Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Epidemi Penyakit Hawar Beludru Septobasidium pada Kebun Lada dengan Jenis Tajar Berbeda Suswanto, Iman; Rianto, Fadjar
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.502 KB) | DOI: 10.26418/plt.v4i2.9368

Abstract

Hawar beludru Septobasidium spp. menjadi penyebab utama penurunan produksi lada di Kalimantan Barat. Pada awal kemunculan penyakit umumnya dijumpai pada kebun tua yang tidak terawat. Saat ini penyakit ini dapat dijumpai baik pada kebun yang terawat maupun tidak terawat. Penelitian bertujuan mengenal gejala, penyebaran penyakit dan hubungan antara berbagai anasir penyakit dengan perkembangan patogen di kebun lada dengan tajar yang berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman sakit memperlihatkan gejala dengan tingkat keparahan beragam dan penyakit dijumpai di semua sentra lada Kalimantan Barat. Intensitas penyakit di Kabupaten Sambas dan Mempawah termasuk berat menunjukkan banyak dijumpai kebun lada yang puso. Perkembangan penyakit memiliki keeratan hubungan dengan temperatur (x1) dan kepadatan spora (x2) baik pada kebun dengan tajar hidup maupun tajar mati. Konsistensi besarnya nilai korelasi ini dijadikan dasar dalam penyusunan model regresi multivariat pada kebun dengan tajar hidup dan mati berturut-turut y= 17,58 - 0,19 x1 + 0,43 x2 dan y=15,30 - 0,18x1 + 0,65 x2. Penyakit berkembang baik saat temperatur udara (x1) mencapai 24 oC dan kepadatan spora (x2) di kebun mencapai 7 spora/cm2. Kata kunci: hawar beludru, lada, tajar dan Septobasidium
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) DARI BEBERAPA VEGETASI LAHAN GAMBUT Muhtarom, Nizari; Sasli, Iwan; Rianto, Fadjar
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 9, No 1 (2019): Perkebunan dan Lahan Tropika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v9i1.37721

Abstract

The West Kalimantan land is mostly dominated by marginal peat land types. The West Kalimantan peat swamp land has a very low pH, low nutrient availability, low base saturation, high nutrient washing rates, and even some of them are sandy soil which is in the lower layers. One way to utilize peat marginal land as an agricultural crop is by utilizing Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) as biological fertilizer inoculums. The stages of the research are the exploration of FMA from several root zone plants from two locations, Galang and Rasau Jaya Villages, then identification of FMA in the plant disease laboratory of Tanjungpura University's Faculty of Agriculture. The study was carried out for ± 3 months. The design used is by using purposive sampling method, with the number of sample points on three commodities, namely pineapple, fern and grass, each of 9 sample points. The results showed an analysis of the content of the number of FMA spores found in the highest root rooting zone found in the source of pineapple inoculums, with the number of FMA spores found as many as 96, with soil samples each of 50 g samples. Whereas the fern media amounted to 55, and the grass media amounted to 22. The highest level of FMA diversity was found in the treatment with the source of pineapple inoculum from Galang, with the discovery of three types of FMA namely genus Glomus sp, Gigaspora sp and Acaulospora sp. Keywords: arbuscular mycorrhizal fungi (AMF), exploration, marginal peat soi
INVIGORASI BENIH PADI MENGGUNAKAN MIKROBA FUNGSIONAL Herawati, Ety; Rianto, Fadjar; Palupi, Tantri
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 2 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, MEI 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i2.4935

Abstract

Penggunaan benih bermutu rendah dengan viabilitas dan vigor yang rendah akan menghasilkan produktivitas yang rendah. Untuk benih yang sudah mengalami kemunduran perlu dilakukan peningkatan vigor benih. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi yang mengalami penurunan kualitas melalui perlakuan hidrasi dengan cara direndam di dalam larutan mikroba fungsional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus 2019 di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dan UPT PSB Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan empat ulangan. Faktor yang diuji adalah perlakuan perendaman benih dalam larutan mikroba fungsional yang terdiri dari 12 perlakuan, dengan daya kecambah benih: 93% (kontrol tanpa isolat), 93% + 4A isolat, 75 % (kontrol tanpa isolat), 75% + isolat WH24, 75% + isolat WH31C, 75% + 4A isolat, 75% + IAA, 63% (kontrol tanpa isolat), 63% + isolat WH24, 63% + isolat WH31C, 63% + 4A isolat, dan 63% + IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi menggunakan larutan mikroba fungsional mampu meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi yang telah mengalami kemunduran (daya berkecambah 75%), dan bahkan dapat menyamai viabilitas dan vigor benih bermutu dengan daya berkecambah 93%. Perendaman dalam larutan isolat 4A pada benih padi dengan daya berkecambah 75% adalah perlakuan terbaik dalam meningkatkan indek vigor dengan nilai yang lebih tinggi yaitu 81,5%, dibandingkan dengan benih kontrol 93% yaitu sebesar 65,5%.
