cover
Contact Name
Simon Simon
Contact Email
charistheo08@gmail.com
Phone
+62895395000168
Journal Mail Official
charistheo08@gmail.com
Editorial Address
Kampus Utama: BG Junction Mall L2/P5, Jl. Bubutan 1-7 Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 28088735     EISSN : 28084454     DOI : -
Fokus dan ruang lingkup jurnal CHARISTHEO: Teologi Kristen Pendidikan Agama Kristen Kepemimpinan Kristen Etika Kristen Sosial dan Keagamaan Misiologi
Articles 15 Documents
Tinjauan Dampak Metode Penginjilan Evangelism Explosion Bagi Pertumbuhan Jemaat Lokal Paulus Kunto Baskoro
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.712 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.5

Abstract

The Great Commission of the Lord Jesus commanded every believer to go make all nations. This is an important mandate called an evangelistic mandate. But there is no denying that many of God's churches or believers are not serious about carrying out the mandate of evangelism which is God's desire to bring believers to Him. The author tries to contribute to the understanding of one of the methods in evangelism, evangelism explosion method as an evangelistic method is quite effective for the growth of the local church. In obtaining accurate and accountable data, the author uses descriptive writing methods of literature. The purpose of this writing is to convey how important evangelism is in the local congregation. Then through evangelism the evangelism explosion method became a very effective method of bringing people to accept Jesus as Lord, and the Savior personally. In addition, local congregations can play an active role in evangelism. The impact of the application of this method experienced the maximum growth of the congregation and evangelism into the lifestyle of believers.Keyword : Evangelism Explosion, Local Church AbstrakAmanat Agung Tuhan Yesus memerintahkan setiap orang percaya untuk pergi menjadikan semua bangsa. Ini merupakan mandat penting yang disebut mandat penginjilan. Namun tidak bisa dipungkiri, banyak gereja Tuhan atau orang percaya tidak serius dalam melaksanakan mandat penginjilan yang merupakan keinginan Tuhan untuk membawa orang percaya kepada-Nya. Penulis mencoba memberikan kontribusi pemahaman salah satu metode dalam penginjilan, yaitu metode evangelism explosion sebagai metode penginjilan cukup efektif bagi pertumbuhan gereja lokal. Di dalam mendapatkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, penulis menggunakan metode penulisan deskriptif literatur. Tujuan penulisan ini adalah menyampaikan betapa pentingnya sebuah penginjilan dalam jemaat lokal. Kemudian  melalui metode penginjilan dengan evangelism explosion menjadi metode yang sangat efektif dalam membawa orang menerima Yesus sebagai Tuhan, dan Juruselamat secara pribadi. Selain itu jemaat lokal dapat berperan aktif dalam penginjilan. Dampak dari penerapan metode ini mengalami pertumbuhan jemaat yang maksimal dan penginjilan menjadi gaya hidup orang percaya.Kata Kunci : Evangelism Explosion, Gereja Lokal
Pemulihan Anak yang Mengalami Kekerasan dari Orang Tua Akibat Pandemi Covid-19 Asmat Purba; Lisna Novalia; Linda Zenita Simanjuntak
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.728 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.26

