Krisna Yetti
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Optimalisasi Supervisi Pemberian Edukasi Pasien dan Keluarga pada Rumah Sakit di Jakarta Selatan Laras Adythia Pratiwi; Krisna Yetti; Dudi Mashudi
Dunia Keperawatan Vol 8, No 2 (2020): July 2020
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dk.v8i2.7758

Abstract

Rumah Sakit berkewajiban memfasilitasi pasien dan keluarga dengan pemberian informasi dan edukasi. Edukasi merupakan faktor penunjang partisipasi proses optimalisasi asuhan.Kualitas edukasi dapat ditingkatkan dengan melakukan supervisi. Supervisi merupakan suatu proses mengawasi dan memberikan arahan yang dilakukan supervisor keperawatan guna meningkatkan kualitas pelayanan. Studi kasus ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan supervisi pemberian edukasi pasien dan keluarga pada RS di Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui observasi, penyebaran kuesioner dan wawancara tim manajerial. Kemudian dilakukan analisis menggunakan diagram fishbone dan software statistik. Implementasi dilakukan dengan membuat instrumen supervisi pemberian edukasi dan observasi pendokumentasian pemberian edukasi pasien dan keluarga. Hasil: Pelaksanaan supervisi pemberian edukasi serta observasi pendokumentasian masih belum optimal. Kesimpulan: Kualitas pelayanan keperawatan dapat meningkat dengan adanya pelaksanaan supervisi pemberian edukasi sesuai SOP.Rekomendasi: Pedoman, panduan, SOP dan instrumen merupakan acuan dalam mengoptimalkan pelaksanaan supervisi. Perbaikan form edukasi, pengesahan instrumen supervisi dan observasi pemberian edukasi merupakan elemen dalam mencapai kualitas pelayanan keperawatan. 
Peningkatan Pelaksanaan Supervisi Oleh Supervisor Melalui Pengawasan Bidang Keperawatan Sri Arini Winarti R.; Krisna Yetti; Besral Besral
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 3 (2008): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i3.216

Abstract

AbstrakPengawasan dalam manajemen berperan untuk mempertahankan kegiatan yang telah terprogram dapat dilaksanakan dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan fungsi pengawasan oleh bidang perawatan dengan pelaksanaan supervisi oleh seluruh supervisor di sebuah RS di Yogyakarta dengan desain potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48,2% supervisor berusia 40-50 tahun, berjenis kelamin perempuan (80,4%), berpendidikan DIII Keperawatan (60,7%), telah bekerja 20 30 tahun (57,1%), 51,8% belum pernah pelatihan manajemen keperawatan, dan 46,4% shift dinas sore. Hasil analisis korelasi menunjukkan fungsi pengawasan bidang keperawatan memiliki hubungan bermakna dengan pelaksanaan supervisi oleh supervisor (r = 0,393; p = 0,003). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi fungsi pengawasan bidang keperawatan dan pelatihan yang diikuti oleh supervisor memiliki hubungan yang bermakna terhadap pelaksanaan supervise oleh supervisor. Pengawasan secara periodik serta dengan teknik supervisi efektif meningkatkan kinerja perawat dalam pelayanan keperawatan. AbstractControlling in management has specific role in maintaining the quality of implementation as programmed by manager. This cross-sectional study was aimed to identify the correlation between controlling function of nursing directorate with the supervision carried out by all supervisors in a hospital in Jogjakarta. The supervisors were predominantly 40-50 years old (48.2%), women (80.4%), Diploma Nurse (60.7%), having 20-30 years of working experience (57.1%), never get in-service training (51.8%) and in evening duty shift (46.4%). The correlation analysis showed that controlling from nursing directorate had significant correlation with the implementation of supervision by the supervisor (r = 0,393; p = 0,003). This study concluded that the combination of controlling from nursing directorate and in-service training which is monitored by supervisor has significant correlation with the supervision implemented by the supervisor. Finding from the study suggested that good controlling and scheduled supervision using effective communication could increase the nursing performance in giving nursing care.
Study of Nurse's Philosophy: The Convenient Place to Die Peacefully for Terminal A Patients Krisna Yetti; Roro Tutik Sri Hariyati; Rona Cahyantari Merduati
Dunia Keperawatan Vol 7, No 1 (2019): DUNIA KEPERAWATAN VOLUME 7 NOMOR 1, Maret 2019
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.6 KB) | DOI: 10.20527/dk.v7i1.5993

