Harun Al Rasyid
Program Studi Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kadar Prokalsitonin dan Interleukin-6 sebagai Penanda Prognostik pada Pasien Pneumonia dengan Sepsis Siahaan, Sylvia Sagita; Putra, Ngakan Putu; Sugiri, Yani Jane; Rasyid, Harun Al
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.6

Abstract

Pneumonia merupakan sepuluh besar kasus rawat inap dengan tingkat kematian 7,6%. Pneumonia dengan sepsis membutuhkan terapi suportif dan perawatan intensif karena tingkat kematian tinggi. Untuk memperbaiki kualitas perawatan dan hasil terapi yang lebih baik, perlu pengkajian dini diagnostik maupun prognostik. Prokalsitonin (PCT) dan Interleukin-6 (IL-6) merupakan penanda infeksi berat dan sepsis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa apakah PCT dan IL-6 dapat digunakan bersama-sama untuk menentukan prognosis pasien pneumonia dengan sepsis dalam hubungannya dengan status mortalitas pada hari ke-30. Penelitian kohort dilakukan pada Oktober 2018 dilakukan di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, melibatkan 40 pasien pneumonia dengan sepsis tanpa diabetes, kanker, HIV dan kehamilan. Sequential Organ Failure Assesment (SOFA) score dihitung dan sampel darah diambil pada hari ke-0 dan ke-5 perawatan untuk mengukur kadar PCT dan IL-6. Status mortalitas pasien dilihat pada hari ke-30 sejak masuk rumah sakit. Dari 40 pasien, 23 pasien hidup (57,5%) dan 17 pasien meninggal (47,5%). Perbandingan antara kelompok hidup dan meninggal menunjukan perbedaan bermakna dan secara signifikan berhubungan dengan mortalitas pada SOFA score hari ke-5 (p<0,001; OR: 78,75, CI 95% (9,948-623,414)), kadar IL-6 hari ke-5 (p<0,05; OR: 9,208, CI 95% (2,146-39,521)) dan kadar PCT hari ke-5 (p<0,05; OR: 4,190, CI 95% (1,104-15,901)). Hasil uji regresi logistik, didapatkan bahwa IL-6 hari ke-5 dan SOFA score hari ke-5 dapat digunakan sebagai faktor prognostik mortalitas pasien pneumonia dengan sepsis hari ke-30, artinya SOFA score diatas 6 dan kadar IL-6 diatas 332pg/mL pada hari ke-5, merupakan faktor penting dari kematian pasien (AUC: 0,935).
Segmentasi Geografi dan Perilaku Berpengaruh terhadap Keputusan Memilih Layanan Rawat Inap di Rumah Sakit Tae, Vidria Handayani; Hariyanti, Tita; Rasyid, Harun Al
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.098 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.13

Abstract

Rendahnya pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit menandakan rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran sosial. Segmentasi pengguna layanan kesehatan merupakan salah satu strategi untuk mendefinisikan kebutuhan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan segmentasi pengguna dengan keputusan memilih layanan rawat inap di rumah sakit. Responden dalam penelitian yang berdesain cross sectional ini adalah penduduk dari 7 kecamatan yang berusia ≥18 tahun sejumlah 279 orang dan pernah memanfaatkan layanan rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan lembar kuesioner dengan variabel segmentasi geografi, segmentasi demografi, segmentasi psikografi dan segmentasi perilaku sebagai variabel independen. Analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menemukan bahwa seluruh variabel independen secara bersama-sama berhubungan signifikan (β=10,960 dan p=0,000) dengan keputusan memilih layanan rawat inap di rumah sakit. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa hanya segmentasi geografi (β=-0,131 dan p=0,016) dan perilaku (β=0,385 dan p=0,000) berhubungan dengan keputusan memilih layanan rawat inap di rumah sakit. Kata Kunci: Layanan rawat inap, keputusan membeli, segmentasi pasar
RELATIONSHIP BETWEEN THE RANDOM BLOOD GLUCOSE LEVELS DURING ADMISSION AT EMERGENCY ROOM WITH CLINICAL OUTPUT IN ACUTE ISCHEMIC STROKE PATIENTS Munir, Badrul; Rasyid, Harun Al; Rosita, Rizky
Malang Neurology Journal Vol 1, No 2 (2015): July
Publisher : Malang Neurology Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.572 KB) | DOI: 10.21776/ub.mnj.2015.001.02.2