Abstract

The purpose of this article is to find the right way for parents not to abuse their children both verbally and physically. As a good parent, be a guide in truth and comfort in times when children are sad or find problems. Children are God's gift to be loved by parents. They need to be loved, valued as God's creation, and want to be raised with compassion rather than by violence. Children who have been harmed by parents should not be allowed but should be restored immediately. This article discusses the recovery of children who experience violence from parents due to the Covid-19 pandemic. This research is qualitative, looking for phenomenal information in the community through online newspapers to obtain data by reducing certain parts and sorting according to the purpose of the research. Parents should pay attention and affection to their children under any circumstances. To children who have violence problems, parents are asked to provide guidance in the form of special counseling such as inner healing and guide children out of fines, bitter roots and free them to tell the root of the problem at hand.ABSTRAKTujuan dari artikel ini untuk menemukan cara yang tepat bagi para orang tua agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka baik secara verbal maupun fisik. Sebagai orangtua yang baik justeru menjadi pembimbing dalam kebenaran dan penghibur di saat anak-nak bersedih atau menemukan masalah. Anak-anak adalah titipan Tuhan untuk dikasihi oleh orang tua. Mereka membutuhkan dikasihi, dihargai sebagai ciptaan Allah, dan ingin dibesarkan dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan. Anak yang sudah terlanjur dilukai oleh orang tua tidak boleh dibiarkan tetapi harus segera dipulihkan. Artikel ini membahas pemulihan anak yang mengalami kekerasan dari orang tua akibat pandemi Covid-19. Penelitian ini bersifat kualitatif, mencari informasi yang fenomenal di masyarakat melalui Koran online untuk memperoleh data dengan mereduksi bagian-bagian tertentu dan memilah yang sesuai tujuan penelitian. Orang tua harus memberi perhatian dan kasih sayang pada anak-anaknya dalam keadaan apapun. Kepada anak yang memiliki masalah kekerasan maka orang tua diminta memberikan bimbingan dalam bentuk konseling khusus seperti inner healing dan menuntun anak-anak keluar dari dengan, akar pahit serta membebaskan mereka untuk menceritakan akar masalah yang dihadapi. Kata kunci: pemulihan; anak, kekerasan; orang tua; pandemi covid-19; konseling krisis; luka batin. 
Aplikasi Teori Kecerdasan Majemuk Pada Mata Pelajaran PAK Di Sekolah Inklusi Sumiati Sumiati; Steaven Octavianus; Reni Triposa
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.117 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.10

Abstract

In the application of the theory of multiple intelligences to PAK subjects, it is a process of students in knowing the intelligence of students, through the theory it helps students find their intelligence in the learning that has been given. The author uses the library method, it can be concluded that the application of the theory of multiple intelligences Christian religious education is possible. This is done to find out and develop the theory of multiple intelligences through the process of religious education. So that the application of multiple intelligences through Christian religious education includes the concept of multiple intelligences, the availability of time and the ability to utilize learning resources. As well as the ability with the chosen method. because the application of methods to develop one type of intelligence will differ at different levels of development.Keywords : Multiple Intelligences, Christian Education, Religious Education, Inclusion AbstrakDalam aplikasih teori kecerdasan majemuk pada mata pelajaran PAK merupakan suatu proses peserta didik dalam mengetahui kecerdasaan yang dimiliki peserta didik, melalui teori tersebut membantu peserta didik dalam menemukan kecerdasannya dalam pembelajaran yang telah diberikan. Penulis menggunakan metode pustaka dalam kajian ini. Uraian pada artikel ini menyimpulkan aplikasi kecerdasan ganda dapat diimplementasikan dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dan mengembangkan teori kecerdasan majemuk melalui proses pendidikan agama. Penerapan kecerdasan majemuk melalui pendidikan agama Kristen diantaranya konsep mengenai kecerdasan majemuk, ketersediaan waktu dan kemampuan memanfaatkan sumber belajar, serta kemampuan dengan metode yang dipilih. Karena itu penerapan metode untuk mengembangkan satu jenis kecerdasan akan berbeda pada tingkat perkembangan yang berbeda.Kata kunci : Kecerdasan Majemuk, Pendidikan Kristen, Pendidikan Agama, Inklusi
Konfirmasi Teologis Peran Roh Kudus Dalam Pelayanan Gerejawi Marciano Antaricksawan Waani; Ester Riyanti Supriadi
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.354 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.4

