HMS Chandra Kusuma
Divisi Respirologi-Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ekspresi IFN-γ dan IL-4 CD4+T Limfosit pada Tuberkulosis Kontak terhadap Antigen 38 Kda Mycobacterium tuberculosis Nugrahani, Iin Trilistiyanti; Kusuma, HMS Chandra; Raras, Tri Yudani Mardining; Arthamin, Maimun Zulhaidah; Astuti, Tri Wahju; Tanoerahardjo, Francisca
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.8

Abstract

Mengendalikan epidemi tuberkulosis pada anak adalah prioritas kesehatan global. Efikasi vaksin Bacillus of Calmette and Guerin (BCG) sangat bervariasi sehingga memerlukan pengembangan vaksin baru. Antigen rekombinan 38 Kda Mycobacterium tuberculosis sebagai kandidat vaksin harus melalui uji imunogenitas. Tujuan studi ini untuk mengidentfikasi apakah antigen  38 Kda dapat menstimuli ekspresi IFN-γ dan IL-4 limfosit TCD4+ pada kultur PBMC anak dengan kontak TB. Studi ini dilakukan pada kultur PBMC dari 8 kontak TB dan 8 anak sehat yang diinduksi oleh antigen 38 Kda (kelompok 1), PPD (kelompok 2) dan tanpa perlakuan (kelompok 3). Ekspresi IFN-γ dan IL-4 limfosit TCD4+ diukur dengan flowcytometry. Rerata kadar IFN-γ untuk kontak TB tertinggi pada kelompok 3 (p=0,76), sedangkan rerata IL-4 tertinggi pada kelompok 2(p=0,68).RerataIFN-γ untukkelompok sehattertinggi pada kelompok3(p=0,78) sedangkanrerata IL-4 tertinggi pada kelompok 2 (p=0,32). Rerata ekspresi IFN-γ dan IL-4 yang diinduksi oleh antigen 38 Kda, masing-masing lebih tinggi pada kontakTB daripada subjek sehat (p=0,62 dan 0,39). Pengaruh respon imun yang protektif ditunjukkan oleh rasio ekspresi IFN-γ dan IL-4 yang lebih dari 1, baik pada kontak TB dan sehat (1,22 dan 1,28). Tidak ada perbedaan signifikan antara perlakuan pemberian antigen38 kDa, PPD dan tanpa perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa antigen 38 Kda dapat menstimuli  ekspresi IFN-γ dan IL-4 limfosit TCD4+pada kultur PBMC kontak TB. Kata Kunci: Antigen rekombinan 38 Kda, Mycobacterium tuberculosis, IFN-γ, IL-4, limfositTCD4+
Efek Pemberian Imunoterapi, Probiotik, Nigella sativa terhadap Th17, Neutrofil, dan Skoring Asma Muhyi, Annisa; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.816 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.14

Abstract

Peran Th17 dalam patogenesis asma dan imunoterapi menjadi konsep dan paradigma terbaru. Imunoterapi merupakan salah satu manajemen di dalam asma dan memerlukan waktu yang lama sehingga sering mengakibatkan kegagalan terapi. Terapi adjuvant antara lain probiotik dan Nigella sativa diduga dapat meningkatkan efektifitas imunoterapi. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek pemberian imunoterapi, probiotik dan/atau Nigella sativa terhadap jumlah sel Th17, neutrofil dan skoring asma pada anak asma selama imunoterapi fase rumatan. Penelitian dilakukan pada  31 anak yang dikelompokkan secara acak yaitu imunoterapi plus plasebo atau imunoterapi plus Nigella sativa atau imunoterapi plus probiotik atau imunoterapi plus Nigella sativa plus probiotik selama 56 minggu. Pengukuran jumlah sel Th17 dan neutrofil dilakukan menggunakan flowsitometri setelah perlakuan. Asthma Control Test dilakukan untuk mengevaluasi gejala klinis. Data dianalisis menggunakan uji komparasi Anova One Way dan  uji korelasi Pearson. Hasil menunjukkan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah sel Th17 dan neutrophil antara kelompok perlakuan (p-value 0,199 dan 0,326). Asthma control test secara bermakna didapatkan perbedaan antara perlakuan imunoterapi plus probiotik dibandingkan imunoterapi saja. Skoring asma pada kelompok perlakuan imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi (22,6). Jumlah sel Th17, neutrofil dan ACT menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak bermakna secara statistik (r=-0,2) (p= 0,156). Jumlah sel Th17 dan neutrofil tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Skoring asma pada kelompok imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara Th17, neutrofil dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoterapi, neutrofil, Nigella sativa, probiotik, sel Th17, skoring asma
PENINGKATAN EKSPRESI INTERLEUKIN (IL)-4 BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN BAX DAN APOPTOSIS LIMFOSIT PADA BRONKIOLUS DAN PARU MENCIT ASMA Yuliarto, Saptadi; Kusuma, HMS Chandra; Widjajanto, Edi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.17 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.03.2

