cover
Contact Name
Nur Sahid
Contact Email
pengabdianseni@isi.ac.id
Phone
+6289649387947
Journal Mail Official
pengabdianseni@isi.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta Jalan Parangtritis KM. 6,5 Yogyakarta 55188 email: pengabdianseni@isi.ac.id HP/WA +62 818-270-415 atau +62 896-4938-7947
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Seni
ISSN : -     EISSN : 27744787     DOI : https://doi.org/10.24821/jps.v2i1
Jurnal Pengabdian Seni merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dipublikasikan kali pertama pada tahun 2020, Jurnal Pengabdian Seni adalah jurnal hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya baik secara online maupun cetak. Jurnal Pengabdian Seni memiliki versi online dan cetak dengan jadwal publikasi dua kali setiap tahunnya yakni Mei dan November. Aim dan Scope jurnal ini adalah bidang Seni dan budaya.
Articles 32 Documents
Penyuluhan Pembuatan Video Profil Desa Bedoyo Andi Haryanto
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4697

Abstract

Desa Bedoyo memiliki potensi seni tari, karawitan, campursari, dan kerajinan yang memerlukan publikasi sebagai bentuk branding desa. Pembuatan video profil dirasa sebagai bentuk medium yang paling representatif untuk mendokumentasikan potensi budaya Desa Bedoyo.Penyuluhan ditujukan untuk mengenalkan pembuatan video kepada warga, meningkatkan keterampilan warga dalam pembuatan video secara mandiri, dan menghasilkan video profil yang berdaya jual. Video profil dikemas dengan tampilan yang modern, tetapi tidak kaku sehingga menarik untuk ditonton dengan  gaya penceritaan “video branded content”. Meski video profil belum terselesaikan, materi yang telah diberikan: potensi desa, ide cerita video, pembuatan script, pengetahuan storyboard, diharapkan dapat menjadi bekal untuk secara mandiri menyebarkan informasi desa melalui berbagai media. Bedoyo Village has plenty cultural potential ranging from dances, Javanese traditional instrument (karawitan), and handcrafts which are in need of publication for the village’s branding. A profile video is considered as the most representative medium to document Bedoyo village potentials. This workshop is aimed to introduce the art of videography to the community to increase their skill in independently developing their own profile video and publishing an appealing village profile video. The profile video will be told in a modern narrative, free from astute formality so that it will generate more interest to the public through the “video branded content” narrative. Although the video itself is not completed just yet, through the materials distributed to the community: village potentials, story ideas, script writing, storyboard making, it is hoped that these will be the foundation for the society’s creativity and independence in making and distributing useful information through various media.
Pelatihan Pengembangan Sekolah Siaga Bencana untuk Anak Penyandang Disabilitas MTs LB/A Yaketunis Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta Bambang Pramono; Danang Febriyantoko
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4698

Abstract

Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terhadap ancaman bencana alam termasuk bencana gempa bumi. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang sering kali menjadi korban ketika benca terjadi, terutama anak-anak disabilitas, termasuk penyandang tunanetra. Yaketunis merupakan lembaga pendidikan formal yang khusus diperuntukkan bagi anak dan remaja penyandang disabilitas dalam hal keterbatasan penglihatan. Sekolah memiliki peranan penting dalam upaya membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Di dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana tentunya dibutuhkan pengetahuan yang baik mengenai risiko bencana yang dapat terjadi. Dalam praktiknya beberapa materi pelajaran terkait kebencanaan dapat diberikan di sela-sela materi pembelajaran, namun hal tersebut masih perlu dikembangkan demi terwujudnya sekolah siaga bencana di lingkungan Yaketunis. Pelatihan ini diberikan kepada siswa MTsLB/A Yaketunis dengan tujuan agar siswa dengan kebutuhan khusus mempunyai pengetahuan mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan cara menganalisis kerentanan yang ada di sekolah yang kemudian mengetahui tempat yang dirasa aman sebagai tempat berlindung ketika terjadi bencana. Metode yang digunakan yakni mengikuti proses pembelajaran orientasi dan mobilitas yang telah diajarkan oleh pihak sekolah kemudian mengkombinasikanya dengan pengetahuan mengenai  manajemen kebancanaan dengan cara menaganalisis spot-spot yang ada di sekolah untuk lebih mengenali lingkungan fisik siswa. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengenali lingkungan sekolah dapat lebih dioptimalkan dengan penggunaan peta jalur evakuasi bencana yang telah diberi huruf braile, sehingga pada saat mata pelajaran orientasi dan mobilitasi peta tersebut dapat digunakan sebagai rujukan untuk lebih mngenali lingkungan fisik serta membekali diri mereka dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Yogyakarta is a region prone to earthquake and other natural disasters. Children are usually the risque ones that often become victim at times of disaster, especially the disabled ones, e.g. blind. Yaketunis is a formal education association that specializes in the education for disabled children and teens in regard of blindness. This school has an important role in building alertness against disasters. This eventually leads to the need of good knowledge of the possible risks resulting from disasters. In its practice, several education materials about disasters are given in-between their formal lessons, yet these still need improvement to create an alertness against disasters in Yaketunis environment. This workshop is given to Yaketunis special high school with the aim for the disabled students to have awarness and alertness of prospective disasters by knowing which parts of the school pose risks for them and to distinguish which places are safe to be used as shelter in times of need. The method used in this workshop is to combine the orientation and mobilization that have been taught by the school with the knowledge of disaster alertness management to analyze spots at school so they are more aware of their surroundings physically. The results show that students’ understanding to their school environment can be optimized with the use of evacuation map written in braile, so that the lesson for orientation and mobilization can be dedicated to that map reading as a guide to understand their surrounding and to equip them with safety measures in times of disasters.
Pelatihan Teknik Jumputan Inovasi untuk Meningkatkan Kualitas Produk Tie Dye Kelompok Seni SEEJ Esther Mayliana; Anna Galuh Indreswari
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4699