Abstract

The importance of understanding the role of the Holy Spirit becomes a basic need to examine the understanding of the role of the Holy Spirit, especially in ecclesiastical ministry. This paper specifically wants to confirm that the role of the Holy Spirit in ecclesiastical ministry is real. By using a topical method with a qualitative approach to the texts, a theological confirmation as follows regarding the role of the Holy Spirit in ecclesiastical ministry: first, the Holy Spirit teaches. Second, the Holy Spirit testifies. Third, the Holy Spirit guides. Fourth, the Holy Spirit. Fifth, regenerate the Holy Spirit.Keywords: Holy Spirit, church, teaching, witness, guiding, encouraging, being born again. AbstrakPentingnya memahami peran Roh Kudus menjadi kebutuhan dasar untuk meneliti pemahaman tentang peran Roh Kudus khususnya dalam pelayanan gerejawi. Tulisan ini secara khusus hendak memberikan sebuah konfirmasi bahwa peran Roh Kudus dalam pelayanan gerejawi adalah nyata. Dengan menggunakan metode topikal dengan pendekatan kualitatif pada teks-teks Alkitab, maka didapatkan sebuah konfirmasi teologis seperti berikut mengenai peran Roh Kudus dalam pelayanan gerejawi: Pertama, Roh Kudus mengajar. Kedua, Roh Kudus bersaksi. Ketiga, Roh Kudus membimbing. Keempat, Roh Kudus meyakinkan. Kelima, Roh Kudus melahirbarukan.Kata kunci: Roh Kudus, gereja, mengajar, saksi, membimbing, meyakinkan, lahir baru.
Karya Roh Kudus yang Karismatik dalam Kehidupan Kristus Menurut Injil Lukas dan Implikasinya bagi Orang Percaya Kalis Stevanus
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.14 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.23

Abstract

This research method is a descriptive qualitative method with the aim of describing the role of the Holy Spirit in the life of Christ specifically from Luke's writings in the Gospel of Luke. This paper is expected to complement and add to the understanding of what has been written and understood by many theologians and Christians, so that readers can benefit from their Christian faith life. The search results in Luke's Gospel show that Luke emphasizes the charismatic work of the Holy Spirit. In Luke's charismatic theology, the Holy Spirit plays a key role in the history of salvation. This is shown especially in the life of Jesus as a charismatic prophet. Jesus was not only anointed by the Holy Spirit, but was filled and led by the Spirit. For Luke, it was impossible to separate Jesus' salvific mission from the charismatic work of the Holy Spirit.ABSTRAKMetode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan maksud untuk memaparkan peran Roh Kudus dalam kehidupan Kristus secara khusus dari tulisan Lukas di dalam Injil Lukas. Tulisan ini diharapkan dapat melengkapi dan menambah pemahaman apa yang selama ini sudah ditulis dan dipahami oleh banyak teolog maupun umat Kristen, sehingga pembaca mendapat manfaat bagi kehidupan iman kristianinya. Hasil penelusuran di dalam Injil Lukas menunjukkan Lukas memberi penekanan pada karya karismatik Roh Kudus. Di dalam teologi karismatiknya Lukas, Roh Kudus memegang peran kunci dalam sejarah keselamatan. Hal itu ditunjukkan khususnya di dalam hidup Yesus sebagai nabi karismatik. Yesus bukan saja diurapi oleh Roh Kudus, tetapi dipenuhi dan dipimpin oleh Roh. Bagi Lukas, tidaklah mungkin untuk memisahkan misi keselamatan Yesus dari karya Roh Kudus yang karismatik dan misioner. Kata kunci: Injil Lukas, Karismatik, Kristus, Roh Kudus
Kajian Hermeneutis Ungkapan “Sungguh Amat Baik” dalam Kejadian 1:31 Ditinjau dari Perspektif Redemptive-Historical Approach Jhon Leonardo Presley Purba; Hizkia Febrian Prastowo; Robinson Rimun
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.194 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.14

