Roni Nugraha
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Jalan Agatis, Bogor 16680 Jawa Barat Telepon (0251) 8622909-8622906, Faks. (0251) 8622915

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PEMANFAATAN KUNYIT (Curcuma domestica Val) DAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia Swingle) DALAM PEMBUATAN ABON IKAN LEMURU Djoko Poernomo; Agoes Mardiono Jacoeb; Uut Tri Utami; Roni Nugraha
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 13 No 2 (2010): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1435.336 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v13i2.5352

Abstract

The research objectives were determine the concentration of lime and soaking time that could reduce the smell of sardine, the concentration of curcumin that could prevent the oxidation of fish, and the effect of curcumin on chemical and microbiology characteristic of sardine abon during 30 days storage. Sardine was soaked in lime solution with concentration from 5 to 20% (v/v) for 10, 20, and 30 minutes. After the best concentration of lime was found, the experiment was continued to determine the optimum concentration of curcumin in maintained he chemical and microbiology characteristic of sardine abon by adding the fish with curcumin from 1% to 5% (w/w). The abon was stored for 30 days andevery 10 days the sensory test, proximate analysis, analysis of water activity (aw), TPC and TBA were carried out. Sensory test showed that the addition of lime until 15% could increase the result, however, the sensory test result depleted when 20% of lime was used. The period of immersion also gave positive correlation with sensory test. The preliminary experiment also showed that the addition of curcumin increased the value of sensory test with 1 and 2% of curcumin gave better result compared with 3, 4 and 5% curcumin. During 30 days storage period, the value of sensory parameters and proximate properties were decrease, meanwhile, the water activity, TPC and TBA were rised. In conclusion, up to 30-day storage period, teh quality of fish abon was decrease,d but still could be accepted by the panelists. Immersion of fish abon on 15% of lime for 30 minutes and addition of 2% curcumin gave better quality of fish abon compared with others treatmen with value of water content 10.71%, ash4.16%, fat 26.82%, protein 30.51%, carbohydrate 27.80%, aw 0.51, TPC 2.45 colonies/ gram, and TBA 1.76mg/kg. The addition of curcumin fish abon did not significantly influence the appearance, water content, ash, fat, and carbohydrates, however the color, aroma, texture, flavor, protein content, water activity (aw), value TBA, and TPC significantly influenced.Keywords: curcumin, fish abon, lime, sencory parameters
Penurunan Kandungan Protein Penyebab Alergi pada Proses Pembuatan Surimi Ikan Nila (Oreochromis niloticus): Reduction of Allergenic Proteins during Processing of Tilapia (Oreochromis niloticus) Surimi Roni Nugraha; Irama Dramawanti Pamungkas; Rizsa Mustika Pertiwi; Tati Nurhayati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 3 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(3)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v23i3.33639

Abstract

Parvalbumin, sebuah protein sarkoplasmik merupakan penyebab utama alergi ikan. Proses pencucian pada pembuatan surimi dapat menghilangkan protein-protein sarkoplasmik dari daging ikan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menentukan efek pencucian dan pemanasan serta penambahan enzim terhadap kandungan parvalbumin surimi. Profil protein divisualisasikan menggunakan sodium-deodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dan intensitasnya diukur. Hasil SDS-PAGE memperlihatkan bahwa proses pencucian menghilangkan protein-protein sarkoplasmik yang diindikasikan dengan menurunnya jumlah dan intensitas pita protein pada surimi. Selain itu, profil protein dari air cucian hampir sama dengan profil protein dari daging ikan segar, menunjukkan bahwa sebagian besar protein dari daging ikan segar terbawa oleh air cucian. Adapun kandungan parvalbumin pada surimi menurun hingga 95% setelah proses pencucian, dan proses pemanasan maupun penambahan enzim tidak berpengaruh terhadap penurunan parvalbumin. Oleh karena alergenitas ikan berkorelasi dengan kandungan parvalbumin, surimi dapat menjadi alternatif sumber hipoalergenik protein ikan.
Evaluasi Primer Gen COI sebagai Biomarker Ketertelusuran Ikan menggunakan Bioinformatika: Evaluation of COI Gene Primer as a Biomarker Traceability using Bioinformatics Roni Nugraha; Puspita Sari Dewi; Mala Nurilmala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 25 No 1 (2022): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 25(1)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v25i1.36501

