cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 178 Documents
Aspek Komunitas dan Institusi dalam Resiliensi Kampung Kota Yogyakarta Imelda I. Damanik; Bakti Setiawan; M. Sani Roychansyah; Sunyoto Usman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.286 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p04

Abstract

Urban Kampung is an urban area with distinctive characters. The symbols as a poor, dense, and slum area, put the urban kampung as a high priority task for the government to solve. But besides that, the urban kampung demonstrates the capacity of the local community and institutions. Vulnerability aspects embedded with capacity aspects, build configuration that complements one to another, and build the distinctiveness in the context of resilience. As part of the urban area, urban kampung has to bring out its local resilience value to support urban resilience. This paper will provide an analysis of the resilience’s value by measuring the aspects of the communities and institutions of urban kampung in Yogyakarta. This research was conducted by distributing questionnaires that are compiled on a Likert scale in five urban kampungs in Yogyakarta City. The results are analyzed using the Principle Component Analysis (PCA), which will show the genetics distance and the relation between variables of the community aspects and the institutional aspects of the urban kampung. The PCA’s outcome of community and institutional aspects will be useful in designing public spaces in urban kampung as an effort to increase urban resiliency. Keywords: urban kampung; community; institution; resilience; principal component analysis Abstrak Kampung Kota adalah ruang perkotaan yang memiliki karakter yang khas. Simbol miskin, padat dan kumuh membentuk kampung kota menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota. Namun disamping itu, kampung kota hadir dengan kekuatan komunitas dan institusi lokalnya. Aspek-aspek pembentuk kerentanan (vulnerability) berdampingan dengan aspek-aspek pembentuk kapasitas (capacity), saling mengisi dan membentuk kekhasan dalam konteks resiliensi. Sebagai bagian dari wilayah perkotaan, kampung harus menunjukkan nilai seberapa resiliensi aspek-aspek tersebut. Tulisan ini akan memberikan telaah mengenai perhitungan nilai resiliensi aspek komunitas dan institusi kampung kota di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan menyebar kuestioner yang disusun dengan skala Likert di 5 kampung kota di Yogyakarta. Hasilnya kemudian akan dianalisis dengan Komponen Fundamental (Principal Component Analysis, PCA), yang akan menunjukkan jarak genetika dan relasi antara variabel aspek komunitas dan aspek institusi kampung kota. Temuan komponen fundamental aspek komunitas dan institusi akan bermanfaat dalam mendesain ruang publik dalam kampung kota dalam upaya peningkatan resiliensi kota. Kata kunci: kampung kota; komunitas; institusi; resiliensi; analisis komponen fundamental
KONSERVASI FASADE BANGUNAN KOLONIAL Agus Kurniawan; Rumawan Salain; Ciptadi Trimarianto
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.97 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p02

