cover
Contact Name
Sahri Nova Yoga
Contact Email
sahri.n.y@fkip.uisu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sahri.n.y@fkip.uisu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : 25500848     EISSN : 26142988     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal yang fokus menerbitkan Penelitian Bahasa; Penelitian Sastra; Penelitian Tindakan Kelas Bahasa; Kajian Pustaka; Pengembangan Bahan Ajar Bahasa; Media Ajar Bahasa; dan Penilaian Pembelajaran Bahasa.
Arjuna Subject : -
Articles 426 Documents
Analisis Nilai Edukatif Dalam Novel Guruku Sahabatku Karya Ryan Angga Pratama 121, rahmadani
Jurnal Bahastra Vol 3, No 1 (2018): Edisi September 2018
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan karakter pendidikan di Negara kita merupakan salah satu permasalahan yang banyak terjadi, terutama dalam lingkungan sekolah dan  masyarakat. Pembentukkan karakter sangatlah penting dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas karakter yang dicerminkan dalam prilaku, sikap serta moral seseorang. Novel merupakan salah satu media baca yang banyak diminati oleh khalayak ramai. Novel juga dapat dijadikan sebagai media penanaman serta peningkatan kualitas karakter seseorang. Novel Guruku Sahabatku Karya Ryan Angga Pratama merupakan salah satu contoh novel yang memiliki banyak nilai-nilai pendidikan didalamnya. Yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengembangkan serta memperkenalkan siswa mengenai contoh nilai pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta mengetahui apa saja nilai pendidikan yang terdapat dalam novel dan memberikan sumbangan ilmu yang dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan desain penelitian analisis isi dalam menganalisi novel Guruku Sahabatku karya Ryan Angga Pratama. Hasil analisis yang didapat ialah novel ini merupakan novel motivasi, yang berisikan tentang perjalanan dan pengalaman hidup yang dialami oleh penulis serta memberikan gambaran kehidupan seorang guru. Nilai edukatif yang terdapat dalam novel ialah: : (1)Religius, (2)Kerja Keras, (3)Gemar Membaca (4)Peduli Sosial, (5)Mandiri, (6)kreatif, (7)Semangat Kebangsaan, (8)Menghargai Prestasi, (9)Rasa Ingin Tau, (10) Tanggung Jawab.
NILAI MORAL DAN KERJA KERAS DALAM DONGENG DANAU TOBA PADA BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS VII TERBITAN PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Rosmilan Pulungan
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1143

Abstract

Abstrak. Dongeng termasuk dalam cerita rakyat berbentuk lisan. Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita serta tidak terikat waktu dan tempat. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral bahkan sindiran.  Setiap mata pelajaran membutuhkan sejumlah buku teks, apalagi bila mata pelajaran mempunyai sub-sub bagian yang dapat dianggap sebagai bagian yang berdiri sendiri. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, ada sub mata pelajaran kesusastraan, kebahasaan, keterampilan dan lain-lain. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana nilai moral yang terdapat dalam dongeng Danau Toba? dan Bagaimana nilai kerja keras dalam dongeng Danau Toba? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.  Penelitian kualitatif menurut Semi (1984:23) yaitu ”metode yang tidak menggunakan angka-angka, tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris”. Menurut Sugiyono (2008) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti adalah instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Data penelitian ini adalah nilai pendidikan religius yang terdapat dalam dongeng  dalam buku teks Bahasa Indonesia kelas VII terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, karya Nila Kuriniati Sapari,  terbitan tahun 2008.Kata kunci : dongeng, buku teks, legenda, danau tobaAbstract. Tales included in oral folklore. Fairy tales are folktales that are considered not really happened by those who have stories and are not bound by time and place. Fairy tales are told mainly for entertainment, although there are many fairy tales that depict the truth, containing moral teachings and even satire. Each subject requires a number of textbooks, especially if subjects have sub-sections which can be considered as stand-alone parts. In Indonesian language subjects for example, there are sub-subjects of literature, language, skills and others. Based on the background described earlier, the formulation of the problem in this study is as follows: How are the moral values contained in the tales of Lake Toba? and What is the value of hard work in the tales of Lake Toba? The method used in this research is qualitative method. Qualitative research according to Semi (1984: 23) is "a method that does not use numbers, but prioritizes the depth of appreciation of the interactions between concepts that are being studied empirically". According to Sugiyono (2008) qualitative research methods are research methods that are used to examine the conditions of natural objects, (as opposed to experiments) where researchers are key instruments. The technique of data collection is triangulated (combined), data analysis is inductive and the results of qualitative research emphasize the meaning rather than generalization. The data of this study is the value of religious education contained in the fairy tale in the class VII Indonesian textbook published by the Ministry of National Education Book Center, by Nila Kuriniati Sapari, published in 2008.Keywords: fairy tales, textbooks, legends, lake toba
PENGARUH INTELEGENSI PADA MOTIVASI BELAJAR AKADEMIK SISWA MAS YPI BATANG KUIS Tetty Ariyani Nasution
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1150