Abstract

Gen cytochrome oxidase I (COI) merupakan bagian dari bahan genetik mitokondria yang sering digunakan sebagai penanda spesies pada system ketertelusuran produk perikanan. Gen COI ini diperbanyak dari jaringan ikan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer universal. Akan tetapi, ikan merupakan spesies yang memiliki keragaman yang tinggi, sehingga primer universal ini tidak sepenuhnya cocok dengan gen COI ikan. Oleh karena itu, penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi kecocokan primer universal di berbagai gen COI ikan perlu untuk dilakukan. Pada penelitian ini, primer universal dicocokkan dengan 33 sekuen spesies ikan dari GenBank NCBI. Sekuen dianalisis dengan membuat Percent Identity Matrix (PIM) dan pohon filogenetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua primer memiliki kualitas yang baik. Primer CO1shark25 dan CO1shark315 sejajar dengan 31-32 sekuen, namun belum memenuhi parameter ideal sebuah primer. Oleh karena itu, didesain beberapa primer universal baru yang sesuai dengan kriteria primer ideal. Desain primer baru dibuat dan dievaluasi menggunakan program PerlPrimer dan OligoEvaluator. Primer mini-barcode universal ikan dari sekuen Lagocephalus lagocephalus, Takifugu vermicularis, Arothron hispidus, Hypanus americanus, Isurus oxyrhyncus, dan Katsuwonus pelamis telah dirancang dan dievaluasi untuk alternatif biomarker.
DNA Barcoding untuk Autentikasi Produk Hiu Segar dari Perairan Nusa Tenggara Barat: DNA Barcoding for Fresh Shark Products Authentication from West Nusa Tenggara Waters Muhammad Alsere Bardian Sahaba; Asadatun Abdullah; Roni Nugraha
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 24 No 3 (2021): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 24(3)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v24i3.38318

Abstract

Perikanan hiu dan pari di Indonesia, termasuk Tanjung Luar di NTB, menghadapi tantangan besar karena populasi hiu dan pari yang terus menurun. Hiu sangat rentan terhadap penangkapan berlebih dan kepunahan karena faktor seperti kematangan seksual yang lambat dan fekunditas yang rendah. Daging dan sirip hiu umunya diminati konsumen; namun, produk hiu lainnya tidak dicatat secara terpisah dalam statistik perdagangan, sehingga sulit untuk diidentifikasi berdasarkan indikator morfologi. Sebagai alternatifnya dapat menggunakan metode DNA barcoding. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies hiu langka yang terdaftar di CITES yang telah mendarat di pelabuhan NTB menggunakan metode DNA barcoding. Penelitian yang dilakukan meliputi tahap isolasi DNA, amplifikasi DNA, sekuensing dan analisis bioinformatika. Hasil sekuensing DNA dan analisis bioinformatika menunjukkan spesies Sphyrna lewini dan Carcharhinus falciformis teridentifikasi pada sampel dengan tingkat kemiripan 99-100%. Hasil ini menunjukkan ikan hiu yang termasuk dalam daftar CITES masih kerap ditangkap dan dimanfaatkan, sehingga perlu dilakukan regulasi yang lebih tegas dan transfer pengetahuan kepada masyarakat agar spesies hiu yang tergolong terancam punah dapat dilestarikan.
Karakterisasi fraksi amonium sulfat tripsin yang diisolasi dari usus ikan tongkol (Euthynnus affinis): Tripsin dari ikan tongkol Tati Nurhayati; Roni Nugraha; Diana Ningdya Lihuana
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 2 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(2)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v23i2.32221