Abstract

Abstract The city of Singaraja is an old town in Bali that has a complex numerous cultural heritage, including the Dutch corridor. It was built after Durch imperialism invaded Bali in 1846. Moreover, the colonial government also constructed public facilities, such as offices, commercial buildings, public services, and houses. Since the city was targetted as a tourist destination by local government, the area has been significantly modified; even some public facilities have been demolished. The study aims to determine the façade typology of colonial buildings and their evolution. Certain causal factors have already been identified. The objective of the study is to determine conservation policy for this corridor. Theories of conservation and spatial restructuring have been used to inform data analysis and synthesis. The research suggests three major typologies of such facades.These arethe original facade (Type A), a partial change (Type B), and a complete change (Type C). Demographic  factors, physical environment, and new cultural elements are considered as determining factors that encourage changes to Type B and Type C; whereas new elements occur in Type A. Consequently, techniques for physical conservation, preservation, restoration, and reconstruction are suggested. Whenever possible, restoration is supported by finance and policy initiatives. The study concludes that old buildings need to be supported by government intervention: legal protection and penalties, loans and subsidies, adaptively-reused development, and appropriate planning. Keywords: conservation, colonial building’ façade, the Dutch Line AbstrakKota Singaraja merupakan salah satu kota lama yang memiliki beberapa peninggalan budaya, di antaranya Jalur Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda membangun jalur ini setelah menguasai Bali pada tahun 1846. Sepanjang jalur ini, Belanda membangun fasilitas kota, seperti perkantoran, perdagangan, fasilitas pelayanan umum, dan rumah-rumah dinas. Sejak Kota Singaraja dicanangkan sebagai obyek pariwisata oleh Pemerintah setempat, kawasan ini mengalami banyak perubahan, bahkan terjadi penghancuran bangunan-bangunan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tipologi fasade bangunan kolonial dan sejumlah perubahan yang terjadi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan sejumlah rekomendasisebagai upaya pendekatan konservasi pada fasade bangunan kolonial di Jalur Belanda di Kota Singaraja. Analisa data dilakukan melalui pendekatan teori konservasi dan teori bentuk, sedangkan metode yang digunakan adalah sequential explanatory. Studi ini menghasilkan tiga kategori fasade: fasade bangunan masih asli (Tipe A), fasade yang telah mengalami perubahan sebagian (Tipe B), dan fasade yang sudah berubah total (Tipe C). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fasade pada kategori B dan C adalah faktor pertambahan penduduk, lingkungan alam fisik, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Pada kategori A, faktor yang mempengaruhi adalah adanya penemuan baru. Metode dan teknik konservasi secara fisik menggunakan preservasi, restorasi, dan rekonstruksi, sedangkan metode nonfisik dilakukan secara restorasi dalam konteks intangible. Penelitan ini menyatakan bahwa bangunan kuno perlu lebih diberdayakan melalui mekanisme legal protection (perlindungan hukum) dan penalties (hukuman), pinjaman dan subsidi, dan adaptively-reused development. Kata kunci: konservasi, fasade bangunan kolonial, Jalur Belanda
THE NEW URBAN DESIGN – A SOCIAL THEORY OF ARCHITECTURE ? Alexander R. Cuthbert
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.634 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i01.p02

Abstract

Abstract Over the last ten years and 1000 pages of text, I outlined a unified field theory which I refer to as The New Urban Design. Possessing the same structure, the three books can be read in series or in parallel, and may best be described as a matrix of possibilities (Cuthbert 2003, 2006, 2011). In this paper I revisit some of the ideas in these texts that need to be more fully developed. Important among them are the undeniable effects of this new field for architecture and urban planning, and an expanded brief on the use of Marxian modes of production to support social analysis in these disciplines. From this perspective we can at least develop some truth as to the historical progress of urban form. In redefining urban design as an independent field, architecture and urban planning subsequently become different regions of thought from what they had previously entertained, namely during the period when they colonised urban design and shared the spoils between them. Extending this argument even further, it is clear that neither discipline, nor the resulting mainstream urban design (i.e. one produced by architects and planners) - have had resort to a social theory of their own existence. All so called theories of architecture and urban planning, have failed with good reason. Architecture has relied almost exclusively on aesthetics and technology for its self awareness. Despite the fact that social theory began to penetrate planning theory in the 1970’s, this did not change the idea that planning can have no internally generated theory other than the trivial, since it is an epiphenomenon of the state. It is not an independent factor in urbanisation, and therefore can have no consciousness of its own that is any more than ideological in the Marxist use of the term. In conclusion, the paper suggests that if the weltanshuung of the New Urban Design is persuasive, this has wide ranging implications for education, practice and the development process at all scales of operation.Keywords: urban design, social theory, mainstream logic, ideology Abstrak Dalam sepuluh tahun terakhir penulis telah memaparkan sebuah kesatuan teori yang direpresentasikan ke dalam 1000 halaman tulisan (tiga buku), yang Penulis pandang sebagai The New Urban Design. Dengan menerapkan struktur yang baru, ketiga buku ini bisa dibaca secara beruntun (seri) maupun secara pararel, dan juga bisa dideskripsikan sebagai matrik yang menawarkan beragam kemungkinan (Cuthbert 2003, 2006, 2011). Dalam paper ini, Penulis meninjau kembali beberapa ide terkait, yang perlu dikaji lebih lanjut. Beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi disini adalah, dampak dari kemunculan bidang urban design yang tidak bisa dihindari terhadap dunia kearsitekturan dan urban planning, dan pengenalan lebih lanjut dari penerapan moda-moda produksi sesuai konsepsi Marxisme dalam mendukung analisis sosial berkenaan kedua disiplin ini. Dari perspektif ini, kita, paling tidak bisa membangun kebenaran akan kemajuan historis dari sebuah tatanan perkotaan. Dalam meredefinisikan urban design sebagai disiplin yang independan, arsitektur dan urban planning selanjutnya menjadi bidang yang berbeda dibanding dengan pemahaman kita sebelumnya. Khususnya pada masa-masa dimana arsitektur dan  urban planning mendominasi urban design. Melanjutkan argumentasi ini, urban design secara umum (yang didefinisikan oleh para arsitek maupun urban planner) belum memiliki teori-teori sosial yang dibangun berdasarkan keberadaannya. Semua yang disebut dengan teori tentang arsitektur ataupun urban planning telah gagal untuk alasan-alasan tertentu. Arsitektur secara ekslusif bersandar pada estetika dan teknologi untuk kebangkitannya. Meskipun dalam kenyataannya teori-teori sosial telah pada awalnya mempenetrasi teori tentang planning di tahun 1970's, ini tidak merubah ide bahwa planning belum memiliki kemampuan untuk membangun teorinya sendiri secara internal. Ini dikarenakan oleh perencanaan sebagai sebuah epiphenomenon dari negara. Ini bukan faktor independan dalam pertumbuhan sebuah kota, dan sehingga bisa memiliki kesadaran dari dirinya sendiri yang melebihi ideologi dalam konteks pemikiran Marxisme. Sebagai kesimpulan paper ini menyarankan bahwa, jika perspektif dari new urban design sangat persuasif, ini memiliki implikasi terhadap pendidikan, praktek dan proses pembangunan pada beragam skala dan operasionalnya. Kata kunci: perancangan kota, teori sosial, logika, ideologi 
Eksistensi Bangunan dan Kawasan Bersejarah di Kota Manado dan Peranannya sebagai Urban Heritage Cynthia E.V Wuisang; Frits O.P Siregar; Faizah Mastuti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.654 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p03

