cover
Contact Name
Asri Mutiara Putri
Contact Email
asri@malahayati.ac.id
Phone
+628595912060
Journal Mail Official
psikologi@malahayati.ac.id
Editorial Address
Program Studi Psikologi UNIVERSITAS MALAHAYATI Jl. Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Psikologi Malahayati
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26568551     EISSN : 26847469     DOI : https://doi.org/10.33024/jpm.v2i2
JPM provides a platform to publish scientific articles about psychology, especially public mental health. It also seeks to advance the quality of research by introducing or elaborating new methods in psychology. This journal contains a script on Mental Health that includes: Fundamentals of Psychology Public Mental Health Clinical Psychology Educational Psychology Industrial and organizational psychology
Articles 65 Documents
STRES PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME Asri Mutiara Putri; Woro Pramesti; Rani Dwi Hapsari
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1408

Abstract

STRESS EVALUATION IN PARENTS OF CHILDREN WITH AUTISME SPECTRUM DISORDERIntroduction: Autism spectrum disorder (ASD) is a developmental disorder with symptoms like abnormalities in social function, communication, language, and repetitive behavior. Children with ASD) have many difficulties and developmental problem which can lead to stress in parents.Purpose: The aim of this study wastodescribethe stres level ofparentsofchildren with autism spectrum disorder on disable school in Bandar Lampung.Method: This study is a quantitative research with observational survey design. The sample is 39 parents of children with ASD that goes to disable school in Bandar Lampung. Perceivd Stress Scale (PSS) is used to assess stress.Results: Result obtained form 39 parents, found that most of the parents have low level of stress (59%), followed with moderate level of stress (35,9%), and the least was high level of stress (5,1%).Conclusion: Although low level of stress found in this study, parents of children with ASD still need support from social environment to give good parenting for their children.Pendahuluan: Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan perkembangan dengan gejala antara lain abnormalitas pada fungsi sosial, komunikasi dan bahasa, serta perilaku repetitif. Anak penyandang GSA mengalami berbagai hambatan dan masalah dalam perkembangannya sehingga dapat menjadi sumber stres bagi orang tua.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres pada orang tua yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme di SLB se-Bandar Lampung.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survey observasional. Sampel penelitian berjumlah 39 orang tua dari anak penyandang GSA yang bersekolah di SLB di Bandar Lampung. Perceived Stress Scale (PSS) digunakan sebagai alat ukur untuk menilai stres.Hasil: Hasil yang didapatkan dari total responden sebanyak 39 orang tua, sebagian besar responden memiliki tingkat stres ringan (59%), diikuti dengan stres sedang (35,9%), dan paling sedikit mengalami stres berat (5,1%). Simpulan: Meskipun ditemukan bahwa stres yang dialami tergolong ringan, orang tua dari anak penyandang GSA tetap membutuhkan dukungan dari lingkungan untuk dapat memberikan pengasuhan yang baik bagi anaknya.
KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI REMAJA PUTRI PENDERITA SKIZOFRENIA Sulastri Sulastri; Mai Darni
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1409