Abstract

AbstractThe phrase “it was very good” in Genesis 1:31 is a phrase that has important theological and historical significance in the redemptive historical of Christ. The history of redemption itself, as a hermeneutical approach, cannot be separated from the events of creation. Presented in a qualitative descriptive form with the method of literature study and grammatical textual analysis, this article is intended to do a hermeneutical study of the expression “it was very good” in Genesis 1:31, which is carried out from the perspective of the redemptive historical approach, to then find its theological and historical meaning. The results of this study conclude that based on a hermeneutical study from the perspective of the redemptive historical approach, the expression “it was very good” in Genesis 1:31 has two important meanings, first, the theological meaning in terms of genealogy/origins of creation where this expression is God's qualitative assessment of the quality of all creation that is perfect, complete and harmonious, which reflects the quality of God as the Creator. Second, the historical meaning which is viewed from the eschatology of Christ's redemption where this expression is the beginning of history which progressively, after the fall of man into sin, also acts as the beginning and end of the history of redemption. The phrase “it was very good” is the ultimate goal/ultimate quality of all creation that Christ has redeemed. Christ's redemptive work restores the quality of the value of creation to its original state, as God intended from the beginning.AbstrakUngkapan “sungguh amat baik” dalam Kejadian 1:31 merupakan frasa yang memiliki makna teologis dan historis yang penting dalam sejarah penebusan Kristus. Sejarah penebusan sendiri sebagai suatu pendekatan hermeneutis, tidak dapat dipisahkan dari peristiwa penciptaan. Disajikan dalam bentuk kualitatif deskriptif dengan metode studi literature dan analisis tekstual grammatical, tulisan dimaksudkan untuk melakukan kajian hermeneutis terhadap ungkapan “sungguh amat baik” dalam Kejadian 1:31, yang dilakukan dari perspektif redemptive historical approach, untuk kemudian menemukan makna teologis dan historisnya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasarkan kajian hermeneutis dari perspektif redemptive historical approach, ungkapan “sungguh amat baik” dalam Kejadian 1:31 memiliki dua makna penting yaitu pertama, makna teologis ditinjau dari silsilah/asal-usul penciptaan dimana ungkapan ini merupakan penilaian kualitatif Allah atas kualitas segala ciptaan yang sempurna, utuh dan harmonis, yang mencerminkan kualitas Allah sebagai Pencipta. Kedua, makna historis yang ditinjau dari eskatologis penebusan Kristus dimana ungkapan ini merupakan awal dari sejarah yang secara progressive, setelah kejatuhan manusia dalam dosa, juga berperan sebagai awal dan tujuan akhir sejarah penebusan. Ungkapan “sungguh amat baik” merupakan tujuan akhir/kualitas akhir segala ciptaan yang telah ditebus Kristus. Karya penebusan Kristus mengembalikan kualitas nilai ciptaan kepada keadaanya yang semula, sebagaimana Allah maksudkan sejak awal.
Tinjauan Etis Kristen Terhadap Kebebasan Beragama Di Lingkungan Sekolah Negeri Dengan Dicabutnya SKB Tiga Menteri Suriawan Surna; Priyantoro Widodo
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.703 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.7

Abstract

In order to protect the equal right to freedom of thought, belief and religion of all students in all public schools in Indonesia; in February 2021, the central government represented by three ministers, namely Minister of Education and Culture, Home Affairs Minister, and Religious Affairs Minister issued Joint Ministerial Decree (SKB) on the Use of Uniforms and Attributes for Students, Educators, and Education Personnel in state schools at the primary and secondary level .On 3 May 2021, the Supreme Court of the Republic of Indonesia revoked it. The purpose of this paper is to state a universal Christian ethical attitude in the midst of national and state life which is based on Pancasila and Bhineka Tunggal Ika (“Unity in Diversity”), especially in response to the revocation of the 3 Ministerial Decree that used to guarantee and protect religious freedom in state schools. The method used in this paper is phenomenological-qualitative research. The result is hoped to become a consideration for the central government and every child of the nation in general, and especially for followers of the Lord Jesus Christ in the land of Pancasila, Indonesia.Keywords: freedom of religion, Christian ethics, universal AbstrakDemi menjaga kebebasan dalam mengekspresikan keyakinan yang dianut semua siswa di semua sekolah negeri di Indonesia, maka pemerintah pusat yang diwakili tiga Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB). Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang diselenggarakan Pemda pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah pada bulan Februari 2021. Namun SKB tiga Menteri tersebut terkesan mengekang dan membatasi tradisi atau budaya masyarakat yang sudah lama ada di daerah di Indonesia. Pada tanggal 3 Mei 2021, Mahkamah Agung Republik Indonesia mencabut SKB 3 Menteri tersebut. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menyatakan sikap etis Kristen di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dalam menyikapi ketiadaan SKB 3 Menteri yang menjamin dan melindungi kebebasan beragama di lingkungan sekolah negeri. Metode yang digunakan di dalam makalah ini adalah metode penelitian fenomenologi-kualitatif. Hasilnya diharapkan menjadi pertimbangan bagi pemerintah pusat dan setiap anak bangsa pada umumnya serta khususnya bagi pengikut Tuhan Yesus Kristus di bumi Pancasila, Indonesia.Kata Kunci: Kebebasan Beragama, Etika Kristen
VIRTUALISASI TUHAN: Menyelak Ownership Tokoh Agama Elia Tambunan; Simon Simon
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.837 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.29

