cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dinamika Penelitian Industri
ISSN : 20888996     EISSN : 24774456     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Menyajikan karya tulis ilmiah yang berkualitas yang telah terseleksi dan direview untuk penelitian dan perekayasaan bidang teknologi industri karet, tekstil, pangan, lingkungan dan kimia lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 378 Documents
Pemanfaatan tepung dari kulit secang, kunyit dan kulit manggis untuk kompon karet ., Rahmaniar; Rejo, Amin; Priyanto, Gatot; Hamzah, Basuni
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 25, No 1 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.055 KB)

Abstract

This research aims to obtain the optimal concentration in the variations of natural dyes and examines the characteristics of the resulting rubber compound. Research and laboratory testing conducted at Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang and PT. Kobe Internasional Mandiri Bandung. This study used dye concentration in 5 phr and 4 (four) color variation that were Formula A: Flour mangosteen peel, Formula B: Meal turmeric, Formula C: Flour wooden cup and Formula D: Synthetic dyes as the control. Parameters observed were Hardness, Shore A (ASTM D 2240-1997), tensile strength, kg / cm 2 (ISO 37, 1994), elongation at break (%), 50 PPHM ozone resistance, 20%, 24 h, 40 ° C and total color difference. The results showed that the best treatments was formula C: Flour wooden cup with Hardness test results of 44 shore A, the voltage dropped by 129 kg / cm 2, Elongation at break of 845%, the ozone resistance of rubber compounds showed no cracks and the total color difference was 26,74.Key word : rubber compound, dyes, wooden cup, turmeric, mangosteen rind.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi optimal variasi bahan pewarna alami dan mengkaji karakteristik kompon karet yang dihasilkan. Penelitian dan pengujian laboratorium dilaksanakan di Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang dan PT. Kobe Internasional Mandiri Bandung. Penelitian ini menggunakan konsentrasi pewarna 5 phr dan 4 (empat) variasi pewarna yaitu Formula A : Tepung kulit manggis, Formula B : Tepung kunyit, Formula C : Tepung kayu secang dan Formula D : Pewarna sintetis sebagai kontrol. Parameter yang diamati Kekerasan, Shore A (ASTM D. 2240-1997), tegangan putus, kg/cm2 (ISO 37, 1994), Perpanjangan Putus (%), ketahanan ozon 50 pphm, 20%, 24 jam, 40°C dan total perbedaan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan yang baik adalah formula C : Tepung kayu secang dengan hasil uji Kekerasan sebesar 44 shore A, Tegangan putus sebesar 129 kg/cm2, Perpanjangan putus sebesar 845 %, ketahanan ozon menunjukkan kompon karet tidak retak dan total perbedaan warna yaitu 26,74.Kata kunci : kompon karet, pewarna, kayu secang, kunyit, kulit manggis.
Pengaruh lama pengukusan terhadap kualitas sensoris kue delapan jam Hamzah, Budi Santoso, Rindit Pambayun, Sri Agustini, Gatot Priyanto, Basuni
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 25, No 2 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.825 KB)