Abstract

ANXIETY AMONG MOTHERS OF DAUGHTER WITH SCHIZOFRENIAIntroduction: Schizofrenia is a severe mental dirsorder. Adolescence with schizofrenia can be a tough challanger for the parents. Problems in adolescnece with schizofrenia can be a souce of anxiety especially for mothers.Purpose: This study aims to describe the anxiety in mothers who have young women who suffer from schizophrenia. The subjects in this study were two mothers who had young teenagers with schizophrenia.Methods: The location of the research was in the Bandar Lampung region. The study was conducted using qualitative methods with methods of collecting data on interviews, observation and documentation.Results: Based on the results of data analysis it can be concluded that there is anxiety in both respondents in accompanying their young women. The source of anxiety in the first respondent was anxiety because of the pain suffered by the respondent's child, education, future and additional anxiety and in the second respondent who was the source of anxiety was illness, education being taken by the respondent's daughter, and the future. The first respondent with a source of pain, future anxiety, education and the presence of additional anxiety was sufficient to overcome his anxiety after nearly seven years accompanying his daughter. One of the factors is the condition of her daughter who gradually improved, this can be seen from the daughter of the respondent who has been able to carry out daily activities. The second respondent with a source of pain, education and future anxiety still looks anxious, this can be caused either by the condition of his unstable daughter.Conclusion: Mothers of adolescence with schizofrenia found to be having anxiety.Pendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan mental yang berat. Remaja penderita skizofrenia menjadi tantangan besar bagi orang tua.  Permasalahan pada remaja skizofrenia dapat menimbulkan kecamasan khususnya kepada ibu sebagai pengasuh utama.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan pada ibu yang memiliki remaja putri yang menderita skizofrenia.Metode: Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang ibu yang memiliki remaja putrid penderita skizofrenia. Lokasi yang menjadi tempat penelitian adalah di wilayah Bandar Lampung.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi.Hasil: Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat kecemasan pada kedua responden dalam mendampingi remaja putri mereka. Sumber kecemasan pada responden pertama adalah kecemasan karena sakit yang di derita anak, pendidikan, masa depan dan kecemasan tambahan dan pada responden kedua yang menjadi sumber kecemasan adalah sakit, pendidikan yang sedang ditempuh putri responden, dan masa depan. Responden pertama dengan sumber kecemasan sakit, masa depan,pendidikan dan adanya kecemasan tambahan cukup mampu mengatasi kecemasannya setelah hampir tujuh tahun mendampingi putrinya. Salah satu yang menjadi faktornya adalah kondisi putrinya yang berangsur membaik, hal ini bisa terlihat dari putri responden yang telah bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Responden kedua dengan sumber kecemasan sakit, pendidikan dan masa depan masih terlihat kecemasannya, hal ini bisa disebabkan salah satunya karena kondisi putrinya yang belum stabil.Simpulan: Ibu yang memiliki anak penderita skizofrenia ditemukan mengalami kecemasan.
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI MELALUI BROSUR DAN CERAMAH TERHADAP MINAT DONOR DARAH PEMULA DI SEKOLAH Yulika Sugesty; Sulastri Sulastri; Renyep Proborini
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1410

Abstract

THE EFFECT OF GIVING INFORMATION THROUGH BROCHURE AND LECTURES TO BEGINNER BLOOD DONORS’ INTEREST IN SCHOOL.Introduction: In order to improve interest in blood donors, one step that can be taken is by giving information and education to change community understanding and behavior about blood donors.Purpose: This study aims to determine the effect of giving information through brochures and lectures on the interest of beginner blood donors in schools.Methods: The subjects of this study were 70 students from two classes of XI in Computer Engineering Network of Natar Budi Karya Vocational School. Interest scale was used as data collection methods and data was analyzed using the Wilcoxon test.Results: The result obtained shows there is an effect of giving information either through brochures or lectures on the interest of beginner blood donors in schools. There are differences in interest among beginner blood donors between groups given information through brochures and lectures in schoolsConclusion: Brochure found to be more effective than lectures as a media for socialization. It’s better for Lampung province UTD PMI officer to give socialization, doing a seminar, and spreading brochure about blood donors in schools so that beginner blood donors interest can be improved Pendahuluan: Untuk menumbuhkan minat donor darah, salah satu langkah yang dapat diambil adalah pemberian informasi dan edukasi dengan tujuan merubah pemahaman dan perilaku masyarakat terhadap donor darah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi melalui brosur dan ceramah tentang minat donor darah pemula di sekolah.Metode: Subjek penelitian ini adalah 70 siswa dari dua kelas XI di Jaringan Teknik Komputer Sekolah Kejuruan Natar Budi Karya. Metode pengumpulan data menggunakan skala minat dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil yang didapat menunjukkan adanya pengaruh pemberian informasi baik melalui brosur maupun melalui ceramah terhadap minat donor darah pemula di sekolah. Lebih lanjut, juga ditemukan adanya perbedaan minat donor darah pemula antara kelompok yang diberi informasi melalui brosur dan ceramah di sekolah.Simpulan: Brosur ditemukan lebih efektif daripada metode ceramah sebagai media sosialisasi. Kepada petugas UTD PMI Provinsi Lampung sebaiknya lebih banyak memberikan sosialisasi, mengadakan seminar dan penyebaran brosur di sekolah-sekolah yang bertujuan meningkatkan minat donor darah pemula di sekolah.
STRES PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN RETARDASI MENTAL Dewi Lutfianawati; Citra Yuniastri Perwitaningrum; Rada Tri Rosi Kurnia
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1411