Abstract

Perkembangan Kota Manado dilihat dari berbagai aspek kehidupan di dalam perkotaan terutama pertumbuhan penduduk, perkembangan iptek dan dinamika berbagai kegiatan. Aspek-aspek tersebut akan membawa perubahan dalam pemanfaatan ruang dan lahan di perkotaan, fungsi lingkungan dan perubahan karakteristik dan perkembangan kotanya. Perubahan yang terjadi jika dibiarkan akan berakibat terhadap penurunan kualitas dan citra lingkungan. Kota Manado memiliki kekayaan bangunan dan kawasan bersejarah yang perlu diketahui untuk ditetapkan sebagai pusaka kota. Di dalam konteks preservasi dan konservasi kota-kota yang mengandung nilai sejarah, penentuan bangunan dan kawasan bersejarah pada sebuah kota sangat signifikan dan penting. Paper ini mengevaluasi bangunan-bangunan dan kawasan bersejarah yang ada di Kota Manado dalam rangka preservasi dan konservasi kota. Variabel yang penelitian yang digunakan adalah bangunan dan kawasan yang memiliki nilai-nilai budaya dan bersejarah sedangkan metoda yang digunakan adalah riset kualitatif dengan melakukan interpretasi foto (rekaman visual dan dokumentasi), wawancara mendalam dan pendekatan persepsi masyarakat yang tinggal di Kota Manado. Hasil penelitian menunjukkan beberapa bangunan dan kawasan sejarah yang diidentifikasi dalam penelitian ini memiliki nilai signifikan sebagai warisan pusaka kota. Secara kualitatif, beberapa bangunan bersejarah belum/kurang dikenal masyarakat kota, mengingat kenyataan bahwa pemerintah kota kurang melakukan tindakan untuk melestarikan artefak urban dan lokasi bersejarah. Kata kunci: bangunan peninggalan, kawasan bersejarah, urban heritage, preservasi, konservasi, Manado
AKTIVITAS EKONOMI DAN KUALITAS RUANG TERBUKA HIJAU AKTIF DI KOTA DENPASAR I Dewa Made Dwipa Tanaya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.605 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p08

