cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 213 Documents
SUASANA RUANG SEBAGAI SOLUSI PERANCANGAN MUSEUM MARMER INDONESIA Boby Herafandy Suyono; Titian Sarihati; Ratri Wulandari
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v7i2.924

Abstract

Marble is a metamorphic rock that is formed by the process of limestone metamorphism. Marble often used as interior and exterior materials for homes, offices, and hotels. It’s applicable for floors, walls, and can also be used for accessories, furniture, and so on. Currently there is no museum intended exclusively for marble in Indonesia. Regarding its scarcity as non-renewable resources, Indonesia shoud build a place to conserve and store marble collection.  This study focuses on designing a museum that displays marble not only as materials for interior design, but also as materials with a lot of potential and benefit for society. In addition, the Indonesian Marble Museum will be an educational place to introduceemarble by displaying a chronological storyline with a different atmosphere assisted by technology media to make this museum more attractive and interactive to visitors.Keywords: Marble, Atmosphere, Education________________________________________________________________ Batuan marmer merupakan jenis batuan di bumi yang masuk ke dalam batuan metamorf, di mana proses terbentuknya diakibatkan oleh proses metamorfosis batu kapur. Batu marmer seringkali ditemukan sebagai batu yang dipakai untuk bahan bangunan eksterior dan interior rumah, perkantoran dan hotel. Pengaplikasiannya digunakan di lantai dan dinding. Selain itu dapat digunakan untuk aksesoris, furnitur dan lain sebagainya. Saat ini di Indonesia belum tersedia museum khusus untuk marmer maka diperlukan sebagai sarana konservasi dan sebagai penyimpanan koleksi, Hal tersebut karena marmer merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, dapat habis, maupun langka. Dalam perancangan museum ini memperkenalkan marmer bukan hanya sekedar material untuk interior, melainkan material yang memiliki banyak potensi dan manfaat kepada masyarakat. Selain itu, Museum Marmer Indonesia ini akan menjadi tempat edukasi dalam pengenalan marmer, dengan menampilkan storyline yang kronologis dengan suasana ruang yang berbeda dibantu dengan media teknologi yang akan menjadikan museum ini lebih atraktif dan interaktif terhadap pengunjung. Kata Kunci: Marmer, Suasana Ruang, Edukasi
PERANCANGAN MOTIF TERINSPIRASI DARI VISUALISASI MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT UNTUK BUSANA READY-TO-WEAR Yossie Novella; Morinta Rosandini
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v7i1.597

Abstract

The Monument of West Java People’s Struggle was built to honor the heroes who had liberated West Java people. Since the beginning, eventhough The West Java Tourism and Culture Office had applied multiple strategies to promote it, the number of its visitors was far below the expectation. Regarding this, the study focuses on the promotion of the Monument through fashion. Both quantitative and qualitative methods were used in this study through online questioners, observation and interview. The result of the study is an innovation in which a new motif composition resulted from digital printing technique is applied to ready-to-wear clothing by using doodle art. Such a promotion strategy that uses fashion has never been done before by The West Java Tourism and Culture Office.Keywords: Monument of West Java People’s Struggle, Pattern, Ready-to-wear________________________________________________________________ Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dibangun bertujuan sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan yang memerdekakan rakyat Jawa Barat. Pada awal pembangunan, rekapitulasi pengunjung museum Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat masih jauh dari yang diharapkan, padahal menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, telah melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan monumen itu sendiri. Maka, dari permasalahan tersebut tulisan ini difokuskan pada pengenalan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat melalui media fesyen. Proses kreasi dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif  dengan menyebar kuisioner daring tentang pengetahuan masyarakat mengenai keberadaan Monpera. Untuk memperkuatnya dilengkapi dengan observasi atau wawancara. Peneliti melakukan observasi lapangan dengan mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dan melakukan wawancara. Perancangan ini menghasilkan sebuah inovasi baru yaitu komposisi motif baru melalui teknik digital printing yang diterapkan pada busana ready-to-wear dengan menggunakan penggayaan doodle art. Dimana pada upaya-upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, belum mencoba media pengenalan di bidang fesyen.Kata Kunci: Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Motif, Ready-to-Wear
TATA RUANG PERTUNJUKAN SEBAGAI SIMBOL INTERAKSI PEMAIN DENGAN PENONTON PADA SAUNG ANGKLUNG UDJO BANDUNG Santi Salayanti
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v5i1.354

