Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

EXPLORING MATHEMATICAL REPRESENTATIONS IN SOLVING ILL-STRUCTURED PROBLEMS: THE CASE OF QUADRATIC FUNCTION Santia, Ika; Purwanto, Purwanto; Sutawidjadja, Akbar; Sudirman, Sudirman; Subanji, Subanji
Journal on Mathematics Education Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Department of Doctoral Program on Mathematics Education, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22342/jme.10.3.7600.365-378

Abstract

Mathematical representation has an essential role in solving mathematical problems. However, there are still many mathematics education students who have difficulty in representing ill-structured problems. Even though the ill-structured-problem-solving tasks designed to help mathematics education students understand the relevance and meaningfulness of what they learn, they also are connected with their prior knowledge. The focus of this research is exploring the used of mathematical representations in solving ill-structured problems involving quadratic functions. The topic of quadratic functions is considered necessary in mathematics teaching and learning in higher education. It's because many mathematics education students have difficulty in understanding these matters, and they also didn’t appreciate their advantage and application in daily life. The researchers' explored mathematical representation as used by two subjects from fifty-four mathematics education students at the University of Nusantara PGRI Kediri by using a qualitative approach. We were selected due to their completed all steps for solving the ill-structured problem, and there have different ways of solving these problems. Mathematical representation explored through an analytical framework of solving ill-structured issues such as representing problems, developing alternative solutions, creating solution justifications, monitoring, and evaluating. The data analysis used technique triangulation. The results show that verbal and symbolic representations used both subjects to calculate, detect, correct errors, and justify their answers. However, the visual representation used only by the first subject to detect and correct errors.
REPRESENTASI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF Santia, Ika
JIPM Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : JIPM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah  satu  yang  menjadi  alasan  kesulitan  siswa  kurang dapatmemecahkan masalah matematika adalah kurangnya ragam representasi yang dimiliki  siswa. Oleh karena itu representasi penting dalam suatu pembelajaran matematika. Kurangnya kemampuan representasi siswa terlihat ketika siswa kesulitan menggunakan representasinya untuk memecahkan permasalahan aplikasi turunan fungsi. Adapun perbedaan representasi siswa dalam memecahkan masalah tersebut juga dipengaruhi olehgaya kognitif siswa tersebut. Untuk itu dilakukan suatu penelitian kualitatif yang  bertujuan mendeskripsikan:  (1)  representasi siswa  SMA  dengan gaya  kognitif Field Dependent dalam  memecahkan masalah matematika (2) representasi siswa SMA  dengan gaya  kognitif Field Independent dalam  memecahkan masalah matematika. Pengumpulan data dilakukan dengan  pemberian tugas TPMO dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan  adalahtriangulasi. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XII sebanyak 2 orang. Hasil penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  subjek mereprentasikan idenya untukmemecahkan masalah matematika dengan menggunakan langkah pemecahan masalahPolya: (a) memahami masalah (b) membuat rencana penyelesaian (c) melaksanakanrencana dan (d) memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilakukan. Adapunrepresentasi subjek dengan gaya  kognitif Field Dependent dalam memecahkanmasalah matematika adalah dengan cara: memahami informasi dan apa yangditanyakan dengan membuat gambar, membuat rencana penyelesaian denganmembuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan mengecekkembali hasil akhir yang didapatkan dengan mensubstitusi kembali jawaban akhir kepersamaan awal. Sedangkan subjek dengan gaya  kognitif Field Independentmerepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah dengan cara: memahamiinformasi dan apa yang ditanyakan dengan menuliskan persamaan matematikamenggunkan simbol formal, membuat rencana penyelesaian dengan membuatpersamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan menggunakan caracoba-coba serta tidak melakukan pengecekan kembali hasil akhir yang diperoleh. Kata Kunci: Representasi, Pemecahan Masalah Matematika, Gaya Kognitif
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIS SISWA SMP BERDASARKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA Ika Santia
JIPMat Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jipmat.v3i2.2748