Abstract

Decrease of lymphocyte  apoptosis is  one factor  that  leads  to  chronic airway inflammation  in  allergic asthma. Previous  studies  revealed  the  role  of  interleukin  (IL)-4  in  preventing  lymphocyte  apoptosis;  however  there  are few  studies  about  the  role  of  lymphocyte-Bax  and  its  relationship  with  IL-4  in  asthma.  The  aim  of  the  study  is  to demonstrate IL-4 role in preventing lymphocyte apoptosis via lymphocyte-Bax inactivation in bronchioli and lungs  of  asthmatic  mice.  It  is  a  randomized  control  group  experimental  study .  The  subject  was  Balb/c  mice  that categorized  into  2  groups:  asthma  and  non-asthma.  Asthma  group  was  sensitized  by  ovalbumin intraperitoneally  in  day  0  and  14,  followed  by  inhalation  every  2-3  days  for  6  weeks.  In  week  8,  all  of  mice were terminated.  The  IL-4  and  lymphocyte-Bax  expression  was  examined  through  immunohistochemistry  method, whereas  lymphocyte  apoptosis  by  TUNEL  method.  Independent  sample  t-test,  Mann  Whitney  U  test, regression  analysis,  and  path  analysis  was  used  in  statistical  analysis  with  confident  interval  95%.  The bronchioli and lungs specimens were obtained from 18 mice (9 in each group). Lymphocyte apoptosis was similar between 2 groups (p=0.1 16), additionally lymphocyte-Bax  decreased in  asthmatic group (p=0.003). This  indicated  low  activity  of  lymphocyte  apoptosis  in  asthmatic  group.
PENINGKATAN EKSPRESI IFN-γ PADA PARU MENCIT YANG DIINDUKSI PROTEIN ADHESIN 38- KDA MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DAN ISCOM PER ORAL Udin, M Fahrul; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.921 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.3

Abstract

Studi menemukan bahwa vaksin tuberkulosis memberikan respon imun seluler bervariasi terhadap hemaglutinin protein 38 kDa M. tuberkulosis, suatu protein adhesin pada enterosit tikus. Protein tersebut dapat menginduksi sekresi S-IgA ke dalam lumen usus dan lumen bronkiolus. Immune stimulating complex (ISCOM) adalah bahan pembantu yang efektif meningkatkan respon kekebalan. Ekspresi IFN-? menunjukkan respon imun seseorang terhadap mikroba seperti virus dan bakteri serta produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pemberian 38-kDa protein adhesin dengan atau tanpa kombinasi ajuvan ISCOM secara oral dapat menginduksi ekspresi IFN-? pada jaringan paru mencit BALB/c. Metode eksperimental dilakukan dengan 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok terpapar protein adhesin 38-kDa, kelompok yang hanya terpapar ajuvan ISCOM dan kelompok terpapar kombinasi protein adhesin 38-kDa dengan ISCOM. Ekspresi IFN-? diukur dengan pewarnaan imunohistokimia. Analisis statistik dengan Kruskall Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ekspresi IFN-? pada semua kelompok perlakuan. Uji perbandingan multipel Mann Whitney menyatakan bahwa terdapat peningkatan ekspresi IFN-? secara signifikan dalam kombinasi protein adhesin dengan ajuvan ISCOM (mean±SD=126±17, p=0,000) bila dibandingkan dengan kelompok lain. Paparan dengan ISCOM saja mampu menginduksi ekspresi IFN-? secara signifikan bila dibandingkan dengan kontrol (p=0,000). Pemberian protein adhesin 38 kDa M. tuberculosis mampu menstimulasi ekspresi IFN-? pada jaringan paru mencit BALB/c, dan penambahan ISCOM akan meningkatkan efek.Kata Kunci: 38-kDa adhesin protein, interferon gamma, Mycobacterium tuberculosis, oral vaccination , paru
Potensi Kadar Neopterin sebagai Biomarker untuk Monitoring Kemajuan Terapi TB Paru pada Anak Sholeh, Aunillah Hamid; Raras, TY Mardining; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.7

