Claim Missing Document
Check
Articles

KONFLIK LAHAN MEGA PROYEK BENDUNGAN LEUWIKERIS DI DESA ANCOL KECAMATAN CINEAM KABUPATEN TASIKMALAYA Rizkiawati, Rini; Humaedi, Sahadi
Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.653 KB) | DOI: 10.24198/jkrk.v1i1.20894

Abstract

Konflik merupakan aspek alami dalam suatu kehidupan sosial bermasyarakat yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan manusia. Konflik yang timbul disuatu masyarakat tentunya memiliki suatu dampak positif dan negatifnya dan sering membuat kondisi menjadi tidak nyaman.. Seperti halnya konflik yang terjadi di Desa Ancol Kabupaten Tasikmalaya terkait pembangunan bendungan Leuwikeris. Konflik tersebut terjadi karena adanya rasa ketidakadilan dan kecemburuan terhadap harga jual tanah yang memiliki ketimpangan cukup tinggi dengan Kecamatan Ciamis. Hal tersebut tentunya mampu memperungaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Jika meninjau pada teori transformasi konflik menurut Fisher dkk, berasumsi bahwa konflik mengenai pembangunan bendungan tersebut disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya, dan ekonomi.  Conflict is a natural aspect of a social life that is inevitable in human life. Conflicts that arise in a community certainly have a positive and negative impact and often make conditions uncomfortable. As with the conflict that occurred in Ancol Village, Tasikmalaya Regency, related to the construction of the Leuwikeris Dam. The conflict occurred because of a sense of injustice and jealousy towards the selling price of land that had quite high inequality with the Ciamis District. This is certainly able to influence the social and economic conditions of the community. If you look at the theory of conflict transformation according to Fisher et al., It is assumed that conflicts regarding dam construction are caused by problems of inequality and injustice that arise as social, cultural and economic problems. 
STRENGTH PERSPECTIVE: MEMETAKAN POTENSI PELAKU USAHA KECIL DAN MIKRO DI DESA MARGALUYU Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi; Apsari, Nurliana Cipta; Santoso, Meilanny Budiarti
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2019): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i3.25669

Abstract

Strength perspective mengarahkan pada pandangan bahawa bahwa setiap orang, kelompok atau masyarakat sesungguhnya memiliki sumber kekuatan, baik yang bersumber pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar mereka. Pandangan ini dapat memandu setiap diri manusia, kelompok, organisasi, masyarakat; atau entitas sosial, ekonomi, dan budaya lainnya yang dengan sisi positifnya semestinya menjadi modal utama untuk mandiri, maju dan berkembang. Demikian pula dalam memetakan usaha mikro di perdesaan, dimana perpektif kekuatan berkaitan erat dengan pemberdayaan atau keberdayaan (empowered) usaha tersebut. Selain sumber-sumber potensial lainnya, seperti aset-aset fisik, ekonomi, dan budaya; perspektif ini menekankan perlunya pemanfaatan aset-aset sosial (social capital) potensial di masyarakat. Pandangan kekuatan (strength perspective) merupakan salah alternative upaya memetakan potensi usaha mikro-kecil di desa, agar hasilnya lebih positif dan fair. Banyak usaha kecil dan mikro yang tetap bertahan hingga kini, membuktikan bahwa mereka memiliki kekuatan. Lalu apa yang menjadi sumber kekuatan mereka, hingga dapat survive di tengah perubahan sosial dan teknologi informasi yang begitu cepat. Namun demikian, perubahan sosial dan kemajuan teknologi saat ini pun semestinya dapat berdampak positif bagi perkembangan usaha mereka. Artikel ini berupaya untuk menggambarkan dan menjelaskan bagaimana pandangan berbasis kekuatan (strength perspective) dalam memetakan potensi usaha mikro-kecil di desa, sebagai salah satu alternatif. Kajian dalam artikel ini dilandasi oleh pemikiran bahwa sesungguhnya setiap pelaku usaha mikro-kecil di desa memiliki kekuatan berikut dengan ragam sumber dan potensinya. Beragam sumber dan potensi tersebut bisa disadari atau pun tidak oleh pelaku usaha mikro-kecil (UMK) tersebut. Strength perspective leads to the view that every person, group or community actually has a source of strength, both originating from themselves and the environment around them. This view can guide every human being, group, organization, society; or other social, economic, and cultural entities that on the positive side should be the main capital to be independent, advanced and developing. Likewise in mapping microbusinesses in rural areas, where the strength perspective is closely related to empowering or empowering the business. In addition to other potential sources, such as physical, economic and cultural assets; This perspective emphasizes the need to utilize potential social assets in the community. The strength perspective is an alternative effort to map the potential of micro-small businesses in the village, so that the results are more positive and fair. Many small and micro businesses that have survived until now, prove that they have strength. Then what is the source of their strength, so they can survive in the midst of social change and information technology so fast. However, current social changes and technological advances should have a positive impact on the development of their businesses. This article seeks to describe and explain how a strength based perspective in mapping the potential of micro-small businesses in the village, as an alternative. The study in this article is based on the idea that every micro-small business actor in the village has the following strengths with various sources and potentials. The various sources and potentials can be realized or not by the micro-small business (UMK).
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT MELALUI PROGRAM BERBAGI SEHAT OLEH PT UNILEVER Nurbaiti, Aida; Ihsani, Intania; Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2019): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i3.26212