Abstract

Usus ikan tongkol merupakan bagian saluran pencernaan ikan yang memiliki pH neteral sehingga berpotensi sebagai sumber enzim, yaitu enzim tripsin. Enzim tripsin dari jeroan ikan bisa menjadi alternatif dari enzim tripsin komersil yang berasal dari babi dan sapi. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik fraksi amonium sulfat enzim tripsin dari usus ikan tongkol. Tahapan penelitian diawali dengan ekstraksi enzim tripsin dari usus ikan tongkol lalu difraksinasi menggunakan amonium sulfat (0-80%). Fraksi terbaik dikarakterisasi suhu, pH, pengaruh ion logam, stabilitas terhadap NaCl, dan substrat optimum serta dilakukan analisis kinetika reaksi. Pengukuran aktivitas enzim menggunakan substrat N-α-benzoyl-DL-arginine-p-nitroanilide (BAPNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar tripsin memiliki aktivitas sebesar 0,205 U/mL. Aktivitas enzim tripsin tertinggi terdapat pada fraksi amonium sulfat fraksi 40-50% sebesar 0,248 U/mL. Enzim bekerja optimum bekerja pada suhu 60°C dan pH 9. Ion logam ZnCl2 dan CaCl2 menghambat aktivitas tripsin, sedangkan MnCl2, CuCl2, dan NaCl dapat meningkatkan aktivitas tripsin. Aktivitas tripsin stabil pada NaCl 5-30%. Enzim tersebut memiliki nilai Vmaks sebesar 0,42 mmol/s dan nilai Nilai Km sebesar 1,12 mM
APLIKASI EKSTRAK DAUN JAMBU Psidium guajava var. pomifera PADA PROSES TRANSPORTASI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Ruddy - Suwandi; Roni - Nugraha; Kristian Edo Zulfamy
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 16 No 1 (2013): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.282 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v16i1.8107

Abstract

Pemanfaatan ekstrak daun jambu Psidium guajava var. pomifera untuk menurunkan ekskresi metabolit ikannila (Oreochromis niloticus) dipelajari pada penelitian ini. Ekstrak daun dengan konsentrasi 0%; 0,25%; 0,50%;dan 0,75% (v/v) ditambahkan ke dalam media transportasi ikan nila. Parameter kualitas air dievaluasi setiap30 menit selama 2 jam simulasi transportasi. Kadar glukosa darah ikan dihitung sebelum dan setelah simulasi.Penambahan ekstrak daun jambu mampu menurunkan ekskresi metabolit yang ditandai dengan rendahnyakandungan karbondioksida dan amonia pada media transportasi. Kadar glukosa ikan yang ditransportasikandalam media yang mengandung 0,25 dan 0,5% ekstrak daun jambu lebih tinggi dibandingkan kontrol (0%),namun kadar glukosa ikan pada media 0,75% lebih rendah dibandingkan kontrol. Konsentrasi terbaik untukaplikasi transportasi ikan nila adalah konsentrasi 0,25%. Pada dosis tersebut dapat mereduksi tingkat metabolitikan dan tidak mengakibatkan stres yang dominan dengan sedikit perubahan kadar glukosa darah yang relatifrendah serta dapat mempertahankan kondisi media angkut lebih baik dibandingkan dengan kontrol danperlakuan lainnya.Kata kunci: antimetabolit, kualitas air, Oreochromis niloticus, Psidium guajava var. pomifera, transportasi
PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI PATI BUAH LINDUR DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL DAN KARAGINAN agoes mardiono jacoeb; Roni - Nugraha; siluh putu sri dia utari
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17 No 1 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2320.3 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v17i1.8132

Abstract

Buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza) mengandung karbohidrat yang tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi edible film dari buah lindur dan mengkarakterisasi produk yang dihasilkannya. Edible film dibuat dengan menambahkan tepung pati buah lindur sebesar 4%; perlakuan gliserol 1% dan 1,5%; dan konsentrasi karaginan 2%, 2,5% dan 3%. Nilai ketebalan edible film yang dihasilkan dari keenam formula berkisar 0,13-0,20 mm sedangkan nilai kuat tarik berkisar 132,88-168,33 kgf/cm2. Nilai persen pemanjangan berkisar 177,7-181,21% dan nilai laju transmisi uap air berkisar 231,23-298,82 g/m2/24 jam. Pati buah lindur sangat potensial untuk dijadikan edible film.Kata kunci: Bruguiera gymnorrhiza, edible film, kuat tarik, pati, persen pemanjangan
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN HIDROLISAT JEROAN IKAN KAKAP PUTIH Tati - Nurhayati; ella - salamah; - - cholifah; roni - nugraha
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17 No 1 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2466.658 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v17i1.8136