Abstract

Abstract Active green open space has an important role to play in urban environment. This study looks at functions accommodated by this spatial formation that exist in Kota Denpasar. Since these functions are not planned for in the first instance, informal economic activities act to the detriment of such spaces rather than reinforcing them with planned informal economic activities. Qualitative methods are used in the study. Physical and non- physical elements are identified. The former embrace scale of the park, the type of facilities it offers, the quality of design and other physical conditions. Non-physical elements cover an understanding of the park as a responsive, democratic, meaningful and accessible spatial form within our urban environment. Thorough planning is required if economic activities are to be managed and their impacts anticipated. At the same time, any plan must include public education to raise awareness that the quality of the environment is not the responsibility of others but the duty of everybody. The study concludes that economic activities currently bring negative impacts on the quality of the green open space due to a greater consideration by government in the planning stages. Keywords: Open green space, economic activities, impact, open green space quality Abstrak Ruang terbuka hijau aktif memiliki peran penting dalam lingkungan perkotaan. Studi ini bertujuan untuk melihat aktivitas ekonomi yang diwadahi oleh RTH di Kota Denpasar serta menganalisis dan mengkaji bagaimana pemanfaatan ruang untuk aktivitas ekonomi yang ada berdampak terhadap kualitas RTH aktif di Kota Denpasar. Kualitas RTH ditentukan oleh aspek fisik dan non fisik. Aspek fisik mengkaji skala, kelengkapan sarana elemen pendukung, desain, dan kondisi fisik. Aspek non fisik mengkaji masing-masing yang mendemonstrasikan hal responsif, demokratis, memberikan arti dan aksesibilitas. Aktivitas ekonomi memberi pengaruh negatif terhadap kualitas ruang terbuka hijau aktif. Penataan ruang terhadap aktivitas ekonomi bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi dampak negatif terhadap kualitas kawasan. Pembelajaran terhadap masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting untuk dilakukan. Kata kunci: ruang terbuka hijau, aktivitas ekonomi, dampak, kualitas ruang terbuka hijau
Tipologi Perubahan Elemen Sekitar Pura Tambang Badung, Denpasar Anak Agung Kresna Mahadhipa; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1661.949 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i02.p03

Abstract

It is a common spatial formation of various centers during the monarchy era in Indonesia, in which a palace is located in close proximity to a sacred complex - the center for royal ritual activities. Puri Pemecutan as part of Badung Kingdom of Bali's past also has a royal sacred spatial entity called Pura (Temple) Tambang Badung, a highly respected site. However, various spatial changes have occurred within its immediate outer area which is classified as a residential zone. Such a development is viewed as a serious disturbance to the sacred attributes of this temple. The development and operation of the surrounding residential area have been claimed to intrude both physical and non-physical elements of the temple. This article is a summary of a study that aims to examine the typology of spatial changes taking place within Pura Tambang Badung's surrounding areas. This study applies a qualitative method with a historical approach to reconstruct past images. Data collection is done by a study of relevant literature, observation, and interviews. In its final stage, this study draws a thorough typology of spatial changes by considering three groups of determining elements, which are: first, the core determining elements which include banyan trees and road nodes; second, the peripheral determining elements which include road lanes, shrines of temple territories, open spaces of outer temples, temple bear houses, and bale banjar buildings; and third, the additional determining elements that include temple land which is now the Pasah Pemecutan Market area. Keywords: typology, change, element, royal temple, castle Abstrak Dalam pengetahuan tata ruang pusat kota kerajaan di Indonesia lazimnya dikenal adanya bangunan kediaman penguasa wilayah yang berlokasi tidak jauh dengan kompleks bangunan suci kerajaan sebagai pusat kegiatan ritual keagamaan. Puri Pemecutan sebagai salah satu bagian Kerajaan Badung pada masa kerajaan di Bali juga memiliki bangunan suci kerajaan yang bernama Pura Tambang Badung. Tapak pura ini sangat disakralkan oleh penguasa pada masanya. Seiring perkembangan zaman, berbagai perubahan keruangan telah terjadi di sekitar area tapak pura kerajaan ini. Area pura yang sakral menjadi seperti membaur dengan ruang profan permukiman penduduk. Artikel ini merupakan rangkuman dari sebuah penelitian yang bertujuan mengkaji gambaran tipologi perubahan elemen sekitar Pura Tambang Badung. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk merekonstruksi gambaran elemen sekitar pura pada masa lalunya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur, observasi, dan wawancara. Temuan akhir penelitian menunjukkan pola kecenderungan bahwa fenomena perubahan ruang yang terjadi di sekitar tapak Pura Tambang Badung adalah bertumpu pada upaya proteksi ruang sakral yang berupa area pura dan elemen-elemen pendukungnya atas penurunan kualitas akibat pencemaran dari area permukiman yang bersifat profan di sekitarnya. Perubahan elemen yang terjadi ditipologikan berdasarkan atas elemen inti yang meliputi pohon beringin dan simpul jalan; elemen pinggiran yang meliputi jalur jalan, penyengker teritori pura, ruang terbuka teritori luar pura, rumah pengemong pura, dan bangunan bale banjar; elemen tambahan meliputi tanah milik pura yang saat ini sudah menjadi area Pasar Pasah Pemecutan. Kata kunci: tipologi, perubahan, elemen, pura kerajaan, puri
PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN DI KELURAHAN SEMPIDI I Nyoman Manuaba
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.746 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p06