Abstract

ABSTRAK  Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran program Coorporate Social Responsibility (CSR) Lifebuoy Berbagi Sehat dalam memberikan pemahaman dan juga sosialisasi pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, pembangunan fasilitas kesehatan dan revitalisasi dokter kecil. Tujuan utama program ini untuk menggugah dan membangun kesadaran masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat dalam kegiatannya sehari-hari. Salah satu fokus utamanya cuci tangan pakai sabun secara baik dan benar menggunakan air bersih mengalir sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. “Bersih Pangkal Sehat, Sehat Pangkal Lifebuoy,” mengulas kampanye Lifebuoy Berbagi Sehat (LBS) sebagai program untuk berbagi citra dan memperlihatkan kepedulian sosial perusahaan. Lifebuoy menyisihkan Rp10,- dari setiap penjualan sabun untuk pengadaan sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) dan air bersih. Program ini menggambarkan LBS sebagai program edukasi kesehatan pada masyarakat tentang pentingnya memiliki lingkungan yang bersih melalui sarana MCK. LBS merupakan contoh penerapan konsep pemasaran berdimensi sosial (cause - related marketing) , yakni program pemasaran yang diarahkan untuk memecahkan salah satu masalah di masyarakat yakni kebersihan atau kesehatan. ABSTRACT   This article aims to find out how the role of the Lifebuoy Corporate Sharing Corporate Social Responsibility (CSR) Healthy Sharing program in providing understanding and also the s ocialization of the importance of maintaining health from an early age, the construction of health facilities and the revitalization of small doctors. The main purpose of this program is to inspire and build public awareness, especially the younger generat ion, about the importance of a clean and healthy lifestyle in their daily activities. "Bersih Pangkal Sehat, Sehat Pangkal Lifebuoy," reviewed the LBS campaign as a program to share images and show corporate social care. Lifebuoy has set aside Rp10 from ea ch sale of soap for the provision of bathing, washing and toilet facilities and clean water. This program describes LBS as a health education program for the community about the importance of having a clean environment through toilet facilities. LBS is an example of the application of the concept of social dimension marketing (cause - related marketing), which is a marketing program that is directed to solve one of the problems in the community namely hygiene or health . 
PERAN KELUARGA DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA LESTARI, ERIESKA GITA; HUMAEDI, SAHADI; SANTOSO, MELAINNY BUDIARTI; HASANAH, DESSY
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14231