Abstract

Kadar neopterin plasma ditemukan berhubungan dengan efikasi terapi pada tuberkulosis paru pasien dewasa. Penanda biologis untuk diagnosis tuberkulosis pada anak masih terus diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi peran neopterin sebagai penanda biologis untuk mengevaluasi keberhasilan terapi standar tuberkulosis paru pada anak. Sebanyak 25 pasien dengan tuberkulosis paru diikuti selama enam bukan. Kadar neopterin plasma diukur dengan metode ELISA sebelum terapi, 2, 4, dan 6 bulan sesudah terapi. Sepuluh anak sehat ditetapkan sebagai kontrol. Hasil menunjukkan pada semua pasien kadar neopterin tertinggi didapatkan sebelum terapi dengan rerata 0,27 (SD 0,09c ) ng/mL. Kadar neopterin plasma pada kelompok kontrol  1,50 (SD 0,18) ng/mL, sebelum terapi 1,12 (SD 0,22) ng/mL, bulan kedua 1,08 (SD 0,22) ng/mL, bulan keempat 0,97 (SD 0,35) ng/mL, dan bulan keenam 0,45 (SD 0,29) ng/mL. Kadar neopterin tertinggi didapatkan sebelum terapi yang kemudian menurun secara bertahap sesuai terapi bersamaan dengan perbaikan gejala klinis. Kadar neopterin pada kontrol lebih tinggi dibandingkan pasien selama masa pengamatan. Dapat disimpulkan kadar neopterin plasma mempunyai potensi sebagai biomarker kemajuan terapi tuberkulosis paru anak.Kata Kunci: Anak, biomarker, neopterin plasma, terapi, tuberkulosis paru
Peningkatan Jumlah Apoptosis Airway Smooth MuscleBerhubungan dengan Peningkatan + Jumlah Sel T CD8 pada Model Mencit Asma Setiawati, Dessy; Kusuma, HMS Chandra; Kusworini, Kusworini
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.727 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.03.4

Abstract

Airway  remodeling  is  an  important  thing  in  asthma.The  increase  of  airway  smooth  muscle  mass  is  a prominent  feature  of  asthmatic  airway  remodeling.  The importance  role  of  airway  smooth  muscle cell  (ASM) + apoptosis in airway remodeling is unknown.T cell also had important role in asthma, whereas CD4 T cell +role  in  airway  remodeling  has  already  known,  but  how  CD8   T cell  role  in  airway  remodeling  is  still  unclear.  A randomized  control  group experimental study  used Balb/c mice, that  categorized into  2 groups: asthma and control.  Asthma group was sensitized by ovalbumin intraperitoneally  in  day 0 and 14, followed  by inhalation +every  2-3  days  for  6  weeks.  In  week  8,  all  of  mice  were  terminated.   The  expression  of  CD8   T  cell  lymphocyte was  examined  through  immunohistochemistry  method,  whereas  ASM  apoptosis  by  TUNEL  method. Independent sample t-test and spearman test was used in statistical analysis with confident interval 95%. The  bronchioli  and  lungs  specimens  were  obtained  from  18  mice  (9  in  each  group).  Case  goup  had  significant +increase  in  the  amount of ASM apoptosis and expression of CD8   T cell lymphocyte  (p=0.000;  p=0.001). +There was also positif correlation between  ASM apoptosis and expression of CD8   T cell (r=0.37,  p=0.065). +We  conclude  that  increasing  ASM  apoptosis  has  a  relationship  with  increasing  CD8   T  cell+Keywords:  asthma,  mice,  ovalbumin,  ASM  apoptosis  and  CD8   T  cell
Perbedaan Skor ACT, CD4+CD25+Foxp3treg, CD4+IFN-γ pada Pemberian Imunoterapi, Probiotik dan Nigella Sativa Sumantri, Debby Christinne; Sumarno, Sumarno; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.5

