Joseph Christ Santo
Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Iman Kristen dan Perundungan di Era Disrupsi Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Angelion Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.34 KB) | DOI: 10.38189/jan.v1i2.73

Abstract

Social media is actually used to improve social relationships and increase roles in various ways. However, on the one hand, social media is used as an arena for bullying to others and groups. The problem in this research is how the role of Christian faith. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, this research comes to the conclusion that believers must know the era of disruption in human social development, then understand the influence of social media on ethics, and examine how Christian faith views in the face of bullying. Holding on to the view that the Christian existence must be the salt and light of the world means that we must be prepared to live side by side with physical differences, ideas, and all other things.Persoalan yang terjadi dimana media sosial yang sejatinya digunakan untuk meningkatkan hubungan sosial dan meningkatkan peran dalam berbagai hal. Namun dalam satu sisi media sosial dijadikan ajang perundungan (bullying) kepada sesama maupun kelompok. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dapat dicapai tujuan penulisan dengan menyimpulkan bahwa iman Kristen dalam menghadapi perundungan di tengah disrupsi, dimana orang percaya harus mengetahui era disrupsi dalam perkembangan sosial manusia, lalu memahami adanya pengaruh media sosial dalam etika, dan mencermati bagaimana perundungan dalam pandangan iman Kristen untuk diterapkan dalam menghadapi penindasan. Sehingga ada peran orang percaya dalam menghadapi perundungan di era disrupsi. Orang percaya diharapkan mempunyai pandangan dalam menerima segala perbedaan baik fisik, ide, dan segala hal. Serta mau hidup berdampingan untuk terus menjadi garam dan terang seperti yang diinginkan Yesus dalam kehidupan kekristenan
FENOMENA GAME POKÉMON GO DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI DAN TEOLOGI Joseph Christ Santo
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.266 KB) | DOI: 10.46307/rfidei.v3i2.26

Abstract

Pokémon Go is one of the augmented reality based games and is rampant in 2016. To declare that this game needs to be banned or not, researchers need a psychological and theological approach to assess this game. Based on a psychological approach, this game actually contains positive things. The player gets up and moves around, and relates to strangers. Theologically, Pokémon Go as a form of entertainment does not have anything that needs to be banned. What is needed from Pokémon Go players is self-control so that they don't get caught up in addiction. The ban on Pokémon Go does not touch the real problem, what is needed more than Pokémon Go players is self-control. Abstrak: Pokémon Go adalah salah satu game yang berbasis augmented reality dan marak pada tahun 2016. Untuk menyatakan bahwa game ini perlu dilarang atau tidak, Peneliti memerlukan pendekatan psikologis dan teologis untuk menilai game ini. Berdasarkan pendekatan psikologis, game ini justru mengandung hal positif. Pemainnya bangkit dan bergerak di sekeliling, serta berelasi dengan orang asing. Secara teologis, Pokémon Go sebagai salah satu bentuk hiburan tidak memiliki sesuatu yang perlu dilarang. Yang dibutuhkan dari pemain Pokémon Go adalah pengendalian diri sehingga tidak terjebak kepada kecanduan. Pelarangan Pokémon Go tidak menyentuh persoalan yang sesungguhnya, yang lebih dibutuhkan dari pemain Pokémon Go adalah pengendalian diri.
Menjawab Sisi Alkitabiah Pelayanan Daring: Refleksi Surat Filipi Joseph Christ Santo; David Christian
Angelion Vol 2, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v2i2.228

Abstract

Peristiwa pandemi Covid-19 yang merebak pada tahun 2020 secara tidak langsung telah mendorong penduduk bumi termasuk orang Kristen memasuki Era Masyarakat 5.0 melalui pemanfaatan ruang digital. Sebagian gereja di Indonesia pun beralih dari ibadah tatap muka langsung menjadi ibadah daring, ada yang bersifat sementara selama awal pandemi dan ada yang masih meneruskan sampai saat ini. Tidak semua orang Kristen bisa menerima dengan sepenuh hati cara ibadah seperti ini, terutama mereka yang meragukan sisi alkitabiahnya. Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan apakah ibadah daring dapat diterima secara Alkitabiah. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika, ditemukan prinsip-prinsip yang tertuang dalam surat Filipi. Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa keterpisahan secara jarak antara Paulus dengan jemaat Filipi tidak menjadikan halangan bagi Paulus untuk menggembalakan jemaat Filipi melalui media surat yang berisi pengajaran, nasihat, dan teguran; adapun media yang berkembang pada saat ini dan dapat digunakan untuk penggembalaan adalah internet.
Kajian Teologis 1 Petrus 5:7 tentang Perlindungan Allah terhadap Orang Percaya di Tengah Pandemi Covid-19 Joseph Christ Santo; Yonatan Alex Arifianto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.80