Abstract

Background. High blood glucose level occurs on 20-50% acute ischemic stroke patients. Hyperglycemia can worsen neurology disorder of patients.Objective. To find out the relationship between random blood glucose level and clinical outcome on patients with acute ischemic stroke measured with NIHSS.Methods. Observational using stroke registry of acute ischemic stroke patients. There are 38 patients involved in this research.Results. Using Spearman shows an insignificant correlation between random blood glucose level and NIHSS output (p=0.548). However, random blood glucose level and NIHSS input shows a significant correlation (p=0.011). The result of Chi-Square test on correlation between random blood glucose level and NIHSS output shows an insignificant correlation (p=1), in contrast, random blood glucose level and NIHSS input and improvement shows a significant correlation (p=0.024 and p=0.047).Conclusion. There is no correlation between random blood glucose level at initial care and clinical outcome on patients suffering acute ischemic stroke. However, normal random blood glucose level shows had better improvement and they had tendency to get better outcome.
Pengaruh Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Perawat tentang Flebotomi terhadap Kualitas Spesimen Laboratorium Wuryaning Lestari, Eky Indyanty; Rasyid, Harun Al; Thoyib, Armanu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.284 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.17

Abstract

Kesalahan pra-analitik memberikan kontribusi paling besar pada kesalahan di laboratorium (46-77,1%). Pelaksanaan pengambilan spesimen (flebotomi) yang tidak tepat, kurangnya pengetahuan dan ketidakpatuhan dari petugas flebotomi dilaporkan sebagai penyebab kesalahan pra-analitik yang berhubungan dengan kualitas spesimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat tentang tindakan flebotomi serta pengaruhnya terhadap kualitas spesimen. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 129 orang perawat pelaksana di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Jombang dengan masa kerja minimal 1 tahun dipilih secara acak. Pengetahuan dan sikap responden tentang tindakan flebotomi diukur menggunakan kuesioner. Perilaku dan kualitas spesimen diukur melalui observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah korelasi Spearman, independent sample t-test, dan multiple logistic regression. Terdapat korelasi positif yang bermakna antara pengetahuan perawat dan kualitas spesimen (r=0,190; p=0,031). Tidak terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor sikap perawat tentang flebotomi berdasarkan kualitas spesimen laboratorium (p=0,698) dan tidak terdapat korelasi antara perilaku perawat dan kualitas spesimen (r=0,017; p=0,846). Pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat tidak berpengaruh terhadap perubahan kualitas spesimen, diduga faktor peralatan yang digunakan untuk flebotomi memiliki peran dalam penentuan kualitas spesimen. Peningkatan pengetahuan, mempertahankan sikap positif, memperbaiki sikap negatif serta merevisi SPO pengambilan darah perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.Kata Kunci: Kesalahan pra-analitik, kualitas spesimen, pengetahuan, perawat, perilaku, sikap
THE RELATIONSHIP OF CARPAL TUNNEL SYNDROME CLINICAL SYMPTOMPS AND ELECTRONEUROMYOGRAPHY RESULTS IN RSSA MALANG Kurniawan, Shahdevi Nandar; Husna, Machlusil; Rasyid, Harun Al; Bilqis, Nadiya Elfira
Malang Neurology Journal Vol 2, No 1 (2016): January
Publisher : Malang Neurology Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.483 KB) | DOI: 10.21776/ub.mnj.2016.002.01.5