Abstract

STRESS IN PARENTS OF CHILDREN WITH MENTAL RETARDATIONIntroduction: Mental retardation is characterized by low intellectual function accompanied by the inability of adaptation function. These conditions will affect the child’s ability to adapt with the environment, such as in learning, playing, working, and socializing which can become a sourch of stress for parents.Purpose: The aim of this study was to describe the stres in parents of children with mental retardationMethod: This study is a quantitative research with observational survey design. Sample is 122 parents of children with mental retardation that goes to disable school in Bandar Lampung. Perceivd Stress Scale (PSS) is used to assess stress.Results: Result shows that most of the parents have low level of stress (93,4%), followed with moderate level of stress (4,9%), and the least was high level of stress (1,6%).Conclusion: Nurturing children with mental retardation is not easy for parent. Although low level of stress in parents found in this study, parents of children with mental retardation  still need support from social environment to give right parenting for their children.Pendahuluan: Retardasi mental ditandai dengan rendahnya fungsi intelektual disertai ketidakmampuan fungsi adaptasinya. Kondisi ini akan mempengaruhi kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan seperti  dalam kegiatan belajar, bermain, bekerja, dan bersosialisasi sehingga dapat menjadi sumber stres bagi orang tua.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres pada orang tua yang memiliki anak dengan retardasi mental.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survey observasional. Sampel berjumlah 122 orang tua dari anak penyandang retardasi mental yang bersekolah di SLB di Bandar Lampung. Perceived Stress Scale (PSS) digunakan sebagai alat ukur untuk menilai stres.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat stress ringan sebanyak 93.4%, responden dengan tingkat stres sedang 4.9% dan responden dengan tingkat stres berat sebanyak 1.6%.Simpulan: Mengasuh anak dengan retardasi mental merupakan hal yang tidak mudah bagi orang tua. Meskipun ditemukan bahwa stres yang dialami tergolong ringan, orang tua dengan anak retardasi mental masih membutuhkan dukungan dari lingkungan untuk dapat memberikan pengasuhan yang tepat untuk anaknya.
PERILAKU AGRESIF PADA SISWA SMP YANG BERMAIN GAME ONLINE Octa Reni Setiawati; Agin gunado
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1413

Abstract

ABSTRACT: AGRESIF BEHAVIOR IN MIDDLE SCHOOL STUDENT WHO PLAY ONLINE GAMESIntroduction:Playing online games has become part of the lifestyle. Increased in online games player is supported by the development of very fast internet, in Indonesia internet user has reached 63 million people from the total population. One of the negative impact of online games is emersion of aggressive behavior by the player, like speaking harshly, slamming or throwing a game device, even hitting players who are next to them.Purpose: The aim of this study is to describe the aggressive behavior in junior high school students who play online games in Bandar Lampung Year 2019.Methods: This study was analytic cross sectional with a total sample of 539 students.Results: This study has found 98 students (18.2%) with a low level of aggressive behavior, 403 students (74.8%) with a moderate level of aggressive behavior, and 38 students (7.1%) with a high level of aggressive behavior.Conclusion: Based on the results of the study, the average aggressive behavior in junior high school students who play online games in Bandar Lampung has a moderate level of aggressive behavior.Latar Belakang: Bermain game online sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Meningkatnya player game online didukung oleh perkembangan internet yang sangat cepat, di Indonesia pengguna internet mencapai 63 juta orang dari total jumlah penduduk. Salah satu dampak negative dari fame online adalah munculnya perilaku agresif pada pemain, seperti berkata kasar, membanting atau melempar perangkat game, bahkan memukul pemain yang berada disebelahnya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran   perilaku  agresif  pada  Siswa  SMP yang bermain gameonlinedi Bandar Lampung Tahun 2019.Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah analitik cross sectional dengan  jumlah  total sampel  539  Siswa.Hasil: Penelitian ini menemukan  98 siswa (18,2%) dengan perilaku agresif  tingkat  rendah, 403 siswa (74,8%) dengan  perilaku  agresif   tingkat  sedang, serta 38 siswa (7,1%) dengan perilaku agresif tingkat tinggi.Kesimpulan:  Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata perilaku agresif pada siswa  SMP yang bermain  game online  di Bandar Lampung memiliki perilaku agresif  tingkat sedang.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN DISMINOREA PADA MAHASISWI KEDOKTERAN di UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG vira sandayanti; Ade Utia Detty; Je mino
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1416