Abstract

This research intended to reveal the role of steaming time in developping the sensories attribute of kue delapan jam and to unravel the reason underlying the local wisdom  in cooking traditional cakes. The treatment was steaming time consist of  2 , 4, 6, and 8 hours. Sensory evaluation assessed by 30 panelist. Laboratory test for browning index also conducted to represent the stages of Maillard reaction. Sensory evaluation showed that the steaming time influenced the moistness, solidity, texture, color, appearance, taste, aroma, flavor and over all acceptance of the cake significantly. Panelist gave the highest  sensories quality  for 8 hours steaming. The 8 hour steaming showed that brown colored pigment formed adequate enough to colour the cake perfectly, and the volatile compound have been able to give distinctive flavor and aroma completely. The sensories quality of KDJ which was steamed fro 8 hours did not significantly differ with that steamed for 6 hours Keywords : kue delapan jam,  steaming time, sensory evaluation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran waktu pengukusan dalam pembentukan sifat sensoris kue delapan jam serta untuk mengungkap alasan yang mendasari kearifan lokal dalam mengukus kue ini. Perlakuan dalam penelitian ini adalah lamanya waktu pengukusan yang terdiri dari 2 , 4, 6, dan 8 jam. Evaluasi terhadap sifat sensoris kue delapan jam dilakukan oleh 30 panelis terlatih. Untuk mengetahui tahapan reaksi Maillard selama pengukusan dilakukan pengukuran indeks pencoklatan. Uji sensoris menunjukkan bahwa lamanya waktu pengukusan berpengaruh nyata terhadap sifat sensoris seperti moistness, kepadatan, tekstur, warna, kenampakan, rasa, aroma, flavor dan penerimaan secara keseluruhan. Panelis memberikan nilai tertinggi untuk kualitas sensoris kue yang dikukus selama 8 jam. Pengukusan selama 8 jam menunjukkan bahwa pigmen pencoklatan yang terbentuk sudah cukup memedai untuk memberikan warna coklat pada kue dan senyawa volatil yang terbentuk telah mampu memberikan flavor dan aroma kue yang khas. Mutu sensoris KDJ yang dikukus selama 8 jam berbeda tidak nyata dengan KDJ yang dikukus selama 6 jam  Kata kunci: kue delapan jam,  waktu pengukusan, evaluasi sensoris
Kaolin sebagai bahan pengisi pada pembuatan kompon karet: pengaruh ukuran dan jumlah terhadap sifat mekanik-fisik Daud, Dewantara
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 26, No 1 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.562 KB)

Abstract

This research aimed to examine the characteristics of rubber compounds using kaolin filler from Bangka Belitung. Research applied Completely Randomized Design (CRD) with 2 (two) factors, kaolin particle size (50 mesh, 100 mesh and 150 mesh) and amount of kaolin 50 Phr and 60 Phr with 3 (three) replications. Research results showed that particle size and amount of kaolin gave significant effect on characteristics of resulting rubber compound. The best treatment (optimal) is obtained in combination of size 150 mesh and 50 Phr using Babel’s kaolin, with compound characteristics hardness 59 Shore A, tensile strength 167 kg/cm2, abrasion resistance 289 DIN (mm3), hardness after aging 57 Shore A, tensile strength after aging 132 kg/cm2.Keywords : filler, kaolin, rubber compoundAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kompon karet menggunakan bahan pengisi kaolin dari daerah Bangka Belitung. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 (dua) faktor, yaitu ukuran partikel kaolin (50 mesh, 100 mesh dan 150 mesh) dan jumlah pemakaian atau penggunaan kaolin 50 Phr dan 60 Phr dengan 3 (tiga) kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel dan jumlah kaolin memberikan pengaruh terhadap karakteristik kompon karet yang dihasilkan. Perlakuan yang terbaik atau optimal diperoleh pada kombinasi ukuran 150 mesh dan 50 Phr menggunakan kaolin dari Babel yaitu pada kompon 1, dengan karakteristik kompon meliputi kekerasan 59 Shore A, tegangan putus167 kg/cm2, ketahanan kikis 289 DIN (mm3), ketahanan usang untuk kekerasan 57 Shore A, tegangan putus 132 kg/cm2.Kata kunci : bahan pengisi, kaolin, kompon karet
Penggunaan lilin dari minyak biji karet untuk pembuatan kain batik ., Luftinor
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 25, No 2 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.183 KB)