Abstract

The Covid-19 pandemic has had a very heavy impact on humans to survive. The problem that is felt by all elements of society is related to the economy and the fulfilment of the necessities of life, but also the fear of being exposed to this virus haunts believers. Therefore, governments in affected countries must enact regulations that make the economy's wheels stagnate, as a result, economic problems are a serious problem in the fight against the Coronavirus. This research aims to answer how the concept of protection guarantees for believers is applied in the study of God's word, as a basis and insight to be able to survive and continue the opportunity to live in God's prerogative amidst the threat of the Covid 19 pandemic and the continuing impact that follows. With the formulation of the problem, the literature research method is used with a descriptive qualitative approach. It can be concluded that God's protection is a guarantee of God's providence that occurred in the Old and New Testament times which became the reference for the concept of God's care and protection during the pandemic period to bring believers to become obedient individuals to God by obeying the rules made by the government as a means of maintaining believers.AbstrakPandemi Covid-19 telah memberikan dampak yang sangat berat bagi manusia untuk bertahan hidup. Masalah yang dirasakan seluruh elemen masyarakat adalah berkenaan dengan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga rasa kuatir akan terpapar virus ini menghantui orang percaya. Oleh sebab itu pemerintah di negara-negara terpapar harus memberlakukan peraturan yang membuat roda perekonomian tersendat, akibatnya masalah ekonomi menjadi problem yang serius dalam upaya melawan virus Corona. Peneli-tian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana penerapankonsep jaminan perlin-dungan bagi orang percaya dalam kajian firman Tuhan, sebagai dasar dan wawasan untuk dapat bertahan dan melanjutkan kesempatan hidup dalam prerogatif Allah di tengah ancaman pandemi Covid 19 dan dampak berkelanjutan yang mengikutinya. Dengan rumusan masalah tersebut, maka digunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Disimpulkan bahwa God’s protection adalah jaminan pemeliharaan Tuhan yang terjadi dalam masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menjadi acuan konsep pemeliharaan dan proteksi Allah pada masa pandemi untuk membawa orang percaya menjadi pribadi yang taat kepada Tuhan dengan menaati aturan yang dibuat pemerintah sebagai sarana untuk meme-lihara orang percaya.
Pengaruh Keteladanan Hidup Gembala Sidang terhadap Pertumbuhan Gereja Joseph Christ Santo; Dapot Tua Simanjuntak
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 2, No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.532 KB) | DOI: 10.47167/kharis.v2i1.23

Abstract

Church growth is important, but not all churches experience good growth. The observation shows that one of the causes of the church not experiencing growth is the problem of the exemplary life of the pastor. This research was conducted to determine the effect of a pastor's living example on church growth. The conceptual and operational definitions of the pastor's living example are formulated based on the letter of 1 Peter, while the conceptual and operational definitions of church growth are formulated based on the growth of the early church. This research was carried out by distributing questionnaires to 125 respondents from four local churches from the Gereja Injili di Indonesia (Evangelical Church in Indonesia) in West Java Classes. With statistical calculations, the results show that there is the influence of the pastor's living example based on letter 1 Peter on the growth of the Gereja Injili di Indonesia in West Java Classes, and the effect is high. AbstrakPertumbuhan gereja adalah hal yang penting, tetapi tidak semua gereja mengalami pertumbuhan yang baik. Hasil observasi menunjukkan bahwa salah satu penyebab gereja tidak mengalami pertumbuhan adalah masalah keteladanan hidup gembala sidang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh keteladanan hidup gembala sidang terhadap pertumbuhan gereja. Definisi konseptual dan operasional keteladanan hidup gembala sidang dirumuskan berdasarkan surat 1 Petrus, sedangkan definisi konseptual dan operasional pertumbuhan gereja dirumuskan berdasarkan pertumbuhan gereja mula-mula. Penelitian ini dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner atas 125 responden dari empat gereja lokal dari Gereja Injili di Indonesia Klasis Jawa Barat. Dengan perhitungan statistik diperoleh hasil bahwa ada pengaruh keteladanan hidup gembala sidang berdasarkan surat 1 Petrus terhadap pertumbuhan jemaat Gereja Injili Di Indonesia Klasis Jawa Barat, dan pengaruhnya adalah tinggi.
Spiritualitas dalam Peribadahan Kristen bagi Keharmonisan Umat: Refleksi Efesus 5:18-21 Joseph Christ Santo; Joko Sembodo; Asih Rachmani Endang Sumiwi; Mariani Harmadi
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v4i2.277

