cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 229 Documents
Uji Radiosensitivitas Sinar Gamma untuk Menginduksi Keragaman Genetik Sorgum Berkadar Lignin Tinggi Dwi Astuti; Yuli Sulistyowati; Satya Nugroho
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.762 KB)

Abstract

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman serealia yang dapat ditanam di lahan kering dan cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan dan industri. Salah satu kandungan dalam sorgum yang dimanfaatkan untuk bahan industri adalah lignin yaitu digunakan dalam pembuatan particle board sehingga dapat mengurangi pemakaian kayu (penebangan pohon). Dalam penelitian ini digunakan 2 genotipe sorgum dengan kandungan lignin tinggi yaitu Konawe Selatan (KS) dan Sorgum Malai Mekar (SMM) untuk ditingkatkan keragaman pada karakter biomasa melalui pemuliaan mutasi induksi. Keberhasilan mutasi iradiasi sinar gamma sangat ditentukan oleh sensitivitas genotipe tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rentang dosis optimal yang dapat menginduksi variasi genetik untuk genotipe KS dan SMM. Benih sorgum KS dan SMM diiradiasi sinar gamma dosis 0  - 1000 Gy increment 100 Gy. Pengamatan dilakukan terhadap populasi tanaman M1 untuk persentase daya kecambah dan tinggi tanaman pada dua minggu setelah tanam (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi menghambat pertumbuhan benih sorgum yang ditunjukkan oleh tanaman kerdil atau tidak berkembang. Rentang dosis optimum yang didapatkan untuk sorgum genotipe KS dan SMM adalah 300 – 500 Gy.
PENGGUNAAN [3H]-LEUSIN UNTUK MEMPELAJARI SENYAWA KOMPLEKS PERSEITOL·K+ YANG DIISOLASI DARI BENALU ALUS Scurrula fusca SEBAGAI INHIBITOR SINTESIS PROTEIN PADA SEL Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.455 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.574

Abstract

Telah dilakukan pengujian aktivitas senyawa perseitol·K+ (2) yang diisolasi dari benalu alus Scurrula fusca (BL.) G. DON terhadap inhibisi sintesis protein oleh sel kanker Ehrlich ascites dari tikus. Pengujian dilakukan dengan menggunakan L-[3,4,5-3H(N)] leusin dan pengukuran dilakukan dengan pencacah sintilasi cair. Hasil percobaan menunjukkan bahwa senyawa isolat tersebut mnunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 13% pada konsentrasi sampel 10-7 M. Aktivitas ini lebih tinggi dibandingkan senyawa perseitol (3) tanpa ion K+ yang hanya menunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 5%. Keberadaan ion K+ dalam senyawa kompleksmerupakan faktor esensial dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker. Percobaan yang sama yang dilakukan terhadap berbagai komposisi campuran senyawa perseitol (3) dan ion K+ dengan perbandingan molar 24:1, 22:1, 20:1, dan 18:1 menunjukkan bahwa komposisi perseitol : K+ = 20:1 memberikan aktivitas inhibisi tertinggi terhadap sintesis protein yaitu 40% pada konsentrasi 10-4 M. Aktivitas inhibisi ini lebih tinggi dibandingkan cycloheximide sebagai kontrol positif (25% inhibisi pada 0.5×10-6 M). Hal ini diduga pada komposisi perbandingan molar tersebut, perseitol (3) dan ion K+ membentuk senyawa kompleks perseitol·K+ seperti isolat benalu alus. Selain pengaruh keberadaan ion K+, perbandingan molar 20:1 merupakan faktor yang sangat berperan dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker
PENYELIDIKAN AIR TANAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN TEKNIK ISOTOP ALAM Wandowo, .; Zainal Abidin; Djijono .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.575