Abstract

What makes someone enjoying events and performances in Saung Angklung Udjo among others is that they involve audience to participate in the shows. From the beginning, in the era of Udjo Ngalagena, this saung angklung had created a familial atmosphere in its interaction  with everyone, especially its neighbours. It has been a major appeal that many families dedicated themselves to Saung Angklung Udjo from generation to generation. Besides, a sense of dependency has been instilled, for example, one’s career is begun from helping to taking care of its surroundings, then gradually learning how to play angklung and finally mastering it. This atmosphere is felt so intense that its neighbours get used to participate in the shows. Evenmore, some of them who have shown their talent and perseverence can be included in a team of angklung players to perform abroad. Saung Udjo offers visitors many programs other than regular shows held two to four times a day. There are also collaborative shows or requested performances. In addition to that, many tourism and education programs are held in Saung Angklung Udjo. A relatively comprehensive commercial area provides several kinds of bamboo musical instruments, angklung development, and other souvenirs. Those advantages give Saung Angklung Udjo a favorable position compare to other saungs of angklung in Bandung (West Java). Of all interaction and benefits owned by Saung Angklung Udjo, performance service is the heart of all activities taking place in Saung Angklung Udjo. Keywords: Spatial Layout, Performance, Interaction_________________________________________________________ Suasana yang membuat seseorang menikmati kegiatan dan pertunjukan di Saung Angklung Udjo diantaranya adalah kegiatan pertunjukan yang melibatkan interaksi antara pemain dan penontonnya. Sejak berdirinya Saung Angklung ini pada jaman Udjo Ngalagena dahulu, mempunyai sifat kekeluargaan dengan siapa saja apalagi tetangga-tetangga sekitar. Daya tarik ini merupakan faktor utama yang terasa sampai sekarang, banyak keluarga yang mengabdi pada SAU secara turun temurun. Selain itu ditanamkan rasa ketergantungan, seperti contohnya karir yang dimulai hanya dari membantu membereskan lingkungan sekitar, lalu sedikit demi sedikit belajar dan menguasai angklung, karena lingkungan yang kuat inilah penduduk sekitar jadi tidak asing untuk terlibat dalam pertunjukan yang digelar, sampai akhirnya dikemudian hari dengan bakat dan keinginan yang keras seseorang dapat terbawa dalam tim pemain ke luar negri. Saung Udjo juga menawarkan banyak program-program yang ditawarkan kepada pengunjung, selain pertunjukan regular yang dilaksanakan dua sampai empat kali dalam sehari, ada juga pertunjukan kerjasama atau pesanan yang dilaksanakan diluar jam regular. Selain itu banyak juga program-program pariwisata dan pendidikan yang diselenggarakan di Saung Udjo. Fasilitas komersil yang cukup lengkap menyediakan  penjualan beberapa jenis alat musik yang terbuat dari bambu, pengembangan angklung, dan penjualan pernak pernik lainnya. Hal inilah yang menjadi nilai lebih yang dimiliki Saung Angklung Udjo dibandingkan dengan saung angklung lainnya yang ada di Bandung (Jawa Barat). Dari banyak jenis interaksi dan segala kelebihan yang dimiliki Saung Angklung Udjo, fasilitas pertunjukan adalah merupakan jantung dari segala kegiatan yang berlangsung di SAU.Kata Kunci: Tata Ruang, Pertunjukan, Interaksi
PENERAPAN TEORI NEUROSCIENCE PADA MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MATA KULIAH TEORI Augustina Ika Widyani; Siti Nurannissa P. B.
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i1.1095

Abstract

Teaching in theory classes is challenging for lecturers of Visual Art and Design Faculty because students tent to get boring and sleepy during the course. The purpose of this study is to understand how the brain works to help lecturers planning the theoretical courses, and help students to get maximum learning results and be able to develop information and knowledge received. The method applied in this research is research and development with the results of learning models for theoretical courses in Visual Art and Design Faculty. This research produces learning tools for the Research Methodology course for Department of Visual Communication Design, and learning tools for Aesthetic subjects for Department of Interior Design. From this study it can be concluded that the duration of lecture type theory needs to be divided into 2 (two) segments of the delivery of material, 1 (one) pause segment, and 2 (two) review segments in the form of reflection. In addition, lecturers need to involve student enthusiasm through various stimuli to stimulate the neo-cortex brain, so that information absorption can be optimal.Keywords: Learning, Neuroscience, Theoretical Courses of Visual Art and Design________________________________________________________________ Mengajar di kelas teori bagi dosen FSRD merupakan tantangan tersendiri karena mahasiswa cenderung bosan dan mengantuk mulai di tengah perkuliahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami cara kerja otak sehingga dapat menyusun rencana pembelajaran untuk mata kuliah teori dengan baik, selanjutnya mahasiswa akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal serta mampu mengembangkan informasi dan pengetahuan yang diterima dengan maksimal. Metode yang diterapkan pada penelitian ini adalah research and development dengan hasil luaran berupa model pembelajaran untuk mata kuliah teori di Prodi Desain Interior dan Prodi Desain Komunikasi Visual, FSRD Untar. Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran untuk mata kuliah Metodologi Penelitian untuk Prodi Desain Komunikasi Visual, dan perangkat pembelajaran untuk mata kuliah Estetika untuk Prodi Desain Interior. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa durasi perkuliahan berjenis teori perlu dibagi menjadi 2 (dua) segmen penyampaian materi, 1 (satu) segmen jeda, dan 2 (dua) segmen ulasan (review) dalam bentuk refleksi. Selain itu dosen perlu melibatkan antusiasme mahasiswa melalui berbagai rangsangan untuk menstimulasi otak bagian neo kortek, sehingga penyerapan informasi dapat optimal.   Kata Kunci: Pembelajaran, Neuroscience, Mata Kuliah Teori Seni Rupa dan Desain
PERSEPSI PEMIRSA TERHADAP PESAN IKLAN HIPERBOLA: STUDI TERHADAP IKLAN TELEVISI MOTOR YAMAHA Fadhly Abdillah
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v3i1.386