Abstract

Kelompok seni di Yogyakarta banyak berkembang, salah satunya adalah Shibori Ecoprint Eng Jogja (SEEJ). SEEJ berlokasi di Dusun Kepuh, Klitren, Gondokusuman yang berdiri tahun 2018. SEEJ menghasilkan produk shibori/tie dye dan eco print. Produk dipasarkan melalui bazar yang sering dilakukan. Namun, produk yang dihasilkan sebatas dengan model corak dasar yang sama sehingga kurang bersaing dengan produk serupa karena tidak adanya inovasi. Pelatihan bagi anggota SEEJ diperlukan untuk meningkatkan kemampuan sehingga dapat menghasilkan produk dengan kualitas unggul, yaitu memberikan inovasi produk. Pelatihan dilakukan melalui program Penyuluhan Seni ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan pada 10 Maret-21 Agustus 2020. Pelatihan awalnya akan diselenggarakan dengan tatap muka, namun karena pandemi, pelatihan dilakukan secara daring. Materi dibuat dalam Power Point dan video tutorial. Materi dikirimkan melalui WhatsApp Group dan dipelajari peserta serta dipraktikkan secara mandiri. Materi yang diberikan adalah teknik jumputan inovasi. Materi ini diberikan supaya peserta dapat menghasilkan produk berbeda sehingga kualitas produk meningkat dengan adanya inovasi motif. Peningkatan kualitas diharapkan dapat meningkatkan penjualan. Dalam pelatihan ini hasil yang diharapkan berupa produk jadi, yaitu kain panjang. Namun, kondisi yang terjadi membuat pelatihan tidak dapat berjalan sesuai rencana sehingga hasilnya kurang sesuai dengan harapan. Dalam pelatihan ini dihasilkan sampel pembuatan motif jumputan inovasi. Melalui pelatihan, peserta sudah paham teknik yang digunakan dalam jumputan inovasi sehingga pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal dalam pengembangan produk. Akan tetapi, sampel yang dihasilkan dapat dikatakan kurang sempurna dan masih perlu berlatih terus-menerus. Kondisi ini yang belum menungkinkan untuk pembuatan produk jadi.Arts community in Yogyakarta has grown rapidly, one of them is Shibiri Ecoprint Eng Jogja (SEEJ). SEEJ, that is located at Kepuh Village, Klitren, Gondokusuman, has been established since 2018. SEEJ produces shibori/tie dye and ecoprint products. These products are marketed at frequent bazaar. As the product mainly only have the same basic patterns, they are hard to compete with other similar products due to the lack of innovation. A workshop dedicated for SEEJ members is needed to increase their ability to manufacture better products and to inovate other product variety. This training is done through ISI Yogyakarta Arts Workshop held at March 10 - August 21, 2020. Initially this training is meant to be held on site, yet due to pandemic, it is directed to online meetings. Material is created in Power Point and tutorial videos and distributed through Whatsapp Group to be learned by the participants and independently practiced. Material given is that of innovation in tie-dyeing method. This material is given to ensure the participants are able to produce better products with pattern variety. The increasing quality is believed to lead to the increase of sales. This training envisions a product of a long fabric, yet as the situational problem arises, the results gained is less from satisfactory. This training resulted in samples of innovation in tie-dyeing method. Through this training, the participants are equipped with the new innovation skill and technique that will assist them to develop even further in varying patterns. The results, however, show that more continual trainings are still needed and their progress has not provided enough skill to create a new finished and polished product.
Penyuluhan Penyajian karya dan Persiapan Pameran Fotografi Forum Komunikasi Fotografi Mahasiswa Yogyakarta (FORKOM Jogja) Irwandi - Irwandi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4700