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil PISA dan TIMSS siswa Indonesia yang kontradiktif dengan motivasi belajar mereka. Untuk itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi matematis siswa SMP dengan tingkat motivasi belajar rendah dan tinggi. Identifikasi kemampuan literasi matematis didasarkan atas indikator literasi matematis yang meliputi: komunikasi, matematisasi, representasi, pemilihan strategi untuk pemecahan masalah, serta penalaran. Subjek penelitian terdiri dari 1 siswa untuk masing-masing kategori. Instrumen penelitian meliputi peneliti, tes literasi matematis, angket motivasi belajar siswa, dan pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari tes, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data menggunakan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan pengambilan simpulan. Adapun hasil penelitian menyatakan bahwa kemampuan literasi matematis siswa motivasi belajar rendah dan rendah memiliki kesamaan dalam komunikasi dan matematisasi. Sedangkan pada saat pemilihan strategi pemecahan masalah, representasi dan penalaran terdapat perbedaan antara kedua subjek. Perbedaan tersebut terletak pada cara yang dipilih siswa dengan motivasi belajar tinggi dalam melihat fokus permasalahan dan menganalisa jawaban, sedangkan siswa dengan motivasi belajar rendah lebih memilih cara prosedural.Kata kunci: Literasi Matematis, Siswa SMP, Motivasi Belajar
CARA BERPIKIR GEOMETRIS SISWA DALAM MENENTUKAN HUBUNGAN ANTAR BANGUN SEGIEMPAT MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DIDASARKAN PADA TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA Ika Santia
Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.615 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjabarkan cara berpikir geometris siswa berkemampuanmatematika rendah, sedang dan tinggi dalam menentukan hubungan antarbangunsegiempat dilihat melalui pembelajaran PMR. Penelitian ini termasuk penelitiankualitatif dan bersifat eksploratif. Subjek diambil dari kelas VIII SMP yang beradapada level deduksi informal berdasarkan level berpikir gometris van Hiele.Selanjutnya untuk menguji kredibilitas data, dilakukan triangulasi waktu. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa (1) siswa yang berkemapuan matematika tinggi (GT)merangkai 12 hubungan antarbangun segiempat yang mungkin  dari 15 hubunganantarbangun segiempat yang mungkin dan cenderung menggunakan danmemperhatikan 4 unsur pada kegiatan menggambar bangun datar segiempat yaituposisi, ukuran sisi, bentuk dan besar sudut (2) siswa yang berkemapuan matematikasedang (GS) merangkai 5 hubungan antarbangun segiempat dari 15 hubunganantarbangun segiempat yang mungkin dan cenderung hanya menggunakan danmemperhatikan 3 unsur pada kegiatan menggambar bangun segiempat yaitu bentukgambar, ukuran sisi dan sudut. Sedangkan (3) Siswa yang berkemapuan matematikarendah (GR) tidak dapat merangkai hubungan antarbangun segiempat dari 15hubungan antarbangun segiempat karena hanya memperhatikan 1 unsur padakegiatan menggambar bangun segiempat yaitu bentuk gambar.Kata Kunci: hubungan, antarbangun segiempat, PMR, kemampuan matematika
Keterampilan Berpikir Kreatif Mahasiswa Calon Guru Matematika dalam Pemecahan Masalah Kontekstual Santia, Ika
Jurnal Riset Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Matematika (JRPIPM) Vol 1, No 2 (2018): JRPIPM April 2018 Volume 1 Nomor 2
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jrpipm.v1n2.p50-63

Abstract

Abstrak.Keterampilan berpikir kreatif sangat penting dimiliki calon guru matematika dalam menghadapi kompetisi era global karena tingkat kompleksitas masalah yang semakin meningkat. Oleh karena melihat pentingnya keterampilan berpikir kreatif mahasiswa calon guru matematika, maka penelitian ini bertujuan:1) Mendeskripsikan bagaimana keterampilan berpikir kreatif mahasiswa calon guru matematika; 2) Menganalisis proses pemecahan masalah kontekstual oleh mahasiswa calon guru matematika yang didasarkan keterampilan berpikir kreatif. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif bersifat eksploratif yang dilaksanakan dalam kelas MKPBM IV di UN PGRI Kediri pada bulan Januari 2016 menggunakan metode tes dan wawancara. Selanjutnya untuk menguji kredibilitas data dilakukan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1) Terdapat 5 mahasiswa dari 36 mahasiswa yang memenuhi 4 indikator berpikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), fleksibilitas (flexibility), elaborasi(elaboration) dan keaslian (originality). Dari kelima mahasiswa tersebut terdapat 2 mahasiswa yang memiliki fluency tertinggi(SCT), 1 mahasiswa memiliki flexibility tertinggi (SFT), 1 mahasiswa memiliki originality tertinggi (SOT) dan 1 mahasiswa memiliki elaborasi tertinggi (SET); 2) Dalam pemecahan masalah kontekstual, SCT dan SFT menggunakan cara eliminasi-substitusi model matematika dan termasuk dalam TKBK3, SET menggunakan representasi skematik dan cara trial-error, sedangkan SOT menggunakan representasi figural. SET dan SOT termasuk dalam TKBK 4.?Abstract.Skill of think creatively is very important owned by mathematics preservice teacher to thrive in global era competition because complexities of problem is progressively expanded. Based of the important of creatively skill used mathematics preservice teacher in learns mathematics, hence this research?s aimed to: 1) Describe how mathematics preservice teacher?s creativity skill of when learning mathematics 2) Analize process solving contextual problem by mathematics preservice teacher based their mathematics creativety skill. This is qualitative research because have explorative character which these research placed in class of MKPBM IV UN PGRI Kediri on January 2016 with written test method and interview method. To ensure the validity of data, this research used time triangulation. Result of research showed: 1) There are 5 student from 36 student fulfilling 4 indicator of creatively thingking
PENGGUNAAN STRATEGI PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR UNTUK MENGEMBANGKAN MODUL PEMBELAJARAN Hima, Lina Rihatul; Santia, Ika
Jurnal Pembelajaran Matematika Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Pembelajaran Matematika
Publisher : Jurnal Pembelajaran Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.598 KB)