Abstract

Abstrak. Intelegensi sebagai unsur kognitif dianggap memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang-kadang timbul anggapan yang menempatkan intelegensi dalam peranan yang melebihi proporsi yang sebenarnya. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa hasil tes intelegensi yang tinggi merupakan jaminan kesuksesan dalam belajar sehingga bila terjadi kasus kegagalan belajar pada anak yang memiliki IQ tinggi akan menimbulkan reaksi berlebihan berupa kehilangan kepercayaan pada institusi yang menggagalkan anak tersebut atau kehilangan kepercayaan pada pihak yang telah memberi diagnosa IQ-nya. Sejalan dengan itu, tidak kurang berbahayanya adalah anggapan bahwa hasil tes IQ yang rendah merupakan vonis akhir bahwa individu yang bersangkutan tidak mungkin dapat mencapai prestasi yang baik. Menurut Azwar (2004) hal ini tidak saja merendahkan self-esteem (harga diri) seseorang akan tetapi dapat menghancurkan pula motivasinya untuk belajar yang justru menjadi awal dari segala kegagalan yang tidak seharusnya terjadi.Kata Kunci : Neuropsikolinguistik, IQAbstract. Intelligence as a cognitive element is considered to play an important role. In fact sometimes the assumption arises that puts intelligence in a role that exceeds the actual proportion. Some people even consider that the results of high intelligence tests are a guarantee of success in learning so that if there is a case of learning failure in children who have a high IQ will cause excessive reactions in the form of losing trust in the institution that foils the child or loses trust in those who have diagnosed IQ -his. In line with that, no less dangerous is the assumption that the results of a low IQ test are the final verdict that the individual concerned is not likely to achieve good performance. According to Azwar (2004) this not only undermines one's self-esteem (self esteem) but can also destroy his motivation for learning which is precisely the beginning of all failures that should not have happened.Keywords: Neuropsycholinguistics, IQ
ANALISIS SARANA RETORIKA DALAM STAND UP COMEDY RADITYA DIKA Intan Novita
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.52 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1151