Abstract

Spiritualitas memiliki definisi yang beragam, dalam lingkup kekristenan spiritualitas dikaitkan dengan roh yang merupakan unsur terdalam dari manusia, yang mana roh manusia ini memiliki relasi dengan Allah yang adalah roh. Pada umumnya spiritualitas merujuk kepada hubungan individu tersebut dengan Tuhan; penelitian ini memaparkan sisi lain yang belum banyak dibahas, yaitu sisi sosial dari spiritualitas. Efesus 5:18-21 membahas spiritualitas dalam ibadah, tetapi beberapa kata yang digunakan dalam nas ini mengandung unsur relasional sehingga muncul pertanyaan bagaimana keterkaitan spiritualitas dalam ibadah dengan hubungan antarwarga jemaat. Hasil penelitian eksegesis menunjukkan bahwa spiritualitas orang Kristen adalah kondisi seorang Kristen yang mampu menguasai diri karena rohnya ada dalam kendali Roh Kudus; spiritualitas dalam peribadahan yang didasari penuh dengan Roh akan membentuk relasi yang baik antarwarga jemaat, dan pada akhirnya menghasilkan keharmonisan umat Allah.
Studi Deskriptif Teologis Pembangunan Bait Suci Orang Samaria di Gunung Gerizim Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.61

Abstract

One of the elements of the contention that arose between the Samaritans and the Jews mentioned in John 4 was about the center of worship. The Samaritans recognized the Temple on Mount Gerizim as a center of worship, while the Jews recognized the Temple in Jerusalem. The existence of the Temple on Mount Gerizim is not widely recorded in the Bible. That is why research is needed to describe this Samaritan place of worship which causes conflict between the Samaritan and the Jew. The problem in this research is how the construction of the Temple on Mount Gerizim so that it becomes an element of contention between the Samaritans and the Jews. To answer these questions, the authors used the literature method with a descriptive qualitative approach. The results showed that the temple on Mount Gerizim was not the center of worship that God intended it to be. In New Testament times, what God wanted was for worshipers who were not focused on the temple on Mount Gerizim or in Jerusalem, but worshipers who worshiped God in spirit and in truth.Salah satu unsur pertikaian yang muncul di antara orang Samaria dan orang Yahudi yang disebutkan dalam Yohanes 4 adalah mengenai pusat ibadah. Orang Samaria mengakui Bait Suci di Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah, sementara orang Yahudi mengakui Bait Suci di Yerusalem. Keberadaan Bait Suci di Gunung Gerizim tidak banyak dicatat oleh Alkitab. Itu sebabnya dibutuhkan penelitian untuk mendeskripsikan tempat ibadah orang Samaria ini sehingga menimbulkan konflik di antara orang Samaria dan orang Yahudi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan Bait Suci di Gunung Gerizim sehingga menjadi salah satu unsur pertikaian antara orang Samaria dan orang Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait suci di Gunung Gerizim bukanlah pusat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Pada masa Perjanjian Baru, yang dikehendaki Tuhan adalah penyembah yang tidak terfokus kepada bait suci di Gunung Gerizim ataupun di Yerusalem, melainkan penyembah yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Makna dan Penerapan Frasa Mata Hati yang Diterangi dalam Efesus 1:18-19 Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.1

Abstract

The Bible shows that the Ephesians who should have understood the God they worshiped were in fact still prayed by Paul so that they would have an illuminated eye of heart to know God. The focus of this research is to find out what Paul means about the enlightened eyes of the heart, why the reader of this letter needs to have the enlightened eyes of the heart, how the process of the eyes of the heart is enlightened, and what is the reason for the church today. This study used an exegesis method, by analyzing the elements of the word in the original language and in its context, so that found a principle that can be applied in today’s life. Some conclusions of this study are: Firstly, the phrase “enlightened eyes of the heart” means “it has illuminated the innermost part of man to be able to understand”. Secondly, the enlightened eyes of the heart are needed so that the reader of Ephesians grows in three ways: the hope of the call, the richness of the glory of the inheritance of the saints, and the great power of God for believers. Thirdly, to experience the enlightened eyes of the heart, one must first accept the gospel so that the Holy Spirit inhabits his heart; It is this indwelling Holy Spirit that makes the eyes of the person’s heart enlightened. Fourthly, Christians are not enough to stop accepting the gospel and their recognition of Christ, he needs to know God more deeply; for that he needs the Holy Spirit which enables him to understand his relationship with God so that he has an attitude of life in accordance with the available grace.AbstrakAlkitab menunjukkan bahwa jemaat Efesus yang seharusnya sudah mengerti tentang Allah yang mereka sembah, ternyata masih didoakan oleh Paulus agar mereka memiliki mata hati yang diterangi untuk dapat mengenal Allah. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan apa maksud frasa: “mata hati yang diterangi”, mengapa pembaca surat ini perlu memiliki mata hati yang diterangi, bagaimana proses mata hati yang diterangi, dan apa aplikasinya bagi gereja masa kini. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis, yaitu dengan menganalisis unsur frasa tersebut dalam bahasa aslinya dan konteks­nya. sehingga ditemukan prinsip yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa kini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Pertama, frasa “mata hati yang diterangi” memiliki pengertian “telah di­teranginya bagian terdalam dari manusia untuk sanggup mengerti”.  Kedua, mata hati yang diterangi diperlukan agar pembaca surat Efesus bertumbuh dalam tiga hal pengetahuan, yaitu pengharapan akan panggilan, kekayaan kemulia­an warisan bagi orang-orang kudus, dan kebesaran yang luar biasa dari kekuatan kuasa Allah bagi orang-orang yang percaya. Ketiga, untuk mengalami mata hati yang di­terangi, seseorang terlebih dulu harus menerima Injil sehingga Roh Kudus mendiami hatinya; Roh Kudus yang mendiami inilah yang membuat mata hati orang tersebut diterangi. Keempat, orang Kristen tidak cukup berhenti pada penerimaan Injil dan pengakuannya akan Kristus, ia perlu mengenal Allah lebih dalam; untuk itu ia memerlukan Roh Kudus yang me­mampukannya mengerti hubung­an dirinya dengan Allah sehingga memiliki sikap hidup berpadanan dengan anugerah yang tersedia tersebut.
Gereja Menghadapi Era Masyarakat 5.0: Peluang dan Ancaman Joseph Christ Santo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.718 KB)