ISOLASI DAN POTEGENISITAS Fusarium Oxysporum PENYEBAB PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA BAWANG MERAH DI TANAH GAMBUT KALIMANTAN BARAT Riki Warman; Fadjar Rianto; Iwan Sasli
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v24n3.2021.p289-297

Abstract

Pathogenicity of  Fusarium oxysporum causes wilt disease in shallots at peat soils in West Kalimantan. Fusarium wilt is a disease that can attack all phases of shallots growth. This disease develops easily in peatlands due to the low pH, high humidity and high carbon availability. The aim of this study was to examine the level of pathogenicity of Fusarium oxysporum isolated from shallots from mineral soils in Bengkayang Regency, West Kalimantan. Experiment research method  used a completely randomized design consisting of 5 treatments with concentrations of F. oxysporum spores (105 spores ml-1, 107 spores ml-1, 109 spores ml-1, 1011 spores ml-1, and control (whitout F. oxysporum inoculation). Each treatment was repeated 6 times. Inoculation of the F. oxysporum  was carried out by spraying evenly on the growing media at a dose of 100 ml of conidia suspension per 1 kg of growing media before planting. The variables observed were the incubation period of the disease (days), the incidence of disease (%), disease severity (%), the rate of infection and the value of area under the disease progress curve (AUDPC). The results showed that  pathogenicity of  concentration of 1011 spores ml-1 caused the fastest incubation period (12.57 days after planting) and the highest disease incidence (90%), significantly different from 105 spores ml-1 and 107 spores ml-1, but not significant compared to with a concentration of 109 spores ml-1. The concentration of 1011 spores ml-1 also caused the highest disease severity, 76.88%, the highest infection rate were 6.54% per day during the observation period. The value of area under the disease progress curve of the 1011 spore ml-1 concentration was the highest (216.6% per day) compared to other concentration levels. The concentration of 109 spores ml-1 was sufficient to accelerate the incubation period of fusarium wilt disease in shallots if planted in peat soil, whereas in the control treatment there wasno Fusarium wilt disease attack. Key words: disease incidance, disease progress curve, incubation period, infection rate, peat soilABSTRAKLayu fusarium merupakan penyakit dapat menyerang seluruh fase pertumbuhan tanaman bawang merah. Penyakit ini berkembang dengan mudah di lahan gambut karena pH rendah, kelembaban tinggi dan tingginya ketersediaan karbon. Penelitian  bertujuan menguji tingkat patogenitas Fusarium oxysporum yang diisolasi dari bawang merah yang berasal dari tanah mineral di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Percobaan  menggunakan rancangan acak lengkap terdiri dari 5 taraf perlakuan konsentrasi spora F. oxysporum (105 spora ml-1, 107 spora ml-1, 109 spora ml-1, 1011 spora ml-1, dan kontrol (tanpa inokulasi F. oxysporum). Setiap perlakuan di ulang 6 kali. Inokulasi jamur F. oxysporum dilakukan dengan cara disemprotkan secara merata pada media tanam dengan dosis 100 ml suspensi konidia per 1kg media tanam sebelum penanaman. Variabel yang diamati yaitu periode inkubasi penyakit (hari), insiden serangan penyakit (%), keparahan penyakit (%), laju inveksi dan nilai kurva perkembangan penyakit layu fusarium (AUDPC). Hasil penelitian  menunjukkan bahwa konsentrasi 1011 spora ml-1 menyebabkan masa inkubasi tercepat (12,57 hari setelah tanam) serta insiden penyakit tertinggi (90%), berbeda secara nyata dengan 105 spora ml-1dan 107 spora ml-1, tetapi tidak signifikan dibandingkan dengan konsentrasi 109 spora ml-1. Konsentrasi 1011 spora ml-1 juga menyebabkankan tingkat keparahan