Abstract

The boom of information, communication and technology is changing the landscape of religious performance, especially when the West falls into a workaholicism without losing spiritualism by not leaving work. Moreover, when the world is hit by the Covid-19 pandemic, that performance is increasingly finding momentum in the virtual space. Islamic and Christian leaders are required to exist in shepherding faith of their people. Using modern socio-religious studies, religious phenomena in the digital space are analyzed in this paper to nark the virtualization of religious actorship. The data is collected from an integration of literature and social media related to the teachings of Islamic and Christian religious figures. From there, it was found, because of the sophistication of digital technology, religion in the virtual industry is trapped as a content commodity that has succeeded in placing religious figures as central actors, but often away from the supervision and control of the audience. The virtualization of religion places the religious leader as filmmakers as well as the main actors in their sacred duties but also turns towards ownership in many ways. This is revealed from the theoretical framework, namely the spiritual market, which is used here.ABSTRAKDentuman teknologi mengubah lanskap performa agama, khususnya ketika dunia Barat gila kerja tanpa kehilangan spiritualisme dengan tidak meninggalkan pekerjaan. Banyak agamawan tidak siap, tetapi banyak juga yang merekayasa diri, terlebih ketika dunia dihantam pandemic Covid-19, performa tersebut semakin menemukan momentum di ruang virtual. Pemimpin Islam dan Kristen dituntut eksis untuk menggembalakan iman umat. Lewat studi sosial keagamaan modern, fenomena keagamaan di ruang digital dianalisis dalam tulisan ini untuk menyelak virtualisasi pemeranan tokoh agama. Data dikumpulkan dari perpaduan literatur dan media sosial terkait dengan ajaran tokoh agama Islam dan Kristen. Dari sana ditemukan, oleh karena kecanggihan teknologi digital, agama dalam industri virtual terperangkap sebagai komoditas konten yang berhasil menempatkan tokoh agama sebagai aktor sentral, namun sering luput dari kontrol audiens. Secara baru, virtualisasi agama menempatkan para tokoh agama menjadi sineas sekaligus pemeran utama dalam tugas-tugas kudus mereka namun juga berkelok ke arah kepemilikan dalam banyak hal. Hal itu terungkap dari kerangka teori, yaitu pasar rohani dalam studi sosial keagamaan, yang digunakan di sini. Kata kunci: Aktor Agama, Kepemilikan, Pasar Rohani, Virtualisasi Tuhan
Allah Telah Berjanji untuk Menyelamatkan Manusia: Sebuah Studi Eksegsis Kejadian 3:15 Regueli Daeli; Samuel Purdaryanto; Apriani Telaumbanua
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.569 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.16