Abstract

Commercials need good creative strategies, so that they attract attention and persuation as well. In every commercial, surely contain certain messages that are meant to be delivered to their targets. These messages will reach the targets mind, to be perceived on their own reasons. This research uses perseption approach and analytical-descriptive method. This method is intended to find the audience perception towards the messages. Research shows that different evaluative interpretations which occur between one person and another, the couse by first process, which is called sensation. Then, after the stimulus is connected to the factors which influence the audience, a perception emerges. However, there is generally a concord in perceiving the messages in motorcycles commercials which employ the consept of hyperboles. In addition, commercial sensation which is captured is already capable of  representing perception because hyperbolic audio and visual communication in the commercial can be comprehended by the audience. Over all, it has been found that the general perception which is captured by the audience regarding the hyperbolic commercial is “speed”. Basically, the perception which are felt by the audience depend on the creative strategic of the hyperbolic classification contens.Keywords: Commercial Message, Hyperbole, Audience, Perception___________________________________________________________________Sebuah iklan perlu mempunyai strategi kreatif yang tepat, sehingga iklan tersebut dapat mempersuasi dan menarik perhatian, sekaligus pesan yang sampaikan dapat diterima. Dalam setiap iklan hiperbola, sudah pasti memuat sebuah pesan, dimana pesan tersebut akan sampai pada benak sasaran yang kemudian di persepsi berdasarkan alasan masing-masing. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan persepsi melalui metoda deskriptif analisis, metoda tersebut bertujuan untuk mencari tahu persepsi pemirsa terhadap pesan iklan hiperbola. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perbedaan `persepsi’ antara satu orang dengan orang yang lainnya, diakibatkan oleh proses sensasi, kemudian setelah stimulus dihubungkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pemirsa/ orang, muncullah persepsi. Akan tetapi secara garis besar terjadi kesesuaian dalam mempersepsi pesan iklan otomotif `motor` dengan konsep hiperbola,. Selain itu juga sensasi iklan yang ditangkap sudah bisa mewakili persepsi pesan iklannya, dikarenakan komunikasi visual dan audio yang di hiperbola pada iklan tersebut dapat di cerna oleh otak pemirsanya, sehingga pesan dapat sampai dan diterima. Secara keseluruhan persepsi pesan (fenomena) yang ditangkap oleh pemirsa terhadap iklan motor yang menggunakan konsep hiperbola adalah ‘kecepatan’. Pada intinya persepsi yang dirasakan pemirsa terhadap pesan iklan hiperbola tergantung pada konsep kreatif muatan hiperbolanya.Kata Kunci: Pesan Iklan, Hiperbola, Pemirsa, Persepsi
PENGAPLIKASIAN IMAGE ALAM KABUPATEN SUKABUMI PADA TENUN SUKABUMI DENGAN TEKNIK MARBLING Nadia Siti Azahra; Aldi Hendrawan
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i1.575

Abstract

REKONSTRUKSI SISTEM KAPITAL DAN STRATEGI PENGUASAAN TUBUH MELALUI TEKNOLOGI Muhammad Akbar Setiadi; Rikrik Kusmara; Deden Hendan Durahman
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.702