Abstract

Abstrak. Penelitian yang berjudul “Analisis Sarana Retorika dalam Stand Up Comedy Raditya Dika”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sarana retorika yang berfokus pada penyiasatan struktur yang terdapat pada stand up comedy Raditya Dika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif . Data penelitian ini adalah data kata atau ungkapan dalam stand up comedy Raditya Dika. Data yang terkumpul diperoleh melalui teknik dokumentasi.Semua data yang diperoleh ditulis untuk memudahkan penulis menganalisis data.Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan kata atau ungkapan yang didasari pada teori bentuk-bentuk sarana retorika berupa penyiasatan struktur.Data yang dianalisis diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan bentuk atau jenis penyiasatan struktur (sarana retorika). Hasil penelitian ini, terdapat 8 bentuk penyiasatan struktur dalam stand up comedy Raditya Dika yaitu, (1) repetisi, (2) anafora, (3) polisidenton, (4) asidenton, (5) antitesis, (6) klimaks, (7) antiklimaks, (8) pertanyaan retoris, akan tetapi, (1) paralisme dan (2) aliterasi tidak terdapat dalam penelitian ini.Kata Kunci : retorika, sarana retorika, penyiasatan struktur Abstract. This study, entitled “ TheAnalysis of the Rhetoric Means in Raditya Dika’s Stand-Up Comedy”. This study was aimed to describe the means of rhetoric that focused on work around the structure found on stand-up comedy Raditya Dika. The method used in this study was descriptive qualitative. This research data was data word or phrase in Raditya Dika’s  stand-up comedy. . The research data was obtained from documentation technique. All the data obtained was written to facilitate the author in analyzing the data. The data was analyzed and classified into several groups according to the form or the type of rhetoric means. In the result of this study, there are 8 forms of rhetoric means in raditya dika's stand-up comedy, namely, (1) the repetition, (2) anaphora, (3) polisidenton, (4) asidenton, (5) antithesis, (6) climax, (7) anticlimax, (8) the rhetorical question, however, (1) paralisme and (2) the alliteration is not included in this studyKey Words : Rhetoric, the means of rhetoric, work around the structure
ANALISIS CERPEN MARYAM KARYA AFRION DENGAN PENDEKATAN EKSPRESIF Sisi Rosida
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.447 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1152

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ekspresi pengarang dan proses kreatif pengarang dalam menciptakan cerpen Maryam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yakni dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data dengan membaca secara berulang-ulang, mengumpulkan data dari isi cerita yang behubungan dengan gambaran ekspresi pengarang, melakukan penelaahan data dan menggarisbawahi isi cerita, dialog, dan perilaku tokoh berkenaan dengan gambaran ekspresi pengarang, mendeskripsikan ekspresi pengarang pada tokoh, mengumpulkan data proses kreatif (melakukan wawancara dengan pengarang), dan  menarik kesimpulan dari hasil penelitian. Hasil penelitian ini adanya gambaran ekspresi pengarang dalam bentuk takut, marah, sedih, gelisah, bingung, jengkel, tak peduli, sabar, dan cinta/kasih sayang. Perasaan ini dialami sang tokoh saat ditinggal suami. Temuan  proses kreatif dalam cerpen ini yakni proses kelahiran cerpen Maryam terinspirasi dari pengalaman penulis melihat sosok  perempuan bekerja sendirian di tengah perkebunan karet PTP III di Desa Gunung Malintang (Koto Baru). Kemudian pengarang menulis cerpen Maryam dengan menyesuaikan wilayah kehidupan dan adat budaya masyarakat Minang.Kata Kunci: analisis, cerpen, ekspresif             Abstract. This study aims to describe the author's expression and the creative process of the author in creating Maryam's short stories. The method used in this research is descriptive method, namely documentation and interviews. The technique of analyzing data by repetitively reading, collecting data from the contents of the story that relates to the author's expressions, analyzing data and highlighting the contents of the story, dialogue, and character behavior with regard to the author's expression, describing the author's expression to the characters, collecting process data creative (conducting interviews with authors), and drawing conclusions from the results of research. The results of this study are descriptions of author expressions in the form of fear, anger, sadness, anxiety, confusion, annoyance, indifference, patience, and love / affection. This feeling is experienced by the character when the husband left. The findings of the creative process in this short story, namely the birth process of Maryam's short story, were inspired by the author's experience of seeing women working alone in the middle of PTP III rubber plantations in the Gunung Malintang Village (New Koto). Then the author wrote Maryam's short story by adjusting the area of life and cultural customs of the Minang community.Keywords: analysis, short story, expressive
ANALISIS JENIS-JENIS METAFORA DALAM SURAT KABAR: KAJIAN SEMANTIK Sukma Adelina Ray
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.558 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1153

