cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humanika : Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
ISSN : 14121271     EISSN : 25794248     DOI : 10.21831
Core Subject : Humanities, Art,
HUMANIKA published by P-MKU LPPMP is an academic journal, publishes high quality manuscripts that engage theoretical and empirical issues including education, social sciences, and religion studies. They are tackled from a multidisciplinary perspective. The journal also features case studies focusing on practical implications, or papers related to learning and teaching in social and science disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 136 Documents
IMPLEMENTASI NILAI SOSIAL UKHUWAH ISLAMIAH DI PONDOK PESANTREN Iqbal Arpannudin
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 16, No 1 (2016): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v16i1.12069

Abstract

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dapat dijadikan sebagai sebuah model pengembangan konsep-konsep civics dalam rangka memenuhi life skill warga negara. Sebagian besar aktifitas di pondok pesantren adalah membangun kehidupan santri insan kamil yang mempunyai ketangguhan iman dan kemampuan beramal soleh yang membentuk nilai-nilai perilaku (behavioural values). Pengembangan nilai-nilai perilaku dalam pembentukan individu insan kamil sejalan dengan pengembangan struktur nilai dasar spiritual sebagai pengakuan terhadap martabat manusia (human dignity) yang memunculkan nilai tanggung jawab sosial sebagai bagian dari nilai sosial. Di dalam komunitas pesantren tanggung jawab sosial didasari oleh nilai spiritual yang terkandung dalam konsep ukhuwah islamiah.
Implementasi kebijakan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SMK Daarut Tauhiid Boarding School Bandung Waway Qodratulloh Suhendar
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 21, No 1 (2021): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v21i1.39013

Abstract

Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui pengimplementasian kebijakan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SMK DTBS Bandung. Permasalahan utama dalam artikel ini adalah apa kebijakan kepala sekolah dan bagaimana kepala sekolah mengimplementasikan kebijakan tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menujukan ada 3 (tiga) kebijakan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, yakni (1) Guru wajib mengumpulkan dokumen pembelajaran; (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran, dan (3) sertifikasi keahlian untuk guru produktif. Ketiga kebijakan tersebut diimplementasikan melalui (1) pemberian reward and punishment, (2) pengawasan kinerja guru secara ketat, (3) komunikasi terbuka dengan guru, (4) pemberdayaan MGMP, (5) kunjungan rutin ke kelas, (6) melengkapi sarana prasarana, (7) penyusunan kurikulum khas SMK DTBS, (8) penyelenggaraan pelatihan, (9) membangun kerjasama dengan pihak luar, (10) menghilangkan remedial test, (11) melakukan koordinasi berjenjang, (12) pembiayaan secara penuh oleh sekolah, serta (13) pembuatan surat perjanjian.This article aims to see the implementation of the headmaster policy to improve the teacher performance in SMK DTBS Bandung. The main focus in the article are what the headmaster policy and how the headmaster implements the policy. The research method used is qualitative. The result showed the headmaster issued 3 (three) policies in improving teacher performance, which is (1) Teachers are obliged to collect learning documents; (2) Improve the quality of the learning process, and (3) Certification for teachers. The three policies are implemented by (1) reward and punishment, (2) teacher performance supervision, (3) communication, (4) empowerment of MGMP, (5) class visits, (6) completing the infrastructure, (7) preparation of a typical school curriculum, (8) training arrangements, (9) cooperation with other parties, (10) omitting the remedial test, (11) coordination patterns, (12) full financing by schools, and (13) agreement letter
HUKUM KELUARGA DI TURKI SEBAGAI UPAYA PERDANA PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM Vita Fitria
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 12, No 1 (2012): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v12i1.3648

Abstract

Upaya pembaruan Hukum Keluarga di belahan dunia Islam mulai terealisasi pada penghujung abad 19M. Kesadaran masyarakat muslim akan tertinggalnya konsep-konsep fikh yang selama ini dijadikan rujukan, menumbuhkan semangat pembaruan dari rumusan Undang-undang lama  yang telah terformat menuju Undang-undang yang lebih mampu mengakomodasi tuntutan perkembangan zaman dan kemajuan Islam itu sendiri. Turki, merupakan negara pertama yang melakukan reformasi Hukum Keluarga Muslim, dan gagasan itu muncul pada tahun 1915. Pengaruh pergesekan dengan pemikiran Barat Modern dan menilik pada perkembangan peradaban barat yang lebih maju, mendorong semangat nasionalisme masyarakat Turki untuk me’modern’kan negaranya. Undang-undang Hukum Keluarga yang merujuk pada hukum Syari’ah justru ditinggalkan. Dengan diproklamirkannya Negara Republik Turki (Turki Modern), diupayakan pula pembentukan UU  Sipil Turki yang mengadopsi dari UU Sipil negara Swiss. Meskipun demikian, mayoritas bangsa Turki tetap yakin bahwa mereka adalah Muslim. Bahkan di kalangan penguasa sebagian besar menegaskan bahwa mereka tidak menolak Islam, mereka hanya mengikuti sikap Barat bahwa agama adalah masalah pribadi (yang mengatur hubungan antara individu dengan Tuhan), bukan sistem   hukum yang harus dilaksanakan oleh negara.   Kata kunci: hukum keluarga, Turki, hukum Islam.
Inovasi pembelajaran berbasis teori kecerdasan majemuk untuk pengembangan peran sekolah di era 4.0 Panggih Priyambodo
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 19, No 2 (2019): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v19i2.29269