Abstract

Gaze means that someone is looking at an object. It allows you to be a gaze so that you can see or display yourself. In the gaze, it also shows that the gaze is the owner that can be said to be the ruler. The presence of a camera as an object recording tool places it at the voyeurism stage that recording activities are actions without intervention, observing unnoticed. Someone who is behind the camera lens has full power on what he records in front of the camera lens, powers can also be used by image observers on the screen. At this stage the camera can represent gaze control. Users are also able to control the framing of visual representations on the screen that are being gazed at by the audience, the observer is made to believe what is presented through the presentation screen frame boundaries even if what is displayed is not entirely real, even through the latest video technology which is supposed to represent reality and similarities. Men’s activities as a gaze on women’s bodies as objects, in various interests of corporate media, women’s bodies are presented as objects of spectacle that are both pleasurable and painful for the audience (especially men), the audience becomes the controller of what he looks at, but he does not realize that besides the presence the body of the viewer, which is controlled by a woman’s gaze on the screen, is under the power of the screen she is staring at.Keywords: Gaze, Power, Video, Camera, Voyeurism________________________________________________________________ Gaze berarti seseorang sedang melihat, membiarkan dirinya menjadi tatapan agar dilihat atau menampilkan dirinya. Dalam gaze, si penatap merupakan penoton yang memiliki kuasa. Kehadiran kamera sebagai alat (tools) perekam objek menempatkannya pada tahap voyeurisme bahwa aktifitas merekam adalah aksi tanpa intervensi, mengamati tanpa diketahui. Seseorang yang berada di balik lensa kamera memiliki kekuasaan penuh pada apa yang ia rekam di depan lensa kamera, kekuasaan dapat pula di gunakan oleh pengamat citraan pada layar tersebut. Pada tahap ini kamera dapat merepresentasikan pengendalian tatapan. Penggunanya mampu mengendalikan pula pembingkaian representasi visual pada layar yang sedang ditatap oleh pengamatnya (audience), pengamat dibuat untuk mempercayai apa yang disajikan melalui batasan bingkai layar presentasi sekalipun apa yang ditampilan tidak sepenuhnya nyata, sekalipun melalui teknologi video terkini yang disinyalir mampu merepresentasikan kenyataan dan kemiripan yang sebenarnya. Aktifitas pria sebagai penatap atas tubuh perempuan sebagai objek, dalam berbagai kepentingan media korporat, tubuh perempuan disajikan sebagai objek tontonan yang begitu nikmat sekaligus menyakitkan bagi penontonnya (khususnya pria), penonton menjadi pengendali dari apa yang dia tatap, namun ia tidak menyadari bahwa selain kehadiran tubuh penonton yang dikendalikan oleh tatapan perempuan pada layar, dirinya pun sedang barada di bawah kekuasaan layar yang ia tatap.Kata Kunci: Gaze, Kekuasaan, Video, Kamera, Voyeurisme
KLASIFIKASI TEKNIK STITCHING SULAMAN SEBAGAI SURFACE DESIGN TEKSTIL Mira Marlianti; Wuri Handayani
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v5i1.349

Abstract

Textile plays a significant role in our life as one of our primary needs developing through times. Textile which is processed creatively creates fabric as a medium for creation and expression to add visual values aesthetically. This study aims to present  latest terms of the developing embroidery techniques (major and minor techniques), briefly identify those techniques, and finally compile the extent of state-of-the-art classification of embroidery techniques that were founded and are developing up to present. This article is the result of study using library research method on stitching techniques, especially embroidery on surface design textile. The result shows there is a development of classification of embroidery techniques and their subsidiaries. Yet, this article focuses on the classification of handmade, not machine-made stitching. Keywords: Textile, Surface Design, Classification, Stitching, Embroidery___________________________________________________________________Tekstil merupakan media yang berperan dalam kehidupan manusia dan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Tekstil yang diolah dengan kreatif dapat menjadikan kain sebagai media dalam berkreasi dan berekspresi sehingga menambah nilai visual secara estetis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai istilah-istilah kebaruan dari teknik sulam (teknik induk dan teknik turunan) yang berkembang, mengidentifikasi secara singkat mengenai teknik-teknik tersebut, dan akhirnya menyusun penyebaran klasifikasi kebaruan dari teknik-teknik sulam yang ditemukan dan berkembang hingga kini. Tulisan ini merupakan hasil penelitian dengan metode analisis kepustakaan (Desk Study/Library Search) mengenai teknik-teknik stitching khususnya sulam pada surface design tekstil. Hasil penelitian menunjukan adanya perkembangan klasifikasi dari teknik-teknik sulam dan turunannya. Yang mana dalam tulisan ini lebih terfokus pada klasifikasi sulam tangan (handmade stitching) bukan berupa sulam dengan mesin. Kata Kunci: Tekstil, Surface Design, Klasifikasi, Stitching, Sulam
KOMIK DEWI SARTIKA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEJARAH UNTUK ANAK SMP DI JAWA BARAT Wildan Hanif
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v4i3.365