Abstract

Abstract:This research is motivated by the existence of learning media that still unable to improve students' thinking skills. Learning media which is developed in this study are learning module. The learning module is expected to deepen students’ understanding of concepts and improve their ability to think critically. Module development uses one learning strategy that supports the research objectives. The strategy used is a strategy to improve thinking skill. Based on this background, the research questions are: (1) how is the development of learning module using thinking skill enhancement strategy? (2) How do students respond to the development of learning module using strategy for improving thinking skills? The development of learning module in this study uses ADDIE development model. This model has five stages of development, namely Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The subjects in this study are seventh grade students of Private Junior High School (SMP) Wahidiyah Kediri. The instruments are in the form of learning module and students’ response questionnaires. The conclusions are: (1) The module is feasible and valid for students, and (2) Students’ response about the use of learning module is very good. Researchers’ suggestions for further development are: (1) learning module using thinking skill enhancement strategy needs to be completed in the form of content. concept, and design in order to create interesting and conducive learning atmosphere; (2) further development of other materials using thinking skill enhancement strategy is needed; and (3) further development refers to the latest curriculum used in educational institution, so that the learning module in line with the latest curriculum development..Keywords: Modules, Thinking Skill Enhancement Strategy.
REPRESENTASI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF Ika Santia
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.457 KB) | DOI: 10.25273/jipm.v3i2.505

Abstract

Salah satu yang menjadi alasan kesulitan siswa kurang dapat memecahkan masalah matematika adalah kurangnya ragam representasi yang dimiliki siswa. Oleh karena itu representasi penting dalam suatu pembelajaran matematika. Kurangnya kemampuan representasi siswa terlihat ketika siswa kesulitan menggunakan representasinya untuk memecahkan permasalahan aplikasi turunan fungsi. Adapun perbedaan representasi siswa dalam memecahkan masalah tersebut juga dipengaruhi oleh gaya kognitif siswa tersebut. Untuk itu dilakukan suatu penelitian kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan: (1) representasi siswa SMA dengan gaya kognitif Field Dependent dalam memecahkan masalah matematika (2) representasi siswa SMA dengan gaya kognitif Field Independent dalam memecahkan masalah matematika. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tugas TPMO dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XII sebanyak 2 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mereprentasikan idenya untuk memecahkan masalah matematika dengan menggunakan langkah pemecahan masalah Polya: (a) memahami masalah (b) membuat rencana penyelesaian (c) melaksanakan rencana dan (d) memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilakukan. Adapun representasi subjek dengan gaya kognitif Field Dependent dalam memecahkan masalah matematika adalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan membuat gambar, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan mengecek kembali hasil akhir yang didapatkan dengan mensubstitusi kembali jawaban akhir ke persamaan awal. Sedangkan subjek dengan gaya kognitif Field Independent merepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan menuliskan persamaan matematika menggunkan simbol formal, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan menggunakan cara coba-coba serta tidak melakukan pengecekan kembali hasil akhir yang diperoleh.
Mendorong Kreativitas Siswa Melalui Strategi Pikat Pictorial Riddle Ika Santia
Pedagogia : Jurnal Pendidikan Vol 4 No 2 (2015): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pedagogia.v4i2.12

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika rendah; (2) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika sedang dan (3) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika tinggi. Jenis penelitian ini ada penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan dua teknik yaitu tes tertulis dan wawancara. Proses pengumpulan data tes tertulis diperoleh dari hasil tes pada tes kemampuan dasar matematika dan soal Tes Pengajuan Masalah Lingkaran (TPML). Pengumpulan data diawali dengan pemberian tes kemampuan dasar matematika yang hasilnya digunakan untuk mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan rendah,sedang dan tinggi. Proses berikutnya, siswa diberikan pembelajaran dengan strategi PIKAT Pictorial Riddle. Peneliti memfokuskan pengamatan pada pekerjaan subjek apakah muncul kreativitas dalam pengajuan masalah lingkaran (TPML). Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini akan dilakukan triangulasi waktu. Setelah dilakukan analisis data terlihat bahwa hanya terdapat satu subjek dari kelompok kemampuan dasar matematika tinggi yang menunjukkan ide kreatifnya dalam pengajuan soal yang berhubungan dengan luas lingkaran. Subjek tersebut dapat mengasosiasikan penggunaan rumus Phytagoras dengan luas daerah setengah lingkaran. Ide yang dibangun juga menunjukkan kebaharuan, terlihat dari pertanyaan dalam masalah yang telah diajukan “Tentukan hubungan luas setengah lingkaran pertama, kedua dan ketiga.” .Kata “hubungan” merupakan kata yang menggambarkan asosiasi beberapa konsep luas setengah lingkaran yang dibandingkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku
Analisis kemampuan koneksi matematis pada pemecahan masalah matematika ditinjau dari kecerdasan emosional siswa Felix Yudha Yulian; Ika Santia; Aan Nurfahrudianto
Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 6 No 1 (2020): Jurnal Math Educator Nusantara
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.595 KB) | DOI: 10.29407/jmen.v6i1.14323