Abstract

Masa remaja merupakan suatu periode yang penuh dengan perubahan serta rentan munculnya masalah terutama dalam kenakalan remaja. Perlu adanya perhatian khusus serta pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa transisi remaja merupakan masa yang paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, untuk mengurangi benturan gejolak remaja dan untuk memberi kesempatan agar remaja dapat mengembangkan dirinya secara optimal, perlu diciptakan kondisi lingkungan terdekat yang sestabil mungkin, khususnya lingkungan keluarga. Keadaan keluarga yang ditandai dengan hubungan suami-istri yang harmonis akan lebih menjamin remaja bisa melewati masa transisinya dengan mulus dan tidak merasa terganggu. Adapun beberapa peran yang dapat dilakukan orang tua dalam menanggulangi kenkalan remaja meliputi; Orangt ua harus menjadi teladan sikap dan ucapan pada anaknya, motivasi anak, orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. Orang tua berusaha menciptakan keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. serta membantu remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik remaja.
STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL STARBUCK DALAM MEWUJUDKAN LINGKUNGAN YANG BERKELANJUTAN Shidiq, Alima Fikri; Purnama, Fitri Hajar; Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2019): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i3.26207

Abstract

ABSTRAK Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan ke 17 tujuan SDG ini dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat Indonesia mulai dari masyarakat itu sendiri, akademisi, pemerintahan hingga pihak swasta. Dengan melibatan pihak swasta dalam mewujudkan SDGs diharapkan akan membawa dampak lebih luas terhadap masyarakat, mengingat bahwa di Indonesia banyak terdapat perusahaan yang bergerak di bidang usaha pelayanan baik barang ataupun jasa kepada masyarakat Indonesia. Salah satu cara yang bisa dilakukan perusahaan dalam mewujudkan tujuan tersebut yaitu melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Hal ini ditanggapi positif oleh berbagai pihak, salah satunya Starbucks Coffee Company yang mengusung tujuan SDGs ke dalam program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Sebagai green company Starbuck mengambil peran dalam pembangunan lingkungan berkelanjutan sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya melalui program CSR yang diintegrasikan dengan strategi marketing. Adapun program CSR tersebut dilakukan baik secara langsung kepada masyarakat, bermitra dengan lembaga sosial ataupun kepada konsumennya.  ABSTRACT The Government of Indonesia is committed to realizing these 17 SDG objectives by involving all components of Indonesian society from the community itself, academics, government to the private sector. By involving the private sector in realizing SDGs, it is expected to have a wider impact on the community, given that in Indonesia there are many companies engaged in the business of providing goods or services to the people of Indonesia. One way companies can do in realizing thes e goals is through corporate social responsibility (CSR) programs. This was positively responded by various parties, one of which was Starbucks Coffee Company which brought the SDGs goals into the company's CSR (Corporate Social Responsibility) program. As a green company Starbuck takes a role in the development of environmentally sustainable as a form of social responsibility through CSR programs that are integrated with marketing strategies. The CSR program is carried out either directly to the community, in partnership with social institutions or to consumers.
Fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Pemenuhan Hak Karyawan Terdampak Bencana Dalam Lingkungan Perusahaan Ghifari, Gillian Aldi; Cecep, Cecep; Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2019): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i3.26216