Abstract

Abstract In Bali waste management is at crisis levels. A comprehensive and well participated public-based garbage management system is an important element toward the formation of a livable urban environment. It would benefit the economy, public health, and environmental safety, as well as being an agent for change in public attitudes towards wastes in general. Various attempts such as gelatik (plastic garbage movement); clean and green; and the 3R principle (reuse, reduce, recycle) have been carried out to change people’s behavior in handling garbage. Attitudes unfortunately remain unchanged. This is a complex problem involving the creation, dispersal, collection and disposal across the entire island. The following paper addresses questions concerning people’s unhealthy attitudes towards waste management; and the factors driving such behavior. Research is conducted on the basis of the descriptive qualitative method. Findings show that garbage collection, sorting, storing, and disposal have not been fully recognized and supported by government and local people. Significantly, major determining factors such as a lack of supporting infrastructure and facilities also emerge as priority considerations and waste management remains a neglected field both by government and non-governmental agencies. Keywords: public behavior, motivating factors, domestic garbage Abstrak Di Bali, pengelolaan sampah sedang berada pada titik kiritis. Pengelolaan sampah yang komprehensif dan berbasis masyarakat merupakan elemen penting dalam pembangunan lingkungan layak huni. Hal ini akan memberi manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi, kesehatan masyarakat, keamanan lingkungan, dan bisa juga menjadi agen perubahan tingkah laku publik terhadap produk buangan secara umum. Beragam usaha dalam penanganan sampah, seperti misalnya gelatik (gerakan sampah plastik), clean and green dan konsep 3R (reuse, reduce, recycle), telah dilaksanakan untuk merubah tingkah laku masyarakat. Sayang sekali, tingkah laku ini tidak berubah. Ini merupakan permasalahan yang kompleks yang melibatkan pengadaan, penyebaran, pengumpulan, dan pembuangan sampah. Paper berikut ini menjawab pertanyaan terkait tingkah laku tidak sehat masyarakat terkait penanganan sampah serta faktor-faktor yang menjadi pemicu kemunculannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pengumpulan, pemisahan, pewadahan, dan pemusnahan atau pembuangan sampah belum sepenuhnya dilakukan dan didukung, baik oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Secara signifikan, faktor-faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini, seperti misalnya, kurang adanya sarana, prasarana, dan fasilitas, tetap muncul sebagai prioritas yang harus ditangani; serta isu pengelolaan sampah yang masih dilalaikan, baik oleh pemerintah maupun agen-agen non-pemerintah. Keywords: perilaku masyarakat, faktor-faktor pendorong perilaku, sampah rumah tangga
Detil Publikasi Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.393 KB)