Abstract

Di Yogyakarta terdapat sejumlah UKM Fotografi yang rutin menyelenggarakan pameran foto dalam periode tertentu, biasanya tahunan. Kegiatan ini menambah dinamika dunia fotografi serta turut memajukan fotografi Indonesia. Karya foto perlu ditunjang dengan cara penyajian yang baik agar pesan yang hendak disampaikan dalam karya dapat terseberangkan. Selain itu, penyajian yang baik akan meningkatkan nilai karya berikut apresiasi dari penonton pameran. Sayangnya, penyajian karya yang dilakukan oleh UKM-UKM Fotografi yang tergabung dalam FORKOM Jogja ini masih kurang diperhatikan. Untuk itu, diperlukan penyuluhan dalam hal penyajian karya dan persiapan pameran. Metode  yang  digunakan  adalah  pemberian  teori  di  dalam  ruangan  kelas  oleh  dosen-­dosen fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Adapun praktik yang dilakukan berupa eksperimen penyajian karya fotografi oleh seniman fotografi Mes56 Yogyakarta. Berdasarkan penyuluhan yang telah dilakukan terhadap sebagian kecil komunitas fotografi di Yogyakarta, disimpulkan bahwa materi penyajian pameran sangat diperlukan oleh masyarakat fotografi. Penyajian karya fotografi sangat mempengaruhi hasil karya serta dapat pula didayagunakan untuk menyatu dengan karya. In Yogyakarta, there are several photography cliques that periodically hold photo exhibitions, usually annualy. This event adds to the dynamic of Indonesia photography world and also to improve the development of photography in Indonesia. Photos need to be supported with proper presentation to ensure the intended message can be conveyed through. Aside of that, a good presentation will raise the photo value and appreciation from the visitors. Unfortunately, photo presentations that has been done by cliques within FORKOM Jogja still needs improvement. Hence it is needed to create a workshop about photo presentation and exhibit preparation. The methods used is theoretical lesson done in classroom by the lecturers of Indonesian Institute of Arts (ISI Yogyakarta) from Photography major. One of the practice being shown is the photo presentation from the photographer Mes56 Yogyakarta. Based on the conducted workshop that has been done to a small number of photography communities in Yogyakarta, it can be deduced that material about exhibit presentation is highly needed by the photography communities. The way of how a photo is presented heavily influences the photo’s value and is exploitable to connect more with the photo.
Pelatihan Iringan dan Teknik Garap Gejog Lesung pada Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang” Joko Tri Laksono
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4701