Abstract

This research entitled “A comic of Dewi Sartika as a historical education media for Junior High School in West Java” is a strategic effort to build the character of Indonesian youth generation, especially of junior high school students besieged by foreign figures and cultures not always in line with ideals of Indonesian founding fathers. The comic of Dewi Sartika in this study is a popular means to introduce junior high school students to a heroine in education from Tanah Pasundan, named Dewi Sartika. She also founded Sekolah Keutamaan Istri (school for women) during the Dutch colonialist in Indonesia.Keywords: Comic, Character Building, Dewi Sartika, Popular Media________________________________________________________________Penelitian yang berjudul “Komik Dewi Sartika, alternatif media pendidikan sejarah untuk anak SMP di Jawa Barat” ini adalah upaya yang cukup strategis untuk membentuk dan membangun karakter Anak Bangsa, terutama usia menginjak remaja (SMP) yang saat ini digempur dengan figur dan budaya luar yang belum tentu sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa. Medium Komik pada penelitian ini dijadikan sarana populer untuk mengakrabkan anak SMP dengan Tokoh Pahlawan Wanita di bidang Pendidikan dari Tanah Pasundan,  yakni Ibu Dewi Sartika, yang mendirikan Sekolah Keutamaan Istri pada saat Pemerintah Hindia Belanda masih menjajah Indonesia sebelum Kemerdekaan.Kata Kunci:  Komik, Pendidikan Karakter, Dewi Sartika, Media Populer
ARBY SAMAH PELOPOR SENI PATUNG ABSTRAK INDONESIA: TANTANGAN DAN HARAPAN PERKEMBANGAN SENI PATUNG MODERN SUMATERA BARAT Yandri Yandri
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v1i3.397

Abstract

Arby Samah has been regarded as a pioneer in the history of abstract sculpture in Indonesia since he studied at ASRI Yogyakarta in 1957. In this period, Arby Samah created non-figurative sculptures whose style was new and unusual compared with his contemporaries in Yogyakarta. Abstract shape is believed to be confusing to many since it seems to have little relation to real life. Arby Samah took a long and complex path to produce an abstract sculpture. To him, finding a new form is a historical finding in the development of sculptural art. Arby Samah’s journey in the art of sculpture is not consistent to the fame that he has received. It has a correlation with his desire to develop fine arts, especially sculpture in West Sumatera, where the art is rather poorly developed due to the influences of custom and religion. Arby Samah wants his artworks to give an understanding to the public regarding arts, and to eliminate the public perception of sculpture as a form of idolatry. The West Sumatra people’s perception of sculpture as a form of idolatry will be discussed from the beginning of such notion, the coming of Islam to West Sumatra, until the reception of sculptural art by West Sumatra peopleKeywords: Arby Samah, Abstract Sculptural Arts________________________________________________________________Arby Samah mulai dikenal sebagai pelopor karya seni patung abstrak Indonesia semenjak Arby Samah kuliah di ASRI Yogyakarta tahun 1957. Pada masa itu Arbi Samah menciptakan karya seni patung non figuratif, yang pada waktu itu merupakan hal baru dan tidak biasa apabila dibandingkan karya-karya para pematung di Yogyakarta. Bentuk abstrak dianggap membingungkan banyak orang, seolah karya abstrak tidak bertalian dengan dunia yang realita. Arby Samah menempuh jalan yang panjang dan berliku dalam menciptakan sebuah karya patung abstrak. Bagi Arby Samah menemukan bentuk baru merupakan sebuah temuan sangat bersejarah dalam perkembangan seni patung. Perjalanan Arby Samah dalam berkarya seni patung memang tidak konsisten seiring dengan nama besar yang sudah diraihnya, ini sangat erat hubungannya dengan keinginan Arbi Samah untuk mengembangkan ilmu seni rupa khususnya seni patung di Sumatera Barat, di mana seni patung susah berkembang karena dipengaruhi oleh faktor adat dan agama. Arby Samah ingin karya yang dibuatnya bisa memberikan pemahaman pada masyarakat tentang karya seni dan menghilangkan anggapan masyarakat yang mengatakan patung sebagai benda untuk disembah. Anggapan masyarakat Sumatera Barat yang menganggap patung sebagai berhala akan dibahas dari awal munculnya anggapan tersebut dari masuknya agama Islam di Sumatera Barat sampai pada masyarakat menerima kehadiran seni patung.Kata Kunci: Arby Samah, Seni Patung Abstrak

Page 1 of 22 | Total Record : 213