Abstract

The research aimed to study the use of wax from rubber seed oil and to get the right formula in the process of making batik fabric.  Research treatment included two kinds of wax, rubber seed oil and paraffin, with each composition was 3.0 kg, 2.5 kg, 2.0 kg, 1.5 kg, 1.0 kg, 0.5 kg, 0 kg and 0 kg, 0.5 kg, 1.0 kg, 1.5 kg, 2.0 kg, 2.5 kg, 3.0 kg. Batik wax with a formula which has been created was attached to the fabric according to the desired motifs, further staining process and pelorodan. The results showed that the melting point of the batik wax ranged 48-61°C, 70-90°C for plorodan temperature, motif excellent value range 2-5, color reflectance 7.443 to 9.125, color fastness to laundering 4-5, color fastness to rubbing 4-5 and color fastness to sunlight 4-5. Optimal conditions obtained in batik wax formula IV for mori fabric base with wax melting point 55°C, 80°C temperature plorodan, 4 (good) the value of perfection motif, 7.443 color reflectance, color fastness to washing, rubbing and sun with a value from 4 (good) to 4-5 (good). Formula III for silk fabric base, with a melting point of wax 53°C, 80°C plorodan temperature, the value of perfection motif 4 (good), color reflectance 8.619, color fastness to washing, rubbing and sun with a value from 4 (good) to 5 (very good).  Key words : rubber seeds, batik fabric, wax, plorodan AbstrakPenelitian bertujuan untuk mempelajari penggunaan lilin dari minyak biji karet dan mendapatkan formula yang tepat dalam proses pembuatan kain batik. Perlakuan penelitian meliputi dua jenis lilin yaitu minyak biji karet dan parafin dengan masing-masing komposisi adalah 3,0 kg, 2,5 kg, 2,0 kg, 1,5 kg, 1,0 kg, 0,5 kg, 0 kg dan 0 kg, 0,5 kg, 1,0 kg, 1,5 kg, 2,0 kg, 2,5 kg, 3,0 kg. Lilin batik  dengan formula yang telah dibuat dilekatkan pada kain sesuai dengan motif yang diinginkan, selanjutnya dilakukan proses pewarnaan dan pelorodan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik leleh lilin batik berkisar antara 48-61°C, suhu plorodan 70-90°C, nilai kesempurnaan motif berkisar 2-5, reflekstansi warna 7,443-9,125, ketahanan luntur warna terhadap pencucian 4-5, ketahanan luntur warna terhadap gosokan 4-5 dan ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari 4-5.  Kondisi optimal diperoleh pada lilin batik formula IV  untuk kain dasar mori dengan titik leleh lilin 55°C, suhu plorodan 80°C, nilai kesempurnaan motif 4 (baik), reflekstansi warna 7,443, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan dan matahari dengan nilai 4 (baik) sampai dengan 4-5 (baik). Formula III untuk kain dasar sutera, dengan titik leleh lilin 53°C, suhu plorodan 80°C, nilai kesempurnaan motif 4 (baik), reflekstansi warna 8,619,ketahanan luntur warrna terhadap pencucian, gosokan dan sinar matahari dengan nilai 4 (baik) sampai dengan 5 (sangat baik). Kata Kunci : Biji karet, Kain batik,  lilin, plorodan
Nano Brushing Rubber sebagai bahan pengisi dalam pembuatan karet tromol kendaraan bermotor roda dua Bondan, Aprillena Tornadez
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 24, No 2 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3643.913 KB)

