cover
Contact Name
Annytha Ina Rohi Detha
Contact Email
jurnalkajianveteriner@undana.ac.id
Phone
+628113816881
Journal Mail Official
jurnalkajianveteriner@undana.ac.id
Editorial Address
Faculty of Veterinary Medicine, Adi Sucipto street, Penfui - Kupang, East Nusa Tenggara
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JURNAL KAJIAN VETERINER
ISSN : 23564113     EISSN : 25286021     DOI : https://doi.org/10.35508/jkv
Jurnal Kajian Veteriner is a scientific journals was published since May, 2012. This journal used to be sharing information and communication about the result of research at veterinary scoup. Jurnal Kajian Veteriner publish twice a year at Juni and December.
Articles 169 Documents
PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7 Annytha Ina Rohi Detha
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1581

Abstract

Pemerintah Republik Indonesia berkepentingan untuk menjaga kedaulatan rakyat dengan mengeluarkan kebijakan pengendalian zoonosis yang berpedoman pada rencana pembangunan nasional jangka panjang dan menengah di tingkat nasional dan daerah. Pemerintah melalui Subdit pengendalian zoonosis, Direktorat pengendalian penyakit bersumber binatang, Direktorat Jenderal PP dan PL, Kementerian kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan pengendalian zoonosis di Indonesia.Konsep One Health adalah konsep yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan manusia melalui keseimbangan antara unsur manusia, hewan dan lingkungan. Pada dasarnya kemunculan dan epidemiologi zoonosis adalah kompleks dan dinamis. Kemunculan zoonosis dipengaruhi oleh berbagai parameter yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai: (i) faktor-faktor yang berkaitan dengan manusia (human-related); (ii) berkaitan dengan patogen (pathogen-related); dan (iii) berkaitan dengan iklim/lingkungan (climate/environment-related). Hal ini sesuai dengan segitiga epidemiologi (agen, host dan lingkungan) dimana tiga hal tersebut saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan sebagai pemicu timbulnya suatu penyakit zoonotik. Konsep Eco Health atau Ecosystem Health juga muncul, dengan mengamati bahwa pembangunan berkelanjutan diwujudkan sebagai bentuk konektivitas antara kesehatan manusia, hewan dan lingkungan (ekosistem). Konsep Eco Health ini memperluas konsep One Health ke seluruh ekosistem yang ada termasuk ekosistem hewan liar (wildlife) maupun lahan kering kepulauan. Perubahan iklim (climatic change) juga adalah faktor yang mungkin berpengaruh terhadap kemunculan penyakit-penyakit zoonosis dan merupakan bagian dari konsep One Health.Sebagai salah satu pendekatan dalam menanggulangi permasalahan kesehatan yang menekankan pada adanya interaksi antara kesehatan manusia, hewan dan lingkungan, One health membutuhkan kerja sama dan aksi kolektif lintas profesi dan lintas disiplin (interprofesional dan transprofesional) secara horizontal maupun vertikal. Oleh karena itulah One health bertujuan untuk memajukan penelitian, praktik dan integrasi pengetahuan pada bidang ekologi dan kesehatan. Ruang lingkup One health merupakan penelitian terpadu dari berbagai bidang keilmuan (ekologi, sosial dan ilmu kesehatan, kedokteran hewan dan humaniora) yang memadukan konsep dan teori serta mengacu pada beberapa jenis pengetahuan /transdisipliner dan keterlibatan beberapa pihak partisipatorik. Tantangan ekologi dan kesehatan yang timbul dalam kesehatan masyarakat, kesehatan manusia dan hewan konservasi dan pengolahan ekosistem, pembangunan dan perencanaan dan bidanglainnya bertumpuh pada konteks ekologi kesehatan sosial untuk kesehatan yang berkelanjutan.Seperti halnya pengalaman banyak negara berkembang, sampai saat ini penyakit zoonosis masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia dan menjadi dilema bagi sektor kesehatan manusia dan hewan. Kejadian penyakit tersebut tidak saja menganggu kesehatan hewan dan manusia namun juga menyebabkan kerugian besar baik dalam hal sosial-ekonomi dan keamanan nasional. Penyakit-penyakit seperti Avian Influenza, Rabies, Ebola, SARS, Anthrax, Brucellosis, Leptospirosis dan Zika adalah sedikit contoh dari penyakit zoonosis yang muncul sebagai Emerging maupun Re-emerging diseases yang dilaporkan dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah endemis penyakit menular dengan kasus kejadian penyakit meningkat setiap tahunnya. Salah satunya adalah penderita Demam Berdarah Dengue yang terus bertambah dari 1.169 menjadi 1.337 kasus hingga menimbulkan kematian. NTT juga merupakan salah satu provinsi tertular rabies dengan sejarah penularan sejak tahun 1997 hingga saat ini. Pemerintah saat ini telah mulai menerapkan prinsip One Health untuk meningkatkan upaya pengendalian dan pemberantasan rabies pada hewan rentan (terutama anjing, kucing dan kera), serta menekan jumlah korban gigitan pada manusia. Penerapan prinsip One Health melibatkan stakeholders terkait bekerja sama melalui lintas kementerian baik Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).Universitas Nusa Cendana (Undana), merupakan Universitas Negeri di Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah mitra kerja pemerintah yang berperan dalam menyediakan substansi berbasis bukti ilmiah yang dapat menjadi sumber atau acuan kebijakan pemerintah. Dalam upaya mendukung program pemerintah terkait upaya pengendalian dan pencegahan penyakit zoonosis dengan memadukan keseimbangan diantara manusia hewan dan lingkungan dengan turut mempromosikan hasil penelitian, pemahaman, transdisipliner dan parstisipatorik maka Fakultas Kedokteran Hewan Undana akan mengadakan seminar dengan mengangkat tema ”Konektivitas Kesehatan Hewan dan Manusia di Ekologi Lahan Kering Kepulauan”
NUTRIENT COMPOSITION AND TOTAL TRACT NUTRIENT DIGESTIBILITY COEFFICIENT OF SAGO (PUTAK MEAL) FROM DIFFERENT LOCATION Catootjie L. Nalle; Helda Helda; Fransiska Babo Lelu; Emilius Y. Bai
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1582