Abstract

Probiotik dan Nigella sativa memiliki efek imunomodulator dan telah banyak banyak dikaji penggunaannya dalam kombinasi dengan imunoterapi asma. Imunoterapi dapat merubah perjalanan alamiah asma yang melibatkan perubahan respon imun Th2 menjadi Th1 dengan peningkatan IFN-γ. Proses tersebut juga berhubungan dengan pembentukan Tregulator, tetapi belum jelas mekanisme mana yang lebih dominan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor ACT serta jumlah sel CD4+CD25+FoxP3Treg dan CD4+IFN-γ pada anak asma ringan yang mendapat imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa. Penelitian dilakukan dengan desain randomized clinical trial posttest only with control pada 32 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dalam 4 kelompok yaitu kelompok A (imunoterapi+plasebo), kelompok B (imunoterapi+Nigella sativa), kelompok C (imunoterapi+probiotik), dan kelompok D (imunoterapi+Nigella sativa+probiotik). Perlakuan diberikan selama 56 minggu (imunoterapi fase induksi 14 minggu dan fase rumatan 42 minggu). Imunoterapi berupa ekstrak house dust mite diberikan subkutan, probiotik berupa Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis, dengan penilaian skoring asma menggunakan Asthma Control Test (ACT). Jumlah sel CD4+CD25+FoxP3+Treg dan CD4+IFN-γ diukur menggunakan flowcytometry. Hasil menunjukkan skor ACT kelompok C lebih tinggi bermakna dibandingkan kelompok A (p=0,04). Jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg paling tinggi pada kelompok D (15,966±9,720) , sedangkan jumlah CD4+IFN-γ paling tinggi pada kelompok C (17,506±11,576), tetapi tidak didapatkan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg (p=0,278) dan CD4+IFN-γ (p=0,367) antar semua kelompok. Dapat disimpulkan bahwa Imunoterapi+probiotik dapat meningkatkan skor ACT lebih baik dibandingkan imunoterapi saja. Imunoterapi, Nigella sativa, dan probiotik tidak memberikan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3 Treg dan CD4+IFN-γ.Kata Kunci: Asthma Control Test, CD4+CD25+FoxP3+Treg, CD4+IFN-γ, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik
Efek Imunoterapi, Probiotik, Nigella Sativa terhadap Rasio CD4+/CD8+, Kadar Imunoglobulin E, dan Skoring Asma Fattory, Hittoh; Endharti, Agustina Tri; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.13

Abstract

Imunoterapi alergen-spesifik dan reduksi alergen merupakan intervensi pada penyakit alergi yang berpotensi untuk mengurangi gejala alergi jangka panjang. Penurunan sel T CD4+ dan CD8+ type 2 berkorelasi erat dengan mekanisme regulasi dari imunoterapi. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya rasio sel T CD4+/CD8+, kadar imunoglobulin E (IgE) dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), pre-post control study untuk rasio sel T CD4+/CD8+, kadar IgE dan skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Semua perlakuan diberikan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit (cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test. Rasio sel T CD4+/CD8+ diukur dengan flowcytometry, dan kadar IgE diukur menggunakan Chemiluminescence Enzyme Immunoassay. Hasil penelitian menunjukkan rasio sel T CD4+/CD8+ meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,027), imunoterapi+probiotik (p=0,001), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,046). Kadar IgE tidak berbeda bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.,993), kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,756), imunoterapi+probiotik (p=0,105), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,630). Skoring asma meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.000), imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Sebagai kesimpulan, pemberianimunoterapi dengan ajuvan probiotik danatau Nigella sativa dapat meningkatkan secara bermakna rasio sel T CD4+/CD8+ dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoglobulin E, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, rasio sel T CD4+/CD8+, skoring asma
Pengaruh Imunoterapi, Probiotik dan Jinten Hitam terhadap CD4+IFNγ, Eosinofil, dan Skor Asma Ratih, Indira; Kusuma, HMS Chandra; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.744 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.5