Abstract

Industrial Revolution Era 4.0 has brought disruption phenomena in various fields of life. The characteristics of the younger generation also experienced a shift, especially those that occurred in the millennial generation (gen Y) and generation Z. This condition encouraged schools as formal educational institutions to organize learning processes that can answer global challenges. Innovations in the learning process must be done continuously, one of them through the development of multiple intelligences and the involvement of learning technology elements. The development of multiple intelligences in the learning process requires the creativity of the teacher in selecting and determining the right models and learning strategies. The assessment instrument is not only directed at measuring cognitive aspects but also covers all aspects of competency as required by students. Learning patterns based on the development of multiple intelligences will be more effective if done by raising issues and real problems. Through an inquiry project, students will be actively involved in various forms of learning activities to make it an opportunity to bring up multiple types of abilities. The learning process, based on the development of multiple intelligences, is expected to be able to develop student competencies as a whole. The final result is the formation of adaptive individuals who are able to compete in the industrial revolution 4.0 era without having to leave their local culture.Era Revolusi Industri 4.0 telah membawa dampak fenomena disrupsi di berbagai bidang kehidupan. Karakteristik generasi muda juga mengalami pergeseran, terutama yang terjadi pada generasi milenial (gen Y) dan generasi Z. Kondisi ini mendorong sekolah sebagai lembaga pendidikan formal untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang mampu menjawab tantangan global. Inovasi dalam proses pembelajaran harus terus dilakukan salah satunya melalui pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) serta pelibatan unsur teknologi pembelajaran. Pengembangan kecerdasan majemuk di dalam proses pembelajaran membutuhkan kreativitas dari para guru dalam memilih dan menetapkan model maupun strategi pembelajaran yang tepat. Instrumen penilaian juga tidak hanya diarahkan pada pengukuran aspek kognitif saja melainkan mencakup keseluruhan aspek kompetensi sebagaimana yang dibutuhkan peserta didik. Pola pembelajaran berbasis pengembangan kecerdasan majemuk akan lebih efektif jika dilakukan dengan mengangkat isyu-isyu maupun permasalahan nyata. Melalui proyek penyelidikan, peserta didik akan terlibat aktif di berbagai bentuk kegiatan belajar sehingga menjadikannya berkesempatan untuk memunculkan berbagai bentuk kemampuan. Proses pembelajaran berbasis pengembangan kecerdasan majemuk diharapkan mampu menumbuhkembangkan kompetensi peserta didik secara menyeluruh. Hasil akhirnya adalah terbentuknya individu-individu adaptif yang mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 tanpa harus meninggalkan kultur lokalnya. 
KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF K. H. AHMAD DAHLAN DI MUHAMMADIYAH Ruslan Rasyid
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 18, No 1 (2018): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v18i1.23128