Abstract

Abstrak. Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari tentang makna. Kajian semantik kemudian berkembang dengan melibatkan unsur makna dan pengalaman manusia. Pemaknaan memegang peranan penting bagi kajian semantik karena pemaknaan merupakan proses akhir suatu komunikasi (aktivitas berbahasa) untuk mendapatkan kejelasan dan kebenaran dalam menangkap informasi makna akan sesuatu hal agar kelangsungan komunikasi tetap terjaga tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Metafora adalah suatu strategi untuk menyampaikan pesan menggunakan pemakaian kata atau ungkapan lain secara implisit dengan membandingkan suatu hal yang abstrak dengan hal konkret. Struktur metafora utama yang utama ialah (1) topik yang dibicarakan; (2) citra atau topic kedua; (3) titik kemiripan atau kesamaan. Hubungan antara topik atau citra dapat bersifat objektif dan emotif. Berdasarkan pilihan citra yang dipakai oleh pemakai bahasa dan para penulis di berbagai bahasa, pilihan citra dapat dibedakan atas empat kelompok, yakni (1) metafora bercitra antropomorfik, (2) metafora bercitra hewan, (3) metafora bercitra abstrak ke konkret, (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra. Kata Kunci: Semantik, Metafora, Surat KabarAbstract. Semantics is a branch of linguistics that learns about meaning. Semantic studies then develop by involving elements of human meaning and experience. Meaning plays an important role for semantic studies because meaning is the final process of communication (language activities) to get clarity and truth in capturing meaningful information about something so that the continuity of communication is maintained without causing misunderstandings. Metaphor is a strategy for conveying messages using implicit words or other expressions by comparing an abstract thing with concrete things. The main main metaphor structure is (1) the topic being discussed; (2) second image or topic; (3) point of similarity or similarity. The relationship between a topic or image can be objective and emotive. Based on the choice of images used by language users and writers in various languages, the choice of images can be divided into four groups, namely (1) anthropomorphic imagery metaphors, (2) animal-image metaphors, (3) abstract to concrete metaphors, (4) metaphor with synesthesia or exchange of sensory responses / perceptions.Keywords: Semantic, Metaphor, Newspaper
PEMEROLEHAN SINTAKSIS PADA ANAK AUTISME Risma Martalena Tarigan
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.392 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1154

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemerolehan bahasa  dalam bidang sintaksis pada anak autis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh berdasarkan wawancara terhadap orang tua dan guru anak autis dan pengamatan terhadap objek penelitian (anak autis). Data yang diperlukan diperoleh dengan teknik simak. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa pemerolehan sintaksis pada anak autis mengalami keterlambatan. Pemerolehan bahasa pada anak penderita autis berbeda dengan anak normal. Perbedaan tersebut sangat terlihat dari perilaku dan pola komunikasi yang dihasilkan oleh anak penderita autis. Penderita autis cenderung menghindari komunikasi. Kecuali dengan orang-orang yang telah lama dikenalnya seperti orang tuanya. Anak penyandang autis memperoleh sintaksis dari struktur luar yaitu ucapan yang didengarnya. Lalu ucapan tersebut diintegrasikan dari struktur dalam anak dan membentuk pola sintaksis. Anak memahami makna dari ucapan dan membentuk sintaksis dalam berkomunikasi. Ketika anak autis memperoleh sintaksis, maka ia terlebih dulu telah memaknai sintaksis tersebut. Jika anak autis gagal memaknai sintaksis tersebut, maka ia cenderung membeo. Kegagalan pemahaman semantik itu yang menyebabkan keterlambatan dalam pemerolehan sintaksis anak autis.kata kunci : pemerolehan sintaksis, anak autisme Abstract.The purpose of this study was to determine language acquisition in the field of syntax in autistic children. This research is a descriptive study with a qualitative approach. Sources of data obtained based on interviews with parents and teachers of autistic children and observations of the object of research (autistic children). The required data is obtained by referring to the technique. Based on the results of the study, results were obtained that the acquisition of syntax in autistic children was delayed. Language acquisition in autistic children is different from normal children. The difference is very visible from the behavior and communication patterns produced by autistic children. Autistic people tend to avoid communication. Except with people he has long known like his parents. Children with autism get the syntax of the outer structure, the speech they hear. Then the speech is integrated from the structure in the child and forms a syntactic pattern. Children understand the meaning of speech and form syntax in communication. When an autistic child gets syntax, he has first interpreted the syntax. If an autistic child fails to interpret the syntax, then he tends to parrot. The failure of the semantic understanding causes delays in the acquisition of syntax of autistic children.keywords : syntactic acquisition, autistic children
STRATEGI DAN IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK Mepri Yanti Pandiangan
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.859 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1155