Abstract

Mekanisme patofisiologi asma terjadi berdasarkan proses inflamasi jalan nafas yang dipicu oleh limfosit T, dan berhubungan dengan berlebihnya produksi sitokin tipe 2 relatif terhadap sitokin tipe 1. Interferon-γ yang diproduksi oleh sel CD4+ merupakan antagonis IL-4 dan IL-5 yang berperan dalam patofisiologi asma. Pada asma juga terjadi eosinofilia bronkial yang merupakan penanda terjadinya proses inflamasi pada asma. Imunoterapi merupakan salah satu pengobatan pada asma yang menyebabkan pergeseran Th2 ke Th1 tetapi masih memliki beberapa keterbatasan, sehingga perlu penelitian baru mengenai ajuvan seperti probiotik dan jinten hitam untuk meningkatkan efektivitas dari imunoterapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik dan jinten hitam terhadap jumlah CD4+IFNγ, eosinofil dan perbaikan klinis pada anak asma yang mendapatkan imunoterapi fase rumatan. Penelitian ini merupakan penelitian randomized clinical trial. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok (imunoterapi dan plasebo, imunoterapi dan probiotik, imunoterapi dan jinten hitam, serta imunoterapi, probiotik dan jinten hitam). Parameter imunologis diperiksa menggunakan flowcytometry dan perbaikan klinis dinilai menggunakan skor ACT. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dari CD4+IFNγ dan eosinofil darah jika dibandingkan antar 4 kelompok. Skor ACT menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah perlakuan pada semua kelompok. Dengan demikian, pemberian adjuvan probiotik atau jinten hitam, maupun kombinasi keduanya dapat meningkatkan perbaikan klinis pada penderita asma ringan, namun tidak menunjukkan perbedaan parameter imunologis antara lain CD4+IFNγ dan eosinofil.Kata Kunci: ACT, asma, CD4+IFNγ, eosinofil, imunoterapi, jinten hitam, probiotik
Penundaan Makanan Padat Mengurangi Risiko Timbulnya Atopi pada Anak Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra; HM, Ni Luh Putu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.407 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.03.3

Abstract

Nutritions  plays  an  important  role  in  the  incidence  of  atopic  both  in  children  and  adults.  Several  recent guidelines  recommend  a  delay  of  solid  foods  to  prevent  atopic  disease.  However,  until  now,  there  is  still  much controversy  about  the  influence  a  delay  of  solid  foods  in  children  to  develop  atopic   disease.  This  study  aimed to  determine  the  impact  of  the  start  time  of  solid  foods  to  atopic  children.  A  case-control  study  was conducted in  outpatient  institutions  Pediatrics RSSA  Malang from  May 2008  until  May 2009.  Respondents were divided into two groups: atopic (cases) and non atopic (control) based on history of atopic disease. The age of first given  solid  food  and  familial  atopic  were retrieved  based  on  history .  Statistical analysis  using  Chi-square test at 95%    level  of confidence,  was conducted  to  determine the  impact  of the  start  time  of solid  food  to  the incidence  of  atopic.  There were 236  patients  divided  equally  into  atopic  and  control  group.  Giving solid  foods at 4-6 months of age will increase  the  risk  of atopic compared  with age> 6 months (OR  2.8 (1.29  to  6.07), p = 0.007).  The  results  of  this  study  support  the  recommendations  given  by  WHO, that  the  postponement  of  solid food  until  age  6  months  would  reduce  the  incidence  of  atopic  risk  in  children.Keywords  :  postponement  ,  solid  food,  atopic  diseases,  sensitization