Abstract

K. H. Ahmad Dahlan sebagai pelopor sekaligus pendiri persyarikatan Muhammadiyahyangbercirikan gerakan Islam, gerakan dakwah,gerakan purifikasi, dan pembaharuan.Secara historis, faktor-faktor yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyahkarenaadanya pemahaman agama Islamyang beragam di pulau Jawa, kondisi keadaan masyarakatKauman-Yogyakarta ketikaitu yang jauh dari kesejahteraan, pelayanan kesehatan danpendidikan bagi pribumi. Hal tersebut mendorong K. H. Ahmad Dahlan untuk melakukanupaya perubahan, mengembalikan kemurnian ajaran Islam, mengangkat harkat, dan hargadiri masyarakat Kauman sehingga dengan gaya seperti itu terbentuk pola-polakepemimpinan transformatif. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatifjenispenelitian historis. Metode ini dianggap paling relevan dalam menelusuri pola, strategi dangaya kepemimpinan transformatif K. H. Ahmad Dahlan diMuhammadiyah. Hasil kajianmenunjukkan bahwa K. H. Ahmad Dahlan memiliki jiwa kepemimpinan transformatifyang bersifat karismatik, motivator, dan memiliki kecerdasan intektual serta berpikirvisioner. Selain itu pula, K. H. Ahmad Dahlan memiliki kemampuan untuk melihat danmemahami secara emosional seluruh fenomena yang terjadi.Bahkan K. H. Ahmad Dahlanturut berempati tinggi terhadap posisi dan keadaan orang lain, terutama dalam halperbedaan pandangan atau pendapat.Pandangannya tersebut bersifat inklusif relativis yaitumemandang positif terhadap perbedaan yang ada dan menganggap bahwa itu bukanlahperbedaan yang hakiki/mutlak namun disebabkan karena adanya perbedaan faktor-faktorluar. K.H. Ahmad Dahlan merupakan seorang pemimpintranformatif yang senantiasabergerak maju dan berinovasi sekaligus seorang tokoh pembaharu Islam di Indonesia.K.H. Ahmad Dahlan as the pioneer founder persyarikatan Muhammadiyah Islamicmovement, characterized by the movement of da'wah, purification, and renewal.Historically, the factors underlying the establishment of Muhammadiyah were theunderstanding of diverse Islamic religions on the island of Java, the condition of the Statesociety Kauman Yogyakarta-when it's away from welfare, health services and educationfor indigenous peoples. It encourages the K. H. Ahmad Dahlan to attempt change,restoring the purity of the teachings of Islam, elevating the dignity, and self-esteem of thecommunity so that a style as Kauman village that formed the transformative leadershippatterns. This study used a qualitative approach to the kind of historical research. Thismethod is considered most relevant in tracing the pattern, strategy and leadership style of transformative K. H. Ahmad Dahlan in Muhammadiyah. Results of the study show that K.H. Ahmad Dahlan has transformative leadership is charismatic, motivational speaker, andhas intektual intelligence and visionary thinking. In addition, K. H. Ahmad Dahlan has theability to see and understand emotionally the whole phenomenon occurred. Even k. h.Ahmad Dahlan participated and empathize to position and circumstances of others,especially in terms of the difference in views or opinions. His view is relativis inclusivei.e. looked positively towards differences and assume that it is not an essentialdifference/absolute but caused due to the difference of external factors. K.h. AhmadDahlan was a leader of the tranformatif that is always moving forward and innovatingwhile a reformer of Islam in Indonesia.
MEMBANGUN KARAKTER TOLERAN- MILITAN MELALUI PENDIDIKAN INSPIRATIF L Andriani Purwastuti
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 11, No 1 (2011): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v11i1.20996

Abstract

Berbagai fenomena keterpurukan dalam berbagai bidang dan kekerasan yang terjadi pada akhir-akhir ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berada pada krisis karakter toleran-militan. Pengembangan karakter toleran-militan menjadi urgen dilakukan oleh dunia pendidikan. Salah satu strategi untuk membangun karakter toleran-militan adalah pendidikan inspiratif.Pendidikan inspiratif akan menghasilkan  inspirator yang membawa ilham bagi sesamanya untuk membangun sebuah dunia yang bermakna bagi hidup bersama. Pribadi yang inspiratif adalah pribadi yang dapat membawa sesamanya maju bersama, mekar bersama dengan kompetisi yang sehat, saling membangun dan mendukung.Strategi pendidikan inspiratif dapat dilakukan dengan model pembelajaran yang demokratis dan pembelajaran reflektif. Pembelajaran yang menggunakan paradigma pedagogi reflektif memiliki tiga unsur  utama yaitu  pengalaman, refleksi, dan aksi. Pembelajaran reflektif mensyaratkan adanya dialog dan sharing pengalaman.
KEPENTINGAN POLITIK PENGUASA TERHADAP PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA Sunarso Sunarso
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 12, No 1 (2012): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v12i1.3653

Abstract

Kepentingan politik penguasa terhadap Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia dapat dirunut dalam sejarah perkembangan mata pelajaran ini, sejak munculnya dalam sistem pendidikan nasional pada era Orde Lama hingga Orde Reformasi. Mata pelajaran ini muncul pertama kali tahun 1957. Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai misi yang khas. Mata pelajaran ini menonjol dengan misinya untuk mewujudkan sikap toleransi, tenggang rasa, memelihara persatuan dan kesatuan, tidak memaksakan pendapat dan lain-lain, yang dirasionalkan demi terciptanya stabilitas nasional sebagai prasyarat bagi kelangsungan pembangunan. Di balik semua itu Pendidikan Kewarganegaraan sesungguhnya telah berfungsi sebagai alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. Sosok Pendidikan Kewarganegaraan (Civic atau Citizenship) yang demikian memang sering muncul di sejumlah negara, khususnya negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
DIALEKTIKA AGAMA DAN NEGARA DALAM KARYA JURGEN HABERMAS Sun Choirol Ummah
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 16, No 1 (2016): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v16i1.12140