Abstract

RELATIONSHIP BETWEEN STRESS LEVEL AND DYSMENORRHOEA INCIDENTS IN MEDICAL STUDENTS OF MALAHAYATI UNIVERSITY BANDAR LAMPUNG YEAR 2017.Introduction: Dysmenorrhoea is a pain in the pelvic area due to menstruation and prostaglandin substance production. One of the causes of dysmenorrhoea is stress. Stress is a physiological, psychological and behavioral response of humans who try to adapt and manage.Purpose: This study aimed to find relationship between stress level and dysmenorrhoea incidents in college studentsMethod: This study is observational analytic research with cross sectional design. Sample of this study is 178 college students obtained from convenience sampling. The data analysis using pearson correlation.Result   : The result showed that there was a relationship between stress level and incidence of dysmenorrhoea p-value = 0,029 (p <0,05) with r = 0,704.Summary: The conclusion of this study is the relationship between stress level and incidence of dysmenorrhoea in medical student grade 2017 at University Malahayati Bandar Lampung.Pendahuluan : Dismenorea adalah nyeri pada daerah panggul akibat menstruasi dan produksi zat prostaglandin. Salah satu penyebab dismenorea adalah stres. Stres merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan eksternal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat stress dengan kejadian disminorea pada mahasiswi.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 178 mahasiswa yang diperoleh dengan convenience sampling. Analisa data hasil penelitian menggunakan korelasi Pearson.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara stres dengan kejadian disminorea p-value = 0,029 (p<0,05) dengan r = 0,704.Simpulan : Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kejadian disminorea pada pada mahasiswi kedokteran angkatan 2017 di Universitas Malahayati Bandar Lampung tahun 2017.
PELATIHAN “STRATEGI PENGELOLAAN DIRI” UNTUK MENINGKATKAN SELF CONTROL PADA REMAJA DENGAN ADIKSI GAME ONLINE TINGKAT SEDANG Prida Harkina; Rismijati Koesma; Esti Wungu
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i1.1417

Abstract

“SELF MANAGEMENT STRATEGY” TRAINING TO IMPROVE SELF-CONTROL IN ADOLESCENCE WITH MODERATE LEVEL ONLINE GAME ADDICTIONIntroduction: These days, online game addiction phenomenon has increased, especially among middle school adolescences. Therefore, a prevential treatment is needed to avoid their addiction getting worse. One of the way is by strengthening adolescence’ self-control in playing online game.Purpose: The aim of this study was to determine the effect of “Self Management Strategy” training to improve self-control in adolescences with moderate level online game addiction.Methods: This study used quasi experiment with A-B-A reversal design. The intervention was done by giving training that used behavior modification basic principle. Measurementof self-control was done in every phase A (when there are no treatment) and B (when treatment was given).Results: According to the data obtained, there was an improvement  found in self-control score in two respondents before and during the treatment given.Conclusion:Self management strategy training can improve self control in adolescence with moderate level online game addiction.Pendahuluan: Fenomena kasus adiksi game online saat ini marak terjadi pada pemain remaja Sekolah Menengah Pertama. Oleh karena itudibutuhkan suatu penanganan pencegahan agar adiksi yang mereka alami tidak semakin memburuk. Salah satu caranyaadalah dengan memperkuat self-control pada remaja saat bermain game onlineTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pelatihan “Strategi Pengelolaan Diri” untuk meningkatkan self-control pada remaja dengan adiksi game online tingkat sedang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dan menggunakan A-B-A reversal design. Intervensi yang dilakukan berbentuk pelatihan dengan menggunakan prinsip dasar behavior modification. Pengukuran terhadap self-control dilakukan di setiap fase A (saat tidak ada treatment) dan B (saat diberikan treatment)Hasil: Berdasarkan data yang diperoleh selama pengukuran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah skor self-control pada kedua peserta dari saat belum diberikan treatmant ke pada saat treatment diberikan.Simpulan: Pelatihan Strategi Pengelolaan Diri dapat meningkatkan self-control (kontrol diri) pada remaja  dengan adiksi game online tingkat sedang.
DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES PADA IBU PASCA MELAHIRKAN ANAK PERTAMA Anisa Fitriani; Indar Nuryati
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i2.1856