Abstract

  Salvation is a gift from God that is given to humans freely through Jesus Christ as Lord and Savior of the world. The fall of man into sin, makes human spiritual decline and live in sin. However, because God loves humans, it is God who took the initiative to seek humans (Gen. 3:8-9) and promised to save and restore human life through the redemption that God would work out in Jesus Christ on the cross (cf. Gen. 3 :15). This promise is seen when God was incarnated in the flesh, born of a woman, namely Mary. And this refers to the person of Jesus Christ who was born of female offspring. In John 3:16, it is the fulfillment of God's promise in Genesis 3:15. These two verses are continuous with God's actions in realizing His promise to save His people through the female offspring, namely Jesus Christ. Therefore, the principle of salvation in both Old and New Testament times is the grace of God. That is why in this paper, the author analyzes the term his descendants crush your head and you will bruise his heel indicating the realization of the promise of salvation that will be carried out by God. Therefore, the concept of salvation in Christianity is the work of God. Keywords: Salvation, God’s Grace, man, Genesis 3:15   ABSTRAKSKeselamatan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia secara cuma-cuma melalui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Kejatuhan manusia ke dalam dosa, membuat spritual manusia merosot dan hidup dalam keberdosaan. Namun karena Allah mengasihi manusia, maka Allah yang berinisiatif untuk mencari manusia (Kej. 3:8-9) dan berjanji akan menyelamatkan dan memulihkan kehidupan manusia melalui penebusan yang akan dikerjakan oleh Allah di dalam Yesus Kristus di kayu salib (bnd. Kej.3:15). Janji ini terlihat ketika Allah berinkarnasi dalam daging, yang lahir dari seorang perempuan yaitu Maria. Dan hal ini merujuk pada pribadi Yesus Kristus yang telah lahir dari keturunan perempuan. Dalam Yohanes 3:16, merupakan penggenapan janji Allah dalam Kejadian 3:15. Kedua ayat tersebut berkesinambungan dengan tindakan Allah dalam merealisasikan janji-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya melalui keturunan perempuan yaitu Yesus Kristus. Oleh karena itu prinsip keselamatan baik pada zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah kasih karunia Allah. Itulah sebabnya dalam tulisan ini, penulis menganalisis istilah keturunannya meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya menunjukkan realisasi janji penyelamatan yang akan dikerjakan oleh Allah. Oleh karena itu, konsep keselamatan dalam Kekristenan adalah karya Allah.   Kata Kunci: Keselamatan; Anugerah Allah, manusia, Kejadian 3:15
Pemberdayaan Potensi Jemaat Dalam Membangun Gereja Misioner Lexie Adrin Kembuan; I Wayan Sudarma
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.958 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.6

Abstract

 This paper discusses the potential empowerment of congregations for missioner churches. The Church is called a missioner when it is able to carry out programs that move outwards, not only perform services inward. The Church always motivates the congregation to preach the good news. The method used in this writing is a descriptive qualitative approach. The missioner church is always actively enhancing partnerships with churches or other mission institutions. In carrying out the activities out there is one concept of three and one that the author offers, namely in evangelism the author does activities by doing three things in one place. In the congregation, there are expected to be small groups engaged in a clear service program. In small groups, word sharing is done, evangelistic services, and at the same time the congregation runs its business.Keyword: Potential, congregation, missioner, empowerment, Church. AbstrakTulisan ini membahas tentang pemberdayaan potensi jemaat untuk gereja misioner. Gereja disebut misioner bila sudah mampu melaksanakan program yang bergerak ke luar, tidak hanya melakukan pelayanan ke dalam. Gereja selalu memberi motivasi kepada jemaat untuk memberitakan kabar baik. Metode yang digunakan dalam penulisan ini dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Gereja yang misioner senantiasa aktif meningkatkan kemitraan dengan gereja-gereja atau lembaga-lembaga misi lainnya. Dalam melaksanakan kegiatan keluar dalam penginjilan gereja melakukan kegiatan dengan melakukan tiga hal dalam satu tempat. Dalam jemaat diharapkan ada kelompok-kelompok kecil yang bergerak mengerjakan program pelayanan yang jelas. Dalam kelompok kecil dilakukan sharing Firman, melakukan pelayanan penginjilan, dan sekaligus jemaat menjalankan usahanya.Kata-Kata Kunci: Potensi, jemaat, missioner, pemberdayaan, Gereja

Page 1 of 2 | Total Record : 15