Abstract

Background: Someone who will die should be supported and accompanied spiritually for passing their end of life. The spiritual involvement is needed a convenient place since its support will transform a frightening moment to be a peaceful one. Purpose: the aim of the study was describes the convenient place to die peacefully using philosophical approach.Methods: This study used method of Actual Problem, it is a philosophy reflective study about the assumption of researcher that a patient with terminal illness wants to be accompanied by people who proper to deliver the prayers. In this study, problems in the place of die are directly exposed, then it is synthesized to solve a fundamental problem. Analysis and synthesis of unsatisfied place to die to be expected can solve the problem. Results: Hospice care is a program or facility which gives specific care for the patient in end of life. It can be said that hospice is a way of care based on philosophy about the end of life. Hospice can be a convenient place to die because there are its staff who will substitute the role of family, in case they experience physical and emotional burden. Conclusion: Hospice can be an alternative of convenient place for patient with dying process and its nursing care can make the process as peaceful as possible Keywords:Convenient Place, Dying Process, Hospice, Peaceful, Terminal illness 
Supervisi Kepala Ruangan Berdasarkan Kelengkapan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Rostiani Dewi; Krisna Yetti; Dian Ayubi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 3 (2008): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i3.220

Abstract

AbstrakDokumentasi asuhan keperawatan merupakan hal penting karena pendekatan proses keperawatan menjadi kerangka akuntabilitas perawat profesional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi dan supervisi kepala ruangan dengan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan oleh perawat pelaksana di ruang rawat inap RS X Cianjur. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di 11 ruang rawat inap. Sampel 106 perawat pelaksana yang merupakan total populasi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan daftar tilik. Analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik model faktor risiko. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa perawat pelaksana rata-rata mempunyai persepsi kurang baik terhadap pelaksanaan komunikasi dan supervisi kepala ruangan dan didapatkan juga kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan oleh perawat pelaksana belum baik dengan cut of point 80%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel komunikasi dan supervisi kepala ruangan berhubungan dengan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan oleh perawat pelaksana (p< 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan adalah supervisi. Penelitian ini kiranya dapat dimanfaatkan oleh pimpinan dan bidang keperawatan RS X Cianjur untuk dapat meningkatkan kinerja kepala ruangan maupun perawat pelaksana dengan pengoptimalan kegiatan supervisi keperawatan di ruangan melalui upaya pendidikan dan pelatihan baik secara formal maupun non formal. AbstractNursing care documentation holds the accountability aspect of professional nursing practice. This quantitative-descriptive research attempted to recognize the relationship between head of nurse’s communication and supervision with the completeness of nursing care documentation by staff nurse at Hospital X, Cianjur. The data was collected by using questionnaire and visitation list from 106 staff nurse that represented total population. The data was analyzed with the logistic regression of risk factor model. Univariate analysis result showed that staff nurse averagely had less positive perception toward the head of nurse’s communication and supervision. It was also revealed the nursing care documentation which was lack of comprehensiveness with cut of point 80%. The result of bivariate analysis indicated the significance correlation of head of nurse’s communication and supervision with the completion of nursing care documentation by staff nurse (p< 0,05). It was ultimately found that the completeness of nursing care documentation was mostly influenced by the head of nurse’s supervision. Thus, it is recommended to strengthen the supervision process and ability of the head of nurse to enhance the nursing care documentation quality by both formal and non-formal continuing education.
Evaluasi Pelaksanaan Pasca Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB) Pada Perawatan Akhir Kehidupan Di Rumah Sakit X Jakarta Azis Fahruji; Krisna Yetti; Dudi Mashudi
Dunia Keperawatan Vol 8, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dk.v8i3.8064

Abstract

 Evaluasi merupakan komponen esensial dari proses pendidikan berkelanjutan. Program Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB) non-formal, terdiri dari seminar, pelatihan, workshop, konferensi, simposium dll. Perawatan pasien fase terminal (akhir kehidupan) adalah pengetahuan tentang masalah yang terkait dengan penyakit dan kematian, kompetensi keperawatan diperlukan untuk mengelola situasi dinamis dan kompleks seputar perawatan akhir kehidupan sehingga perawat yang merawat pasien selama berhari-hari merasa tidak siap memberikan perawatan pada akhir kehidupan. Tujuannya untuk Mengevaluasi pelaksanaan pasca pendidikan keperawatan berkelanjutan pada perawatan pasien akhir kehidupan dengan mengunakan fishbone. Desain studi kasus dengan menggunakan distribusi frekuensi dari hasil tes, kuesioner dan audit dokumentasi dengan 75 sampel kemudian dianalisis menggunakan fishbone. Hasil tes menunjukan nilai > 85 (54,7%), pemahaman asesmen awal menunjukan nilai > 85 (37,3%), hasil audit dokumentasi menunjukkan tidak ada dokumentasi 94% dan ada dokumentasi 6%. Komite keperawatan sebagai promotor pelaksanaan kegiatan berkoordinasi dengan bidang keperawatan dan manajer keperawatan dalam pelaksanakan evaluasi setiap program pendidikan berkelanjutan.
Penurunan Nyeri Pascabedah Pasien TUR Prostat Melalui Relaksasi Benson Gad Datak; Krisna Yetti; Rr. Tutik Sri Hariyati
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 3 (2008): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i3.218