Abstract

Gejog Lesung “Kumandhang” merupakan kelompok kesenian di masyarakat padukuhan Karanganom I– Ngawis–Karangmojo–Gunungkidul, yakni merupakan masyarakat yang percaya bahwa kesenian yang dimilikinya yakni Gejog Lesung tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang selalu difungsikan setiap upacara ulang tahun Desa maupun Rasulan. Namun, belum tersedianya instruktur profesional sesuai kompetensinya dalam kesenian Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang” sehingga gerak penyanyinya, iringan, maupun teknik garap penyajian terlihat sekedarnya sehingga perlu mendapat sentuhan akademisi untuk menggarap Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang”, agar tidak monoton dan terkesan membosankan. Penyuluhan dilakukan pada 11 Maret sampai dengan 21 Agustus 2020. Peserta penyuluhan Seni Gejoglesung “Kumandhang” berjumlah 20 (duapuluh) orang peserta. Materi penyuluhan berupa modifikasi motif pukulan dan teknik garap Gejog Lesung dengan lagu Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, dan Swara Suling dengan metode ceramah, demonstrasi, dan latihan. Hasil penyuluhan adalah peserta paham bagian-bagian dalam sajian motif pukulan untuk Introduksi, Interlude dan Coda pada sebuah lagu, mengerti pentingnya aransemen dalam sebuah lagu, mengenal dinamika dan permainan tempo dalam garap pada sebuah ansambel Selain itu, pementasan jauh lebih hidup dan dinamis terutama lagu-lagu yang disajikan telah diaransemen, karena adanya tekhnik penggarapan dalam beberapa komposisi lagu sehingga tidak monoton dan membosankan. Pemahaman pentingnya manajemen terbuka dalam sebuah kelompok juga didapatkan dari penyuluhan ini. Gejog Lesung "Kumandhang" is an art group in the Karanganom I Ngawis Karangmojo Gunungkidul community, namely people who believe that the art they have, namely Gejog Lesung, has existed since the time of their ancestors, which has always been used every Village and Rasulan birthday ceremony. However, the unavailability of professional instructors according to their competence in the art of the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang" so that the movements of the singers, accompaniments, and presentation techniques look modest, so it is necessary to get a touch from academics to work on the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang", so as not to be monotonous and seem boring. The counseling was held on March 11 to August 21, 2020. There were 20 (twenty) participants of the "Kumandhang" Gejoglesung art extension. The counseling material was in the form of modification of the punch motif and the technique of working on Gejog Lesung with the songs Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, and Swara Suling using lecture, demonstration, and exercise methods. The result of the counseling is that the participants understand the parts of the punch motive presentation for the Introductions, Interlude and Coda in a song, understood the importance of arrangements in a song, recognized the dynamics and tempo play in working on an ensemble. , the performance is much more lively and dynamic, especially the songs presented have been arranged, because of the cultivation techniques in several song compositions so that they are not monotonous and boring. An understanding of the importance of open management in a group was also obtained from this counseling.
Penyuluhan Seni Tari di Paguyuban Kesenian RW 13 Kampung Bangunrejo, Kelurahan Kricak Ni Kadek Rai Dewi Astini
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4702

Abstract

Kegiatan Penyuluhan Seni yang berlangsung dari 19 Maret sampai dengan 4 Mei 2019 ini memiliki tujuan memperkenalkan Program Studi Jurusan Seni Tari ISI Yogyakarta kepada masyarakat Kelurahan Kricak khususnya peserta pelatihan tari. Dengan adanya penyuluhan ini, banyak sekali ha positif yang didapatkannya itu dapat menyambung tali silaturahmi dengan para pecinta seni tari khususnya peserta dan warga RW 13 Bangunrejo, Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan, mengingat bahwa anak-anak yang terlibat dalam pelatihan merupakan masyarakat asli dari kota Yogyakarta, yang sangat asing terhadap budaya Bali, di awal-awal pertemuan mereka sangat kesulitan untuk menerima materi yang diberikan. Namu berkat tekad yang kua dan semangat yang pantang menyerah, niscaya semua dapat teratasi.Kegiatan penyuluhan ini diakhiri dengan pentas seni budaya, dalam acara Mreti Desa, salah satunya adalah penampilan tari Bali. This workshop was held at March 19 to May 4 with the aim of introducing Dance major from ISI Yogyakarta to the residents at Kricak Sub-district, especially the dance workshop participants. There are many positive benefits gained from this workshop such as the relationship building between the dance enthusiasts dwelling in Bangunrejo RW 13 at Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta. The slight problem that arise was that the Yogyakarta born and raised children are not accustomed to Balinese culture. They faced great difficulty at the beginning of the workshop and hard to absorb the given practices. Through perseverance and will, these hardships are eventually bypassed. This workshop is ended with a cultural display stage, included in the MretiDesa event, as a Bali dance performance.
Penyuluhan Seni Gamelan Dukuh Kadireso Setyawan Jayantoro
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4704