Abstract

Telah dilakukan survei untuk mengetahui proses salinisasi air tanah di kota Pasuruan dengan metode isotop alam dan hidrokimia. Penelitian dilakukan dengan mengkaji korelasi parameter isotop stabil dan unsur kimia utama dalam contoh airhujan, air tanah dangkal, air tanah-dalam dan air laut. Pengkajian ini dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah sifat isotop stabil oksigen-18 dan deuterium dalam fenomena siklus hidrologiserta berdasarkan terjadinya perubahan kimia yang menyertai mekanisme proses hidrogeologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar klorida yang menjadi indikator airpayau di wilayah pantai kota Pasuruan bukan akibat dari intrusi air laut tetapi disebabkan oleh pelarutan aerosol garam yang meresap bersama air hujan lokal sebagai air tanah dangkal.Sedang air payau pada akuifer tertekan (air tanah-dalam) disebabkan terjadinya pelindian formasi akuifer yang berupa batuan sedimen pantai.
STUDI SUMBER AIR KELUARAN YANG TERDAPAT DI TUBUH BENDUNGAN JATILUHUR DENGAN MENGGUNAKAN PERUNUT ISOTOP OKSIGEN-18 DAN ION KLOR Paston Sidauruk; Alip .; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.382 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.576

Abstract

Beberapa air keluaran yang asal usulnya belum diketahui muncul di sekitar bendungan Jatiluhur. Air keluaran tersebut bahkan terdapat di sekitar menara yang terdapat ditengah bendungan. Studi ini dilakukan untuk mempelajari asal-usul air keluaran tersebut. Didalam studi ini, salah satu perunut yang paling konservatif dalam kimia hidrologi yaitu ion Cl dan isotop stabil oksigen-18 telah digunakan untuk mengidentifikasi asal-usulsetiap sumber keluaran yang dicurigai sebagai bocoran. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder yang berhubungan dengan bendungan Jatiluhurdan pekerjaan lapangan yang meliputi pengambilan contoh air dari berbagai sumber diantaranya air keluaran, air dalam lubang piezometer dan sumur pantau, air hujan, dan air waduk. Masing-masing contoh air yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional untuk dilakukan analisis kelimpahan relatif oksigen-18 dan hidro-kimianya. Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi bahwa ada 2 sumber air keluaran yang mempunyai hubungan langsung dengan air waduk yaitu mata air asenceur dan mata air RD yang berada di sekitar menara utama diujung dalam galeri bendungan. Namun, rembesan yang terdapat disebelah kanan bendungan yang dikenal dengan rembesan di pohon asam dan air keluaran V-NOTCH di sisi kiri tailrace merupakan air tanah lokal.
INTEGRATED CONTROL OF CABAGGE PESTS Plutella xylostella (L) AND Crocidolomia binotalis (Z) BY RELEASE OF IRRADIATED MOTHS AND THE PARASITOID Diadegma semiclausums(H) UNDER FIELD CAGE AND A SMALL AREA CONDITIONS Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.646 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.577

Abstract

The impact of the release of irradiated Diamondback moth (DBM)Plutella xylostella (L) with a dose of 200 Gy was studied in field cage experiments by releasing of irradiated and untreated DBM at a 9:1 ratio . Releasing male and female (F-1) of irradiatedDBM caused a considerable level of sterility in the subsequent generations. The sterility level in those respective generations were 73.03% and 73.30%,while the release of the F-1 male onlyinduced a level of sterility of about 55.40% and 56.44%.Inundative releases of irradiated males caused the level of sterility to reach about 44.78% and 68.01% in F-1 and F-2 respectively. Theeffect of the release of irradiated male Cabbage webworm (CWW) moths Crocidolomia binotalis (Z), and the release of both sexes on the population were studied under laboratory cage conditions. There was a significant difference between the) effects of releasing irradiated male only and both sexes at a level of F ≤ 0.001 ,where the percentage of egg hatch were 22.78% and 24.75% respectively in the F-1 and F-2 generations. The effects of combining two tactics, inherited sterility and the release of parasitoid Diadegma semiclausums (H) for controling DBMs were studied.The pupal viability in the F-1 generation was 32.5% ascompared to the untreated DBMs. The impacts of respective single tactic the release of F-1 males and parasitoid D. semiclausums on the pupal viability were 57.5% and 81%. The effects of the release of substerile insects in a small area of about 1000 m2 located at an isolated area in the forest in Malang, East Jawa was found that average number of moths caught per week from first to the fifth month at the release area was about 89.42% as compared to those at the control area. The highest level of parasitation of D. semiclausums was found in the second instar larvae of DBMs. Population growth of parasitoid D. semiclausums from the first generation to the eleventh generation increased till to the fifth generation larvae, than declined to the eleventh generation.
UJI DAYA ANTIMIKROBA DAN SIFAT FISIKO-KIMIA PEMBALUT LUKA HIDROGEL STERIL RADIASI YANG MENGANDUNG EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) Darmawan Darwis; Taty Erlinda Basyir; Lely Hardiningsih; Rahayu Chosdu
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.28 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.578