Abstract

Jeroan ikan adalah bahan baku dengan kualitas rendah atau limbah yang jika tidak dimanfaatkan dapat menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Limbah jeroan ikan kakap putih memiliki kadar protein yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan menjadi hidrolisat protein ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik pembuatan hidrolisat protein serta mengkarakterisasi produk hidrolisat protein yang dihasilkan. Tahap penelitian meliputi karakterisasi jeroan, pembuangan komponen lemak (defatting), penentuan kondisi optimum hidrolisis, dan analisis kimia hidrolisat jeroan ikan kakap putih. Jeroan ikan kakap putih memiliki kadar protein tinggi sebesar 31,20%±0,03 (bk) dan lemak 61,44%±1,22 (bk). Kandungan lemak dapat mempengaruhi proses hidrolisis sehingga membutuhkan proses pembuangan lemak (defatting). Defatting mampu menurunkan lemak sebesar 2,95% (bk) dari lemak awal yakni 61,44%±1,22 (bk) menjadi 58,71%±0,65 (bk). Proses hidrolisis jeroan ikan kakap putih dilakukan menggunakan enzim papain dengan aktivitas 30 Usp/mL dengan konsentrasi enzim 0,15% (b/v), suhu 55°C, pH 8 selama 4 jam. Karakteristik produk hidrolisat jeroan ikan kakap putih (Lates calcarifer) yakni kadar air (10,82±0,84%), kadar protein (62,85%±0,72), kadar lemak (0,84%±0,28), kadar abu (7,30%±0,03), karbohidrat (18,19%±1,32) dan daya cerna protein sebesar 87,03%. Hidrolisat protein jeroan ikan kakap putih memiliki kandungan 15 jenis asam amino. Asam amino tertinggi yakni asam glutamat (10,75%), sedangkan asam amino terendah yakni histidin (1,38%). Hidrolisat protein dapat diaplikasikan sebagai sumber protein dalam pakan ikan.Kata kunci: hidrolisat, jeroan, papain, pembuangan lemak
PENURUNAN METABOLISME IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PROSES TRANSPORTASI MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava var. pyrifera) Ruddy Suwandi; Roni Nugraha; Wina Novila
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 15 No 3 (2012): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 15 (3)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.97 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v15i3.21437

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efektivitas dan menentukan konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava var. pyrifera) dalam menghambat laju ekskresi ikan nila (Oreochromis niloticus) selama transportasi sistem basah. Ekstrak daun jambu biji dengan berbagai konsentrasi (0%; 0,5%; 0,75% dan 1%) ditambahkan pada media ikan hidup. Perubahan kualitas air diamati selama 2 jam. Nilai LC50 ekstrak daun jambu biji daging buah putih adalah 4,15%. Ekstrak daun jambu biji dapat menurunkan laju metabolisme ikan, yang diindikasikan dengan penurunan kadar CO2 (22%) dan TAN (78,6%) selama 2 jam waktu transportasi. Nilai ekskresi CO2 dan TAN pada ikan yang diberi perlakuan ekstrak daun jambu biji lebih rendah dibandingkan ikan yang tidak diberi perlakuan, namun nilai turbiditas lebih tinggi diakibatkan adanya partikel terlarut dari ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun jambu biji mampu menghambat laju ekskresi ikan nila.
Pengaruh Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum sp.) dan Pembekuan terhadap Fisiologi Ikan Mas (Cyprinus carpio): Effect of Cinnamon (Cinnamomum sp.) Extract and Freezing on the physiology of Common Carp (Cyprinus carpio) Ruddy Suwandi; Fafa Rizkon Karima; Agoes M Jacoeb; Roni Nugraha
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 24 No 2 (2021): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 24(2)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v24i2.36803

Abstract

Distribusi ikan hidup pascapanen dapat dilakukan dengan perlakuan awal pemingsanan dengan bahan anestesi untuk mengurangi stres selama proses transportasi. Bahan anestesi yang digunakan dapat berupa bahan alami misalnya kayu manis. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh pemberian larutan ekstrak kulit kayu manis dalam air terhadap waktu pingsan ikan mas, serta menentukan pengaruh lama pemberian pembekuan terhadap laju sintasan, kadar glukosa darah, kondisi mata, dan insang ikan. Konsentrasi terbaik ekstrak kayu manis adalah 1%, yang menyebabkan ikan pingsan setelah 1,58±0,04 menit. Nilai laju sintasan ikan dengan perlakukan pemingsanan setelah dibekukan mencapai 100% pada semua waktu pembekuan -13 oC. Kejutan 45 menit tanpa pemingsanan menghasilkan nilai 100%, sedangkan pada waktu 60 dan 75 menit menghasilkan nilai 88,89% dan 66,67%. Insang ikan mas yang diberi pembekuan semakin lama dapat menyebabkan terjadinya pendarahan dan kerusakan pada filamen insang. Waktu pembekuan yang semakin lama membuat nilai glukosa darah semakin meningkat.