Abstract

Berawal dari pelaksanaan KKN, penulis menjumpai dan merintis terbentuknya kelompok gamelan di Dukuh Kadireso. Pada pengabdian ini, penulis berfokus pada kurangnya apresiasi pada warisan budaya dan kembali melakukan penyuluhan dengan metode pembelajaran langsung: teknik tiap ricikan, membaca notasi, dan praktik bersama. Materi yang diberikan diharapkan dapat membantu konsistensi kelompok gamelan ini untuk dapat beraktivitas secara mandiri. Hasil dari pengabdian ini adalah tercapainya penguasaan materi pada Gangsaran dan Lancaran "Ayo Kanca Nabuh Gamelan" serta terbentuknya komunitas diskusi kesenian di Karang Taruna Dukuh Kadireso.The writer is exposed to the community of Kadireso village started from an undergraduate field program, in which the writer met and started a gamelan (traditional Javanese music instrument) group. In this opportunity, the writer focuses in the community’s lack of appreciation for the cultural heritage and reintroduces the gamelan workshop through an intensive teaching sessions: technique in each ricikan (stanza), reading music notes, and communal practices. The material given are hoped to be able to lead them into consistency and to engage in the activity independently. Results of this workshop shows that the group is now able to master the beginner drill of Gangsaran and Lancaran: “Ayo KancaNabuh Gamelan” and is able to solidify the arts discussion community in Kadireso village youth community.
Pemberdayaan Masyarakat Wukirsari, Imogiri, Bantul Melalui Potensi Wisata Seni dan Penangkaran Burung Lutse Lambert Daniel Morin; Tanto Harthoko
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4709

Abstract

Desa Wukirsari adalah salah satu desa di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain wayang, karawitan, kerajinan bambu, dan batik tulis, Wukirsari juga dikenal sebagai desa yang mata pencaharian mayoritas warganya adalah berjualan burung. Tujuan pengembangan dan pemberdayaan melalui P3Wilsen di Desa Wukirsari selama satu bulan adalah untuk meningkatkan jenis dan desain kerajinan bambu, mengembangkan keseniian yang sudah ada agar lebih menarik dan menghasilkan kesenian baru, serta membantu masyarakat dalam pembuatan desain lanscape taman burung. Metode yang diambil untuk mengatasi persoalan dengan kegiatan-kegiatan: (1) pendampingan pengembangan desain landscape meliputi: sign system, mural, perancangan taman, dan pembuatan profil; (2) pelatihan kerajinan bambu dan tatah sungging misalnya pengembangan desain dan bentuk dangkar burung yang akan menunjang suvenir Desa Wisata Wukirsari; dan (3) pelatihan tari dan karawitan untuk anak-anak yang nantinya akan menunjang atraksi desa wisata. Kegiatan P3Wilsen ini telah mencapai hasil berupa: (1) meningkatnya minat dan kemampuan berkesenian masyarakat Wukirsari, (2) meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mendesain papan-papan nama dan petunjuk arah yang akan digunakan dalam pembuatan taman penangkaran burung, (3) adanya video yang menunjukkan side plane dan short film dokumenter sebagai sarana promosi, dan (4) meningkatnya ilmu manajemen dalam organisasi atau kelompok penangkar burung dan pengrajin di Wukirsari. Wukirsari village is located at Imogiri Area, Bantul Distrcit, Yogyakarta Specially Designated-Area Province. Aside from wayang (Javenese shadow puppet), karawitan (Javanese traditional instruments), bamboo arts, and handmade batik, Wukirsari is also known as a village in which the residents peddle birds as their main trade. The aim of community development and empowerment thru P3Wilsen at Wukirsari village for a month is to increase the type and design of bamboo arts, improve the existing arts to be more appealing thus generating new arts, and also to help the people in designing bird park landscape. The methods used to tackle the issues are: (1) development assistance in landscaping: sign, system, mural, park planning, and profil making; (2) the training for bamboo arts and carvings, e.g. to develop design and to shape a kind of birdcage as a unique souvenir from Wukirsari Tourist Village; and (3) dance and karawitan for children practices that eventualy support the tourism in the village. The P3Wilsen agenda has gained results such as: (1) Wukirsari villagers’ increasing interest and better ability in arts, (2) the increase of capability for the community to design signboards that will be used in the bird sanctuary development, (3) the creation of a video to show the side plane and as a short documenter film for promotion purposes, and (4) the growth in managing skill within organization or community of the bird breeders and handcrafters in Wukirsari.
Menumbuhkan Jiwa Wirausaha dengan Penyuluhan Seni Sablon dan Cukil di Panti Asuhan “Amanah” Jetis, bantul, Yogyakarta Retno Purwandari; Zahra Azkia Putri Yantari
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOPEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4703