Abstract

The purpose of this research was to determine the effect of the use of nano brushing rubber as a filler agent on the hardness, tensile strength, density and abrasion resistance parameters in the processing of motorcycle tromol rubber. This research used a completely randomized design (CRD) with 3 repetitions for each design, where the 2 formulas used nano-sized brushing rubber and 1 formula used nonnano-sized brushing rubber. Brushing rubber used was 100 nm (Formula P1), 200 nm (Formula P2) and without nano (Formula P3, for comparison). The test results showed that the rubber compound formula P1 (brushing rubber 100 nm) is better than formula P2 and P3, with the test result for hardness 57 Shore A, tensile strength 156 kg/cm2, density 1.177 gr/cm3 and abrasion resistance 224.8 mm3. The using of nanosized brushing rubber as a filler improved the increasing of physical properties of compound for tensile strength and density, but not for hardness and abrasion resistance parameters.Keywords: filler, nano brushing rubber, tromol rubber compound AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan nano brushing rubber yang digunakan sebagai bahan pengisi terhadap parameter kekerasan, kuat tarik, berat jenis dan ketahanan kikis dalam pembuatan kompon karet tromol kendaraan bermotor roda dua. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan masing-masing 3 kali pengulangan, dimana 2 formula menggunakan brushing rubber berukuran nano dan 1 formula menggunakan brushing rubber yang bukan berukuran nano. Brushing rubber yang dipergunakan adalah berukuran 100 nm (Formula P1), 200 nm (Formula P2) dan bukan berukuran nano (Formula P3, sebagai pembanding). Hasil pengujian kompon karet menunjukkan formula P1 (brushing rubber 100 nm) lebih baik dari formula P2 dan P3, dengan nilai kekerasan 57 Shore A, kuat tarik 156 kg/cm2, berat jenis 1,177 gr/cm3, dan ketahanan kikis 224,8 mm3. Ukuran brushing rubber yang semakin kecil sebagai filler berpengaruh terhadap kenaikan nilai kuat tarik dan berat jenis, namun tidak berpengaruh pada nilai kekerasan dan ketahanan kikis.Kata kunci : bahan pengisi, kompon karet tromol, nano brushing rubber
Penggunaan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan pelunak (FACTICE) dalam pembuatan kompon karet gelang ., Nuyah
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 24, No 2 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3223.006 KB)

Abstract

The research aimed to obtain the influence of utilizing crude palm oil as a factice for compound of rubber band, and also to find out the best rubber compound for rubber formula which fulfill the quality specification.The factice type used was crude palm oil (CPO) and the filler was silica with variations were formula 1 (Brown factice 30 g, without CPO and silica 60 g) as control, formula 2 (without CPO and silica 60 g), formula 3 (CPO 30 g and silica 60 g), formula 4 (CPO 60 g and silica 120 g), and formula 5 (CPO 90 g and silica 180 g). The result showed that the addition of crude palm oil and silica had significant effect on the hardness, tensile strength, elongation at break and density. The best treatment was found in formula 3 (CPO 30 g and silica 60 g) with hardness value 33 shore A, tensile strength 253 kg/cm2, elongation at break 890% and density 0,933 g/cm3.Keywords : brown factice, compound of rubber band, crude palm oil, silica AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan pelunak (factice) dalam pembuatan kompon karet gelang, serta mendapatkan formula kompon karet yang tepat dan memenuhi persyaratan. Jenis bahan pelunak yang digunakan dalam penelitian yaitu CPO, dan bahan pengisi (filler) silika dengan variasi perbandingan yaitu formula 1 (brown factice 30 g, tanpa CPO dan silika 60 g) sebagai kontrol, formula 2 (tanpa CPO dan silika 60 g), formula 3 (CPO 30 g dan silika 60 g), formula 4 (CPO 60 g dan silika 120 g), dan formula 5 (CPO 90 g dan silika 180 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan CPO dan bahan pelunak silika berpengaruh nyata terhadap kekerasan, tegangan putus, perpanjangan putus dan berat jenis. Perlakuan terbaik diperoleh pada formula 3 (CPO 30 g dan silika 60 g) dengan nilai kekerasan 33 shore A, tegangan putus 253 kg/cm2, perpanjangan putus 890% dan berat jenis 0,933 g/cm3.Kata kunci: brown factice, crude palm oil, silika, kompon karet gelang
Pengaruh kondisi penyimpanan terhadap pertumbuhan jamur pada gambir Indah Three Anova, Hendry Muchtar, Kamsina,
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 22, No 1 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3028.613 KB)