Abstract

Background. Carpal tunnel syndrome (CTS) is caused by entrapment neuropathy of the median nerve in the carpal tunnel that can be detected with electroneuromyography (ENMG).Objective. To determine whether there are significant differences in parameters of ENMG examination between CTS groups with mild-to-moderate and severe clinical symptoms.Methods. The study design was observational analytic using cross sectional design approach of the patient's medical record data as many as 61 samples.Results. From 61 samples, there were dominancy of age ≥ 40 years old as many as 80.32% and gender female as many as 88.52%. There was no significant differences in age and gender between the two groups (p=0.073 and p=1.000 respectively). Sensory amplitude, MSDL, and Ring Diff are significantly different between the two groups (p=0.005, p=0.020, and p=0.031 respectively). There are no significant difference of motor amplitude and MMDL between the two groups (p=0.384 and p=0.196 respectively).Conclusion. Sensory amplitude value having a relationship with the severity of clinical symptoms. ENMG examination and clinical symptoms of CTS were independent parameters, that should not be used alone to make a diagnosi both of them could enhance the accuracy of diagnosis.
ATTENTION AND INTERNATIONAL HIV DEMENTIA SCALE (IHDS) DO NOT CORRELATE WITH CD4 COUNT IN HIV PATIENTS Arofah, Annisa Nurul; Rianawati, Sri Budhi; Rasyid, Harun Al; Rahayu, Masruroh
Malang Neurology Journal Vol 4, No 2 (2018): July
Publisher : Malang Neurology Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.878 KB) | DOI: 10.21776/ub.mnj.2018.004.02.1

Abstract

Background. Despite it is common neurocognitive domain that affected in patient with Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection, attention domain is not assessed using International HIV Dementia Scale (IHDS), a common screening test to diagnose HIV-associated cognitive disorder. Detection of attention deficit in HIV patient is important as it can maintain the capacity to adherence to antiretroviral therapy and essential to activity daily living. CD4 is one of the markers for severity of HIV infection. Objective. We aims to correlate between CD4 with IHDS and CD4 with attention performance test, such as forward digit span test (FWD), backward digit span test (BWD), and trail making test A test (TMA).Methods. This is an analytic study using cross sectional design. 20 respondents are collected for the study using purposive sampling. Data is collected using instrument IHDS, FWD, BWD, and TMA.Results. Using the correlation of Eta, Eta 2 of CD4 and IHDS, CD4 and FWD, CD4 and BWD, also CD4 and TMA are 0.025, 0.022, 0.022 and 0.011.Conclusion. We concluded that CD4 have no correlation with test for attention domain and IHDS.
Relationship of TTF-1 and EGFR on Lung Adenocarcinoma at Dr. Saiful Anwar General Hospital Malang lumban gaol, andy; Pratiwi, Suryanti Dwi; Putra, Ngakan Putu; Norahmawati, Eviana; Rasyid, Harun Al
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2020.031.01.9

Abstract

There is a correlation between mutation of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) and lung adenocarcinoma. Unfortunately, examination for EGFR mutation is difficult because surgery must be conducted to obtain the best specimen. Thyroid Transcription Factor-1 (TTF-1) is a marker for lung adenocarcinoma. This observational study took place at Dr. Saiful Anwar Hospital from stored biological materials from 2013-2018. Samples were lung adenocarcinoma patients that undergo EGFR examination. Data then analyzed using Fischer's Exact Test to determine the relationship between EGFR and TTF-1. Specificity/sensitivity value is 0.75/0.90, p: 0.617, odds ratio 0.333 (0.032-3.515). However, Receiver Operating Characteristic (ROC) curve of TTF- 1 show AUC 0.614 (95CI, 0.35- 0.878). TTF-1 examination has a moderate strength in determining EGFR mutation on lung adenocarcinoma patients at Dr. Saiful Anwar Hospital.         
TINGKAT AKTIVITAS FISIK MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER TAHUN KEDUA, KETIGA, KEEMPAT Riskawati, Yhusi Karina; Prabowo, Edwin Damar; Rasyid, Harun Al
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.946 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.01.4