Abstract

The aim of the study was to evaluate the proximate composition and nutrient digestibility of sago meal from different origin on growing broilers. The experimental design used was randomized complete design consisting of five treatments and four replications. A total of 100 growing broilers were randomly distributed to 20 cages (5 birds/cage). Corn-soybean basal diets were formulated and then the assay diets were developed by substituting sago meal 20% (w/w) of the basal diets. The results showed that location significantly affected (P < 0.05) the crude protein (CP) and crude fibre (CF) contents of sago, but it did not affect (P > 0.05) the ash and gross energy contents. The digestibility coefficient (DC) of crude lipid (CL), CF and energy of sago were significantly affected (P < 0.05) by location. There were no differences (P > 0.05) on DCCL of sago meal from Lili dan Naibonat and between Naibonat and Pariti. The DCCL of Bipolo sago meal was not different (P > 0.05) from DCCL of Lili sago meal, however, it was significantly different (P < 0.05) from the DCCL of sago from Naibonat and Pariti. The DCCF of Naibonat sago was significantly different (P < 0.05) from the DCCF of sago from Pariti, Bipolo and Lili. The DCE of Naibonat sago was significantly higher (P < 0.05) that that of Pariti and Bipolo sago. In conclusion, 1) the nutrient composition and digestibility of sago meal were affected by the different origin; 2) sago is potential to be used as energy source feed ingredient in poultry diet due to its high energy content.
MORFOLOGI KELENJAR PAROTIS DAN KELENJAR MANDIBULARIS SAPI SUMBA ONGOLE (Bos indicus) Sharoniva J. Koanak; Inggrid Trinidad Maha; Filphin A. Amalo; Yulfia N. Selan
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1583