penyakit tertinggi, 76,88%, tingkat infeksi terbesar (6,54% per hari) sepanjang periode pengamatan. Nilai area di bawah kurva kemajuan penyakit dari konsentrasi 1011 spora ml-1adalah yang tertinggi (216,6% per hari) dibandingkan dengan tingkat konsentrasi lainnya. Namun, konsentrasi 109 spora ml-1 cukup untuk mempercepat masa inkubasi penyakit layu fusarium pada bawang merah, sedangkan pada perlakuan kontrol (tanpa inokulasi jamur F. oxysporum) tidak terjadi serangan penyakit layu Fusarium. Kata Kunci: insiden penyakit, kurva perkembangan penyakit, periode inkubasi, laju infeksi, tanah gambut 
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PORANG PERIODE PERTANAMAN PERTAMA PADA TANAH GAMBUT DENGAN PEMBERIAN PUPUK NPK Fitri Ikayanti; Radian Radian; Fadjar Rianto
Agros Journal of Agriculture Science Vol 23, No 2 (2021): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk menentukan dosis pupuk NPK yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman porang pada tanah gambut. Pelaksanaan percobaan di Jalan Sungai Selamat, Kota Pontianak, dimulai dari bulan Agustus 2020 sampai Februari 2021. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok yaitu pemberian dosis pupuk NPK dengan 5 taraf (200 kg ha-1 , 400 kg ha-1 , 600 kg ha-1 , 800 kg ha-1 , 1000 kg ha-1 ). Variabel yang diamati terdiri dari tinggi tanaman, diameter batang, bobot kering tanaman, laju pertumbuhan relatif, diameter umbi dan bobot umbi. Dosis pupuk NPK 200 kg ha-1 merupakan perlakuan yang efisien dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman porang di tanah gambut berdasarkan karakter tinggi tanaman dan diameter batang 2, 3, 4 BST (bulan setelah tanam), bobot kering tanaman, laju pertumbuhan relatif, diameter umbi dan bobot umbi
TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BATANG PADI DI KABUPATEN KAYONG UTARA Heriandi Heriandi; Edy Syahputra; Fadjar Rianto
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 1 (2023): edisi JANUARI
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangan penggerek batang padi dapat menyebabkan kehilangan hasil bahkan menyebabkan gagal panen. Tidak heran jika hama ini tergolong hama penting pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran serangan, jenis penggerek batang padi. Penelitian ini bersifat deskriptif. Lokasi pengambilan sampel ditentukan secara purposive antara areal tanam padi di Kayong Utara.. Sawah yang dijadikan pengamatan dalam penelitian ini ada 3 jenis yaitu sawah tadah hujan, sawah pasang surut, dan sawah irigasi. Sawah irigasi dan tadah hujan terletak di Kecamatan Sukadana, sedangkan sawah pasang surut terletak di Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Teluk Batang. Terdapat 55 lokasi yang diamati, dan setiap lokasi persawahan terdapat 30 rumpun tanaman padi sebagai sampel. Peubah yang diamati meliputi jenis imago penggerek batang padi, tingkat serangan, kejadian serangan, dan distribusi. Pengamatan hanya dilakukan satu kali per plot sampel pengamatan. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman padi berada pada fase vegetatif akhir dan malai sudah mulai terbentuk. Hasil pengamatan yang telah dilakukan bahwa tingkat serangan penggerek batang padi di Kabupaten Kayong Utara tergolong rendah dengan tingkat serangan sebesar 2,35%. Serangan tertinggi terjadi di kawasan Mata-Mata Kecamatan Simpang Hilir sebesar 4,67% dan terendah terjadi di kawasan Begasing sebesar 0,10. Hasil pengamatan sebaran serangan pemadatan batang padi di Kayong Utara menunjukkan nilai Morisita Index (Iδ) sebesar 2,04 dalam hal ini tergolong berkelompok. Jenis penggerek batang padi yang ditemukan selama penelitian adalah penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Walker) dan penggerek batang padi putih (S. innotata Walker). 