Abstract

Gereja adalah komunitas orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dan komunitas ini tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dunia yang selalu berubah. Perubahan yang terjadi dan harus disikapi adalah transisi menuju era baru yang dikenal dengan Society 5.0. Gereja tidak bisa acuh tak acuh dalam menghadapi era baru ini. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peluang dan ancaman gereja. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif berdasarkan literatur dan observasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja perlu meningkatkan sumber dayanya untuk memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman, sehingga tidak mati karena memiliki antisipasi yang baik. Gereja harus mengikuti perkembangan agar tetap relevan dengan orang-orang yang hidup di Era Society 5.0.
Kajian Historis Teologis Oneness Pentecostalism: Studi Kasus Setiawan, Hanny; Santo, Joseph Christ
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.68

Abstract

Oneness Pentecostalism's theological position in the orthodoxy faith is arguable. Even though the general position has put the stream of pentecostal movement into heretical teaching, but their presence among mainstream denominations are common. Meaning, the oneness of people is mixed into the other denominations, and among local churches, they have treated just like the other denomination traditions. This article argues that Oneness is indeed a heretical sect. To support this thesis, the historical background for both the origin of the movement and the review of the current case of Joshua B. Tewuh and Bethel Church of Indonesia will be provided. This article's findings in the possible misinterpretation of  W.H. Offiler position in Oneness will be described as important evidence between GBI and Bethel Temple traditions.  The theological position of the Oneness, in addition, will be surveyed in detail to provide a framework of thought of its core doctrines. The survey will be focused on Christology position includes the similarity with other heretic teachings of modalism and Sebelius. In conclusion, this article will present the influence of historical and theological understanding of Oneness in pentecostal-affiliated Indonesian Churches.AbstrakPosisi teologis Oneness Pentecostalism dalam iman ortodoks menjadi perdebatan. Meskipun posisi umum ada yang menyatakan bahwa salah satu aliran pergerakan Pentakosta ini termasuk heretik (bidat), tapi kehadiran mereka di antara denominasi-denominasi arus utama tidak asing. Artinya, pengikut Oneness bercampur dengan denominasi lain, dan di antara gereja-gereja lokal mereka diperlakukan sebagai tradisi denominasi yang lain, seperti tidak ada bedanya. Artikel ini berargumen bahwa Oneness adalah sekte heretik. Untuk mendukung tesis ini, latar belakang sejarah dari asal pergerakan, dan kajian dari kasus terkini Joshua B. Tewuh dan Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) mengenai isu ini akan dibicarakan. Penemuan-penemuan tentang ke-mungkinan misinterpretasi dari posisi W. H. Offiler akan ditunjukkan sebagai bukti-bukti yang menghubung-kan tradisi-tradisi antara GBI dan Bethel Temple. Posisi teologis dari Oneness akan diselidiki secara menyeluruh untuk memperlihatkan kerangka pemikiran dari doktrin-doktrin inti yang dipercaya. Penelitian juga melingkupi kesamaan Oneness dengan pemikiran heretik yang lain: modalisme dan sabelianisme. Sebagai kesimpulan, artikel ini menunjukkan pengaruh dari sejarah dan pengertian teologis tentang Oneness kepada gereja-gereja di Indonesia yang ber-afiliasi dengan aliran Pentakosta.