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) strategi pelaksanaan pendidikan karakter disekolah; dan (2) implementasi pelaksanaan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan denan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu dengan pengecekan terhadap informasi hasil wawancara dengan dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pelaksanaan pendidikan karakter peserta didik dapat dilakukan melalui: pengintegrasian nilai dan etika pada mata pelajaran, internalisasi nilai positif yang di tanamkan oleh semua warga sekolah, pembiasaan dan latihan, pemberian contoh dan teladan, penciptaan suasana berkarakter di sekolah, serta pembudayaan. Implementasi pendidikan karakter peserta didik dilakukan melalui keterpaduan antara pembentukan karakter dengan pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler.Kata Kunci: Strategi, Implementasi, Pendidikan KarakterAbstract. This study aims to understand: (1) strategies for implementing character education in schools; and (2) the implementation of student character education. This research is a qualitative descriptive study. Data collection is done with observation, interview, and documentation techniques. Checking the validity of the data is done by triangulation techniques, namely by checking the information on the results of interviews with rules and observations. The results of the study show that the strategies for implementing student training can be done through: integrating values and ethics on subjects, internalizing positive values instilled by all school members, habituating and training, giving examples and examples, related to character in school, and culture. The implementation of student character education is carried out through integration between character building with learning, school management, and extracurricular activities.Keywords: Strategy, Implementation, Character Education
EFEKTIVITAS MEDIA AUDIO VISUAL “MERAJUT ASA” DI TRANS7 TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS CERITA PENDEK OLEH SISWA KELAS VII MTs NEGERI 3 MEDAN Kursitasari S.Pd.
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1156