Abstract

The sumba ongole cattles (Bos indicus) is one of local cattles in Indonesia. Oral cavity of cattle contains parotid and mandibular salivary glands, which have an important role to digesting food. This research aimed to identify the morphology of parotid and mandibular salivary glands of sumba ongole cattles. The sample were obtained from Sumba Timur slaughter house. Six samples were used and fixated in formalin 10%. Then samples were processed with paraffin method for HE stain. The results showed that parotid salivary glands of sumba ongole cattle were pure serous gland compared to mixed type (seromucous) in mandibular salivary glands. Parotid salivary glands acini of sumba ongole cattle consisted pyramid and cuboid cells. Pyramid acini consisted of pyramid cell, rounded nuclei and in center cell, eosinophilic sitoplasm, narrow lumen and had granules. Cuboid acini consisted of cuboid cell with nuclei in center cell, larger lumen, eosinophilic sitoplasm and had granules. Mandibular salivary glands acini of sumba ongole cattle consisted of serous acini, mucous acini and serous demillune. Serous acini consisted of pyramid cell, rounded nuclei in center cell, and eosinophilic sitoplasm. Mucous acini consisted of pyramid cell and had flattened nuclei in base cell. Serous demillune consisted of serous in peripher and mucous cells and seen to be crescent cell. Ducts system consisted of intercalated, striated and interlobular ducts. Interlobular ducts of parotid salivary glands had goblet cell while in mandibular glands not seen goblet cell.
JENIS DAN MORFOLOGI VEKTOR FILARIASIS ASAL KABUPATEN MALAKA Diana A. Wuri; Julianty Almet; Felsiatri Agnesia Jedaut
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1584

Abstract

Filariasis is a chronic infectious disease caused by the filarial worms of the class of nematodes that is transmitted through mosquito bites. In its development, there are more than 23 species of filariasis vector consisting of the genus Anopheles. Culex sp. Aedes sp. Mansonia sp. and Armigeres sp. losses caused by filariasis is caused permanent disability beupa enlargement of legs, arms, genitals and breasts. This study aims to determine the type and origin of the district filariasis vector morphology of Malaka. Methodon This research includes the collection of samples carried out in Malaka Tengah sub-district and District Weliman, followed by maintenance of mosquito larvae into adults as well as identification of the type and morphology of mosquitoes by identifying key WRBU and the Department of Health (2008b), The results showed that the type of filariasis vector origin of Malacca District consists of two species of the Anopheles sp.and Culex sp. Anopheles sp. Have proboscis same morphological features with palpi long, scaly wing venation, slender abdomen, the head of the body there are antennas and the color of chocolate, and Culex sp. have morphological features blackish brown body, blunt abdominal tip, palpi shorter than the proboscis and dark wings with long narrow scales.
ANCAMAN AFRICAN SWINE FEVER MASUK KE WILAYAH INDONESIA MELALUI NUSA TENGGARA TIMUR Aji Winarso; Nur Hartanto; Siti Rofi’ah
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1585

Abstract

Wabah African Swine Fever yang sangat merugikan bagi peternakan babi telah menyebar ke hampir seluruh dunia. Indonesia semakin terancam masuknya penyakit eksotis tersebut setelah diketahui Timor Leste telah terjadi wabah. Provinsi NTT dengan populasi babi terbesar di Indonesia dan berbatasan darat langsung dengan Timor Leste harus waspada. Artikel ini berusaha mengulas potensi ancaman dan tantangan dan upaya pencegahan masuknya ASF ke Indonesia melalui Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jalur ptensial masuknya ASF ke Indonesia dari Timor Leste dapat melalui beberapa aktivitas mobilitas darat, laut dan udara. Pengawasan lalu lintas perbatasan harus diperketat diikuti dengan penerapan biosekuriti dapat mengurangi risiko masuknya ASF dari Timor Leste ke Indonesia, meskipun ada rute penyebaran yang sulit dibatasi dan dikendalikan seperti kontak ternak babi liar di hutan perbatasan. Sosialisasi dan penyadaran warga sangat penting untuk menunjang kesiapsiagaan menghadapi wabah ASF.
STATUS RESISTENSI VEKTOR FILARIASIS ASAL KABUPATEN SIKKA TERHADAP INSEKTISIDA BENDIOCARB Julianty Almet; Diana A. Wuri; Dionesia Atrisa Mogi
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1586