Abstract

Gambir is the extracted form of dried leaves and twigs of Uncaria gambier (Hunter) Roxb plant. Gambir is frequently experiencing quality decline due to unfavourable storage condition that accelerate the mold growth. The mold growth prevention has been done through a study by using teratments of package types (A) consisting of carboard paper (A1), plastic sack (A2), and jute sack (A3) as well storage conditions (B) consisting of open space at 25–290C with humidity of  70% (B1) and closed space/warehouse at 24–260C with humidity of  80% (B1). Observation was done for 12 weeks in term of mold growth, yeast types identification and water content. Results of mold type identification by using microscope showed the Aspergillus sp. genus consisting species of Aspergillus niger, Aspergillus fumigatus and Penicillium. The storage condition had effect on water content and mold growth. The lowest rate of water content increment during storage was found on A3B1 treatment (0.16%) and the highest one was on A2B1 treatment (0.64%). The lowest rate for weekly mold growth was found on A3B1 treatment (78,330 colony/g) at open spacestorage with temperature of 25–290C and humidity of  70% using yute sack. The yute sack package is better for storage of gambir product in term of water content increment and mold growth.Keywords: Gambir, storage, mold, quality AbstrakGambir adalah ekstrak dari daun dan ranting tanaman Uncaria gambier (Hunter) Roxb yang telah dikeringkan. Selama penyimpanan gambir sering mengalami penurunan mutu akibat kondisi penyimpanan yang tidak memadai sehingga mempercepat pertumbuhan jamur. Untuk menanggulangi tumbuhnya jamur telah dilakukan penelitian dengan perlakuan jenis kemasan (A) yaitu gambir dikemas dengan kertas karton (A1), karung plastik (A2) dan karung goni (A3) dan kondisi penyimpanan gambir (B) yaitu disimpan pada ruangan terbuka suhu 25–29 °C, kelembaban ± 70% (B1) dan ruang tertutup/gudang (suhu 24–26 °C, kelembaban ± 80% (B2). Pengamatan dilakukan selama 12 minggu terhadap pertumbuhan jamur, identifikasi jenis kapang dan uji kadar air. Hasil pengamatan jenis jamur dengan mikroskop teridentifikasi adalah jamur dengan genus Aspergillus sp. dengan jenis Aspergillus niger, Aspergillus fumigatus dan Penicillium. Kondisi penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air dan pertumbuhan jamur, kecepatan peningkatan kadar air selama penyimpanan terendah adalah perlakuan A3B1 (0,16%) dan yang tertinggi perlakuan A2B1 (0,64%). Peningkatan pertumbuhan jamur/minggu terendah terdapat pada perlakuan A3B1 (78.330 koloni/g) yaitu pada lingkungan penyimpanan di tempat terbuka pada suhu 25–29 °C dengan kelembaban ± 70% dengan memakai kemasan karung goni. Dilihat dari peningkatan kadar air dan pertumbuhan jamur, kemasan karung goni lebih baik untuk pengemasan produk gambir.Kata Kunci: gambir,penyimpanan, jamur, mutu
Penentuan sifat termofisik (Thermophysic Properties) temu lawak dan temu putih Manalu, Lamhot P.; ., Amos
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 22, No 2 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2162.062 KB)