Abstract

Abstrak Bencana adalah suatu peristiwa yang dapat merugikan seseorang baik itu dalam bentuk benda maupun dalam bentuk jiwa. Bencana sendiri dapat disebabkan baik oleh manusia itu sendiri maupun terjadi karena alam. Bukan hanya di alam saja yang dapat terjadi bencana, ketika kita dalam lingkungan kerja pun dapat terjadi bencana, atau bisa disebut dengan kecelakaan dalam bekerja. Kecelakaan dalam bekerja adalah sebuah peristiwa yang tidak diinginkan oleh seseorang yang dapat menimbulkan kematian, kerusakan, dan luka-luka ringan maupun luka berat. Bencana dalam bekerja adalah sebuah peristiwa yang dapat menyebabkan kerusakan fisik maupun kerusakan emosional yang dapat menyebabkan rasa trauma yang mengakibatkan kualitas seseorang dapat menurun dalam bekerja. Dengan adanya dampak tersebut, membuat hilangnya kepercayaan seseorang terhadap kemampuan mereka sebagai pekerja. Untuk mengatasi hal tersebut sangat diperlukan konseling bagi para korban bencana dalam bekerja tersebut. Agar mereka, dapat menjalankan sebagaimana mestinya mereka bekerja dalam sebuah organisasi ataupun dalam sebuah perusahaan. Konseling ini berguna untuk mengatasi rasa trauma yang dialami oleh mereka agar, mereka dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Rasa trauma tersebut dapat dibagi menjadi 3 bagian, diantaranya adalah : trauma ringan, trauma sedang dan yang terakhir adalah trauma berat. Untuk meminimalisir hal tersebut maka, di suatu perusahaan harus adanya tanda-tanda atau keterangan kita terjadinya bencana, dan mereka yang bekerja di perusahaan tersebut haruslah mengetahui apa dampak yang akan diterima. Maka dari itu, membuat mereka lebih berhati-hati lagi dalam bekerja. Dan dari itu mereka dapat merasa aman ketika dalam bekerja setelah adanya tanda-tanda saat menjalankan tugas tersebut. Sehingga, mereka dapat menunjukkan kemampuannya secara maksimal dan efisien.  A disaster is an event that can harm a person both in the form of objects and in the form of a soul. Disasters themselves can be caused both by humans themselves and by natural causes. Not only in nature can disasters occur, when we in the work environment can also occur disasters, or can be called an accident at work. An accident at work is an undesirable event by someone that can cause death, damage, and minor injuries or serious injuries. Disaster at work is an event that can cause physical damage as wel l as emotional damage that can cause a sense of trauma that results in a person's quality can decrease at work. With this impact, it makes someone lose confidence in their abilities as workers. To overcome this, counseling for disaster victims is needed in the work. So that they can run as they should work in an organization or in a company. This counseling is useful to overcome the trauma experienced by them so that they can carry out their duties as they should. The trauma can be divided into 3 parts, including: mild trauma, moderate trauma and the last is severe trauma. To minimize this, then in a company there must be signs or information about our occurrence of disaster, and those who work in the company must know what impact will be received. Therefore , making them more careful in working. And from that they can feel safe when working after the signs when carrying out the task. So, they can show their abilities optimally and efficiently. 
PELAYANAN LANJUT USIA TERLANTAR DALAM PANTI Sulastri, Sri; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v4i1.14225

Abstract

Jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun keatas) akan terus meningkat. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia berhubungan positif dengan Ageing index dan sebaliknya berhubungan negatif dengan Potential Support Ratio. Jika pendapatan penduduk yang bekerja sebagai pendukung penduduk lansia tidak menunjukkan peningkatan berarti, maka jumlah penduduk lansia terlantar akan terus meningkat. Jumlah penduduk lansia wanita cenderung lebih banyak dan lebih rentan daripada pria karena tingkat partisipasi angkatan kerjanya rendah, lebih banyak yang berstatus lajang dan tinggal sendiri, dan berpendidikan rendah. Kebijakan perlindungan lansia saat ini lebih mengedepankan pelaksanaan kesejahteraan sosial dengan kelompok sasaran prioritas yaitu penduduk lansia terlantar. Kegiatan pelayanan lebih ditujukan untuk perlindungan dan rehabilitasi sosial, diantaranya melalui panti reguler. Dalam RPJMD 2015-2019 dikembangkan kebijakan Perawatan Jangka Panjang (Long-Term Care) yang dilaksanakan oleh 3 komponen utama yaitu pemerintah, masyarakat, dan rumah tangga. Pemerintah bertugas untuk menyediakan sistem asuransi LTC dan layanan berbasis institusi melalui panti; masyarakat menyediakan layanan berbasis komunitas, dan rumah tangga melaksanakan layanan berbasis rumah tangga. Tulisan ini ditujukan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi penduduk lanjut usia dan pelayanan lanjut usia terlantar dalam panti. Dari hasil penelusuran beberapa literatur terkait diperoleh informasi bahwa Kelompok sasaran pelayanan sosial dalam panti, termasuk yang dikelola oleh pemerintah masih memilih lansia yang mampu mandiri dan memiliki keluarga, padahal mereka dapat dilayani melalui model layanan home care dan community care. Pelayanan dalam panti seyogyanya memilih lansia yang sudah tidak memiliki kemandirian yang tidak dapat ditangani oleh model pelayanan lain. Untuk itu, diperlukan pengembangan mekanisme penjangkauan lansia tersebut, proses pelayanan yang relevan, penyediaan sumberdaya manusia dan sarana pelayanan yang memadai.
PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA (ADOLESCENT SUBSTANCE ABUSE) AMANDA, MAUDY PRITHA; HUMAEDI, SAHADI; SANTOSO, MEILANNY BUDIARTI
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14392