Abstract

Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelen­jar getah bening yang ditularkan oleh berba­gai jenis nyamuk. Kasus filariasis di Kabupaten Sikka tahun 2015-2017 setiap tahunnya meningkat. Pengendalian vektor nyamuk secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang digunakan secara terus-menerus dapat menyebabkan nyamuk menjadi resisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status resistensi vektor filariasis terhadap insektisida bendiocarb 0,1% di Kabupaten Sikka tahun 2018. Penelitian ini diawali dengan survei lokasi dan pengambilan sampel di Kabupaten Sikka. Pemeliharaan nyamuk dan uji resistensi dilakukan di laboratorium FKH Undana. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah nyamuk Aedes sp. dan Anopheles sp., impregnated paper bendiocarb 0,1. Hasil uji resistensi menggunakan metode susceptibility test dengan impregnated paper bendiocarb 0,1% yaitu kematian nyamuk uji terhadap insektisida bendiocarb sebesar 33,3% sehingga tergolong dalam kategori resistensi tinggi.
EFEKTIVITAS BAKTERI ASAM LAKTAT ASAL CAIRAN ISI RUMEN SAPI BALI TERHADAP BERBAGAI VARIABEL MUTU SILASE JAGUNG Frans Umbu Datta; Nadya Daramuli Kale; Annytha Ina Rohi Detha; Imanuel Benu; Nancy D. F. K. Foeh; Nemay A. Ndaong
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1587

Abstract

Silage is the result of fermentation from feed ingredients that have high water content (about 50% -80%) such as corn (Zeamays L), in a vacuum (anaerobic) by lactic acid bacteria. Making silage is one alternative to traditional biotechnology that can be done, especially utilizing the availability of local food sources. The purpose of this study is to determine the ability of lactic acid bacteria isolated from rumen fluid in Bali cattle as a starter in making corn forage silage, and evaluate the quality of corn forage silage provided by lactic acid bacteria isolated from rumen fluid in Bali cattle. The method used in this research is, making probiotics, making samples and testing the quality of silage. The results of this study are, lactic acid bacteria from the rumen contents of Balinese cattle rumen can be used as corn forage silage starter, this is indicated by the silage color in the range of yellowish green to brownish green which indicates that the silage is of good quality, silage aroma in the range of score 2 , 33-2.83 which produces a fresh sour aroma to near fresh-smelling acid, silage pH before being injected with Escherichia coli with an average of 4.51-4.81 which is within the normal range. Corn forage silage given lactic acid bacteria from the rumen contents of Bali cattle showed good quality, this is seen from the final silage results given by pathogenic bacteria Escherichia coli which showed silage color with an average of 1.83-2.58 indicating that the silage color included in the optimal range of brownish green, silage aroma in the range of 1.42-2.75 which gives a fresh sour aroma, silage pH in the range of 4.42-4.58 which indicates silage is in good range, dry silage content ranges from 32.4% -34.4% which is below the normal range, and the average percentage of damage is 0% - 3% which shows the difference in damage presentation between silage given by lactic acid bacteria and control treatment.
DESKRIPSI MORFOLOGIS NEMATODA SALURAN PENCERNAAN KAMBING KACANG (Capra hircus aegagrus) DI KOTA KUPANG-NUSA TENGGARA TIMUR Frans Umbu Datta; Theresia Tinenti; Annytha Ina Rohi Detha; Nancy D. F. K. Foeh; Nemay A. Ndaong
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1588

Abstract

Local Goats (Capra hircus aegagrus) is a type of small ruminants and is a home-grown in Indonesia which is very susceptible to attack by diseases caused by gastrointestinal parasites, especially in developing countries, causing losses to infected animals and economic losses to farmers. This study aims to know the morphology and total of eggs and adult worms, in the digestive tract in Kupang City- East Nusa Tenggara. This study uses work methods including total calculation and identification of worm eggs using the McMaster method, aiming to calculate the number of worm eggs and used to identify the morphology of worm eggs, total testing and morphology of adult worms in the digestive tract aims to determine the number of adult worms in the digestive tract, Semichenetic Acetic Camine staining aims to confirm and clarify the type from the results of identification of adult worms found in goat intestines after it is determined the dominant type of adult worms in the digestive tract of local goats. The results showed that there were three types of worm eggs found from 20 local goats, namely Trichuris sp as many as 5, Strongyloides sp as many as 63, and Strongyloid sp as many as 304 and there were three categories of infection, namely infection-free category in two goats (TTGT = 0), mild infections in three goats (TTGT = 300-400 or ranged from 1-499), and moderate infections in 15 goats (TTGT = 500-2850 or ranged from 500-> 5000). The results of the total study of adult worms in the digestive tract from four local goats found one type of digestive tract worms, namely Trichuris sp as many as 120 of the two goats (numbers 2 and 4). Trichuris sp as the most dominant type of worm in the digestive tract of local goats in Kupang City, East Nusa Tenggara.
ANALISIS RISIKO KUALITATIF PENGIRIMAN PUPUK ORGANIK BERBAHAN DASAR FECES UNGGAS DARI KABUPATEN BLITAR KE KABUPATEN SUMBA TIMUR Melky Angsar; Annytha Ina Rohi Detha
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1589