Abstract

AbstrakRelaksasi Benson merupakan pengembangan metode respons relaksasi dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat mengurangi nyeri pascabedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas relaksasi Benson dalam menurunkan nyeri pascabedah pasien TUR Prostat. Metode penelitian quasi-eksperimental dengan pre test and post test design with control group. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Jumlah sampel 14 orang, masing-masing 7 orang pada kelompok intervensi yang diberikan kombinasi relaksasi Benson dan terapi analgesik serta kelompok kontrol yang hanya diberikan terapi analgesik. Relaksasi Benson dilakukan setelah pemberian analgesik dengan durasi 15 menit selama dua hari. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi Relaksasi Benson dan terapi analgesik efektif menurunkan rasa nyeri pascabedah pada pasien TUR Prostat (p = 0,019, α = 0,05). Penelitian ini menyarankan Relaksasi Benson digunakan untuk mengurangi nyeri pasca bedah TUR Prostat elektif. AbstractBenson Relaxation is the development of relaxation response method by involving patient is belief factor to relieve postoperative pain. This research was aimed to explore the effectiveness of Benson Relaxation in relieving post-operative pain of TUR prostate. The method used in this study was quasi experimental with pre test and post test design with control group. A total of 14 consecutive samples were participated in this study by divided into the intervention and control group, 7 participants respectively. Those in intervention group received Benson Relaxation combined with analgesic therapy where as in control group took analgesic therapy alone. Benson Relaxation intervention given after analgesic was taken, for 15 minutes each day for two days. The results revealed that combination between Benson Relaxation and analgesic therapy was more effective than analgesic therapy alone (p = 0,019, α = 0,05). The Implication of this research was Benson Relaxation can be applied to relieve post-operative pain of elective TUR Prostate.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN “SELFCARE BEHAVIOR” PADA ANAK USIA SEKOLAH DENGAN TALASEMIA MAYOR DI RSUPN. DR. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA 2010 Indanah Indanah; Krisna Yetti; Luknis Sabri
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 2, No 2 (2011): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mendapatkan gambaran “faktor-faktor berhubungan dengan Selfcare Behavior anak usia sekolah dengan talasemia mayor”. Penelitian  merupakan penelitian cross sectional. Hipotesa yang dibuktikan adalah “Adanya hubungan antara Pengetahuan, Dukungan Sosial, Status Kesehatan, Usia, Jenis Kelamin, Lamanya Sakit dengan Selfcare behavior Anak Usia Sekolah dengan Talasemia Mayor”. Sampel penelitian  adalah pasien usia sekolah dengan talasemia mayor di RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sejumlah 131 pasien. Instrumen berupa instrument pengetahuan, dukungan sosial, status kesehatan dan instrument selfcare behavior. Hasil menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan, dukungan sosial dengan selfcare behavior, dengan pengetahuan yang paling dominan.  Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan tentang talasemia.
ANALISIS PERILAKU ETIK KEPALA RUANGAN PADA RUMAH SAKIT DI JAKARTA: STUDI KASUS Nurhayati Nurhayati; Hanny Handiyani; Krisna Yetti; Nurdiana Nurdiana
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 6 No. 1 (2020): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPEREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3578.054 KB) | DOI: 10.33755/jkk.v6i1.163

Abstract

Keperawatan dalam menjalankan praktek keperawatan harus berdasarkan kode etik, standar pelayanan, standar profesi dan standar prosedur operasional.. Perilaku merupakan sikap yang ditampilakan atas keputusn nilai yang di anut, pengetaahuan dan ketrmpilan yang dimiliki. Etika profesional mengacu pada penggunaan komunikasi yang logis dan konsisten, pengetahuan, keterampilan klinis, emosi dan nilai-nilai dalam praktik keperawatan. Tujuan studi kasus ini untuk melakukan analisis perilaku etik kepala ruangan dalam melaksanakan peran dan fungsinya di pelayanan keperawatan rumah sakit di Jakarta. Metode yang dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner, observasi, wawancara dan focus group discusion. Sample yang digunakan adalah seluruh kepal ruangan dan perawat primer dan pelaksana sesuai dengan rumus estimasi proporsio. Hasil yang didapat bahwa kepela ruangan membutuhkan pembekalan sebelum menjabat dengan peningkatan pengetahuan, keterampilan sebagai pemimpin dan pembentukan perilaku etik melalui pendampingan senior, adanya forum FGD antar kepala ruangan dan adanya panduan perilaku etik bagi kepala ruangan sebagai dasar acuan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Bladder Training Modifikasi Cara Kozier Pada Pasien Pasca Bedah Ortopedi yang Terpasang Kateter Urin Bayhakki Bayhakki; Krisna Yetti; Mustikasari Mustikasari
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 1 (2008): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i1.193