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media audio visual “Merajut asa” di Trans 7 dalam pembelajaran menulis cerita pendek oleh siswa kelas VII MTs Negeri 3 Medan . Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri 3 Medan, jumlah populasi dalam penelitian ini 239 siswa, dan yang menjadi sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII-2 terdapat 40 siswa dan VII-4 terdapat 39 siswa. jadi seluruh sampel berjumlah 79 siswa. Kelas VII-2 sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang menerima pembelajaran menggunakan media pembelajaran audio visual “Merajut Asa” sedangkan kelas VII-4 sebagai kelas kontrol tanpa menggunakan media pembelajaran audio visual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain Posstest-Only Control Design. Dengan desain tersebut, akan dibandingkan kemampuan menulis cerpen siswa yang dibimbing dengan menggunakan media pembelajaran audio visual “Merajut Asa” dengan kemampuan menulis cerpen tanpa menggunakan media audio visual. Dari hasil analisis data diperoleh rata-rata kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan media pembelajaran audio visual “Merajut Asa” yaitu 79,53 dengan standar deviasi 7,14. Sedangkan kemampuan menulis cerpen tanpa menggunakan media pembelajaran audio visual yaitu 63,36 dengan standar deviasi 9,40. Dari hasil analisis statistika diperoleh harga sebesar 6,6. Setelah dibandingkan dengan  dengan df = ( ), (40+39) - 2 = 77. Pada tabel t dengan df 77 diperoleh taraf signifikan 5% = 1,664 karena  yang diperoleh lebih besar dari  yaitu , yakni 6,6 1,664 Maka hipotesis nihil (  ditolak dan hipotesis alternatif (  diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran audio visual “Merajut Asa” lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen oleh siswa kelas VII MTs Negeri 3 Medan .Kata kunci: efektivitas, media audio-visual, cerita pendekAbstract. This study aims to determine the effectiveness of the use of audio-visual media “Merajut asa”  in Trans 7 in learning to write short stories by class VII students of State MTs 3 Medan . This research was conducted in Medan State MTs 3, the population in this study was 239 students, and the sample in this study consisted of two classes, namely class VII-2, there were 40 students and VII-4 there were 39 students. so all the samples were 79 students. Class VII-2 as an experimental class is a class that receives learning using audio-visual learning media “Merajut asa” while class VII-4 as a control class without using audio visual learning media. The method used in this study is an experimental method with the design of Posstest-Only Control Design. With the design, it will be compared to the ability to write short stories of students who are guided by using audio visual learning media “Merajut asa” with the ability to write short stories without using audio visual media. From the results of data analysis, the average ability to write short stories is obtained by using “Merajut asa” audio-visual learning media, which is 79.53 with a standard deviation of 7.14. While the ability to write short stories without using audio visual learning media is 63.36 with a standard deviation of 9.40. From the results of statistical analysis, the price is 6.6. After being compared with with df = ( ), (40+39) - 2 = 77. In with df 77 obtained a significant level of 5% = 1,664 because obtained is greater than namely ,, which is 6.6 1.664 Then the null hypothesis ( is rejected and the alternative hypothesis ( is accepted. Thus it can be concluded that “Merajut asa” audio-visual learning media is more effective in improving short story writing skills by class VII students of State 3 of MTs Medan.Keywords: effectiveness, audio-visual media, short stories
NILAI MORAL DALAM LEGENDA LUTUNG KASARUNG YANG SAKTI DAN KISAH TERBAIK NUSANTARA LAINNYAKARYA KAK GUN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH Tanita Liasna
Jurnal Bahastra Vol 1, No 2 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.89 KB) | DOI: 10.30743/bahastra.v1i2.1157

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai moral yang terkandung dalam legenda Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya karya Kak Gun danimplikasi pembahasan legenda Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya karya Kak Gun terhadap pembelajaranbahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif analisis. Hasil yang tergambar dalam penelitian ini adalah (1) Terdapat 50 nilai moral yang terkandung dalam legenda Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah-kisah Terbaik Nusantara Lainnya karya Kak Gun yang terbagi menjadi 7 pola, yaitu kejujuran, nilai-nilai otentik, bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati, dan realistik dan kritis (2) Implikasi legenda Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya karya Kak Gun yakni pembelajaran dalam KD 3.7 yang berbunyi mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat (hikayat) baik lisan maupun tulisan. Media yang digunakan berupa kumpulan legenda yang akan dianalisis.Kata Kunci : nilai moral, legenda Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah                       Terbaik Nusantara Lainnya karya Kak Gun, implikasi,                       pembelajaran bahasa dan sastra IndonesiaAbstrac. This study is aimed to find out the moral values in the legendary Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya by Kak Gun and the implications moral values of the legendary Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya by Kak Gun to learning Indonesian language and literature at school. The method which used in this research is descriptive qualitative method of analysis. The results of this study indicatedare (1) There are 50 moral values in the in the legendary Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya by Kak Gun divided into 7 patterns is honesty, authentic values, responsibility, independence moral, moral bravery, humility, and realistic and critical (2) Implications in the legendary Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya by Kak Gun in the KD 3.7 which reads identifying values and content contained in folklore (saga) both oral and written. The media used is a collection of legends to be analyzed.Keywords: moral values, the legendary Lutung Kasarung yang Sakti dan Kisah Terbaik Nusantara Lainnya by Kak Gun, implications, learning Indonesian language and literature

Page 1 of 43 | Total Record : 426