Abstract

Penyakit tidak menular merupakan pembunuh nomor satu di dunia hari ini. Salah satu penyebab terjadinya penyakit tidak menular ialah kekurangan aktivitas fisik. Mahasiswa kedokteran sebagai dokter di masa mendatang diharapkan dapat menjadi teladan dan memberikan konsultasi yang baik tentang aktivitas fisik kepada pasiennya sehingga mahasiswa kedokteran perlu memiliki aktivitas fisik yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas fisik mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dan pengaruh usia, jenis kelamin, kondisi tempat tinggal, aktivitas organisasi/kepanitiaan dan tingkat pengetahuan terhadap tingkat aktivitas fisik tersebut. Penelitian observasional ini menggunakan desain cross-sectional.  Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 90 orang responden mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK UB tahun 2014 – 2016 yang memasuki tahun pendidikan kedua, ketiga dan keempat.  Data usia, jenis kelamin, kondisi tempat tinggal, aktivitas organisasi/kepanitiaan, tingkat pengetahuan dan aktivitas fisik dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner standar GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) oleh WHO. Analisis data menggunakan uji chi square. Dari hasil analisis didapatkan 60% responden memiliki aktivitas fisik yang rendah. Faktor usia (p = 0,194), jenis kelamin (p = 0,323), kondisi tempat tinggal (p = 0,605), tingkat pengetahuan (p = 0,839) dan aktivitas organisasi/kepanitiaan (p = 0,293) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat aktivitas fisik mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKUB tahun kedua, ketiga dan keempat angkatan tahun 2014 – 2016.
SISTEM PENGEREMAN HIDROLIK PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU Wicaksono, Nanda Avianto; Firmansyah, Arfie Ikhsan; Rasyid, Harun Al; Nasution, Syaiful
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 17, No 2 (2018): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk membangun sistem pengereman hidrolik pada pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Sistem pengereman hidrolik ini digunakan untuk menurunkan  kecepatan putar poros kecepatan tinggi. Berbeda dengan sistem pengereman pada umumnya, sistem pengereman hidrolik yang dirancang diharapkan mampu memberikan tekanan yang bervariasi, sehingga dapat memberikan efek pengereman yang bervariasi sesuai kebutuhan operasi. Sistem pengeraman hidrolik ini diimplementasi dan diuji secara fisik pada prototipe PLTB 100kW di Sukabumi Jawa Barat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tekanan yang dihasilkan dapat diubah-ubah antara 0 hingga 66,13 bar dengan mengatur nilai setting pada proportional pressure valve.
PELAPISAN KATALIS PADA PROSES PABRIKASI MEA FUEL CELL JENIS PEM Pranoto, Bono; Wargadalam, Verina J.; Rasyid, Harun Al
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 12, No 1 (2013): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa metode dalam proses coating pada fabrikasi MEA yaitu brush coating, spray coating dan print coating terhadap tinta katalis yang mengandung campuran elektrolit, karbon, katalis Penelitian berhubungan dengan pengembangan metoda pelapisan katalis pada MEA menggunakan mesin sputtering dengan tujuan menurunkan kandungan katalis platina dalam lapisan. Metoda pelapisan meliputi: tahapan pelapisan kertas karbon dengan larutan nafion, dilanjutkan dengan pelapisan tinta nafion-carbon menggunakan kuas secara merata pada permukaan kertas karbon, kemudian proses pelapisan katalis dengan metode sputtering. Pada penelitian ini kombinasi daya, tegangan dan tekanan operasi mesin sputtering menghasilkan luas aktif katalis yang optimal dengan ketebalan katalis yang minimal. MEA yang difabrikasi pada 100 W daya RF dan tekanan sputtering 10 mTorr menghasilkan kinerja serta Electrochemical Active Surface Area (ECSA) yang paling tinggi dibandingkan dengan MEA yang difabrikasi pada 75, dan 125 pada 10 mTorr dengan daya RF, daya DC, serta pada tekanan 20 dan 30 mTorr pada 100 W RF. Pada kondisi ini dihasilkan power density maksimum sebesar 58.5 mW/cm2 dan ECSA sebesar 13.6 m2/g. Kondisi operasi yang terbaik pada daya 100 W RF, 10 mTorr. There are several methods in the process of coating on the MEA fabrication brush coating, spray coating and printing coating the catalyst ink contain in a mixture of electrolytes, carbon, catalyst. The research related to the development of the catalyst coating method on the MEA using sputtering machine with the aim is decrease the content of platinum in the catalyst layer. The coating method include: stages of carbon paper coating with a solution of Nafion, followed by brush coating a Nafioncarbon ink on the surface of the carbon paper, and then the catalyst coating by sputtering method. In this study, a combination of power, voltage and operating pressure of puttering machine result an optimal active catalyst with a minimum thickness of the catalyst. MEA fabricated at 100 W RF power and 10 mTorr give the best performance and higer Electrochemical Active Surface Area (ECSA) than MEA that fabricated at 75 and 125 W 10 mTorr RF, DC power, and at 20, and 30 mTorr 100 W RF. at these conditions give maximum power density 58.5 mW/cm2 and Electrochemical Active Surface Area (ECSA) 13.6 m2/g.