Abstract

Kemampuan koneksi matematis merupakan aspek penting dalam pembelajaran matematika. Aspek koneksi matematis diperlukan dalam pemecahan masalah matematika. Meskipun aspek koneksi matematis penting, namun faktanya berdasarkan studi awal yang dilakukan pada 28 siswa SMA di Kediri, lebih dari 70% siswa memiliki kemampuan koneksi matematis yang rendah. Terkait hal tersebut, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kecerdasan emosional siswa. Untuk itu, akan dilakukan penelitian kualitatif deskriptif pada 30 siswa SMA di Kediri. Dari 30 siswa diambil dua siswa dengan kecerdasan emosional tinggi dan rendah melalui tes kecerdasan emosional siswa. Selanjutnya subjek diberikan tes kemampuan koneksi matematis dan dilihat kredibilitas datanya melalui wawancara. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dalam memecahkan masalah adalah sebagai berikut: (1) dapat memahami masalah dengan mengidentifikasi fakta, konsep dan prinsip matematika dari luar bidang matematika, (2) membuat perencanaan penyelesaian masalah dengan menemukan keterkaitan antar prinsip matematika (3) melaksanakan rencana penyelesaian masalah menggunakan hubungan antara fakta dan prinsip matematika dalam masalah yang diselesaikian dan (4) memeriksa kembali penyelesaian menggunakan keterkaitan proses dan prosedur serta operasi hitung untuk menyelesaikan permasalahan di luar matematika. Sedangkan siswa dengan kecerdasan emosional rendah meliputi: (1) dapat memahami masalah dengan mengidentifikasi fakta, konsep dan prinsip matematika dari luar bidang matematika, (2) membuat perencanaan penyelesaian masalah yaitu dengan menemukan keterkaitan antar prinsip antar matematika (3) tidak dapat melaksanakan rencana penyelesaian masalah menggunakan hubungan antara fakta dan prinsip matematika dan (4) tidak memeriksa kembali penyelesaian menggunakan keterkaitan proses dan prosedur serta operasi hitung untuk menyelesaikan permasalahan di luar matematika
Pengembangan BKS Berbasis MCK (Mathematical Content Knowledge) Sebagai Upaya Meningkatkan Literasi Matematika Siswa SMP Ika Santia; Feny Rita Fiantika; Jatmiko Jatmiko
Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 3 No 2 (2017): JMEN : Jurnal Math Educator Nusantara
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.08 KB) | DOI: 10.29407/jmen.v3i2.909

Abstract

Abstrak: Rendahnya hasil PISA dan TIMSS siswa Indonesia kontradiktif dengan motivasi belajar matematika dan sains mereka yang berada di atas Singapura dan Malaysia. Permasalahan tersebut dikarenakan kurangnya MCK khususnya domain penalaran di setiap Mathematical Content. Mereka perlu penguatan kemampuan mengintegrasikan informasi, menarik kesimpulan, serta menggeneralisasikan pengetahuan yang dimiliki. Untuk itu dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan menghasilkan Buku Kerja Siswa (BKS) yang valid, praktis dan memiliki efek potensial bagi literasi matematika siswa SMP. Penelitian ini mengacu pada modifikasi model 4-D Thiagarajan yaitu Define, Design dan Develop. Prosedur penelitiannya adalah: 1) menganalisis MCK awal siswa SMP di Kota Kediri berdasarkan domain TIMSS dan literasi matematika PISA; 2) mengembangkan BKS yang valid, praktis dan layak. Hasil penelitian menunjukkan BKS yang dikembangkan termasuk dalam kriteria sangat layak, ditinjau dari kelayakan isi sebesar 84,11%, kelayakan bahasa sebesar 86,61%, kelayakan kegrafikan sebesar 84,72% dan Hasil ujicoba terbatas pada tiga puluh orang siswa mendapat respon positif sebesar 98,25%. Kata Kunci: BKS, MCK, Literasi Matematika, Siswa SMP