Abstract

Panti asuhan “Amanah” merupakan panti asuhan yang berdiri sebagai bentuk respon terhadap kondisi sosial masyarakat setempat, yakni di daerah Ganten, Trimulyo, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Panti asuhan ini terbentuk untuk mewadahi anak-anak korban gempa bumi di Yogyakarta 2016. Seiring berjalannya waktu, panti asuhan ini berkembang cukup baik yang dari tahun ke tahun sudah mampu mengantarkan anak-anak asuhnya ke jenjang lebih baik, bahkan tidak hanya anak yatim/yatim piatu, para lansia pun turut dikelola oleh yayasan ini. Menjawab permintaan yayasan yang menginginkan anak asuhnya memiliki keterampilan sablon, program penyuluhan sablon dan cukil ini pun terlaksana. Pelaksanaan penyuluhan sablon dan cukil dilaksanakan secara bertahap dari mulai pendekatan kepada mitra, persiapan serta pengenalan bahan dan alat, pelatihan, dan evaluasi telah mampu menyajikan hasil pelatihan yang cukup memuaskan, yakni berupa karya sablon di kaos, totebag, kayu, dan karya cukil berupa hiasan dinding. Karya pelatihan dipamerkan di ruang pamer sebagai salah satu hasil penyuluhan selain produk sablon dan cukil. Selain itu, anak-anak diajarkan berwira usaha dengan mencoba memamerkan hasil karya dan menjualnya, hasilnya beberapa produk laku terjual. Harapan besar, penyuluhan ini melatih keterampilan untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha. The “Amanah” orphanage is an orphanage that was established as a response to the social conditions of the local community, namely in the Ganten, Trimulyo, Jetis, Bantul, Yogyakarta areas. This orphanage was formed to accommodate children who were victims of the 2016 Yogyakarta earthquake. Over time, this orphanage has developed quite well which from year to year has been able to take foster children to a better level, not only orphans, the elderly are also managed by this foundation. Answering the foundation's request that its foster children have screen printing skills, this screen printing and cukil extension program was implemented. The implementation of screen printing and cukil counseling is carried out in stages starting from the approach to partners, preparation and introduction of materials and tools, training, and evaluation that have been able to present satisfactory training results, namely in the form of screen printing work on t-shirts, tote bags, wood, and cukil works a wall decoration. Training works are exhibited in the exhibition room as one of the results of counseling besides screen printing and cukil products. In addition, children were taught entrepreneurship by trying to showcase their work and sell it, the result was that several products were sold. High hopes, this counseling trains skills to foster an entrepreneurial spirit. Keywords: screen printing, cukil, "Amanah" orphanage
Seni Tata Taman Pendukung Perintisan Desa Wisata di Desa Sidoagung, Kecamatan Godean, Sleman, DIY artbanu wishnu aji
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOPEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4705

Abstract

Budi daya ikan di kawasan Godean memang bukan fenomena baru, tetapi kemampuannya untuk menarik wisatawan dan pengunjung belum pernah dieksplorasi secara menyeluruh. Beberapa generasi muda di Desa Sidoagung memiliki ide untuk mengembangkan kawasan budi daya ikan mentah menjadi restoran keluarga dengan area bermain untuk anak-anak. Ketidakmampuan mereka dalam mendesain mendorong Jurusan Desain Institut Seni Indonesia untuk membantu mereka dengan pelatihan singkat tentang bagaimana mendesain area taman berdasarkan partisipasi masyarakat. Dengan pendekatan desain berbasis komunitas, pelatihan diadakan dengan cara temu komunitas dan mengajak komunitas muda untuk secara aktif mengkomunikasikan gagasan mereka sendiri satu sama lain. Mereka mengembangkan keterampilan desain dengan mempraktikkan menggambar dan menggambar ulang beberapa objek umum dalam komposisi taman. Pelatihan tersebut berhasil meningkatkan kemampuan anggota komunitas remaja untuk mengembangkan desain restoran keluarga dengan taman dan area bermain untuk anak-anak. Fish culture in Godean area is not a new phenomena however its ability to atrracts tourists or visitors is never thouroughly explored. Some younger generations in the Sidoagung village had an idea to develop raw areas of fish culture into family restaurant with playground area for the children. Their lack ability to design prompted design department of Indonesia Institute of The Art to help them with short training on how to design garden area based on community participation. Using community based design approach the training was held in the manner of community meeting and encourage youth community to activily communicate their own ideas with one another. They developed design skill by practicing drawing and re-draw some of the common objects in the garden composition.The training succeed in upgrading youth community member to develop family restaurant design with garden and playground area for children. 

Page 1 of 4 | Total Record : 32