Abstract

Permasalahan narkoba di Indonesia masih merupakan sesuatu yang bersifat urgent dan kompleks. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir permasalahan ini menjadi marak. Terbukti dengan bertambahnya jumlah penyalahguna atau pecandu narkoba secara signifikan, seiring meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan narkoba yang semakin beragam polanya dan semakin masif pula jaringan sindikatnya. Masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia, pada umumnya saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya pemakaian bermacam-macam jenis narkoba secara ilegal. Kekhawatiran ini semakin di pertajam akibat maraknya peredaran gelap narkotika yang telah merebak di segala lapisan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara pada masa mendatang. Perilaku sebagian remaja yang secara nyata telah jauh mengabaikan nilai-nilai kaidah dan norma serta hukum yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat menjadi salah satu penyebab maraknya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda. Dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat masih banyak dijumpai remaja yang masih melakukan penyalahgunaan narkoba.
HUBUNGAN CARA MENGASUH OLEH ORANG TUA TERHADAP PERILAKU MEMBOLOS PELAJAR SMA Destiana, Novita; Basar, Gigin Ginanjar Kamil; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2016): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v3i1.13630

Abstract

-
PEKERJA SOSIAL INDUSTRI DALAM MENANGANI PERMASALAHAN PHK DI DUNIA INDUSTRI INDONESIA Sunija, D. Anisa; Febriani, Septia; Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2019): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i3.26206

