pada abad ke-16 sampai abad ke-19. Pada abad-abad ini, koneksi ulama-ulama Aceh dengan dunia luar begitu aktif dan intensif sehingga terjadi transmisi ilmu di kalangan para ulama antar benua, terutama kawasan India, Persia, Arab dan Nusantara.
FIKIH PRO PLURALISME SEBAGAI SOLUSI MEMBANGUN SINERGI AGAMA-AGAMA Kirom, Askhabul
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There is a gap between classical Jurisprudence and the reality of humanity. The classical Jurisprudence is considered incapable of answering the challenges of the times that have changed drastically along with the spread of Islam to various parts of the world. A pluralistic society entity consisting of nations, religions and cultures has made classical Jurisprudence adaptable to contemporary laws among believers. The problem of jihad for example, can no longer be understood only as a war by taking up arms. The jihad terminology has been expanded in a contextual definition in which Muslims live. Similarly, minority-majority issues, ethnic and human rights issues, and issues of pluralism and multiculturalism practices. This article takes the form of a discourse on the new building of fiqh that is pro-pluralism in religious social relations among the adherents of religion. Data analysis in this research is done in descriptive-analysis, that is exposing data about pro fiery of pluralism based on al-Qur'an and al-Hadith according to the opinion of Muslim scholars.
KAWIN BEDA AGAMA: PERSPEKTIF PLURALISME-MULTIKULTURALISME Futaqi, Syauqi
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There are differences of opinion among scholars about the law of different religious marriage. There are opinions of scholars who forbid the absolute marriage of different religions. Instead there are groups of scholars allow different marriage. The last opinion takes a limited stance of allowing a different religious marriage only for Muslim men with the ahl al-Kitab woman. The difference of opinion of scholars about the different religious marriage actually revolves in the terminology ahl al-kitab, kafir and musyrik. Each group has an interpretive argument about both terms. It is therefore necessary to examine the two terms separately before determining their legal status.
TGK. SYIAH KUALA PENGEMBANG TAREKAT SYATTARIAH DI NUSANTARA M. Yunus, Firdaus
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 2 (2016): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2016)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tarekat syattariah adalah tarekat sufi yang muncul pertama sekali di India pada abad ke 15 M. Tarekat ini kemudian dikembangkan oleh Tgk. Syiah Kuala di Aceh dan Nusantara setelah beliau pulang dari meudagang (menuntut ilmu) lebih kurang 20 tahun di beberapa Negara di Timur Tengah. Tujuan dari tarekat ini adalah membangkitkan kesadaran hati lewat berzikir menuju Allah, tetapi tidak harus fana. Bagi penganut tarekat ini harus yakin bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak makhluk, tetapi jalan utama yang harus ditempuh sama seperti jalan yang ditempuh oleh kaum akhyar, abrar, dan Syattar. Dibandingkan dengan tarekat lain, syattariah termasuk tarekat yang memasukan nilai-nilai fiqih ke dalam tarekat. Di Aceh tarekat syattariah menjadi jalan tengah bagi Tgk. Syiah Kuala dalam mendamaikan dua paham sebelumnya, yaitu paham wujudiyah (wahdatul wujud) sebagai ajaran Syeikh Hamzah Fansuri, dan Syamsuddin As-Sumatrani. Serta paham Syuhudiah (wahdatussyuhud) ajaran yang dibawakan oleh Syeikh Nuruddin Ar-Raniry.
Kesinambungan dan Kesamaan Agama-agama Menuju Multikulturalisme Beragama Mashuri, Saepudin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2017)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami kesinambungan dan kesamaaan agama-agama sebagai upaya membangun sikap beragama inklusif menjadi tema penting dalam kajian multikulturalisme beragama. Kesinambungan agama-agama Semawi; Yahudi, Kristen dan Islam dapat dilihat dari dialektikanya dengan konteks peradaban setiap kaum secara berkelanjutan sebagai respon terhadap realitas sosio-kultural yang terjadi pada masyarakat dimana agama itu diturunkan. Semua agama Samawi pada awalnya mengakui ajaran yang sama yaitu; penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, kitab suci yang bersumber dari pemberi wahyu yang sama, mengajarkan ajaran moral amal ma’ruf bagi kebaikan manusia, dan memiliki ritual ibadah sebagai media penyembahan pada Tuhan Yang Esa. Semua ajaran wahyu tersebut kemudian didistorsi oleh para menganut setelah selesainya misi kerasulan setiap periode. Islam mengakui kebenaran ajaran kitab suci agama Yahudi dan Kristen yang termaktub dalam al-Kitab yang dapat dijadikan pijakan membangun kemanusiaan universal. Titik temu agama-agama Semit membuka ruang bagi dialog lintas agama bagi kedamaian bersama dengan menganut prinsip-prinsip kebenaran universal dan tolaransi agama yang meliputi; kebebasan menjalankan keyakinan beragama, saling menghormati tempat ibadah agama yang berbeda, tidak anarkis dalam menyelesaikan konflik antar agama, melindungi yang minoritas seperti yang dibuktikan oleh berbagai fakta historis multikulturalisme Islam sehingga tercipta harmoni beragama di tengah masyarakat Indonesia yang pluralistik.