Abstract

Telah dilakukan studi terhadap daya antimikroba dan sifat fisiko-kimia pembalut luka hidrogel yang mengandung ekstrak buah mengkudu. Pembalut luka hidrogel dibuat dengan meradiasi campuran polivinil pirolidon (PVP), Agar, polietilen glikol (PEG) dan ekstrak mengkudu dengan komposisi tertentu menggunakan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Konsentrasi ekstrak mengkudu yang digunakan adalah 0 sampai 4 % b/b. Sebagai mikroba uji digunakan Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan mikroba udara yang diisolasi dari ruang laboratorium P3TIR-BATAN. Parameter sifat fisiko-kimia yang diamati adalah kandungan air, daya penyerapan air, penetrasi mikroba pada hidrogel, penguapanair dan tegangan putus hidrogel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hidrogel dengan konsentrasi ekstrak mengkudu minimum 2 % b/b mampu membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa, Stahylococcus aureus. Hasil uji daya tembus mikroba terhadap membran hidrogel menunjukkan bahwa tidak satupun mikroba uji mampu menembus membran hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu. Hal ini menunjukkan bahwa membran pembalut luka hidrogel mempunyai sifat penghalang yang baik terhadap kontaminasi mikroba. Kadar air hidrogel yangmengandung ekstrak mengkudu 0, 1, 2, dan 4 % b/b masing-masing adalah 87 %, 85 % dan 82 %. Hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu 4 % b/b menunjukkan daya absorsi airtertinggi. Tegangan putus hidrogel bergantung pada konsentrasi ekstrak mengkudu yang terkandung pada hidrogel tersebut.
PERTUMBUHAN KHAMIR PADA TAPIOKA IRADIASI Irawan Sugoro; M. R. Pikoli
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.351 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.560

Abstract

Tapioka dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan isolat khamir karena mengandung karbohidrat tinggi. Sterilisasi dengan iradiasi sinar gamma menghasilkan senyawa senyawayang lebih sederhana dan bersifat toksik. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi terhadap sifat fisik dan kimia serta pertumbuhan isolat khamir R1 dan R2 serta isolat mutan R110 dan R210. Dosis yang digunakan adalah 10, 20, dan 30 kGy. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadiperubahan warna yang semakin gelap dan granula pati semakin kecil sebanding dengan meningkatnya dosis, sedangkan secara kimia terjadi penurunan pH dan kelarutan serta peningkatan kadar glukosa. Tapioka iradiasi tidak mempengaruhi pertumbuhan khamir dengan tidak terbentuknya zona hambat, sedangkan pertumbuhan isolat khamir dalam medium cair tapioka 1 % menunjukkan hasil yang berfluktuasi dan umumnya memiliki dua pola pertumbuhan
PENGARUH INFEKSI Fasciola gigantica (CACING HATI) IRADIASI TERHADAP GAMBARAN DARAH KAMBING (Capra hircus LINN.) Boky Jeane Tuasikal; Suhardono .; Muchson Arifin; Yusneti .; Dinardi .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.644 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.561

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat pengaruh infeksi Fasciola gigantica yang diiradiasi menggunakan 60Co terhadap gambaran darah kambing. Dua puluh ekor kambing kacang (Capra hircus Linn.), jantan, berumur antara 10-12 bulandengan berat badan sekitar 15-20 kg digunakan sebagai hewan percobaan. Hewanhewan tersebut dibagi kedalam lima kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari empat ekor. Tiga kelompok hewan masing-masing diinfeksi dengan metaserkaria Fasciola gigantica iradiasi dengan dosis 45, 55 dan 65 Gy. Dua kelompok hewan digunakan sebagai kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif. Dosis infeksi adalah 350 metaserkaria peroral untuk tiap ekor. Pengamatan dilakukan tiap minggu terhadap parameter bobot badan, jumlah eosinofil darah, nilai hematokrit(PCV) dan kadar hemoglobin (Hb). Penelitian ini menunjukkan bahwa iradiasi dapatmenurunkan infektivitas Fasciola gigantica. Dari seluruh parameter yang diamati, antara kelompok kontrol negatif dan kelompok iradiasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti (p>0,05).
TANGGAP KEBAL SAPI TERHADAP FASCIOLOSIS AKIBAT INOKULASI METASERKARIA Fasciola gigantica IRADIASI Muchson Arifin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.562