EKSPLORASI DAN UJI ANTAGONISME Trichoderma sp. ISOLAT LOKAL KECAMATAN PARINDU KABUPATEN SANGGAU TERHADAP Rigidoporus lignosus PENYEBAB PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH PADA TANAMAN KARET Hendro Muntarjo; Fadjar Rianto; Tris Haris Ramadhan
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 2 (2023): edisi April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to obtain local isolates of Trichoderma in the rhizosphere of rubber plant and to identify the antagonism of R. lignosus that causes white root disease caused by Trichoderma sp. The research was carried out by taking soil from the rhizosphere of rubber plant in Parindu District, Sanggau Regency, West Kalimantan. Then exploration and antagonism test were carried out at the Laboratory of Plant Diseases Agriculture Faculty Tanjungpura University. Antagonism test was carried out using a completely randomized design and repeated 5 times. The results showed that there were 44 isolates of Trichoderma sp. namely the species T. harzianum; T. koningii; T. viride; and T. aurioviridae with an average antagonistic power to R. lignosus that causes white root disease on rubber plant ranging from 37.4-89.4%, and Trichoderma sp. Local isolates from Parindu District, Sanggau Regency have faster growth potential and higher competitive ability compared to  R. lignosus colony growth. INTISARIPenelitian bertujuan untuk mendapatkan isolat lokal Trichoderma pada rhizosfer tanaman karet dan mengidentifikasi antagonisme R. lignosus penyebab penyakit jamur akar putih yang disebabkan oleh Trichoderma sp. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan pengambilan tanah pada rhizosfer tanaman karet di Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, selanjutnya dilakukan eksplorasi dan uji antagonisme di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Uji antagonisme dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dan diulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat 44 isolat Trichoderma sp. yaitu spesies T. harzianum; T.koningii; T. viride; dan T. aurioviridae dengan rata-rata daya antagonisme terhadap R. lignosus penyebab penyakit jamur akar putih pada tanaman karet berkisar antara 37,4-89,4%, serta Trichoderma sp. isolat lokal Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan kemampuan kompetisi lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan koloni R. lignosus.