Abstract

ABSTRAK World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) membatasi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu komitmen berkelanjutan dari dunia perusahaan untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi pada komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup karyawan beserta seluruh keluarganya. Sementara itu sasaran, bidang praktik, dan intervensi pekerjaan sosial semakin luas seiring berkembangnya masyarakat secara kompleks. Globalisasi dan industrialisasi telah membuka kesempatan bagi pekerja sosial untuk terlibat dalam dunia industri. Dalam praktiknya, dengan pendekatan sosialnya, pekerja sosial industri juga dapat berperan sebagai pihak yang dapat membantu memperbaiki kesehatan fisik maupun mental karyawan, termasuk ketika terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), pekerja sosial juga dapat mengantisipasi maupun mengatasi ketika terjadinya masalah yang terjadi pada diri klien dan juga keluarganya. Tulisan berusaha menggali dan memaparkan secara singkat mengenai ketenagakerjaan di Indonesia, serta peran dan keberadaan pekerja sosial industri. Pelayanan-pelayanan dalam menangani hal yang berkaitan dengan kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan kerja, serta tindakan preventif dalam penanganan masalah PHK baik bagi pekerjanya maupun dampaknya terhadap keluarga pekerja. Kurangnya pemahaman dan kesadaran dari perusahaan dan stakeholder terkait dengan keberadaan dan kebutuhan pekerja sosial di dunia industri sehingga tidak banyak pekerja sosial industri di Indonesia. Sosialisasi pekerja sosial di dunia industri perlu terus diupayakan. Undang-Undang no 14 /2019 tentang Pekerja Sosial menegaskan secara legal yang harus diikuti dengan bukti nyata praktik profesi ini di berbagai ranah praktik di Indonesia. Abstract The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) Corporate Social Responsibility (CSR) is a continuing commitment from the corporate world to act ethically and contribute to economic development in the local community or the wider community, together with improving the lives of employees and their entire families. Meanwhile targets, areas of practice, and social work interventions are expanding as society develops in a complex way. Globalization and industrial ization have opened opportunities for social workers to get involved in the industrial world. In practice, with its social approach, industrial social workers can also play a role as a party that can help improve the physical and mental health of employees , including when layoffs (Termination of Employment), social workers can also anticipate or overcome when problems occur to clients. and also his family. The article seeks to explore and briefly describe employment in Indonesia, as well as the role and pre sence of industrial social workers. Services in handling matters relating to welfare, health and safety at work, as well as preventive measures in dealing with layoff problems both for workers and their impact on the worker's family. Lack of understanding and awareness of companies and stakeholders related to the existence and needs of social workers in the industrial world so that not many industrial social workers in Indonesia. The socialization of social workers in the industrial world needs to be contin ued. Law no 14/2019 on Social Workers legally affirms that must be followed by concrete evidence of this professional practice in various realms of practice in Indonesia.
Co-Authors Agus Wahyudi Riana, Agus Wahyudi Akbar, Umar Rizqon Algifari Martin, Muhammad Zakky AMANDA, MAUDY PRITHA AMANDA, MAUDY PRITHA Anisa2, Anisa Antik Bintari, Antik APRILIANI, FARAH TRI AR-RIDHO, ALI AR-RIDHO, ALI Arie Surya Gutama, Arie Surya arifah, rifdah Azizah, Afina BASAR, GIGIN G. KAMIL BASAR, GIGIN G. KAMIL Binahayati Rusyidi BINAHAYATI, BINAHAYATI BINAHAYATI, BINAHAYATI Budhi Wibhawa, Budhi Budi M. Taftazani Budi Muhammad Taftazani, Budi Muhammad Cecep Cecep, Cecep Chandra, Bastian Rahmadi Citra, Adristinindya Dessy Hasanah Siti Asiah, Dessy Hasanah Siti Dessy Hasanah, Dessy Dewi, Adilla Nur Fitria Dewi, Adilla Nur Fitria Eva Nuriyah Hidayat, Eva Nuriyah Fabiani, Raden Roro Michelle Fahrezi, Muhammad Febriani, Septia Fitriyani Fitriyani Gabriela Chrisnita Vani, Gabriela Chrisnita Ghifari, Gillian Aldi Gigin Ginanjar Kamil Basar, Gigin Ginanjar Kamil Hadiyanto A. Rachim, Hadiyanto A. Hana Hanifah, Hana Hardianty, Rima Hayati, Devie Lestari Hery Wibowo, Hery Hetty Krisnani, Hetty Ihsani, Intania Ikhsan, Wildan Muhammad Nur Islinawati Soleh, Islinawati Kudus, Imaunudin LESTARI, ERIESKA GITA LESTARI, ERIESKA GITA Loho, Albertina N. Maharani, Debby Maulana Irfan, Maulana Meilanny Budiarti S., Meilanny Budiarti Meilanny Budiarti Santoso, Meilanny Budiarti Muhammad Ferdryansyah, Muhammad Mutmainah, Ema Triana Nadia Uswatun Hasanah, Nadia Uswatun Nandang Mulyana, Nandang Natalia, Sheila NOVIANI P, UTAMI ZAHIRAH Novita Destiana, Novita Nugrahani, Ade Nunung Nurwati Nurbaiti, Aida Nurliana Cipta Apsari, Nurliana Cipta O.G, Audina Rahayu O.G, Audina Rahayu Purnama, Fitri Hajar Radissa, Vanaja Syifa Rahakbaw, Nancy Rahmacahyani, Rezki Ramada, Indrihastuti Rizkia Ramada, Indrihastuti Rizkia Ramadhan Pancasilawan Reza Rinaldy, Reza Rifai, Aldi Ahmad Rini Rizkiawati, Rini Risna Resnawaty, Risna Rudi Saprudin Darwis, Rudi Saprudin Santang, Adik Maulana Santoso Tri Raharjo Santoso Tri Raharjo, Santoso Tri SANTOSO, MELAINNY BUDIARTI SANTOSO, MELAINNY BUDIARTI Shidiq, Alima Fikri Soni Akhmad Nulhaqim Sonia, Gina Sri Sulastri Suharto, Meiliani Puji SUMARA, DADAN SUMARA SUMARA, DADAN SUMARA Sunija, D. Anisa Syammas Perdana, Syammas Tamimi, Sarah Farahdita Tamimi, Sarah Farahdita Taufik Ismail Triana, Annisya Wahju Gunawan, Wahju Wandi Adiansah, Wandi Winata, Topan Parta Yulinda Adharani, Yulinda Yuningsih, Yuyun Yusshy Kurnia Herliani, Yusshy Kurnia Yustika Tri Dewi, Yustika Tri Zahara, Sofia Zahra Y.W, Tsaniya ZAKIYAH, ELA ZAIN ZAKIYAH, ELA ZAIN Zulhaeni, Zulhaeni