Abstract

Alih Fungsi Lahan Pertanian yang Berbatasan dengan Area Puspem Kabupaten Badung: Tahun 2005-2015 Kadek Ary Wibawa Patra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2013.636 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i01.p03

Abstract

Badung Civic Center (Puspem) is an integrated centre for government offices located in Sempidi of Mengwi District. As the core facility for all public services available to people of Badung Regency, the presence of Puspem has brought indirect impacts on the development of its surroundings. One visible impact observed clearly here is the increasing scale of land used to fulfill the need for housing on the one hand, and the shrinking scale of agricultural land being turned into built areas, on the other. This research aims to identify land use changes that took place in agricultural land adjacent to Puspem site which is divided into four zones (zone A, B, C and D). Data was collected through a series of physical observation, interviews, and detailed literature study. A map on land use change was constructed for a periode of 2005-2015 which was then analyzed using a comparative method. Various phenomenons associated with every land use change occured in the studied area were also examined. This study shows that there was no land use change occurred in zone A, even though it is located in a strategic location on the northern side of Puspem. It is understandable since the area is destined as a green zone. Meanwhile, the highest rate of land use change took place in zone D, which is located on the eastern part of Puspem and passed by two main roads. A total of 10,58 Ha has had its use changed, or 32,95% from a total of 32,10 Ha. The agricultural land conversion of zone D began with the development of a road which in turn has caused an increase in land economic value and consequently triggerred the transfer of land ownership from farmers to new owners. Keywords: land use change, agricultural land, Badung Civic Center (Puspem)
Pola Penggunaan Ruang Publik untuk Berdagang Tidak Tetap di Area Sekitar Pasar Badung, Denpasar Surya Putra; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Tri Anggraini Prajnawrdhi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2205.331 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p04

Abstract

Non-permanent trading activities in the area around Badung Market, Denpasar City, Bali Province caused several problems such as obstructed vehicle traffic and pedestrian access, as well as giving a poor visual impression. The aforementioned problems form the basis of this research so that it can be studied how the pattern of non-permanent trading occurs, and how the background of non-permanent trading activities around Badung Market formed. This study aims to determine the pattern of non-permanent trading activities in the area around the Badung Market and factors underlying the non-permanent trading activities around Badung Market. The research method used is a qualitative research method with a naturalistic approach. The results of this study indicate the pattern of non-permanent trading activities which is concentrated in a particular function and the background of how non-permanent trading activities formed caused by several factors such as licensing factors. This research is expected to be useful as a reference for the Denpasar City Government in drafting local regulations in the future so that it can realize temporary trading activities in the area around the Badung Market which has visual beauty and does not impede the flow of vehicle traffic.Keywords: public space; non-permanent traders; Badung market AbstrakKegiatan berdagang tidak tetap di area sekitar Pasar Badung, Kota Denpasar, Provinsi Bali menyebabkan beberapa permasalahan seperti terhambatnya lalu lintas kendaraan dan akses pejalan kaki, serta memberi kesan visual yang kurang baik. Permasalahan tersebut menjadi landasan penelitian ini dilakukan agar dapat dipelajari bagaimana pola berdagang tidak tetap terjadi, serta bagaimana latar belakang kegiatan berdagang tidak tetap di sekitar Pasar Badung terbentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola berdagang tidak tetap di area sekitar Pasar Badung serta faktor-faktor yang melatarbelakangi kegiatan berdagang tidak tetap di sekitar Pasar Badung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Hasil penelitian ini menunjukkan pola berdagang tidak tetap yang terkonsentrasi pada suatu fungsi tertentu dan latar belakang terbentuknya kegiatan berdagang tidak tetap disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor perizinan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan Pemerintah Kota Denpasar dalam menyusun peraturan daerah kedepannya sehingga dapat terwujud kegiatan berdagang tidak tetap di area sekitar Pasar Badung yang memiliki keindahan visual dan tidak menghambat kelancaran lalu lintas kendaraan.Kata kunci: ruang publik; pedagang tidak tetap; Pasar Badung

Page 1 of 18 | Total Record : 178