RESPON MORFOFISOLOGI PADI HITAM SENAKIN AKIBAT FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN JERAMI PADI PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN Safriadi Safriadi; Iwan Sasli; Fadjar Rianto
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 3 (2023): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to determine Arbuscular Mycorrhizal Fungi and rice straw and their interactions independently in increasing the growth and yield of black rice in rain-fed rice fields. The experiment was conducted in Tebas District, Sambas Regency, from July to December 2022. The experiment was arranged using a split-plot and randomized block design pattern. The main plot was AMF treatment (without AMF and AMF administration), and the subplots were rice straw dose (tons/ha) (0, 5, 10, 15). The experiment was repeated 3 times and consisted of 16 observed plant samples. The results showed that AMF and rice straw interaction affected root volume and grain weight per plot. AMF independently affects plant height, the number of productive tillers, and the percentage of filled grain. The applied rice straw plays a role in influencing plant height, the number of productive tillers, and the rate of filled grain. Keywords: arbuscular mycorrhizal fungi, rice straw, black rice, ricefield INTISARITujuan penelitian yaitu untuk mengkaji peran FMA dan jerami padi serta interaksi keduanya masing-masing secara mandiri dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi hitam di sawah tadah hujan. Percobaan dilaksanakan Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas pada bulan Juli sampai Desember 2022. Percobaan disusun menggunakan rancangan split plot dengan pola rancangan acak kelompok. Petak utama yaitu perlakuan FMA (tanpa FMA dan pemberian FMA), anak petak yaitu dosis jerami padi (ton/ha) (0, 5, 10, 15). Percobaan diulang sebanyak 3 kali dan terdiri atas 16 sampel tanaman amatan. Hasil penelitian diperoleh bahwa interaksi FMA dan jerami padi berpengaruh terhadap volume akar dan berat gabah per petak. FMA secara mandiri berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan persentase gabah isi. Jerami padi yang diaplikasikan berperan dalam mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan persentase gabah isi. Kata kunci: fungi mikoriza arbuskula, jerami padi, padi hitam, sawah 
IDENTIFIKASI SERANGAN Phytophthora capsici PENYEBAB PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA BIBIT LADA Netty Indah Lestari; Fadjar Rianto; Edy Syahputra
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 3 (2023): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identifying symptoms of P. capsici pathogen attack that causes stem rot disease in pepper seedlings is an indispensable first step to determining the type and technique of disease prevention and effective control in the supply of healthy pepper seedlings. This study aimed to determine the occurrence of P. capsici attack symptoms in pepper seedlings. The pepper used was the Bengkayang variety using 2 segments of cuttings from the climbing vines of a healthy parent tree. The research was conducted at the UPSBP office in West Kalimantan Province and the Laboratory of Plant Diseases, Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura. The source of the pathogenic inoculum that causes stem rot of pepper was taken from the rhizosphere of plants with symptoms of stem rot. The soil containing the pathogens was seized, put in polybags, and planted with healthy pepper cuttings and leaves. The results showed that there were 3 types of symptoms caused by P. capsici attack, namely symptoms on the leaves with black spots appearing that could cause necrosis and cause leaf fall, on the shoots/shoots that could cause the nodes to break off, and on the base of the stem/roots can cause plant death.Keywords: pepper seedlings, Phytophthora capsici,  stem rot disease INTISARIIdentifikasi gejala serangan patogen P. capsici penyebab terjadinya penyakit busuk pangkal batang pada bibit lada merupakan langkah awal yang sangat diperlukan untuk menentukan jenis dan teknik pencegahan serangan penyakit serta pengendalian yang efektif dalam penyediaan bibit lada yang sehat. Tujuan penelitian untuk mengetahui terjadinya gejala serangan P. capsici  pada bibit tanaman lada. Lada yang digunakan adalah varietas Bengkayang dengan menggunakan 2 ruas stek dari sulur panjat pohon induk yang sehat. Penelitian dilaksanakan di kantor UPSBP Provinsi Kalimantan Barat dan Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Sumber inokulum patogen penyebab busuk pangkal batang lada di ambil dari rizosfer tanaman bergejala busuk pangkal batang. Tanah yang mengandung patogen diambil, dimasukkan ke dalam polibeg dan ditanami dengan setek batang dan daun lada yang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis gejala yang ditimbulkan akibat serangan P. capsici yaitu gejala pada bagian daun dengan muncul bintik hitam yang dapat menyebabkan nekrosis dan menyebabkan daun gugur, bagian tunas/pucuk yang dapat menyebabkan putusnya pucuk tanaman, dan bagian pangkal batang/akar dapat menyebabkan kematian tanaman. Kata Kunci: bibit lada, busuk pangkal batang, Phytophthora capsici