Abstract

The most important limitation in process design for agricultural products is the lack of information on their thermal properties. Although a lot of experimental data can be found, the variety of products and the differences in measurement method make limitation on the value of the available data, especially for Indonesia’s products. These data are needed to get information about temperature change when product was processed like heating or cooling. It is worth due to optimizing the efficiency of energy. The objective of this study isto determine thermal diffusivity and conductivity of java turmeric and zedoary herbs. The values were determined numerically with indirect methods. The result shows that thermal conductivity of java turmeric and zedoary are 0.2797 W/moC and 0.1359 W/moC, respectively, while thermal diffusivity are 9.34x10-8 m2/s and 1.00x10-7 m2/s, respectively.Keywords : thermal properties, java turmeric, zrdoary, thermal conductivity, thermal diffusivity AbstrakDalam merancang suatu sistem proses dan peralatan pengolaan hasil pertaniandiperlukan pengetahuan tentang sifat-sifat panas suatu bahan diantaranya panas jenis, konduktivitas dan difusivitas panas. Nilai-nilai tersebut untuk produk pertanian lokal sangat jarang ditemukan, sehingga dalam aplikasinya sering digunakan data sifat panas dari literatur luar yang belum tentu sesuai dan tepat dengan produk dalam negeri, hal ini dapat menyebabkan terjadinya bias dalam perhitungan dan perancangan. Studi ini bertujuan untuk menentukan sifat-sifat/properti panas dari tanaman obat temu lawak dan temu putih. Hasil studi mendapatkan bahwa nilai panas konduktivitas panas temu lawak dan temuputih masing-masing adalah 0.2797 W/moC dan 0.1359 W/moC, sedangkan nilai difusivitas panasnya masing-masing adalah 9.34x10-8 m2/detik dan 1.00x10-7 m2/detik.Kata Kunci : sifat panas, temu lawak, temu putih jenis, konduktivitas, difusivitas panas
Pengaruh temperatur terhadap pembentukan pori arang cangkang sawit sebagai adsorbansi Nasution, Zainal Abidin; Rambe, Siti Masriani
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 22, No 2 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2180.358 KB)

Abstract

Had been conducted to influence temperature in burning process for getting carbon (C) and palm shell pore, that’s important to explore activated carbon otherwise useful for absorption. Carbonization process had been done for palm shell became activated carbon product varied with temperature to know the difference. Carbonization process had done with vacuum furnace with temperature 500 oC and 1000 oC, each as 40 minutes. During carbonization process, many smoke out at temperature 500 oC and after temperature 1000 oC no anymore smoke out. After that condition, it will getting activated carbon and thus it will done testing laboratory XRF to determine the composition. Testingresult shows that forming the graphite phase to all carbon obtained result content of carbon to high enough as 48 % for 500 oC and 50 % for 1000 oC. Testing Laboratory for SEM shows that for forming porous size was obtained 10 μm for 500 oC and 5 μm for 1000 oC. Temperature higher will getting large amount porous palm shell. Large amount active palm shell will good for using as absorber.Keywords: Carbonization, palm shell , activated carbon, temperature, porous AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh temperatur dalam proses pembakaran dalam proses pembentukan unsur karbon (C ) dan jari – jari pori arang cangkang sawit, sebagai salah satu hal penting untuk mengetahui arang cangkang sawit dapat digunakan sebagai penyerap. Proses karbonisasi dilakukan pada cangkang sawit menjadi arang dengan variasi temperatur guna mengetahui perbedaannya. Proses karbonisasi dilakukan dengan menggunakan tungku vacuum furnace dengan variasi 500 oC dan 1000 oC selama 40 menit. Selama proses karbonisasi, cangkang sawit banyakmengeluarkan asap pada temperatur mencapai 500 oC dan pada pembakaran 1000 oC. Setelah diperoleh temperatur yang ditentukan, arang cangkang sawit akan terbentuk lalu dilakukan uji XRF untuk mengetahui komposisi unsurnya dan SEM guna mengetahui besarnya jari – jari pori arang tersebut. Hasil XRF menunjukkan data pembentukan fase grafit di semua karbon yang dihasilkan dan diperoleh jumlah unsur karbon cukup tinggi yaitu sekitar 48 % untuk temperatur 500 oC dan 50% pada 1000 oC. Hasil uji laboratorium dengan menggunakan alat SEM menunjukkan bahwa pembentukan ukuran pori-pori diperoleh 10 μm (macropori) untuk temperatur 500 oC dan untuk temperatur 1000 oC diperoleh hasil ukuran pori sebesar 5 μm. Semakin tinggi temperatur pemanasan, jumlah yang lebih besar terbentuk pori pori dan karbon yang dihasilkan semakin tinggi. Dengan banyaknya jumlah pori yang dihasilkan maka akan semakin baik digunakan sebagai penyerap.Kata Kunci: Karbonisasi, cangkang sawit, arang aktif, temperatur, pori-pori
Pada benang poliester untuk kain songket Palembang ., Luftinor
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 23, No 1 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1914.989 KB)