Abstract

Agama di negara sekuler dianggap tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap dinamika negara. Habermas melalui teori rasio komunikatif, etika diskursus, dan demokrasi deliberatif pada akhirnya memandang bahwa dalam negara demokratis yang terdapat dialog antara agama dan negara justru menunjukkan betapa agama mampu menggerakkan negara untuk selalu beradaptasi dan saling berkomunikasi. Cara yang digunakan yakni agama harus mentransformasi diri dari agama mitis (religious-metaphysical) ke agama rasional (religious-post-metafisik). Di sini warga beragama dan warga sekuler dalam masyarakat post-sekuler dapat saling belajar satu sama lain. Warganegara beriman juga mesti belajar dari sains dan teknologi yang memiliki klaim-klaim kesahihan ilmu pengetahuan. Warganegara beriman juga harus tunduk dan mengakui rasio sekuler yang menjadi basis legitimasi negara hukum demokratis.
NAHDLATUL ULAMA: MENCARI KOMPROMI ISLAM DAN KEBANGSAAN Saefur Rochmat
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v6i1.3811

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan jumlah Muslimnya terbesar di dunia. Sebagaimana di negara-negara yang semisal, Indonesia mengalami kendala dalam masalah hubungan Islam dan negara (kebangsaan). Sebagian Muslim beranggapan Islam sebagai agama yang komprehensif jelas-jelas mengatur masalah negara ini. Mereka yakin kalau Nabi Muhammad SAW. sebagai pembawa risalah Islam juga memiliki visi untuk mendirikan negara. Kekhalifahan dipandangnya sebagai sistem pemerintahan negara Islam. Pandangan ini sudah mendapat kritik tajam pada abad ke-20. NU berhasil mengembangkan suatu pemikiran agama yang dikemas dalam kerangka negara bangsa. Negara bangsa bukan suatu yang tabu dalam Islam, karena kekhalifahan adalah hasil ijtihad para sahabat Nabi yang tidak tabu terhadap kritik. Yang dipentingkan Islam bukan bentuk negara, tapi suatu negara sebagai suatu alat untuk menjamin adanya tertib sosial, suatu prasyarat bagi tegaknya agama. Tidak heran bila NU berhasil mengembangkan suatu pemikiran yang mendukung eksistensi Pancasila dalam kapasitasnya sebagai dasar negara Indonesia yang sebenar-benarnya. Dan melalui Muktamar 1984, NU mempelopori mencabut Islam sebagai asas organisasi dan menggantinya dengan Pancasila. Pendirian NU tersebut memiliki dasar yang kokoh pada ajaran-ajaran agama yang dianutnya dan dirumuskan dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja). Aswaja adalah suatu sistem atau cara yang kembali pada QS al-Hajj 54 bahwa kebenaran harus dicari dengan nalar (logika) dan Abu Hanifah merupakan orang yang merintis cara berpikir Aswaja itu. Aswaja bukan suatu madzhab, tetapi manhaj al-fikr (cara berpikir, yakni suatu cara berpikir meletakkan aspek tawasuth, tasamuh, mengutamakan cara persuasif dan menghindari kekerasan sebagai dasar pijakan dalam memahami ajaran agama dalam rangka mencari jalan tengah, sebagai suatu bentuk kompromi antara idealita dengan kondisi empiris.
KEDEWASAAN UNTUK MENIKAH Sun C Ummah
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 13, No 1 (2013): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v13i1.3322

Abstract

Abstrak : Rumah tangga yang kekal dan harmonis seringkali dibangun oleh suamiistri yang memiliki kedewasaan, baik fisik maupun rohani karena mereka telah diikatoleh rasa tanggung jawab yang sempurna. Mereka mampu bereaksi dan bertindaksecara tepat dalam setiap situasi dan masalah serta berani menghadapi kenyataan,mau menerima resiko dari segala perbuatannya tidak membohongi orang lain,apalagi membohongi dirinya sendiri. Walaupun kedewasaan bukan merupakan syaratsahnya suatu perkawinan dalam Islam namun ternyata tujuan perkawinan akanlanding dengan manis bila didukung kedewasaan suami istri. Modal cinta memangpenting tetapi cinta yang diikuti oleh rasa tanggung jawab untuk mengembangkandiri (extention of the self). Kedewasaan anak tergantung situasi, kondisi, dankebijakan pemerintah masing-masing negara. Kedewasaan pada dasarnya dapatditentukan dengan umur dan dapat pula dengan tanda-tanda, yakni antara umur16tahun sampai 30 tahun dan ditandai dengan perubahan fisiknya.Kata Kunci : Kedewasaan, Tanggungjawab, Menikah.

Page 1 of 14 | Total Record : 136