Abstract

Suatu percobaantelah dilakukan untuk mempelajari tanggap kebal sapi terhadap fasciolosis setelah mendapatkan inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi. Digunakan empat kelompok sapi dengan perlakuan sebagai berikut: kelompok pertama (Vp) diinoklasi dengan metaserkaria infektif sebagai kontrol positif, kelompok ke dua (Vi) diinokulasi satu kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke tiga (Vii) diinokulasi dua kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke empat (Vn) tanpa inokulasi metaserkaria sebagai kontrol negatif. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 45 Gy, sedangkan dosis inokulasi untuk semua kelompok adalah 700 metaserkaria F. gigantica per ekor sapi. Tanggap kebal yang terjadi diamati dengan melihat pertambahan bobot badan, jumlah sel darah merah (RBC), jumlah sel darah putih (WBC), kadar haemoglobin (Hb), persentase PCV (Packed cellvolume), persentase jumlah sel eosinofil, uji serologis secara ELISA, kondisi patologis anatomi hati, dan perkembangan cacing hati. Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh dari setiap pengukuran adalah Vp = 6 kg, Vi = 9 kg, Vii = 9 kg dan Vn = 10 kg. Hati tidak mengalami perubahan baik untuk Vi, Vii maupunVn, sedangkan Vp hatinya mengalami perubahan patologi yang serius. Cacing dewasa negatif pada Vi, Vii dan Vn, sedang Vp banyak ditemukan cacing dewasa. Hasil ini menunjukkan bahwa inokulasi metaserkaria F. gigantica memberikan perlindungan yang cukup baik terhadap tantangan yang diberikan pada sapi.
REPRODUCTIVE DISORDER STUDIES USING RADIOIMMUNOASSAY (RIA) PROGESTERONE ON DAIRY CATTLE Totti Tjiptosumirat; Bokky Jeane Tuasikal; Nuniek Lelananingtyas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.195 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.563

Abstract

Two intensive systems of husbandry practices, Garut West Java and Yogyakarta Central Java, were chosen for this study. Both areas have been voluntarily made into a pilot farm for theapplication of RIA progesterone to improve reproductive performance. Five dairy cattle from Garut West Java, which according to Health Extension and Artificial Insemination Technicians anamneses and according to farmers who own the animal, were showing reproductive failure and were selected from those cattle for the study. Other fifteen dairy cattle from Yogyakarta area, with anamneses of having low reproductive performance, were also selected for this study. Milk progesteronesample were collected twice a week for five consecutive weeks period of time to follow the biological reproductive status of every animal, while samples from dairy cattle at Yogyakarta were collected three times post Artificial Insemination (AI) services, as according to Artificial Insemination Database Application (AIDA) procedure, to monitor the failure of AI, success rate of AI, and ovarian activities of the cattle. Result of the study in Garut shows that RIA progesterone indicates that animals need special treatments and most AI failed due to lack of historical information of the dairy cows. RIA progesterone leads to a suggestion that it can be use as a tool to monitor the reproductive disorder, as the recommendation made for those cows to anticipate reproductive disorder overcome the problems. Similar result found in Yogyakarta, which almost 50% of the observed animals failed to AIdue to miss-estrus detection. Furthermore, from the RIA for milk progesterone, information of the reproductive disorder figures can be drawn and early suggestion could be made to anticipate losses. Overall, beside the reproductive historical record, RIA progesterone is important tool to be applied in the animal husbandry system in Indonesia as to improve the herd productivity and has an economical value to reduce operational cost at waiting period for feeding animal up to INS Rp 224,000 — 336,000 per head animal.

Page 1 of 23 | Total Record : 229