Abstract

Research polyester yarn dyeing using disperse dyes temperature high systems have been carried out in order to get the exact coloration of polyester yarn and the yarn can be used for the manufacture of Palembang songket cloth. Coloring process is done by varying the temperature of a solution of disperse dyes respectively 110 oC, 120 oC, 130 oC and 140 oC, the coloring process each 15 minutes, 30 minutes, 45 minutes and 60 minutes. Yarn dyeing results of testing the color of old age, color fastness to washing and color fastness to rubbing. Increase the temperature of dye solution and the aging process can improve the color staining, while the color fastness to washing and color fastness to rubbing tends to remain. Optimal condition is obtained at a temperature of 130 °C dyesolution and the staining process produces aging 45 minute color (the value of K/S) 24.40, color fastness to washing each worth 5 (very good) for color change and staining, resistance color fastness to rubbing is worth 5 (very good) for the dry rub and 4.5 (good) for wet rubbing.Keywords : Songket cloth, polyester, coloring, high temperature AbstrakPenelitian pewarnaan benang poliester dengan menggunakan zat warna dispersi sistem temperatur tinggi telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan proses pewarnaan benang poliester yang tepat dan benangnya dapat digunakan untuk pembuatan kain songket Palembang. Proses pewarnaan dilakukan dengan memvariasikan temperatur larutan zat warna dispersi masing-masing 110 oC, 120 oC, 130 oC dan 140 oC, waktu proses pewarnaan masing-masing 15 menit, 30 menit, 45 menit dan 60 menit. Benang hasil pewarnaan dilakukan pengujian berupa ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan luntur warna terhadap gosokan. Meningkatkan temperatur larutan zat warna dan waktu proses pewarnaan dapat meningkatkan ketuaan warna, sedangkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan lunturwarna terhadap gosokan cenderung tetap. Kondisi optimal diperoleh pada temperatur larutan zat warna 130 oC dan waktu proses pewarnaan 45 menit menghasilkan ketuaan warna (nilai K/S) 24,40, ketahanan luntur warna terhadap pencucian masing-masing bernilai 5 (sangat baik) untuk perubahan dan penodaan warna, ketahanan luntur warna terhadap gosokan bernilai 5 (sangat baik) untuk gosokan kering dan 4,5 (baik) untuk gosokan basah.Kata kunci : Kain songket, poliester, pewarnaan, suhu tinggi

Page 1 of 38 | Total Record : 378


Filter by Year

2010 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 2 (2021): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 32, No 1 (2021): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 31, No 2 (2020): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 31, No 1 (2020): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 30, No 2 (2019): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 30, No 1 (2019): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 29, No 2 (2018): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI0 Vol 29, No 2 (2018): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 29, No 1 (2018): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 29, No 1 (2018): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 28, No 2 (2017): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 28, No 1 (2017): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 28, No 2 (2017): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 28, No 1 (2017): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 27, No 2 (2016): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 27, No 1 (2016): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 27, No 2 (2016): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 27, No 1 (2016): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 26, No 2 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 26, No 1 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 26, No 2 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 26, No 1 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 25, No 2 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 25, No 1 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 25, No 2 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 25, No 1 (2014): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 24, No 2 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 24, No 1 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 24, No 2 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 24, No 1 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 23, No 2 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 23, No 1 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 23, No 2 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 23, No 1 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 22, No 2 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 22, No 1 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 22, No 2 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 22, No 1 (2011): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI Vol 21, No 2 (2010): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN Vol 21, No 1 (2010): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN Vol 21, No 2 (2010): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN Vol 21, No 1 (2010): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN More Issue