Abstract

Avian Influenza (AI) adalah penyakit zoonosis penting dan telah menjadi ancaman besar bagi peternakan ayam rakyat. Pulau Sumba secara historis adalah Pulau bebas kasus Avian Influenza. Analisis risiko ini sebagai respon atas permintaan perusahaan tebu nasional yang hendak memasukan pupuk organik berbahan dasar feces unggas sebanyak 2.730 ton yang akan digunakan di perkebunan tebu lahan kering di Kabupaten Sumba Timur. Tim Analisis risiko melakukan pemantauan ke Karantina Waingapu tempat pupuk ditahan. Metode pengumpulan data dengan kuesioner dan kunjungan lapangan ke Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, ke farm tempat dihasilkannya feces unggas, ke lokasi pengolahan feces menjadi pupuk organik, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya. Sampel feces juga diambil dan dilakukan pemeriksaan PCR oleh Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya. Hasil analisis risiko menunjukan bahwa estimasi risiko penularan virus AI terkait pemasukan pupuk organik asal unggas dari Provinsi Jawa Timur ke Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Negligible artinya kejadian dapat diabaikan sehingga Tim merekomendasikan agar pengiriman pupuk organik tersebut dapat dilakukan dengan beberapa catatan yaitu kelengkapan dokumen pengiriman produk berupa surat rekomendasi daerah asal dan tujuan, sertifikat veteriner daerah asal, hasil pemeriksaan laboratorium dan surat keterangan bebas kasus AI dalam 6 bulan terakhir perlu dilampirkan dalam setiap kali pengiriman produk dan pengiriman pupuk harus dalam kondisi tertutup (dalam kontainer) dan hanya boleh diturunkan ketika sampai di lokasi tujuan akhir.
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA BAKTERI ASAM LAKTAT CAIRAN RUMEN TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella Enteritidis, Bacillus cereus, Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus MENGGUNAKAN METODE DIFUSI SUMUR AGAR Frans Umbu Datta; Angela Novita Daki; Imanuel Benu; Annytha Ina Rohi Detha; Nancy D. F. K. Foeh; Nemay A. Ndaong
JURNAL KAJIAN VETERINER PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-7
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v0i0.1590

Abstract

Rumen liquid is a waste product of slaughterhouse that has the potential to be a pollutant, contains lactic acid bacteria which can be used as bio preservatives in food. The purpose of this study was to identify the antimicrobial activity of lactic acid bacteria (LAB) isolates from rumen fluid against Gram positive and Gram negative bacteria using well diffusion and disc diffusion methods and using lactic acid bacteria isolates (supernatant) and non-filtrate from rumen fluid. The main research materials used were LAB rumen fluid isolates, MRSA media (Mann Rogosa Sharpe Agar), MRSB media (Mann Rogosa Sharpe Broth), MHA media (Muller Hinton Agar), and pathogenic bacteria Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Salmonella Enteritidis. The results of the study showed that the LAB of rumen fluid carried out as an active LAB with Gram positive characteristics, round shape, negative catalase and non motile. Based on the results of testing the antimicrobial activity of lactic acid bacteria from rumen fluid isolates against pathogenic Gram positive (B. cereus and S. aureus) and Gram negative bacteria (Escherichia coli and Salmonella Enteritidis) using well and disc diffusion methods showed that Gram negative bacteria were more sensitive to antimicrobial of LAB compared to Gram positive bacteria. The diameter of the larger inhibition zone is produced using the disc method with the inhibition zone diameter range of 13.66-28.3 mm, while the well method ranges from 0-24.2 mm. The antimicrobial activity of LAB using non filtrate BAL produce inhibition zone diameter size range of 0-26.1 mm, while the filtrate BAL produce inhibition zone diameter range of 0-28.3 mm with the optimum time to produce antimicrobial activity 48 hours compared to 24 hours after incubation.

Page 1 of 17 | Total Record : 169