Abstract

AbstrakPenelitian kuasi-eksperimen dengan post-test only with control group ini bertujuan mengetahui dampak bladder training menggunakan metode konvensional dan menggunakan modifikasi cara Kozier, dilihat dari pola, keluhan, dan lama waktu berkemih kembali seperti sebelum operasi ortopedi. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode probability sampling dengan cara simple random sampling pasien pascabedah ortopedi yang terpasang kateter urin di sebuah rumah sakit di Jakarta. Uji chi square digunakan untuk mengetahui perbedaan pola berkemih dan keluhan berkemih antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Independent t test untuk mengetahui perbedaan lama waktu pada kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan pola berkemih (p = 1,00) dan keluhan berkemih (p =1,00) antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Namun, ada perbedaan signifikan antara lama waktu untuk berkemih kembali normal pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,05) dengan α = 0,05. Institusi pelayanan perlu membuat prosedur tetap untuk tindakan bladder training dan perawat perlu melakukan bladder training dengan modifikasi cara Kozier sebelum kateter urin pasien dilepaskan. AbstractThis quasy-experimental post-test only with control group study was aimed to examine the effect of bladder training using conventional method and modification of Kozier’s method which was viewed from pattern of voiding, complaint of voiding and the time needed to make voiding back to normal. The participants were taken randomly from the patients with urinary catheter that hospitalized in orthopaedic surgery ward in a hospital in Jakarta. Probability sampling with simple random sampling was used in this study. Chi-square test was employed to examine the different between pattern of voiding and complaint of voiding of treatment group and control group. Independent t test was used to examine the different of time needed in order to void back normally between treatment and control group. With alpha 0,01 for pattern of voiding and 1,00 for complaint of voiding, the result showed that there was no difference of voiding pattern and complaint between treatment and control group. However, there was a significant difference of time needed in order to void back normally between treatment group and control group, with α = 0,05. Therefore, health care institution should have a standard procedure of bladder training and nurses should conduct Kozier modified bladder training method before removing the urinary catheter.
Peningkatan Kepuasan Kerja Perawat Melalui Kebijakan dan Motivasi Endang Purwaningsih; Krisna Yetti; Dian Ayubi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 3 (2008): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i3.215

Abstract

AbstrakKebijakan, supervisi dan motivasi adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja perawat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional untuk mengetahui hubungan kebijakan, supervisi, dan motivasi dengan kepuasan kerja perawat pelaksana di salah satu rumah sakit di Jawa Timur. Penentuan sampel yaitu total populasi sejumlah 146 perawat. Berdasarkan hasil uji univariat didapatkan sebagian besar perawat mempunyai persepsi tidak baik tentang kebijakan, supervisi, dan mempunyai persepsi baik tentang motivasi, dan puas dalam pekerjaannya. Hasil regresi logistik didapatkan motivasi merupakan variabel yang paling berhubungan dengan kepuasan kerja perawat (OR 11,688; p= 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa perawat yang mendapat motivasi akan puas 12 kali dibandingkan perawat yang tidak mendapatkan motivasi oleh manajer keperawatan, sedangkan kebijakan merupakan variabel kedua yang berhungan dengan kepuasan kerja (OR 2,436;p=0,017). Peneliti menyimpulkan bahwa motivasi dan kebijakan merupakan variabel yang dapat menjelaskan kepuasan kerja. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah ditetapkan secara periodik dan ada sosialisasi apabila ada kebijakan baru. AbstractRegulation, supervision system, and motivation are several factors which affected nurse’s satisfaction. This study used cross sectional design to identify the relationship between regulation, supervision system, and motivation with the work satisfaction of the associate nurse at one of the hospitals in East Java. The sample taken was the total population of was 146 nurses. Based on univariate analysis, it was known that most of the nurses had positive perception toward the regulation, supervision system, and motivation; more over they were also satisfied with their work. The regression logistic result showed that motivation was the most related variable with the work satisfaction of the nurses (OR 11.688; p= 0.000). This condition showed that the nurse who got motivation to work would gain 12 times of satisfaction level compared with the nurse who was not motivated by the nurse manager. Meanwhile, regulation was the second highlyrelated variable with the work satisfaction (OR 2.436; p= 0.017). The researcher concluded that motivation and regulation were the variables which could explain the work satisfaction. Based on this research, it was recommended to conduct the evaluation toward the current regulation periodically and socialize for the new regulation.