Abstract

SOCIAL SUPPORT AND STRESS LEVEL AMONG POST FIRST DELIVERY MOTHERSMothers who experienced stress after giving birth tend to have difficulties in self adjustment, even more so among first delivery mothers. Social support is needed to help mothers cope with stress after delivery. This study was aim to identified the relationship between social support and stress lebel in mothers post first born delivery. The sample of this study was 31 mothers in Desa Tamansari, Gedongtataan, Pesawaran. Measurement tool used to obtain data was social support and stress scale. In this study, the relationship between social support and stress was analysed by pearson correlation. The result of this study shows no significant correlation between social support and stress level (r (31) = .238 dengan p > .05). Based on the result of this study, a further research need to be conducted to analyse the other factors, beside social support, that relate with stress level among post first delivery mothersIbu yang mengalami stres setelah melahirkan cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, terlebih pada kelahiran anak pertama. Dukungan sosial diperlukan untuk membantu ibu mengatasi stress yang dialami setelah persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres pada ibu pasca melahirkan anak pertama. Sampel penelitian ini berjumlah 31 orang Ibu di Desa Tamansari Kecamatan Gedongtataan Kabupaten Pesawaran. Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah skala dukungan sosial dan skala tingkat stress. Dalam penelitian ini hubungan dukungan sosial dengan tingkat stress diuji dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukan  tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat stress (r (31) = .238 dengan p > .05). Berdasarkan hasil penelitian perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai faktor-faktor  lain selain dukungan sosial yang berhubungan dengan tingkat stress ibu setelah melahirkan anak pertama.
DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL Rada Tri Rosi Kurnia; Asri Mutiara Putri; Dita Fitriani
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i2.1857

Abstract

SOCIAL SUPPORT AND STRESS LEVEL AMONG PARENTS OF MENTALLY RETARDED CHILDRENParents of children with mental retaradation face challenges placing them at risk for high levels of stress. Social support might decrease the negative impact of stress. The purpose of this study was to analyze the correlation between social support and the stress level among parents of children with mental retaradation. This study was a survey analytical study with cross-sectional design. The sample included 122 parents of mental retaradation children in disabled school at Bandarlampung. Social support in parents was measured through social support scale and stress levels was measured through Perceived Stress Scale 10. Rank Spearman correlation was used to analyze the collected data. The result of this study found that there is significant correlation between social support and stress levels on parents of mental retaradation children (r = -0.989, p = 0.000< 0.005). Parents that received high level of social support has low level of stress, and vice versa. The result of this study shows the importance of social support in lowering stress level of the parents.Orang tua dari anak retardasi mental  menghadapi tantangan yang menempatkan mereka pada risiko stres tingkat tinggi. Dukungan sosial dapat menurunkan dampak negatif dari stres. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat stres orang tua dari anak retardasi mental. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan rancangan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 122 orang. Dukungan sosial pada orang tua diukur dengan skala dukungan sosial dan tingkat stres diukur dengan skala Perceived Stress Scale 10. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu uji korelasi Rank Sperman.  Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan tingkat stres pada orang tua dari anak retardasi mental (r = -0.989, p = 0.000< 0.005).Orang tua yang memperoleh dukungan sosial tinggi memiliki tingak stress yang rendah, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan sosial dalam menurunkanstress pengasuhan yang dirasakan orang tua
PERBEDAAN PERILAKU MORAL SISWA DITINJAU DARI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN UMUM DAN AGAMA Nugroho Arief Setiawan; Gustiyana AR
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i2.1859

Abstract

DIFFERENCES IN STUDENTS’ MORAL BEHAVIOR BASED ON GENERAL AND RELIGIOUS EDUCATIONAL BACKGROUNDBased on the results of previous studies show that moral behavior between adolescents who have a religious education background and adolescents who have a general educational background are significantly different. This study aims to see whether there are differences in moral behavior of students between schools that have a general education background and the moral behavior of students from schools that have a religious education background. This study was a quantitative study with 64 sample of SMA Negeri Besar Way Kanan (Sekolah umum) and MAN 1 Bandar Lampung (Sekolah agama) students. The instrument used in this study was moral behavior scale. Data analysed by t-test. The moral behavior of students from schools that have a general education background is lower than the moral behavior of students from schools who have a religious education background (t = 3.366, p < .05). The result of this study shows religious education role in developing students’ moral behaviorBerdasarkan hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perilaku moral antara remaja yang memiliki latar belakang pendidikan agama dengan remaja yang memiliki latar belakang pendidikan umum berbeda secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan perilaku moral siswa antara sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan umum dengan perilaku moral siswa dari sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 64 siswa SMA Negeri Besar Way Kanan (Sekolah umum) dan MAN 1 Bandar Lampung (Sekolah agama). Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku moral. Data dianalisis menggunakan uji t. Perilaku moral siswa dari sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan umum lebih rendah dibandingkan dengan perilaku moral siswa dari sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan agama (t = 3.366, p < .05). Hasil penelitian ini menunjukkan peran pendidikan agama dalam membentuk perilaku moral siswa.